Home > Effendi Susanto > Hidup sebagai Pendatang di Dunia

Hidup sebagai Pendatang di Dunia

Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

1 Pet.1:1-5

Surat 1 Petrus bagi saya merupakan satu surat yang indah, satu surat yang real sebab surat ini adalah firman Tuhan yang datang kepada anak-anak Tuhan yang mengalami kesulitan dan penderitaan. Fokus yang saya ingin ajak saudara lihat di sini adalah kontras yang langsung rasul Petrus angkat yaitu “engkau adalah seorang pendatang” (ayat 1). Itu berarti hidup kita di atas muka bumi ini hanyalah sementara saja. “You are a sojourner.” Kata ‘pendatang’ di bagian ini bukan bicara soal immigrant atau permanent resident di satu tempat. Kata ini lebih memiliki pengertian kita adalah pengembara, orang nomad, orang yang hanya memasang tenda di satu tempat dan someday tenda itu harus dicabut dan diangkat pergi. Kontras muncul di sini, engkau adalah pendatang tetapi sekaligus Petrus mengingatkan ”…namun kita memiliki warisan yang tidak akan pernah layu di dalam surga” (ayat 4). Ini kontras yang luar biasa. Kepada orang Kristen yang bingung, kepada orang Kristen yang mengalami penderitaan, kepada orang Kristen yang hidup di dalam dunia yang susah dan sulit ini, langsung Petrus mengajak kita melihat satu rangkaian yang indah ini: engkau memang pendatang tetapi jangan lupa akan hartamu yang kekal dan permanent ada di surga.

Tahukah saudara kalimat yang terkenal yang diucapkan oleh John D. Rockefeller, salah satu orang terkaya di Amerika? Rockefeller mengatakan, “The poorest man I know is the man who has nothing but money.” Orang yang paling miskin di dunia adalah orang yang tidak punya apa-apa selain uang. Boleh dikatakan sekarang orang yang paling philanthropy, yang memberikan uang dari diri sendiri secara pribadi demi untuk kemanusiaan di dunia ini dilakukan oleh orang bukan Kristen, Bill dan Melinda Gates dengan rata-rata mendistribusi dana sejumlah US$ 2 billion per tahun. Akhirnya Bill Gates tidak lagi berada di urutan pertama orang terkaya di dunia karena sebagian besar tidak dia pakai untuk dirinya sendiri. Dia bukan orang Kristen dan apa yang dia berikan menjadi sumbangsih bagi hidup orang-orang lain yang ada di bawah garis kemiskinan untuk kesempatan hidup lebih baik. Tidak berarti orang Kristen tidak memberi. Saya tahu ada banyak orang yang generously bersumbangsih bagi kemanusiaan. Tetapi di balik dari seseorang memberikan uang, kita tidak perlu jadi orang Kristen untuk mengetahui satu fakta bahwa sekuat-kuatnya kita, kita tidak mungkin membawa apa-apa yang kita peroleh di dalam dunia ini someday ke alam sana. Orang-orang bukan Kristen juga sadar sesadar-sadarnya, ini adalah fakta yang tidak bisa ditolak siapapun, tidak ada yang bisa membawa harta dunia ini ke alam baka, meskipun lucunya beberapa kebudayaan masih mencoba melakukan usaha untuk itu. Kebudayaan Cina, waktu seorang kaya meninggal dunia, keluarganya masih berusaha “mengirim” segala kebutuhan untuk hidup di alam baka dengan membakar rumah-rumahan lengkap dengan segala isinya. Kenapa tidak bakar rumah yang asli? Dengan kata lain, sebenarnya tidak perlu jadi orang Kristen, semua tradisi itu sekalipun berpikir nanti orang kaya yang meninggal itu akan hidup convenient dengan semua barang yang dikirim dari sini, semua mengakui jujur begitu kita mati apa yang engkau punya sekarang tidak mungkin bisa engkau bawa. Tetapi ada pertanyaan yang menggelitik, kalau manusia sadar tidak ada yang sanggup bawa apa-apa ke dunia sana, mengapa manusia hidup di dalam dunia ini tetap menjadi orang yang terlalu greedy dan rakus mengumpulkan harta dunia ini? Celakalah kita kalau sudah menjadi orang Kristen tetapi konsep etika kerja dan berdagang dengan cara dunia, yang mencari keuntungan dari kemalangan orang lain, yang meraup kekayaan sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara. Kita lebih rusak daripada orang yang tidak percaya Tuhan. Kenapa banyak orang mencari untung, menjadi greedy untuk mendapatkan harta lebih banyak di tengah penderitaan dan kesulitan orang lain? Kurang lebih 30 tahun lalu, 1% orang super rich di Amerika itu sebenarnya hanya menguasai 9% dari ekonomi negara. Tetapi sekarang, di tengah kesulitan ekonomi seperti ini, orang middle low hidup menjadi lebih susah, sedangkan orang yang super rich tetap menguasai ekonomi Amerika antara 16-19%. Betapa banyak orang di tengah kesulitan dari bencana gempa hanya dalam sehari pasar market di Jepang naik turun wipe off 60 billion dollar. Orang sudah kaya, sudah dapat banyak, sudah limpah ruah uangnya, pertanyaan saya: untuk apa? Memang kita perlu makan, minum, pakai, di dalam dunia ini. Kadang-kadang sudah punya terlalu banyak uang seperti itu, akhirnya luar biasa. Orang super kaya bikin kita geleng-geleng kepala, beli anjing 1.5 million dollar. Ada orang kesal sama service Lamborghini, mobil Lamborghini-nya yang seharga 600.000 dollar dia hancurkan begitu saja. Kamu bilang, aduh… sayang dong, buat saya saja. Dia kasih buat kamu, beli bensinnya saja kamu tidak sanggup. Kenapa begitu banyak orang rasa tidak pernah cukup, terus perlu menambah uangnya sampai bertumpuk-tumpuk, padahal sebenarnya seperti yang kita katakan tadi, suka tidak suka semua orang harus mengakui, you tidak bisa bawa apa-apa dari dunia ini ke sana. Orang bikin pembenaran: yah, kita perlu kumpul uang banyak untuk anak cucu, dsb. Seberapa banyak sih uang yang kamu perlukan untuk mendapat itu semua? Pertanyaan kedua: seberapa kuat sih engkau bisa spend uangmu? Mau makan ini dan itu. Seberapa kuatnya sih perutmu untuk bisa makan ini dan itu? Tuhan bilang, silakan kumpul uang banyak-banyak, begitu kolesterol dan tekanan darah tinggu naik, toh tidak bisa makan semaunya. Ujung-ujung makan tempe dan tahu juga. Kadang-kadang kita hidup di dalam dunia seperti ini sudah dikelabui dan kita lupa mana yang lebih penting dan mana yang lebih esensial, mana yang perlu dikejar dan mana yang perlu dibuang.

Itu sebab kalimat Petrus ini menjadi penting sekali: hai orang Kristen, engkau ada di berbagai tempat dimanapun di atas muka bumi ini, ingat panggilanmu, ingat statusmu. You are only a sojourner in this world. Di manapun engkau berada, engkau hanyalah pendatang. Kalimat ini membuat hati orang Kristen terhibur. Kadang-kadang di tengah aniaya kesulitan hingga tidak punya apa-apa lagi, kita diingatkan, itu semua tidak apa-apa sebab toh kita hanya pendatang di dunia ini.

Petrus tidak secara spesifik memberikan surat ini kepada satu gereja, tetapi ini adalah surat yang diberikan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di berbagai tempat. Nama-nama tempat yang disebutkan di sini adalah daerah di Asia Kecil atau yang sekarang adalah daerah Turki. Nanti kalau saudara membaca surat ini sampai ke belakang, saudara akan menemukan mereka adalah orang-orang Kristen yang sedang berada di dalam penganiayaan, mereka adalah orang-orang Kristen di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan, mereka adalah orang-orang Kristen yang hidup di dalam begitu tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi surat 1 Petrus ingin memberikan dua prinsip yang penting. Pertama, bisakah engkau hidup dengan excellence character di tengah-tengah hidup sebagai minoritas. Yang kedua, bisakah engkau hidup sebagai orang Kristen yang terus maju, terus bekerja, terus berjuang sekalipun penuh dengan kesulitan tantangan, sabar menghadapi kesulitan? Tetapi untuk menuju ke situ, orang Kristen harus memahami dua hal yang penting menjadi status kita lebih dulu. Yang pertama, kita hanyalah seorang pendatang di dalam dunia ini. Apa yang ada di tanganmu sekarang itu hanya sementara, engkau tidak mungkin bisa bawa ke alam baka. Tetapi sekaligus Petrus mengingatkan hartamu yang sesungguhnya, yang sejati dan yang tidak pernah layu itu tersimpan di dalam kekekalan. Ini framework yang penting sekali.

Belakangan ini beberapa kelompok orang Kristen di Amerika bernubuat bahwa kiamat akan terjadi pada bulan Mei 2011 ini sehingga mereka mulai meninggalkan segala sesuatu termasuk pekerjaan dan hidup mereka, lalu kumpul sama-sama di dalam RV untuk menunggu hari itu. Kalau you ketemu orang seperti itu, langsung bilang dia sudah salah karena dia hanya mengerti separuh, dunia ini memang sementara dan tidak bisa bawa apa-apa, lalu dia pikir karena itu harus tinggalkan segala sesuatu. Tetapi memahami konsep akhir jaman dan kedatangan Tuhan Yesus seperti itu, konsepnya keliru karena Alkitab tidak memberikan pengertian seperti itu. Justru engkau sebagai pendatang dalam dunia ini, yang tahu bahwa hartamu yang sejati ada di surga, dengan framework itu Petrus bilang kalau engkau menderita, kalau engkau mengalami kesulitan, kalau engkau adalah minoritas, kalau engkau berada di satu tempat dimana tempat itu tidak conducive terhadapmu, mungkinkah engkau bisa hidup dengan excellent character dan mungkinkah engkau bisa menjadi seorang Kristen yang sabar, tahan, penuh pengharapan menghadapi penderitaan?

Rasul Petrus mengingatkan, hati-hati, jangan mau pegang apa-apa; jangan terlalu rakus menggenggam apa yang ada di atas muka bumi ini; jangan kecewa kalau engkau tidak dapat banyak apa-apa di atas bumi ini; jangan terlalu greedy ingin semua harta materi dari dunia ini sebab engkau hanyalah pendatang. Sekalipun susah, sulit dan tidak ada jalan keluar, ingat baik-baik engkau punya pengharapan di dalam Tuhan. Banyak orang Kristen dianiaya, banyak orang Kristen susah dan sulit, jangan sampai kehilangan pengharapan. Ingat statusmu baik-baik, engkau adalah seorang pendatang. Tetapi sekaligus ingat baik-baik, ada yang lebih kekal, ada yang lebih penting, ada yang lebih indah, yaitu hartamu yang tidak mungkin binasa, tidak mungkin cemar dan tidak mungkin layu di dalam kekekalan. Anak saya yang kecil suatu kali datang kepada mamanya dan bilang, “Mama, saya tidak mau masuk surga.” Lho, kenapa? “Saya tidak mau masuk surga sebab untuk masuk surga saya harus mati dulu. Saya tidak mau mati.” Ada satu lagi anak bertanya kepada mamanya, “Ma, di surga nanti ada papan catur ngga? Soalnya kalau di surga kita cuma nyanyi-nyanyi saja bosan dong.” Kalau memahami nanti setelah Tuhan Yesus datang ke dua kali, semua yang ada di dunia ini tidak ada lagi, itu salah mengerti mengenai inheritance yang tersimpan di surga menurut kata Petrus ini. Konsep mengenai punya harta yang kekal di surga, Petrus tidak mengajar orang Kristen di dalam penderitaan di dunia ini doa saja tunggu kapan Tuhan datang, tidak usah bikin apa-apa. Apa cara yang terbaik supaya di tengah-tengah kesulitan penderitaan dunia ini kita tetap ingat akan harta yang di surga? Apakah bunuh diri cara tercepat untuk ke sana? Jelas tidak, bukan? Yang ada, hidup baik-baik di tengah kesulitan penderitaan.

Ibr.13:14 mengatakan, “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang…” Apa artinya inheritance di surga yang tidak akan binasa, yang kekal dan tidak berubah itu? Kita perlu memahami tiga hal yang penting. Pertama, perbedaan kata “Earth” dan “Heaven” di Alkitab harus kita mengerti di dalam pengertian Earth adalah the human dwelling place. Heaven is God’s glorious dwelling place. Jadi kata “tinggal di dunia” itu mengacu kepada tempat yang kita tinggal ini, dan Allah tidak mungkin bersatu dengan kita dalam dunia sebab ada satu fakta yang kita harus akui yaitu dosa yang ada di tengah kita membuat Allah yang suci tidak bisa tinggal bersama-sama dengan kita. Maka langit dan bumi dimengerti dengan konsep pertama ini.

Yang kedua, rasul Petrus langsung memberitahukan kepada kita kenapa kita bisa langsung menikmati harta yang ada di surga, tempat kediaman Allah yang mulia itu. Ayat 3, kunci yang membuka supaya kita masuk ke dalam tempat kediaman Allah yang mulia itu adalah Anak Domba Allah yang tersembelih itu. Puji Tuhan, oleh sebab kematian dan kebangkitan Kristus kita memiliki pengharapan itu. Nanti di dalam kitab Wahyu saudara akan menemukan lukisan yang diberikan sangat indah, yaitu ketika Allah duduk di tahtaNya memegang kitab kehidupan lalu terdengarlah suara siapa yang bisa membuka kitab itu? Tidak ada seorangpun yang bisa membukanya selain Anak Domba Allah yang tersembelih (Why.5). Pegang konsep yang penting ini: kita bisa menerima harta surgawi itu semata-mata sebab Anak Domba Allah itu sudah membuka materainya. Dalam 1 Kor.6:9 “Unrighteous will never inherit the kingdom of God…” Yang ketiga, Kis.3:21 nanti kita akan lihat hubungannya dengan 1 Pet. konsep dia mengenai warisan di surga di dalam pengertian ini, Petrus mengatakan, “Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu…” Dimana Kristus sekarang? Dia ada di surga. Ingatkan kata ‘surga’ tadi adalah God’s glorious dwelling place. Kristus tidak ada lagi di atas muka bumi ini, Dia ada di surga. Tetapi Dia tidak akan di situ selama-lamanya. Satu kali kelak Dia akan kembali. Waktu Dia kembali, apa yang akan terjadi? Petrus mengatakan Yesus akan kembali pada waktu pemulihan segala sesuatu. Dalam bahasa Inggris dikatakan “until the restoration of all things.” Perhatikan baik-baik, Petrus tidak pakai kata “until the elimination of all things.” Restorasi berarti semua yang ada tidak di-eliminasi oleh Tuhan, melainkan semua yang ada akan dipulihkan. Why.21:1-3 di sinilah langit dan bumi yang baru menjadi bersatu, maksudnya tempat dimana manusia tinggal dan tempat dimana Allah tinggal sekarang menjadi satu. Allah akan diam bersama-sama dengan umatNya. Petrus mengatakan, Yesus Kristus sudah tidak ada lagi di dalam dunia. Dia sudah bangkit dan sudah pergi ke sana dan Dia akan bersama-sama dengan kita nanti pada waktu Allah melakukan restorasi terhadap segala sesuatu di atas muka bumi ini. Allah tidak akan eliminate ciptaanNya. Nanti langit dan bumi yang baru tidak ada lagi dosa akan menjadi satu, dan Heaven sebagai God’s dwelling place dan Earth sebagai human dwelling place tidak lagi separate dan akan menjadi satu sebab tidak ada lagi dosa di atas muka bumi ini maka Allah akan tinggal di atas muka bumi ini. Itulah sebabnya mengapa Petrus bilang walaupun di atas muka bumi ini engkau hidup sementara, jangan punya konsep engkau tidak perlu melakukan fungsi perbaikan dan perubahan akan dunia ini karena dunia ini tidak akan dieliminasi dan dilenyapkan oleh Tuhan. Banyak orang selalu keliru dalam hal ini, ‘nanti saya dapat harta di surga seperti apa?’ Maka saya beri penjelasan baik-baik, pertama, seluruh inheritance yang kita akan dapat di surga nanti itu bukan punya kita. Itu adalah punya Tuhan. Itu sebab kita tidak punya hak untuk claim itu sebagai punya kita. Tetapi sekaligus menjadi satu paradoks, segala yang engkau lakukan di atas muka bumi ini bagi kekekalan tidak akan pernah hilang dan selamanya akan menjadi milikmu. Sehingga harta yang tersimpan di situ sekaligus juga menjadi tabungan kita. Baru saudara akan mengerti Tuhan Yesus bilang, jangan kumpulkan harta di bumi ini karena harta itu bisa hilang dicuri dan rusak berkarat. Kumpulkanlah harta di surga yang tidak akan binasa tersimpan selama-lamanya bagimu.

Pdt. Effendi Susanto STh.

27 Maret 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: