Home > Effendi Susanto > Kebingungan Rohani

Kebingungan Rohani

Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati. Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.

Mazmur.73

Siapa di antaramu yang takut akan Tuhan dan yang mendengarkan suara hambaNya? Jika ia hidup di dalam kegelapan, tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya pada nama Tuhan dan bersandar kepada Allahnya…” (Yes.50:10). Mengapa engkau berjalan di dalam kegelapan dan tidak ada terang di jalanmu, padahal engkau mengaku percaya kepada Tuhan dan kepada firmanNya? Kembalilah dan bersandarlah kepada Dia.

Beberapa minggu yang lalu kita sudah membahas tiga mazmur yang penting, Mzm.126, 127 dan 128. Di dalam mazmur yang terakhir, sang pemazmur memberikan premise yang penting ini: berbahagialah mereka yang takut akan Tuhan; diberkatilah hidup orang yang berjalan dengan takut akan Tuhan. Di tengah tujuan kita mencapai hidup yang bahagia, di tengah keinginan kita untuk menjalani hidup yang penuh dengan sukacita, ada dua lubang yang seringkali membocorkan anugerah Tuhan di dalam hidup kita. Ke satu: hidup yang kuatir. Kedua: hidup yang patah semangat. Anxious life and burn out. Kita sepatutnya bekerja dengan baik, kita berjuang untuk cinta Tuhan, kita mau memperoleh hal yang baik, tetapi kadang-kadang di dalam proses perjalanan itu kita manusia yang lemah dan kecil ini terkadang tidak sanggup lagi terus-menerus mengerjakan hal yang baik bagi Tuhan. Hati ingin berbakti, hati ingin cinta Tuhan, tetapi tangan, kaki, semangat sudah tidak kuat lagi. Itu sebab Alkitab mengingatkan kita, janganlah kita jemu berbuat baik, jangan patah semangat di dalam pelayanan, dsb.

Tetapi ada satu hal lagi yang saya pikir menjadi fakta dan realita yang ada di dalam hidup kita yang saya sebut sebagai “the spiritual perplexity,” kebingungan rohani. Kenapa engkau berjalan di dalam kegelapan? Kenapa tidak terang jalanmu? Nabi Yesaya melihat ada sejenis orang, orang itu takut akan Tuhan, orang itu dengar firman Tuhan dan taat kepada apa yang dikatakan oleh hambaNya, tetapi orang itu berjalan di dalam kegelapan. Mengapa tidak ada terang di dalam jalannya? Bukankah saudara dan saya ingat akan firman Tuhan yang berkata, “FirmanMu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm.119:105), tetapi kenapa orang ini tetap berjalan di dalam kegelapan? Ayat ini luar biasa dalam. Bagi saya “berjalan di dalam kegelapan” ini tidak boleh ditafsir orang ini berjalan di dalam dosa dan lari meninggalkan Tuhan. Kenapa saya mengatakan demikian? Karena Yesaya tidak memanggil dia untuk bertobat. Kalimat Yesaya selanjutnya mengajak, “Come and trust in the Lord.” Orang itu sedang berada di dalam kebingungan karena apa yang dipercayai tidak menjadi fakta dan realita di dalam hidupnya. Itu sebab saya ingin mendefinisikan hari ini, kebingungan rohani adalah ketika seseorang percaya kepada Tuhan, kemudian kepercayaan itu menjadi sebuah ilusi belaka; ketika semua janji yang menyertai kepercayaan kepada Tuhan hanya menjadi sebuah mimpi di dalam hidupnya, sehingga kalimat “blessed are all who fear the Lord, who walk in His way,” itu tidak terjadi di dalam hidup dia. Orang ini takut akan Tuhan, orang ini dengar firman Tuhan tetapi orang ini berjalan di dalam kegelapan. Ada yang salah di situ tentunya. Saya percaya itu bukan salah dia, itu sebab Yesaya tidak menegur dia. Yesaya hanya seperti seorang ayah yang membuka tangan berkata mari kembali kepada Tuhan. Anak ini dalam keadaan bingung, dalam keadaan confused rohani, mengalami kesulitan.

Mzm.73 menggambarkan spiritual perplexity seperti ini. Mazmur ini dibuka dengan satu theological understanding yang penting: Sesungguhnya Allah itu baik kepada orang yang tulus dan bersih hatinya. Tetapi kemudian terjadi satu kontras pada diri Asaf, pemazmur: Buat apa aku mempertahankan tanganku bersih, itu tidak ada gunanya (ayat 13). Maksudnya adalah apa yang saya percaya, realita imanku itu hanya menjadi ilusi dalam hidupku. Sia-sia aku mempertahankan hati yang murni dan tangan yang bersih sebab sepanjang hari hidupku kena tulah dan tidak menjalani hidup yang lebih baik daripada orang yang tidak percaya Tuhan.

Ada beberapa diagnosa yang bisa kita dapatkan dari Mzm.73 ini. Pemazmur menggambarkan hidup orang fasik seolah-olah tidak ada kesusahan dalam hidup mereka. Memang betul Asaf mengaku dia iri dan cemburu kepada mereka, dan ini merupakan satu diagnosa rohani yang jujur dari dia. Dari situ muncul kebingungan rohani dalam diri Asaf yang merasa sia-sia dan tidak ada gunanya percaya Tuhan, tidak ada benefit dalam kesetiaan berbakti kepada Tuhan, tidak ada untungnya ikut Tuhan, hanya kekosongan hidup yang dia dapatkan sebagai anak Tuhan.

Penyebab pertama dari spiritual perplexity terjadi sebab orang ini hidup di dalam self pity. Gejalanya bisa terlihat di sini, dia terlalu over exaggerated menggambarkan hidup orang fasik. Seolah-olah hidup orang yang tidak percaya Tuhan tidak pernah susah dan lepas dari segala kesulitan dan persoalan. Kalau saudara tanya kepada saya, adakah orang yang tidak percaya Tuhan yang hidupnya susah? Ada. Adakah orang yang tidak percaya Tuhan yang hidupnya miskin dan kekurangan? Ada. Adakah orang yang tidak percaya Tuhan yang masuk penjara meskipun tidak berbuat salah? Ada. Tetapi kalimat-kalimat yang pemazmur Asaf pakai menggambarkan hidup orang yang tidak percaya Tuhan dengan begitu over exaggerated, itu adalah ciri-ciri dari orang yang self pity. Orang yang self pity pasti akan selalu melantunkan lagu-lagu cengeng di dalam hidupnya. Dia bukan benci dan marah tetapi self pity, betapa kasihan diri sendiri sehingga tidak sanggup melihat bahwa tidak semua orang fasik hidup lancar tanpa kesusahan. Dia hanya melihat hidup orang yang tidak percaya Tuhan itu gemuk dan sehat, tidak ada sakit di dalam dirinya. Akhirnya tertutup matanya tidak sanggup melihat dengan perspektif hidup secara balance dan seimbang. Yang ada bagi dia hanya kebaikan melulu yang terjadi pada diri orang yang tidak percaya. Orang yang self pity selalu melihat orang lain hidupnya lebih lancar daripada dia; orang yang self pity hanya melihat kenapa jalan hidupnya terus susah seperti ini, padahal pikiran seperti itu belum tentu benar. Kalau kita refleksi lebih dalam, pikir dengan tenang dan meneliti hidup orang lain, kita bisa bisa bersyukur kepada Tuhan dan mengatakan hidupku tidak lebih buruk daripada orang lain.

Yang kedua, di ayat 12 pemazmur mengambil kesimpulan bahwa hidup orang fasik hanya menambah harta benda dan senang selama-lamanya. Kita sering mengalami kebingungan rohani di dalam hidup kita, merasa apa yang kita percaya seharusnya kita yang setia dan baik kepada Tuhan, Tuhan sepatutnya memberikan kelancaran di dalam hidup kita. Kenapa? Karena kita terlalu cepat bikin kesimpulan akhir. Mungkin ada hal-hal kecil baru saja terjadi, kesalahan kecil terjadi di dalam hidup kita, langsung kita ambil kesimpulan, kalau begini pasti akan jadi begini. Padahal belum tentu. Kita sadar kita ambil pilihan yang salah, langsung kita bilang, “Habislah hidup saya! Tidak ada kemungkinan saya bisa balik lagi.” Hal seperti ini yang seringkali membuat kita gampang menjadi bingung sebab kita seolah-olah sudah tahu hasil akhir dari segala-galanya.

Anak kita angkanya “hampir tidak lulus” lalu kita langsung pikir masa depannya pasti suram dan akan merongrong orang tua. Padahal banyak pengalaman membuktikan anak-anak yang dianggap seperti itu ternyata setelah sepuluh dua puluh tahun kemudian justru berhasil di dalam hidupnya, bukan? Tetapi berapa sering hidup kita dilumpuhkan, dikuatirkan, dibingungkan oleh kesimpulan yang kita buat sendiri? Kita lihat anak kita ambil keputusan yang salah kita jadi terus kuatir. Kenapa anak gadisku setiap kali pilih pasangan salah melulu, akhirnya kita takut, kita kuatir, kita selalu punya persepsi negatif seperti itu. Ini yang bahaya, terlalu cepat bikin kesimpulan akhir. Padahal banyak hal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam hidup kita di depan. Dan melalui pengkotakan hidup seperti ini kita tidak lagi bisa melihat kekuatan dan kuasa Tuhan yang sanggup bisa merubah hidup kita. Mzm.73 mengatakan tidak ada gunanya mencari dan taat kepada Tuhan. Lihat itu orang jahat, terus-menerus prosper, apapun yang dikerjakan oleh tangannya selalu berhasil. Makannya tidak beraturan tetapi tetap sehat, senang terus hidupnya. Kalau begitu sia-sia aku mempertahankan hidup yang bersih. Lebih baik jadi orang yang tidak percaya Tuhan, karena tidak ada untungnya jadi anak Tuhan. Aneh sekali, kita bertemu dengan orang di dunia ini jalannya tidak lurus tetapi lebih cepat sampai kepada karier yang menanjak. Ada orang yang tidak menggunakan aturan-aturan bisnis dan etika yang baik, tetapi hidupnya kok makin lancar dan lebih kaya. Tetapi kenapa anak-anak Tuhan, bukankah Alkitab sendiri bilang, “diberkatilah orang-orang yang takut akan Tuhan,” kenapa anak Tuhan tidak naik Ferrari? Lalu kita mulai merasa kecewa.

Di tengah-tengah kebingungan rohani seperti ini, puji Tuhan, tangan terbuka, hati yang lebar sadar akan kesulitan ini membuat panggilan nabi Yesaya menjadi penghiburan yang begitu indah, “Come, trust the Lord and rely on Him.” Panggil kita kembali, percaya kepada Tuhan, tahu siapa Dia, tahu apa yang bisa Tuhan kerjakan dengan kuasaNya yang sanggup bisa melakukan segala sesuatu, itu sepatutnya memberikan kekuatan kepada kita menjalani hidup.

Bagaimana akhirnya pemazmur bisa keluar dari self pity? Bagaimana akhirnya pemazmur keluar dari kebingungan rohani yang ada di dalam hidup dia? Terlebih dahulu saya ajak saudara melihat jawaban dari Mzm.37 yang begitu kontras dengan Mzm.73. Mzm.73 mengatakan sia-sia hidup jadi orang percaya. Aku iri kepada orang-orang yang berbuat jahat dan curang sebab semakin lama mereka semakin kaya dan semakin makmur. Mzm.37 mengatakan tidak usah cemburu dan geram kepada orang-orang seperti itu. Sebab pada waktu Tuhan bertindak dan berkarya di dalam hidupmu, semua itu akan hilang lenyap seperti rumput kering. Kadang-kadang banyak orang Kristen tergoda untuk mencoba mencari jalan dan mengikuti pola dan cara yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan untuk menjadi lebih kaya. Jangan demikian. Jangan biarkan keinginan dan motivasi untuk menjadi cepat kaya dan cepat dapat keuntungan itu ada di dalam hatimu dan akhirnya kita tidak melihat satu dignitas kita menjadi anak Tuhan. Kalau orang Jepang saja punya dignitas dan kebanggaan pada dirinya, masakan orang Kristen tidak? Ingatlah, Mzm.37 langsung mengangkat kekayaan kita bukan soal materi. Sampai aku masuk ke pelataran rumah Tuhan, begitu berjumpa dengan Tuhan dalam perspektif yang benar aku baru bisa melihat semua dengan jelas. Jangan geram dan marah kepada orang yang lebih prosper. Datang ke rumah Tuhan, di pelatarannya engkau akan melihat segala sesuatu dengan jelas. Yesus berkata, apa gunanya seseorang memiliki segala harta di dunia padahal dia tidak dapat menyelamatkan nyawanya? Banyak orang yang bingung rohani justru lari dari pelataran Tuhan. Banyak orang merasa tidak ada guna percaya kepada Tuhan akhirnya lari dari ibadah kepada Tuhan. Justru semakin kita lari semakin kita tidak menemukan jawaban. Memang betul, di pelataran itu terjadi hal yang paradoks. Kenapa orang yang datang berbakti kepada Tuhan hidupnya tidak lebih lancar daripada orang yang tidak percaya Tuhan? Terjadi kesulitan paradoks seperti itu. Tetapi justru di pelataran Tuhan itu pemazmur menemukan jawabannya. Persoalan bukan di dalam diri Tuhan; persoalan itu di dalam diri saya. Tetapi begitu aku datang ke rumah Tuhan barulah aku mengerti bahwa kesudahan hidup mereka jauh lebih menderita, jauh lebih sengsara, jauh lebih kasihan daripada saya. Karena Tuhan hanya taruh mereka di atas batu yang licin, sedikit jalan mereka sudah jatuh tergelincir. Ketika aku masuk ke pelataran rumah Tuhan, barulah aku tahu kebinasaan orang-orang yang tidak percaya Tuhan.

Belajar selalu berpikir kekayaan kita bukanlah hal yang berupa materi. Belajar berpikir engkau adalah orang yang kaya yang jauh lebih kaya daripada orang yang memiliki materi yang banyak. Bukankah Rockefeller sendiri berkata, “The poorest man I know is the man who has nothing but money.” Orang yang paling miskin adalah orang yang tidak memiliki apa-apa selain uang. Jangan tergoda untuk melihat kemiskinan kita hanya diukur dari berapa banyaknya materi yang kita miliki. Paulus bisa berkata, dalam kemiskinanku aku telah memperkaya banyak orang. Di dalam kesulitanku aku tetap bisa membagikan banyak hal kepada orang. Bagi engkau yang terus berpikir aku harus sukses dan kaya secara materi, hari ini saya panggil saudara datang kepada Tuhan dan saya ingatkan kepadamu, itu semua adalah hal-hal yang tidak dapat engkau sandari. Bencana yang terjadi baru-baru ini begitu jelas mengingatkan kita, kesuksesan, kemakmuran, segala sesuatu seolah gampang dan mudah, segala sesuatu bisa diprediksi dengan baik, namun ketika fondasi itu goncang dan goyah engkau akan tahu ada kekayaan sejati yang tidak pernah akan binasa. Biar kita mengejar apa yang lebih penting daripada hidup ini. Berbahagialah dia yang datang ke pelataran rumah Tuhan dan tahu ada nilai yang lebih kekal daripada sekedar materi; ada Tuhan yang tidak pernah berubah di atas dari harta yang mudah berubah ini.

Ada kesalahan dari pemazmur Asaf yang membawa dia kepada kebingungan, namun ayat 15 dia bersyukur karena dia tidak jadi mengucapkan kata-kata yang akan dia sesali. Kontrol ucapan yang keluar dari mulut kita. Jangan terlalu cepat mengeluarkan semua kata-kata yang negatif dan tidak baik yang akhirnya kadang-kadang menjadi “self fulfillment prophecy” dalam hidup kita. Jangan setiap kali bangun pagi apapun yang muncul dalam pikiran kita langsung muncul di facebook. Orang yang terlalu cepat selalu keluarkan kata-kata yang negatif, terlalu cepat bereaksi dengan kata-kata, kurang sanggup bisa mengontrol ucapan dari mulutnya, akan menyadari efeknya bisa berantai. Asaf hampir saja mengeluarkan kata-kata, “Sia-sia ikut Tuhan, sia-sia percaya Tuhan, sia-sia datang kepada Tuhan. Apa gunanya jadi orang baik? Lebih baik jadi orang jahat saja.” Kalimat-kalimat seperti itu hampir saja keluar dari mulutnya. Untung saja tidak jadi dikatakan. Dengan kata lain, pemazmur ingin mengajak kita melihat kembali bagaimana cara dan pola berpikir kita, pikiran-pikiran yang negatif yang tidak ada gunanya jangan cepat keluar dari mulut kita. Tahan sedikit, sabar sedikit, karena kita belum tahu semua sampai akhirnya, jangan cepat-cepat mengeluarkan kesimpulan akhir. Bukan itu saja, karena kalau aku terlalu cepat berkata-kata, aku akan mengkhianati angkatan generasi selanjutnya. Itu akan menjadi satu kesaksian yang tidak indah dan tidak baik bagi mereka. Memang kesadaran ini tidak berarti kita akan segera menemukan jawaban; tidak berarti setelah kita mengerti keadaan dan situasi kita langsung berubah membaik; kita mungkin tetap akan mengalami hal-hal yang sama. Meskipun sebagai orang Kristen kita sudah berjalan dengan jujur dan baik, belum tentu hidup kita akan berhasil. Itu adalah fakta dan realita.

“Aku dungu. Aku tidak mengerti. Seperti hewan aku didekatmu…” (ayat 23). Pemazmur merefleksi diri dan dia mengatakan ”…this is my ignorant thinking.” Binatang tidak pernah kuatir dan cemas, bangun pagi dia keluar makan rumput yang ada. Banyak orang berpikir hidup kita seperti itu juga, kita bangun pagi-pagi, bekerja mencari makan dan membesarkan anak, terus hidup berputar-putar seperti itu, kita berpikir itulah hidup kita. Kita berpikir hanya ini yang paling penting di dalam hidupku. Something wrong in my thinking. It is ignorance and improper. Memahami semua ini, tidak persoalan salah di pihak Tuhan, persoalan yang terjadi sebab saya memiliki pola pikir yang ignorance, bodoh, tidak berpikir dengan dalam-dalam, tidak tahu bahwa saya ini manusia yang memiliki kebutuhan yang jauh lebih daripada sekedar hal-hal pemenuhan hidupku di atas muka bumi ini. Kalau begitu, apakah berarti semua ini beres, semua ini lancar, semua ini selesai, saya kembali kepada Tuhan, saya trust kepadaNya, saya berdiri di pelataran rumah Tuhan, dan semua akan menjadi berubah sama sekali? Tidak. Kalau saudara baca Mzm.73 ini, terjadi perubahan yang lain, pemazmur berkata, “Kalaupun akhirnya kemiskinan membuatku lapar, kelaparan itu membuat dagingku habis hingga kulit pembungkus tulang yang tersisa, Tuhan jauh lebih penting daripada semua itu” (ayat 27). Artinya, pemazmur sampai kepada the worst scenario dari hidup, tetapi kita akan balik kembali: adakah Tuhan yang memberikan sesuai dengan kekayaan kemurahanNya akan membiarkan engkau seperti itu? Adakah Tuhan yang berkuasa intervensi dalam hidupmu tidak menghentikan tangan jahat datang kepadamu terus-menerus? Adakah Tuhan di surga tidak mendengarkan seru doa anak-anakNya yang meminta kepadaNya? Dengan kata lain, the worst scenario ini tidak akan sampai terjadi. Tetapi sekalipun sampai akhirnya the worst itu terjadi, itu tidak merubah Tuhan adalah kekuatan dan bagianku untuk selamanya.

Kiranya hidup kita tidak lagi mengalami kebingungan rohani. Biar kiranya firman Tuhan pada hari ini boleh mencerahkan hidup kita. Tuhan mengatakan siapa yang hidup takut kepadaKu, engkau mendengarkan firmanKu, biar firman itu menjadi pelita yang memimpin jalanmu. Apa yang salah, apa yang membuatmu confused dan bingung? Sebab engkau melihat kemakmuran orang yang tidak percaya Tuhan dibandingkan dengan hidupmu. Engkau bingung sebab apa yang sudah engkau percaya Tuhan, kenapa itu tidak ternyata di dalam hidupmu. Engkau merasa beriman kepada Tuhan menjadi sia-sia, beriman hanya menjadi ilusi belaka. Kita tergoda mau ikut jalan orang yang tidak percaya Tuhan. Biar mata kita terbuka jelas sebab kita tahu siapa yang kita percaya, kita tahu siapa yang kita sembah. Kita sadar kita terbatas, kita seringkali hanya mengerti dan mendefinisikan pekerjaan dan berkat Tuhan hanya di dalam hari-hari kita yang singkat. Kita tidak mampu melihat seluruh rangkaian hidup kita ke depan. Itu sebab kita menjadi takut, gelisah dan kuatir. Biar Tuhan hari ini meneduhkan hati kita karena kita tahu Dia Allah yang berkarya di dalam hidup kita. Kita serahkan hidup kita, pekerjaan kita, keluarga kita, pelayanan kita ke dalam tangan Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

20 Maret 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: