Home > Effendi Susanto, Ego Eimi, Seri Khotbah > Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup

Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

Yoh.14:1-14

Kadang-kadang kita akan menghadapi satu situasi, satu waktu dimana di tengah situasi itu kita hanya bisa percaya saja; kita tidak bisa melihat bukti apa-apa; kita tidak bisa berbuat apa-apa di situ. Yang kita hanya bisa lakukan adalah menerima dan memegang janji Tuhan menjadi penolong yang memberi kekuatan kepada kita. Maka kalimat dalam Yoh.14 keluar dari mulut Tuhan Yesus bagi saya merupakan satu keindahan yang begitu luar biasa, mengerti pergumulan dan persoalan dari orang-orang yang mengalami apa yang namanya ditinggal pergi oleh orang yang begitu dicintai dan dikasihi. Tetapi sekaligus kalimat dari Tuhan Yesus itu membuka mata kita melihat betapa indah relasi cinta antara Yesus dengan murid-muridNya, sesuatu relasi yang begitu dekat dan intim. Dalam Yoh.13 Yohanes mencatat beberapa hal, setelah Yesus tahu waktuNya hampir tiba, Ia kemudian menyeka kaki murid-murid dan sesudah itu Ia berbicara dan kalimat-kalimat itu sudah pasti begitu menyedihkan hati murid-murid. “Hai anak-anakKu, hanya seketika waktu lagi Aku ada bersama-sama dengan kamu. Kamu akan mencari Aku, tetapi ke tempat Aku pergi tidak mungkin kamu datang…” (ayat 33). Kalau orang yang kita cintai, orang yang kita kasihi mengeluarkan kalimat seperti ini, tinggal sedikit waktu lagi aku ada bersama-sama kamu dan aku akan segera pergi, hati siapa yang tidak sedih, hati siapa yang tidak merasa terhilang, hati siapa yang tidak memiliki kecamuk gejolak emosi yang mungkin sulit terkatakan?

Bukan saja murid-murid akan mengalami kehilangan akan Orang yang begitu mereka kasihi dan cintai, enam hari terakhir itu merupakan masa stress, masa yang berat, masa yang saya percaya akhirnya bisa membuat kita mengerti bagaimana Petrus akhirnya di tengah tekanan yang berat lari dan pergi meninggalkan Tuhan. Dalam Yoh.11 beberapa trigger muncul membantu kita memahami konteks situasi di belakangnya. Kita tidak terlalu tahu berapa jarak waktu antara Yesus membangkitkan Lazarus, tetapi paling tidak di ayat 53 menunjukkan sesudah peristiwa itu, orang-orang Yahudi mulai bersepakat untuk membunuh Yesus. Ayat 54, karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum. Dari situ tidak tahu berapa lama mereka tinggal di Efraim, hingga Yoh.12 sampai Yesus mati di kayu salib kita tahu terjadi selama enam hari terakhir itu, enam hari sebelum Paskah.

Tekanan berat muncul. Sebetulnya Yesus sendiri tidak takut menghadapi hal itu, tetapi sesudah peristiwa kebangkitan Lazarus itu, Ia kemudian diam-diam pergi ke tempat yang sunyi, menjauhkan diri dari keramaian sebab orang-orang berusaha untuk menangkapNya. Dan bagaimana perasaan dari murid-murid, bagaimana sikap hati dari murid-murid ketika menghadapi situasi yang tegang dan tidak menentu seperti itu, kita bisa membayangkannya. Mungkin selama waktu itu murid-murid masih merasa secure setidaknya ada Tuhan Yesus di dekat mereka; setidaknya pada waktu orang-orang itu ingin membunuh mereka, Tuhan Yesus tidak akan membiarkan hal itu terjadi karena Ia punya kuasa untuk melindungi mereka. Tetapi bersandar dan percaya Ia sanggup bisa melepaskan, itu tidak akan ada lagi. Karena Yesus sendiri sudah memperingatkan mereka, sebentar lagi Ia tidak akan bersama-sama dengan mereka. Mungkin perasaan kita punya pegangan tahu apa yang akan terjadi di depan hilang sudah, security yang kita pikir bisa diberikan oleh Tuhan Yesus hilang sudah dengan kalimat ini, sehingga terlihatlah di wajah murid-murid kecemasan dan ketakutan. Maka Yoh.14 dimulai dengan kalimat Tuhan Yesus, “Jangan gelisah hatimu…” (ayat 1). Yesus melihat sedalam-dalamnya kesulitan, tantangan dan penderitaan yang akan datang kepada mereka.

Dua pertanyaan dari murid-murid bagi saya adalah dua pertanyaan yang mewakili apa yang ada di dalam hati kita sebenarnya. Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Ini adalah pertanyaan yang mewakili pergumulan yang besar yang ada di dalam hati kita ketika kita menghadapi situasi dimana kita gelisah dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang kita sandari itu sedang pergi, yang kita senantiasa berdoa kepadaNya sedang berkata ‘Aku sebentar lagi akan pergi,’ kita pasti bingung, kita mungkin kurang paham dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kedua, perkataan dari Filipus, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup.” Ini pergumulan kedua dari kita manusia yang terbatas. Saya rasa bukan hanya Filipus yang mengeluarkan kalimat seperti itu, kita pun bisa melakukan hal yang sama yaitu kita perlu sekali bukti. Artinya dengan kata lain kita berani menghadapi situasi terburuk sekalipun, itu semua tidak akan menggoncangkan hati kami jikalau di mata kita betul-betul Bapa yang kita percaya itu ada; betul-betul Tuhan yang kita sembah itu ada. Kita minta kepastian dari Tuhan. Di tengah kita yang tidak pasti, di tengah kita yang tidak mengerti apa yang akan terjadi, kita ingin iman kita itu segera bisa terlihat secara konkrit, ada bukti yang kita bisa rasa, ada bukti yang kita bisa lihat, ada bukti yang kita bisa pegang darinya. Ini adalah detik-detik yang terakhir pada waktu kita mungkin akan menghadapi waktu yang sedih, waktu terhilang, waktu sedang gelisah hati. Yesus mengeluarkan kalimat yang keenam, yang memberikan janji yang penting. Yesus berkata, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun bisa sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

Mari kita pahami kalimat Tuhan Yesus ini dengan mendalam. Bagi saya bukan saja di dalam PL, tetapi di dalam seluruh kebudayaan manusia, ini merupakan hal yang penting. Di dalam filsafat Yunani tiga hal ini: Jalan, Kebenaran, Hidup merupakan hal yang sangat penting. Di dalam filsafat Buddhism juga sama, mereka belajar mengenai Delapan Jalan. Jadi ini merupakan hal yang manusia pikirkan begitu dalam, bagaimana kita bisa menemukan “Jalan,” maksudnya hal yang mengarahkan hidupku tidak tersesat; bagaimana kita bisa menemukan “Kebenaran,” karena itu merupakan hal yang lebih bernilai daripada segala sesuatu; bagaimana kita memikirkan soal “Hidup,” yaitu hidup yang Tuhan beri kepada kita satu kali kelak akan selesai dan kita akan pergi dari dunia ini. Tetapi hati kita atau hidup itu sendiri tahu bahwa kematian di dunia ini sebenarnya bukanlah akhir daripada hidup itu sendiri. Sejujurnya, semua manusia di dalam agama dan filsafat tahu sebenarnya kematian itu hanyalah satu transisi berpindah dari hidup yang satu kepada hidup yang lain. Dalam hal itu hanya ada dua macam pengertian mengenai “after life,” yang satu berupa siklus yang berputar dan yang satu lagi bersifat linear. After life yang berupa siklus dikenal dengan istilah Reinkarnasi. Hidup itu tidak akan mati dan habis, hanya pada waktu seseorang mati di satu masa, dia akan mengalami hidup kembali di dunia ini dengan perubahan cara hidup. Itu konsep dari Reinkarnasi. Lalu dicobalah dengan segala macam cara orang ingin mengetahui konsep dari Reinkarnasi itu benar adanya. Maka ada orang mengembangkan konsep “de javu” seolah di dalam memorinya ia pernah merasa berada di satu tempat atau ingat sesuatu pernah terjadi padanya padahal dia tidak pernah ada di situ. Maka seperti Dalai Lama yang sekarang dianggap sebagai reinkarnasi dari Dalai Lama sebelumnya, orang Tibet percaya kelak ada lagi yang akan menjadi penjelmaan dari Dalai Lama yang sekarang. Di dalam konsep Reinkarnasi itu manusia ingin mendapatkan hidup yang lebih baik nantinya, maka mereka di-encouraged untuk melakukan hal-hal yang baik selama hidup ini. Kalau mereka melakukan hal-hal yang jahat, nantinya hidup selanjutnya akan turun ke bawah. Yang saya ingin tanyakan kepada mereka, kalau akhirnya seseorang sudah turun ke bawah menjadi mahluk yang lebih rendah, bagaimana dia bisa memiliki kesempatan untuk naik kepada tingkat yang lebih tinggi? Anggaplah seseorang yang jahat akhirnya reinkarnasi menjadi seekor kambing, lalu apakah ada kesempatan bagi dia untuk menjadi seekor kambing yang baik, yang rela memberikan rumputnya kepada kambing lain yang lapar, misalnya, sehingga waktu dia mati nanti dia bisa bereinkarnasi menjadi mahluk yang lebih tinggi?

Yang kedua, jelas Alkitab berkata kita hidup hanya satu kali saja di dunia ini, setelah selesai kita akan menghadap kepada Tuhan dan hidup kita akan diadili dan kita akan menerima nanti satu hidup yang lebih indah dan lebih mulia daripada hidup kita sekarang ini. Itulah konsep linear. Maka nanti di hari kebangkitan kita bagaimana memahami dan mengertinya, saya akan ajak saudara untuk melihat hal ini. Karena pada waktu Yesus berkata, “Jangan gelisah hatimu, percayalah kepadaKu. Aku pergi ke tempat dimana sekarang engkau belum bisa pergi, tetapi satu kali kelak engkau akan ke sana dan Aku menyediakan satu tempat yang besar di situ untukmu. Kalau seandainya itu tidak ada, Aku akan kasih tahu engkau, karena Aku berasal dari sana…” Di sinilah perbedaan Yesus Kristus dengan seluruh manusia yang agung di atas muka bumi ini. Manusia yang agung di atas muka bumi ini dengan segala etika dan moral yang paling tinggi yang ada di dalam dirinya, sekuat-kuatnya dia hanya bisa berkata, “Aku hanya bisa mengajarkan dan menunjukkan jalan kebenaran itu kepadamu dan aku akan menjadi satu contoh untuk engkau bisa mempraktekkan itu.” Hanya sampai di situ. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang pernah dan yang berani dan yang akan bisa berkata seperti Tuhan Yesus di sini, “Aku bukan menunjukkan dan mengajarkan jalan kepadamu. Akulah Jalan itu. Aku bukan mengajarkan kepadamu akan kebenaran. Akulah Kebenaran itu. Aku bukan mengajarkan jalan supaya nanti kamu hidup. Akulah Hidup itu.” Dengan kata lain, Jalan itu berada di dalam diri Yesus Kristus; Kebenaran itu bersatu dengan Yesus Kristus; dan Hidup itu hanya ada di dalam diri Yesus Kristus. Sehingga siapa yang bersatu dengan Dia, siapa yang menjadi milik Dia, siapa yang percaya kepadaNya dengan sendirinya mereka memiliki jalan, kebenaran dan hidup itu.

Pada waktu orang-orang Yahudi mendengar kalimat dari Tuhan Yesus ini mereka langsung mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, sebab tiga kata ini, Jalan, Kebenaran, Hidup, memang adalah tiga kata yang sangat penting sekali di dalam PL. Setidaknya, dalam Ul.5:32-33 Musa berkata, ”… janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, segenap jalan yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan Allahmu haruslah kamu jalani supaya kamu hidup…” Jalan itu harus dijalani dengan lurus, tidak boleh menyimpang ke kiri atau ke kanan. Orang Yahudi mengerti jalan itu ditempuh oleh guidance yang sangat penting yaitu firman Tuhan yang diberikan melalui para nabi. Dan pada waktu Yesus mengatakan di sini, Dia tidak menyebut diri sebagai nabi, sebab kalau Dia menyebut diri sebagai nabi, Dia akan berkata seperti ini, “Aku akan memberikan firman Allah supaya engkau turuti dan jalani.” Yesus tidak mengatakan kalimat seperti itu, tetapi dengan mengatakan, “Akulah Jalan…” berarti Ia berkata, “Akulah Firman Allah itu, Akulah Suara Tuhan yang akan membawa engkau kepada Jalan itu.” Jaminan ini menjadi jaminan yang pasti dari Tuhan Yesus kepada murid-murid yang sedang berada di dalam kegelisahan dan ketidak-pastian.

Dalam 1 Pet.1:8-10 Petrus menyebutkan tiga macam orang Kristen, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia namun kamu mengasihiNya dan percaya kepadaNya…” Ayat 10 bicara orang macam pertama, mengenai orang-orang di PL yang diberi janji oleh Tuhan, diberi nubuat oleh Tuhan, satu kali kelak keselamatan itu akan datang. Tetapi mereka hanya menerima nubuat dari janji itu dan tidak pernah melihat penggenapannya. Kelompok orang macam kedua adalah rasul Petrus dan murid-murid Tuhan yang pernah memegang Firman itu, yang dalam bentuk jasmani darah dan daging, yaitu Yesus Kristus, mereka pernah bersentuhan denganNya, pernah melihat Dia dengan mata mereka sendiri. Kelompok orang macam ketiga adalah orang-orang Kristen penerima surat ini, seperti saudara dan saya yang melewati kesulitan dan penderitaan sebagai orang percaya. Petrus mengatakan, engkau percaya kepadaNya, engkau menerima Dia, engkau mengasihi Dia sekalipun engkau tidak pernah melihat Tuhan Yesus itu. Kita menjalani satu hidup dimana kita percaya kepadaNya, kita beriman kepadaNya, sekalipun mungkin kita tidak melihat dan menyaksikan Dia. Tetapi tidak melihat dan tidak menyaksikan Dia tidak berarti kita tidak mungkin melihatNya nanti, itu cuma soal waktu saja. Dan di tengah soal waktu itu barulah kita bisa melihat dimana letak kedewasaan rohani seseorang menjadi indah adanya. Semakin dewasanya kerohanian seseorang, di situlah Tuhan tuntut kita bertumbuh sehingga pada waktu kita menghadapi kesulitan dan penderitaan kita bisa sedikit lebih sabar, lebih tenang, lebih beriman, lebih taat kepadaNya.

Jangan gelisah hatimu, Aku akan pergi menyediakan tempat bagimu…” ini adalah momen yang bagi saya kadang-kadang anak Tuhan menghadapi satu masa dimana Tuhan hadir di dalam hidupnya, tetapi kadang-kadang kita akan menghadapi satu masa dan satu waktu dimana Tuhan tidak hadir di dalam hidup kita. “Hanya seketika waktu saja, sebentar lagi Aku tidak ada lagi bersama kamu. Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Bapa, percayalah kepadaKu…”

Apa yang akan kita dapat di situ? Yesus berkata, “Aku akan pergi dan menyediakan tempat bagimu di situ.” Seringkali kita hanya mengerti ayat ini lalu sedikit keliru mengerti mengenai kehidupan kita nanti sesudah kita bertemu Tuhan bagaimana. Banyak yang berpikir nanti kita akan berada di awan-awan dan itulah tempat kita selama-lamanya. Bagi saya kita harus mengkaitkan keseluruhan bagian firman Tuhan untuk mengerti secara utuh. Dalam 1 Kor.15:42 rasul Paulus memberikan keterangan yang lebih jelas di dalam kondisi bagaimana nantinya kita waktu itu. Setelah kebangkitan Yesus Kristus barulah murid-murid mengerti lebih jelas mengenai kebangkitan nanti seperti apa, yaitu kita tidak lagi berupa roh di situ, kita akan memiliki tubuh kebangkitan. Yang mati akan bangkit, dan waktu bangkit bagaimana sifat dari kebangkitan itu? Sifatnya yang tadinya adalah tubuh binasa yang terbatas nanti akan dibangkitkan dalam keadaan tidak binasa; yang ditabur itu adalah di dalam kehinaan, kita penuh dengan cacat cela, tetapi nanti yang bangkit itu di dalam kemuliaan; yang ditabur di dalam kelemahan, kita bisa sakit, kita bisa mengalami kematian, tetapi nanti kita akan dibangkitkan di dalam kekuatan; waktu kita mati yang mati itu adalah tubuh alamiah, tubuh yang sama seperti Adam yaitu dari debu tanah, tubuh ini akan lebur, nanti akan dibangkitkan dalam tubuh rohaniah.

Sampai di sini ada orang Kristen berdebat dengan cara penguburan orang Kristen. Ada yang tidak menerima mengenai kremasi dengan alasan kremasi bukanlah tradisi yang ada di dalam Alkitab. Tetapi argumentasi saya, kalau mau mengikuti tradisi orang Yahudi, kita juga tidak boleh kubur di dalam tanah melainkan di dalam lubang juga. Tradisi kremasi itu di dalam budaya tertentu memiliki konsep di belakangnya adalah supaya pada waktu dibakar dewa-dewa nanti tidak sempat untuk melakukan sesuatu yang jahat kepada yang meninggal. Tetapi orang Kristen melakukan kremasi dengan menebus konsep itu, di tengah-tengah tempat mungkin situasi tanah sudah tidak terlalu banyak, di beberapa daerah dimana memelihara satu tanah untuk biaya selanjutnya itu besar, atau tanah begitu mahal sehingga proses kremasi lebih murah menjadi satu aspek. Toh Tuhan juga tidak menginjinkan orang Israel memiliki tempat kuburan Musa, supaya tidak menjadi tempat mistik ziarah. Tuhan tahu manusia punya kecenderungan seperti itu. Bagi saya, kremasi berbeda dengan kubur hanya dalam satu hal yaitu proses lebih cepat menjadi debu dan karbon, dst. Kalau dikubur mungkin perlu beberapa puluh tahun lagi. Dan bagaimana dengan yang mati di atas pesawat yang sudah tidak ada mayatnya lagi, atau yang dimakan ikan hiu? Yang kita tahu Alkitab mengatakan ketika nafiri berbunyi dalam sekejap mata semua orang percaya akan diubahkan, yang mati akan bangkit dan yang masih hidup akan diubahkan. Tuhan akan membangkitkan kita dalam bentuk tubuh rohaniah. Jadi bukan roh belaka. Intinya nanti setelah kita bertemu Tuhan di situ Tuhan akan membawa kita kembali ke dunia ini sehingga dunia yang indah yang Tuhan cipta yang kemudian sudah dirusak oleh dosa akan diperbaharui kembali dan kita akan hidup bersama-sama Tuhan. Daging dan darah, yaitu sifat keberdosaan kita tidak ada lagi di dalam Kerajaan Allah dan kita tidak akan mati lagi. Semua ini nanti menjadi satu keindahan yang luar biasa, menjadi penggenapan dari janji Tuhan Yesus dalam Yoh.14 ini.

Dalam 1 Tes.4:14-18 Alkitab tidak mengatakan kita tidak boleh berdukacita waktu orang yang kita kasihi meninggal dunia. Yang Paulus katakan adalah kita tidak boleh berdukacita seperti orang yang tidak punya pengharapan.

Why.21:1-4 menggambarkan nanti kita akan bangkit, kita akan menyongsong Tuhan dan turun bersama-sama ke dalam dunia yang dicipta olehNya. Dunia sebagai tempat manusia yang sudah dirusak oleh dosa disucikan, dikuduskan oleh Tuhan sehingga menjadi satu dunia yang indah dan agung mulia. Di sini kita akan tinggal bersama Tuhan selama-lamanya. Allah yang oleh karena dosa dahulu terpisah dengan kita sekarang bersatu dengan orang-orang tebusanNya. Di situ tidak ada lagi dosa dan maut, tidak ada lagi pemisah antara langit dan bumi yang baru. Maka Allah akan turun dan diam di tengah-tengah kita. Itulah langit dan bumi yang baru. Pada waktu kita sedang berada di dalam dunia beriman seperti ini tetapi belum melihat kapan Dia datang, biarlah kita tidak kuatir dan gelisah lagi sebab Dia yang telah berjanji itu berkata “Aku pergi ke situ menyediakan tempat yang besar bagimu, karena Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup itu.”

Kita hidup di dalam dunia sekarang ini menghadapi tantangan dan himpitan iman yang berat, biarlah janji Tuhan memberi kita kekuatan dan menyukakan hati kita. Kebenaran Tuhan membuat kita terus melihat satu kali kelak janji itu akan kita terima dan dapatkan dan menjadi sukacita kita sedalam-dalamnya karena kita memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan; kita memiliki segala janji sorgawi yang kita terima dalam Kristus Yesus.

Pdt. Effendi Susanto STh.

19 Juni 2011

Ini adalah bagian kelima dari seri khotbah “Ego Eimi”, baca lebih lanjut:

  1. Akulah Roti Hidup
  2. Aku adalah Terang Dunia
  3. Aku adalah Pintu
  4. Aku adalah Gembala yang Baik
  5. Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
  6. Aku adalah Kebangkitan dan Hidup
  7. Aku adalah Pokok Anggur yang Benar
  8. Akulah Pokok Anggur yang Benar (lanjutan)
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: