Home > L Murbandono Hs > Tafsir Mimpi Panjang Kaum Buruh

Tafsir Mimpi Panjang Kaum Buruh

Oleh L Murbandono Hs

Buruh tetap buruh meski sudah ganti sebutan semisal pekerja, karyawan, dan lain-lain karena nyatanya sampai sekarang rata-rata belum makmur

TANGGAL 1 Mei lalu adalah hari kaum buruh sedunia, termasuk Indonesia. Tapi sejak era Orde Baru sampai kini saat kita bersahabat dengan kapitalisme global, kata/ wacana ”buruh” dan ”sosialisme Indonesia” nyaris tak pernah digarap secara serius dalam politik RI. Mengapa? Apapun jawabnya, buruh tetap buruh (meski sudah ganti sebutan semisal pekerja, karyawan, dan lain-lain) yang nyatanya sampai sekarang rata-rata belum makmur. Karena itu, mereka bermimpi, sebagai berikut:

Kami adalah kaum buruh yang bingung sebab negara simpang siur, banyak ”pemimpin” bermasalah. Kami yang ikut menghidupkan negara namun jarang menikmati hasil-hasil negarai. Kami ikut membuat negara berjalan namun tak punya suara menentukan jalannya. Maka, kami bermimpi.

Mimpi kami mengimbau datangnya masyarakat adil jujur yang menghargai kaum buruh, keluarga, dan kelompoknya. Mengimbau kesempatan kerja yang nyaman dengan upah layak. Mengimbau organisasi buruh yang aman dari PHK dan demonstrasi tanpa takut kehilangan nafkah. Ini kami impikan sebab sampai saat ini tidak sedikit elite negara yang hanya melayani kepentingan raksasa bisnis yang secara sistematis memanipulasi jutaan kesempatan kerja dengan upah layak.

Juga, kami bermimpi sudah tak ada lagi elite politik yang kongkalikong dengan bos-bos bisnis, bermimpi tentang UU yang menjamin tiap orang mendapat pekerjaan di usia kerja, dan buruh yang terkena PHK dibayar 2 bulan gaji untuk setahun masa kerja sebab tiap kali terjadi PHK bagi buruh, nilai stok perusahaan naik, para eksekutifnya tambah kaya, dan kami, buruh, yang membayar harganya.

Sistem Kesejahteraan Impian kami bukan hal mewah, cuma menegaskan hak-hak kami, mengimbau 40 jam kerja 5 hari dalam seminggu, kerja lembur dinilai minimal 2 kali jam kerja biasa, satu jam cuti dengan upah untuk setiap 2 jam kerja lembur, 20 hari cuti dengan upah tiap tahun, dan 1 tahun cuti dengan upah tetap tiap 7 tahun masa kerja.

Kami bermimpi mengimbau jadwal kerja yang luwes, dan mendapatkan tunjangan anak-anak dan tunjangan hari tua. Kami mengimbau mendapatkan akses perawatan kesehatan yang diakui mutunya secara universal yang hanya mungkin dengan UU yang sungguh-sungguh altruis dan sosialistik.

Kami masih bermimpi semoga manipulasi bisnis oleh usaha-usaha raksasa berakhir. Nyaris semua perusahaan mutinasional dan para politikus menyatakan perdagangan bebas adalah keniscayaan yang baik bagi kami. Tetapi versi mereka tentang perdagangan bebas adalah mencari buruh murah dan tak peduli standar lingkungan dan kesejahteraan buruh saat dihadapkan pada soal keuntungan.

Kami tidak keberatan dengan perdagangan bebas, sejauh hak-hak kaum buruh benar-benar dilindungi. Perdagangan tidak jujur dan tidak bebas, jika kaum buruh tetap berupah rendah, bekerja dalam kondisi tempat kerja tidak memadai, tak punya hak-hak legal, dan perusahaan bisa seenaknya membuat polusi lingkungan hidup.

Kami bermimpi tentang sistem kesejahteraan perusahaan yang adil. Banyak raksasa bisnis amat makmur berkat subsidi pemerintah. Tak sedikit kebijakan status quo yang menyediakan kemudahan bagi segelintir kaum kaya dengan mengorbankan buruh yang mayoritas. Maka kami bermimpi tentang pemberlakuan pajak progresif sehingga si kaya membayar pajak sesuai kekayaannya. Kami membutuhkan sistem perpajakan yang adil untuk menjamin hak-hak kami.

Namun, kami juga bermimpi dengan cemas, mengimbau revitalisasi (revolusi) sektor publik yang memperkaya kaum kaya dengan harga yang harus kami bayar. Negara semestinya menyediakan barang krusial dan jasa yang tidak tidak boleh diselenggarakan hanya demi keuntungan. Harus diakhiri dominasi raksasa-raksasa bisnis dalam pemilu sebab para politikus status quo akan selalu menempatkan kepentingan cukong di atas kepentingan negara secara keseluruhan.

Terakhir, mimpi kami menyangkut rancangan kerja, teknologi, dan keprigelan demi profesionalisme. Kami nyaris tak punya suara dalam rancangan implementasi teknologi-teknologi baru. Kami mengimbau lahirnya komisi demokratisasi teknologi dengan dana-dana publik berdasar sikap pikir kami. Dengan ini terjamin buruh akan bisa berperan dalam kelahiran perkembangan dan implementasi teknologi.

Alhasil, hakikat seluruh impian kami adalah menggugat setiap bentuk ketidakadilan. Dari generasi ke generasi, banyak bos kapitalis diuntungkan dengan memecah-belah buruh dengan dasar-dasar tidak relevan. Bukan menciptakan lapangan kerja yang cukup, tetapi memaksa kami berebut kesempatan kerja yang ada.

L Murbandono Hs,

Peminat dan pengamat peradaban

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: