Home > L Murbandono Hs > Wartawan Sejati

Wartawan Sejati

Oleh L Murbandono Hs

MESKI gunjang-ganjing di lapisan atas kayak kandang bubrah tapi Indonesia pasti bisa diubah menjadi makin baik dan makin benar. Cuma mungkin akan lama atau lama sekali! Memang, ada juga orang orang yang bilang perihal konsolidasi demokrasi segala, tapi konsolidasi itu tentunya makan waktu juga. Jadi total jendral, berapa lamanya? Saya tidak tahu. Barangkali setengah abad!

Yang saya tahu, Indonesia bisa diubah menjadi makin baik dan makin benar, karena bakal ada pengubahnya. Siapa? Banyak! Pengubah paling jitu dewasa ini bukan bangsanya aktor-aktor legislatif, eksekutif dan yudikatif. Mereka pintarnya cuma memacam-macami Indonesia dengan karnaval moral-moralan, politik-politikan, budaya-budayaan, konstitusi-konstitusian dan sejenis itu yang ujungnya memble doang, ketika pada waktu yang sama, kerja konkret harian mereka bikin skandal dan bikin sial melulu. Kalau enggak korupsi, ya makan pabrik, atau menelan orang!

Jika bukan mereka, lalu siapa? Banyak! Mungkin lebih 150 juta orang Indonesia bisa melakukan kerja-kerja perubahan yang mulia tersebut. Mereka adalah individu-individu yang jelas namanya, tidak misterius riwayat hidupnya, dan sungguh-sungguh jujur alias bukan jujur-jujuran. Di antara individu-individu itu, kaum wartawan cukup penting, sebab zaman ini sedang musim era informasi. Umpama zaman ini zaman perang, atau Indonesia itu tukang perang, pengubah Indonesia yang terpenting tentu saja bukan wartawan, melainkan jendral-jendral. Bukan berarti di era informasi ini tidak ada jendral yang bisa melakukan kerja-kerja mulia, ya ada saja, tapi pasti tidak banyak. Sebab salah satu syaratnya amat berat, yaitu, tidak kaya raya nan gemerlapan.

Soalnya sekarang, Indonesia memilih era informasi atau memilih menjadi tukang perang? Logisnya ya harus memilih era informasi! Ini lebih cocok dengan trend universal yang beradab. Apalagi, nyatanya, semua negara yang normal sibuk menggeluti era informasi dengan sekuat tenaga. Informasi artinya pers, media, komunikasi dan sejenisnya. Yang kuncinya, wartawan.

Itu bukan berarti wartawan paling jago! Sebab yang disebut informasi itu kalau diusut dan diulur-ulur secara meluas ya menyangkut seluruh sektor kehidupan. Tapi urusan yang sedang kita urus ini adalah kapling-kapling. Kalau dolar dan bank itu kaplingnya ekonomi dan politik, pelor-pelor dan rupiah itu kaplingnya hankam, maka wartawan itu kaplingnya informasi. Jadi, seluruh persoalan di atas kalau mau dipadatkan bisa dirumuskan begini, “Di era informasi ini, Indonesia akan bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih benar, jika diubah oleh wartawan-wartawan yang hebat”. Nah, mau apa lagi? Indonesia mempunyai banyak wartawan yang hebat. Bahwa saat ini tidak terlalu kelihatan, ya wajar saja. Mungkin ogah pamer. Atau takut!

Wartawan yang hebat itu kayak apa? Kata kuncinya ya cuma satu, yaitu sejati, yang ditandai dengan segala kata bernilai positif. Jadi, wartawan yang hebat itu akan selalu ciamik, benar, baik, jujur, peka, obyektif, blokosuto, jenaka, pintar, mulia, bergairah, cekatan, ekspresif, artistik, khatam banyak kitab, dan sejenisnya. Semua kata itu adalah fondasi. Jadi wartawan itu, jika sejati, mungkin hampir mirip malaekat, atau minimal peri yang baik.

Mungkin yang di atas itu rada abstrak dan kurang terperinci. Kalau begitu, berikut ini sembilan daftar indikasi wartawan yang hebat tersebut.

Pertama, wartawan yang hebat akan selalu menjadi Pancasila yaitu jujur  (Ketuhanan), anti kekerasan (perikemanusiaan), lentur kayak karet tapi tegar kayak batu (kebangsaan), anti korupsi (keadilan), dan membuat senang semua orang (musyawarah mupakat).

Kedua, harus hidup bebas untuk merdeka dan merdeka dari rasa tertindas. Ini ditandai dengan sikap yang terbuka, anti klik-klikan, berempati kepada semua orang tanpa membedakan SARA, suka menjaili neraka, dan menyayangi binatang.

Ketiga, berkepribadian unggul ialah cerdas yang idealnya kayak Einstein dan suci mirip Bunda Teresa dari Kalkuta. Akan lebih bagus jika juga pintar silat,  untuk membela diri menghadapi tukang kepruk. Dan terpenting, dalam menghadapi orang harus objektif, tegas, tegar prinsip tapi lentur cara, independen dan memiliki jiwa kepemimpinan misalnya kayak Hitler, Gajahmada, atau Washington. Dan terpenting, tidak sudi membeli ijazah!

Keempat, pintar nulis secara cepat dengan mikir sendiri, berpandangan luas,  sehingga tidak melulu menjadi loudspeker politik, tapi juga mampu mengupas bagaimana kodok menjadi ular, dan mengapa daun mawar bercabang lima harus dielus-elus dan yang bercabang tiga harus dibunuh. Singkatnya, ia harus mampu menjawab kebutuhan publik dan membuat kehidupan menjadi lebih enak dan kepenak.

Kelima, tidak terbius oleh masalah-masalah elite politik dan memaksakan hal tersebut kepada masyarakat, tapi justru sebaliknya, harus lebih tergila-gila terhadap masalah-masalah konkret di masyarakat dan memaksakannya kepada elite politik sampai megap-megap. Wartawan yang hebat akan menganginkan masalah-masalah elite politik, khususnya elite politik di Indonesia, sebab itu cuma bikinan, yang miskin kadar politisnya alias cuma politik-politikan. Dalam konteks ini, mereka bukan saja tidak menggubris melainkan juga dalam hati mengencingi omongan semua orang yang bermasalah dalam urusan korupsi, pelanggaran HAM, dan mereka yang masih getol bermimpi menginginkan Indonesia menjadi Negara Islam.

Ketujuh, getol menggarap dan menginformasikan isu-isu masyarakat sampai betul-betul menemukan solusi dan bukan hanya sekedar menganggapnya sebagai kejadian atau tontonan, sehingga masyarakat hanya dijadikan obyek. Karena itu, mereka mempunyai semangat investigasi yang tinggi terhadap isu-isu dan problem di masyarakat dan tidak hanya menempati pos-pos institusi tertentu. Mereka suka kluyuran di jalan-jalan, pasar, kali, gua, hutan-hutan, tempat-tempat angker, dan ke mana saja, terpenting bukan cuma ongkang-ongkang di depan komputer.

Kedelapan, mempertahankan kebebasan pers secara habis-habisan, dan akan melawan segala bentuk beleid pemerintah yang muaranya hanya akan mengerdilkan jati diri kebebasan pers. Jika rakyat dan pemerintah ribut, maka tanpa berpikir dua kali, akan kontan membela rakyat dengan cara menginformasikan suara rakyat sebanyak-banyaknya, terus-menerus, dan gencar, sambil menganginkan segala ucapan agen-agen pemerintah. Dengan kata lain, prinsip wartawan yang hebat adalah right or wrong pokoknya rakyat, sebab rakyat selalu right, dan pemerintah selalu salah jika ada konflik.

Kesembilan, suka membaca bukan saja kitab-kitab bertuah semisal filsafat, teologi, dan ilmu bumi, tapi juga rajin membaca komik, khususnya komik wayang.

Sembilan daftar itu masih bisa diperpanjang sepanjang jalan yang ada di bumi. Tapi jika sembilan daftar itu sudah terpenuhi, agaknya keruwetan Indonesia yang bagai benang kusut itu, bisa sedikit demi sedikit tertanggulangi, kalau enggak dalam tempo dekat, ya sampai sekitar setengah abad mendatang.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: