Home > L Murbandono Hs > UANG YANG MAHAKUASA (3)

UANG YANG MAHAKUASA (3)

Oleh L Murbandono Hs

Tuhan Harus Turba

Pasti betul, teologi akan jadi ilusi jika Tuhan dilepaskan dari situasi konkret. Tuhan harus turba langsung masuk ke jantung masyarakat. Tapi Tuhan tak akan turba jika tak ada rekayasa manusia. Jadi, Tuhan harus diturbakan. Wujud men-turba-kan Tuhan seabrek. Tuhan pernah turba dalam humanisme, strukturalisme, eksistensialisme dan deret panjang isme yang lain, mengapa kini tidak turba ke ekonomi, kapital, uang?

Dengan demikian menjadi jelas, tesis yang ingin diuji dalam De Nacht van Het Kapitaal adalah peran Tuhan dalam ekonomi. Tapi yang terjadi, justru dominasi ekonomi – yang ujungnya adalah uang – di banyak sektor kehidupan. Uang, muara segala kiprah dan mekanisme ekonomi, telah menjadi motif dan basis penggerak aktivitas manusia. Uang menjadi sentral. Ia menjadi “Tuhan” yang baru.

Karakter “illahi” uang itu transparan dalam karakternya yang abstrak. Abstraksi angka-angka, kurs, bursa, saham dan garis-garis haluan konglomerasi itu amat berdampak di semua sektor kehidupan. Jumlah produksi, ketentuan harga, system gaji, jumlah tenaga kerja dll tunduk pada beleid yang mengikuti pasar.

Di pihak lain, karakter “iblis” fenomen uang (ekonomi) adalah beleid yang membuahkan persaingan. Ia makin meningkat di semua tingkat: lokal, nasional, regional dan internasional. Ini mengakibatkan ketidakpastian, intrik, perpecahan. Pihak-pihak yang bersaing akan terus memperkuat diri untuk menghindari resiko. Pihak satu tak akan memperhitungkan pihak lain. Race ini tak ada habisnya sebab semua menang. “Kekalahan” seorang konglomerat cuma membuat penderitaan semu dan abstrak. Bukan penderitaan konkret. Ia masih bisa enak sekalipun masuk bui, misalnya.

Dampak race itu dahsyat dan meluas. Pada dunia usaha, konglomerasi terus memperluas jaringan dengan seabrek inovasi. Pada sirkuit resmi tingkat puncak, ia jadi kolusi, korupsi dan manipulasi. Pada tingkat tengah, ia mencipta robot-robot berdasi. Pada tingkat bawah, ia mencipta kawanan massa bengong-bingung-pilu dan atau paria yang terpaksa merelakan diri jadi alas kaki untuk sekadar hidup.

Kiprah dan mekanisme ekonomi (atas nama dan demi perintah Sang Uang) pada ujungnya membuat manusia terus bersaing. Bukan hanya dengan pihak lain, tapi ia harus bersaing dengan diri sendiri, dalam arti menahan diri sampai bertobat saat ia mampu bilang: stop, sekian cukup!

Sementara itu, hakikat manusia konon adalah makhluk yang punya tujuan akhir ialah Tuhan. Hakikat ini tak bisa berubah. Manusia tetap punya tujuan akhir. Lalu apa tujuan akhir manusia masakini? Uang? Kalau begitu, uang adalah “Tuhan.”

Sebab uang sudah jadi “Tuhan”, maka harus bertanggungjawab pada aneka kematian fisik dan atau dalam arti luas di dunia! Gugatan ini bukan hanya suara teolog tapi juga didukung ekonom. Ini menonjol pada Rick Steur, ekonom dari Universitas Leeuwarden. Bukunya yang mengupas soal ini adalah Een Andere Economie Vraagt Een Ander Geloof? (Ekonomi Lain, Butuh Iman Lain? – ELBIL), terbit pada 1989.

ELBIL mengimbau perubahan sikap manusia dalam roda ekonomi. Sebab pola ekonomi masakini, membawa manusia pada degradasi. Di Dunia berkembang, bahkan jadi malapetaka dan soal hidup atau mati. Sistem ekonomi global telah membawa Negara berkembang tercekik hutang ke bank-bank komersial Barat. Hutang itu bukan membantu. Ia gombal dan bahkan racun. Makin banyak hutang, makin banyak racun.

Racun itu makin mencolok dalam bisnis senjata. Berbagai jenis senjata yang gunanya untuk membunuh, masih terus diproduksi dan dijual. Juga ke negara-negara berkembang. Uang mengalir ke negara industri dan negara berkembang dapat penyakit, konflik dan bunuh-bunuhan. Alasan pokok orang masih beli senjata, kata Steur, adalah kedunguan. Alasan-alasan yang lain, semuanya dicari-cari. Nonsens belaka!

Konflik senjata akan tamat, jika produksi senjata stop. Tapi produksi jalan terus. Demi uang. Jika tak ada konflik, dilahirkan konflik. Arsitek konflik itu, tergantung jenis dan model negaranya, namanya aneka macam, selalu seram, yang hakikatnya adalah monster untuk peradaban yang bagus. Yaitu, para spion. Di negara mana saja, spion selalu ada. Mereka mau jadi monster sebab demi … uang!

Singkatnya, beleid ekonomi demi uang telah menggiring peradaban jadi sakit. Juga di negara-negara maju. Uang telah melahirkan penyakit profesi, stres, frustrasi, kerusakan lingkungan, kriminalitas, robotisasi manusia, keracunan makanan dan deret panjang “penyakit” yang lain. Uang telah merampok budiluhur manusia.

Maka refleksi kritis terhadap uang, sudah harus jadi keniscayaan bagi manusia masakini. Kiprah ekonomi bertarget akumulasi uang, bukan hanya meningkatkan konsumerisme, melainkan juga produktivisme – produksi demi produksi. Ia adalah alat dan kacung sistem ekonomi global. Dengan target efisiensi dan kelugasan, tanpa hati, produktivisme memacu kerakusan. Itulah sistem ekonomi yang mencekik.

Lalu, mau apa sekarang?

Yang dibutuhkan dunia sekarang adalah sistem ekonomi demokratis. Yang membebaskan. Yang melibatkan sebanyak mungkin orang dalam kiprah ekonomi. Yang outputsnya cukup untuk semua dan bukan hanya untuk segelintir orang.

Itulah sebabnya dalam rangka De Nacht van Het Kapitaal, konglomerasi diimani sebagai salah satu manifestasi “Agama Ekonomi”. Konglomerasi adalah aktivitas konkret liturgi akbar dalam pemujaan Sang Uang yang Mahakuasa.

Ngeri?

Ingat saja ucapan Mahatma Gandhi. Begini: “Bumi menyediakan banyak sumber yang cukup untuk tiap orang. Tapi persediaan bumi tak akan pernah cukup untuk  memenuhi kebutuhan mereka yang tamak.”

Di sela-sela ucapan Gandhi, mungkin nama Tuhan yang sejati masih bisa disebut. Di situlah ekonomi dan teologi bisa berkomunikasi. Sehingga “Tuhan” itu dikembalikan ke Tuhan.

Akhir Perkara

Menghadapi keperkasaan uang di atas, rupanya orang diharap bersikap arif. Uang begitu dahsyat hingga dalam De Nacht van Het Kapitaal disebut Tuhan. Meski ini cuma cara ungkap teologis yang sekilas berlebihan menempatkan pengaruh uang, ia bisa tampak melecehkan warga Barat yang saleh sebab buku di atas fokusnya lebih mengutak-atik masyarakat Barat.

Bagaimana kita? Warga RI sejati itu konon manusia seutuhnya. Selain jasmani ia makhluk rohani yang menghormati nilai supernatural. Menyebut uang adalah Tuhan bisa dianggap pelecehan agama. Tapi – demikian Van Leeuwen -soal pokoknya bukan agama melainkan uang. Lagipula, tiap masyarakat punya Tuhan dan acuan rohaninya sendiri yang tak akan kehilangan peran jika rela ganti “gaya” hingga pas dengan nilai-nilai yang “diimani” masyarakat zamannya.

Itu berarti nilai rohani harus meninggalkan muatan abstraknya. Jadi, terjadi transformasi sikap menghadapi realitas ekonomi alias uang. Nilai uang tak bisa dibungkam seolah tanpa muatan rohani sebab terbukti dahsyat mempengaruhi perilaku manusia termasuk manusia yang beragama. Jadi, uang sebagai “Tuhan” itu justru harus dipadukan integral dalam kehidupan rohani dan dengan demikian tak ada maksud melecehkan agama apalagi Tuhan.

Akhirnya, renungan praktis berikut mungkin membantu. Sehari kita punya 24 jam. Dalam 24 jam itu seberapa jauh porsi kegiatan kita demi keadilan, cinta, membela rakyat, agama dan demi Tuhan? Lalu berapa jam atau prosen kegiatan kita untuk mencari uang? Hanya 5 persenkah? Atau 95 persen?

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser Senior bidang Humaniora dan Budaya

Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: