Home > Effendi Susanto > Hidup Perlu Pengharapan

Hidup Perlu Pengharapan

Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

1 Pet.1:8-21

Berapa banyak sebenarnya yang kita perlukan hidup di dalam dunia? Berapa banyak sebenarnya yang kita butuhkan hidup di atas muka bumi ini? Kadang-kadang ada orang terus mencari, mengumpulkan harta, berusaha begitu keras untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya padahal sebetulnya kita tidak mungkin bisa menghabiskan apa yang kita cari dan dapat. Saudara perlu hidup, saudara perlu mencari, tetapi pertanyaannya berapa lama sih orang hidup di atas muka bumi ini? Saudara harus hidup, tetapi pertanyaan yang paling penting hidup yang seperti apa yang kita jalani? Saudara sebagai orang Kristen hidup bersama orang-orang yang bukan Kristen, hidup menghadapi metode dan cara orang bekerja dari dunia non Kristen seperti ini, bagaimana kita menghadapinya? Bisakah kita bertahan, atau mungkin kita akan dilibas habis oleh karena tidak sanggup bisa menghadapi tantangan dan kesulitan dari tekanan yang berat luar biasa.

Itu sebab rasul Petrus bicara konsep mengenai penderitaan menjadi begitu relevan bagi dunia sekarang ini. Mungkin penderitaan kita berbeda dengan penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang menerima surat Petrus, tetapi Petrus menggunakan satu istilah yang unik di pasal 1:6, Petrus bilang “sekalipun saat ini seketika engkau harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan…” Puji Tuhan, firman Tuhan mengatakan ‘berbagai-bagai pencobaan,’ dengan kata lain dia memasukkan seluruh kemungkinan pencobaan itu atau penderitaan kesulitan itu mungkin ada. Kita mungkin tidak mengalami aniaya fisik sebagai orang Kristen yang hidup di negara yang bebas, tetapi itu tidak akan menjamin, kita tidak tahu apa yang akan terjadi 50 atau 100 tahun ke depan. Tetapi penderitaan kesulitan yang seperti apa? Mungkin yang engkau hadapi sekarang adalah worldview pressure, materialism pressure, hidup yang mungkin serba gampang dan mudah seolah tidak ada pressure, itupun bagi saya terhitung sebagai pencobaan yang mungkin bisa membuatmu tidak bersandar kepada Tuhan di dalam hidupmu. Itu sebab penting terima identitas ini baik-baik. Petrus bilang firman Tuhan ini juga untuk engkau dan saya, kita hanyalah pendatang di dunia ini. Ada tiga kali kata ini muncul di dalam surat Petrus ini. Yang pertama di 1 Pet.1:1, kedua di 1 Pet.1:17 Petrus ingatkan, “kamu hanyalah penumpang di dunia ini…,” dan ketiga, di 1Pet.2:11 “sebagai pendatang dan perantau…” Tiga kali kata ini dipakai oleh Petrus untuk mengingatkan identitas kita bukan dipengaruhi dan ditentukan oleh dunia ini sebab kita hanya pendatang di dunia ini. Engkau cuma numpang di dunia ini, artinya engkau tidak akan tinggal demi untuk dunia ini, engkau tidak mungkin bisa pegang apa yang ada di atas muka bumi ini. Tetapi kalau kita hanya penumpang, kalau kita hanya pengembara di dunia ini, tidak berarti kita menjadi orang yang masa bodoh dan tidak mau tahu hidup bertanggung jawab sebagai orang Kristen.

Hari ini saya bicara mengenai hidup perlu pengharapan. Ayat 21 memberikan satu definisi yang jelas apa bedanya hope dengan wistful thinking, apa bedanya pengharapan dengan angan-angan. Pengharapan itu tidak hanya monopoli orang Kristen. Saya percaya semua umat manusia memiliki pengharapan. Pengharapan itu adalah sesuatu yang tidak kita lihat, yang kita rindukan akan terjadi ke depan. Karena hanya dengan cara itu manusia maju; hanya dengan cara itu manusia bisa mengatasi apa yang menjadi problem hidupnya sekarang. Kalau tidak ada pengharapan maka kita tidak akan punya masa depan. Kalau tidak ada pengharapan, kita tidak akan mungkin maju. Kalau tidak ada pengharapan, kita tidak mungkin akan doing better and better hari demi hari. Tetapi apa bedanya pengharapan dan angan-angan? Semua orang punya pengharapan, tetapi yang membedakan pengharapan dan angan-angan adalah berkaitan dengan apa isi dari pengharapan itu. Petrus mengatakan, “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah…” Your faith is not a blind faith. Your hope is not a wistful hope, sebab isi dari apa yang kita harapkan memiliki fakta historis dan sejarah di dalam Yesus Kristus. Isi pengharapan kita real dan nyata di dalam Yesus Kristus yang sudah mati menebus dan menyelamatkan dan yang telah dimuliakan di surga. Tetapi yang menjadi persoalan adalah pengalaman kita orang yang percaya kepada Kristus itu memiliki pengalaman relasi yang berbeda. Petrus mencatat tiga kelompok orang di sini yang memiliki pengalaman yang berbeda di dalam kaitan mereka dengan Yesus Kristus di pasal 1:10-12. Kelompok yang pertama adalah kelompok orang beriman di PL, para nabi di PL yang menubuatkan tentang Yesus tetapi tidak pernah menyaksikan Dia. Kelompok yang kedua adalah para rasul, kelompok ini bukan saja melihat bukti apa yang sudah dinubuatkan oleh kelompok yang pertama. Petrus dan para rasul yang lain bukan saja memegang tubuh fisik Yesus tetapi hidup bersama-sama dengan Dia. Kelompok yang kedua adalah kelompok yang melihat, merasakan, menjamah Kristus yang dijanjikan itu real dan sesungguhnya. Kelompok yang ketiga, di ayat 8, adalah kita yang Petrus katakan, ”…sekalipun tidak pernah melihat Dia, kamu mengasihi Dia…” Ini kelompok penerima surat yang hidup belakangan.

Jadi pengalaman terhadap apa yang mereka harapkan itu saja yang membedakan. Kelompok nabi di PL, Tuhan kasih firman melalui Roh Kudus, satu kali kelak akan datang Mesias. Lalu lukisan mengenai Mesias, keindahan kemuliaanNya dibayangkan oleh mereka sehingga mereka begitu ingin sekali melihat dan mengetahui akan Dia, tetapi itu tidak terjadi di dalam seumur hidup mereka di dunia. Dalam Luk.10:24 Tuhan Yesus sendiri berkata, “Karena banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat tetapi tidak melihatnya…”

Sydney termasuk kota yang dikenal dan diakui oleh dunia, selain karena Opera House dan pemandangannya yang indah, tetapi Sydney juga menjadi tujuan banyak wisatawan culinary sebab dari 10 restoran terbaik di dunia, restoran Tetsuya ada di Sydney, yang sayangnya sudah melorot ke daftar nomor 38. Sekali makan harganya sekitar $250/perorang. Kalau mau makan di sana harus booking 3 bulan in advance. Ada ‘signature dish’ Tetsuya yang namanya confit trout yaitu trout yang dimasukkan ke dalam plastik hampa udara lalu dimasak di air yang suhunya 80 derajat selama 20 menit, sehingga waktu dibuka, trout itu sudah matang tetapi warnanya tidak berubah. Waktu dimakan daging trout itu lembut luar biasa ditambah dengan sausnya yang sangat enak. Dengar begini, sudah menetes air liur, bukan?

Ini point saya cerita panjang lebar. Yesus Kristus begitu indah, begitu agung, begitu mulia, betapa ingin bertemu dengan Dia, seperti kepingin makan makanan yang paling enak di dunia yang belum pernah kesampaian. Nanti kita pasti akan menikmati itu semua, tetapi sekarang itu belum terjadi, tetapi yakin itu pasti akan menjadi pengalaman yang pasti. Maka pengharapan orang Kristen itu nyata dan real, tetapi pengalaman mengalami pengharapan itu mungkin berbeda. Petrus lahir pada jaman yang sama dengan Yesus Kristus, Petrus bisa lihat langsung dan bukan saja bisa melihat Dia dengan mata kepala sendiri, tetapi bergaul bersama tiga tahun dan menyaksikan sungguh-sungguh Yesus adalah Manusia yang paling agung yang pernah hidup di atas muka bumi ini. Bukan saja melihat dan bergaul, tetapi sungguh-sungguh mengalami kehadiran Anak Allah. Raja, nabi yang bernubuat ribuan tahun yang lalu mengenai Kristus, mereka begitu kepingin untuk melihat siapa Dia, apa isi dari pengharapan dan keselamatan yang dinubuatkan itu.

Maka bagian ini ingin mengajarkan bahwa hidup kita perlu pengharapan, tetapi bagaimana menghargai, menilai dengan sungguh betapa indahnya Yesus Kristus itu bagi kita. Ayat 12, sangat menarik karena dari ayat ini saudara langsung melihat bahwa rasul Petrus memiliki konsep mengenai wahyu begitu jelas. Perjanjian Lama itu sama dengan Perjanjian Baru, para nabi dan para rasul memang menulis kitab masing-masing dengan tulisan tangan mereka, tetapi itu diwahyukan oleh Roh Kudus. Itu sebab Alkitab ini memang kitab kuno yang ditulis ribuan tahun yang lalu tetapi kitab ini tetap relevan bagi kita sekarang, sebab kita ini bukan ditulis oleh manusia tetapi oleh Roh Kudus. Itu sebab ini kita sebut Firman Tuhan. Saya sekaligus ingin menambahkan kepada saudara bagaimana karya Roh Kudus bekerja di dalam PL. Ayat 12 bilang Roh Kudus ada di dalam diri mereka. Mulai dari hari Pentakosta Roh Kudus turun dan tinggal di dalam orang percaya, tetapi ayat ini bilang sebelum kejadian itu, Roh Kudus juga sudah ada di dalam diri para nabi PL, namun bedanya dimana? Mzm.51:13 Daud sudah berdosa, ini menjadi permohonan dia, “Jangan mengambil RohMu yang Kudus daripadaku…” Di dalam Ef.4:30 Paulus mengingatkan orang percaya agar jangan kita mendukakan Roh Kudus. Ayat ini memberitahukan kepada kita sejak kejadian Pentakosta di PB, itulah hari dimana Roh Kudus turun secara nyata dan tinggal secara permanen di dalam diri orang yang percaya kepada Kristus. Orang yang percaya kepada Kristus waktu berbuat dosa, waktu melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan dan melanggar firman Tuhan, disini mereka mendukakan hati Roh Kudus. Tetapi tidak ada indikasi di dalam PB mengatakan kalau sudah berdosa Roh Kudus bisa meninggalkan dia. Roh Kudus begitu tinggal di dalam hati orang percaya, Dia akan tinggal selamanya meskipun kita bisa mendukakan hatiNya di dalam ketidak-taatan kita. Di dalam PL kita lihat Roh Kudus tetap bekerja. Petrus mengatakan para nabi di dalam PL waktu bernubuat mengenai Mesias Kristus yang akan datang itu seperti apa, itu nubuat bukan dari manusia, itu nubuat dari Roh Kudus yang ada di dalam mereka. Mzm.51:13 Daud memohon Roh Kudus tidak meninggalkan dia. Berarti bedanya dengan PB Roh Kudus tinggal secara permanen di dalam diri orang percaya sedangkan di PL orang percaya menerima Roh Kudus tidak bersifat permanen sebab Roh Kudus bisa pergi meninggalkan mereka. Contoh kasus Simson, ketika hidupnya sudah sembarangan, dia pikir dia masih memiliki kekuatan super dari Tuhan, tetapi Alkitab mencatat tidak diketahui olehnya bahwa Roh Kudus sudah meninggalkan dia (Hak.16:20). Dengan demikian kita memiliki pengertian yang benar mengenai Roh Kudus. Di dalam PL waktu nabi-nabi menulis firman Tuhan, semua firman Tuhan diwahyukan oleh Roh Kudus sama seperti penulis PB. Tetapi bedanya di dalam PL Roh Kudus bersifat spesifik, pada moment tertentu Dia datang memenuhi seseorang sehingga orang itu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, seperti Simson bisa memiliki kekuatan supranatural, dsb.

Kedua, apa yang dimunculkan dari ayat 12 ini, selain daripada pernyataan bahwa para nabi dalam PL ingin sekali melihat apa yang dinubuatkan mereka tidak bisa melihat, ayat ini menyatakan keagungan berita Injil yang juga ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. Ini adalah satu hal yang sangat menarik. Bukankah berita kedatangan Yesus diberitahukan kepada Maria oleh malaikat Gabriel? Berarti apakah malaikat tahu bahwa Yesus lahir di dunia? Tentu mereka tahu. Tetapi ayat 12 ini mengatakan betapa para malaikat ingin mengetahui tentang Injil. Para penafsir kebanyakan mengatakan itulah bedanya kenapa manusia jatuh ke dalam dosa masih ada kesempatan keselamatan melalui Injil diberikan kepada manusia, dan kesempatan keselamatan itu tidak diberikan kepada malaikat-malaikat yang jatuh di dalam dosa yang kemudian menjadi setan. Sebab kejatuhan manusia di dalam dosa tidak bersifat 100% datang dari pihak manusia melawan Tuhan, melainkan karena mereka digoda oleh setan. Tetapi malaikat-malaikat yang pada awalnya dicipta oleh Tuhan begitu agung, suci dan mulia, dengan segala kebesaran yang ada di dalam diri mereka, sebagian kemudian memberontak kepada Allah karena ingin menjadi seperti Allah. Waktu mereka memberontak dan berdosa kepada Tuhan, mereka memberontak dan berdosa 100% sepenuhnya inisiatif datang dari diri mereka sendiri. Itu sebab setelah malaikat jatuh di dalam dosa tidak ada kesempatan penebusan kepada mereka. Sehingga waktu berita Injil datang bahwa anugerah Allah menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa malaikat-malaikat itu menjadi amazed, how can it be? Kalimat Petrus penting untuk memberitahukan kepada kita meskipun malaikat tahu Allah itu suci dan agung dan adil, sulit bagi mereka untuk memahami pengampunanNya. Seperti banyak orang juga bertanya, kalau Allah itu maha kuasa, kenapa Allah tidak menyelamatkan manusia tanpa perlu menyalibkan Yesus Kristus? Dan kenapa Allah hanya menyelamatkan sebagian saja dari umat manusia dan bukan semuanya? Manusia sulit untuk mengerti akan hal ini. Kalau Allah maha kasih dan penuh dengan rahmat kemurahan itu begitu membenci dosa? Kita bertanya karena kita tidak mengerti hakekat realita dari esensi kesucian itu sendiri.

Saya ingin memberi contoh, elektrik positif selalu akan bereaksi kepada elektrik negatif, kenapa? Karena memang itulah karakter dia, begitu kena elektrik negatif pasti akan konslet. Demikian Allah yang begitu suci tidak dapat berdekatan dan bersentuhan dengan dosa karena pasti Dia akan langsung bereaksi karena memang itulah hakekat realita Allah. Jika kita mengerti akan hal itu maka kita akan mengerti kenapa Tuhan membuka tangan menyelamatkan manusia melalui kematian AnakNya sendiri. Inilah berita Injil yang mau dimengerti oleh para malaikat. Bagaimana Allah yang suci akhirnya datang ke dalam dunia di dalam Yesus Kristus akhirnya mati disalib untuk menebus dosa-dosa kita sehingga kita boleh memiliki keselamatan.

Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia namun kamu mengasihiNya. Kamu percaya kepadaNya sekalipun kamu tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang tak terkatakan…” Itulah engkau dan saya. Kita beriman, kita percaya kepada Kristus, kita hidup sebagai pendatang di atas muka bumi ini, kita adalah kelompok orang Kristen yang Petrus hargai, karena kita percaya sekalipun tidak melihat; kita mencintai Yesus sekalipun kita tidak mengenalNya secara langsung. Ini merupakan satu pujian yang indah dari Petrus, tetapi sekaligus menjadi kesulitan di dalam kita menjalani hidup iman kita, seperti Paulus katakan hidup kita sebagai pendatang we live by faith, not by sight. Kenapa saya bilang itu menjadi kesulitan? Dalam 2 Petrus kita menemukan reaksi penerima surat 1 Petrus yang sesungguhnya ingin memberikan kekuatan, ingin memberikan penghiburan, ingin memberikan dorongan kepada orang-orang Kristen yang sudah percaya dan menerima Tuhan, tetapi menjalani hidup tidak melihat apa yang diimani terjadi. Mereka akhirnya mengalami degradasi iman. Dalam 2 Pet.3:9, Petrus mengatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya sekalipun ada orang yang menganggapNya lalai, tetapi Ia sabar terhadap kamu karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat…” Tuhan tidak lalai menepati janji. Berarti ada sebagian orang Kristen yang mempertanyakan janji Tuhan, bukan? Petrus sadar tidak gampang hidup sebagai orang Kristen. Kalau ada orang bilang, “Ayo percaya Tuhan, hidupmu pasti akan lancar dan sukses,” maafkan, realitanya tidak seperti itu. Saya tidak akan pernah menawarkan konsep seperti ini kepada orang untuk percaya Tuhan. Dengan konsep seperti itu akan berimplikasi kepada terlalu banyak kebahayaan. Kebahayaan yang pertama, berarti jalan hidup orang Kristen yang sudah ikut Tuhan tetapi penuh kesulitan, penderitaan, sakit penyakit dan air mata berarti menunjukkan imannya tidak beres. Berapa banyak iman orang yang sudah dirusak oleh konsep ini, kalau saya tidak sembuh berarti Tuhan sudah tidak sayang kepadaku; kalau saya menderita sakit dan kebagkrutan itu tanda Tuhan menghukum aku. Memberikan janji buta dan mengajarkan konsep yang salah tentang kasih Tuhan. Itu adalah hal yang diajarkan kepada anak kecil. Waktu kecil kita selalu bilang ‘mama jahat,’ kalau dia tidak mengijinkan kita makan permen. Sekarang saya tanya, apakah mama benar-benar jahat kalau dia melarangmu makan permen karena gigimu bisa sakit? Itulah anak kecil yang selalu berpikir mama baik kalau mama kasih saya makan permen sebanyak-banyaknya dan mama jahat kalau melarang saya makan. Iman seperti ini terus dibawa kepada Tuhan, kalau Tuhan sayang Tuhan pasti menyembuhkan; kalau Tuhan sayang Tuhan pasti beri apa saja yang saya minta, itu adalah iman yang salah sebab Tuhan bilang yang kamu minta bisa saja membahayakan hidupmu, itu sebab Aku tidak beri.

Imanmu, pengharapanmu sudah tertuju kepada Kristus cuma bedanya Kristus itu belum pernah kamu lihat; Kristus itu belum pernah kamu raba; berbeda dengan Petrus yang sudah lihat, sudah pegang, sudah raba dan saksikan sendiri dengan mata kepalanya, tetapi engkau cinta Tuhan dan mengasihi Tuhan, itulah yang terpenting. Biar kita betul-betul mengerti konsep iman pengharapan seperti ini. Kita beriman walaupun apa yang kita imani mungkin tidak terealisir di dalam hidup kita. Jangan kecewa dan jangan kuatir, jangan berhenti mengikut Tuhan. Apa yang Tuhan janjikan, apa yang menjadi isi pengharapan kita adalah sesuatu yang pasti, yang tidak akan pernah hilang dari hidup kita. Kita memang belum melihat dan menyaksikan pengharapan itu sekarang, namun inti iman kita bernilai dan berharga. Apapun perjalanan hidup kita biar itu menjadi indah di dalam penyertaan dan tenunan Tuhan. Satu kali kelak kita semua akan ketemu dengan Dia, baik mereka yang hidup di PL, mereka yang hidup pada masa Yesus dan kita yang ada sekarang ini, semua kita akan ketemu sama-sama. Itu sebab pengharapan kita menjadi satu sukacita yang tidak terkatakan waktu kita ketemu dengan Kristus. Kiranya Tuhan memimpin dan menyertai kita semua.

Pdt. Effendi Susanto STh.

3 April 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: