Home > Effendi Susanto, Ego Eimi, Seri Khotbah > Aku adalah Terang Dunia

Aku adalah Terang Dunia

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Yoh.9:1-7  

Kisah penyembuhan Yesus kepada orang yang buta sejak lahirnya ini dimulai dengan dua hal yang penting. Yang pertama, kisah ini dimulai dengan kontras bagaimana cara memandang yang berbeda antara Yesus dengan murid-muridNya. Alkitab mencatat dengan kalimat yang penting dan menarik, “Yesus sedang lewat…” (ayat 1). Tidak ada intention, tidak ada tujuan khusus dari Yesus untuk menjumpai orang buta ini. Dia sedang berjalan lewat saja. Di dalam perjalanan itu Yesus memandang. Dari sesuatu yang tidak memiliki tujuan untuk menyembuhkan, tetapi di situ ada satu kesempatan Yesus melihat situasi di sekitarnya, Yesus memandang dan melihat, dan pandangan Yesus melahirkan pelayanan kepada orang itu. Tetapi sebaliknya murid-murid juga memandang hal yang sama, tetapi murid-murid tidak melihat kebutuhan dari orang buta itu. Yesus memandang, maka Yesus melayani orang. Murid-murid memandang, murid-murid melahirkan diskusi debat kusir tanpa pelayanan. Yang kedua, kisah ini dimulai dengan kebutuhan manusia yang paling penting dan hakiki. Puji Tuhan, dua ucapan pertama Tuhan Yesus, “Ego eimi” dimulai dengan jawaban bagi dua kebutuhan manusia yang paling penting. Yang pertama Tuhan Yesus berkata, “Aku adalah Roti Hidup.” Kebutuhan fisik kita akan makan dan minum, Tuhan Yesus mengingatkan ada kebutuhan spiritual manusia yang hanya sanggup dikenyangkan dan dipuaskan oleh Tuhan sendiri. Yang kedua, Tuhan Yesus berkata, “Aku adalah Terang Dunia,” mengingatkan adanya kebutuhan manusia yang paling dalam bukan hanya kesembuhan dari sakit penyakit secara fisik, tetapi dari kesembuhan atas kegelapan dan kebutaan spiritual akibat dosa. Kisah dalam Yoh.9 ini dimulai dengan penyembuhan kepada orang yang buta sejak lahirnya, tetapi melalui peristiwa ini Yesus mengajarkan berita yang jauh lebih penting di dalamnya, “Akulah Terang Dunia.” Benar, kita perlu mendapatkan kesehatan, bebas dari sakit penyakit. Tetapi ada satu kebutuhan yang lebih dalam dan lebih penting yaitu bagaimana menyembuhkan kebutaan secara rohani.

Kisah ini sebenarnya adalah satu kisah sedih, sebab Yohanes bilang orang ini buta sejak lahirnya. Tidak pernah melihat dan mengerti apa itu warna; tidak pernah merasakan keindahan dari dunia ini. Dan kalau kita baca seluruh pasal 9 ini kita akan menemukan orang ini menjadi pengemis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya, mungkin sekali ayah dan ibunya sudah tidak sanggup lagi memelihara orang ini dan kelihatannya orang ini sudah tidak tinggal dengan orang tuanya lagi. Bisa jadi orang tuanya malu punya anak buta sejak lahir, karena itu persepsi yang sudah ada di dalam kehidupan sehari-hari: kalau engkau punya anak yang lahir buta, anakmu cacat, atau lahir dengan situasi dan kondisi seperti ini, itu pasti karena hidupmu tidak diberkati Tuhan. Karena situasi ini mungkin orang ini sejak kecil sudah dibuang oleh orang tuanya, sehingga akhirnya dia mengemis di pinggir jalan. Atau, orang tuanya memelihara dia sampai satu jangka waktu tertentu lalu sudah tidak kuat lagi menunjang seorang yang buta yang harus dijaga dan dipelihara 24 jam, dituntun ke sana ke mari, harus diberi makan dan sampai suatu waktu orang tuanya bilang, ”…anakku, lebih baik engkau pergi saja.” Karena pada waktu dia sudah celik, orang-orang Yahudi ingin memastikan benarkah orang ini buta sejak lahir lalu memanggil orang tuanya, berarti pada waktu peristiwa kesembuhan itu, orang tuanya tidak ada di sana. Jadi bukan saja penderitaan fisik sakit penyakit, tetapi juga penderitaan secara emotional, dan bukan saja dia dihina, ditertawakan dan dicerca orang dan dianggap sebagai orang yang tidak diberkati Tuhan, tetapi lebih dalam daripada itu dia melewati berbagai macam kesulitan dan problem hidup. Itu sebab puji Tuhan, peristiwa ini menjadi satu cara Yesus untuk mengajak kita melihat bagaimana Tuhan memberikan kesembuhan yang jauh lebih dalam kepada orang yang buta rohani yang sebenarnya punya kondisi yang mirip dengan orang yang buta dari lahir ini. Tetapi sudah mengalami penderitaan ini, sudah mengalami hinaan dan ejekan secara emosional, dia mengalami lagi satu penderitaan ketiga yang sebetulnya tidak perlu, yaitu terjadi diskusi dan pembahasan teologis dari murid-murid mengenai orang ini. Saya ingin bertanya, apa sih untungnya murid-murid Yesus mendiskusikan pertanyaan itu, “Dia ini buta dari lahir sebab dosanya sendiri atau dosa orang tuanya?” Ada keuntungan apa diskusi seperti ini? Tidak ada. Apa keuntungan dari keingin-tahuan itu? Orang tuanya yang dosa atau dia sendiri yang dosa, sampai orang ini lahir buta? Masih syukur kalau diskusi ini tidak kedengaran oleh orang buta ini. Tetapi apa jadinya di tengah kesulitan dan penderitaan itu dia masih mendengar dengan telinganya sendiri murid-murid mengeluarkan kalimat seperti ini? Bagi saya diskusi dari murid-murid ini selain tidak ada keuntungannya secara teologis, tidak ada guna dan manfaatnya diskusi seperti itu, namun terlebih lagi bagi saya diskusi seperti ini lebih jahat, karena murid-murid menambah beban penderitaan yang tidak perlu kepada orang yang sudah menderita. Mengoreksi diri sendiri, menegur diri sendiri, itu merupakan kewajiban kita. Menghakimi hidup orang lain, itu bisa menjadi dosa yang berbahaya. Mengoreksi diri sendiri, mencari apa yang salah dari diri sendiri, apa yang kurang dari diri sendiri, itu kewajiban setiap kita. Tetapi terus-menerus melihat hidup orang lain, menghakimi orang lain, mengkoreksi hidup orang lain, menyalahkan kehidupan orang lain, itu bisa menjadi dosa yang berbahaya dan mendatangkan hal yang tidak baik. Maka pertanyaan murid-murid ini bagi saya adalah satu diskusi yang jahat, satu tuduhan yang jahat. Tetapi sayangnya, banyak hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan punya sikap seperti ini juga. Ada orang yang sakit, sudah begitu sakit lalu ada hamba Tuhan membesuk orang yang sakit itu lalu bilang menyeletuk, “Wah, kamu ini sakit pasti gara-gara tidak pernah ke gereja sih…” Kalimat seperti itu adalah kalimat yang berbahaya sekali, kalimat yang kita tidak boleh keluarkan dengan sembarangan dan sesungguhnya bukan menolong orang tetapi malah bisa menjatuhkan dia. Maka di tengah diskusi murid-murid Yesus, orang ini buta oleh karena dosanya sendiri ataukah dosa orang tuanya, Yesus jawab dengan tegas, “Bukan.” Sudah, selesai. Jangan lagi bicara tebak hal yang macam-macam dan tidak ada gunanya. Kita sendiri tidak mungkin luput dari kemungkinan tertimpa bencana. Seringkali pada waktu terjadi bencana yang dahsyat kepada satu orang, terlalu cepat perkataan menghakimi dari orang Kristen mengambil kesimpulan bahwa orang itu menyimpan dosa dan sekarang Tuhan menghukum dia. Jawaban Yesus memberitahukan kepada kita tidak semua hal terjadi sebagai akibat dari dosa seseorang. Tidak boleh kita terlalu cepat mengambil korelasi langsung dari bencana, penderitaan, kesulitan dan sakit yang terjadi kepada seseorang itu karena adanya dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh orang itu. Bencana itu bisa datang begitu saja kepada setiap orang, Kristen atau bukan; kesulitan itu bisa menimpa siapa saja, tidak ada kaitannya karena orang itu melakukan sesuatu yang salah. Tetapi muncul kalimat yang menarik selanjutnya dari Tuhan Yesus, mengajarkan bahwa kesulitan dan peristiwa sakit-penyakit yang menimpa kepada kita itu merupakan satu cara dimana Tuhan memakai hal itu untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Maka ketimbang bertanya apa penyebabnya, mari ktia melihat apa tujuannya. Sebagai anak-anak Tuhan kalau kita terus bertanya apa sebabnya, mungkin itu bisa mengecilkan dan menciutkan iman kita. Dan mungkin saudara pernah mendapat penjelasan-penjelasan yang tidak bertanggung jawab dari orang dan tidak membuat iman kita lebih bertumbuh tetapi malah lebih menjatuhkan kita. Teologi Kesuksesan selalu menekankan kalau engkau punya iman yang benar pasti engkau akan sukses, kalau engkau punya iman yang besar Tuhan pasti akan memberikan kelancaran, kesehatan dan kemakmuran. Pengajaran seperti itu adalah pengajaran yang berbahaya dan bisa merusak iman seseorang. Kalau engkau mengalami kebangkrutan, kalau engkau menderita sakit-penyakit yang berat seperti ini, kalau engkau kena bencana, berarti engkau punya dosa yang tersembunyi dan engkau kurang beriman kepada Tuhan. Kalimat-kalimat seperti itu bagi saya berbahaya, secara teologis seperti murid-murid yang bertanya kepada Yesus. Dia buta karena dosanya atau karena dosa orang tuanya.

Setelah menjawab pertanyaan murid-murid, maka Yesus masuk kepada hal yang lebih dalam, yaitu menggunakan peristiwa kesembuhan kepada kebutaan fisik untuk membawa kita melihat kita perlu kesembuhan yang jauh lebih dalam yaitu kesembuhan dari kebutaan secara rohani. Maka setelah peristiwa penyembuhan ini, terjadi perdebatan mengenai pernyataan Yesus, “Akulah Terang Dunia,” itu. Kenapa Yesus menyembuhkan orang buta ini? Alasannya sederhana, yaitu karena pekerjaan Allah harus dinyatakan. Kedua, kenapa Yesus menyembuhkan orang buta ini? Sebab Tuhan Yesus mengerjakan pekerjaan Bapa di surga. Ada masanya kesempatan itu tidak ada lagi. Maka selama masih siang, selama masih ada kesempatan biar kita melakukan pekerjaan itu. Yesus memberikan jaminan dan janji yang penting, engkau bisa sukses mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Bapa sebab Tuhan Yesus adalah Terang Dunia. Setelah mengatakan hal itu maka Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta itu.

Proses penyembuhan yang Tuhan Yesus lakukan kepada orang buta ini begitu unik. Bukankah Yesus bisa menyembuhkan orang buta ini hanya dengan memegang matanya? Atau bukankah Yesus bisa menyembuhkan orang buta ini hanya dengan mengatakan, “Terbukalah matamu,” pasti orang itu akan bisa melihat? Tetapi Yesus melakukan sesuatu yang khusus dalam proses menyembuhkan orang buta itu yang kita percaya pasti memiliki makna yang penting. Yesus meludah dan mengoleskan mata orang itu dengan campuran ludah dan tanah dan menyuruh dia berjalan ke kolam Siloam.

Saya rasa tidak ada kebudayaan di dunia ini yang menganggap meludah itu adalah sesuatu hal yang terhormat. Mari kita bayangkan bagaimana cara Yesus meludah ke tanah, lalu tanah yang berludah itu Dia aduk, lalu oleskan di mata orang buta itu. Kalau bicara soal mana yang lebih penting kita miliki di dalam hidup ini: kaya atau sehat? Kita bilang, sehat itu lebih penting walaupun tidak kaya. Apa gunanya punya uang banyak tetapi sakit? Lebih celaka sakit dan tidak kaya. Mana yang lebih penting: kekayaan, kesehatan atau keamanan? Kita akan bilang keamanan lebih penting daripada kekayaan dan kesehatan. Tetapi tidak semua orang memiliki konsep seperti ini, bukan? Demi untuk kaya, banyak orang rela melakukan apa saja untuk memperoleh kekayaan. Demikian juga untuk sehat, banyak orang rela melakukan apa saja untuk memperoleh kesehatan. Waktu dibilang air seni manjur, orang sakit rela meminumnya. Waktu sudah pergi ke dokter sana dan sini, tetap tidak sembuh-sembuh, orang rela melakukan apa saja yang menjadi alternatif asal bisa sembuh. Waktu orang bilang darah tokek manjur, orang rela minum. Waktu orang bilang anak ayam yang masih belum menetas di dalam telurnya manjur, orang rela makan meskipun baunya minta ampun. Waktu orang bilang tikus sawah manjur, orang rela makan. Terlalu banyak hal di dunia ini manusia mau dan rela lakukan apa saja demi untuk bisa mendapatkan kesembuhan fisik. Padahal sesudah itu orang akan sakit lagi, sesudah itu toh akan mati juga? Tetapi terlalu banyak orang melihat dengan cara yang berbeda seperti ini.

Itu sebab kenapa Yesus pakai air ludah menyembuhkan orang buta ini. Ludah berarti itu penghinaan; meludah itu namanya hal yang najis. Engkau rela rasa terhina, rela rasa direndahkan, rela apa saja asal bisa sembuh, bukan? Maksud saya, kalau soal kesembuhan fisik saja orang rela dihina, rela melakukan apa saja, bukankah lebih celaka kenapa soal kesembuhan rohani waktu orang diminta untuk menanggalkan kesombongannya, dia tidak mau? Inilah point yang ingin disampaikan dalam kisah ini. Yesus ingin membandingkan antara orang buta ini dengan kesombongan orang Farisi yang buta rohani. Sampai akhir mereka tidak mau percaya Yesus, padahal kalau mereka tahu diri mereka buta secara rohani, tahu mereka perlu Tuhan, tahu bahwa tidak ada cara lain untuk memperoleh keselamatan jiwa selain di dalam Kristus, toh mereka akan melakukan apa saja untuk itu, bukan? Tetapi mereka tidak mau. Yesus meludah, lalu menaruh tanah bercampur ludah ke mata orang buta itu, lalu menyuruh dia membersihkannya di kolam Siloam. Yang ia perlukan di situ adalah beriman dan percaya; yang ia perlukan di situ adalah satu penanggalan kesombongan; tidak ada lagi hal yang lebih bernilai dan lebih berharga yang bisa dia pegang dalam hidup ini. Aku butuh Tuhan, aku buta, aku perlu jamahan Tuhan. Dan sembuhlah ia dari kebutaannya.

Setelah peristiwa itu, terjadilah perdebatan yang sengit antara orang yang sudah celik itu dengan para pemimpin agama. Yoh.9:13-15 setelah mengetahui Yesus mengaduk ludahNya di tanah dan mengoleskannya ke mata orang buta itu, maka para pemimpin agama menuduh Yesus sebagai orang berdosa karena Dia melanggar hukum Sabat. Benarkah Yesus sungguh melanggar hukum Sabat? Yesus tidak melanggar ketetapan Alkitab mengenai hukum Sabat, tetapi Yesus melanggar penafsiran yang salah dari orang Farisi terhadap hukum Sabat. Nanti saudara akan temukan perdebatan Yesus sendiri dengan orang-orang Farisi, “Mana yang lebih penting, memelihara hukum Sabat seperti aturanmu ataukah menolong orang yang dalam sakit?” Orang buta itu bilang, kalau Yesus bukan dari Allah, bagaimana aku bisa disembuhkan oleh dia? Pemimpin agama tidak bisa menjawab. Maka penasaran, lalu mereka cari orang tua dari orang buta ini.

Ayat 34, orang Farisi dengan keras mengatakan kepada orang buta itu, “Memang kamu lahir sebagai orang berdosa!” Puji Tuhan, kalimat ini keluar pada saat dia sudah tidak buta lagi. Kalau kalimat ini keluar pada waktu dia masih buta, saudara bisa bayangkan betapa kasihannya dia. Tetapi sekarang dia bukan lagi orang buta, dia sudah celik, dia sudah mendapatkan kesembuhan batin, dia sudah memiliki dignitas sebagai manusia yang utuh, maka dia tidak mempedulikan tuduhan jahat orang Yahudi itu. “Sebodo amat cara pandanganmu terhadap aku. Yang aku tahu dulu aku buta tetapi sekarang aku bisa melihat.” Saudara bisa melihat persepsi ini, sampai akhir orang-orang Farisi tetap buta secara rohani. Sampai akhir mereka tetap tidak sadar akan kebutaan rohaninya. Kalau saja mereka sadar akan kebutaan rohaninya, kalau saja mereka sadar bahwa mereka memerlukan Tuhan sebagai Terang dan Juruselamatnya, apa yang diperintahkan dan disuruh, mereka pasti mau lakukan. Tetapi ironisnya mereka tidak mau.

Dari peristiwa ini Tuhan Yesus ingin mengajarkan beberapa prinsip yang penting bagi kita. Pertama, betapa susahnya orang melihat terang keselamatan di dalam Kristus sebab mereka berpikir aturan tata cara ibadah agamanya itu sudah cukup dan sudah sempurna. Yang kedua, betapa sulitnya sebagai seorang pemimpin agama mereka turun dan merendahkan diri untuk bisa menaklukkan diri kepada Kristus. Maka Yesus bilang, yang dia perlu adalah terima air ludahKu dan taruh di matamu, supaya engkau bisa melihat. Merendahkan diri, menerima segala kehinaan untuk datang kepada Tuhan.

Yoh.9:35-39 Sekarang kita masuk kepada penderitaan selanjutnya, penderitaan dari orang-orang yang diusir karena Kristus, orang-orang yang karena percaya Yesus mengalami eks-komunikasi. Yesus mendengar bahwa orang buta itu sudah diusir keluar oleh pemimpin agama. Apakah sejak dari awal waktu Yesus masih ada, sudah terjadi tindakan ex-komunikasi terhadap orang Yahudi yang bersimpati dan percaya Yesus? Kemungkinan besar sudah seperti itu, meskipun tidak ada catatan yang jelas. Tetapi orang yang di eks-komunikasi langsung dikeluarkan dari komunitasnya, tidak boleh lagi berkomunikasi, tidak mendapatkan pekerjaan dan hal-hal yang ditunjang oleh masyarakat dimana dia hidup. Ini menjadi hal yang penting dan sulit baginya. Ketika orang buta ini percaya dan terima Yesus, terjadi hal yang beresiko besar atas hidupnya, orang itu di eks-komunikasi. Di dalam kebutaannya, dia menderita banyak penghinaan. Di dalam kebutaannya, dia harus menghancurkan rasa harga dirinya, mengemis ke sana ke mari. Di dalam kebutaannya, dia mungkin berpikir di dalam kebingungan apakah betul Tuhan mencintai dan mengasihinya? Aku lahir sebagai orang yang buta, itu bukan salahku dan bukan salah siapa-siapa. Ini adalah penderitaan yang tidak ingin ditanggung oleh dia, tetapi terpaksa harus ditanggung dan dialami olehnya. Tetapi setelah Tuhan datang menyembuhkannya, Tuhan datang melayaninya, Tuhan datang merubah hidupnya, ia berani mengambil step langkah ke dua ini, dia bersedia berani menanggung penderitaan karena Kristus yang tidak sepatutnya datang kepadanya.

Yesus bertanya kepadanya, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Orang itu menjawab, “Siapakah Dia, Tuhan? Aku mau percaya kepadaNya.” Yesus mejawab, “Engkau bukan saja telah melihat Dia, tetapi sekarang ini Dia sedang berkata-kata kepadamu.” Katanya, “Aku percaya Tuhan.” Lalu ia sujud menyembah Tuhan Yesus. Setelah kesembuhan terjadi atasnya, orang yang tadinya buta itu sekarang berdiri tegak, sendiri, di tengah-tengah ancaman aniaya dan hal-hal yang mungkin bisa terjadi kepadanya. Dengan berani dan tegas ia berkata di hadapan pemimpin agama Yahudi, “Satu hal yang aku tahu, dulu aku buta tetapi sekarang aku melihat.” Dan dia menaklukkan diri menyembah Kristus. Sekarang langkah hidupnya menjadi lain. Dia rela menerima apa saja penderitaan dan kesulitan datang kepadanya, bukan lagi karena kebutaannya, tetapi karena dia sudah disembuhkan dari kebutaannya dia rela menerima dan menanggungnya.

Peristiwa penyembuhan ini menjadi satu mujizat tanda yang penting untuk memberikan kepada kita satu kontras berapa banyak orang yang buta secara fisik bersedia melakukan apa saja demi untuk bisa melihat; betapa ironinya orang yang buta secara rohani tidak rela menanggalkan kesombongan menaklukkan diri kepada Kristus. Maka kalimat “Akulah Terang Dunia,” menjadi satu pernyataan penting dari Tuhan Yesus Kristus untuk menjawab kebutuhan yang begitu penting dan mendasar dari manusia. Selama manusia buta rohani, dia perlu Kristus meneranginya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

22 Mei 2011

Ini adalah bagian kedua dari seri khotbah “Ego Eimi”, baca lebih lanjut:

  1. Akulah Roti Hidup
  2. Aku adalah Terang Dunia
  3. Aku adalah Pintu
  4. Aku adalah Gembala yang Baik
  5. Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
  6. Aku adalah Kebangkitan dan Hidup
  7. Aku adalah Pokok Anggur yang Benar
  8. Akulah Pokok Anggur yang Benar (lanjutan)
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: