Home > Christianity, Effendi Susanto, Theology > Dont Waste Your Life

Dont Waste Your Life

Oleh: Pdt. Effendi Susanto STh.

Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

 Filipi 1:18-26

What is the most important thing in your life? Apa yang menjadi hal paling utama di dalam hidupmu? Adakah seperti Paulus kita mengatakan, “The most important thing in my life is to magnify Christ”? Apakah itu yang menjadi keinginan dan kerinduan hati kita, yang paling utama dan paling terpenting bagi kita, yaitu Kristus dimuliakan di dalam hidupku?

Minggu ini tepat peringatan 10 tahun September 11; peristiwa yang telah merubah tatanan dunia; peristiwa yang mengejutkan orang segala lapisan. Pada hari itu hampir tiga ribu orang meninggal dalam sekejap mata. Mungkin hampir terlupakan dari ingatan kita, peristiwa tsunami yang melanda Aceh dan berbagai tempat lain, yang mengambil korban jiwa lebih dari seratus ribu orang. Jauh lebih besar dan lebih dahsyat daripada September Eleven. Tetapi intinya bukan soal besar atau kecilnya jumlah korban yang mengejutkan hati kita. Pada waktu kita melihat peristiwa orang meninggal secara mendadak, tidak kita sangka dan kita duga, apa yang menjadi pemikiran di dalam hidup kita? Masih segar ingatan kita beberapa waktu yang lalu di Brisbane, pada hari yang sama satu keluarga dengan 11 jiwa meninggal dunia karena ledakan gas di rumah mereka. Di tengah air mata, anggota yang survived berkata, “This is too much for me to bear…” Terlalu besar, terlalu berat bagiku untuk menanggungnya. Belum lagi, di tengah-tengah kehidupan kita bergereja, kita juga menemukan orang-orang yang kita kenal dan kita kasihi mengalami sakit, sakit yang parah dan berat. Di tengah-tengah kita ada keluarga yang dari tahun ke tahun, satu persatu kehilangan orang-orang yang mereka kasihi.

Mungkin hal-hal seperti ini membuat orang seringkali bertanya, di tengah penderitaan, sakit penyakit dan kesulitan yang ada, dimana Tuhan sesungguhnya di dalam hidupku? Pada waktu kita melihat orang yang meninggal dengan tiba-tiba dan tidak terduga-duga, kita tidak pernah berpikir bahwa hal-hal seperti itu gampang dan bisa saja terjadi di depan pintu hidup kita. Bahkan hari ini, kita keluar dari gedung gerejapun, siapa yang bisa menjamin bahwa kita tidak akan mengalami hal yang sama? Berapa banyak di antara kita keluar dari rumah membawa mobil, kita tidak pernah sadar bahwa sebenarnya kecelakaan di mobil jauh lebih banyak jumlahnya daripada orang yang meninggal di dalam peristiwa September Eleven? Di Amerika saja setiap tahun 6.5 juta orang meninggal karena kecelakaan mobil. Kalau di-breakdown itu berarti dalam 13 menit satu orang mati. Kenapa kita tidak pernah berpikir bahwa pada waktu kita mengendarai mobil, kemungkinan itu bisa saja terjadi pada diri kita? Australia, jumlah penduduk tidak besar, hanya 20 juta orang. Kecelakaan mobil di Australia 100 orang per bulan, berarti 3 orang per hari. Catastrophic orang meninggal mungkin mengejutkan dan menyentuh hati kita, tetapi banyak hal kita tidak sadar bahwa kitapun tidak kebal terhadap bencana, dan kematian itu betapa mudah mengintip di depan pintu hidup kita. Ketika peristiwa-peristiwa seperti itu datang, orang selalu mempertanyakan dimana Tuhan; dan bukan itu saja, mungkin juga hati bertanya, apa salah dan karma orang itu, seolah-olah orang yang meninggal itu memang sepantasnya menerima kematian seperti itu. Di dalam khotbahnya, Pdt. John Piper mengatakan, seringkali orang memiliki persepsi yang keliru mengenai hal ini, ketika penderitaan dan kematian datang kepada seseorang, orang langsung bertanya, dimana Tuhan? Tetapi adakah orang bertanya, ‘dimana Tuhan?’ pada waktu sebuah pesawat dengan selamat mendarat di atas Hudson River dan tidak ada satupun korban, karena jelas semua mengakui ada Tuhan yang melindungi mereka. Kalau sesuatu yang ajaib dan amazing terjadi, tidak ada orang yang meragukan dan bertanya tentang keberadaan Tuhan dalam peristiwa itu.

Dalam Luk.13:1-5 orang-orang datang kepada Yesus dan bertanya, apa yang salah pada orang-orang itu sehingga mereka mengalami kematian seperti itu? Jawaban Tuhan Yesus begitu mengejutkan, seolah-olah nampaknya Yesus kurang sensitif, kurang bersimpati dan empati. Pakai bahasa kita, jawaban Tuhan Yesus mengatakan, engkau pikir mereka mati dengan cara seperti itu karena mereka lebih jahat daripada orang-orang yang lain sehingga mereka layak mendapatkannya? Tidak. Mereka tidak lebih jahat daripada orang-orang lain. Tetapi kalau engkau tidak bertobat, engkau akan mati dengan cara yang sama seperti mereka. Mungkin pastoral konseling Kristen, atau bahkan konseling sekulerpun tidak menganjurkan kita menjawab orang seperti itu. Kita mungkin seharusnya bertanya dengan simpati, how do you feel about that? Kita bersimpati, kita jatuh kasihan, kita turut mengeluarkan air mata kepada orang-orang yang tertimpa bencana dan kejahatan seperti itu. Tetapi Yesus tidak demikian. Dengan tegas Ia mengatakan, kalau engkau tidak bertobat, engkau akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Kalimat Yesus seolah-olah tidak sensitif, kalimat Yesus seolah-olah tidak simpati. Tetapi sesungguhnya Tuhan Yesus mengajak kita memikirkan lebih dalam. Kamu pikir mereka yang sedang berjalan di bawah menara dekat Siloam lalu mati tertimpa batu itu lebih jahat daripada orang-orang lain? Tidak. Saya percaya kalimat Yesus itu ingin mengingatkan kepada orang-orang yang ada pada waktu itu untuk bertanya kepada diri mereka sendiri, kenapa bukan saya yang mati ditimpa batu menara itu? Bukankah semenit yang lalu, sejam yang lalu, atau sehari sebelumnya aku juga lewat di situ? Kenapa bukan pas waktu aku di situ, menara itu roboh? Yesus ingin memberitahukan kepada mereka, yang sepatutnya mereka pikirkan betapa amazing, betapa ajaib, waktu engkau lewat di situ, menara itu tidak roboh menimpamu. Yang harus engkau amazed adalah, ‘Oh, Tuhan, saya masih bisa hidup dan bernafas sampai saat ini.’ Yang seharusnya bikin kita kagum adalah, ‘Tuhan, saya masih hidup sampai hari ini.’ Kita bukan kaget, kita bukan amazed mengapa orang itu mati; sepatutnya kita itu amazed mengapa aku masih hidup sampai hari ini. Bukan karena aku deserve akan hal ini, tetapi karena anugerahMu ya, Tuhan.’ dan kalau kita tahu hidup yang Tuhan kasih itu bisa datang sampai hari ini adalah sesuatu yang begitu indah, begitu agung, begitu amazing dalam hidup kita, pertanyaannya adalah: apa yang kita sadari dan kita mengerti dengan hidup ini? What does it matter?

Paulus tidak lagi mempersoalkan bagaimana perlakuan orang kepada dia; Paulus tidak lagi mempersoalkan bagaimana motivasi orang yang jahat kepadanya; What does it matter? kata Paulus, yang terpenting bagiku adalah Kristus dimuliakan oleh hidup dan oleh matiku. Aku tahu kalau Tuhan perpanjang hidupku hari ini, itu berarti saya bekerja lebih berbuah untuk Dia.

Meskipun bukan seorang Kristen, peristiwa tsunami telah merubah seorang aktor laga Cina, yang waktu itu sekeluarga survived dan terhindar dari bencana. Akhirnya peristiwa itu membuka matanya, dan dari situ dia sadar bahwa uang dan kekayaan tidak lebih penting daripada nilai hidupnya. Waktu yang ada, hidup yang masih ada dia rasa sudah sepatutnya dia pakai dan pergunakan untuk orang lain. Maka dia bikin satu yayasan untuk membantu Palang Merah Internasional dan menjadi good will ambassador Red Cross. Dia adalah Jet Li.

Mereka datang dan bertanya kepada Yesus, kenapa hal ini bisa terjadi kepada orang-orang itu? Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka tetapi langsung membongkar inti yang terdalam, kalau engkau bisa hidup sampai hari ini, itu bukan karena engkau lebih baik daripada mereka; bukankah semenit lalu engkau ada di bawah menara itu? Bukankah tiap hari engkau lalu lalang membawa mobil? Bukankah setiap hari engkau berhenti untuk menyeberang di perempatan jalan itu? Kenapa engkau tidak tertimpa menara itu? Kenapa engkau tidak ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh orang mabuk? Kenapa engkau tidak ditabrak sementara ada orang lain tepat berdiri di tempat yang sama, sekarang sedang sekarat di rumah sakit? Why NOT you? Kalau kita masih diberi kesempatan hidup satu hari lagi, itu bukan karena kita layak memperolehnya. Itu adalah anugerah Tuhan. Maka kenapa Yesus bilang kita harus bertobat; kenapa kita harus memiliki perspektif yang jelas dan benar akan hal ini? Kalau tidak, kata Tuhan Yesus, hidupmu tidak akan berbeda dengan orang-orang itu.

Tidak banyak orang sadar akan betapa berharganya hal itu ketika hidupnya berjalan lancar dan rutin; tidak banyak orang sadar bahwa kalau dia bisa hidup lebih panjang dan bisa berencana sepuluh dua puluh tahun ke depan, itu bukan karena kehebatannya. Dia baru akan sadar betapa terbatasnya diri pada waktu dia mengalami terminal ill; dia baru sadar betapa terbatasnya diri pada waktu vonis dokter mengatakan hidupnya tinggal dua bulan lagi. Akhirnya di situ, barulah nafas menjadi berharga dan barulah dia berpikir mana yang paling penting di dalam hidup ini. Tetapi jangan sampai kita dipojokkan Tuhan kepada situasi seperti itu, baru kita berpikir begitu, bukan? Kita hanya diminta oleh Tuhan untuk sadar bahwa hidup yang kita terima ini berada di dalam genggaman Tuhan. Pakai bahasa Pdt. John Piper, hidup kita itu tergantung di atas tali kemurahan anugerah Tuhan. Yang kita sesungguhnya tidak berhak claim; kita tidak berhak menuntut dan layak menerimanya. Kita tidak lebih baik daripada orang lain, kita tidak deserve to ask a better life than other people. Kita tidak bisa mengatakan kita lebih baik daripada orang lain sehingga hidup kita diperpanjang sehari lagi oleh Tuhan. Kalau Dia beri, itu berarti kita tidak boleh menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang datang kepada kita.

Dalam 2 Kor.6:1 Paulus berkata, “Sebagai teman-teman sekerja dalam Tuhan, kami menasehatkan kamu supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima.” Biar firman Tuhan ini juga menjadi firman yang kita pikirkan dalam-dalam pada hari ini. Kita tidak persoalkan berapa panjang atau berapa pendek waktu yang Tuhan beri kepada kita. Yang kita persoalkan adalah waktu yang Tuhan beri kepada kita itu berapa banyak yang telah kita buang dan kita sia-siakan untuk sesuatu yang tidak menjadi kekal dan berkat bagi orang lain? Don’t waste your life!

Kalimat itu harus terngiang selalu di telinga kita. Biar kita sadar dan tahu jangan pikir hidup kita masih panjang dan masih banyak kesempatan. Saya percaya kesadaran kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu itu mungkin lebih peka dimiliki oleh orang-orang yang sudah berumur daripada mereka yang masih muda. Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus, anugerah Tuhan sudah kita terima. Jangan tanya lagi kepada Tuhan, mana anugerahMu? Jangan tuntut lagi, berapa besar yang aku terima? Berapa banyak yang harus aku dapat? Jangan kecewa dan jangan iri kepada orang lain, kok dia dapat lebih banyak daripada aku? Mari kita langsung melihat, setiap kali aku bisa menarik nafas, melepaskan nafas, that is His grace that I do not deserve to receive. Saya masih memiliki tubuh yang kuat dan sehat; setiap kali check up periksa darah, masih lega karena tidak banyak “bintang” asterisk pada darahmu. Mari kita sadar itu adalah kemurahan Tuhan yang datang memperpanjang hidupku sedikit lagi.

Tidak ada di antara kita yang bisa menjamin bahwa kita bisa melewati tahun 2011 ini. Tidak ada di antara kita yang bisa menjamin pada waktu kita keluar, seberapapun telitinya kita menyetir mobil supaya tidak menabrak orang lain, kita tidak bisa mengontrol orang yang tidak teliti menabrak kita. Setiap kali engkau melewati satu jalan yang rutin engkau lewat dan melihat ada kecelakaan di situ, adakah engkau berpikir, kenapa bukan aku? Itu adalah anugerah Tuhan.

Dalam Fil.1:18 Paulus berkata, ”…what does it matter?” Apa sih yang mengganggu pikiran kita? Apa sih yang memberatkan pikiran kita sehingga kita rasa hal yang satu ini lebih penting daripada yang lain? Maka di dalam surat Filipi ini Paulus bukan saja bicara mengenai dirinya, tetapi dia berbicara mengenai setiap anak Tuhan. Dia mengatakan, “The most important thing is… hal yang paling penting adalah supaya di dalam segala hal aku tidak beroleh malu” (ayat 20). Ini adalah kalimat yang sangat penting, ini adalah kesadaran Paulus pada waktu nanti dia dan kita bertemu Tuhan, kita boleh menundukkan kepala bersyukur karena begitu banyak anugerah Tuhan telah Dia beri dalam hidup kita tidak sia-siakan. Tetapi kita juga bisa tertunduk malu dan tidak berani untuk menatap Tuhan sebab kita rasa terlalu banyak yang Tuhan kasih telah kita sia-siakan. Aku tidak mau malu di hadapan Tuhan, kata Paulus. Maka satu yang menjadi kerinduan dan keinginan yang men-drive seluruh hidupnya, ia mau Kristus boleh dimuliakan di dalam tubuhnya, baik oleh hidup maupun oleh mati. Kata yang dipakai oleh Paulus “dimuliakan” atau dalam bahasa Inggrisnya “to honor” dan “to magnify.” Pdt. John Piper menggambarkan dengan dua jenis alat yang dibuat untuk melihat sesuatu lebih besar, yaitu mikroskop dan teleskop. Mikroskop disebut sebagai magnifying glass, satu alat untuk membuat satu benda yang kecil diperbesar hingga dapat dilihat dengan mendetail. Itu fungsi dari mikroskop. Benda yang sesungguhnya kecil bisa dilihat seolah-olah besar. Jangan hidup kita menjadi mikroskop, sesuatu itu kecil kita magnify menjadi besar, akhirnya Tuhan tidak kelihatan. Banyak orang Kristen melayani seperti mikroskop. Seharusnya ia kecil di hadapan Tuhan tapi kita perbesar dengan membesar-besarkan diri sehingga Tuhan tidak dilihat dalam hidupnya. Ada banyak hal yang kecil kita besar-besarkan, itu bukan fungsi kita yang seharusnya. Tetapi beda dengan teleskop. Teleskop mempunyai fungsi bintang yang kelihatan kecil di angkasa di-magnify olehnya sehingga bisa dilihat detailnya tetapi bintang itu sebenarnya tidaklah kecil adanya. Teleskop berarti mengembalikan fungsi dari keagungan bintang dan galaksi yang begitu besar bisa dilihat dengan proporsional. Itulah fungsi magnify.

Lord, I want to magnify You in my life. Baik oleh hidupku maupun oleh matiku, aku berfungsi sebagai teleskop Tuhan. Tuhan yang besar dan agung makin nyata di dalam hidup kita sehingga orang bisa melihat hidup kita sungguh memuliakan Tuhan. Itulah panggilan kita sebagai anak Tuhan, it is the most important thing in our lives.

Tidak peduli lagi soal-soal lain, tidak peduli lagi dengan perlakuan yang tidak adil, tidak peduli akan fitnahan dan berbagai hal lain. Tidak berarti harga diri itu tidak penting, tidak berarti soal kebebasan dirinya tidak penting, tidak berarti hal-hal lain tidak penting. Tetapi pada waktu kita bawa hidup kita di bawah teleskop Tuhan, kita tahu mana yang paling penting di dalam hidup ini. Baik oleh hidupku, baik oleh matiku, kata Paulus, aku ingin itu memuliakan Tuhan.

Kita memerlukan uang, tetapi mari kita pakai uang itu sedemikian hingga dunia tahu Tuhan kita lebih penting daripada uang kita. Mari kita memberi dengan kemurahan, supaya dunia tahu uang kita tidak lebih penting daripada Tuhan kita. Mari kita bawa keluarga kita melayani mencintai Tuhan supaya dunia tahu keluarga kita tidak lebih penting daripada Tuhan. Mari kita bawa waktu kita kepada Tuhan supaya dunia tahu Tuhan lebih penting daripada waktu kita. Mari kita bawa hidup kita persembahkan kepada Tuhan untuk memberitahukan kepada dunia ini hidup kita tidak lebih penting daripada Tuhan kita. Bukan itu saja, kata Paulus, pada waktu aku matipun biar kematianku menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Pdt. John Piper menceritakan bahwa lima tahun yang lalu ia mendapat cancer di tubuhnya. Pada hari doter memberitahukan itu kepadanya, ia berlutut dan berdoa kepada Tuhan, dan ia menulis satu buku berjudul “Don’t Waste Your Cancer.” Ia menjadikan cancer yang datang ke dalam hidupnya sebagai suatu anugerah Tuhan yang dia tidak mau sia-siakan dan mau pakai itu untuk memuliakan Tuhan. Karena kembali lagi kepada ayat ini, what is the most important thing in your life? Aku mau seluruh hidupku magnify God, baik waktu aku hidup maupun waktu aku mati; baik di dalam sakit maupun waktu aku sehat. Jangan pikir tunggu kalau ada waktu baru engkau melayani Tuhan; juga pikir bahwa di dalam keadaan ‘tidak ada waktu’-pun engkau bisa melayani Dia. Jangan pikir nanti waktu engkau sehat baru engkau melayani, di dalam sakitpun engkau bisa memakainya melayani Tuhan. The most important is engkau masih bisa bernafas hari ini, itu adalah semata-mata karena anugerah Tuhan. Coba pulang, lihat apa yang ada di dalam hidupmu, apa yang sudah Tuhan berikan kepadamu, apa yang menjadi bakat dan karunia, apa yang berkelimpahan di dalam hidupmu. Hari ini firmanNya berkata, ”…jangan menyia-nyiakan anugerah yang sudah engkau terima.”

4 September 2011

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: