Home > Effendi Susanto, Ego Eimi, Seri Khotbah > Akulah Pokok Anggur yang Benar (lanjutan)

Akulah Pokok Anggur yang Benar (lanjutan)

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Yoh.15:1-15,

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

1 Kor.10:13

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Ibr.12:5-11

Kalau kita membaca Yoh.15 kita menemukan ada keindahan yang luar biasa yang menjadi hasil akhir yang dihasilkan oleh usaha ‘pruning’ dari Allah Bapa, Pengusaha dari kebun anggur itu. Paling tidak, Yesus menyebut empat hal muncul dan tiga kali Yesus memakai kalimat “engkau akan berbuah,” dan “berbuah lebih banyak.” Tuhan mem-pruning, membersihkan ranting-ranting itu dengan beberapa tujuan. Pertama, supaya ranting itu menghasilkan buah lebih banyak. Yang kedua, melalui pruning itu supaya Allah itu dipermuliakan di dalam hidup kita. Yang ketiga, melalui pruning itu menjadi bukti kita adalah anak-anak Allah. Yang keempat, melalui pruning itu biar sukacita kita menjadi penuh adanya. Keempat hasil ini merupakan hal yang indah bagi kita, dan pada waktu kita melihat hasil ini tidak ada satupun di antara kita yang tidak mau hidup kita tidak berbuah lebih banyak, bukan? Tidak ada di antara kita yang tidak mau hidup kita tidak memiliki sukacita yang makin hari makin penuh. Tidak ada di antara kita yang tidak mau melalui hidup kita kita tidak merefleksikan segala keindahan dan kemuliaan bagi nama Tuhan. Tetapi mungkin ada satu hal yang sulit kita terima adalah proses melalui hal itu adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Ranting yang sudah berbuah makin dibersihkanNya supaya kita menjadi lebih berbuah lebih banyak.

Minggu lalu saya mengajak saudara memperhatikan kata ‘pruning’ ini menjadi unik sekali sebab pruning ini membuat membuat saya merefleksikan ini adalah sesuatu tindakan yang dilakukan oleh Tuhan yang tidak ada kaitannya dengan “kesalahan” yang ada di dalam diri kita; tidak ada kaitannya dengan hal yang tidak beres, tetapi ini merupakan sesuatu yang seharusnya terjadi demi supaya ranting-ranting itu menghasilkan buah yang lebih indah lagi. Dan ini adalah kalimat yang dipakai oleh Tuhan Yesus dan saya suka sekali membandingkannya dengan perkataan Paulus dan perkataan penulis Ibrani tadi karena saudara akan menemukan suatu kesejajaran dan keindahan muncul di sini. Paulus bilang, “Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan-pencobaan biasa.” Penulis Ibrani memakai ilustrasi yang lain, pada waktu kita mengalami kesulitan, tantangan, pencobaan dan hal-hal yang tidak nyaman terjadi di dalam hidup kita, itu adalah sesuatu tindakan Allah yang bersifat mendidik dan mendisiplin hidup kita. Ketika Yesus bicara mengenai pruning, semua tahu tindakan itu adalah tindakan menggunting, meringkas, melakukan sesuatu yang melukai. Ibrani memakai istilah ‘dihajar dan dididik.’ Tindakan itu tidak pernah menyenangkan kita, melainkan mendatangkan dukacita bagi kita. Ini merupakan satu kesejajaran yang saya ingin coba menemukan keindahan mutiara firman Tuhan di dalam pruning yang Ia kerjakan dan lakukan bagi kita.

Saya ajak kita coba memikirkan beberapa sikap yang kadang-kadang terjadi di dalam hidup kita bereaksi dengan salah terhadap disiplin dan pendidikan Tuhan ini. Ada sikap yang salah yang kita keluarkan pada waktu pruning dari Allah itu terjadi di dalam hidup kita. Ibrani paling tidak menyebutkan lima kata ‘jangan’ muncul pada waktu disiplin dari Tuhan datang kepada anak-anakNya. Kata ‘jangan’ itu juga memberi peringatan kepada kita karena berarti ini adalah satu sikap yang salah yang kita lakukan waktu kita bereaksi kepada apa yang Tuhan lakukan kepada hidup kita.

Pertama, sikap kita menjadi salah karena kita memiliki persepsi yang salah kepada Allah yang mengerjakan hal itu kepada kita. Banyak orang selalu berpikir, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku? Apa yang salah di dalam hidupku? Dari sikap itu ia mungkin melangkah kepada sikap reaksi yang lain lagi, Tuhan, kenapa Engkau melakukan hal itu kepadaku? Maka kita meletakkan Tuhan pada posisi sedang tidak baik kepada kita. Sampai di sini, saya mengajak saudara melihat Tuhan Yesus memakai kata ‘pruning’ tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang menjadi kesalahan di dalam diri kita; tidak ada kaitannya dengan unsur jahat dari Allah. Tetapi Paulus memakai kalimat, “Pencobaan-pencobaan yang datang kepada kita itu adalah pencobaan-pencobaan biasa…” Kalimat ini tidak boleh diartikan ada yang “biasa” berarti ada yang “luar biasa.” Alkitab bahasa Inggris menerjemahkannya dengan kata “common” sesuatu yang umum. Maksudnya adalah hal-hal seperti ini terjadi kepada semua orang, sesuatu yang umum dialami semua orang. Itu terjadi kepada semua orang bukan karena Allah kurang kasih kepada kita. Itu terjadi kepada semua orang bukan karena Allah mau mengerjakan itu kepada kita, melainkan itu adalah satu pernyataan fakta realita dari firman Tuhan, karena dunia sudah jatuh ke dalam dosa. Bukan saja anak-anak Tuhan akan mengalami kesulitan dan tantangan di dalam hidup ini, tetapi juga orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Bukan saja anak-anak Tuhan yang mengalami tetapi juga orang-orang yang bukan Kristen. Sebaliknya anugerah umum juga bersifat sama. Bukan saja anak-anak Tuhan yang mendapatkan hujan dan berkat, Yesus sendiri berkata Allah yang pemurah menurunkan hujan dan berkat yang sama kepada orang baik dan orang jahat. Tuhan yang pemurah memberikan sinar matahari kepada orang baik dan orang yang jahat. Sehingga ada orang yang bukan orang percaya mungkin hidupnya jauh lebih makmur daripada hidup orang-orang percaya; ada orang-orang yang tidak percaya Tuhan kesehatannya jauh lebih baik daripada kesehatan anak-anak Tuhan. Maka Paulus memakai kalimat, “Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan-pencobaan biasa.” Tuhan tidak bisa kita persalahkan di situ. Tidak semua sakit, kesulitan dan penderitaan itu datangnya dari Tuhan; tidak semua sakit, kesulitan dan penderitaan itupun oleh sebab karena kesalahan kita. Ini dua aspek yang harus kita pikirkan. Maka bedanya dimana? Bedanya adalah Tuhan bekerja dan mengontrol situasi itu karena Allah kita adalah Allah yang setia. Maka dimana letak Tuhan campur tangan bekerja di dalam seluruh fakta dan realita yang kita alami, yaitu di dalam hal Dia yang atur dan kontrol, tetapi bukan di dalam hal Dia menjadi sumber penyebab itu terjadi kepada kita. Kenapa? Sebab memang dunia sudah jatuh ke dalam dosa, sehingga kita tidak akan terlepas dari semua efeknya. Itu hanya soal waktu saja, cepat atau lambat; itu hanya soal perbedaan degree saja, ada yang mungkin mengalami penderitaan yang lebih berat daripada yang lain, tetapi tidak ada satu orangpun yang terlepas dari hal-hal yang sama seperti itu. Maka sikap kita yang salah yang pertama adalah kita tidak boleh menganggap Allah itu jahat, kenapa terus kasih kita kesulitan dan bencana di dalam hidup kita.

Yang kedua, sikap atau reaksi kita yang salah di dalam menghadapi proses pruning yang Tuhan berikan kepada kita, dalam Ibr.12:5-16 ada lima kali kata “jangan” muncul di situ dan makin ke belakang saudara akan menemukan “jangan” di situ semakin memiliki derajat kualitas yang lebih berat. Ayat5, dua kali kata “jangan” muncul, pada waktu disiplin pendidikan Tuhan datang kepadamu, jangan mengambil sikap yang salah ini, yaitu “jangan anggap enteng” disiplin Tuhan. Itu reaksi sikap yang salah. Yang kedua adalah “jangan putus asa” itu reaksi yang sebaliknya. Yang satu terlalu anggap enteng, yang satu terlalu anggap sulit. Ayat 15, muncul dua kali “jangan” di situ; jagalah supaya “jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah…” akhirnya kita keep distance, pergi dan lari dari Tuhan. Di sini derajat sudah makin berat. Kata “jangan” yang keempat, “jangan tumbuh akar pahit” berarti ini adalah kepahitan hidup yang beranak cucu kepada orang lain. Tiga reaksi pertama adalah terjadi kepada diri sendiri, kita anggap enteng, kita putus asa, kita lari dari Tuhan, ini semua merugikan diri sendiri. Tetapi reaksi keempat sudah tumbuh akar pahit, kita melakukan hal itu kepada orang lain. Terakhir ayat 16 kata “jangan” yang kelima, jangan ada orang yang menjadi cabul atau mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau akhirnya membuang harta yang paling bernilai dan berharga, mutiara hidupmu yang paling berarti yaitu hidup bersama dengan Tuhan, akhirnya dibarter dengan sesuatu yang tidak ada artinya dan tidak ada gunanya. Kasihan. Kadang-kadang penderitaan dan kesulitan yang terlalu berat datang kepada seseorang menghasilkan reaksi yang salah, ‘kenapa Tuhan tidak baik kepadaku?’ Akibat reaksi yang salah kepada Tuhan ini menyebabkan mungkin dia bisa melahirkan beberapa reaksi yang salah kepada dirinya berkaitan dengan hal itu.

Hari ini saya ajak kita berfokus kepada tiga reaksi yang salah yang patut kita pikirkan lebih dalam. Pertama, reaksi yang bersifat kita tidak memperhatikan dan tidak menggubris proses pruning, kita tidak menggubris proses bagaimana Tuhan mengontrol di dalam situasi itu, kita tidak menggubris atau kita tidak memperhatikan pendidikan yang datang kepada kita oleh sebab kita menganggap enteng akan hal itu. Kalau suara kita mulai keras kepada anak, anak itu tidak menggubris, maka kita ambil sikap yang lebih berat yaitu detention dia. Kalau sikap itu tetap tidak digubris oleh dia, maka kita ambil sikap dan tindakan yang lebih berat lagi kepada dia. Itulah disiplin yang dikatakan oleh penulis Ibrani. Pada waktu pendidikan Tuhan datang kepada kita, jangan anggap enteng, jangan tidak menggubris, jangan tidak memperhatikan.

Selain itu “jangan anggap enteng” adalah sikap dari kita bagaimana bereaksi terhadap kesulitan dan tantangan tidak dilihat sebagai satu refleksi bagaimana melihat hal ini mendidik dan memperbaiki kita, tetapi sebaliknya kata yang dipakai ini memiliki pengertian akibat tindakan pruning ini menyebabkan hati kita itu menjadi dingin. Sehingga di dalam tafsiran seorang hamba Tuhan mengatakan “jangan anggap enteng” di sini bukan saja bicara mengenai soal bagaimana kita bereaksi kepada diri kita, tetapi juga bagaimana kita bereaksi kepada orang lain. Jangan sampai kesulitan atau penderitaan yang datang kepada diri kita membuat hati kita menjadi kaku dan membatu, sehingga kita tidak melihat kesulitan dan penderitaan orang lain. Itu aspek yang ingin diangkat dari dua sisi ini. Kita melihat pendidikan itu datang kepada kita namun tidak kita perhatikan baik-baik, sudah dikasih peringatan kita masih dableg, sehingga perlu teguran dan hajaran yang lebih keras kepada kita. Tetapi kata ini juga dalam pengertian jangan sampai itu membuat hati kita menjadi dingin, membatu dan kaku dan akhirnya hati kita itu jadi kurang peka, tidak lagi memperhatikan kesulitan orang yang lain sebab kita lebih melihat apa yang terjadi kepada diri kita, kesulitan yang timpa kepada diri kita sendiri. Kadang-kadang kita susah, kadang-kadang kita kurang nyaman, tetapi itu tidak boleh menutup mata kita mungkin ada orang yang kurang daripada kita. Dengan demikian kita boleh menjadi berkat bagi orang dan biarlah buah kita menjadi lebih banyak lagi.

Yang kedua, “jangan putus asa.” bahaya kalau kita give up; bahaya kalau kita merasa tidak berdaya; bahaya kalau kita belajar menyerah, atau bahasa aslinya kalau diterjemahkan, “jangan sampai semaput.” Semaput itu satu kata yang unik karena di situ kondisinya bukan your real situation, yaitu kita sudah terlebih dahulu give up, menyerah tidak berdaya. Dalam 1 Kor.10:13 firman Tuhan tidak berjanji tidak ada kesulitan dan pencobaan tidak terjadi kepada anak-anak Tuhan, dan sesungguhnya semua orang mengalami hal yang sama. Tetapi dimana letak bedanya saya anak Tuhan dan bagi yang bukan anak Tuhan mengalaminya? Bedanya adalah kita punya Allah yang setia. Setianya Allah dalam pengertian Dia tidak memberikan kesulitan kepada kita, setianya Allah ada di dalam hal Dia mengontrol peristiwa itu, di dalam dua hal, yaitu: pertama, tidak mungkin hal itu terjadi tanpa Allah tahu kita bisa menanggungnya. Kalimat yang sama itu juga muncul di dalam surat Ibrani, kalau disiplin itu terjadi kepada kita, itu berarti kita adalah anak dan kita bukan bayi. Sehingga kita tidak boleh menjadi menyerah, kecewa dan putus asa melainkan kita tahu kita diperlakukan sebagai anak yang tumbuh dewasa, Allah tahu kita sanggup bisa menanggungnya. Memang kita mungkin merasa hal itu melampaui perasaan kita, tetapi sesungguhnya tidak pernah melebihi kekuatan kita. Yang kedua, setianya Tuhan adalah Dia pasti memberikan jalan keluar kepada kita.

Banyak orang sering berpikir tidak ada jalan keluar di dalam hidupnya. Ada dua penyebabnya, pertama, orang selalu ingin apa yang dia mau dan tidak terbuka kepada option lain. Tetapi tidak selamanya yang kita mau itu kita dapat, bukan? Namun banyak orang kalau sudah tidak dapat yang dia mau yang lain. Sesudah itu bilang tidak ada pilihan. Yang kedua, ada orang yang terus pegang sesuatu yang sebetulnya sudah gagal dan tidak berhasi lagi di dalam hidupnya dan tidak mau mencari sesuatu yang baru. Janji firman Tuhan mengatakan Allah itu setia, Dia pasti memberi jalan keluar kepada kita. Orang yang tidak pernah melihat ada jalan keluar adalah orang yang memiliki kecenderungan terlalu kaku dan tidak sanggup beradaptasi di dalam hidup ini. Ada orang yang selalu give up di dalam hidupnya adalah orang yang tidak melihat hidup ini sebagai relasi tuai-tabur, tetapi selalu melihat hidup itu sebagai suatu hukum acak. Sehingga orang yang sukses dan berhasil selalu bilang, “Itu dasar hokinya saja…” dan mungkin di situ dia menggerutu sendiri merasa tidak rela melihat kemujuran orang dan sebaliknya melihat kemalangan seolah selalu ada di pihak dia, padahal orang itu berhasil oleh sebab ada usaha keras di belakangnya. Semua ini akan tidak akan pernah membuat kita melihat keindahan buah yang dihasilkan Tuhan di dalam hidup kita.

Kadang-kadang hamba Tuhan juga salah mendidik jemaatnya. Ada anak muda bilang, “Pak pendeta, sebetulnya saya mau ikut melayani tetapi besok saya ada ujian sekolah.” Lalu pendeta bilang, “Oh, tidak apa, berdoa saja pasti ujian sekolahmu berhasil, yang penting lebih utama melayani Tuhan dulu.” Kalimat ini salah mendidik, karena seharusnya pendeta itu bertanya, “Kamu sudah belajar atau belum untuk ujian sekolahmu?” Kalau ternyata anak muda itu belum mempersiapkan diri baik-baik untuk ujian sekolahnya, tidak benar dia pakai waktu yang ada sekalipun itu untuk pelayanan. Tetapi kalau anak muda itu bilang, “Sudah, pak. Saya sudah belajar dari jauh-jauh hari,” berarti dia sudah bertanggung jawab dan sampai di situ pak pendeta harus mengajak dia berdoa supaya Tuhan boleh memimpin anak muda ini melewati ujian sekolahnya dengan baik, karena itu adalah di luar dari kontrol dia. Jadi bukan asal sudah berdoa lalu semua akan beres. Kita berkewajiban kepada hal-hal yang ada di dalam kontrol kita dan kita patut menyerahkan kepada pimpinan Tuhan atas hal-hal yang ada di luar kontrol kita, biar Tuhan pimpin kita di situ.

Ada orang sebelum ditimpa oleh kemalangan adalah orang yang baik, nice dan friendly. Tetapi begitu dia ditimpa kesulitan hidup, dia berubah menjadi pahit, bitter, menarik diri dan susah diajak apapun, selalu berpusat diri dan menjadi kecewa. Tetapi kenapa bisa ada orang yang dari lahir sudah cacat, dsb namun bisa menjadi inspirasi bagi orang lain karena sikapnya yang sangat positif terhadap hidup.

Maka peringatan firman Tuhan “jangan sampai tumbuh akar pahit” di dalam hidup kita. Kita berkata, Tuhan, saya ingin berbuah banyak bagiMu. Tetapi Yoh.15 mengatakan berbuah banyak itu harus melalui proses pruning dan buah yang banyak itu tidak akan berhasil keluar kalau kita bereaksi dengan salah. Kita tidak menggubris, kita tidak memperhatikan dengan teliti apa yang kita belajar dari bijaksana pengalaman yang susah dan sulit itu menjadi keindahan berkat bagi kita. Kalau akhirnya kita menutup mata dan menutup hidup kita terhadap kesulitan orang lain hanya karena terus melihat kesulitan diri kita sendiri, kita tidak akan pernah berbuah banyak. Yang kedua, kita tidak akan pernah berbuah banyak jikalau kita terus-menerus hidup dengan rasa tidak berdaya, menyerah dan terus menjadi semaput dan tidak menganggap semua yang terjadi di dalam hidup kita itu berat tidak tertanggungkan. Ketiga, kita tidak menghasilkan buah karena kita mengeluarkan akar yang pahit dari hidup kita. Ada orang susah, sulit, sakit tetapi tidak membuat hatinya kehilangan sukacita dan menjadi berkat bagi orang lain. Itu adalah pilihan yang perlu kita ambil ketika kita bereaksi dengan benar terhadap apa yang terjadi di dalam hidup kita.

Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti, ada orang dari kecil lahir terus sudah mengalami sakit yang berkepanjangan. Kita kadang-kadang tidak bisa mengerti hal-hal seperti itu. Tetapi di sini firman Tuhan mengatakan jangan melihat itu juga sebagai hukuman Tuhan atas kesalahan dia, tetapi lihat melalui itu Tuhan mau mengatur dan mengontrolnya untuk mendatangkan beberapa hal ini. Pertama, melalui itu hidupnya makin berbuah banyak. Kedua, melalui semua itu Allah dipermuliakan. Ketiga, melalui semua itu orang melihat engkau adalah anak Allah, dan yang lebih dalam lagi kita tarik perkataan Tuhan Yesus sendiri, bukan saja kita disebut sebagai anak Allah, tetapi kita disebutnya sebagai sahabatNya. Sahabat berarti hubungan kita denganNya lebih dekat; sahabat berarti kita kenal Tuhan kita lebih dalam. Yang terakhir, melalui semua itu biar sukacita kita penuh di hadapan Tuhan. Biar kita minta kepada Tuhan, kita mau berbuah lebat dan lebih banyak; kita mau menghasilkan buah-buah kebenaran, keindahan, kedamaian, buah-buah pelayanan, buah-buah sukacita dan kasih di dalam hidup kita. Kita tidak ingin hidup kita tidak berbuah, oleh sebab kita mungkin salah bereaksi terhadap tindakan Tuhan yang ingin membersihkan, mencukur, memangkas dan merampingkan hidup kita. Yang Tuhan buang di dalam hidup kita adalah daun-daun kering yang memang tidak perlu kita simpan dalam hidup kita. Yang Tuhan cukur dari hidup kita adalah kelebihan-kelebihan lemak yang tidak sehat yang merugikan kesehatan spiritual kita; kebiasaan buruk kita, kelemahan dan dosa kita, egosentris kita. Itu yang Tuhan ingin pangkas dan buang. Hari ini kita datang kepada Tuhan, biar kita boleh menikmati kehangatan tangan Tuhan membentuk memelihara, mempertumbuhkan hidup rohani setiap kita masing-masing. Biar firman Tuhan berbuah lebat di dalam hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

3 Juli 2011

Seri khotbah “Ego Eimi”:

  1. Akulah Roti Hidup
  2. Aku adalah Terang Dunia
  3. Aku adalah Pintu
  4. Aku adalah Gembala yang Baik
  5. Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
  6. Aku adalah Kebangkitan dan Hidup
  7. Aku adalah Pokok Anggur yang Benar
  8. Akulah Pokok Anggur yang Benar (lanjutan)
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: