Home > L Murbandono Hs > Seksualitas Indonesia

Seksualitas Indonesia

Oleh L Murbandono Hs

Segala tabu seksual —homo, lesbian, free sex, seks di luar nikah, selingkuh, pornografi, pelacuran, onani, dan deret panjang soal yang dianggap ”kelainan”

seksual— dilucuti dan dideformasi!

UNDANG-UNDANG (UU) Pornografi dengan seluruh kontroversinya bisa membuat Indonesia mundur berabad-abad? Ya, bisa, jika kita —semua warga bangsa pemeluk peradaban— putus asa. Masalahnya, muara paling krusial UU Pornografi adalah seksualitas yang belum mengalami pencerahan.

Maka, jangan putus asa. Masalah di sekitar UU tersebut justru harus jadi pemacu untuk berpikir lebih keras dan lebih jernih, sehingga bisa dirumuskan peta situasi seksualitas bangsa Indonesia masa kini.

Tetapi, peta situasi tersebut amat luas. Catatan kecil ini terbatas mengupas salah satu perniknya: coba menelusuri, apa beda seksualitas kita sekarang dari seksualitas zaman pertengahan dan seksualitas Barat masa kini.

Zaman pertengahan adalah masa ketika tata hukum seksualitas ditentukan oleh prakonsep, dugaan, dan kepentingan kaum penguasa, terutama penguasa agama.

Asas-asas yang mendasari tata hukum itu, di antaranya sahibul hikayat, dongeng, mitos, legenda, mantra sihir, ayat-ayat kitab duci, dan dogma agama. Seluruh asas itu tidak bisa diukur dan tidak bisa diuji dengan nalar-rasio-akal budi yang biasa. Apalagi, ”kisah sukses” asas-asas itu sebagai hukum selalu lahir dengan tangan besi.

Dalam seksualitas zaman pertengahan, kata-kata kunci penentu benar-salah adalah suci-dosa, baik-buruk, dan beriman-terkutuk. Kata-kata kunci itu diabdikan demi wacana di luar manusia, surga, atau neraka, dengan segala variasi dan ikutannya.

Kata-kata kunci itu menjadi asas moral sosial dan menjadi dasar dalam proses pembuatan hukum positif. Hal tersebut, dalam banyak kasus, berlaku sama di belahan dunia Barat maupun Timur.

Tetapi, seluruh moral sosial sebagai sendi tata hukum seksualitas abad pertengahan itu sejatinya telah runtuh, beberapa abad silam, dengan gelombang dua arus peradaban.

Pertama, ilmu pengetahuan. Dengan fajar ilmu pengetahuan —fisika, matematika, kimia, kedokteran, psikologi, astronomi, filsafat, teologi, dll— hukum positif perihal seksualitas sebagai bagian hukum sosial, diproses dan ditentukan oleh olah pikir yang rasional. Iman keagamaan tetap mendapat tempat, asal membumi: bisa diuji dan diukur objektivitasnya dengan nalar.

Kedua, dinamika kultural dampak dari hal pertama. Ilmu pengetahuan meniscayakan moral seksualitas budaya tahap mistis bergeser ke budaya teknis dan fungsional. Pada tahap mistis, absurditas mustahil (dilarang) diganggu gugat, karena dianggap tabu.

Pada tahap teknis dan fungsional, absurditas dan segala tabu dibongkar. Akal budi yang rasional —dan merdeka!— menuntut segala hal bisa diklarifikasi, diukur, dan bisa diuji.

Seluruh uraian tersebut, sejatinya juga sudah lama lewat. Kita bicara tentang sejarah seksualitas universal, khususnya di belahan dunia Barat, sekitar tiga atau empat abad silam.

Dideformasi

Abad-abad selanjutnya, tonggak peradaban sejarah seksualitas mencatat revolusi seksual 1960-an di Barat. Segala tabu seksual —homo, lesbian, free sex, seks di luar nikah, selingkuh, pornografi, pelacuran, onani, dan deret panjang soal yang dianggap ”kelainan” seksual— dilucuti dan dideformasi!

Ia menjadi bagian pendidikan: klarifikasi dan ”pelurusan” wacana seksualitas dengan ilmu-ilmu humaniora, ilmu hukum, kriminologi, kedokteran, sosiologi, psikologi, dll. Republik Indonesia tidak pernah mengalami hal tersebut secara sosial. Dan, tidak perlu mengalami! Buat apa? Apalagi revolusi seksual di Barat sendiri sudah berlalu. Sebagai dinamika budaya tesis-antesis-sintesis, ia telah menjadi tesis baru.

Dalam zaman tesis baru pascarevolusi seksual itu —saya tinggal dan bekerja di Belanda antara 1983-2008—, ”hal serem-serem” tentang seksualitas Barat sebagaimana dibayangkan banyak orang itu, sejatinya tidak ada dan tidak terjadi secara umum. Jika terjadi, itu tetap perkecualian.

Jadi, orang-orang Indonesia yang karena satu dan lain hal terpaksa tinggal di negara-negara Barat, sejatinya tidak perlu gegar budaya dalam hal seksualitas. Sebab, agaknya seksualitas Barat masa kini selaras saja dengan Pancasila kita.

Empat Muara

Tentu saja seksualitas Barat terkini —seksualitas pascarevolusi seksual 1960-an— cukup rumit dan panjang uraiannya. Namun singkatnya, secara sederhana bermuara kepada empat butir.

Pertama, seksualitas Barat terkini adalah olah refleksi atas dampak revolusi seksual 1960-an yang ”lebih arif” memahami pluriformitas seksual. Segala unsur seks dianggap ”bermoral” asal membebaskan, memperkaya orang lain, jujur, setia, hormat kepada hidup, dan membahagiakan: yang terlibat memperoleh akibat baik, dan tak ada yang menanggung akibat buruknya.

Kedua, seksualitas manusia adalah individu itu sendiri. Ia lebih bersifat individual ketimbang sosial. Bersifat amat biologis, seksualitas adalah alamiah, yang melampaui kenyataan sosial. Maka baik-buruk seksualitas sepenuhnya moral individual, yang mustahil diatur oleh unsur luar.

Sebab, baik-buruk dari unsur luar selalu berupa konstruksi sosial: bikinan. Agama? Bisa saja masuk dalam moral individu, tetapi tidak sertamerta bisa menjadi kebijakan publik.

Ketiga, menyangkut ranah publik —semisal dalam kejahatan seksual— yang terjadi adalah urusan benar-salah, soal hukum, yang bisa diukur dan bisa diuji secara rasional. Ia bukan urusan baik-buruk —soal moral— yang tak bisa diukur dan tidak bisa diuji, sebab wilayah privat. Artinya, kejahatan seksual itu tak lebih adalah kriminal biasa.

Keempat, seksualitas manusia adalah kekayaan pribadi yang lebih bersifat biologis, fisiologis, dan psikologis. Dengan itu manusia mengekspresikan kebebasannya —memanusiakan kemanusiaannya sendiri— dalam tata sosial yang menghormati pluriformitas pikiran.

Seksualitas manusia adalah tanggung jawab dan hak individu atas kemanusiaannya sendiri: dinamis, terikat sejarah, dan terikat dinamika sosial.Akhirnya, dari lukisan dua kubu tersebut, di mana letak dan peta situasi seksualitas Indonesia masa kini? Juga, dari mana UU Pornografi kita menimba inspirasinya?

L Murbandono Hs

Peminat dan pengamat peradaban

Sumber: SUARA MERDEKA, 4 Desember 2008

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: