Home > L Murbandono Hs > UANG YANG MAHAKUASA (2)

UANG YANG MAHAKUASA (2)

Oleh: L Murbandono Hs

Agama Ekonomi

Beleid-beleid politik berstempel Sang Kapital itu merupakan dampak dan atau korelasi langsung dengan sekularisme sebagai ekses sekularisasi. Tapi, sebenarnya kedatangan sekularisasi netral. Tak perlu ditangisi. Ia justru jadi pintu gerbang dan motivasi bagi teologi, jika teologi tak mau kehilangan peran.

Teologi akan bisa jadi alat koreksi. Dalam masyarakat modern yang makin sekularistik, seperti di masa revolusi Industri, orang merasa dimerdekakan dari Yang Absolut. Mereka merasa lega, lepas dari beban aneka macam dari Yang Absolut.

Justru di situlah letak kekeliruannya. Sebab, orang dan atau masyarakat akan tetap butuh “Yang Absolut” – sebagai semacam sarana pengikat. Di zaman sekarang ini, praktis tak ada orang yang hidup di pulau tersendiri. Bahkan, juga tak ada masyarakat yang 100% bisa mengisolasi diri.

Masyarakat yang konkret selalu terbingkai dalam negara dan pemerintahan tertentu. Dan tiap negara selalu menciptakan “ideologi” atau apapun namanya, agar dipatuhi tanpa syarat oleh masyarakatnya. Di negara-negara tertentu, amat sedikit, agama dipandang cocok untuk ideologi negara. Tapi mayoritas negara di bumi, tidak. “Ideologi” mereka adalah “agama” yang lain, semacam agama baru. Menurut Van Leeuwen, itulah “Agama Ekonomi” dengan uang sebagai “Tuhan”.

Tempat ibadat “Agama Ekonomi” adalah pemutlakan pasar – pasar bebas. Ia menjadi segalanya. Dogma-dogma ekonomis menjadi tak bisa diganggu gugat. Pasar mewartakan keselamatan bagi mereka yang percaya. “Agama Ekonomi” menjanjikan pangan, sandang, papan, pekerjaan, kesejahteraan, kebebasan dan keadilan bagi para pemeluknya. Kredo pada pasar dan ekonomi adalah jalan keselamatan.

Jadi, dengan timing tepat dan cara jitu, ekonomi telah mengantisipasi zaman. “Agama Ekonomi” telah mengisi kevakuman. Begitu Tuhan dalam agama konvensional tak membawa dampak konkret padahal masyarakat selalu butuh Yang Absolut untuk sarana pengikat, “Dia” masuk! Kebutuhan itu dengan lihai disuplai pasar bebas kapitalisme global. “Dia” mewartakan keselamatan berupa pangan, sandang dan seterusnya seperti disebut di atas.

Dinamika “Agama Ekonomi” itu mencipta akumulasi laba dan modal alias uang sebagai dogma dasar yang amat mempengaruhi perilaku manusia secara meluas. Pengaruh ini diwakili tiga fenomena penting. Pertama, saudagar jadi makin besar makin rakus. Kedua, oknum sirkuit birokrasi negara makin kasar main serong dengan para cukong. Ketiga, frustrasi rakyat makin besar tanpa daya sebab tak bisa ikut beribadah dalam liturgi Agama Ekonomi tersebut.

Juga, dinamika di atas terjadi akibat tuntutan pasar – itulah Sang Sabda. Ia jadi kekuatan mutlak yang baru. Sang Sabda lalu jadi Sang Pasar – itulah “malaekat” yang baru. Faham “Agama Ekonomi” itu bukan sekadar proyeksi gagasan tetapi mewujud konkret dalam produksi-distribusi-konsumsi sebagai hasil perilaku manusia sendiri.

Teori di atas sebetulnya tidak otentik. Feuerbach dan Karl Marx pernah mewariskan hal senada. Menurut Feuerbach, manusia menciptakan Tuhannya dengan daya khayalnya sendiri. Karl Marx bilang: Agama masyarakat modern yang telah kehilangan Tuhan adalah Kapital.

Pengabstrakan Manusia

Sekalipun bukan samasekali baru, teori Van Leeuwen perihal “Agama Ekonomi”  menunjuk degradasi kemanusiaan. Dalam hal ini Van Leeuwen tidak sendirian. Marc Vandepitte, teolog Belgia, juga melihat bahaya kiprah ekonomi. Sebab, target mekanisme ekonomi adalah keuntungan – akumulasi uang dan modal – yang gilirannya akan sangat menguasai mayoritas manusia. Target itu menuntut persembahan-persembahan non manusiawi, dalam arti, tuntutan akumulasi uang akan jadi norma yang mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan sendiri. Sebab, “Agama Ekonomi” telah menggiring manusia sebagai SDM, menjadi sosok-sosok abstrak. Seabrek fenomennya mencolok dalam proses produksi.

Beberapa di antaranya ialah:

Satu, dalam proses produksi manusia (pekerja) yang konkret diubah menjadi angka-angka laba, atau uang, yang abstrak. Pemerasan, pemanfaatan dan pemerasan terhadap manusia yang konkret, pada gilirannya menghasilkan keuntungan yang abstrak, sebab terwujud dalam akumulasi uang dalam rekening-rekening bank.

Itu terjadi akibat politik ekonomi rekayasa sejumlah mastodon bisnis, yang sekalipun punya nama, tapi hakikatnya mengabdi akumulasi uang dalam bentuk angka-angka yang abstrak di pasar bursa. Manipulasi konkret terhadap manusia konkret itu, dalam politik ekonomi, berubah bentuk jadi aneka pelipur lara seperti petuah, seminar, pidato-pidato dan sejenisnya yang bagus-bagus dan abstrak.

Dua, akumulasi laba alias uang telah jadi norma dan bertahta mengatasi dignity kemanusiaan. Jika atas nama laba sebuah pabrik harus tutup, tutuplah dia, tak peduli nasib para buruh. Sebaliknya jika proyeksi laba menyusun dogma perluasan proyek, diperluaslah dia, meski harus menggusur tanah sawah rumah rakyat. Itu semua terjadi karena permintaan dan atau tuntutan pasar – alias akibat Sang Sabda!

Tiga, pengabstrakan manusia terjadi akibat dialektika abstraksi dan konkretisasi dalam “Agama Ekonomi”. Uang ialah bentuk lain pekerja (konkret) yang diabstrakkan. Buruh ialah uang (abstrak, angka-angka) yang dikonkretkan. Dan, keuntungan (abstrak) adalah pemerasan (konkret) yang telah diabstrakkan.

Abstraksi dan konkretisasi itu makin dahsyat sebab politik ekonomi (abstrak) masih acapkali culas. Padahal, tanpa keculasan dan saat politik berjalan lurus, abstraksi dan konkretisasi tetap berlangsung juga. Tingkat kedahsyatan itu makin canggih seiring dengan kecanggihan zaman. Makin modern-canggih zaman, makin kompleks politik ekonomi, makin kabur dan makin bertopeng praktek homo homini lopus.

Di era purba, segalanya lebih transparan. Fenomena pemeras dan yang diperas, penindas dan sang tertindas, mewujud jelas dalam artikulasi dan pemaknaan. Sebab dikotominya jelas ialah tuan tanah versus petani, majikan-budak, ningrat-jelata. Pendeknya, sirkuit atas berhadapan dengan sirkuit bawah, si kuat versus si lemah. Kings, baron, lord, graaf, earl, prince dan sejenisnya – tentu ada kekecualian – berdiri di satu kubu ialah kubu penindas, dan sirkuit rakyat jelata melata tersaruk-saruk di kubu lain sebagai alas kaki yang diperas-ditindas-dilecehkan.

Dalam dunia modern, transparansi artikulasi dan makna itu memudar. Kualitas pemerasan dan penindasan makin canggih, kabur, sampai pada gilirannya seolah-olah sudah bukan penindasan dan pemerasan.

Tapi celakanya di pihak tertindas, atau untungnya di pihak penindas, penindasan itu justru seolah-olah menjadi keniscayaan bahkan kebutuhan di pihak si tertindas. Itulah yang terjadi dalam “Agama Ekonomi” tempat Sang Maharaja Uang bertahta.

Jadi, uang juga menjadi Pencipta Abstrak. Ia menyulap dan menyihir manipulasi dan ketidakadilan yang konkret menjadi kebutuhan yang abstrak dan semu. Kebutuhan abstrak-semu ini jadi realitas konkret sebab dalam proses produksi pemerasan dan ketidakadilan toh tak bisa dicegah para kurban. Manipulasi dan ketidakadilan itu jadi keniscayaan dan bahkan seolah-olah jadi perwujudan kehendak bebas para kurban.

Ekonomi Makan Agama

Bahwa pemerasan-manipulasi-ketidakadilan menjadi kebutuhan, kiranya sukar masuk akal. Justru itulah kedahsyatan “Agama Ekonomi”. Diakui atau dimaki-sumpahi, ia terbukti paling banyak pemeluknya, mengatasi semua agama konvensional.

Sebab, dalam masyarakat sekular tempat Tuhan makin jadi anonim dan abstrak maka ciptaan Tuhan makin penuh rahmat dalam arti makin tak terbatas daya pikir dan akal-akalannya. Dalam konteks ini kapitalisme tampil lebih konkret mewartakan kredo-kredonya. Terbukti ia jadi lebih berkuasa dibanding segala agama konvensional. Dampak akibat dan pengaruhya begitu konkret dan efisien menyetir perilaku manusia, melebihi pengaruh semua agama konvensional. Lebih dahsyat lagi, dalam banyak kasus ia bukan cuma masuk tapi bahkan mencaplok lahan agama konvensional.

Anehnya, kemahakuasaan uang-ekonomi yang menjelma jadi semacam agama itu tidak disadari manusia modern. Ini disebabkan orang sedemikian sekular sehingga tak bisa menangkap segi “rohani” ekonomi. Atau sebaliknya, sebab orang demikian ortodoks hingga tak sudi dan atau menganggap tabu kenyataan ekonomi dimasukkan ke wilayah agama. Dengan demikian kubu ini secara apriori menolak adanya nilai “rohani” dalam ekonomi dan atau uang.

Akibatnya, gerak uang jadi begitu leluasa tanpa kendala dan pesaing. Ia mampu memonopoli mengendalikan peradaban. Uang, sang “entah apa” yang begitu dahsyat mengendalikan peradaban, apakah itu bukan Tuhan?

Begitulah, maka sekalipun “Agama Ekonomi” sudah menjadi “agama” mayoritas di bumi, tetapi tidak disadari oleh manusia masakini. Ini tidak konsekuen. Orang makin modern-sekular kok tidak mengenal “Agama Ekonomi” sebagai agama mereka.

Tapi itu bisa dipahami. Saran Vandepitte, begini: Untuk mengenal fenomen itu sebagai suatu agama, perlu analisis struktur ekonomi dalam hidup modern. Seberapa jauh aksi dan atau mekanisme ekonomi memang punya nilai rohani. Dengan kata lain, perlu sentuhan-sentuhan teologis untuk menangani fakta ekonomi.

“Agama Ekonomi” itu bukan obyek di luar manusia. Ia nyanthel dan melibatkan manusia secara langsung. Jadi, ia bagai klenik, ada, konkret, tapi sukar dibuktikan. Maka, yang penting – demikian Van Leeuwen – pemahaman ihwal-perkara “Agama Ekonomi” tergantung pada sikap menghayati kehidupan, terutama fakta ekonomi di hadapan fakta agama. Dengan sikap itu maka teologi bisa dianggap kritik terhadap kekuasaan agama dan atau ideologi dalam pengertian dan hakikatnya yang menyeluruh.

Itu disebabkan tiap masyarakat, entah disadari atau tidak – sebenarnya sudah selalu mempunyai dewa, Tuhan dan tuhan, isme, pujaan, acuan panutannya masing-masing. Artinya, selalu punya agama dan atau “agama”nya masing-masing. Maka jika teologi tidak ingin kehilangan relevansi dan mau membumi, ia harus berganti sikap. Sedemikian rupa, sehingga ia bisa pas dengan dewa-berhala-acuan yang diimani masyarakat dunia modern yang sekular.

Untuk itu, model rekayasa kekuasaan Eropa masa silam, khususnya di ambang runtuhnya feodalisme, bagus jadi pelajaran. Sebelum kelahiran kapitalisme industri abad ke-17, penguasa telah menggunakan pengaruh agama bukan demi keselarasan metafisik dan atau alami, melainkan demi kapital dan akumulasinya,  yang ditandai dengan hubungan tuan-budak. Dengan model itu, teologi diharap bisa menunggangi ekonomi demi nilai-nilai sakral metafisik dan atau Tuhan.

Jadi, soal pokok adalah metode teologi. Metode ini harus berubah ialah dari kritik metafisik menjadi kritik ekonomis dan politis. Teologi harus meninggalkan obyek dan atau kajian yang mengawang. Kajian dan obyek yang abstrak dan a-historis harus ditinggalkan dan menangkap fenomen yang konkret, historis dan aktual.

Gagasan Van Leeuwen di atas mengingatkan kita pada Karl Marx. Filsuf dan ekonom yang Das Kapitalnya tak banyak dipahami banyak orang dan kelewat rumit untuk kebanyakan kaum serdadu itu, sebenarnya telah menyediakan pintu gerbang untuk itu. Mungkin Van Leeuwen melihat pintu gerbang itu. Lalu memasukinya.

Tapi, sebab eman, ia dihalang-halangi Vandepitte. “Jangan masuk! Itu horrible! Tabu!” Kira-kira begitulah bengok-bengoknya kepada Van Leeuwen. Bagi Vandepitte, upaya Van Leeuwen dengan De Nacht van Het Kapitaal itu radikal. Mau patah arang dengan metode teologi yang masih berlaku sampai dewasa ini.

Apakah radikalitas itu jadi perkara penting dalam diskursus yang sedemikian? Yang lebih penting adalah bahwa upaya Van Leeuwen bukan mencari semacam teologi dalam teori ekonomi, melainkan analisis teori ekonomi sebagai warga teologi. Ekonomi bukan lagi dipahami sebagai sesuatu yang berada di luar teologi tapi jadi bagian integral di dalamnya.

Para teolog yang mengabaikan transformasi sikap di atas – menurut Van Leeuwen – berarti mandek bersikutat dengan Tuhan yang sudah lewat. Sementara itu, “Tuhan” yang betul-betul bertahta konkret mengendalikan kehidupan konkret – yaitu ekonomi dan uang – malah luput dari pengamatan. Kemandekan itu membuat teologi terpuruk dalam kesibukan sia-sia ialah menggeluti humanisme yang abstrak.

Tapi, apakah metode teologi yang ditawarkan Van Leeuwen tersebut, masih bisa disebut teologi? Menurut Van Leeuwen, bisa! Sebab teologi – termasuk agama – adalah lautan penelusuran tanpa batas. Ia tak pernah final. Soal pokok adalah Anda pilih teologi yang mengapung di langit atau teologi yang punya basis di bumi.

 (BERSAMBUNG)

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: