Home > Effendi Susanto > Amsal-amsal Bijak Mengenai Pernikahan dan Pasangan Hidup

Amsal-amsal Bijak Mengenai Pernikahan dan Pasangan Hidup

“…yang melindungi engkau terhadap perempuan jahat, terhadap kelicikan lidah perempuan asing. Janganlah menginginkan kecantikannya dalam hatimu, janganlah terpikat oleh bulu matanya. Karena bagi seorang sundal sepotong rotilah yang penting, tetapi isteri orang lain memburu nyawa yang berharga. Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya? Atau dapatkah orang berjalan di atas bara, dengan tidak hangus kakinya? Demikian juga orang yang menghampiri isteri sesamanya; tiada seorangpun, yang menjamahnya, luput dari hukuman. Apakah seorang pencuri tidak akan dihina, apabila ia mencuri untuk memuaskan nafsunya karena lapar? Dan kalau ia tertangkap, haruslah ia membayar kembali tujuh kali lipat, segenap harta isi rumahnya harus diserahkan. Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan. Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam; ia tidak akan mau menerima tebusan suatupun, dan ia akan tetap bersikeras, betapa banyakpun pemberianmu.

Amsal 6:24-35

Pendidikan tidak mungkin terlepas dari dimensi ruang dan waktu, hal-hal yang kita patut pelajari itu tidak akan mungkin datang seketika dan tidak akan bisa diterima sekaligus seketika juga. Kita ingin mendapatkan skill, kita ingin mendapatkan keahlian ataupun hal-hal yang kita perlukan untuk hidup dan bekerja, itu perlu waktu dan proses adanya. Maka anak dari kecil, proses pendidikannya memakan waktu bertahun-tahun, dari TK ke SD lalu ke SMP, SMA dst. Dan kita juga sadar pendidikan formal itu belum cukup, bahkan ketika seseorang sudah lulus universitas dan masuk ke dalam pekerjaan, saudara dan saya setuju kadang-kadang apa yang kita pelajari di Uni mungkin cuma 20% yang bisa teraplikasi. Sehingga kadang-kadang orang yang sudah lulus universitas pun masih perlu lagi mendapatkan training dan melanjutkan pendidikan tambahan. Demikian juga yang masuk ke Sekolah Teologi, begitu keluar baru sadar bahwa terlalu banyak hal yang kita terima dan diajarkan di Seminari ternyata masih belum cukup waktu kita masuk ke ladang pelayanan. Itu berarti kita menemukan ada pendidikan yang datang kepada kita berkaitan dengan hal yang di luar kita, itu adalah untuk melengkapi skill kita. Maka saudara tidak usah kecewa kalau saudara tidak mendapat kesempatan masuk sekolah terbaik, atau salah ambil jurusan, atau di tengah jalan saudara merasa kuliah tidak cocok, dsb masih ada waktu untuk u-turn dan banting stir pindah ke tempat lain. Masih ada hal yang bisa saudara perbaiki, masih ada hal yang saudara bisa pelajari, itu cuma rugi waktu saja. Kenapa? Karena itu bagi saya tidak terlalu menjadi problem karena yang kita dapat itu adalah pendidikan yang di luar diri kita, yang melengkapi skill kita, dan yang berkaitan dengan hal-hal yang di luar diri kita. Tetapi bagaimana dengan pendidikan atau the lesson about life, itu adalah pembentukan pendidikan yang lain, yang berkaitan bukan dengan keahlian tetapi berkaitan dengan pembentukan di dalam diri kita, pembentukan karakter kita yang jauh lebih penting lagi.

Maka di sini kita menemukan kitab Amsal merupakan kitab pendidikan yang mengajar bagaimana kita hidup, mengajar hati dan karakter kita. Kita sekarang hidup berbeda dengan jaman Amsal hanya di dalam hal kemajuan teknologi, kemajuan kedokteran dan kemajuan science yang lebih tinggi daripada mereka. Tetapi belum tentu karakter, hidup yang bijaksana kita lebih maju daripada mereka. Sejarah memberitahu kepada kita, dan dari apa yang kita baca dari kitab Amsal membuat kita tahu ini merupakan hal yang berulang terus-menerus, memberitahukan kepada kita mereka juga menghadapi problem dan pergumulan yang sama dengan kita yang hidup di jaman ini. Kalau saudara membaca kitab Amsal, saudara mungkin heran mengapa kitab Amsal lebih cenderung lebih banyak berbicara kepada pria dan anak laki-laki daripada wanita dan anak perempuan, karena sekali lagi kitab Amsal memang adalah kitab untuk mengajar anak laki-laki yang baru akil baliq. Sehingga wanita atau anak perempuan kalau membaca kitab ini tidak usah tersinggung, setiap kali baca kata “perempuan” di situ, ganti saja dengan kata “laki-laki.”

Umur berapa sebenarnya pendidikan mengenai hidup ini patut kita ajarkan kepada anak kita? Tradisi orang Yahudi memang umur 12 tahun anak laki-laki mulai belajar, tetapi pendidikan informal di rumah bisa diberikan lebih awal lagi. Maka kita bayangkan Amsal sekarang sedang berbicara kepada anak remaja, anak muda yang belum menikah. Dan kita hari ini akan belajar bijaksana dari kitab Amsal bagaimana memberikan pendidikan kepada mereka berkaitan dengan bagaimana mencari wanita untuk menjadi pasangan hidup mereka, bagaimana melihat pernikahan dan hidup seksualitas, bagaimana menghindar dari jebakan-jebakan dan pilihan yang salah atau buruk di dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan lawan jenis. Kita sebagai orang tua jangan menghindar untuk memberikan pendidikan di rumah dengan jelas dan terbuka, jangan sampai kita diam-diam, akhirnya mereka tidak mendapatkan pengertian yang baik dan justru mencarinya di sumber yang salah. Kitab Amsal luar biasa terbuka bicara mengenai hal-hal ini karena ini adalah hal yang sangat penting berkaitan dengan pilihan hidup.

Yang pertama, bagaimana mereka belajar mengerti kebahayaan dari immoral women, prostitusi dan adultery atau perzinahan, bagaimana mereka memahami kebahayaan daripada hal-hal ini karena aspek-aspek ini bisa mendatangkan destruksi yang fatal bagi kehidupan rumah tangga mereka nantinya. Memang tidak bisa dibuktikan tetapi sudah menjadi pribahasa umum, “Prostitusi itu setua usia peradaban manusia,” ini bukan merupakan persoalan yang kita manusia modern hadapi sekarang saja. Kehidupan prostitusi juga sudah bertumbuh subur di dalam kehidupan pada jaman itu. Amsal mengingatkan untuk berhati-hati terhadap pria atau wanita yang immoral. Wanita atau pria yang immoral itu merupakan sesuatu yang berbahaya nantinya jikalau kita menikah dengan dia. Hal ini harus sudah ditandai pada waktu saudara berjumpa dengan orang seperti ini, yang memang sifat dan karakternya sudah tidak baik. Salah satu ciri yang diangkat oleh Amsal di sini, “yang diingininya daripadamu hanyalah sepotong roti yang penting…” Tanda yang kelihatan di sini adalah seorang yang cinta uang,’matre.’ Bagaimana tahu seorang perempuan itu matre? Bagaimana tahu seorang pria itu matre? Kalau wanita melihat kecenderungan laki-laki berkencan ogah-ogahan buka dompetnya, minta kamu yang bayar, mungkin kamu bisa hati-hati sedikit terhadap orang seperti ini. Pria bagaimana menguji seorang wanita sungguh-sungguh mencintaimu dan bukan karena hartamu? Tetapi selebih daripada itu, sexual desire merupakan hal yang tidak gampang dan tidak mudah di tengah normalitas seorang pria bertumbuh dari remaja menjadi pria dewasa. Bagaimana melindungi dan mengatur diri di dalam hormon yang makin bertumbuh seperti itu, merupakan panggilan Tuhan untuk saudara bijaksana hidup. Memang tidak gampang dan tidak mudah menghadapi situasi seperti ini, siaran televisi yang bebas, film yang ada, lingkungan sekitar yang sangat terbuka seperti ini, prostitusi merupakan satu kebahayaan yang mengintai. Maka anak-anak muda, saya minta dengan hormat saudara memperhatikan semua ini. Amsal mengingatkan kita baik-baik, berhati-hati atas hidup kita, di dalam hal seperti ini. Bagi yang wanita, kadang-kadang kita sedih dan kecewa melihat mereka yang menganggap seksualitas itu sebagai barang yang bisa diperdagangkan untuk mendapatkan uang yang murah adanya. Kita sedih dan kecewa menyaksikan di tengah banyaknya students yang masuk ke Australia dengan menggunakan student visa, ternyata mereka adalah wanita panggilan dan prostitute yang menyamar sebagai pelajar. Sehingga mungkin orang yang lugu dan naif dengan mudah tertipu dengan mereka yang menjajakan seksualitas demi untuk uang.

Kita mungkin tidak sanggup bisa mengatasi kondisi dan situasi seperti ini. Yang bisa kita kerjakan dan lakukan adalah berhati-hati dan baik-baik di dalam memilih pria atau wanita di dalam hidupmu. Ketertarikan yang ada mungkin karena mereka punya penampilan yang sangat cantik dan menarik. Wanita memang perlu cantik, tetapi Amsal mengingatkan kita khususnya wanita muda, kecantikan yang paling indah dan paling baik itu adalah sesuatu yang kadang-kadang tidak kelihatan, kecantikan dari dalam yang tidak gampang dan tidak mudah luntur adanya. Wanita yang mungkin susah dan sulit didapat dan dikejar akhirnya begitu seorang pria mendapatkannya, itu jauh bernilai dan berharga baginya. Seorang wanita yang terlalu jual murah, Amsal mengingatkan hati-hati dengan hal seperti itu. Maka Amsal dari awalnya mengajak dan mendidik anak-anak muda untuk berhati-hati dan bijaksana, jangan sampai memilih wanita hanya berdasarkan hal yang kelihatan di luar. Jangan mengambil wanita yang hanya mau kepada kita oleh karena kekayaan atau sesuatu yang bisa didapatkannya dari kita. Hindari wanita yang immoral, hindari wanita yang prostitute seperti itu, kata Amsal.

Selanjutnya Amsal mengajar orang yang sudah menikah dan mengingatkan mereka bahayanya dan destruksi yang dihasilkan oleh adultery atau perjinahan. Banyak orang sudah tidak mau memakai kata itu dan lebih suka memakai kata yang sedikit lebih subtle, “affair.” Seolah-olah di dalam kata “affair” itu tidak ada nuansa moralnya. Tetapi kalau dipakai kata “adultery” orang merasa gerah dan tidak nyaman. Tetapi Alkitab jelas memakai kata “adultery.” Ams.6:26b dalam terjemahan bahasa Inggris mengatakan, “the adulteress preys upon your very life…” memperlihatkan betapa destruktifnya perjinahan itu. Minggu lalu majalah The Weekender dari koran The Australian, ada satu artikel yang mempelopori supaya kita jangan lagi menekankan hidup monogami, alasannya monogami itu unsustainable. Tahun 2007 ada satu riset diadakan kepada pasangan yang sudah menikah di Amerika, terlepas dari agamanya apa, riset berdasarkan bracket umur. Mereka yang sudah menikah hingga umur 30 tahun, prosentase mereka yang melakukan perjinahan di luar pernikahan ada 25%. Tetapi mereka yang berumur 40-50 tahun, yang suaminya 65% berjinah, yang isterinya 50%. Artikel itu mengatakan supaya terhindar dari terjadinya hal-hal yang tidak baik di dalam pernikahan, ya sudah tidak apa-apa, setuju saja sebagai suami isteri untuk boleh memiliki pasangan lain, persoalannya dari data ini kita bisa melihat betapa besarnya prosentase perjinahan dari orang yang sudah menikah 20-30 tahun. Di situ sex and fun mungkin sudah menjadi sesuatu yang disatukan dan disamakan. Orang berjinah sebab sudah tidak ada fun lagi di dalam kehidupan seks dengan pasangannya.

Dua tahun lalu ada orang datang dari Indonesia dan mengobrol sama saya. Dia bertanya, “Pak, pasangan muda di gereja bapak banyak problem tidak?” Saya bilang, “Yah, palingan ribut-ribut kecil, siapa yang giliran vacuum, siapa yang masak, siapa yang gantiin popok anak, karena tidak ada bibik di sini.” Orang itu terperangah, “Oh, begitu ya? Ada tidak pasangan yang datang konseling sama bapak karena ada affair?” “Tidak ada, tuh.” Lalu dia kasih tahu saya, “Saya bekerja di Jakarta, dan beberapa orang di kantor saya yang saya tahu adalah orang-orang Kristen yang rutin ke gereja, tetapi apakah mungkin situasi kerja di Indonesia yang datang kantor pagi-pagi dan pulang malam, sehingga prosentasi bertemu dengan colleage lebih panjang waktunya daripada bertemu dengan isteri atau suami sendiri, sehingga banyak yang affair dengan colleage dan keluarga tidak pernah tahu.” Realita seperti itu mengingatkan kita bahwa hubungan suami isteri kita itu begitu rentan dan tidak kebal dari kemungkinan-kemungkinan seperti itu.

Ada lima alasan katanya mengapa adultery terjadi. Ke satu, karena kesepian. Kerja sendiri, ke luar kota sendiri, dsb. Kadang-kadang mungkin saudara ditugaskan ke luar kota atau ke luar negeri satu dua tahun, maka bawalah istri atau suamimu ikut. Kedua, karena hambatan komunikasi, sulit berkomunikasi dengan isteri atau suami. Ketiga, karena kurang kasih sayang antara suami dan isteri. Keempat, boring di dalam sexual relationship antara suami dan isteri. Kelima, kurangnya keintiman. Suami lebih suka tidur dengan gulingnya daripada isterinya. Ini semua penting untuk saudara perhatikan baik-baik. Amsal dengan terbuka memperlihatkan destruksi yang luar biasa yang dihasilkan oleh perjinahan. Pertama, Amsal mengatakan itu adalah relasi yang sangat berbahaya, “seperti menyimpan bara api di dalam gelumbung pakaian.” It can ruin your family. Kasus dari Arnold Schwatzenegger bagi saya sebenarnya hanyalah ujung dari iceberg, karena ketahuan maka berita muncul. Tetapi yang ada di bawah permukaan yang besar kalau kita melihat hasil riset tadi memperlihatkan terlalu banyak mereka yang memiliki satu relasi yang keliru dan salah, walaupun tetap mempertahankan pernikahan mereka. Ini merupakan satu kebahayaan yang sangat besar. Banyak orang tidak meyadari akan hal itu, karena merasa pernikahan sudah tidak fun, hubungan suami isteri tidak hangat lagi, lalu mungkin mencari suasana refreshing pengganti seperti itu tetapi tidak pernah memikirkan baik-baik dan melihat lebih dalam efek destruksi dari satu perjinahan.

Amsal mengatakan siapa yang berjinah itu “lack of judgment” (ayat 32). Dalam 1 Kor.6:16 Paulus mengingatkan bahwa setiap dosa lain dilakukan manusia terjadi di luar dirinya, tetapi orang yang melakukan perjinahan itu berdosa terhadap dirinya sendiri. Maka tidak heran Amsal 6:30-31 memberikan komparasi antara orang yang mencuri itu mengambil barang orang lain, itu adalah tindakan yang salah tetapi tindakan itu terjadi di luar dirinya. Ia merugikan orang yang dicuri, tetapi waktu tertangkan ia masih bisa mengembalikan barang yang dicurinya. Berbeda dengan percabulan dan perjinahan, orang yang melakukan itu sedang men-destroy himself and his family. Ayat 34-37 menjadi satu reaksi dari suami dari seorang yang berjinah, merupakan satu kebencian, kemarahan yang tidak ada habis-habisnya begitu tahu pasangannya melakukan perjinahan. Demian juga dari sisi wanita ketika mengetahui suaminya melakukan adultery, ia akan begitu terluka menerima satu penghinaan diri yang begitu menyedihkan dan menyakitkan. Mungkin satu pernikahan tetap dipertahankan dan tidak ada perceraian, tetapi sulit sekali untuk memperbaiki kembali relasi yang sudah rusak itu. Sebab di dalam perjinahan engkau melakukan sesuatu kepada dirimu, sehingga perasaan marah, jijik, merupakan hal yang melekat pada pasangan yang dikhianati. Belum lagi sikap anak-anak, perasaan hancur hati mereka dan rusaknya model mengenai pernikahan di mata anak-anak hanya karena perjinahan. Maka sejak dari awal Amsal sudah mengingatkan hal itu.

Kalau begitu bagaimana kita mengembangkan satu relasi suami isteri yang baik, satu hubungan yang hari demi hari menjadi indah dan baik di antara pasangan. Ams.5:15-20 memberikan beberapa prinsip ini. Amsal bicara mengenai relasi suami isteri yang intim, yang indah, yang baik, kembangkan itu. Jangan lupa, ini adalah amsal-amsal dari Salomo. Salomo punya banyak sekali isteri dan selir, 1000 orang banyaknya. Tetapi yang menarik adalah Amsal ini memakai kata ‘singular’ untuk isteri. Yang tulis kalaupun Salomo, kehidupannya tidak sempurna dan tidak menjadi contoh bagi kita, tetapi pada waktu Tuhan suruh dia tulis firman Tuhan, kelemahan dia tidak masuk di situ. Tuhan tidak suruh dia tulis, “Biarlah engkau dipuaskan dengan isteri-isterimu…” tetapi dia menulis “isteri masa mudamu” satu kata sebutan singular. Walaupun jaman pada waktu Amsal ini ditulis, kebiasaan memiliki isteri lebih dari satu masih merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi pada waktu tinta itu menulis firman Tuhan, jelas monogami ini adalah prinsip dari Tuhan.

Jangan makin tua kita makin renggang pegangan tangan. Mestinya malah makin tua kita makin erat berpegangan supaya tidak jatuh. Sampai tua, sudah menikah begitu lama, isteri tetap menjadi satu keindahan yang luar biasa bagi suaminya. Kadang-kadang kesulitan, pergumulan hidup, cape, membuat kita sedikit kurang memikirkan kebutuhan suami dan isteri. Kadang-kadang perasaan terpisah cukup lama membuat masing-masing drifted dan kurang kemesraan dan cinta kasih, dan itu bisa menjadi sesuatu yang berbahaya di dalam satu pernikahan. Keintiman kemesraan itu tidak datang dengan sendirinya. Saudara perlu cultivate hal itu tidak ada henti-hentinya. Jangan lupa, walaupun memang tidak penting, ciptakan keintiman, jangan hanya pada hari-hari istimewa kita baru mesra. Kita manusia yang terbatas, kita perlu ‘spark’ seperti itu. Mulai hari ini jangan pernah lupa tanggal pernikahanmu, jangan lupa ulang tahun isterimu, pakai momen itu untuk menciptakan kembali keindahan kemesraan antara suami isteri.

Ayat 15, isteri itu digambarkan seperti mata air. Mungkin gambaran ini tidak terlalu berkesan bagi kita, sebab kita tidak tinggal seperti di daerah Timur Tengah. Tetapi kalau saudara tinggal di sana, daerah yang panas dan kering, begitu pulang ke rumah merasa isteri seperti mata air yang segar dan manis. Saudara yang ikut ke Jordan masih ingat bukan, pada waktu singgah di mata air Musa kita minum airnya terasa manis sekali. Mungkin bukan karena airnya memang manis tetapi karena kita sedang sangat haus. Ayat 18-22 Hargailah, nikmatilah betapa bahagianya kamu mendapat isteri atau suami yang baik yang ada di sampingmu. Jangan hanya pada waktu hari pernikahan saudara memuji dia. Saya berkali-kali mendengar speech dari pengantin pria pada hari pernikahannya mengeluarkan kalimat-kalimat yang sangat indah dan baik. “I am the luckiest man alive in this universe to have you as my wife. Long live the queen.” Tetapi sesudah 30 tahun menikah, kalimatnya berubah menjadi, “Luckily I am still alive.” Hargai isteri dan suami, kalau dia tidak ada di dalam hidupmu, engkau tidak bisa bayangkan hidupmu seperti apa. Lihat suamimu, walaupun ada kekurangan di sana-sini, selalu hormat dan respek kepadanya, melihatnya sebagai sesuatu yang precious di dalam hidupmu. Itu yang Alkitab katakan di sini.

Terakhir, Ams.27:15 mengingatkan anak-anak muda, hindarilah sengsara yang tidak perlu dipikul dengan melakukan pemilihan pasangan hidup yang sedikit lebih bijaksana. Pasangan yang punya contentious spirit itu digambarkan seperti keran bocor yang menitik tidak pernah berhenti. Di pagi hari mungkin tidak terlalu kedengaran, tetapi di malam hari yang sepi betapa annoying bunyinya seperti sakit pada gigi. Kalau dia hidupnya terlalu pahit, terlalu banyak negatif, terus mengeluh, kurang respek kepadamu, ini menjadi tanda awas kriteria yang saudara boleh pakai untuk sebaiknya jangan sama dia. Jiwa yang indah, hati yang rajin dan ulet, menjadi hal-hal yang patut dihargai oleh pasangannya. Kiranya Amsal ini menjadi the lesson of life bagi kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

24 Juli 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: