Home > L Murbandono Hs > TUHAN YANG MAHADEMOKRATIS

TUHAN YANG MAHADEMOKRATIS

Oleh L Murbandono Hs

SELAMA manusia masih hidup di bumi dan selama gundhul manusia akan mumet jika dibenturkan pintu, selama itu tetap saja ada manusia-manusia yang pintaaaaaaaaaaaaar banget dalam membangga-banggakan agamanya sendiri. Orang macam inilah yang membuat agama pihak terkait jadi tampak memelas dan lucu sekali.

Orang macam itu, saking pintarnya, tidak bisa memahami bahwa agamanya itu cuma debu berada di antara ribuan agama yang ada di bumi. Sekali lagi, ribuan! Belum di hadapan sikap hidup non agama! Dan selama saya hidup, saya akan terus gembar-gembor memperlihatkan dan mempertontonkan, bahwa di bumi ini terdapat ribuan agama! Dan agamaku, ya agamaku, cuma titik debu di antara ribuan agama lain!

Manusia-manusia pintaaaaaaaaar yang suka membangga-banggakan agamanya sendiri itu, pada umumnya tidak mampu menghayati hakikat manusia yang beradab, dan tidak nyambung dalam komunikasi, sebagai keniscayaan peradaban. Sebab, wacana komunikasi itu luas. Selalu dalam konteks-konteks.

Orang pintaaaar macam itu tidak pernah ngerti, kita lagi asyik ngomong soal bumbu-bumbu martabak. Eh, ujuk-ujuk dia malah pamer bahwa serabi saus santal kental Sala paling ciamik. Lhah, apa hubungannya? Ini ekstrimnya. Tapi itulah yang bisa saya simak, hampir tiap kali saya baca “debat” soal agama.

Dengan orang-orang pintaaaaaaaaaaar macam itu kita nggak akan pernah sampai ke “dialog” dan sosialisasi 1001 perkara penting peradaban semisal dialektika iman dengan wahyu, dialektika dan saling isi antara yang rohani dengan yang jasmani, apalagi hal-hal teknis teologis semisal kesejarahan semua fenomena ke-Illahi-an, terminologinya, jagat konkret Kitab-kitab Suci, jagat konkret nabi-nabi, politik di sekitar para nabi, psikologi para penulis Kitab Suci, proses panjang kelahiran Kitab-kitab Suci, teknik pengumpulan dan arkeologinya, dan sejenisnya dan sejenisnya.

Terhadap orang-orang pintaaaaaaaaaaar yang cuma bisa membangga-banggakan agamanya sendiri SAMBIL SEKALIGUS menyerang kelamin orang lain yang penuh rahasia dan tidak sepenuhnya mereka mengerti sendiri itu, kita tak akan pernah bisa sampai pada deskripsi obyektif yang manusiawi dan beradab mengenai agama dan 1001 unsurnya. Kita tak akan pernah sampai pada analisis membedah bahwa dalam agama itu ada unsur dongengnya, tahyulnya, legendanya, politiknya, unsur-unsur “ngibul”nya demi kepentingan didaktis zamannya, dan tentu saja unsur-unsur kebaikan, kebenaran dan historisnya.

Singkatnya, terhadap orang-orang pintaaaaaaaaaaar yang lucu bagai dakocan itu, diskusi soal agama hanya akan menjadi sampah. Percuma diteruskan. Tidak akan produktif. Sebab orang-orang picik yang semacam itu, tak akan pernah dibawa ke refleksi filosofis yang lebih mendalam. Hampir tiap istilah, terpaksa harus dikoreksi. Apalagi sampai dibawa ke fondasi terdalam, misalnya sampai ke fondasi: “Agama itu Aku!”

MASALAHNYA, Yang Illahi harus bisa didekati dengan akalbudi.

Ke-Illahi-an yang tidak bisa didekati dengan akal budi adalah sampah. Ke-Illahi-an yang cuma bisa diberi kilah “tinggal percaya atau tidak” adalah wacana peradaban yang secara kultural masih berada di tataran ontologis dan atau paling pol, mistis. Tahun 2002 adalah taraf peradaban di mana umat manusia sudah ratusan abad meninggakanl kultur dan atau peradaban tersebut, ketika akal budi fungsional sudah melampaui taraf-taraf teknik, superteknik, siber, dan seterusnya, yang berpuncak dalam AKU tiap individu yang sudaaaaaaaaah jauh melampaui 1001 konvensi goblok-goblokan di masa silam.

Salah satu fenomena goblok-goblokan itu, adalah negara-negara teokratis! Di dunia barat yang berlatar belakang kristiani, ini sudah lama digebuk, dilabrak, dibuang, diinjek-injek, dikentutin, diberaki dan diludahi. Samasekali sudah dibuang ke got, selokan, dan atau tinggal di museum-museum sebagai bahan tontonan yang untuk ditertawakan dan hiburan. Itulah nasib negara teokratis dalam wacana peradaban “barat” setelah melewati abad-abad mistik dan tahyul peradaban Yunani dan Ibrani, lalu kawin dengan peradaban Asia Barat alias Timur Tengah bercampur Mesir yang bersendikan Pentateuch dari Sinai yang berlumuran darah, cemeti dan pedang, lalu melewati zaman pertengahan, pencerahan, reformasi Luther, sampai ke revolusi industri dan zaman teknologi —- terus sampai pada pencerahan peradaban politik, bahwa negara dan gereja adalah dua hal, harus dipisah, harus diceraikan, sebab jika tidak akan membuat peradaban terancam jadi dungu, tolol, sedheng, manyun, dan hanya memberi fasilitas pada karakter feodal yang nyanthel dalam agama!

Tentu saja secara empiris dan historis, kejadiannya tidak sesederhana itu. Ya, silakan bacalah risalah-risalah dan atau disertasi filsafat dan teologi yang mengupas hal tersebut. Yang sampai mata kita rembeeeeees semua, nggak akan pernah selesai terbaca. Jadi, perlu ada orang yang bisa merumuskannya secara singkat, padat, langsung, secara gampang, menurut otak waras!

Tapi yang pasti adalah, sampai detik ini, hampir di semua agama, sifat “bercemeti dan berbelati” itu masih dan pernah ada. Juga, misalnya, di agama Katolik. Maka itulah ada Konsili Vatikan II, tahun 1960-an, artinya setelah gereja Katolik berumur sekitar 20 abad. Apa intinya? Pemanusiawian dan pembumian agama. Segala ayat keras Kitab Suci “diabaikan” (tak dikutik-kutik sebab tak bisa dihapus) dan dogma “tidak manusiawi dan tidak demokratis” semacam “diamandemen”, minimal dalam tafsir dan pelaksanaan dalam hidup konkret sehari-hari. Sifat teosentris dengan antrophosentris diseimbangkan. Jika analogi ini ditarik ke wacana agama entah apa, sejatinya kaum moderat tak perlu kerepotan direcokin garis-garis “aneh” kaum fanatik yang tolol. Mengapa? Sebab Tuhan itu Mahademokratis! Sistem politik yang diberlakukan di semua Negara teokratis, mengingkari Kemahademokratisan Tuhan. “Politik” feodalisme agama telah memacetkan peradaban. Agama (politik) telah mengingkari ziarah sejarah. Banyak contoh pelaksanaan sistem agama yang “bercemeti dan berbelati” menjadi amat melukai rasa peradaban kemanusiaan yang universal.

Alhasil, agama apa pun, selama masih “bercemeti dan berbelati” tetap bermasalah. Tapi saya yakin, mayoritas manusia Republik Indonesia, bukan manusia beragama yang semacam ini. Begitu politik “memakan” agama, maka di Indonesia, sebagai bagian permainan politik global, terpuruk dalam wacana konflik agama versus Politik. Ini bikinan! Bikinan globalisasi, kapitalis/imperialis global, yang bingung cari musuh, setelah tembok Berlin runtuh, setelah Komunis “cerai berai”.

Tantangan terberat bagi manusia beragama di abad yang amat kompleks ini, saat manusia tak sudi dikibulin oleh tahyul-tahyul, adalah mampu menunjukkan, bahwa Tuhan agama mereka masing-masing, adalah Tuhan yang Mahademokratis, sehingga mampu mengakomodasi pluriformitas secara enak dan kepenak dan sexy dan menggiurkan dan menghibur dan serba oke di dalam kehidupan konkret dan di bumi yang konkret.

Lhah, akheraaat? Itu cuma konsekuensi logis apa yang ada di bumi konkret. Dus, akherat itu, secara rasional, sudah ada sekarang ini, yaitu di dalam gundhul kita masing-masing.

SINGKATNYA, AGAMA DAN SEGALA TETEK BENGEK APA SAJA, ADANYA DI GUNDHUL KITA MASING-MASING. JIKA GUNDHUL KITA TIDAK ADA, ALIAS KITA TIDAK ADA, TIDAK ADA APA-APA. LHA BAGAIMANA BISA MEMBAYANGKAN APA-APA, SEBAB “ALAT” PEMBAYANGNYA SAJA TIDAK ADA! DUS, TUHAN ATAU ALLLAH ATAU APA SAJA ITU ADALAH GUNDHUL KITA MASING-MASING.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: