Home > Effendi Susanto > Pujian Kristus

Pujian Kristus

Oleh: Pdt. Effendi Susanto STh.

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Matius 8:5-13

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Lukas 7:1-10

Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Yoh.1:43-51

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Luk.21:1-4

Ketika krisis datang menerpa hidup kita, pasti muncul banyak pertanyaan di benak dan hati kita. Pertama, kita mungkin akan bertanya-tanya, ‘Apa yang salah di dalam hidupku? Ada apa dengan hidupku sehingga aku mengalami hal seperti ini?’ Pertanyaan ini mungkin selanjutnya akan mendatangkan reaksi emosi yang berbeda, tergantung daripada asumsi apa yang ada di dalam pemikiran setiap kita. Ada kemarahan yang muncul kalau kita merasa kita tidak sepatutnya mendapat krisis atau kesulitan hidup seperti ini; kita tidak sepatutnya dirugikan; kita tidak seharusnya tertimpa sakit; kita tidak seharusnya mengalami kesulitan ekonomi seperti ini. Kenapa karena kerakusan orang-orang yang ingin cepat kaya yang bermain di pasar saham akhirnya justru menyebabkan persoalan ekonomi menimpa kita. Bukankah itu bukan salah kita? Kita hanya seorang pekerja yang jujur dan baik, tetapi kenapa akhirnya kehilangan pekerjaan karena krisis ini? Atau ada asumsi di balik pemikiran kita mungkin Tuhan sudah tidak care lagi dengan hidup kita sehingga kita menjadi kecewa kepadaNya. Kita merasa letih lesu, dan kita pergi meninggalkan Tuhan. Kedua, kita mungkin bukan saja bertanya ada apa yang salah di dalam hidup kita sehingga krisis ini menimpa, tetapi sekaligus juga menimbulkan pertanyaan ini, bagaimana sebenarnya imanku memberi arti kepada krisis hidup yang sedang saya hadapi? Ada orang bilang, nampaknya tidak ada beda antara orang yang beriman kepada Tuhan dan yang tidak. Toh, pada waktu kamu masuk ke rumah sakit, di dalam ward yang sama ada orang Kristen, ada juga orang bukan Kristen; ada orang kaya, ada juga orang miskin; ada orang yang sungguh-sungguh, ada juga orang yang tidak sungguh-sungguh percaya Tuhan; tidak kelihatan ada bedanya. Maka seolah tidak ada bedanya beriman atau tidak beriman, itu tidak memberi efek apa-apa bagi hidupku. Saya percaya Tuhan atau tidak percaya, tidak merubah apa-apa di dalam hidupku. Memangnya, dengan percaya Tuhan berarti persoalan keuangan saya pasti akan beres?! Memangnya, dengan percaya Tuhan langsung hutang saya lunas?! Memangnya, dengan percaya Tuhan penyakit saya akan sembuh?! Orang yang berpikir seperti ini akhirnya menjadi kecewa dan pergi meninggalkan Tuhan.

Oswald Chambers mengatakan, iman itu pada dasarnya harus diuji. Iman yang sejati itu tidak ditandai dengan kredo apa yang kita percaya yang keluar dari mulut kita, tetapi ditandai dengan karakter Allah yang seperti apa yang ada di dalam pikiran kita. Adakalanya semenit yang lalu kita bisa menghafal Pengakuan Iman Rasuli tetapi di menit yang lain kita mempraktekkan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan pengakuan iman itu. Pada waktu masa-masa lancar dan aman, kita tidak pernah tahu seberapa kuatnya, seberapa sejatinya iman kita, seberapa benarnya iman kita, sampai masa-masa krisis datang mencoba dan menguji iman itu.

Tidak banyak orang di dalam perjalanan pelayanan Tuhan Yesus selama tiga tahun setengah dipuji dan dihargai secara khusus oleh Tuhan Yesus. Paling tidak di dalam catatan keempat Injil, ada tiga orang secara khusus dipuji oleh Tuhan Yesus.

Yang pertama adalah seorang perwira yang tinggal di Kapernaum. Dia bukan seorang Yahudi. Uniknya Alkitab menyebutkan “Yesus heran.” Saya juga heran kenapa Yesus heran. Apakah di dunia ini yang bisa mengherankan Allah? Yang heran sebetulnya hanya kita, sebagai manusia yang terbatas, bukan? Tetapi Allah yang menciptakan segala sesuatu, Allah yang tahu segala sesuatu, sesungguhnya tidak ada hal yang mengherankan Dia. Tetapi Alkitab catat frase ini, “Yesus heran.” Amazed, takjub, heran luar biasa. Bagaimana Ia menjumpai iman sebesar ini pada diri seorang bukan Yahudi, sesuatu yang belum pernah terjadi pada orang Yahudi sekalipun.

Iman perwira ini diuji dengan sakitnya hamba yang sangat dikasihinya. Iman seperti apa yang muncul dari perwira ini yang menyebabkan Tuhan Yesus memuji orang ini? Dia memang minta Tuhan menyembuhkan hambanya pasti karena dia percaya akan kuasa Tuhan. Tetapi di belakang dari permintaannya Tuhan Yesus melihat imannya adalah iman yang sejati dan iman yang benar adanya. Banyak orang akhirnya lari dan kecewa meninggalkan Tuhan bukan karena sebenarnya Tuhan tidak sanggup menyelesaikan persoalan hidupnya; bukan karena Tuhan tidak punya jawab terhadap hidupnya; bukan karena Tuhan tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Tetapi di balik daripada orang yang kecewa, lari meninggalkan Tuhan itu karena mereka sudah memiliki asumsi mengenal Tuhan dengan pengenalan yang keliru dan cacat. ‘Kalau benar Engkau Tuhan, sembuhkanlah aku. Tetapi kalau aku tidak sembuh berarti Engkau bukan Tuhan yang sejati.’ Kalau pendekatan kita datang kepada Tuhan seperti itu, bukan Tuhannya tidak berkuasa tetapi pengenalan kita akan Tuhan sudah memiliki ‘faulty.’

Ada begitu banyak ‘image’ mengenai Allah: the image of the Holy One. Tetapi C.S. Lewis berkata, seringkali ‘the image of the Holy One’ di dalam sejarah perjalanan hidup kita berubah menjadi ‘the Holy Image.’ Maksudnya, Tuhan bisa memakai sarana apa pun untuk menyembuhkan orang, tetapi seringkali saluran itu akhirnya berubah menjadi tahayul atau berhala bagi hidup kita. Maka kita mengerti kenapa akhirnya bukan Tuhan yang berkuasa yang disembah dan dipercayai tetapi barang dijadikan sebagai jimat, dsb. Kita mungkin sudah tidak menyembah patung berhala, namun di dalam pemikiran orang Kristen seringkali bercampur antara kepercayaan kita kepada Allah tetapi telah diletakkan di dalam konsep-konsep berhala yang akhirnya mencemarkan konsep kita mengenai Allah yang sejati.

Yang kedua, apa yang kita percaya tidak pernah menjadi sesuatu yang teraplikasi di dalam hidup iman kita. Perwira itu tahu, perwira itu percaya Yesus sanggup menyembuhkan hambanya, dia percaya Yesus berkuasa untuk melakukannya. Tetapi saudara perhatikan beberapa detail yang menarik mengenai imannya. Waktu kita mengalami krisis kita datang kepada Tuhan dan kita menuntut Tuhan memperlakukan kita sebagai “the waiting list paling depan.” Kita tidak pernah berpikir bahwa ada orang-orang lain yang mengalami kesulitan dan penderitaan lebih daripada kita, pokoknya kita mau dilayani paling dulu. Mungkin kita merasa wajar dan lumrah kita bersikap seperti itu. Mari kita coba melihat urgensi yang muncul dari kisah ini: hambanya sedang sangat sakit dan hampir mati, dia minta pertolongan dari Tuhan. Tetapi saudara bisa melihat bagaimana perasaan urgensi keinginannya itu dikontrol dengan indah dan baik dengan meletakkannya di bawah kedaulatan Tuhan.

Pemimpin-pemimpin agama datang kepada Yesus dan mengatakan, ‘Dia layak Engkau tolong, sebab dia banyak membantu kita, menolong pembangunan rumah ibadah, memberikan uang lebih banyak, melakukan pekerjaan lebih banyak bagi Tuhan, melakukan begitu banyak pekerjaan sosial, dst.’ Seringkali kita bisa kecewa dan marah kepada Tuhan sebab kadang-kadang kita rasa Tuhan tidak membalas setimpal dengan apa yang sudah kita korbankan bagiNya. Mari kita bandingkan dengan reaksi emosi Elia pada waktu dia mencurahkan kekesalan dan frustrasinya kepada Tuhan, “Aku telah bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan sedangkan orang Israel telah meninggalkanMu…” (1 Raja 19). Kalimat ini tidak keluar dari mulut perwira tetapi keluar dari mulut pemimpin-pemimpin agama. ‘Dia layak Engkau tolong…’ Ini adalah ‘faulty’ konsep yang melihat seolah-olah jasa dan kebaikan kita bisa dipakai menjadi alasan untuk Tuhan sepatutnya memberikan apa yang kita butuhkan. Tetapi justru perwira ini datang kepada Yesus dan berkata, “Aku tidak layak menerima Engkau di rumahku…” Dia tidak merasa apa yang sudah dilakukannya bagi Tuhan sepantasnya dan selayaknya menjadi kredit dan jasa untuk dibalas Tuhan.

Kedua, imannya begitu indah dan agung sebab apa yang dia percaya tidak pernah berhenti hanya sampai di dalam otak tetapi sungguh-sungguh terjadi dan teraplikasi di dalam hatinya. Kita percaya Allah hadir tetapi apakah konsep kemaha-hadiran Allah sungguh-sungguh menyertai seluruh perjalanan hidup kita? Kita tahu Allah itu suci adanya tetapi seberapa besar pengertian dan pemahaman mengenai Allah yang suci itu menjaga dan memelihara perjalanan hidup kita? Kita tahu Allah kita adalah kasih adanya, namun seberapa besar kasih Allah itu sungguh-sungguh menjadi nyata di dalam hidup kita pribadi lepas pribadi? Kadang-kadang kita bertindak tidak dengan sesuai dengan iman yang kita canangkan; kita tidak bertindak seolah Allah itu hadir dalam hidup kita. Kadang-kadang kita berkata-kata, kita tidak menyadari itu tidak sesuai dengan konsep kita akan Allah yang kasih dan suci adanya. Kita mengaku kita orang yang beriman, tetapi pada waktu krisis datang, iman kita baru teruji betulkah isi dari iman itu sejati atau tidak. Waktu iman itu teruji, di situ akan membedakan antara yang kita percayai, yang kita pahami dan hafal, itu barangkali berbeda dengan apa yang teraplikasi dalam hidup kita. Kalau kita sudah punya konsep yang keliru dan salah, saya ikut Tuhan karena Tuhan karena Tuhan itu baik; saya ikut Tuhan, Tuhan itu pasti menjawab semua doaku; saya ikut Tuhan, Tuhan pasti akan menyelesaikan seluruh persoalan hidupku; saya ikut Tuhan, Tuhan pasti akan menyembuhkan sakitku; di tengah jalan krisis itu akan menyebabkan seluruh konsep itu akan menjadi collapse.

Orang yang kedua yang dipuji Tuhan adalah Natanael. Kita lihat kisah ini dalam Yoh.1:43-51. Pujian Yesus kepada Natanael bagi saya indah luar biasa. Orang mungkin gampang memuji kita; orang mungkin gampang memberi applause dan penghormatan kepada kita. Tetapi jujur mata orang melihat kita begitu terbatas adanya, bukan? Orang bisa melihat kita adalah orang yang baik, tetapi sesungguhnya mungkin kita kurang baik. Orang bisa menghargai dan memuji kita, tetapi sesungguhnya mungkin kita belum mengerjakan semaksimal mungkin. Tetapi kalimat pujian Tuhan Yesus kepada Natanael bagi saya satu kalimat yang luar biasa indah dan menggetarkan hati, “Tidak ada kepalsuan daripadanya…” Apakah pujian yang sama bisa datang kepada kita juga? Full of integrity, tidak menyimpan “skeleton in his closet,” nothing fake in this person.

Natanael heran dan berkata, “How do You know me?” Dan jawaban Tuhan, “Karena Aku melihat engkau di bawah pohon ara.” Mendengar jawaban ini Natanael langsung berseru, “Oh, Rabi, Engkau adalah Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus tersenyum, “Hanya karena Aku melihat engkau di bawah pohon ara maka engkau percaya? Engkau akan melihat perkara-perkara yang lebih besar daripada itu.” Kita mungkin tidak bisa mengerti kenapa Tuhan Yesus memuji Natanael dan Natanael beriman menaklukkan diri kepada Tuhan sebelum kita mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh Natanael di bawah pohon ara. Apakah Natanael percaya hanya karena Yesus mengatakan ‘Aku melihatmu di bawah pohon ara’? Hanya karena Yesus Maha Tahu sehingga Natanael percaya kepadaNya? Tidak. Di bawah pohon ara adalah tempat dimana rabi Yahudi mengajar dan anak-anak muda ini berkumpul, berdiskusi dan bersoal jawab mengenai kitab Taurat dan di situ mereka belajar mencari dan menanti kapan Mesias datang. Dan di sini Natanael sudah “doing his homework” dengan baik. Begitu dibilang Yesus orang Nazaret adalah Mesias yang kita nanti-nantikan, langsung Natanael menjawab Mesias tidak mungkin datang dari Nazaret.

Berapa banyak orang mengaku percaya tetapi begitu ditanya apa yang dia percayai, dia tidak mengerti apa-apa, lalu bilang ‘pokoknya tanya saja pendetaku.’ Waktu masuk ke dalam kebaktian, apa yang diajarkan di mimbar, apakah saudara mengerti dan mengetahui apakah yang diajarkan sungguh-sungguh benar adanya? Atau terima saja bulat-bulat, pasti benar semuanya. Anak muda ini tidak gampang percaya, tidak gampang menerima, dia jeli melihat ada sesuatu yang “salah” di sini, tidak mungkin Mesias itu datang dari Nazaret, karena dia sudah belajar seluruh PL baik-baik, dia tahu Mesias tidak lahir di Nazaret. Maka pada waktu Natanael berjumpa dengan Tuhan Yesus, ada satu hal yang unik yang membuat dia menaklukkan diri karena dia tahu Yesus bisa melihat langsung menerobos hatinya sedalam-dalamnya. Anak muda ini sudah menanti-nantikan Mesias kapan datang; anak muda ini berharap kapan Mesias itu datang; dan pada waktu ia mendengar Yesus mengatakan, “Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara,” apa yang dia harap dan nantikan sekarang ini, momen ini dia berjumpa muka dengan muka dengan Mesias yang sejati itu. Kalimat ini menjadi kalimat yang menjawab seluruh pengharapannya. Itu sebab dia lalu menyatakan iman dan percayanya kepada Tuhan Yesus. Anak muda ini dipuji oleh karena pengharapannya yang luar biasa. Tetapi dimana keindahan dari pengharapan anak muda ini? Kita akan bisa mengertinya dengan membandingkan perkataan Paulus dalam 2 Kor.5:6-10. Kita adalah orang-orang Kristen yang hidup berharap kepada Tuhan. Selama kita diam di dalam dunia ini kita sadar dan kita tahu apa yang kita harapkan, apa yang kita nantikan itu tidak selalu terealisir dan terjadi. Tetapi Paulus bilang, saya percaya kepadaNya sekalipun saya mengalami krisis hidup; saya terus beriman kepadaNya sekalipun saya tidak menyaksikan pertolonganNya terjadi di dalam hidupku sekarang; saya beriman kepadaNya tidak mendatangkan perasaan emosiku yang kemudian kecewa, marah, lari meninggalkan Tuhan. Tidak. Saya beriman kepadaNya walaupun saya tidak melihat dan tidak mengalaminya, saya menjalani hidup yang sekarang di dalam tubuh ini maupun nanti pada waktu saya bertemu Tuhan, I always want to please Him. Iman yang sejati akan selalu terbukti dengan apa yang kita lakukan hari demi hari. Itulah yang terjadi dengan Natanael. Maka pada waktu Yesus berjumpa dengannya, Yesus mengatakan anak muda ini beriman, berharap, belajar kitab suci, dan itu semua tidak hanya sampai di kepala saja. Jarang kita ketemu dengan anak muda yang seperti ini, yang dipuji karena integritasnya. Dia beriman, dia jalani; dia berharap, dia buktikan dengan sungguh apa yang dia lakukan hari demi hari tidak pernah lari dari apa yang dia imani.

Yang ketiga, Tuhan Yesus memuji seorang janda miskin karena kasihnya (Luk.21:1-4). Yesus memuji dia, “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Leon Morris dalam commentary terhadap Injil Lukas mengeluarkan kalimat yang pendek dan singkat mengenai bagian ini, “Apa itu persembahan? Persembahan itu bukan soal berapa yang kita beri kepada Tuhan. Tetapi persembahan itu adalah soal berapa banyak yang kita simpan untuk diri sendiri?” Janda ini memiliki kasih yang luar biasa kepada Tuhan.

Dua tahun terakhir ini gejolak ekonomi mungkin menyebabkan persoalan-persoalan di dalam masyarakat, pembiayaan hidup menjadi besar, tantangan hidup menjadikan kita pikir kita harus menyimpan untuk menghadapi ketidak-pastian yang akan terjadi di depan kita. Akhirnya kita menemukan badan-badan misi Kristen, yayasan-yayasan sosial Kristen mengalami kesulitan yang sangat besar karena berkurangnya orang yang memberi dan menunjang pelayanan mereka.

Apakah orang baru memberi persembahan setelah mereka sendiri berkelimpahan? Saya percaya tidak demikian. Karena janda miskin ini memperlihatkan kepada kita satu bukti orang bisa memberi dari kekurangannya. Maka bukan soal kelimpahan; bukan soal kekurangan; bukan soal mampu atau tidak mampu; bukan soal saya sendiri patut ditolong; tetapi soal bagaimana attitude dan sikap orang di dalam cintanya kepada Tuhan, ini menjadi prinsip yang penting.

Yesus tidak menghina persembahan orang kaya yang datang memberi ke Bait Allah. Yesus tidak menghina pemberian orang-orang itu. Yesus hanya memberikan satu fakta: persembahan dan pemberian orang-orang itu lahir dari kelimpahan mereka, sesuatu yang rela dan mudah diberikan selama mereka punya dan ada. Tetapi janda miskin ini rela memberi, sekaligus juga berat dan susah, sebab dia memberi dari kekurangannya. Dan bukan saja dari kekurangannya, kalimat selajutnya muncul: dia memberi seluruh nafkahnya, apa yang dia punya kepada Tuhan. Itulah sebabnya Yesus memuji persembahan janda miskin ini bukan karena kuantitasnya tetapi pada kualitas hati yang ada kepada Tuhan. Janda miskin ini sepatutnya mendapat pertolongan juga, bukan? Tetapi dia memberi di dalam kekurangannya.

Mari saya ajak kita melihat baik-baik ke dalam hidup kita: selama setahun ini berapa banyak uang yang Tuhan sudah kasih kepada kita, kita beri bagi pekerjaan Tuhan? Konsep dasar memberi persembahan kepada Tuhan intinya adalah kita harus tahu ada yang milik kita tidak boleh untuk kita, sehingga berapa besar dan berapa banyak itu menjadi berapa besar cinta kita kepada Tuhan. Saya percaya angka yang 10% itu adalah angka yang sangat kecil dan minimal di dalam persembahan pelayanan kita. Tetapi point saya pada pagi hari ini adalah kita katakan kita cinta Tuhan, kita mengasihi Tuhan, kita adalah orang yang sudah Tuhan berkati, seberapa besar cinta kita terefleksi dari apa yang kita bawa kepada dia.

Ada orang-orang yang tidak terlalu kaya, tetapi selalu memberi dan tidak pernah berkekurangan; tetapi ada banyak orang yang terus memikirkan diri bagaimana mengatur untuk bisa cukup tetap tidak pernah cukup di dalam hidupnya. Janda miskin ini menjadi satu contoh hidup bagi kita, bukan soal berapa banyak kita punya baru kita memberi, tetapi dia mengajarkan kepada kita berapa banyak yang kita simpan untuk diri kita sendiri akhirnya kita lalai memberi bagi pekerjaan Tuhan.

21 Agustus 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: