Home > L Murbandono Hs > UANG YANG MAHAKUASA (1)

UANG YANG MAHAKUASA (1)

Oleh L Murbandono Hs

BENARKAH uang telah menjadi Tuhan? Pernahkah kita persoalkan atau rasakan pertanyaan seram itu? Jika belum, penampilan Uang yang Mahakuasa ini mungkin membantu dan membawa manfaat. Siapa tahu ia bisa jadi modal bagi kita warga RI, yang saat terpuruk mengantisipasi Kemahakuasaan Ekonomi Global, tetap wajib jadi manusia seutuhnya ialah harus menggeluti nilai-nilai rohani dan atau Tuhan

Awal Perkara

Uang yang Mahakuasa lahir dari debat beberapa ekonom dan teolog di Belanda. Sumber debat adalah De Nacht van Het Kapitaal (Malam Sang Kapital), buku/disertasi A Th van Leeuwen setebal 839 halaman, terbit di Nijmegen pada 1984. Jadi, 18 tahun sudah berlalu sejak terbitnya buku itu. Dan, senyap! Ia seperti kurang bergema. Entah kenapa. Karena dicurigai subversif? Sukar? Isinya muter-muter?

Maka, kesenyapan itu ingin saya gembar-gemborkan. Sebab ia langka tapi perlu, yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Tapi kemampuan saya terbatas. Catatan-arsip-dokumen saya tentangnya, amburadul. Dalam keterbatasan itulah, tulisan ini lahir.

Keamburadulan itu cuma sempat mencatat bahwa sekitar awal 1990 De Nacht van Het Kapitaal berkibar jadi debat. Yang terlibat: teolog Marc Vandepitte dan para ekonom yaitu Goudzwaard dan Rick Steur. Semua orang hebat di bidangnya.

Begitulah, esei ini sekadar “A Report of Mengintip” dan saya pilih model esei klas warung. Akibat pilihan ini, footnotes ilmiah dan sejenisnya, lenyap! Mohon maaf atas kecingkrangan ini. Terpenting pembaca tahu, seluruh diskursus ini bukan otentik ide saya. Tapi, segala cacat dalam tulisan ini menjadi tanggungjawab saya sepenuhnya.

Mari, kita intip bersama-sama! Kita masuk ke langit debat yang melibatkan jalan pikiran para teolog dan ekonom di atas. Di langit debat itu sebenarnya  melayang-layang seabrek perkara. Tapi kita batasi tujuh perkara saja, ialah:

  • Uang Menjadi “Tuhan”
  • Kuil Bursa Yang Kudus
  • Agama ekonomi
  • Pengabstrakan Manusia
  • Ekonomi Makan Agama
  • Tuhan Harus Turba
  • Akhir Perkara

Uang Menjadi “Tuhan”

Uang hadir di mana-mana. Juga menyengat otak kita! Ia menyergap tiap sudut kehidupan. Dewasa ini ia bukan cuma hadir, bahkan mendominasi. Dominasinya kian luas dan dahsyat sehingga menjadi “Tuhan”. Ini bukan ibarat, tapi nyata. Uang betul-betul jadi Mahakuasa yang Konkret. Juga, ini tak bersangkutpaut dengan tercetaknya kata Tuhan dalam mata uang, misalnya dolar. Sebab, maksud yang sebenarnya mengingatkan tiap pemegang uang akan Tuhan, rupanya telah gagal. Bukannya orang makin ingat Tuhan. Uang justru menjadi “Tuhan” yang lain.

Di atas itu salah satu pokok yang dikaji dalam De Nacht van Het Kapitaal. Digugat hubungan uang dengan Tuhan. Jika uang adalah Tuhan, apa indikasinya? Indikasinya, menurut Van Leeuwen, ialah mekanisme ekonomi. Ziarah mekanisme ini panjang merangkum filsafat, teologi, aneka bidang keilmuan, sejarah, budaya, politik dan seterusnya yang ujungnya melahirkan beleid politik. Lalu lahir kiprah ekonomi, puncaknya uang, yang berdampak luas menentukan sifat dan perilaku manusia.

Perilaku manusia akibat dominasi uang begitu mencolok. Ini tampak dalam 1001 laku positif dan negatif, yang basis dan tujuan akhirnya ialah uang. Fenomena  positif ialah orang bekerja cari nafkah yang melahirkan aneka macam profesi.

Fenomena negatif lebih kompleks. Ini berupa laku dan atau profesi yang menyimpang. Contohnya seluas langit. Demi uang orang jadi maling dan segala variasinya semacam garong, todong, kolusi, korupsi, manipulasi, kongkalikong dan lain-lain. Juga, demi uang orang membunuh. Melacur. Ngemplang hutang. Mengangkangi tempat empuk. Ngibul. Kawin. Demi uang lahir mafia pembakar dan pengkapling hutan negara, penyelundupan termasuk xtc, manipulasi pajak, lahir diploma atau SIM atau skripsi aspal, lahir bisnis electric prods dari negara industri munafik ke negara yang alat negaranya masih biadab sebab lebih percaya penyiksaan katimbang kecerdasan otak. Dan, tak ada habisnya.

Bahwa perilaku manusia jadi “gila” uang, bukankah itu masalah manusianya dan bukan masalah uang? Uang sendiri tidak ngapa-ngapain bukan? Justru ini pertanyaan teologis yang dikaji dalam De Nacht van Het Kapitaal. Intinya: kiprah teologi tak boleh menafikan ekonomi. Urusan teologi bukan cuma Tuhan. Dalam teologi, Tuhan tak bisa disebut tanpa lebih dulu menyebut manusia dengan segala ihwal-perkaranya.

Begitu pula ekonomi. Urusan pokok ekonomi antara lain membuka proyeksi ekonomis masa depan. Dan itu bukan melulu soal uang, saham, akumulasi rejeki dan sejenisnya. Ekonomi juga memikul tugas sospolbudhankam alias peradaban.

Manakala proyeksi ke depan itu didayagunakan, ia akan melibatkan dan atau muncul dalam beleid-beleid politis. Akibatnya, muncul berbagai pendekatan ekonomis yang warna-warni, seabrek dan malang melintang yang tingkahnya tergantung guru, padepokan, universitas, sirkuit dan ismenya masing-masing. Singkatnya, mekanisme pokal-gedrag-gedoe ekonomi ditentukan oleh mekanisme politik yang berlaku.

Jadi, eksistensi ekonomi tidak netral. Ia memihak, nyanthel pada beleid politis tertentu. Ini berdampak luas. Tiap orang kena. Maka ekonomi yang beradab, atau pas secara teologis, adalah ekonomi yang sistemnya bersimpati pada masyarakat banyak.

Kenyataan, kiprah ekonomi yang konkret tidak begitu. Karakter ekonomi yang amat dominan saat ini adalah akumulasi uang. Ini diperoleh dari hasil penjualan komoditi. Jadi, komoditi dan daya jual jadi kata kunci. Makin punya komoditi yang berdaya jual kuat, Anda akan makin diperhitungkan dan memperoleh simpati.

Dalam konteks macam itu, tak mengherankan jika kelestarian alam, pendidikan, pemberantasan kemiskinan, pengangguran, pelayanan kesehatan dan sejenisnya tidak masuk hitungan. Sebab, mereka bukan komoditi sehingga tidak punya daya jual.

Padahal hal itu semua kebutuhan dasar. Jika suatu kebutuhan dasar tidak masuk hitungan, tentu ada faktor X dalam ekonomi, sehingga mereka tidak terlihat, atau sekurang-kurangnya tersembunyi dalam ekonomi. Penyebabnya: para ekonom dan atau para perancang kebijakan ekonomi kurang “awas” atau tidak bersimpati pada hal itu.

Di mana letak faxtor-X tersebut? Dalam ekonomi atau dalam performance kebutuhan-kebutuhan dasar itu sendiri? Di sini – demikian Van Leeuwen – ekonom tak bisa memberi jawab. Ia butuh teolog. Jadi diperlukan kerjasama ekonom dan teolog.

Lalu kerjasama itu jadi apa? Jadi ekonomi teologis atau teologi ekonomis? Menurut Van Leeuwen, jadi dua-duanya. Yang pertama adalah ekonomi yang secara teologis bisa dipertanggung jawabkan alias ekonomi yang bermoral. Yang kedua adalah teologi yang secara ekonomik bisa dijalankan alias teologi yang membumi.

Kuil Bursa Yang Kudus

Sekalipun kerjasama teolog dan ekonom tidak ditolak, namun teologi ekonomis di atas diragukan Goudzwaard. Ia menunjuk sikap ragu koleganya, para ekonom, akan peran teologi dalam ekonomi. Bagi umumnya kaum ilmuwan non-teologi – demikian Goudzwaard – apalagi para ekonom, ekonomi cuma didekati dengan hukum-hukum imanen dalam ekonomi sendiri.

Juga – dengan akal biasa khalayak umum – Tuhan tak punya peran dalam ekonomi. Maka apa yang bisa dicari para teolog di dalam ekonomi? Menurut van Leeuwen, banyak yang bisa dicari. Cuma soal kecil memang, tapi ada fakta teologi dalam ekonomi. Misalnya, kata Tuhan dalam matauang dolar AS. Fenomen apa ini? Tuhan siapa dalam matauang itu? Bukankah itu indikasi ada kerinduan nilai-nilai baik dalam ekonomi? Jika dalam realitas ekonomi tidak terdapat hal-hal sakral, nilai-nilai macam apa yang dicari manusia? Dengan kata lain, atas dasar kebaikan macam apa norma-norma ekonomis harus ditegakkan? Ternyata, dasar itu mudah ditemukan. Sebab sejarah menunjukkan di tiap zaman selalu tersedia Tuhan dan atau “Tuhan” yang mengatur segalanya. Ingat saja Marx dan Engels. Pada 1848, mereka sudah merumuskan Sang Mahakuasa pengatur manusia adalah kapital alias modal.

Dengan semangat yang sama Van Leeuwen menelusuri Tuhan dalam ekonomi, dalam acuan ilmiah Marx dan Engels, yang amat kompleks untuk tulisan berkualitas amburadul macam ini. Terpenting adalah kesimpulan Van Leeuwen: uang adalah Tuhan! Itu berdasar pada empat butir sikon obyektif dunia dewasa ini.

Pertama, dunia kita berputar dalam lingkaran setan pembunuhan dan saling merampok, korupsi, manipulasi, kasak-kusuk, persekongkolan jahat dsbnya. Dus, penuh dosa. Kenyataan dunia tidak dihukum. Misalnya dihabisi semacam Sodom-Gomorah. Orang-orang jahat tetap hidup. Bahkan banyak yang hidup enak.

Itu terjadi karena mekanisme daya suci yang tersembunyi, ialah pemilikan modal dan atau punya akses ke kapital, sebagai bagian integral mekanisme roda ekonomi. Itu menyebabkan antara mereka yang saling bercakaran dalam lingkaran setan tersebut, tidak saling membantai. Mereka bercakaran untuk orgasmus.

Dua, daya suci ini tersembunyi di Kuil Kudus, ialah pasar bursa. Di dalam kuil ini dunia bersekutu, saling tergantung, dalam menentukan arah dan haluan. Di situlah berlangsung pembunuhan dan pencurian, sebagai upacara sakral memuja dewa yang tidak nampak. Dewa itu adalah Kapital, Sang Maharaja Uang.

Tiga, selama Kuil Kudus beserta pemeluknya tak diganggu gugat, pembantaian dan pencurian akan terus bersekutu di dalam liturgi mereka yang kudus.

Empat, Kuil Kudus itu memang tak bisa diganggu gugat. Ini disebabkan dunia modern makin sekular. Bukan cuma sekularisasi yang terjadi, melainkan sudah terpuruk dalam sekularisme. Dengan kata lain, modernisasi jadi modernisme. Dalam konteks itu, dunia yang kita miliki sekarang adalah dunia yang sudah tak percaya pada Tuhan atau “tuhan” atau dewa-dewa dan sejenisnya. Kata-kata iman dan kepercayaan bisa berbusa-busa, namun penghayatan dan realitas konkret menandai dunia yang makin materialistik, rasional, obyektif, empiris dan robotik katimbang spiritual, emosional, subyektif, metafisik dan hangat.

Terpuruk dalam empat butir sikon obyektif di atas, dunia jadi buta, meraba-raba dalam gelap malam Sang Kapital. Mana serigala dan mana orang, tidak jelas. Jika banyak orang jadi serigala, kehadiran serigala tak akan tampak. Padahal, manusia bukan serigala.

Kebukanan manusia sebagai serigala itulah yang ditelusuri Van Leeuwen. Di situlah letak peran teologi. Sebab, teologi berusaha membuka takbir dewa dan atau Tuhan, yang tidak “dipercaya” dalam arti dihayati dan atau dicari secara sungguh-sungguh oleh dunia modern. Mungkinkah?

Bagi Van Leeuwen, itu tak jadi masalah, asal teologi cermat menelusuri fenomena ekonomi di dalam praktek. Dalam kaitan ini, ia meriset sejarah kebudayaan Eropa, khususnya posisi, peran dan kapasitas agama dalam kebudayaan itu. Bagai ziarah panjang, riset merangkum era purba sampai abad pertengahan. Saat itu filsafat dan teologi amat dominan. Peran agama, kesakralan ibadat, gagasan transenden dan sejenisnya memberi warna dan menguasai segala sektor kehidupan.

Dengan Revolusi Perancis posisi itu digeser, diganti politik. Datangnya kapitalisme industri membuat peran agama makin tersingkir. Dalam rangka analisis teologis dalam ekonomi itu, agama tradisional sudah disudutkan di pinggir. Perannya terbatas pada hal-hal kurang penting. Ia cuma jadi substitusi. Kadar kualitasnya, atau pangkatnya dalam peradaban ekonomi, paling tinggi sersan, yang tak membawa dampak luas. Agama tradisional, dalam mekanisme ekonomi, paling pol menyentuh individu-individu tertentu. Ia jadi kolekte atau pengumpulan dana aksi belas kasihan, yang secara ekonomis cuma nyamuk dalam mastodon roda ekonomi. Sikon demikian terjadi karena agama sudah tidak lagi jadi pusat dan motivasi bagi banyak orang.

Begitulah, maka Sang Kapital alias ekonomi alias uang jadi pusat segala sektor kehidupan. Jantung dunia bukan lagi Vatikan melainkan sekitar Wallstreet. Ziarah peradaban bergerak pada garis yang kian sekular – sekularisasi. Kalaupun seabrek individu masyarakat global bilang masih berTuhan tapi beleid dan atau keputusan politik yang mempengaruhi nasib banyak orang secara konkret tidak berstempel Tuhan. Stempelnya adalah Sang Kapital, Uang, “Tuhan” yang baru.

(BERSAMBUNG)

Categories: L Murbandono Hs
  1. February 13, 2012 at 10:08 am

    Mantap tulisan lo bro seide ma gw

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: