Home > L Murbandono Hs > Tarian Gajah

Tarian Gajah

Oleh: L Murbandono Hs

Akibat salah urus Nusapatria amburadul. Sawah, hutan dan ladang meranggas sebab dibakari kaum rakus, kaum aneh dan kaum stres. Ada gunung njebluk. Banjir. Ada pulau muncul dari sebuah rawa. Petir meledak-ledak nyaris tiap hari. Dan, selalu membawa kurban!

Nusapatria bagai bumi terkutuk. Banyak hal berubah. Juga watak pemukimnya. Dulu mereka mampu menahan diri sebagai makhluk bermartabat. Kini suka bingung, curiga, mudah murka, saling cakar, saling tuduh secara ganas. Bahkan ada yang saling membunuh.

Keadaan semacam itu bukan membuat Nusapatria kiamat, tetapi makin sibuk. Hampir tiap jam ada seminar, ceramah, diskusi, demonstrasi, konperensi, untuk mengusut asal-usul keambur-adulan. Maka lahirlah jutaan halaman analisis, jadi buku dan macam-macam, tersebar di 1001 jenis media. Intinya, sejatinya, cuma dua perkara.

Pertama, perubahan watak para pemukim Nusapatria itu sebetulnya sudah terjadi lama. Cuma dulu tersumbat. Sekarang tiba-tiba meletup-letup.

Kedua, perubahan watak itu terutama ketidak-puasan lantaran Nusapatria dikuasai kaum majah alias manusia jenis gajah. Mereka rata-rata kekar, kerdil, gemuk dan agak idiot. Paling top adalah Gajah Mesem yang senyum-senyum melulu.

***

Kekacaubalauan Nusapatria memang nyanthel dalam kebingungan publik menyikapi keanehan Gajah Mesem, sang penguasa itu. Meski sepak-terjangnya mirip-mirip para kaisar purba, ia senyum-senyum saja jika disebut raja. “Kita bukan kerajaan. Kita republik!” ujarnya kapan saja. Juga, ke mana-mana ia menyebut diri abdi rakyat primus inter pares, sebagai bagian tradisi sekian abad. Maka berdasar logika manusia jenis gajah, wajar jika sang primus selalu punya pendamping (yang diam-diam jadi pesaing) ialah sang secundus inter pares.

Sang secundus itu bernama Gajah Tembem. Ia menjadi top gara-gara fakta yang ruwet bercampur gosip. Konon sang dwitunggal Gajah Mesem dan Gajah Tembem, dengan para kekasih dan panakawan masing-masing, mempunyai akses menguasai segala sumber rejeki. Penguasaan itu berlangsung mulus sekitar satu generasi berkat dukungan dan teror para babi, celeng, biawak, badak, dan bunglon.

Waktu berjalan terus, sambil nungging-nungging segala, seiring matahari yang setia timbul dan tenggelam. Sang dwitunggal beranak dan bercucu. Mereka menjadi gajah-gajah (anak-anak majah alias manusia jenis gajah adalah gajah betulan) yunior, yang lucu-lucu dan liar. Hobi mereka bikin gaduh alam seisinya. Lebih gaduh, sebab mereka mengajak-ajak sobat dan cecunguk mereka ialah para manusia jenis macan dan serigala. Ini membuat repot 1001 satwa jenis lebih lemah semacam tikus dan semut. Di mana kaum manusia beneran saat itu? Cuma menonton, frustrasi, dan sebagian besar menangis.

Rasa frustrasi kaum manusia beneran itu agaknya tercium instink para gajah. Maka di Nusapatria tak ada hari tanpa sidang. Sidang demi sidang terus berlangsung yang seolah tanpa ujung. Ketika sidang tak kunjung rampung dan kehidupan di Nusapatria kian aneh, tiba-tiba tersebar gosip Gajah Tembem tewas disambar petir. Geger! Segala satwa berebut mencari-cari letak “sumber rejeki dan segala-gala”. Eh, ternyata, Gajah Tembem cuma masuk angin.

Kejadian gempar yang tak jelas ujung pangkalnya itu membuat suhu Nusapatria melonjak-lonjak, membumbung ke angkasa, naik makin tinggi dan makin panas yang akhirnya menyambar-nyambar istana para dewa di Langit Virtual. Semua dewa blingsatan kelabakan. Tidak tahan. Lalu kirim e-mail ke Ki Siapasaja di planet Entahmana, yang tersohor di seluruh galaxi sebagai pakar ilmu kekaburan, untuk berceramah di istana para dewa di Langit Virtual.

Ceramah Ki Siapasaja singkat, jelas, jitu, dan mengundang diskusi seru. Dewa Angin bertanya, mengapa para pemukim di Nusapatria jadi panik saat diberitakan Gajah Tembem tewas sehingga mereka mencari-cari “sumber rejeki dan segala-gala” di mancanegara.

Ki Siapasaja, “Artinya, “sumber rejeki dan segala-gala” di Nusapatria itu amat misterius, kacau balau asal usul dan kredibilitasnya. Sudah jadi rahasia umum di seluruh galaksi, akses Gajah Tembem di Nusapatria sudah compang-camping. Akses yang lebih besar sudah pindah ke tangan, kaki, dan pantat para anak cucu kerabat Gajah Mesem. Jumlah akses ini dalam hitungan keping uang, bisa untuk menciptakan kebaikan dan kejahatan seluas lautan.”

“Artinya?”

“Artinya, Gajah Tembem merasa sudah tidak aman lagi bersekutu dengan Gajah Mesem. Maka ia buru-buru berkomplot dengan para gajah luar Nusapatria, terbanyak kabarnya di Kutub Entah Mana. Di Kutub Entah Mana inilah akses dan harta karun Gajah Tembem dan komplotnya disimpan, dilipatgandakan, dan diproduksi menjadi macam-macam.”

“Mengapa Gajah Tembem merasa tidak aman?

“Sebab,” sahut Ki Siapasaja, “ia tidak bisa tidur nyenyak. Kapan saja, juga larut malam, ia kerap direcoki Gajah Mesem. Minta ini, itu, macem-macem. Itu bukan cuma untuk diri sendiri tapi juga demi anak, cucu, panakawan, dan semua gajah, celeng, bahkan sampai jangkrik yang setia kepadanya.”

Meski Gajah Tembem cukup piawai dalam semua perintisan dan pengembangan bisnisnya dengan menggandeng orang dari lingkaran kekuasaan tertinggi, atau gampangnya KKN, namun mata dunia bisnis dalam dan luar negeri masih melihat dia sebagai saudagar “murni” jika dibandingkan dengan bisnis para gajah dan hewan buas lain di sekitar Istana Gajah Mesem yang sedemikian malang melintang dan banyak menyulitkan sesama pengusaha.

Salah seekor hewan buas lain itu adalah Celeng Berkumis, salah seekor celeng klik Gajah Mesem yang paling spektakuler, sebab di dalam praktek, cenderung menjalankan “bisnis perampokan”. Sang Celeng Berkumis ini dipercaya jadi Preskom dari sekitar 30 lebih perusahaan anak cucu Gajah Mesem. Ia juga disegani dan ditakuti banyak Menteri-nya Gajah Mesem.

Dalam konteks itulah, Ki Siapasaja melanjutkan uraiannya, “Banyak kalangan mengakui, salah satu penyebab utama krisis moneter Nusapatria ialah besarnya utang swasta yang diperkirakan $US 63 milyar. Sebenarnya jumlah pastinya tidak pernah ada yang tahu. Yang tahu bahwa di bulan-bulan yang dekat ini semuanya bakal “jatuh tempo”. Kalangan bisnis memperkirakan bahwa $US 43 milyar berasal dari utang swasta perusahaan putra-putri Gajah Mesem karena menangani banyak megaproyek yang menuntut tersedianya dana besar dan makin besar. Kasus mobil nasional misalnya, cuma salah satunya saja.”

Karena itu, demikian ujar Ki Siapasaja lebih lanjut, maka mulai muncul konflik antara Gajah Mesem dengan Gajah Tembem. Masalahnya, Gajah Tembem tahu, setiap bahaya yang bisa mengancam iklim usaha di Nusapatria akan berdampak langsung pada bisnisnya. Koalisi bisnisnya dengan keluarga besar Gajah Mesem, sebenarnya pedang bermata dua. Ia jelas menjadi kunci keberhasilannya selama ini. Namun pada tahap sekarang ini, kian membuktikan akan menjadi kunci keruntuhannya

Gajah Tembem yang banyak bergaul rapat dengan kalangan investor kuat luar negeri, tentu tahu banyak apa yang mereka inginkan agar investasinya di Indo- nesia mendatangkan keuntungan. Untuk mempertahankan iklim investasi yang menguntungkannya, Gajah Tembem pernah mengajukan tiga saran pada Gajah Mesem.

Pertama, sebaiknya Gajah Mesem lengser. Kedua, bisnis gila-gilaan yang melibatkan berbagai bisnis megaproyek anak cucu Gajah Mesem hendaknya dibenahi dan ditertibkan. Ketiga, Gajah Mesem supaya mengakui kepemimpinan Partai Rakyat Miskin untuk menghibur hati rakyat, terutama kaum miskin kota” yang menjadi korban pembangunan dan resesi ekonomi sekarang.

Gajah Mesem mesem-mesem saja dan Gajah Tembem menjadi amat murung. Tetapi berkat tekad baja kaum muda dan mahasiswa, Gajah Mesem toh benar juga, akhirnya lengser. Gajah Mesem menjadi ketakutan, lalu minggat meninggalkan Nusapatria, sambil mencecer-cecerkan harta karunnya. Sebagian masih tercecer di Nusapatria dan sebagian besar lainnya tercecer ke berbagai tempat lain di dunia. Singkatnya, menjadi harta karun bermasalah. Kebermasalahan itu juga menimpa harta karun Gajah Tembem dan keluarga besarnya.

Harta karun mereka itu

Lalu menjadi rebutan para babi

Para penguasa Nusapatria terkini

Sebab kaum muda dan mahasiswa

Tak bisa berkonsolidasi

Mengendalikan Nusapatria

 

Hilversum, Februari 2003

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: