Home > Christology, Effendi Susanto > Ketika Tragedi Menimpa

Ketika Tragedi Menimpa

Oleh: Pdt. Effendi Susanto STh.

 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Maka menangislah Yesus.

Yoh.11:32-35

Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Luk.7:11-17

Beberapa hari yang lalu di dalam acara Oprah Winfrey sekilas saya melihat ada wawancara dengan sepasang suami isteri yang tiga tahun lalu mengalami peristiwa yang sangat dahsyat. Isteri itu sedang naik mobil membawa anak-anaknya untuk pergi shopping. Di tengah jalan, waktu lampu merah, mobilnya berhenti tetapi di belakangnya satu mobil truk yang sangat besar dengan kecepatan penuh tidak keburu rem dan menghajar bagian belakang mobilnya. Ketiga anaknya yang duduk di belakang semuanya meninggal dunia, umur 5 tahun, 4 tahun, 2.5 tahun. Tabrakan tidak terjadi dari depan, tabrakan terjadi dari belakang. Sampai wawancara terjadi 3 tahun sesudahnya, mereka tetap tidak dapat melupakan peristiwa itu. Siapa di antara kita yang berani mengatakan bahwa itu bukan tragedi yang mengenaskan, kasihan dan dahsyat? Dalam satu hari keluarga kehilangan sekaligus tiga anak. Dan pada waktu wawancara itu, sang ayah mengatakan, seringkali orang datang kepadaku dan bilang ‘time will heal; waktu akan menyembuhkan, engkau akan melewatinya; Tuhan mempunyai maksud dan rencana yang baik di situ.’ Sang ayah mengatakan kadang-kadang kalimat-kalimat seperti itu kurang terlalu membantu kami. Justru kalimat-kalimat seperti itu mungkin membuat kami berpikir banyak orang tidak mengerti dan menyadari betapa berat dan dahsyatnya penderitaan yang kami alami.

Apa yang dia katakan membuat saya berpikir lebih dalam bagaimana seharusnya kita bereaksi ketika satu tragedi terjadi di dekat hidup kita? Apakah kita harus bereaksi berdasarkan pengalaman kita masing-masing? Bagaimana kita meletakkan perspektif yang tepat, dengan konsep yang jelas, ketika kita melihat atau mengalami akan hal-hal seperti ini? Demikian juga dalam seminggu ini pertanyaan ini terus melekat di dalam pikiran saya: bagaimana mata Yesus sendiri ketika Ia datang dan melihat tragedi, penderitaan, kesulitan dan kematian yang dialami oleh seseorang?

Dalam Luk.7:11-17, Lukas mencatat satu scene peristiwa di kota Nain yang sangat menyentuh hati kita. Ada iring-iringan berjalan membawa usungan orang mati, dan yang mati itu bukan orang tua, tetapi seorang yang masih muda. Anak yang mati itu adalah anak laki-laki satu-satunya. Anak laki-laki itu milik dari seorang janda, satu-satunya tumpuan harapan. Saudara bisa bayangkan bagaimana membawa usungan itu menuju tempat penguburan, itu berarti selangkah demi selangkah ibu janda itu sedang akan mengubur dalam-dalam seluruh pengharapan hidupnya; dia akan mengubur dalam-dalam cita-cita dan impiannya. Hari itu semua habis. Sepulang dari mengubur itu, siapa yang akan menopang hidupnya? Bagaimana dia hidup sebagai seorang janda? Bagaimana reaksi Yesus melihat hal itu?

Dalam Yoh.11:32-35 Kristus hadir di depan kuburan teman baikNya, sahabatNya, dan di situ Ia melihat saudara-saudara perempuan dari Lazarus menangis tersedu-sedu; dua orang kakak-beradik kehilangan saudara laki-laki yang juga menjadi tumpuan harapan, seorang yang memegang komando dalam kehidupan keluarga, hari itu juga impian dan harapan mereka hilang lenyap.

Itu sebab saya ingin mengajak kita melihat bahwa tidak ada satu pun di antara kita yang tidak akan melewati peristiwa seperti itu, cepat atau lambat segala sesuatu itu akan menjadi bagian di dalam hidup kita. Kita tidak bicara soal apakah kita akan mengalami atau tidak; kita pasti hanya bicara soal kapankah kita akan menghadapi peristiwa seperti itu di dalam hidup kita; kapankah tibanya kita akan menderita sakit; kapankah tibanya kita akan terbaring dengan tidak berdaya; dan kapankah tibanya orang-orang yang kita kasihi di dalam kehidupan kita itu satu-persatu meninggal dunia?

Tetapi ketika peristiwa seperti itu terjadi, ada orang-orang tertentu bereaksi dengan cara yang berbeda; ada orang-orang tertentu yang melihat dengan perspektif yang berbeda; dan ada orang-orang tertentu yang tinggal tetap diam di dalam dukacitanya, menangis dan kecewa dengan tidak henti-hentinya.

Pada waktu Yesus melihat penderitaan, pada waktu Yesus melihat tragedi, pada waktu Yesus melihat kematian terjadi, respons Yesus yang pertama ialah Ia menangis. Masygullah hatiNya. Dengan kata lain Yesus hancur hatiNya melihat peristiwa itu. Yesus adalah manusia biasa, sama seperti engkau dan saya; Yesus mengerti perasaan yang kita alami sepenuhnya. Kita bukan ‘super human’ dan Yesus juga bukan ‘super human.’ Ia manusia sejati, yang lahir memiliki tubuh dan darah seperti kita, hanya Ia tidak berdosa adanya. Ia mengerti segala kelemahan dan kesedihan kita. Yesus menangis, Yesus sedih. Kesedihan Yesus, tangisan Yesus berarti Ia mengerti dan memahami bahwa orang yang mengalami peristiwa seperti itu adalah orang-orang yang penuh dengan kesedihan dan kesulitan yang begitu berat untuk bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi mari kita melihat lebih dalam lagi mengapa Yesus menangis. Yesus menangis pada waktu matinya Lazarus, selain Ia menangis karena kehilangan seorang sahabat yang Ia kasihi, sebenarnya tangisan Yesus yang lebih dalam adalah sebab Yesus tahu efek apa yang dihasilkan ketika penderitaan dan kematian itu datang menimpa kita. Kematian itu menceraikan kita dari orang-orang yang kita kasihi; kematian itu memisahkan kita dari hal-hal yang kita cintai di atas dunia ini.

Tetapi pada waktu kita menarik lebih dalam perspektif Alkitab, apakah kematian merupakan the original intention Tuhan pada waktu penciptaan? Tidak. Kematian terjadi di dalam dunia manusia bukan sebagai proses alamiah, tetapi sesungguhnya kematian terjadi di dalam diri manusia akibat dosa (band. Rom.5:12). Sehingga pada waktu kematian itu ada dan muncul, Yesus menangis, sebab Yesus tahu apa akibat yang dihasilkan dari kematian itu, apa akibat yang dihasilkan ketika evil datang ke atas muka bumi ini. Tidak pandang bulu, dia orang tua atau masih muda; tidak pandang bulu, dia orang baik atau orang jahat; tidak pandang bulu, dia orang kaya atau orang miskin; tidak pandang bulu, apakah ada sebab akibatnya. Itulah sebabnya Yesus datang; itulah sebabnya Yesus mati di kayu salib, supaya satu kali kelak dunia ciptaanNya ditebus kembali, kita hidup bersama Tuhan, kematian itu tidak akan ada lagi. Maka Why.21 mengatakan, pada waktu langit dan bumi baru itu datang, tidak akan ada lagi air mata, tidak akan ada lagi kesedihan, tidak akan ada lagi kematian, tidak akan ada lagi orang-orang jahat yang melakukan ketidak-adilan. Musuh yang terakhir yang akan dikalahkan olehNya adalah kematian (1 Kor.15:54-57). Puji Tuhan, pada waktu kesulitan yang berakhir dengan kematian itu datang kepada kita, memang hati kita sedih dan menangis karena kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Tetapi kita tidak boleh berhenti dengan pertanyaan mengapa hal ini terjadi di dalam hidupku? Dengan sedih dan menangis kita mengakui inilah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa akibat pemberontakan kami. Kami menangis sebab kami mau kelak tidak ada lagi kematian yang mencerai-beraikan hidup kami; tidak ada lagi penderitaan dan sakit-penyakit yang menghimpit hidup kami.

Yang kedua, bagaimana kita berespons dan bersikap terhadap tragedi dan kematian? Dalam Mat.10:28 dan 39 Yesus mengatakan, ”…janganlah takut kepada orang yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Dan Yesus juga mengatakan, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya; dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Kalimat-kalimat Tuhan Yesus ini mengajak kita berpikir bagaimana kita berespons ketika peristiwa-peristiwa tragedi penderitaan dan kematian itu datang kepada kita, bagaimana kita sungguh-sungguh dapat mengerti dan memahami konsep ‘what is gain, what is lost’ di situ. Apa sebenarnya yang kita sebut ‘kehilangan’ itu? Yesus berkata, barangsiapa yang ‘gain’ hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, kelak dia akan kehilangan itu semua; tetapi barangsiapa yang kehilangan segala sesuatu di dalam hidupnya karena Tuhan Yesus, kelak dia akan memperoleh semuanya.

Kita sudah hidup di dalam satu dunia dimana kita terhisab sampai di dalam tulang sumsum kita akan konsep dunia ini terhadap apa yang kita sebut dengan sukses, apa yang kita sebut dengan kepemilikan, apa yang kita sebut sebagai ‘that’s MINE!’ Kita pikir sukses, kepemilikan, apa yang kita capai dan kita raih itu milik kita selama-lamanya. Sehingga pada waktu itu semua hilang dari hidup kita, kita bilang ‘saya kehilangan itu.’ Yesus ingin memutar-balik dan menunggang-balikkan konsep nilai kita. Yesus ingin menunggang-balikkan dan merubah seluruh konsep kita mengenai apa itu ‘gain’ dan apa itu ‘lost’ yang sesungguhnya.

Berapa banyak orang menangis sebab dia ‘lost his job’; tetapi setelah sepuluh tahun dia bisa menyaksikan ‘lost the job’ itu akhirnya menyebabkan dia ‘keep his marriage safe.’ Pada waktu dia mengalaminya, dia merasa hidup sudah tidak ada artinya, dia merasa gila. Tetapi sepuluh tahun kemudian dia bisa datang bersyukur kepada Tuhan, momen itu membuat dia tidak kehilangan isteri dan anaknya.

Berapa banyak orang hidup sukses, mencapai karir, mengeruk uang sebanyak-banyaknya, lalu setelah itu dia menangis tersedu-sedu di hadapan Tuhan dan minta Tuhan ambil itu semua. Kenapa? I want my wife back, I want my husband back, I want my drug-addict son back. Jadi apa itu sesungguhnya lost dan apa itu gain?

Kita tidak mengecilkan fakta bahwa kita butuh pekerjaan; kita tidak mengecilkan fakta bahwa kita memerlukan segala sesuatu untuk memenuhi kebutuhan kita; tetapi kita mungkin sudah terhisab dengan konsep bahwa kita akan tinggal selama-lamanya di dalam dunia ini, dan apa yang kita pegang dan kita dapat sekarang ini adalah milik kita sepenuhnya ‘that’s MINE!’ sehingga pada waktu itu semua tidak ada lagi, kita marah dan kecewa sebab kita kehilangan semua itu. Mari kita kembali kepada perspektif Alkitab, mari kita kembali kepada apa yang Yesus katakan, kita hanyalah penatalayan di hadapan Tuhan, kita hanyalah manager atas apa yang ada di dalam hidup kita. Tuhan memberi kita segala sesuatu yang Ia cipta ini supaya kita nikmati, tetapi kita harus tahu ini semua bukan milik kita. Ini miliknya Tuhan, dan satu kali kelak kita harus bertanggungjawab di hadapanNya dan Ia yang akan menilai apakah kita hamba yang setia dan baik adanya? Anak yang ada di dalam hidup kita itu bukan milik kita; ia adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Harta yang Tuhan kasih di dalam hidup kita itu bukan milik kita; itu adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Sehingga pada waktu semua itu pergi dan lenyap dari hidup kita, kita bisa melihat kalimat yang agung keluar dari mulut Ayub, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.”

Maka sekarang kita bisa mengerti kenapa Yesus mengatakan orang kaya dalam Luk.12:16-21 sebagai orang yang bodoh. Orang kaya ini dikatakan bodoh oleh Tuhan karena “gain” di dalam persepsi dia adalah “lost” di hadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan, “lost” yang terjadi karena iman kita kepadaNya adalah “gain” yang kita dapat kembali dari Tuhan yang tidak akan pernah hilang untuk selama-lamanya dari hidup kita.

Kalau kalimat-kalimat Tuhan Yesus ini ditujukan untuk kita, pasti ini akan membuat telinga kita merah luar biasa. Yesus bilang, “Dasar orang bodoh…” kepada orang yang di mata dunia dianggap sukses dan berhasil. Di mata dunia orang ini jelas “smart.” Semua orang akan bilang dia seorang yang smart, hanya Tuhan yang bilang dia seorang yang bodoh. Dia bodoh bukan karena tidak lulus sekolah akuntansi; dia bukan bodoh karena tidak punya planning di dalam bisnis; dia bukan bodoh karena tidak tahu bagaimana mengelola; tetapi dia adalah seorang yang bodoh di dalam pengertian konsep nilai, what is lost and what is gain di dalam hidupnya.

Maka pada waktu tragedi, penderitaan dan kesulitan datang, taruh perspektif ini baik-baik: saya tidak sedang kehilangan di situ. Ini adalah perspektif yang penting sekali. Pada waktu engkau mungkin kehilangan pekerjaan, letakkan perspektif ini dengan baik: saya tidak kehilangan hal ini. Pada waktu ada penderitaan dan sakit datang, jangan taruh perspektif saya kehilangan kesehatanku, saya kehilangan kebebasanku. Mari kita taruh perspektif ini: saya justru memperoleh sesuatu yang tidak mungkin bisa direbut oleh siapapun.

Paulus bisa mengeluarkan kalimat ini, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah satu keuntungan” (Fil.1:21). To live is for Christ, to die is a gain. Di dalam bahasa manusia pada waktu orang yang kita cintai dan kasihi meninggal dunia, kita kehilangan dia. Tetapi di dalam perspektif rasul Paulus kematian itu menjadi suatu keuntungan yang indah dan luar biasa didapatkan olehnya. Mereka yang hidup bagi Tuhan, mereka yang mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan, mereka yang mengutamakan Tuhan lebih penting dan lebih terutama daripada semua yang ia miliki, Yesus bilang engkau boleh kehilangan semua yang berharga bagi dunia, tetapi engkau akan mendapatkan yang jauh lebih berharga bersama dengan Allah. Apa gunanya engkau kaya di hadapan manusia, tetapi miskin di hadapan Allah? Lebih baik engkau miskin di mata manusia tetapi engkau kaya di dalam berbagai hal di hadapan Allah, sebab engkau tidak akan kehilangan hal itu.

Yang ketiga, dalam Yak.5:7-11 berkali-kali diulang kata ini “persistence” dan “perseverance,” bersabarlah dan bertekunlah. Sungut-sungut muncul sebab kita berpikir tidak sepatutnya saya mengalami akan semua hal ini. Sungut-sungut muncul karena kita merasa kesulitan dan penderitaan yang kita alami ini besar luar biasa. Kita saling mempersalahkan sebab kita tidak merasa kita tidak diganjar sepantasnya dengan segala kesulitan dan tragedi seperti ini. ‘Ada salah apa dalam hidupku, sehingga aku harus mengalami hal ini? Ini bukan salahku, ini salahmu.’ Betapa sering penderitaan dan tragedi menimpa keluarga, suami dan isteri juga saling mempersalahkan pihak lain dan membenarkan diri sendiri. Keluarga pun saling mempersalahkan. Maka Yakobus tahu inilah dua reaksi yang tidak akan pernah bisa menolong hidup kita: bersungut-sungut dan mempersalahkan orang lain, mempersalahkan keadaan dan situasi. Itu bukan reaksi yang benar.

Yang Tuhan minta, mari kita tekun dan sabar. Tekun dan sabar sebab kita tahu memang ada Tuhan yang pengasih dan penyayang. Ada Tuhan yang menjaga dan memelihara dan kontrol hidup kita. Saudara tidak usah tanya lagi kepada saya, berapa panjang dan berapa lama aku harus tekun dan sabar. Kembali kepada perkataan Yakobus, tekun dan sabar sampai kepada kedatangan Tuhan Yesus. Sabar dan tekun kepada orang yang mengalami kesulitan sebab kita punya Tuhan yang adil; sabar dan tekun sebab kita punya Tuhan yang maha pengasih dan penyayang adanya. Tekun dan sabar mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Dan menyerahkan apa yang di luar, yang memang tidak mungkin bisa kita pegang dan genggam sebab kita tahu Dia yang pegang dan genggam.

Yang terakhir, bagaimana kita berespons? Dalam Yoh.9:1-5 murid-murid melihat seorang buta sejak lahir dan bertanya kepada Yesus, kenapa orang ini buta, apakah karena dosanya sendiri atau karena dosa orang tuanya? Yesus menjawab mereka, bukan karena dosa mereka, tetapi karena pekerjaan Allah akan dinyatakan di dalam dia.

Yesus bilang, engkau melihat kebutaannya sebagai sesuatu tragedi; engkau melihat kesulitan itu sebagai sesuatu hal yang tidak baik terjadi; sekarang Aku mengajak engkau melihat itu adalah kesempatan Allah mengerjakan pekerjaan yang memuliakan Dia. Inilah yang sepatutnya menjadi perspektif kita sebagai anak-anak Tuhan. Kita menjadi anak Tuhan, itu tidak menjadi jaminan bahwa kita akan menghadapi hal-hal yang berbeda daripada orang lain yang bukan anak Tuhan. Justru yang menyebabkan kita berbeda daripada orang-orang lain adalah karena kita melihat dengan cara bagaimana Tuhan melihat. Murid-murid memakai cara dunia melihat, ketika penderitaan, kebangkrutan, kesakitan, kesulitan datang kepada orang, kita sinis memandang dan berkata, ‘pasti ada salah dari orang itu’; atau kita sedih dan mengasihani dia; tetapi Yesus bilang, jangan melihat dengan cara itu. Lihat dengan cara lain: Allah mau pakai itu untuk menyatakan kemuliaanNya.

Sebagai anak-anak Tuhan biar perspektif ini membuat kita berpikir, ‘Tuhan, kesempatan apa yang bisa aku lakukan ketika aku mungkin tidak mendapatkan pekerjaan? Kesempatan apa yang bisa aku lakukan untuk memuliakan namaMu di tengah aku terbaring sakit di rumah sakit? Kesempatan apa yang aku bisa kerjakan melalui kesulitan yang datang ke dalam hidupku, bahkan melalui tantangan aku derita boleh menjadi berkat bagi orang lain?’

Pada waktu itu datang ke dalam hidup kita, mari kita teduh di hadapan Tuhan dan berpikir sejenak, apa yang terhilang dan apa yang kita dapat. Kita memperbaiki konsep keterhilangan kita, kita mengerti konsep apa yang kita dapat. Hidup itu bagi Kristus; jikalau mati itu juga satu keuntungan.

Kita bertekun, kita bersabar karena kita tahu semua ini tidak akan terus-menerus selama-lamanya seperti ini. Bukan karena kita sanggup bisa merubahnya; bukan juga karena kita memiliki kekuatan bisa membalikkan apa yang tidak baik menjadi baik, tetapi karena kita tahu Allah kita sanggup bisa merubah dan membalikkan apa yang mustahil menjadi bisa. Saya harap ini bisa menjadi perspektif kita yang jelas sehingga kita bersyukur kepada Tuhan setiap kali momen-momen seperti ini terjadi di dalam dunia, kita diingatkan kembali bagaimana menjadi terang melalui hal yang terjadi di dalam hidup kita.

11 September 2011

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: