Home > L Murbandono Hs > Tidak Bisa!

Tidak Bisa!

Oleh L Murbandono Hs

ENTAH kenapa tiba-tiba anak perempuan saya yang sudah tidak bisa saya recoki urusan pribadinya menurut aturan negara di tempat saya tinggal sebab sudah berumur di atas 18 tahun, bertanya, “Pa, sebagai manusia apakah saya bisa menjadi Presiden yang baik?”

Saya jawab, “Tidak tahu. Tergantung kamu sendiri.”

Dia memandang saya keheranan, kemudian berpikir sejenak, dan merumuskan pertanyaannya secara lain, “Maksud saya begini, pa, apakah di zaman sekarang ini dimungkinkan seorang perempuan bisa menjadi Presiden yang baik?”

Saya jawab, “Tidak bisa!”

Dia puas. Lalu pergi. (Sayang dia sudah langsung puas dan percaya. Tidak menanyakan contoh-contohnya. Padahal saya sudah punya stok contoh perempuan jadi presiden yang lalu mubazir). Saya kheki. Lalu merokok. Di tengah asyik merokok, datang anak lelaki saya yang masih boleh saya recoki urusan pribadinya sebab belum berumur 18 tahun. Mungkin sudah sekongkol dengan mbakyunya, ia tiba-tiba juga mengajukan pertanyaan yang mirip, “Pa, apakah di zaman sekarang ini masih mungkin seorang lelaki menjadi Presiden yang baik?”

“Tidak bisa!”

Dia, entah puas atau tidak, bertanya lagi, “bagaimana kalau homo, apakah dia

bisa menjadi presiden yang baik?”

“Tidak bisa!”

“Kalau lelaki, perempuan dan homo itu orang yang beragama?”

“Tidak bisa!”

“Kalau mereka Ateis?”

“Tidak bisa!”

“Jadi, siapa yang bisa menjadi presiden untuk saat ini?”

“Anjing-anjing dan atau babi-babi!” sahut saya.

Sekarang dia benar-benar puas. Lalu pergi. Padahal sejatinya saya masih mau ngomong panjang lebar mengenai anjing-anjing dan babi-babi itu. Maka saya jadi frustrasi, ogah merokok, lalu mengunyah kacang asin. Melamun. Dan barangkali dari Gunung Merbabu, arwah teman saya yang mati sia-sia di Timor Timur sebab cuma serdadu kroco umpan peluru, menelpon, “Sobat, apakah sekarang ini masih mungkin memancing di Rawa Pening dengan santai seperti kita dulu?”

Saya jawab, “Tidak bisa!”

Dia puas. Terdengar telpon ditutup. Saya pun puas. Lalu menelpon ke alam baka.

Dan diterima Entah Siapa. Setelah kami ngobrol ngalur ngidul, akhirnya beliau

bertanya, “Saudara, apakah dimungkinkan di zaman sekarang ini seorang pejabat

seratus persen mengabdi rakyat tanpa pamrih?”

Saya jawab, “Tidak bisa!”

Beliau kaget, “Juga tidak bisa, umpama dia perempuan?”

“Tidak bisa! Apa beda lelaki dan perempuan?”

“Kalau homo?”

“Tetap tidak bisa! Lagipula, apa beda homo, lelaki dan perempuan?”

“Jadi singkatnya, semua manusia tidak bisa menjadi pejabat yang seratus persen

mengabdi rakyat tanpa pamrih?”

“Tepat!”

“Tanpa kecuali?”

“Tanpa kecuali. Semua pasti punya pamrih. Minimal, cari makan.”

“Lalu apa gunanya punya pejabat dong, kalau begitu caranya?” tanya Sang Entah.

Terdengar agak kecewa. Bahkan barangkali menahan amarah.

“Memang tidak ada gunanya. Negara bisa jalan terus tanpa pejabat.”

“Apa enggak chaos?”

“Justru pembuat chaos itu para pejabat.”

“Jadi semua pejabat harus dibunuh?”

“Tidak usah. Akan mati sendiri.”

“Setelah membuat chaos?” tanya Sang Entah. Terdengar putus asa.

“Lha, mau bagaimana lagi?” sahut saya. Bermasabodoh.

Telpon ditutup. Lalu saya meneruskan tugas saya. Menjalar. Menggeliat. Dan merangkak-rangkak. Sebagaimana umumnya anjing-anjing dan babi-babi.

 

Hilversum, Akhir Agustus 2002

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: