Home > Effendi Susanto > ‘Lebih Baik Daripada’ Gaya Hidup

‘Lebih Baik Daripada’ Gaya Hidup

Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.  

Amsal 17:1

Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak. 

Amsal 16:19

Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.

Amsal 16:8

Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian. 

Amsal 15:16-17

Berapa pentingkah uang agar kita bisa menikmati kualitas hidup yang lebih tinggi? Ini adalah kalimat pendahuluan dari artikel kolumnis Ross Gittins di Sydney Morning Herald, 6 Juli yang lalu. Ini adalah satu pertanyaan yang kekal, katanya, dan jawaban tidak mudah untuk didapatkan. Tetapi dia ingin mengajak kita untuk memikirkan akan hal ini karena dua minggu sebelumnya dia menulis satu artikel bicara mengenai betapa menggerutunya orang Australia walaupun mungkin suami isteri memperoleh penghasilan total 150k, tetap merasa itu tidak cukup adanya. Berapa pentingkah uang untuk kita bisa menikmati satu kualitas hidup yang lebih tinggi? Tidak gampang dijawab. Maka mari kita mencoba menjawabnya dengan melihat data objektif yang pernah diberikan. Gittins memperlihatkan “Better Life Index” yang diambil dari satu organisasi Economic Develop yang memperlihatkan 21 indikator yang dipakai untuk menentukan berapa kualitas hidup yang tinggi dan bahagia itu. Paling tidak, indikator yang diangkat adalah berapa banyak income yang saudara dapatkan; job yang saudara miliki; housing yang saudara miliki; bagaimana dengan kesehatan, life and work balance; bagaimana dengan social connection, relasi antar family; bagaimana dengan environmental quality yang ada; bagaimana dengan personal security dari orang itu; lalu bicara juga mengenai life satisfaction, dsb. Makin banyak indikator dan diteliti akurasinya, itu bisa menjadi satu penilaian yang sedikit lebih akurat. Tentu Norwegia, Swedia, dsb adalah negara-negara yang di puncak teratas dari rata-rata orang yang mendapatkan income yang lebih besar. Tetapi indeks kebahagiaan dan sukacita mereka belum tentu sepadan dengan banyaknya uang yang didapat. Itu hasil analisa dari better life index yang diambil terhadap mereka. Intinya, artikel ini ingin memberitahukan kepada kita kemiskinan memang bukan merupakan hal yang kita rekomendasi, itu merupakan hal yang sebisanya kita hindarkan dan saya percaya kitapun harus berusaha membuat orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan itu paling tidak bisa bernafas di atas lumpur kemiskinan mereka. Tetapi tidak memiliki uang yang banyak juga tidak jelek; itu hal yang baik adanya. Memang terlalu simplisistik bila kita mengaitkan banyaknya uang yang kita terima itu berarti pasti mendatangkan kesetaraan kualitas hidup, kebahagiaan hidup dan sukacita yang sejati. Better Life Index itu memperlihatkan kepada kita tidaklah demikian jawabnya. Saya percaya kita tidak perlu membaca Index itu lebih detail karena pengalaman hidup kita sehari-hari memperlihatkan kepada kita memang faktanya bisa terjadi ada orang yang begitu kaya-raya mungkin dalam satu hari tidak tersenyum lebih banyak daripada orang yang lebih kurang uangnya. Artikel Gittins itu bicara mengenai betapa kasihannya orang Australia yang mendapatkan gaji yang sesungguhnya cukup tinggi dan cukup banyak tetapi tidak merasa cukup dan merasa makin kurang dan kurang. Saudara dan saya menghadapi biaya hidup yang akan terus semakin tinggi, ini semua menjadi sesuatu yang mau tidak mau akan membuat kita merasa apakah kita punya hidup yang akan lebih “better off” daripada yang lain dan hidup kita akan spend lebih banyak, dsb membuat kita menjadi sedikit pesimis. Saya percaya situasi-situasi seperti ini menghantui begitu banyak orang. Belum lagi situasi ekonomi kira-kira diprediksi sampai bulan Desember nanti interest rate akan naik. Sekarang ini dollar kita cukup tinggi tetapi selebih daripada itu ada satu warning yang diangkat, yaitu krisis ekonomi sebelum bulan Desember mungkin bisa terjadi. Ini semua membuat orang bertanya-tanya dan berpikir apakah hidup kita akan lebih baik? Banyak orang mulai kecewa dan pesimis, nampaknya hidup ini tidak lebih baik daripada tahun yang lalu, dsb. Gittins mengajak kita berpikir mengapa kita selalu mengambil sikap hidup “better off” saya mau hidup lebih baik daripada orang lain, dsb.

Maka hari ini saya mengajak saudara berpikir bagaimana menentukan satu sikap hidup panggilan Alkitab yaitu “Better than Lifestyle” ketimbang sikap “the Best Lifestyle” yaitu di tengah bagaimana saya harus memilih, apa sesungguhnya lifestyle yang diberikan oleh bijaksana Alkitab kepada kita. Maka beberapa ayat yang kita baca hari ini mengajar kita “Better than Lifestyle” menjadi prinsip yang penting bagi kita. Ketika kita mengambil sikap “Better off” yaitu saya ingin mencapai hidup yang lebih baik daripada sebelumnya, saya percaya itu adalah pikiran yang lumrah dan normal bagi setiap orang yang waras. Tidak ada orang waras yang merencanakan hidupnya lebih worse daripada tahun yang lalu. Kita mungkin merasa hidup kita sekarang lebih worse daripada tahun lalu karena income dibanding outcome tidak selaras. Kita merasa hidup kita tahun ini tidak lebih bagus karena melihat kok orang lain punya hidup lebih cepat maju daripada kita, dsb. Kita ingin lebih baik daripada dulu; kita ingin lebih baik daripada orang lain; ini yang ada di belakang dari sikap hidup yang “better off.” Jika kita tidak mencapai akan hal itu gampang dan mudah kita menjadi kecewa, dan gampang dan mudah kita menjadi iri kepada orang lain. Gampang dan mudah di tengah ketidak-nyamanan kita kemudian menggerutu. Bagi saya inilah kebahayaan kalau kita mengambil sikap hidup “better off lifestyle.” Sebab tidak selamanya apa yang kita inginkan kita bisa peroleh, dan tidak selamanya kita sanggup bisa menggenggam sebanyak mungkin di tangan kita. Dan yang menjadi kesulitan kita adalah pada waktu dua tangan kita ini hanya dipanggil untuk menggenggam dari sepuluh kemungkinan yang ada, kita tidak rela untuk hanya menggenggam dua. Seringkali kita akhirnya seperti kera yang diberi segenggam penuh kacang, akhirnya dia ambil semuanya dan masukkan semua ke mulutnya sampai tidak bisa menutup dan mengunyah.

Ketika Alkitab mengajar kita “Better than Lifestyle,” berarti ini bicara mengenai pilihan nilai dan prioritas. “Better than” berarti pada waktu kita harus memilih, di situ kita terpanggil untuk mengambil yang satu bukan karena yang lain itu tidak baik, bukan berarti yang lain itu jahat; tetapi pada waktu banyak hal yang kita idam-idamkan tidak bisa kita pegang semuanya di tangan kita, saya percaya “better than lifestyle” ini boleh menjadi tuntunan yang memimpin dan memelihara hidup kita.

Yang pertama, Ams.12:9 berkata, “Lebih baik menjadi orang kecil tetapi bekerja bagi diri sendiri daripada berlagak orang besar tetapi kekurangan makanan.” Lebih baik hidup sederhana tetapi bisa support diri sendiri daripada hidup kelihatan kaya dan mewah tetapi ditopang oleh hutang yang banyak. Orang melihatmu hidup sederhana dan tidak berlagak jadi orang kaya, tetapi apa yang ada di tanganmu dan apa yang ada di rumahmu adalah hasil kerja kerasmu sendiri. Dengan demikian, saya minta anak-anak muda mari kita belajar ambil sikap ini, walaupun orang tuamu mungkin tidak memberikan warisan yang banyak kepadamu, itu tidak boleh menjadi sesuatu yang membuat engkau iri dan kecewa kepada orang lain. Yang terpenting, engkau sudah sekolah dengan baik, memiliki karier yang baik, memiliki kemampuan yang baik, percaya saja jika disertai dengan kesabaran, disertai dengan ketekunan dan kerja keras, engkau pasti akan berhasil. Lebih baik hidup sederhana tetapi dari hasil tangan sendiri, daripada engkau berlagak menjadi orang besar tetapi ditopang oleh banyak hutang kepada orang lain. Jadi kepala keluarga selalu memikirkan bagaimana mempersiapkan anak dengan kail dengan pancing, supaya mereka bisa mengelola hidup mereka sebaik mungkin. Itu sebab bersyukur kepada Tuhan walaupun engkau di sini bersekolah kadang papa-mama tidak bisa mengirim uang dengan rutin, engkau harus bekerja keras sambil bersekolah, jangan jadikan itu sebagai sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan hatimu tetapi lihat itu sebagai satu pembentukan yang tidak bisa dibayar dengan uang berapapun, tidak bisa didapatkan di universitas manapun, karena itu adalah pembentukan yang mempersiapkan kita, ketika orang tua sudah tidak ada lagi, ketika hidupmu sudah tidak punya pegangan harta apa-apa, engkau masih bisa kerja, dsb. Hidup sederhana itu tidak apa-apa, yang penting kita bisa bekerja memenuhi kebutuhan sendiri. Ini adalah panggilan dari firman Tuhan.

Ada seorang email kepada saya sambil marah-marah, dia tidak senang karena orang itu dia bantu tetapi orang itu lebih keren daripada yang bantu. Saya sudah hidup begitu hemat, pikir baik-baik bagaimana uang saya bisa bantu orang yang lebih susah, tetapi yang saya tolong kok tidak tahu diri. Buat saya, tidak apa-apa. Memang kita sudah bantu dia, tetapi waktu itu kita lakukan sebetulnya membuat kita feel good, tetapi sekarang akhirnya jadi menggerutu dan marah melihat bagaimana orang yang kita bantu seolah menghamburkan uang kita, akhirnya membuat kita berhenti berbuat baik. Itu buat saya hanya soal pilihan. Ada orang yang punya pilihan yang lebih bijaksana, ada yang tidak. Tetapi jangan itu men-spoiled perasaan kita, kita sudah melakukan apa yang membahagiakan kita, kita sudah mengambil satu sikap pilihan apa yang ada di dalam dirimu, you tidak mau pakai untuk hambur-hambur kepada hal-hal lain, tetapi pakai secukupnya untuk bantu orang lain. Itu adalah pilihan yang engkau ambil, dan itu adalah sesuatu yang indah yang kita harusnya mengucap syukur bisa melakukannya, karena kita dipanggil untuk membantu orang yang lebih kurang daripada kita.

Dalam Im.19:9-10 merupakan satu prinsip yang Tuhan berikan kepada orang yang lebih kaya. Jangan ambil semua hasil tanahmu tetapi sisakan itu bagi orang yang tidak punya, supaya mereka dapat mencukupi hidup mereka juga. Jadi bukan saja Tuhan menyuruh mereka membawa persembahan syukur ke rumah Tuhan atas hasil panenmu, itu adalah urusanmu dengan Tuhan. Tetapi urusanmu dengan orang yang lebih miskin adalah jangan sabit semua tetapi sisakan sedikit, sudah jatuh juga jangan ambil lagi. Kalau orang miskin masuk ke ladangmu lalu ambil berkas yang belum dipetik, itu namanya mencuri. Tetapi kalau sudah jatuh, Alkitab memberi satu prinsip yang indah, itu boleh menjadi hak orang miskin untuk memungutnya. Dengan demikian berarti apa yang kita dapat, apa yang kita miliki menjadi satu keindahan dan berkat bagi orang lain. Itu pilihan hidup kita, itu panggilan Tuhan kepada setiap kita. Sepatutnya itu membuat kita “feel better.” Bukan saja kita mau dapat lebih banyak, bukan saja kita mau hidup kita better than before and better than others, kita mengambil lifestyle suatu hidup yang “better than” dengan mengambil better decisions. Saya percaya ini akan membuat kita jauh lebih indah dan lebih baik di hadapan Tuhan.

Yang kedua, Ams.16:8 berkata, “Lebih baik penghasilan sedikit disertai dengan kebenaran daripada penghasilan banyak tanpa keadilan.” Jelas tidak ada orang masuk ke dalam pekerjaan lalu menawarkan diri untuk mendapat penghasilan lebih sedikit dan tidak ada orang yang mendapat tawaran dua tiga opsi pekerjaan lalu memilih mana yang memberi gaji yang lebih kecil daripada yang lain. Secara lumrah dan normal kita tidak mengambil sikap seperti itu. Tetapi tidak selamanya kita mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji yang baik, dengan satisfaction yang baik. Tidak selamanya kedudukan kita menjadi tinggi itu berarti kita bahagia, sukacita dan puas menjalani apa yang ada di situ. Tetapi kadang-kadang di tengah kita memilih, ada kepuasan, sukacita dan nilai hidup mengerjakan sesuatu lebih penting meskipun mungkin gaji di situ tidak besar. Apakah kita mau mengambil sikap seperti ini? Dengan kata lain Amsal mengatakan, lebih baik tidak mendapat gaji lebih besar tetapi disertai dengan kebenaran, keindahan, sukacita, kepuasan, kebahagiaan pelayanan ataupun pekerjaan dibandingkan saya mendapat penghasilan lebih banyak tetapi tidak ada keadilan di dalamnya.

Soal adil itu merupakan salah satu virtue bijaksana yang dipikirkan dalam-dalam di dalam filsafat Yunani. Socrates adalah seorang filsuf yang mengeluarkan kalimat yang mirip dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus. Socrates mengatakan cinta itu baik, tetapi yang menjadi yang terutama adalah to love the truth sekalipun mungkin truth itu menyebabkan orang yang saya cintai menjadi korban, apa boleh buat, karena to love the truth merupakan satu virtue yang lebih penting. Aristotle berbicara banyak soal keadilan dan dia mengatakan paling tidak adil itu ada tiga bentuk. Yang pertama, adalah bentuk keadilan yang bersifat mengobati, “Remedial Justice.” Maksudnya adalah kita memberikan keadilan sebab orang itu sudah dirugikan. Orang yang mencuri barang orang lain itu harus dihukum dan dipenjarakan, itu adalah justice yang bersifat remedial. Yang dirugikan itu berhak mendapatkan keadilan yang sepatutnya walaupun apa yang didapat dari keadilan itu mungkin tidak bisa mengembalikan apa yang sudah diambil dari dia. Seorang ayah yang anaknya ditabrak mati, remedial justice apapun yang diberikan kepada penabraknya tidak akan bisa mengembalikan nyawa anaknya, tetapi keadilan itu tetap harus dijalankan. Yang kedua, keadilan yang disebut sebagai “Commercial Justice,” yaitu satu keadilan yang harus kita lakukan ketika kita menilai sesuatu, nilainya harus sepadan dengan apa yang ada di dalam diri sesuatu itu. Sehingga pada waktu kita menjual intan, yang kita jual betul-betul intan dan bukan kaca. Waktu kita bilang harganya $150 itu memang sepadan dengan nilai dari barang itu. Maka Amsal mengajarkan lebih baik tidak dapat untung lebih banyak tetapi disertai dengan kejujuran dan keadilan. Maka Aristotle mengatakan orang itu harus menghargai nilai yang ada di dalam sesuatu seperti itu. Orang yang sudah bekerja dan memberi sesuatu kepada kita harus kita balas kembali dengan nilai yang sepadan dengan itu, itu yang namanya “commercial justice.” Maka tidak boleh membuat kerugian dan ketidak-adilan kepada orang-orang yang bekerja kepada kita. Yang ketiga, Aristotle mengatakan “Distribution Justice” yaitu keadilan harus diberikan secara fair kepada semua orang, khususnya berkaitan dengan kehormatan, kekayaan, dsb.

Panggilan Tuhan kepada setiap kita, “hidup lebih benar” jauh lebih baik daripada “hidup lebih banyak.” Ams.15:16 mengatakan, “Lebih baik sedikit barang disertai takut akan Tuhan daripada banyak harta disertai dengan kecemasan.” Hidup cinta Tuhan lebih baik daripada hidup cinta uang. Lebih baik sedikit yang kita miliki tetapi disertai dengan hati yang takut akan Tuhan daripada punya banyak disertai dengan kecemasan. Yang lebih bahaya dan lebih celaka, punya barang sedikit tetapi tidak takut Tuhan; dan lebih lebih celaka, punya barang cuma sedikit tetapi hidup di dalam kecemasan, hidup terus kuatir. Yang banyak kuatir seharusnya yang punya lebih banyak karena dia takut kehilangan. Tetapi Amsal membandingkan dengan menarik, di dalam takut akan Tuhan di situ kita menemukan ketenangan dan kedamaian. Kita tahu Dia yang kontrol dan pelihara hidup kita. Apa gunanya you punya segala sesuatu tetapi di dalam perjalanan hidup itu kita dipenuhi dengan berbagai kekuatiran, kecemasan dan ketakutan yang tidak patut kita tanggung sama-sama. Cinta Tuhan lebih baik daripada cinta uang. Yang keempat, Ams.15:17 “Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.” Berbeda sedikit dengan ayat 16 yang berbicara mengenai relasi yang vertikal dengan Allah, ayat 17 ini bicara mengenai relasi horisontal, kasih antar manusia. Sehingga penafsir umumnya setuju menafsir ayat ini bicara mengenai pertemanan, relasi yang karib itu lebih baik daripada orang yang tidak punya teman karib dan hidup di dalam kebencian. Puji Tuhan. Ada orang mungkin tidak punya banyak barang, tidak punya ini dan itu, tetapi dia punya banyak teman dan sahabat yang baik. Maka Amsal itu bilang tidak apa-apa dan jauh lebih indah makan hanya dengan sepiring sayur tetapi disertai dengan persahabatan dan deep affection dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Di tengah kita mengalami kesulitan, bersyukur ada teman dan sahabat yang mendukung dan membantu kita untuk bisa berdiri dan berjalan dan melakukan hal-hal yang kita tadinya gagal. Itu sebab menjadi seorang sahabat dan teman yang baik bagi teman-temanmu yang susah dan sulit menjadi satu panggilan Tuhan yang indah bagi setiap kita. Kita tidak akan pernah iri kepada teman kita yang sukses, kita tidak akan pernah marah kepada teman yang kita pernah bantu dan berhasil, sebab itu memang tujuan dan panggilan Tuhan supaya kita membangun deep friendship dan relationship satu sama lain. Ini sukacita yang terindah. Bangun persahabatan yang baik dengan orang-orang dan jadikan itu sebagai satu harta yang indah dalam hidup saudara.

Selanjutnya, Ams.21:19 lebih baik tinggal di padang gurun, karena paling tidak kita sudah bisa memprediksi kesusahan dan kesulitan yang akan kita hadapi di situ, daripada dibikin susah-susah oleh pasangan hidup kita. Susah yang dibikin susah-susah itu lebih susah daripada susah yang aktual. Tinggal di padang gurun itu sudah pasti malam hari akan dingin menyengat, tetapi itu lebih baik daripada tidur dengan isteri yang menarik selimut kita, itu dingin yang dibikin susah. Tahu tinggal di padang gurun pasti cuma dapat makan kaktus, daripada pulang isteri masak dengan marah-marah. Jadi menghadapi kesulitan kesukaran yang memang kita sudah tahu pasti datang dan kita siap menghadapinya itu jauh lebih baik daripada kita hidup dan mendapatkan kesukaran yang dibikin sukar oleh orang yang paling dekat dengan kita. Dengan ayat ini penulis Amsal ingin mengajar kepada kita untuk hidup jadi orang yang membawa berkat sebisa mungkin dalam hidup kita kepada orang lain. Pada waktu kita mengalami kesusahan dan kesulitan alangkah baiknya kita belajar tanggung sendiri daripada ditumpuk menjadi beban bagi orang lain. Suami isteri susah di dalam membangun relationship kita belajar tahan tanggung sendiri. Itu sebab lebih baik menghadapi kesulitan yang memang adalah kesulitan, daripada kita yang mengalami kesulitan akhirnya membikin hidup orang lain menjadi susah. Maka kemarahan, kebencian itu menjadi sesuatu racun yang mempengaruhi orang lain. Kita harus memilih mengambil sikap hidup yang seperti apa. Kiranya bijaksana dari Amsal ini mencerahkan pikiran kita supaya di dalam perjalanan hidup kita, pada waktu kita berjalan menginginkan hidup yang baik, melakukan apa yang baik, memikirkan kesejahteraan yang indah, biar kita diarahkan dengan prinsip firman Tuhan ini.

Pdt. Effendi Susanto STh.

10 Juli 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: