Home > L Murbandono Hs > WIJI THUKUL, DI MANA KAMU?

WIJI THUKUL, DI MANA KAMU?

Oleh: L Murbandono Hs

APA guna punya pangkat tinggi

kalau hanya bikin rakyat ngeri?

Apa guna slogan demokrasi

kalau banyak intimidasi?

ITULAH cuplikan satu dari sekian ratus puisi Wiji Thukul alias Jikul alias Thukul, penyair RI dari Solo, Jateng. Cuplikan lain, konon cukup  terkenal, “hanya ada satu kata: lawan!” Gara-gara puisi-puisi semacam itukah yang membuat Jikul sampai kini “menguap”?

 Nasib  Jikul  itu agaknya membuat prihatin Jaap Erkelens dari KITLV cabang Jakarta. Dalam Surat Pembaca Kompas 18/2 ia menanyakan Jikul. Menurutnya, di zaman Orde Baru sejak 27 Juli 1996, setelah kasus penyerbuan Kantor PDI Megawati, Jikul dicari-cari aparat keamanan, dan sampai Januari 1998 masih bertahan hidup di persembunyian. Setelah itu, nasibnya tidak jelas. Ia kuatir, jangan-jangan Wiji Thukul sudah diculik sebelum Soeharto jatuh, mungkin masih bersembunyi atau “disembunyikan”.  Ia mengharapkan informasi lebih jauh dari para pembaca Kompas mengenai  nasib sang penyair.

Jika Jaap Erkelens yang orang Belanda saja memprihatinkan nasib Wiji Thukul, saya ya jadi kikuk sebagai orang Indonesia jika adem ayem belaka. Sejak Surat Pembaca itu muncul di Kompas, belasan nomor telpon yang pemiliknya mungkin kenal sang penyair, saya pencet- pencet. Hal sama saya lakukan terhadap banyak nama yang punya e-mail, sebab lebih praktis: klik sekali, sudah njebret ke mana-mana. Tapi dua jalur upaya itu tidak membawa hasil.

***

SEJATINYA ihwal ketidakwajaran tentang Wiji Thukul itu sudah jadi tanda tanya sejak lama. Mengapa anak muda yang sedemikian vokal bergairah dan bersemangat justru menjadi  “bisu” manakala Indonesia sudah “merdeka lagi” dan angin keterbukaan berembus kencang dari Sabang sampai Merauke?

Maka manusiawi belaka ketika akhir 1998 manakala saya kebetulan bertemu Halim HD di Melbourne (Arief Budiman bikin seminar “mengurus” nasib Indonesia), ihwal Wiji Thukul itu juga saya tanyakan. Tapi bahkan seniman budayawan Solo yang intens menggumuli kehidupan Solo dan para senimannya itu, juga kehilangan jejak tentang Jikul. Dia cuma berjanji akan memberitahu kalau mendapatkan info lebih luas, jitu, dan jelas.

Setahun lebih telah berlalu. Info lebih luas-jitu-jelas itu tidak/belum ada. Yang muncul justru Surat Pembaca Jaap Erkelens yang isinya masih bertanya. Hal itu makin menegaskan, nasib Wiji Thukul tetap tidak jelas sebab masih ngilang seperti Antareja ambles bumi.

Tapi mengapa mesti gempar? Apakah seorang Wiji Thukul amat penting bagi Indonesia? Jika pertanyaan itu jadi “kewajiban bangsa” hingga soal Jikul dianggap tidak ada, tentunya saya harus diam atau bingung. Tapi dalam hal ini, bingung itu “bodoh”. Sebab tidak ada ilmu yang melarang orang mempersoalkan suatu keanehan yang mengganggu akal sehat.

***

SIAPA Wiji Thukul? Secara konkret, saya tidak tahu apa pun tentang dia. Saya tidak kenal secara pribadi dan tidak/belum pernah ketemu dia. Saya cuma kenal nama dan puisi-puisinya plus berita/gosip di sekitar dirinya. Ini diawali sekitar paruh  tahun 80-an, lewat berbagai berkala sederhana yang terbit dan beredar di Eropa Barat semisal Arah, Kreasi, Berita Tanpa Sensor, Mimbar, Tapol (London), aneka terbitan dari Komite Indonesia (Amsterdam), dan terbitan dari Australia semisal Inside Indonesia.

Dari info lewat sumber-sumber yang mungkin dianggap  “siluman” itu (khususnya saat Orde Baru masih galak), Wiji Thukul itu mungkin mengesankan bukan siapa-siapa. Dia “cuma” anak tukang becak, lahir pada 24 Agustus 1963 di kampung kumuh Sorogenen, Solo, Jateng. Sekolah formalnya drop-out SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Jurusan Tari. Profesinya srabutan: jualan koran di bus-bus, tukang becak, makelar tukang sablon kaos, tukang plitur, pengamen, kuli, dan berbagai pekerjaan “rendah” halal yang lain.

Yang membedakan Jikul dari generasi kumuh sekampungnya ialah ia sudah suka menulis puisi sejak SD, suka diskusi, teater, dan berorganisasi, semisal aktif dalam Teater Suka Banjir. Ia menikah dengan Sipon alias Dyah Sujirah. Sang istri ini tidak lulus SD dan profesinya juga uarkan suara-suaranya.

Kedua, mungkin masih bersembunyi. Tapi jika menyembunyikan diri secara bebas, logisnya, Wiji Thukul tak akan kehilangan suara vokalnya. Sebab 1001 cara bisa dia tempuh.

Ketiga, mungkin Wiji Thukul diajak “salam damai” yang wujudnya bisa teror atau justru “jaminan kemuliaan duniawi” dengan pihak-pihak tertentu. (Jika ini yang terjadi, agaknya keterpaksaan harus survive akan dimaklumi oleh banyak orang. Saya pribadi berdoa, mudah-mudahan hal ini sajalah yang kini sedang dialami Wiji Thukul.)

Keempat, mungkin dia sudah “dilenyapkan”, entah oleh siapa pun. Anehnya:  mengapa, sejauh saya tahu, tidak/belum ada protes gencar dari teman-teman dan atau keluarganya? Apakah mereka terpuruk dalam keterpaksaan “salam damai” yang sama?

Lepas entah mana dari empat spekulasi di atas yang benar, bagi negara dan bangsa Indonesia, keanehan ihwal menghilangnya Wiji Thukul mengandung tiga pesan berikut.

Pertama, jika dia benar-benar lenyap tanpa kabar berita dan tak ada seorang pun yang serius mencarinya berarti bangsa Indonesia umumnya dan khususnya penggemar sastra, pakar-guru-pengamat sastra, masyarakat sastra, sastrawan dan apalagi kaum penyair, sudah menjadi “supermodern” dalam arti bersebodo amat terhadap nasib anak manusia yang ada kemungkinan jadi korban kebiadaban sesama manusia.

Kedua, jika ia benar-benar lenyap ditelan bumi dan tak ada penjelasan resmi dari pihak terkait khususnya pihak berwajib dan lebih khusus lagi pihak keamanan yang di masa lalu pernah mengurus Wiji Thukul sampai kabarnya sang penyair pernah “remuk” badan dan jiwanya semisal rusak matanya, maka bangsa Indonesia harus menangis bersama sebab mempunyai sirkuit pihak berwajib abdi bangsa (di zaman Orde Baru disebut penguasa) yang tidak peka menyikapi tanda-tanda zaman sehingga selalu menghindar dari kewajibannya.

Ketiga, membiarkan kabut ketidakjelasan tetap membungkus nasib Wiji Thukul berarti mempertahankan misteriusme ala Indonesia sebagai negara purba ajaran Orde Baru.

Jikul, di mana kamu? Aku setuju kata-katamu.

Kemerdekaan adalah nasi

dimakan jadi …..

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang humaniora dan budaya

Radio Nederland Wereldomroep Hilversum, Belanda

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: