Home > Effendi Susanto > Lima Kategori Orang di dalam Amsal

Lima Kategori Orang di dalam Amsal

Oleh: Pdt. Effendi Susanto STh.

Dengarlah, karena aku akan mengatakan perkara-perkara yang dalam dan akan membuka bibirku tentang perkara-perkara yang tepat. Karena lidahku mengatakan kebenaran, dan kefasikan adalah kekejian bagi bibirku. Segala perkataan mulutku adalah adil, tidak ada yang belat-belit atau serong. Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan.

Amsal 8:6-9

Amsal mengatakan “takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat.” Ini merupakan kalimat terobosan yang penting untuk membedakan ‘wisdom sayings’ dari Amsal dengan ‘wisdom sayings’ dari orang-orang bijak di dunia Barat ataupun di dunia Timur. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada kalimat-kalimat yang indah, yang baik dan yang bermutu dari orang-orang bijak di dunia ini, termasuk Confusius, Laotze, Mahatma Gandhi, Socrates, Plato, dsb. Terlalu banyak kata-kata bijaksana yang patut kita belajar dari hikmat mereka. Ini semua kita sebut sebagai anugerah umum dan wahyu umum dari Tuhan dimana Tuhan memberi bijaksana kepada manusia sehingga manusia mengerti baik dan salah secara relatif dan mengerti inilah karakter yang harus dipuji, inilah pendidikan yang harus kita kejar.

Tetapi Amsal mengajarkan hikmat kita berbeda sebab hikmat kita dimulai dari takut akan Tuhan; sekalipun saudara akan lihat Amsal seluruhnya umumnya mengajar bagaimana berkomunikasi dengan orang, bagaimana berelasi dengan orang, bagaimana punya ‘table manners,’ bagaimana berkata-kata, bagaimana mendidik anak, bagaimana kerajinan, keuletan, kerja keras menjadi hal yang patut dimiliki, dsb. Itu semua bicara mengenai hidup kita sehari-hari, tetapi berbeda dengan yang di atas sebab takut akan Tuhan menjadi awal permulaan dari hikmat kita. Mengapa takut akan Tuhan merupakan permulaan dari hikmat? Bagaimana kita mengerti dan menemukan perbedaannya dengan hikmat-hikmat yang lain? Kita tidak melihat penjelasan mengenai hal itu di dalam kitab Amsal tetapi dari satu kitab hikmat lain yaitu kitab Pengkhotbah. Pkh.12:13 mengatakan, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah kepada perintah-perintahNya…” kenapa? Alasannya di ayat 14, “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat…” Bijaksana dunia hanyalah bijaksana yang bersifat horisontal, segala perbuatanku itu mendatangkan harmoni kebaikan kepada orang-orang di sekitarku, selesai sampai di situ. Waktu kita mati orang hanya ingat akan nama baikku. Tetapi bedanya dengan orang Kristen, mengapa kita berbuat baik, mengapa kita mengejar hikmat, mengapa kita baik-baik membangun relasi, mengapa tutur kata saya tidak boleh sembarangan, dsb? Bukan saja supaya saya hidup baik di dunia ini, bukan supaya saya bisa harmonis saja dengan orang-orang lain di dunia ini, tetapi karena saya tahu seluruh hidupku satu kali kelak akan kupertanggung-jawabkan kepada Tuhan. Itulah artinya “permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan.”

Majunya teknologi sepatutnya menjadi sesuatu sarana yang berbanding lurus dengan cepatnya informasi dan makin juga bisa mencerdaskan kita. Tetapi sejujurnya, kemajuan teknologi yang ada hanyalah merupakan sarana, yang penting apa content dan isinya. Ada orang boleh maju otaknya tetapi kasihan amburadul secara karakternya; ada orang bisa maju di dalam kepintaran tetapi sangat jongkok moralnya; ada orang bisa hebat di dalam me-manage segala perusahaan tetapi tiarap di dalam integritasnya; ada orang sanggup bisa memimpin negara dengan baik tetapi rasa malu sudah tidak ada lagi di dalam dirinya. Ini merupakan kelemahan kegagalan dari dunia kita yang sudah maju secara science, technology dan intelectual information, tetapi tidak diimbangi dengan pengertian konsep pendidikan yang bersifat holistik dan menyeluruh, sehingga tidak seimbang semuanya, maju di dalam kepintaran tetapi terlalu merosot dan jauh di dalam moralitas. Konsep pendidikan holistik seperti inilah yang terhilang di dalam hidup kita sekarang tetapi merupakan konsep dan pemikiran di dalam Alkitab kita dan di dalam pendidikan dunia kuno. Pendidikan dunia kuno mungkin kalah secara kemajuan kedokteran daripada kita, tetapi mereka tidak kalah di dalam kejujuran dan integritas. Mereka mungkin kalah di dalam cara berkalkulasi hitungan tetapi mereka unggul di dalam segala keagungan hikmat dan bijaksana.

Ams.8:5 mulai dengan kalimat “Orang yang tak berpengalaman…” lalu ditutup dengan kalimat “orang yang cerdas dan bijaksana.” Orang tidak bisa mencegah pertumbuhan secara fisik, tetapi orang bisa mencegah pertumbuhan mental dan karakternya, ia juga bisa mencegah pertumbuhan rohaninya sebanding dengan pertumbuhan usianya. Usia bertambah, fisik dengan sendirinya akan bertumbuh. Tetapi orang bisa rambutnya sudah penuh beruban tetapi bisa tetap bermentalitas seorang anak berumur 10 tahun. Orang bisa menjadi Kristen berpuluh-puluh tahun tetapi kerohaniannya masih seperti anak kecil.

Kitab Amsal menyebutkan lima kategori orang berdasarkan bagaimana mereka berespons dan bereaksi kepada pendidikan hikmat yang diberikan kepadanya. Mulai dari orang yang ‘simple’ jikalau ia bersepons dengan benar terhadap pendidikan, ia akan menjadi orang yang ‘intelligent.’ Orang yang ‘intelligent’ mau dididik dan diajar, dia akan berubah menjadi ‘wise.’ Itu adalah proses pertumbuhan yang dicatat oleh Amsal. Tetapi sebaliknya, Amsal juga bicara mengenai ‘a simple person’ yang tidak mau menerima pendidikan maka dia akan berubah menjadi ‘a mocker’ si pencemooh. Orang yang mencemooh dikasih pendidikan tidak pernah mau menerimanya bagi hidupnya, akhirnya dia berubah menjadi ‘a wicked’ person. Sesudah ia menjadi ‘a wicked’ person maka ia akan menjadi ‘evil’ person.

Yang pertama, Amsal menyebut kategori seorang yang ‘simple’ person (Ams.9:6, Ams.8:6) yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, orang yang tidak berpengalaman, yang hidup di dalam ‘a simple way.’ Ams.27:12 starting point di dalam pendidikan hikmat adalah seperti sehelai kertas kosong yang bisa kita olah jadi baik atau tidak baik. “Kalau orang bijak melihat malapetaka bersembunyilah dia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus lalu kena celaka.” Orang bijaksana sudah tahu ada bahaya, sudah tahu ada resiko maka ia menghindar, tetapi orang yang simple rasa bisa menerobos sendiri akhirnya kena celaka. A simple man adalah orang yang naif, orang yang belum punya banyak pertimbangan dengan bijaksana di dalam hal berkata, di dalam hal berpikir, di dalam hal mengambil keputusan bagi dirinya sendiri sehingga seringkali keliru dan merugikan diri sendiri. Itu definisi saya mengenai ‘a simple man.’ Orang seperti ini cara berpikirnya naif dan ‘black and white’ saja, kalau tidak ini ya itu; itu adalah pikiran anak kecil, bukan? Kita bisa lihat itu di dalam diri anak-anak yang masih muda, yang ingin mencoba mengetahui apa yang baru. Kadang-kadang tanpa kasih tahu orang tua, anak-anak remaja itu mencoba mengekplorasi sendiri. Adakalanya kita sebagai orang tua mencoba melihat dia bisa mandiri mungkin melihat dari jauh, tetapi pada waktu dia sudah berjalan salah kita pastikan dia tidak mengalami kesalahan yang berbahaya dan fatal bagi dirinya. Tetapi ada hal-hal yang mungkin dia harus mengetahui batasan, yang memerlukan pertimbangan bijaksana baginya untuk mengambil satu keputusan. Kebiasaan merokok dan minum minuman keras itu biasanya dimulai waktu remaja. Kecelakaan, tabrakan mobil, umumnya terjadi pada usia seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang Amsal katakan sebagai orang yang kurang berpengalaman, yang naif, yang kurang bijaksana di dalam pertimbangan, di dalam berkata, di dalam bertindak, di dalam mengambil keputusan, dan akhirnya merugikan diri sendiri. Cara berpikir yang tidak komprehensif, yang memaksakan keinginan, yang hanya ingin sesuatu yang ia maui padahal tidak selamanya yang kita mau itu bisa kita dapat, yang tidak mengerti dan belajar bahwa ada proses waktu di dalam mendapatkan segala sesuatu. Tetapi ingat, simple men ini masih merupakan materi mentah yang bisa digodok, yang penting sekarang bagaimana pendidikan hikmat itu diresponi oleh mereka. Maka Ams.8:6 ini dimulai dengan kalimat, “Hai orang-orang yang tak berpengalaman datanglah kepadaku. Aku akan mendidik engkau, aku akan memberikan bijaksana…”

Kategori orang yang kedua adalah ‘a foolish man’ atau orang yang bodoh. Bodoh di sini bukan secara intelektualnya, tetapi sebagai orang yang naif, yang juga tidak banyak pertimbangan secara bijak di dalam hal berkata, di dalam hal berpikir dan di dalam hal mengambil keputusan, sehingga seringkali yang diambil itu adalah hal yang salah dan keliru tetapi merugikan orang lain. Itu sebab dia berbeda dengan ‘a simple man,’ dia menjadi ‘foolish.’ Di dalam dia merugikan orang lain, Amsal mengatakan ada dua macam motivasi di dalam diri orang itu. Ke satu adalah ‘unintentional foolishness,’ satu kebodohan yang tidak punya maksud apa-apa. Kebodohan itu terjadi karena dia ‘lack of wisdom, lack of education, lack of training,’ kurang dilatih dan kurang diajar. Tetapi ada foolishness macam kedua yang Amsal minta kita berhati-hati, yaitu ‘intentional foolishness.’ Ams.8:8 ”…mulut orang itu penuh dengan hal yang serong dan belat-belit…” a twisted speech. Di belakang dari motivasinya adalah hatred and jealousy. Di sinilah kenapa Amsal membedakan antara unintentional foolishness dan intentional foolishness. Orang yang unintentional dalam berkata-kata, itu menjadi gosip, sedangkan yang intentional itu menjadi fitnah. Orang yang gosip itu sesungguhnya motivasi hanya ingin memperlihatkan kepada orang lain tidak ada maksud jahat melainkan berangkat dari ego ‘aku maha tahu’, sebab orang itu selalu memulai dengan kalimat, “Eh, sudah pernah dengar, belum?” Waktu orang itu belum tahu, maka tukang gosip egonya naik karena dia tahu banyak hal lebih daripada orang lain. Anehnya orang seperti itu memang cepat dan suka mendengar gosip tetapi tidak ada maksud apa-apa di belakangnya. Berbeda dengan slander atau fitnah yang memang bertujuan untuk mengatakan sesuatu untuk mendiskreditkan seseorang karena di belakang motivasinya adalah dengki dan benci.

Kategori orang ketiga adalah ‘a wise person,’ orang yang berhikmat. Wise person bukan berarti orang itu tidak pernah berbuat salah dalam hidupnya; wise person bukan berarti orang itu tidak pernah mengambil keputusan secara gegabah dalam hidupnya; wise person bukan berarti orang itu tidak pernah bikin salah dalam tutur katanya; wise person bukan berarti orang itu tidak pernah keliru di dalam mengambil keputusan. Wise person ditandai dalam hal pada waktu segala sesuatu terjadi, bagaimana orang itu berespons kepada koreksi dan pendidikan. Bagaimana pengalaman yang terjadi dalam hidupnya menjadi guru yang baik yang membikin dia menjadi orang yang lebih bijaksana. Amsal tidak bilang orang yang wise akan selalu jalan hebat dan lancar, melainkan orang yang wise openness terhadap correction, mau dididik, teachable, selalu dalam hidup ini belajar. Itulah sebabnya kita tetap harus melihat beberapa prinsip-prinsip umum ini tidak boleh salah. Sekalipun mungkin orang tua kita tidak lebih pintar daripada kita secara edukasi dan gelar; walaupun mungkin cara orang tua kita mendidik ada teknik pendidikannya tidak terlalu tepat; tetapi tidak ada orang tua yang memiliki motivasi buruk di dalam memberikan pendidikan kepada anaknya supaya berjalan salah, bukan? Kurang ajarlah kita sebagai anak kalau sudah besar lalu menghina mama, “Ah, mama, cuma lulusan SD, mau ngajar saya…” Itu cikal bakal untuk jadi wicked person. Itu sebab Amsal bilang, “Hai anak-anak, dengarkanlah didikan ayahmu; pasanglah telinga pada koreksi ibumu. Sebab apa yang mereka katakan akan membawa kepada kehidupan.” Itu sebab anak-anak muda sebelum terlambat dari sekarang tetap mendengar didikan orang tua. Bijaksana orang tua kadang anak-anak muda tidak mengerti, tetapi belajar tenang dan sabar mendengar. Itu yang bikin kita bijaksana. Masukan kalimat dari orang yang lebih tua harus tetap menjadi sesuatu yang kita pikir dan telaah baik-baik. Amsal mengatakan seorang yang bijaksana adalah seorang yang bertumbuh sebab dikoreksi, seorang yang mendengar dengan baik dan memperbaiki kelakuannya. Openness to corrections.

Ams.25:12 “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan perhiasan kencana untuk telinga yang mendengar…” Jangan hanya melihat aspek tegurannya tetapi ada ‘telinga yang mendengar.’ Ams.24:5-6 “Orang yang bijak lebih berwibawa daripada orang kuat… kemenangan tergantung pada penasehat yang banyak.” Salah satu kehancuran dari salah seorang raja Israel adalah pada waktu dia naik menjadi raja, dia berhentikan semua penasehat ayahnya yang sudah tua dan hanya mau mendengar dari penasehat yang seumur dengan dia, yang hanya menuruti apa yang dia mau. Akhirnya menjadi hancurlah kerajaan itu. Amsal mengingatkan kita, mendapatkan lebih banyak nasehat, mendengarkan orang lain, mencari tahu lebih banyak, itu adalah permulaan menjadi seorang yang berbijaksana. Maka bijaksana di sini adalah sesuatu yang bisa dididik, sesuatu yang bisa dilatih, berdasarkan satu attitude yang rendah hati, yang mau dikoreksi. Itu sebab Amsal tidak lupa bicara soal disiplin. Kapan itu disiplin mulai? Di dalam bahasa Ibrani ada tiga kata penting bicara mengenai disiplin: masar, tokahat dan sebet. ‘Sebet’ itu artinya rotan, tongkat pemukul. Ams.23:13-14 “Jangan menolak didikan bagi anakmu; dia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan.”

Disiplin fisik itu penting dan perlu, dan itu Biblical adanya namun kita memang tidak boleh pukul anak seenaknya. Ams.17:10 “Suatu hardikan lebih masuk kepada orang yang berpengertian daripada seratus pukulan kepada orang bebal.” Ubah dulu anakmu dari bebal menjadi berpengertian. Maksudnya, kalau dengan kata-kata teguran dan hardikan masih bisa dengar, membuat dia mengerti dan sadar, tidak usah dipukul. Ams.29:15 “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” Ams.22:15 “Kebodohan melekat di dalam hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu daripadanya.” Generally speaking, orang yang naif, orang yang simple itu mengacu kepada teens dan pre teens, yaitu era dimana mereka merasa mereka bukan lagi anak-anak, tetapi mau diperlakukan sebagai orang dewasa juga belum mampu. Kebodohan melekat kepadanya sehingga disiplin memberikan pengertian dan kesadaran kepada mereka. Banyak anak-anak muda akhirnya dengan keputusan yang keliru dan salah bisa mempermalukan orang tua dan keluarga karena kita membiarkan mereka. Maka pendidikan penting dan perlu, dan kalau perlu didikan fisik tidak akan bikin dia mati tetapi akan bikin dia berhikmat. Kapan dan bagaimana? Didikan fisik tidak boleh dilakukan ketika kita dalam keadaan marah, karena bertujuan untuk menghancurkan dia. Saya lebih mempunyai prinsip, Alkitab mengatakan tidak semua dosa sama derajatnya, bukan? Saudara juga tahu Tuhan akan membalas kita seturut dengan apa yang kita lakukan baik atau jahat, berarti ada gradasinya. Seorang yang sedang mengapak pohon tahu-tahu kapaknya terbang, kena kepala orang lalu mati; berbeda dengan orang yang kejar-kejar orang dengan kapak dan bunuh dia. Itu sebab ada perbedaan antara murder dan manslaughter di dalam hukum, itu karena pengaruh dari konsep Alkitab. Itu sebab disiplin juga memiliki prinsip seperti itu. Kalau semua salah saudara langsung pakai rotan, anak itu jadi confused dan bingung, tidak tahu mana yang berat mana yang lebih ringan. Sehingga saya lebih setuju kalau anak itu kurang ajar dan melakukan tindakan membahayakan nyawanya atau nyawa orang lain, di situ pukulan harus turun. Berarti waktu tangan kita sudah keluar, itu tandanya dia sudah paling kelewatan. Jangan hal-hal lain, sedikit-sedikit main tangan. Contoh waktu dia main-main tahu-tahu dia cekik adiknya sampai tidak bisa bernafas, lalu saudara cuma bilang, “Jangan begitu nak, adikmu nanti tidak bisa nafas, gitu lho…” Itu sudah salah yang tidak boleh ditolerir.

Dasar teologinya, Ams.3:11-12 ”…Tuhan memberikan ‘sebet’ kepada orang yang dikasihiNya seperti seorang ayah kepada anak yang disayanginya.” Allah kita menggunakan teguran, pada waktu kita tidak dengar, Dia memberikan peringatan, pada waktu kita jalan sudah hampir keliru dan berbahaya, maka ‘sebet’-Nya datang. Dengan demikian itu memberikan warning kepada kita, kapan kesalahan kita sudah berbahaya, Dia mendidik dan membawa kita kembali. Dengan dasar teologis ini menjadi alasan kenapa Amsal mengajak kita melihat didikan kepada orang yang simple, yang kebodohannya dan naif-nya melekat di dalam diri anak-anak muda, maka disiplin mereka, koreksi mereka, sebelum sampai pada satu tahap sudah tidak bisa lagi diajar.

Kategori yang keempat adalah ‘the mocker’ si pencemooh. Ams.22:10 “Usirlah si pencemooh maka lenyaplah pertengkaran dan berhentilah perbantahan.” Ams.9:7-9 “Siapa mendidik seorang pencemooh akan mendatangkan cemooh kepada diri sendiri…” Pencemooh adalah orang yang sudah mendapatkan pendidikan dan koreksi tetapi pesan yang didapat dari koreksi dan teguran itu tidak menjadi menjadi pesan yang mengkoreksi dirinya, melainkan berubah menjadi nasehat-nasehat yang dihina dan ditertawakan. Sehingga di sini Amsal hanya bilang ‘don’t waste your time’ kepada pencemooh, dan menjauhlah daripada orang seperti itu karena tidak ada gunanya.

Kategori yang terakhir ‘a wicked person, atau orang fasik. Ams.11:11 ”…mulut orang fasik meruntuhkannya.” Tindakan orang yang ‘wicked’ hanya semata-mata destruktif. Maka kepada orang-orang seperti ini bukan saja sudah tidak bisa diajar, bukan saja mentertawakan hikmat, tetapi jalan hidupnya semata-mata memang salah, keliru dan belat-belit. Orang seperti ini adalah orang yang diminta oleh Amsal untuk kita buang jauh-jauh dari hidup kita, jangan menjadi orang yang berkawan dengan orang yang seperti itu, jangan jadikan dia orang yang bekerja di kantormu dan di perusahaanmu, karena tindakan mereka adalah semata-mata bersifat destruktif.

Biar firman Tuhan boleh menjadi firman yang mendidik, mengkoreksi, membuka hati kita, menjadikan kita bertumbuh di dalam Tuhan. Di dalam proses pertumbuhan itu kita mendapatkan hal-hal yang menyakitkan tetapi baik bagi kita, biar kita terima teguran yang penuh kasih, pembentukan dari keluarga, disiplin dan didikan dari orang tua, sahabat dan rekan-rekan yang baik, supaya kita boleh mengambil keputusan, bertindak, berpikir dengan arif dan bijaksana.

31 Juli 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: