Home > Effendi Susanto > Partnership of the Gospel

Partnership of the Gospel

Oleh: Pdt. Effendi Susanto STh.

3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. 4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. 5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.

14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

27 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 28 dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. 29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, 30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

Filipi 1:3-5; 14; 27-30

Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Filipi 4:14-19

Secara metode teknik komunikasi dan penyampaian informasi, era jaman rasul Paulus jelas sangat berbeda dengan masa kita sekarang ini. Waktu itu surat, pujian dan informasi mungkin perlu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun baru sampai kepada seseorang.

Jaman saya sajapun menulis surat cinta perlu satu bulan baru sampai. Namun di jaman sekarang tinggal ‘klik’ sudah bisa mengirim instant messages mengirim surat cinta kepada kekasihnya. Tetapi metode maju, informasi maju, yang menjadi persoalan apakah waktu informasi itu sampai kepada kita, waktu isi berita itu sampai kepada kita, yang paling penting adalah bagaimana isi informasi itu memberikan kekuatan dan dorongan yang menggerakkan kitakah?

Ada dua Gereja yang saling diberi informasi oleh Paulus dengan satu tujuan supaya apa yang menjadi indah di dalam kehidupan Gereja yang ada di situ menjadi berkat bagi Gereja yang ada di sini; apa yang menjadi kekuatan keindahan dari Gereja yang di sana menjadi informasi yang juga mendorong Gereja yang ada di sini.

Apa yang kita terima hari ini, apa yang kita dapat hari ini kiranya juga boleh menjadi sesuatu yang menggerakkan kita, men-’stirrup’ hidup kita, supaya hati kita terbuka dan mata kita bisa lebih melihat pekerjaan Tuhan begitu besar telah dikerjakan di dalam hidup orang lain dan itu juga mendorong kita mau ambil bagian di dalam pekerjaan Tuhan. Kita tidak boleh terus hanya terpatok, merasa senang dan puas dengan apa yang sudah ada yang sudah kita kerjakan. Apa yang Tuhan sudah beri menjadi berkat bagi hidup kita, mari kita terus kerjakan lebih maju dan lebih luas lagi.

Paulus dipenjarakan, dan di tengah pemenjaraan itu dia menulis surat kepada jemaat Filipi. Entah dimana dia dipenjarakan waktu itu. Ada satu waktu dia pernah dipenjara di kota Efesus, ada beberapa kali dia dipenjara di kota Roma. Secara lokasi, kota Filipi cukup dekat dengan kota Efesus, maka banyak penafsir setuju mungkin bukan di kota Efesus Paulus dipenjarakan waktu menulis surat Filipi ini. Besar kemungkinan waktu itu dia sedang dipenjara di kota Roma. Dia kirim surat ini karena ada satu hal yang sangat menyentuh hati Paulus, menciptakan perasaan surprise yang luar biasa, kaget dan kagum dan terharu kepada jemaat ini. Beberapa minggu yang lalu saya berbicara mengenai empat api yang perlu kita pikirkan sama-sama. Waktu itu kita menyaksikan drama kisah kehidupan dari seorang hamba Tuhan bernama Pdt. John Sung. Umur 25 tahun ia sudah menyelesaikan studi dan mendapat PhD. dalam bidang Chemistry, seorang yang berintelektual tinggi dan sangat brilliant. Dia adalah salah satu anak muda di dalam kelompok penginjilan yang mengabarkan Injil di Cina dan menghasilkan kebangunan rohani yang sangat besar di tahun 1930-1940-an.

Tahun 1900 menandakan api penganiayaan yang sangat besar di Cina, dimana “Pemberontakan Boxer” telah membunuh ribuan orang Kristen dan mengusir orang-orang Barat termasuk misionari keluar dari Cina. Tetapi di era aniaya, di tengah-tengah pelayanan yang sudah tumbuh, kemudian seolah dibabat habis oleh boxer, kita mungkin secara manusia berpikir, bagaimana pekerjaan Tuhan bisa berlanjut lagi? Mungkin di dalam hati sebagian misionari yang sudah melayani di sana, ada hal yang kita sayangkan jikalau pelayanan tertutup. Di dalam pressure dan penganiayaan yang begitu besar yang melanda, jangan pernah kita berpikir bahwa Tuhan tidak bisa bekerja dengan lebih besar dan lebih dahsyat di sana. Ada hal-hal yang kadang-kadang kita tidak mengerti Tuhan lakukan untuk menyatakan bahwa Ia tetap Allah yang take control dan berdaulat dan berkuasa atas segala sesuatu. Di saat orang Kristen begitu banyak dibunuh oleh api penganiayaan yang menghanguskan, Tuhan melahirkan segelintir bayi-bayi yang tidak berdaya, yang nantinya setelah dua puluh lima tahun kemudian menjadi hamba-hamba Tuhan yang dipakai Tuhan dengan dahsyat luar biasa. Tiga tahun pertama pelayanan Pdt. John Sung diperkirakan telah mempertobatkan lebih dari 100.000 orang menjadi percaya. Itu yang dikatakan oleh Paulus dalam Fil.1:14, ”…dan kebanyakan saudara telah mendapat kepercayaan karena pemenjaraanku untk bertambah berani berkata-kata tentang Injil Yesus Kristus dengan tidak takut.” Ayat ini merupakan satu alasan mengapa dia mengirimkan surat ini. Courage and no fear to preach the Gospel, karena melihat Paulus dipenjarakan karena Injil. Paulus sendiri sangat surprise oleh perkembangan yang terjadi ini. Itu membuat dia begitu terharu dan menggerakkan hatinya dan seluruh energinya waktu menyatakan hal ini melalui suratnya. Jemaat Filipi bukan jemaat yang lalai memberitakan Injil, kalau saudara baca jelas Paulus memuji jemaat ini dan dia juga menyampaikan kepada jemaat-jemaat yang lain mengenai jemaat Filipi, yang sejak awal menjadi Kristen sudah membangun partnership in the Gospel bersama Paulus. Sejak dari awal mereka menjadi Kristen, mereka sudah memiliki hati mau bekerja sama dan mendukung hamba Tuhan di dalam pekerjaan dan pelayanan bagi Tuhan.

Ada waktunya kita dilayani, ada waktunya kita diberi makan, ada waktunya kita mendapatkan pelayanan dari Gembala dan orang-orang Kristen yang lain. Tetapi ada saatnya kita harus bertumbuh, menjadi dewasa dan sudah saatnya ambil giliran untuk melayani dan memberi. Tidak lagi menuntut pelayanan dari orang lain, dan belajar untuk memperhatikan orang. Kalau engkau menjadi orang Kristen yang terus menuntut, engkau akan kecewa karena selalu terus memikirkan apa yang dia harus dapat di dalam pelayanan orang kepadanya. Justru di tengah-tengah seperti itu kita harus berhenti dan mulai berkata kepada diri, apa yang aku bisa kerjakan bagi Tuhan dan bagi orang lain. Jangan tunggu sampai berpuluh-puluh tahun menjadi orang Kristen, tetapi sekarang ini ubah sikap dan pikiran kita.

Paulus memuji jemaat Filipi, mengingat mereka terus di dalam doanya, terus bersyukur kepada Tuhan sebab dari awal mereka menjadi orang Kristen, hati mereka sudah berbagian dengan Paulus di dalam pemberitaan Injil. Pemenjaraan Paulus mungkin secara pikiran manusia menjadi kekuatiran, siapa yang bisa menggantikan dia melayani? Di dalam pemenjaraan Paulus, ia menjadi terbatas secara fisik dan tidak leluasa melayani. Tetapi dia surprise, karena akibat pemenjaraannya ada puluhan orang Kristen, ada ratusan orang Kristen, ada ribuan orang Kristen, setelah mendengar penderitaan dan kesulitannya justru malah berani keluar pergi mengabarkan Injil dengan tidak takut untuk ditangkap dan dipenjarakan. Api penganiayaan tidak akan mungkin bisa menghancurkan pekerjaan dan pelayanan Injil.

Kira-kira lima belas tahun yang lalu, bukankah pemerintah Indonesia sudah tidak lagi memberikan perpanjangan visa bagi para misionari yang melayani? Tetapi ternyata kekuatiran dan ketakutan apa efek yang diperkirakan terjadi karena hal ini tidak terjadi. Kita harus sadari dan akui, tidak banyak orang yang berani dan mau datang berkorban melayani sampai ke pedalaman seperti itu kalau bukan dia digerakkan oleh cinta kepada Tuhan. Dan kita melihat pekerjaan Tuhan bertambah luas bertumbuh di dalam kondisi yang seolah membatasi ini. Dan sebagai orang-orang Kristen yang sudah maju dan bertumbuh, bagaimana kita bisa lebih leluasa melayani Tuhan lagi kepada orang-orang Kristen yang masih ketinggalan. Mereka membutuhkan bantuan untuk mempertumbuhkan human resources, mengembangkan sekolah-sekolah Kristen dan membantu orang-orang Kristen itu boleh mandiri dan bisa akhirnya juga belajar membantu orang lain. Saya percaya ini adalah satu pekerjaan dan pelayanan yang penting dan indah adanya.

Injil Tuhan makin luar biasa bekerja ketika Paulus ditangkap dan dipenjarakan.

Mari kita lihat lebih dalam lagi Fil.1:15-17, “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki, tetapi ada pula yang memberitakannya dengan maksud baik. Mereka itu memberitakan Kristus karena kasih sebab mereka tahu bahwa aku ada di sini karena membela Injil; tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas. Sangkanya dengan demikian akan memperberat bebanku di dalam penjara…” Tetapi ayat 18, Paulus bersyukur, tidak peduli bagaimana motivasi maksud orang di dalam memberitakan Injil, aku bersyukur Injil diberitakan. Paulus bersyukur dan memuji Tuhan, betapa dahsyat energi yang dihasilkan dari kerinduan orang-orang Kristen yang melayani. Walaupun mungkin ada motivasi yang tidak baik dan tidak benar dari sebagian orang yang melayani, itu tidak menjadi soal baginya. Mana yang lebih baik: orang yang melayani dengan energi yang luar biasa tetapi motivasinya kurang bagus, ataukah orang yang mengerti Injil dengan benar, memiliki motivasi baik mau melayani, tetapi tidak ada energi? Tentu yang lebih bagus adalah orang yang mengerti Injil yang benar, motivasi yang sungguh dan murni dan melayani dengan energi yang berapi-api. Tetapi manusia berdosa seringkali ada Gereja yang Injilnya benar, pelayanannya bagus, motivasinya bagus, tetapi tidak ada dorongan dan keinginan mengabarkan Injil karena tidak punya energi.

Paulus senang dan bersyukur, tidak peduli mungkin orang itu menjelek-jelekkan Paulus di penjara; Paulus tidak peduli mungkin orang itu mengatakan Paulus pasti ada dosa karena ‘anak Tuhan kan tidak boleh masuk penjara… itu tandanya dia ada dosa.’ Paulus tidak peduli semua perkataan negatif tentang dia; yang dia senang adalah Injil Tuhan diberitakan dan disebarluaskan sehingga tersebar kemana-mana. Kita tidak boleh padam dalam memelihara energi yang dahsyat seperti itu.

Kedua, selain energi, kita melihat jemaat Filipi konsisten dengan komitmen mereka. Paulul memakai kata “persekutuanmu dalam Injil,” satu partnership, co-workers in promoting the Gospel, yang bekerja bersama memberitakan Injil. Tetapi bukan sampai di situ saja, ada satu kata dipakai 2 kali oleh Paulus, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk jemaat Filipi, menunjukkan konsistensi di dalam komitmen. Fil.1:27 dan 30 “berjuang dalam iman yang timbul dari berita Injil,” dalam terjemahan yang lebih baik memakai satu kata “the struggle” yang ada pada diri Paulus, dan setelah itu menjadi “the struggle” yang dimiliki oleh jemaat Filipi. Hati tidak berubah, energi tidak berkurang, konsistensi tidak luntur. Ini adalah satu kata metafora untuk pertandingan olah raga yaitu olah raga “gulat.”They have the same struggle for the faith of the Gospel. Itu bukan hanya urusan dan pergumulan para misionari; itu bukan hanya urusan dan pergumulan dari hamba-hamba Tuhan; tetapi struggle yang sama dan komitmen yang sama juga harus ada di dalam hati setiap individu jemaat. Paulus tidak hanya mengatakan dirinya sendiri yang berjuang untuk Injil; tetapi dia juga mengatakan jemaat Filipi ikut berjuang untuk Injil. Komitmen yang sama, partnership yang sama terus ada di dalam jemaat ini. Mereka berdoa, mereka mendukung secara finansial pelayanan Paulus. Itu dapat kita lihat dalam Fil.4:14-19. Dan dukungan itu bukan saja pada waktu Paulus ada di tengah-tengah mereka, pada waktu Paulus sudah pergi ke tempat lain, mereka pun tetap mendukung pelayanan Paulus. Jangan lupa, pada waktu itu belum ada net-banking sehingga waktu menyuruh Epafroditus membawa uang dari Filipi, itu makan waktu lama. Dan jangan lupa juga, Paulus tidak tinggal tetap di satu tempat, sehingga mungkin Epafroditus harus mencari kabar Paulus ada dimana. Dan jangan lupa juga, betapa susah dan terbatasnya komunikasi pada waktu itu. Jemaat Filipi pikir Paulus ada di Efesus, lalu suruh Epafroditus ke sana, sampai di sana, ternyata baru tahu Paulus sudah berangkat ke tempat lain, dan tunggu berapa waktu baru dapat kabar Paulus dimana, lalu pergi untuk menjumpai dia, dst.

Kita bersyukur untuk kesempatan tahun ini secara khusus kita memikirkan lebih serius pekerjaan misi, terutama di Indonesia. Kita bersyukur kita boleh berbagian untuk mendukung pekerjaan misi walaupun begitu kecil dibanding dengan kebutuhan yang sangat besar. Kita bersyukur kita boleh “struggle” bersama, menjadi partnership bagi Injil Tuhan. Biar energi yang lahir dari beban hati kita akan Injil boleh terus dikobarkan dan komitmen yang konsisten dan mendalam ada di dalam setiap pelayanan kita. Jangan hanya menjadi penonton yang pasif, yang hanya mendengar tetapi terus duduk diam. Biar setelah kita mendengar, kita pulang, hati kita berkobar, kita lakukan, orang lain boleh melihat, orang lain mengerjakan dan melakukannya juga. Sehingga ini boleh menjadi pekerjaan dan pelayanan yang merambat dan menyebar dengan indah di tengah-tengah kita. Mungkin saudara tidak bisa pergi ke satu daerah untuk mengabarkan Injil tetapi biar kita bisa mengabarkan Injil kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, orang yang dekat dengan kita, orang yang duduk di kantor di sebelah kita, orang yang sebangku kuliah, dsb. Dimanapun itu, siapapun itu boleh menjadi ladang pelayanan misi kita. Biar kita minta Tuhan kekuatan dan keberanian. Kita tidak mengalami penganiayaan seperti saudara seiman kita di tempat yang sulit, tetapi biar di tengah kebebasan ini kita bekerja dengan semangat dan energi yang dari Tuhan semata-mata.

28 Agustus 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: