Home > L Murbandono Hs > Sisi Agama yang “Mengerikan”

Sisi Agama yang “Mengerikan”

Oleh: L Murbandono Hs

BANYAK orang bijak bilang bahwa biang tragedi berbagai keonaran termasuk bom njebluk dan teror di Tanah Air itu babar blas nggak ada sangkut pautnya dengan agama. Kearifan dan optimisme itu bagus secara didaktis tapi tidak realistis. Sebab deret panjang tragedi itu juga membuktikan, praktik agama tidak selalu baik. Jika agama diolah akalbudi keblinger yang diwadahi komunikasi kalap, ternyata bisa “tersetrum” keburukan pula.

Mohon jangan salah tangkap. Terhadap berbagai keonaran dan teror itu, reaksi spontan saya cuma puyeng dan prihatin, dan sebal terhadap Orde Baru. Tragedi itu cuma bagian kecil dari buah-buah busuk hasil pembodohan sistem dictatorial rezim itu. Artinya, para provokator, pelaku setempat yang umumnya lugu memelas, dan para kurban, semuanya adalah kurban!

Provokator adalah buah busuk langsung, “kurban” amat jahat, yang harus ditindak tegas! Mereka yang mudah diprovokasi adalah buah busuk tidak langsung, kurban yang “tidak jahat” tapi mungkin lugu atau panik, maka harus “disekolahkan”. Dan para kurban, itulah kurban sebenarnya, yang harus dibantu sungguh-sungguh.

Maka sisi “buruk” agama, mohon dipahami dalam konteks “kurban yang harus disekolahkan dan akalbudi keblinger” itu, yang bukan cuma eksis dalam Islam atau Kristen tetapi di semua agama. Dalam kaitan itu, banyak dari kita sepakat, agama sebagai realitas-vertikal-adikodrati (agama sejati) selalu baik-benar. Tapi para pemeluknya (agama-dalam-praktik konkret eksistensial) tidak selalu baik-benar, ia bisa buruk-salah. Jadi, sisi “buruk” agama mohon dipahami dalam konteks itu pula.

Dalam konteks optimalisasi/akomodasi penalaran manusiawi yang membumi, sejauh menyangkut kasus kerusuhan “bernuansa agama”, maka agama-dalam-praktik (agama apa saja) itu secara sederhana sejatinya terbagi dalam lima kubu besar sebagai ukuran tingkat kemuliaannya menghidupi dan menghidupkan peradaban.

Lima kubu itu adalah liberal, moderat, “fanatik”/militan, jahat, dan amat jahat. Ini cuma istilah, boleh diabaikan, sebab yang terpenting adalah hakikat-makna-maksud dari kubu-kubu tersebut. Jadi, lima kubu itu ibarat skor-nilai ialah sempurna, baik, lumayan, jelek dan amat jelek.

Tingkat Kemuliaan

Pertama, kubu liberal. Ini adalah kubu yang “ideal”. Ia sejuk, mendatangkan rasa damai, pantang melakukan kejahatan dalam bentuk apapun, sebagai konsekuensi sosial-psikologis eksistensinya. Sebagian warga kubu ini serius mengabdikan hidupnya demi pengembangan dan distribusi cintakasih. Dalam aktifitasnya, kubu ini acap kali cenderung menekankan cita-cita dan tanggungjawab intelektual, yang harus diikuti dengan praktik konkret. Kredo kubu ini lebih bersendi pada cita-cita demi kesatuan dan persatuan seluruh umat manusia dalam kesetaraan derajat.

Kedua, kubu moderat. Kubu ini sejuk, wajar dan mampu menjaga kubunya terhindar dari aktifitas yang negatif dan atau jahat. Mereka cenderung menerima perubahan zaman dan sungguh-sungguh “mengakui dosa” absolutisme mereka di masasilam. Meski teologi kubu ini “kuno” dan sepertinya ketinggalan zaman, mungkin “oke” saja, sebab mayoritas penganut kubu ini kurang peduli teologi. Banyak warga kubu ini terpelajar dan alasan mereka “beriman” umumnya karena tradisi. Meski kadar iman mereka tak bisa diukur sebab tak ada ukurannya, yang jelas mereka mampu berdamai dengan hal-hal adikodrati dan menghormatinya. Bagi mereka, “irasionalitas” religi itu rasional, maka manusiawi dan tetap berharga. Kotbah-kotbah dan ajaran dalam kubu ini umumnya penuh nilai-nilai positif kemanusiaan. Para warga acapkali melakukan 1001 kegiatan sosial yang bisa dirasakan dampak positifnya.

Ketiga, kubu “fanatik”/militan. Kubu ini mempunyai ide-ide “tegar”. Mereka cenderung mendesakkan 1001 prakonsep absurd yang dianggap baku. Keperkasaan berbagai prakonsep tersebut justru karena kuno, yang berulang-ulang muncul dalam kenyataan sejarah, sebagai wahyu Tuhan. Memang, kefanatikan tidak perlu selalu jahat dalam dirinya sendiri dan tujuannya, tetapi kejahatan (sebagaimana kebaikan) bisa muncul sebagai akibat kefanatikan. Laku-laku jahat itu acapkali lahir karena cara pandang sempit satu arah, sebagai katup pelepas ekspresi dan pengembangan diri, yang umumnya dengan memaksakan norma-norma sendiri terhadap kubu lain. Maka, kubu ini bisa berubah ke dua arah. Jika dipimpin para bijak, akan jadi kubu moderat. Jika pimpinannya tidak bijak, bisa merosot jadi kubu jahat.

Keempat, kubu jahat. Di samping mempunyai ideologi keagamaan yang amat fanatic dan absolut, kubu ini “rajin” mempertajam perbedaan “kita” dengan “bukan kita” yang dianggap musuh. Maka tema kebencian dan kecurigaan terhadap yang “bukan kita” acapkali menjadi bahan kotbah, tak jarang disertai “seruan untuk berlaku distruktif”, dan selalu mengatas namakan Tuhan. Jadi, dogmatisme dan formalisme kubu ini memberi mandat untuk hal-hal yang destruktif semacam itu. Di dalam kubu sendiri, penuh diskriminasi. Peran sosial kaum perempuan misalnya, amat terbatas, dibatasi dan pada tingkat ekstrim amat dilecehkan martabatnya. Para pemimpin keagamaan bagai manusia setengah dewa, dianggap segalanya. Tiap ucapannya akan ditaati warga dan segala perintahnya akan dilakukan warga.

Kelima, kubu amat jahat. Ini kubu paling mengerikan. Mudah-mudahan di era modern ini sudah tidak eksis. Tapi sejarah abad pertengahan misalnya, tak peduli di Barat atau Timur, mencatat kiprah kubu yang penuh teror itu. Kubu ini bukan saja anti tapi agresif melancarkan kekerasan dan serangan terhadap grup “bukan kita”secara massal dan meluas, atas nama Tuhan. “Bukan kita” dianggap ancaman yang perlu dilenyapkan. Maka pembantaian terhadapnya dianggap wajar, sebab semuanya itu dilakukan menuruti “perintah Tuhan sehingga mendapat RestuNya”.

Perlu dicatat, menjadi jahat dan atau amat jahat itu bukan karakter agama dalam dirinya sendiri. Itu adalah kecelakaan. Kubu jahat dan amat jahat itu Cuma tempelan yang amat bervariasi pada tiap zaman dan waktu, yang bisa datang atau pergi.

Biang Kejahatan

Soal adalah, bagaimana agama yang sejatinya selalu baik dan benar itu, di dalam praktik para pemeluknya, bisa menjadi buruk dan jahat? Biangnya terletak dalam proses kelahiran irasionalisme dan utamanya absolutisme di dalam kubu jahat. Absolutisme (keyakinan terhadap suatu nilai yang tak boleh disentuh apapun termasuk oleh “kegelisahan” akal sehat) tersebut menyangkut empat proses menuju iman.

Pertama, Kehendak Tuhan “kita” adalah segalanya, mengatasi segala-gala yang dimiliki “bukan kita” termasuk hukum-akal-perasaan dan etikanya. Kehendak Tuhan “kita” tabu untuk dipersoalkan sebab sudah absolut.

Kedua, tanggungjawab “kita” (umat) yang utama dan menyeluruh adalah melaksanakan Kehendak Tuhan “kita”.

Ketiga, Kehendak Tuhan “kita” hadir secara konkret (diwahyukan) di dalam Kitab Suci “kita” yang harus jadi satu-satunya acuan “kita”.

Keempat, ajaran agama “kita” adalah satu-satunya yang benar di antara semua ajaran agama yang ada di bumi dan karena itu sama dengan Kehendak Tuhan. (Catatan penulis: di bumi terdapat beribu-ribu agama yang sejati). Para pemimpin rohani “kita” adalah ahli dan tahu segala perkara agama. Maka segala kata-katanya akan “kita” patuhi dan segala perintahnya akan “kita” jalankan.

Empat “proses menuju iman” (bukan/belum iman sejati) di atas masih bermasalah. Pesan Kitab Suci (agama apapun) menimbulkan 1001 penafsiran luas. Kitab Suci memang bisa berarti “segalanya”. Tapi sebagai “bagian” bumi manusia, ia juga  harus siap menghadapi “cuma” cara manusia. Salah satunya, lewat kritik historis.

Dalam konteks kritik historis, apa yang dirumuskan dalam Kitab Suci selalu terdiri atas aneka wacana seperti ajaran, fakta, dongeng, perumpamaan dan lain-lain yang melibatkan 1001 nama/istilah bernuansa purba. Mereka umumnya berisi pesan-pesan didaktis yang tentunya cocok pada tempat dan zaman saat mereka “ditulis”. Tetapi jika isi ajaran tersebut dipraktikkan untuk zaman modern secara persis apa yang tertulis, belum tentu tepat. Oleh karena itu, kitab-kitab Suci itu memerlukan tafsir dari mereka yang berkompeten dan bijaksana. Ajaran-ajaran mengerikan seperti “perang suci”, “kalahkan dan hancurkan musuhmu ” dll semacam itu, amat krusial, maka perlu tafsir resep pelaksanaan yang tepat bagi peradaban manusiawi yang modern.

Apalagi, muara segala-segala yang menjadi dasar tindakan seperti “Kehendak Tuhan” itu, amat krusial. Ambil sebuah tindakan apa saja, entah baik atau buruk, maka dasar tindakan itu akan selalu bisa dicarikan pembenarannya pada ayat, perikope, bab (atau apapun istilahnya) tertentu dalam Kitab Suci agama apapun.  Ia menjadi lebih krusial jika sang “pemegang mandat” tafsir ajaran keagamaan, ternyata keliru, dan itu bisa saja, sebab semua pimpinan keagamaan itu manusia biasa dan bukan malaekat.

Maka, dimohon membumi! Dari praktik-praktik konkret, kelompok kita (dari agama apapun), termasuk kubu yang mana? Mungkin kita mengklaim termasuk kubu sempurna. Syukurlah. Mari kita buktikan klaim itu, yakni dengan sifat-sikap-tindakan yang membuahkan kebahagiaan bagi kehidupan bersama.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: