Home > Effendi Susanto > DIA Hidup

DIA Hidup

Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib–sebab Sabat itu adalah hari yang besar–maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” Dan ada pula nas yang mengatakan: “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.” Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ.

Yoh.19:31-42

Peristiwa penyaliban dan kebangkitan Kristus dicatat oleh ke empat Injil dengan begitu detail, masing-masing memuat apa saja hal-hal yang terjadi yang dilihat oleh saksi-saksi mata di tempat yang berbeda-beda. Mari kita coba melihat di dalam keunikan Yohanes mencatat detail peristiwa ini dari apa yang dia telah saksikan sendiri. Kalau bisa kita sedikit kronologiskan secara garis besar, pada malam hari di taman Getsemani pada waktu Yesus berdoa, murid-murid sedang tertidur, kita bisa mengira-ngira waktu itu sudah tengah malam, antara jam 12-3 subuh. Tidak heran Alkitab mencatat dan memberitahukan beratlah mata murid-murid karena mereka terlalu lelah dan mengantuk. Yesus ditangkap, lalu langsung diadili di rumah Imam Besar Kayafas. Secara peraturan pengadilan orang Yahudi, sesungguhnya tidak boleh ada pengadilan pada malam hari, tetapi karena mereka tidak punya waktu lagi maka mereka lakukan. Sesudah itu pagi-pagi Yesus dibawa kepada Pilatus untuk diadili secara pemerintah Romawi. Lalu sekitar jam 8 Yesus dibawa ke tempat Herodes untuk diadili sekali lagi. Bolak-balik ke sana-sini. Pilatus tidak menemukan ada kesalahan pada diri Yesus sehingga Pilatus mungkin mengambil satu kesimpulan, kalau Yesus dicambuk sampai berdarah, orang-orang Yahudi akan jatuh kasihan dan akan melepaskan Yesus karena melihat Dia sudah mendapat ganjaran yang setimpal. Tetapi hal itu tidak membawa efek apa-apa bagi pemimpin agama, malah justru mereka makin histeris meminta Pilatus menyalibkan Yesus. Yesus kemudian jalan menuju bukit Golgota sekitar jam 8-9 karena Alkitab mencatat Yesus dipaku jam 9 pagi. Setelah tergantung selama enam jam Yesus kemudian menyerahkan nyawaNya, kira-kira jam tiga sore. Tinggal tiga jam tersisa sebelum persiapan untuk hari Sabat mulai. Dalam tiga jam itu mayat Yesus harus segera dikafani, diberi rempah-rempah dan dimasukkan ke dalam kubur. Ini kira-kira kronologis dari peristiwa penyaliban Tuhan Yesus.

Salib adalah salah satu cara penyiksaan yang paling canggih dalam dunia kuno yang awalnya dilakukan oleh orang Persia. Pada waktu Alexander Agung menaklukkan Persia, dia membawa cara penyiksaan ini untuk menyalibkan ratusan tawanan yang dia kalahkan, karena dia tahu ini adalah cara mengeksekusi orang yang sangat keji sebab orang yang disalib itu baru meninggal setelah tiga sampai empat hari tergantung di sana karena dengan penyaliban orang itu menderita sakit tetapi darah yang mengalir keluar sedikit demi sedikit. Kebanyakan mereka dibiarkan begitu saja tergantung di tempat terbuka menjadi tontonan, siang hari terbakar panas yang sangat terik dan malam hari udara begitu dingin menyengat dan binatang buas berdatangan untuk menggigit sedikit demi sedikit. Setelah berhari-hari digantung, paru-paru sudah penuh dengan darah, nafas menjadi sesak seperti orang tercekik, barulah orang itu mati.

Sehingga waktu Yusuf Arimatea datang kepada Pilatus untuk minta mayat Yesus, Pilatus sendiri terheran-heran dan terkejut mengetahui Yesus sudah mati. Tetapi kita tahu Alkitab menulis dengan jelas, Yesus tidak mati oleh karena penyiksaan. Yesus tidak mati oleh karena luka yang Dia dapatkan dari cambukan dan paku salib. Kalau Yesus mati karena penyiksaan di kayu salib, berarti kematianlah yang mengontrol Dia. Tetapi Alkitab memberitahukan kepada kita, Yesus mati sebab Dia sendiri menyerahkan nyawaNya. Kita percaya, kalau berdasarkan penderitaan di kayu salib, terbukti dua penjahat yang disalib bersamaNya tidak mati. Kematian Tuhan Yesus bukan mati oleh kematian; kematian Tuhan Yesus adalah kematian yang akan mematikan kematian. Yesus mati bukan karena Dia dikalahkan oleh kematian; Yesus mati supaya maut dan kematian selesai dan dikalahkanNya, karena Yesus sudah menanggung dosa manusia dengan tuntas. Maka Alkitab mencatat Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya (Yoh.19:30).

Yusuf Arimatea adalah salah satu murid Yesus yang diam-diam menjadi orang percaya, bersama dengan sebagian orang Yahudi yang lain termasuk Nikodemus. Sebagai orang Yahudi yang taat belajar hukum Taurat, mereka tahu tidak boleh ada mayat yang tergantung semalam-malaman hingga lewat hari Sabat. Dalam Ul.21:22-23 memberikan beberapa indikasi, orang yang mati digantung di tiang pasti bukan orang benar karena ayat ini bilang orang itu terkutuk di hadapan Allah. Itu sebab orang Yahudi amat sulit untuk menerima Yesus Kristus adalah Mesias Juruselamat karena cara mati yang seperti itu. Tetapi hal yang kedua muncul di sini adalah sekalipun orang itu adalah penjahat yang sudah menerima hukuman yang sepadan dengan kejahatannya, tetap Tuhan mengatakan orang seperti ini harus dikubur dengan selayaknya. Sejahat-jahatnya dia, orang itu harus dikubur dengan layak. Secara tradisi, orang Yahudi mempunyai dua macam tempat pekuburan. Yang satu adalah pekuburan keluarga yang terhormat. Yang satu lagi adalah pekuburan untuk orang-orang yang tidak terhormat. Secara aturan agama, Yesus tidak boleh dikubur di pekuburan keluarga melainkan Dia harus dikubur di pekuburan tidak terhormat. Tetapi kalau saudara baca seluruh catatan Injil, kita akan menemukan pemimpin-pemimpin agama itu tidak peduli Yesus mau dikubur dimana.

Maka Yusuf dari Arimatea dan beberapa orang Yahudi yang lain itu datang kepada Pilatus karena mereka memiliki koneksi langsung kepada dia untuk minta mayat Yesus. Nampaknya ada indikasi murid-murid Yesus sendiri tidak punya akses seperti itu dan tidak tahu bagaimana cara menurunkan Yesus dari kayu salib. Yusuf Arimatea adalah salah satu pemimpin di dalam Sanhedrin, seorang yang juga sangat kaya, yang menjadi percaya Yesus. Kadang-kadang kita tidak bisa menduga Tuhan kita begitu luar biasa indah dan ajaib. Di tengah semua murid yang lain sudah kocar-kacir, siapa yang bisa meneruskan dan melanjutkan pelayanan, Tuhan menyisihkan orang-orang yang selama ini percaya Tuhan Yesus dengan diam-diam tersembunyi. Tetapi Tuhan Yesus juga tidak mau orang percaya dengan diam-diam dan tersembunyi, sampai pada satu titik dia didesak oleh Tuhan di depan orang-orang yang melawan Tuhan dia harus berdiri menyatakan imannya. Itu adalah keputusan penting yang harus diambil oleh Yusuf Arimatea.

Apakah dua penjahat yang disalib itu tidak dicambuk dan disiksa seperti Yesus, tidak ada catatan mengenai hal itu. Yang jelas, waktu mereka sampai di atas bukit Golgota untuk menurunkan mayat Yesus, dua orang penjahat di sebelah Tuhan Yesus jelas belum mati. Itu sebab kaki-kaki mereka dipatahkan dengan tujuan supaya darah mengalir lebih cepat, terjadi internal bleeding yang akan mempercepat proses kematian. Waktu prajurit memeriksa mayat Yesus, mereka sendiri terheran-heran waktu mengetahui Dia sudah tidak bernyawa lagi. Mereka mungkin melihat tubuh Yesus sudah mendingin dan tidak ada detak jantung lagi. Tetapi untuk memastikan Yesus memang sudah tidak bernyawa lagi, seorang prajurit menusukkan tombaknya ke lambung Yesus. Yohanes mencatat lambung itu lalu mengeluarkan darah dan air, tanda memang Yesus sudah meninggal (Yoh.19:34).

Ketika Yesus sudah bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid, Tomas tidak percaya. Tomas bilang, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh.20:25). Yesus menyuruh Tomas untuk mencucukkan tangannya kepada bekas luka di tubuh Yesus, berarti lubang-lubang bekas luka itu masih ada di sana. Itulah tubuh kebangkitan Tuhan kita.

Tetapi muncul pertanyaan di benak kita, kita percaya satu kali kelak kita pun akan memperoleh tubuh kebangkitan kita. Pertanyaannya, apakah tubuh kebangkitan itu sama dengan tubuh kita sekarang ini? Maksud saya, apakah orang yang selama hidup di dunia ini buta, waktu dia memperoleh tubuh yang mulia, apakah dia masih tetap buta? Kalau dia lumpuh, cacat, atau bisu, waktu dia bangkit apakah tetap seperti itu? Saya percaya jawabannya adalah tidak. Tubuh kebangkitan yang akan kita dapatkan nanti adalah tubuh yang mulia. Tidak ada lagi cacat, luka dan sakit di dalam tubuh mulia itu. Tetapi, kenapa luka bekas paku dan tombak itu masih tetap ada di tubuh kebangkitan Tuhan Yesus? Sebab ini bukan luka secara alamiah, ini adalah luka yang menjadi tanda penebusan. Sehingga Yesus nanti akan tetap memiliki tanda luka-luka ini untuk memberitahukan kepada kita ini adalah luka penebusan yang bersifat selama-lamanya.

Sampai pada hari ini masih tetap beredar orang yang mengatakan Yesus tidak mati dan bangkit. Termasuk teolog-teolog yang kurang belajar, termasuk novel dan film “The Da Vinci Code” yang ngawur itu mempropagandakan Yesus tidak sungguh-sungguh mati dan bangkit. Beberapa teori mengatakan Yesus tidak benar-benar mati, tetapi mati suri. Sehingga entah dengan cara bagaimana, dengan kekuatan apa yang tersisa, pada waktu Dia berada di dalam kuburan, Dia kemudian siuman dan bangun dan melepaskan seluruh kain kafan yang membungkusNya. Lalu dengan kekuatan yang luar biasa Yesus menggulingkan batu yang entah berapa ton beratnya, dan tanpa sepengetahuan penjaga-penjaga, Yesus keluar dari kubur dan melewati mereka. Dan dengan konspirasi yang lebih canggih daripada CIA dan Mossad, Yesus lalu dibawa oleh murid-murid entah naik kereta atau pesawat jet, sampai ke Perancis. Teori itu membutuhkan kecanggihan, kehebatan dari murid-murid mengatur plan yang begitu sempurna. Lalu ada teori bilang Yesus memang mati, tetapi mayatNya dicuri oleh murid-muridNya. Matius mengangkat cerita ini dengan apa adanya. Bukan baru sekarang orang bicara bahwa mayat Yesus dicuri oleh murid-murid, tetapi dari sejak awal Yesus bangkit, inilah rumor yang beredar di antara orang Yahudi. Matius bilang, ini adalah cara dari pemimpin-pemimpin agama menyuap para tentara itu supaya tidak menyebarkan kabar kebangkitan Tuhan Yesus (Mat.28:11-15). Pemimpin-pemimpin agama ini berjanji bahwa mereka tidak akan mendapat kesulitan dari atasan mereka. Tentara-tentara ini adalah tentara elite. Kalau ternyata benar, mayat Yesus sudah tidak ada lagi, yang malu siapa? Tentu brigade tentara akan malu. Maka mereka berusaha sebisanya menutupi fakta kebangkitan Yesus dan mengedarkan rumor seperti itu.

Ada seorang Yahudi, seorang pemimpin agama yang menentang dan membenci Kekristenan dan banyak menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen, namanya Paulus. Paulus akhirnya bertobat dan percaya Tuhan Yesus. Kalau kebangkitan Tuhan Yesus didasarkan oleh berita bohong bahwa murid-murid mencuri mayat Tuhan Yesus, orang-orang yang percaya Yesus, termasuk Paulus yang tadinya membenci Tuhan, kita hina intelektualnya. Saudara setuju, orang seperti Paulus tidak gampang untuk percaya Tuhan. Kalau sampai dia percaya, berarti berita ini benar adanya. Yesus sungguh-sungguh bangkit. Tidak ada kemungkinan mayat Yesus dicuri. Tidak ada kemungkinan bahwa Yesus mati suri. Tetapi kenapa fakta kebangkitan terus-menerus disanggah oleh begitu banyak orang? Sebab paling tidak ada satu hal yang sangat penting: kebangkitan Kristus membuktikan semua yang diajarkan dan dijanjikan olehNya pasti benar dan tergenapi adanya. Kalau Yesus menjanjikan hidup kepadamu, tetapi kalau Dia sendiri tidak hidup, janjiNya itu tidak berarti. Kalau Yesus menjanjikan damai dan pengharapan atas masa depan, padahal Dia sendiri tidak memiliki kemenangan atas masa depan, itu adalah janji yang kosong adanya. Kalau Dia berkata, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup,” sedangkan Dia sendiri tidak bangkit dan hidup, itu adalah janji yang hampa adanya.

Mengapa engkau mencari Dia yang hidup dari antara orang mati?” kata malaikat di kubur yang sudah kosong itu. Besar sungguh peristiwa kebangkitan Kristus itu. Dia adalah kebangkitan, Dia adalah hidup. Kematian tidak mungkin dan tidak sanggup mengalahkanNya. Dengan bangkitnya Yesus dari kematian memperlihatkan semua yang Dia katakan, semua yang Dia beritakan, semua yang Dia janjikan kepadamu adalah benar adanya. Engkau percaya, engkau pegang dan terima perkataan dan janjiNya, Dia tidak akan pernah mengecewakanmu. Janji Tuhan adalah bukan janji yang kosong. Segala jaminan yang Ia beri akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya kalau Ia tidak bangkit dari kematian.

Konsep mengenai kebangkitan tubuh ada dicatat di dalam PL, meskipun memang tidak terlalu jelas. Dalam Dan.12:2-3 dikatakan ‘orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun…’ tetapi tidak seperti ajaran Adventis yang mengatakan orang mati itu dalam keadaan tidur dan tidak sadar, karena di bagian lain di Alkitab ada penjelasan yang lebih lengkap lagi. Pada waktu Yesus di atas kayu salib, Ia berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Luk.23:46). Kepada penjahat di sebelahNya yang bertobat Yesus mengatakan, “Hari ini juga engkau ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus…” (Luk.23:43). Dan di dalam kitab Wahyu, Yohanes menulis apa yang dilihatnya, yaitu jiwa-jiwa orang yang mati dibunuh karena firman Allah dan kesaksian iman mereka. Yohanes mendengar mereka berseru dengan suara nyaring, menunjukkan jiwa itu tidak tidur tetapi dalam keadaan sadar (Why.6:9-10). Demikian juga Tuhan Yesus pernah memberikan kisah mengenai Lazarus dan orang kaya (Luk.16:19-31). Ketika orang kaya itu mati, dia masuk ke dalam Hades dan mengalami penderitaan, dia sadar sepenuhnya waktu memandang ke atas dan mengenali Lazarus dan Abraham. Dengan demikian tidak tepat kita katakan mereka yang sekarang sudah mati itu kehilangan kesadaran hanya berdasarkan ayat dari kitab Daniel ini. Mereka yang telah mati sekarang dengan orang-orang yang masih hidup pada waktu Yesus datang kembali untuk kedua kali, adalah orang yang mati sekarang belum memiliki tubuh kebangkitan. Ini yang menjadi persoalan dari jemaat Tesalonika yang dibahas oleh Paulus, kalau semua orang yang sudah keburu mati sebelum Yesus kembali, lalu mereka bagaimana? Paulus menghibur mereka, yang sudah mati sekarang sudah bersama-sama dengan Tuhan. Tetapi nanti pada waktu kita semua masuk ke dalam langit dan bumi yang baru, kita tidak akan saling mendahului. Mereka yang meninggal sekarang di dalam Tuhan sudah bersama dengan Tuhan tetapi menikmati sukacita, menikmati keindahan surga bersama Tuhan berbeda nantinya dengan kebangkitan kita karena sekarang mereka masih dalam keadaan roh. Itu sebab waktu mereka nanti bangkit, kita yang masih hidup pada waktu Yesus datang kembali tidak lagi mengalami kematian. Maka tubuh yang fana ini dalam sekejap mata akan diubahkan oleh Tuhan menjadi tubuh kemuliaan, lalu bersama-sama kita hidup di dalam langit dan bumi yang baru. Dalam 1 Tes.5 ini Paulus mengatakan kita akan menyongsong kedatangan Yesus di awan-awan, akhirnya ada kesalahan teologis menafsir bagian ini seolah-olah kita akan melayang naik ke angkasa seperti pesawat ulang-alik. Kata “kita pergi menyongsong” banyak orang salah tafsir sebab tidak memahami kebudayaan Timur Tengah. Dalam kebudayaan Timur Tengah termasuk kebudayaan Yahudi kalau orang yang agung akan datang bertamu ke rumahmu, orang itu kuasanya lebih besar, kekayaannya lebih banyak, posisinya lebih tinggi daripadamu, kurang sopan kalau engkau hanya menunggu dia di depan pintu rumahmu. Maka untuk menyatakan engkau hormat kepadanya, engkau harus menyongsong dia di tengah jalan dan sambut dia bawa ke rumahmu. Kita adalah orang-orang yang tidak layak, maka kita yang datang menyongsong Yesus di angkasa, sebagai tanda kita menghormati Dia, Tuhan dan Raja yang datang lalu kita sama-sama turun ke dunia.

Apa fungsi kebangkitan Kristus? Kebangkitan Kristus menjadi penghiburan yang begitu besar bagi begitu banyak orang yang mengalami penderitaan dan kesulitan. Kadang-kadang tidak gampang dan tidak mudah, dalam hati kecil kita yang sedalam-dalamnya, pada waktu kita melihat orang-orang yang sangat kita kasihi menderita sakit. Dengan sekuat tenaga apapun kita bilang kalau ada pengobatan yang bisa menyembuhkan, kita mau bayar. Tetapi adakalanya orang-orang yang mungkin tidak kuat dan tidak mampu membayar obat yang mahal, jangan menjadi kecewa, jangan menjadi marah dan jangan menjadi putus asa. Jangan hidup seperti orang yang tidak punya pengharapan, karena Kristus sudah bangkit, satu kali kelak kita akan bangkit sama-sama. Mereka yang melayani Tuhan, mereka yang mencintai Tuhan, akan bangkit dengan tubuh kemuliaan yang bercahaya indah seperti bintang dan cakrawala yang begitu terang adanya. Jangan hina tubuh kita, sebab tubuh ini akan dibangkitkan oleh Tuhan. Jangan terlalu malu, merasa kita kurang ganteng atau kurang cantik, waktu tubuh kebangkitan datang, semua jadi ganteng dan cantik.

Kebangkitan kita rayakan hari ini untuk menggugah kita sekali lagi, adakah yang kita kerjakan demi untuk diri kita sajakah? Adakah yang kita kerjakan demi untuk pekerjaan Tuhan? Kalau Tuhan kasih kita banyak hal, selain kita sudah mengerjakan sesuatu tanggung jawab kepada keluarga dan sanak famili, juga pikirkan orang yang lebih kurang dari kita, dukung dan doakan pelayanan misi dan pengabaran Injil. Itulah arti kebangkitan Kristus bagi kita. KebangkitanNya membuktikan apa yang Dia janjikan kepadamu benar adanya, “Akulah Kebangkitan dan Hidup.” Yang kedua, kebangkitanNya memberitahukan kepada kita, satu kali kelak semua kita akan berkumpul bersama dengan Tuhan, sehingga janganlah sedih kalau ada sanak famili kita yang meninggal terlebih dahulu karena kita akan berjumpa lagi dengan mereka. Yang ketiga, kebangkitan Kristus memberitahu kepadamu dan saya, apapun yang kita lakukan sekarang demi untuk pekerjaan Tuhan tidak akan pernah pulang dengan sia-sia (1 Kor.15:51-58). Giatlah selalu, cinta Tuhan lebih dalam di dalam hidupmu. Satu kali, semua sukacita, keindahan, kenikmatan, damai sejahtera, beserta dengan kita orang yang percaya kepada Tuhan. Biar kita semua berbagian di dalam sukacita itu.

Pdt. Effendi Susanto STh.

24 April 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: