Home > Effendi Susanto, Ego Eimi, Seri Khotbah > Aku adalah Pintu

Aku adalah Pintu

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Yoh.10:1-10

Eksposisi Perkataan “Ego Eimi” (3)

Di dalam ucapan Yesus Kristus mengenai siapa diriNya, Ia menyebutkan kalimat, “Aku adalah Roti Hidup,” menyatakan Dia sanggup memenuhi kebutuhan manusia yang paling dasar yaitu kebutuhan akan makanan. Manusia perlu makan karena Tuhan menciptakan manusia memiliki tubuh dan kebutuhan fisik. Tetapi makanan kita yang sejati adalah kita perlu Kristus yang sanggup memenuhi kebutuhan makanan spiritual bagi jiwa kita. Kemudian, kita juga bicara mengenai kebutuhan kedua yang mendasar bagi setiap manusia yang memang tidak kelihatan karena itu sesuatu yang abstrak yaitu terang. Terang itu mewakili hal-hal yang tidak bisa dipegang seperti barang konkrit. Terang mewakili kebenaran, terang mewakili hal yang tidak kelihatan yang bersifat rohani. Berbeda dengan binatang, manusia tidak bisa dan tidak mungkin dipuaskan hanya dengan kekayaan dan hal-hal fisik yang kita miliki dari dunia ini.

Di dalam sejarah ada seorang filsuf bernama Diogenes yang pernah keluar di tengah terik matahari yang terang menyengat sambil membawa sebuah lentera yang menyala. Orang-orang yang melihatnya menertawakan tindakan Diogenes karena mengira dia sudah pikun atau gila, tetapi Diogenes melakukan hal itu untuk satu maksud, sekalipun di tengah hari yang terang benderang, hati manusia gelap adanya dan tidak ada kebenaran pada mereka. Dia membawa lentera sebagai simbol dia sedang mencari kebenaran di tengah dunia yang gelap. Ini merupakan satu analisa dia terhadap kehidupan di dunia. Kita kadang-kadang pikir hidup di dalam terang cahaya yang kelihatan tetapi belum menjamin bahwa kita hidup di dalam terang kebenaran. Maka Yesus Kristus berkata, “Akulah Terang Dunia yang datang menyinari kegelapan.” Ada kegelapan yang tidak pernah dilihat manusia, yaitu kegelapan hati manusia yang perlu sinar rohani.

Hari ini kita melihat satu kalimat dari Tuhan Yesus yang sangat unik dan menarik, yaitu Dia berkata, “Aku adalah Pintu dan hanya di dalam Aku engkau akan keluar dan masuk dan engkau akan selamat dan memiliki hidup yang berkelimpahan.”

Kita hidup di dalam budaya yang pluralistik dengan banyak kepercayaan. Bagi saya di dalam budaya yang pluralistik seperti ini adalah sesuatu yang patut kita hargai, menghargai hak dan kebebasan orang untuk bisa beragama dan hak untuk menghargai semua orang yang berbeda agama dengan kita. Sehingga di negara seperti ini walaupun sdr tidak setuju dengan ucapan orang yang berbeda pendapat dan agama, kita tetap tidak boleh menggunakan kekerasan untuk memaksa orang menerima pendapat kita. Tetapi kita juga menginginkan orang bersikap sama, terutama kepada kelompok minoritas boleh hidup di dalam damai dan hak mereka juga dihargai.

Di dalam PL ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan memerintahkan mereka untuk memelihara kelompok yang lemah, para janda dan anak-anak yatim dan kelompok minoritas dari orang-orang dari bangsa lain yang berbeda agama dan kepercayaan yang tinggal di tengah-tengah mereka. Tetapi kalau orang asing itu mau menjadi percaya Tuhan dan mau menjadi umat Tuhan maka mereka harus disunat menjadi seorang proselit sehingga mereka masuk ke dalam kebudayaan bangsa Israel. Konsep seperti ini ada jelas di dalam Alkitab menjadi sikap yang Tuhan inginkan terdapat di dalam kehidupan umatNya. Namun di dalam perjalanan sejarah, ada kekecewaan kepada Katolik dan Protestan yang tidak seperti itu. Bahkan ketika kaisar Konstantin menjadi Kristen, dia memaksakan seluruh wilayah jajahan Romawi untuk menjadi Kristen walaupun mereka tidak mau. Kita harus akui itu adalah kelemahan dari manusia. Tetapi kembali kepada Alkitab kita bisa melihat bahwa Allah tidak melakukan hal seperti itu. Itu sebab konsep seperti ini harus menjadi sesuatu hal yang kita junjung tinggi. Saya rindu dan saya percaya semua kita rindu bahwa orang-orang yang belum mengenal Tuhan bisa percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena kita tahu itulah konsep kepercayaan kita bahwa di dalam Kristus mereka mendapatkan keselamatan. Kita memang sedikit kecewa melihat tidak banyak orang menjadi orang percaya Tuhan Yesus, tetapi sekaligus kita bangga dan berbahagia bisa hidup di dalam satu kebudayaan yang pluralistik, kita harus menghargai orang. Anak kita bisa berteman akrab di sekolah dengan anak beragama Islam, Budha, Hindu, dsb. Itu adalah satu sikap hidup yang inclusive, yang menjalani satu hidup yang harmonis tinggal bersama-sama dengan orang lain sekalipun mereka berbeda kepercayaan dengan kita; suatu kehidupan dimana kita tidak memaksakan kepada orang dengan kekerasan untuk supaya mereka mengikuti apa yang kita percayai.

Tetapi di dalam Kekristenan dewasa ini ada semacam satu kepercayaan inclusive yang lain. Ada satu tendensi dimana konsep mengenai “Jesus is the only way” berubah menjadi “Jesus is the best way.” Ada sedikit kekecewaan saya terhadap Rev. Billy Graham pada waktu dia diwawancara oleh Larry King, di situ dia lebih bersikap agnostik, dia setuju bahwa orang yang percaya Yesus akan selamat dan memperoleh hidup kekal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya Yesus dan yang tidak pernah mendengar nama Yesus, dia bilang dia tidak tahu bagaimana kondisi keselamatan mereka. “Saya tidak berada di dalam posisi menghakimi mereka…” itu kata dia. Demikian juga dengan Joel Osteen, seorang televangelist yang juga diwawancara oleh Larry King mengucapkan kalimat yang kurang lebih sama, “I know that Jesus is my way to lead me to God, but I’m not in the position to judge them who do not believe in Jesus…” Ini yang saya sebut sebagai suatu konsep inclusive mereka, suatu hal yang sedikit melunturkan konsep kita mengenai Kristus sebagai satu-satunya jalan, satu-satunya pintu dimana orang masuk dan mendapatkan selamat. Ini bukan ajaran Kekristenan, ini adalah kalimat dari Tuhan Yesus sendiri. Itu sebab dari tujuh kalimat, “Aku adalah…” ada dua pernyataan kalimat yang penting muncul, yang satu jelas sekali di dalam Yoh.14:6 Yesus berkata dengan tegas, “Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Yang kedua adalah kalimat metafora yang kita baca di dalam Yoh.10 ini, “Aku adalah Pintu.” Kembali lagi kita harus mengerti konsep pada waktu itu. Yang Yesus katakan di sini bukanlah pintu rumah, melainkan pintu kandang. Konteks pada waktu itu bagi para gembala yang menjaga kawanan domba di padang gurun yang luas, mereka membuat satu shelter untuk tinggal sepanjang malam di tengah padang. Shelter itu dibangun dari tumpukan tembok batu yang cukup tinggi supaya binatang buas dan serigala tidak dapat melompati temboknya untuk menyerang domba-domba di dalamnya. Dan pintu keluar dari shelter itu hanya satu, tempat domba itu keluar masuk dengan aman. Maka orang jaman itu langsung mengerti maksud Yesus ketika Ia berkata, “Akulah Pintu.” Orang jaman sekarang tidak mengerti, karena berpikir rumah kita ada banyak pintu, pintu depan, pintu belakang, pintu samping, jendela-jendela, dsb.

Gembala yang baik akan tahu domba-dombanya ada di dalam shelter dengan aman karena dia pasti akan berjaga di depan pintu semalam-malaman, sehingga kalau ada domba yang paling tinggi IQ-nya bisa buka pintu sendiri, gembala akan tahu kalau dia keluar dari shelter itu. Yesus mengatakan, “Aku adalah Pintu,” berarti akses keluar masuk, bertemu dan berjumpa dengan Allah itu hanya melalui Dia. Maka siapa bilang “Jesus is the only way,” itu ajaran sempit dari orang Kristen? Tidak benar. Itu adalah kalimat yang exclusive dari Yesus sendiri untuk menyatakan diriNya sebagai satu-satunya jalan, satu-satunya akses kepada Bapa.

Hari ini saya ingin sedikit menjelaskan paling tidak di dalam Kekristenan sekarang ada beberapa ajaran yang kurang terlalu murni dan sedikit membingungkan kita, yakni konsep inclusive yang merongrong konsep exclusive dari pernyataan Yesus Kristus mengenai diriNya.

Yang pertama adalah kelompok yang mengatakan, “I know Jesus is the best way for me, sehingga kalau saya percaya Yesus maka saya pasti akan selamat. Tetapi saya tidak tahu secara final bagaimana nasib orang yang belum pernah mendengar Injil. Kita tidak boleh terlalu yakin pasti bahwa mereka akan binasa.” Maksudnya adalah nantilah sampai kita ketemu Tuhan baru kita akan tahu bahwa ternyata ada orang bukan Kristen, ada orang yang tidak pernah ke gereja, ada orang yang tidak percaya Yesus dan tidka pernah mengenal Yesus, tetapi ternyata Tuhan pernah menyatakan sesuatu wahyu yang khusus kepada mereka walaupun samar-samar mengenai diriNya, orang itu tetap bisa selamat. Dan melalui Tuhan menyatakan diriNya kepada orang itu, walaupun dia mungkin tidak kenal nama Yesus paling tidak orang itu tahu ada satu Oknum yang namanya Allah atau Tuhan yang menciptakan dunia, dan orang itu hidup dengan cara berbuat baik, maka dia akan selamat.

Yang kedua adalah kelompok yang mengatakan di dalam agama-agama lain juga ada keselamatan. Tokoh Kristen yang mengangkat hal ini adalah Hans Kung. Dia bilang, kalau kita baca Alkitab kita akan menemukan Tuhan sendiri bilang Dia mau semua orang selamat. Tuhan serius dan tidak main-main, dan Tuhan pasti tidak ingin orang itu binasa kecuali orang itu memang memberontak habis-habisan kepada Tuhan. Maka kepada orang seperti ini Tuhan tidak berdaya dan angkat tangan. Tuhan sudah memberi alam yang indah, kebudayaan yang baik tetapi mereka tidak mau percaya kepadaKu. Tuhan mau semua orang selamat, kata Hans Kung, Tuhan tidak mau mereka binasa, itu sebab Tuhan tentu akan menggunakan segala macam cara untuk bikin orang selamat, sehingga melalui cara orang beragama walaupun dia bukan Kristen dan tidak percaya Yesus tetapi dengan cara hidupnya beragama mereka ingin mencari Tuhan walaupun mungkin siapa Tuhan itu tidak terlalu jelas baginya. Masakan Tuhan tega tidak membiarkan dia menemukan Tuhan? Maka bagi Hans Kung di dalam agama lain walaupun belum terlalu jelas mengenal Tuhan yang sejati, tetapi ada keinginan cari keselamatan, bisa jadi kita tidak berhak untuk menjadi Tuhan menghakimi dia tidak selamat karena dia tidak percaya Yesus.

Yang ketiga adalah yang disebut sebagai “Post-mortem Evangelism,” yang diajarkan oleh Christ J.P. Lance yang bilang orang yang belum pernah mendengar nama Yesus selama hidup di dalam dunia, nanti waktu dia sudah mati akan diberi kesempatan oleh Tuhan kali kedua untuk mengenal Dia. Di Indonesia ada terjadi satu sinkritisme yang mengacaukan dan membingungkan Kekristenan dengan mencampurkan konsep memanggil arwah nenek moyang yang belum pernah mendengar nama Yesus lalu diInjili. Lance mengatakan Tuhan masih kasih kesempatan kali kedua sesudah orang mati untuk mendengar nama Yesus dan diselamatkan. Tetapi Alkitab dengan jelas berkata di dalam Ibr.9:27, “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dihakimi.” Dalam Luk.16:19-31, Yesus pernah memberikan satu cerita mengenai Lazarus yang miskin dengan seorang kaya yang tidak pernah menggubris dia meminta belas kasihan dan sedekah. Ketika pada akhirnya Lazarus dan orang kaya itu dua-duanya meninggal, maka Lazarus dibawa ke pangkuan Abraham sedangkan orang kaya itu menderita di dalam alam maut. Kata “Firdaus” dan kata “duduk di pangkuan Abraham” memberitahukan kepada kita satu kondisi yang di dalam Teologi disebut sebagai “Intermediate State,” maksudnya adalah orang yang sudah percaya Tuhan dan meninggal, sambil menunggu hari kebangkitan tubuhnya dimana kemudian bersatu kembali dengan rohnya, di dalam tenggang waktu itu disebut sebagai intermediate state dimana dia langsung ada bersama Tuhan menikmati sukacita surgawi, tetapi menikmatinya tidak selengkap nanti pada waktu tubuh kebangkitannya yang mulia bersatu dengan rohnya. Kembali kepada orang kaya yang meninggal dari cerita Tuhan Yesus itu, maka dia berada di Hades atau alam maut, yang berbeda dengan Gehena dalam kitab Wahyu yang diterjemahkan sebagai api neraka oleh LAI. Hades paralelnya dengan Firdaus, Gehena paralelnya dengan Surga. Di surga nanti kita akan menikmati persekutuan dengan Tuhan di dalam tubuh yang mulia bersatu dengan roh kita; sedangkan orang yang memberontak kepada Tuhan akan mengalami penghukuman dalam tubuh dan roh yang tidak mulia di Gehena. Di dalam Hades, orang kaya itu mengatakan kepada Abraham untuk menyuruh Lazarus memberikan setetes air kepadanya, tetapi Abraham mengatakan hal itu tidak mungkin karena ada jurang yang tidak bisa diseberangi antara Hades dan Firdaus. Demikian juga waktu orang kaya ini mengatakan biar Lazarus kembali ke dunia untuk mengingatkan saudara-saudaranya percaya Tuhan, Abraham bilang tidak mungkin. Maka itu berarti orang yang sudah mati tidak mungkin lagi berhubungan dengan orang yang masih hidup. Dan opportunity manusia untuk mendengar Injil dan mendapat keselamatan hanya ada selama dia hidup di dunia.

Maka kembali kepada konsep yang ketiga adalah yang bilang orang yang belum pernah mendengar nama Yesus selama hidup di dalam dunia, nanti waktu dia sudah mati akan diberi kesempatan oleh Tuhan kali kedua untuk mengenal Dia, itu salah besar. Kesempatan hanya ada pada waktu seseorang hidup di dalam dunia ini.

Yang keempat seorang teolog Kristen bernama John T. Robinson yang mengajarkan konsep yang disebut Universalism. Dia bilang Allah itu kasih kepada dunia, semua orang Tuhan ingin selamatkan dan tentu maksud Tuhan ini akan tergenapi dengan cara apapun, melalui kepercayaan apapun, manusia yang percaya Tuhan pasti akan selamat.

Kalimat Yesus, “Aku adalah Pintu,” bagi saya merupakan satu jawaban Yesus Kristus yang bersifat implicit dimengerti menurut kebudayaan waktu itu. Tembok shelter sudah dibangun begitu tinggi, tidak ada jalan lain bagi binatang untuk keluar masuk kecuali melalui pintu. Maka Yesus Kristus mengatakan, di dalam namaKu engkau bisa mendapatkan akses berjumpa dengan Tuhan Allah. Di dalam Kis.4:12 Petrus dengan tegas mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Kalimat “Aku adalah Pintu” bagi saya sungguh menarik karena pada waktu Yesus meletakkan semua ini, kita baru bisa melihat dari perspektif yang sangat indah. Kenapa Yesus mulai dengan kata “Akulah Roti Hidup”? Dia masuk langsung mengenai soal kebutuhan fisik kita. Lalu Dia bicara mengenai “Akulah Terang Dunia,” Dia bicara mengenai satu kebutuhan non-fisik kita yang penting. Tetapi waktu Yesus berkata, “Akulah Pintu,” Dia angkat lebih dalam lagi, Dia berbicara soal security. Itu sebab kalimat ini menarik sekali, “Aku adalah pintu. Setiap kambing domba keluar dan masuk melalui Aku akan selamat.” Kata “keluar masuk” ini penting, sebab memang inilah “standar” kalimat yang dipakai oleh Tuhan di dalam PL untuk mewakili konsep berkat Tuhan yang menyangkut seluruh hidupmu dipeliharaNya dengan aman dan tenteram. Semua orang yang membaca kitab PL mengerti akan konsep ini. Maka pada waktu Yesus memakai istilah ini didengar oleh orang Yahudi, berarti selain Yesus mengatakan Akulah akses satu-satunya kepada Allah, sekaligus Dia bicara soal sekuritas, jaminan yang pasti, melalui Pintu itu engkau keluar dan masuk dengan aman dan bebas.

Satu negara, apabila semua orang ingin keluar dari negara itu, pasti ada apa-apanya. Yang lebih celaka ada negara yang begitu pintar menjebak, begitu orang masuk ke sana, tidak bisa keluar lagi. Tetapi satu negara dimana engkau bisa dengan bebas keluar dan masuk, berarti negara itu aman.

Dalam Mzm.121:8 dikatakan, “Tuhan akan menjaga keluar masukmu dari sekarang sampai selama-lamanya.” Sdr juga bisa membaca Ul.28:6, berkat dari Tuhan melalui Musa kepada umat Israel. Kalimat-kalimat itu sama seperti yang sdr dengar setiap kali kebaktian selesai dan pendeta memberikan berkat Tuhan kepada jemaat, “Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Artinya bukan keluar masuk gereja, tetapi ini adalah istilah teologis yang menjanjikan keselamatan, perlindungan dan keamanan di mana pun engkau berada.

Sdr mungkin sering bertanya dalam hati kenapa pendeta setiap minggu memberi berkat dengan kalimat penutup, ”…dari sekarang sampai selama-lamanya…” kenapa bukan ”…dari sekarang sampai minggu depan…” bukankah minggu depan dia akan memberi lagi berkat yang sama? Jawaban saya ada dua, pertama, berkat Tuhan tidak boleh engkau batasi sampai minggu depan karena itu berarti membatasi Tuhan. Itu sebab saya harus mengatakan berkat Tuhan, penyertaan Tuhan dari sekarang sampai selama-lamanya karena Allahmu dari sekarang sampai selama-lamanya tidak pernah berubah. Tetapi kenapa engkau harus mendapat berkat itu setiap minggu? Sebab engkau dan saya setiap minggu selalu lupa, sehingga harus selalu diingatkan bahwa berkat Tuhan itu sampai selama-lamanya.

Kristus bukan saja menjadi satu-satunya Pintu kita masuk dan bertemu dengan Tuhan Allah. Ini menjadi satu kalimat yang sangat eksklusif dari Dia, melalui Aku manusia bertemu dengan Allah yang benar. Yang kedua, jaminan janji bertemu dengan Tuhan Allah adalah jaminan yang bersifat selama-lamanya, keluar masukmu Aku jamin, tidak ada expiry date-nya. Ketiga, ayat 9, Aku beri kepadamu hidup, bukan saja hidup tetapi hidup yang berkelimpahan. Kalimat ketiga ini Yesus Kristus menawarkan Dia adalah tempat kita mendapatkan sekuritas keamanan yang sejati. Kristus adalah tempat dimana bukan saja kita mendapatkan hidup, tetapi Dia memberikan satu hidup yang berkelimpahan. Saya rindu setiap kita menjadi anak-anak Tuhan yang percaya Tuhan, hati kita melimpah dengan kehidupan penuh sukacita dan keamanan yang tidak ada habis-habisnya karena Dia yang berjanji dan berkata “Akulah Pintu, masuklah melalui Aku.”

Pdt. Effendi Susanto STh.

29 Mei 2011

Ini adalah bagian ketiga dari seri khotbah “Ego Eimi”, baca lebih lanjut:

  1. Akulah Roti Hidup
  2. Aku adalah Terang Dunia
  3. Aku adalah Pintu
  4. Aku adalah Gembala yang Baik
  5. Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
  6. Aku adalah Kebangkitan dan Hidup
  7. Aku adalah Pokok Anggur yang Benar
  8. Akulah Pokok Anggur yang Benar (lanjutan)
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: