Home > Effendi Susanto > Mari Kita Melayani DIA

Mari Kita Melayani DIA

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Lukas. 17:1-19

Setiap kali kita membaca Injil Sinoptik, khususnya Injil Lukas secara spesifik menyebutkan ada tiga kelompok orang yang mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Kelompok yang pertama adalah secara khusus Yesus mengajar dan mendidik murid-muridNya. Ini adalah kelompok yang tidak ada resistansi terhadap Yesus. Mereka adalah orang yang sudah percaya Yesus, orang yang mengikut Yesus dan melayani bersama-sama. Kelompok yang kedua adalah kelompok orang banyak. Di tengah-tengah kelompok orang banyak ini maka ada dua kemungkinan reaksi, yang pertama adalah orang yang simpatisan kepada Yesus dan yang kedua adalah orang yang non believers yang ingin mendengar ucapan Yesus. Saudara akan menemukan cara pengajaran Yesus memiliki perbedaan kepada dua kelompok ini. Lalu kelompok yang ketiga adalah kelompok imam-imam dan orang Farisi. Ini adalah kelompok yang datang mendengar khotbah Tuhan Yesus sama sekali tidak bertujuan untuk percaya dan menerima Tuhan Yesus. Tujuan mereka hanya satu, yaitu ingin mencari kelemahan dan kesalahan dari ajaran Yesus untuk mempersalahkan Dia.

Luk.17 memperlihatkan bagian secara khusus Yesus mengajar kepada kelompok yang pertama yaitu murid-muridNya. Banyak penafsir mengatakan ini adalah pengajaran yang bersifat agak lepasan, dikumpulkan oleh Lukas dengan tidak memiliki tujuan logika yang saling berkaitan. Ini adalah kesimpulan yang salah. Memang nampaknya seolah-olah seperti itu, tetapi tidak demikian. Yesus masuk kepada pendekatan mengajar kepada murid-murid dengan serius secara negatif mengenai dua hal. Yang pertama, hati-hati jangan sampai pengajaran murid-murid itu menjadi pengajaran yang menyesatkan. Yang kedua, hati-hati jangan sampai prilaku dan tingkah laku kehidupan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan, sehingga Yesus mengingatkan mereka, “Jagalah dirimu.” Rasul Paulus mengumandangkan kembali kalimat ini pada waktu dia memberi nasehat kepada Timotius, “Hai Timotius, awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu” (1 Tim.4:16). Yesus berkata, memang akan ada penyesatan tetapi celakalah mereka yang melakukan penyesatan itu kepada orang-orang yang imannya lemah. Ini adalah kalimat peringatan yang serius kepada murid-murid supaya setiap murid berhati-hati di dalam memberikan pengajaran. Jangan sampai engkau menjadi seorang yang mengajar dan pengajaranmu itu tidak benar. Celakalah dia, lebih baik sebuah batu kilangan diikatkan ke lehernya dan dia mati terbenam di laut. Artinya lebih baik dia mati sendiri daripada mencelakakan banyak orang.

Pelayanan dari mimbar, pelayanan dari guru-guru Sekolah Minggu, pelayanan apa saja yang kita lakukan jangan sampai kita tidak memperhatikan dengan serius apa yang kita ajarkan dan apa yang keluar dari mulut kita. Satu doktrin yang kuat, satu pengajaran yang kita tahu telah teruji di dalam sejarah dan sesuatu yang bisa dilihat, dianalisa dan dibuktikan di dalam sejarah adalah sesuatu yang setia kepada Alkitab. Ini adalah hal yang sangat penting.

Saya tidak mengerti sekarang kenapa sudah banyak orang yang mengaku hamba Tuhan di Indonesia tidak mau lagi memakai embel-embel “pendeta” atau “evangelist” tetapi sekarang pakai dua istilah yang lebih keren, “prophet/nabi” dan “apostle/rasul.” Sebenarnya jabatan pendeta adalah satu pengakuan dari satu komunitas Kristen yang mengetahui orang tsb mendapat panggilan dari Tuhan, yang pelayanannya teruji, yang sudah mencukupkan syarat-syarat minimal secara pelajaran, dsb. Lalu jemaat itu tidak memiliki satu keberatan, maka mentahbiskan dia menjadi pendeta. Saya tidak boleh entah muncul dari mana lalu tiba-tiba di depan nama saya sembarang saya beri tambahan embel-embel pendeta. Lalu ini tahu-tahu muncul orang-orang yang pakai embel-embel “nabi” dan “rasul” di depan namanya, siapa yang angkat dan apa motivasinya? Apakah karena mereka tidak mau disejajarkan dengan pendeta sehingga memiliki misteri yang lebih mistis? Lalu mereka berargumentasi, bukankah di Alkitab Tuhan memberi kepada jemaat lima jabatan: Gembala, Penginjil, Guru, Nabi dan Rasul.

Setelah rasul Paulus, tidak ada lagi di dalam Alkitab orang yang memiliki jabatan ini. Kenapa? Ada beberapa hal yang penting, pertama, dalam Kis.1:21-26 ada beberapa syarat penting seseorang diangkat menjadi rasul yaitu orang itu selalu ada sejak baptisan Yohanes sampai kepada kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Lalu di dalam surat Korintus ada indikasi jemaat Korintus sedikit memiliki keberatan akan bukti kerasulan Paulus, maka Paulus meneguhkan kerasulannya dengan Yesus menyatakan diriNya sendiri di hadapan Paulus. Setelah itu di Efesus Paulus mengatakan rasul dan nabi adalah fondasi Gereja. Fondasi berarti di awal waktu Gereja berdiri, Yesus Kristus adalah Batu Penjuru, rasul dan nabi menjadi fondasi (Ef.2:20). Ini adalah ilustrasi mengenai bangunan. Semua orang bangunan dari dulu tahu tidak ada fondasi yang dibangun di lantai dua dan seterusnya. Fondasi hanya dibangun di awal, lalu sesudah itu bangunan dibangun di atasnya. Kita bandingkan kalimat Paulus dalam Fil.1:1, “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Yesus Kristus” dan Kol.1:1 “Dari Paulus, rasul Yesus Kristus dan dari Timotius.” Sebagai pemberita firman, sebagai pengajar, sebagai hamba Tuhan, statusnya sama. Tetapi yang menjadi rasul hanya Paulus. Sebab itu kalau saudara baca, Paulus tidak pernah dan tidak boleh menyebut Timotius sebagai rasul. Lalu kenapa tiba-tiba di tahun 2011 ini banyak orang tiba-tiba mengangkat dirinya menjadi rasul? Saya mempertanyakan motivasinya, saya mempertanyakan pengangkatannya, saya mempertanyakan kejujurannya.

Gereja tidak henti-hentinya menghadapi tantangan dari luar, Gereja juga tidak henti-hentinya menghadapi tantangan dari dalam. Di tengah-tengah pelayanan kita ada tantangan yang serius, ada tantangan yang sekunder; ada tantangan ketidak-cocokan secara pribadi, ketidak-enakan di atara sesama pelayan, clash satu sama lain, itu lebih sekunder. Tetapi pada waktu kebenaran firman Tuhan, Injil yang sejati diselewengkan dan dipermainkan, itu harus menjadi satu tantangan yang serius. Itu sebab tidak boleh kita dengan mudah bikin Gereja dimana-mana kecuali kita sadar dan tahu kita perlu keluar dari satu komunitas kita perlu menegakkan satu Gereja selama hal yang bersifat primer dan prinsipil ini tidak bisa jalan sama-sama. Ini point yang penting. Waktu satu pengajaran sudah tidak benar, orang yang mengajar sudah menyeleweng, kita perlu menyatakan sikap dan menegakkan satu Gereja yang benar.

Lalu sesudah bicara mengenai hal ini, Yesus kemudian bicara mengenai hubungan relasi, mengenai persoalan pengampunan. Setelah mengajar, kalau kemudian akhirnya di dalam hidup sehari-hari ada gap antara ajaran dan yang kita lakukan, itu adalah hal yang memalukan. Maka kemudian Yesus masuk kepada satu aspek yang sangat penting karena ini adalah aspek yang kita hadapi sehari-hari. Siapa yang sehari-hari selalu harmonis hidup dengan orang lain? Mungkin justru dengan orang-orang yang paling dekat dengan kita, pasangan atau anggota keluarga yang lain kita bisa ada konflik dan perselisihan. Itu sebab Yesus bicara mengenai pengampunan di sini.

Yesus berkata kepada murid-muridNya kalau ada seseorang yang bersalah hingga tujuh kali kepadamu dan tujuh kali juga dia menyesal dan minta maaf, maka engkau harus mengampuni dia. Ini bukan bicara mengenai pengampunan yang murah karena Yesus menekankan adanya pertobatan dan penyesalan dari orang yang bersalah itu. Sesudah itu muncul reaksi yang intrigue dari murid-murid, “Tuhan, tambahkanlah iman kami.” Memang Alkitab tidak mencatat intonasi dan ekspresi dari kalimatnya, sehingga bisa ditafsir secara positif kalimat murid-murid meminta Tuhan menambahkan iman mereka lebih kuat. Tetapi bisa juga sebenarnya kalimat ini justru merupakan kalimat yang mencela dan melecehkan Yesus. Yesus suruh kita mengampuni orang sampai tujuh kali sehari? Wah, itu membutuhkan iman yang besar. Maksudnya, mereka tidak bisa melakukan hal seperti itu. Orang yang bisa mengampuni tujuh kali sehari itu perlu iman yang kuat. Yesus dengan tegas mengatakan, iman sekecil biji sesawi sanggup memindahkan pohon ara yang besar ke laut.

Ada dua hal yang terjadi setelah itu, menjadi pembentukan Yesus dengan serius kepada murid-muridNya menegaskan apa artinya menjadi seorang murid Tuhan. Pertama, Yesus membuat satu cerita dengan satu fungsi dan tujuan tertentu. Lalu setelah itu terjadi satu peristiwa faktual yang menegaskan kembali panggilan Dia kepada murid-murid, dari sepuluh orang kusta yang datang minta kesembuhan dariNya. Dua hal ini dirangkai oleh Lukas menjadi satu tujuan yang penting apa artinya kita melayani Tuhan, apa artinya kita disebut murid-murid Tuhan Yesus.

Yesus mengajarkan soal panggilan pengampunan. Pengampunan itu bukan soal perasaan hatimu. Saya tidak meremehkan hatimu terluka, saya tidak meremehkan mungkin engkau menjadi korban yang dipersalahkan atau diperlakukan tidak adil, dan saya tidak meremehkan engkau perlu proses waktu untuk menyembuhkan luka hati oleh sebab tujuh kali orang sudah berbuat salah dan sekarang dia datang minta ampun kepadamu, itu tidak bisa hilang dalam tujuh hari, apalagi tujuh tahun. Mungkin sesudah umur 70 tahun engkau bisa melupakannya karena sudah pikun. Pengampunan bukan soal konseling. Pengampunan bukan soal perasaan hati. Pengampunan adalah soal karena Yesus Tuhan dan Allah kita yang mengatakan dan memerintahkannya. Kalau engkau menyebut Aku Tuhan, maka Akulah pemilik hidupmu. Kalau engkau menyebut Aku Tuhan, maka Akulah penguasa hidupmu. Kalau engkau menyebut Aku Tuhan, maka engkau adalah hamba-hambaKu. Kalau engkau menyebut Aku Tuhan, maka setiap perkataanKu adalah ya dan amin. Kalau engkau menyebut Aku Tuhan, maka bakti, sembah dan pelayananmu semata-mata tertuju kepadaKu. Dan sekarang Tuhanmu berkata seperti ini dan engkau tidak mau terima?

Maka Yesus kemudian memberi satu cerita. Ada seorang kaya yang memiliki banyak hamba. Pada waktu hamba-hambanya itu pulang setelah seharian bekerja di ladang, apakah tuan itu akan berterimakasih kepada mereka? Bukankah tuan itu akan menyuruh mereka mempersiapkan makan malam dan melayani tuannya sampai selesai makan? Dan bukankah hamba-hamba itu akan berkata, kami hanyalah hamba yang melakukan apa yang diperintahkan tuan kami untuk kami kerjakan. Kalau engkau mau melayani Tuhan, maka dua kontras ini muncul: sesuatu yang merupakan tugas tanggung jawab kita tidak boleh kita rubah menjadi jasa. Sebaliknya, sesuatu yang merupakan anugerah pemberian Tuhan tidak boleh kita rubah menjadi hak. Kita dipanggil sebagai hamba, kita dipanggil sebagai murid, kita dipanggil sebagai orang yang sudah ditebus dengan harga yang mahal, kita mengerti dan mengetahui status dan posisi kita sebagai hamba Tuhan, budak Tuhan, yang mengerti ada tugas, ada tanggung jawab, ada responsibility yang harus kita kerjakan. Dan pada waktu tanggung jawab itu kita kerjakan, saya tidak boleh rubah itu menjadi jasa. Saya tidak boleh menganggap saya patut menerima ucapan terima kasih. Saya tidak boleh menganggap saya sudah melakukan hal yang besar dan perkara yang besar.

Sebagai anak-anak Tuhan tahukah kita apa yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban kita kepadaNya? Sebagai orang yang mencintai, melayani Tuhan yang sudah menebus kita seperti seorang budak yang papa dan terlantar di tempat kumuh dan Dia panggil dan membawa kita masuk ke dalam rumahNya, mengertikah kita apa arti tanggung jawab, apa arti kewajiban? Orang yang mengerti konsep tanggung jawab berarti orang itu adalah orang yang tidak pernah menyalahkan orang lain atas hidupnya. Kita tidak boleh menganggap hidup kita ini adalah tanggung jawab dari orang lain. Orang yang selalu mengeluh, orang yang selalu mempersalahkan orang lain adalah orang yang tidak mengerti bahwa dia harus bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Dan pada waktu saudara menambah tanggung jawab kepada orang, itu berarti selain saudara percaya, saudara juga tahu dia sudah dewasa. Salahlah kita kalau kita memberi tanggung jawab kepada anak kita yang baru berumur 2 tahun untuk membawa piring kotor ke dapur. Salahlah kita kalau memberi tanggung jawab kepada anak yang berumur 12 tahun boleh pergi jalan-jalan sampai jam 11 malam. Waktu dia bertambah besar, kita akan memberi tanggung jawab sesuai dengan umurnya. Tetapi kita akan menahan tanggung jawab itu kalau ternyata dia belum bisa bertanggung jawab atas hal itu. Kewajiban tanggung jawab hanya dimengerti oleh orang-orang yang tahu bahwa hidup ini adalah tugas tanggung jawab kepada diri sendiri. Kita tidak boleh salahkan orang lain.

Kedua, orang yang mengerti tanggung jawab dan kewajiban dalam hidupnya berarti orang itu mengerti relasi yang benar. Itu sebab Paulus bilang, hormatilah orang yang patut dihormati, respek kepada orang yang patut menerima respek (Rom.13:7). Anak-anak pendeta harus dilatih untuk mengerti kewajiban tanggung jawab dengan baik supaya bisa memahami relasi dengan benar. Bahaya sekali menjadi anak pendeta sebab setiap hari Minggu pasti ada jemaat yang datang memberi oleh-oleh kepada dia, sehingga banyak anak pendeta tidak memahami bagaimana mengerti tanggung jawab dengan baik. Relasi yang tidak benar, aku selalu terima tetapi tidak memberi. Aku selalu dihormati, aku lupa menghormati. Relasi itu bersifat bolak-balik. Saya menghargai orang itu sebab dia patut menerima penghargaan. Orang yang menghargai saya, saya juga patut menghargai dan menghormati dia. Ketiga, orang yang mengerti tanggung jawab dan kewajiban adalah orang yang mengerti konsep keadilan. Itu sebab point yang pertama ini penting, Yesus bicara setiap kita yang menjadi murid Tuhan memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Kalau itu tugas tanggung jawab kita, kita kerjakan di dalam batasan tugas dan tanggung jawab itu dan kita tidak bisa mengatakan kepada Tuhan atau kepada orang lain ini adalah jasaku.

Saya harap usia 12 tahun menjadikan satu moment mendewasakan setiap kita. Dalam kalender orang Yahudi, 12 tahun adalah usia yang sangat penting. Seorang anak laki-laki menjadi anak Taurat, bar mitzvah pada usia 12 tahun. Pada waktu itu dia akan diberi torah dan itulah saat dia dianggap sudah dewasa untuk harus baca torah. Biar kita memasuki usia 12 tahun gereja kita dengan sikap seperti ini. Tuhan, kami hanyalah hamba-hambaMu. Kami diberi tugas, kami diberi tanggung jawab, ini adalah bagian dari tanggung jawab kami. Dan pada waktu kita mengerjakannya. mari kita kerjakan sebagai tugas dan tanggung jawab kita dengan sebaiknya.

Selanjutnya, satu peristiwa terjadi. Ketika Yesus berjalan, ada sepuluh orang kusta datang dan berteriak dari jauh kepadaNya. Orang yang sakit kusta tidak boleh mendekat kepada orang yang sehat. Di dalam aturan orang Yahudi dia harus kasih warning sign, “Najis, najis.” Tetapi kali ini mereka melihat Yesus dan berteriak kepadaNya, “Yesus, Guru, kasihanilah kami.” Maka Yesus menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada imam, kalau mereka terbukti telah sembuh maka imam itu akan menyatakan mereka sembuh. Tetapi Yesus menyuruh mereka berjalan kepada imam. Dan langkah itu memerlukan iman percaya mereka, sebab pada saat itu faktanya mereka belum sembuh dan ada resiko mereka akan mati dilempari batu kalau ternyata mereka masih najis. Di tengah perjalanan, Alkitab mencatat, mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka adalah orang Samaria, seorang asing, seorang yang dianggap lebih hina oleh orang Yahudi.

Menjadi murid Tuhan, berhati-hatilah dengan aspek ini, anugerah pemberian Tuhan yang tidak layak kita terima tidak boleh dijadikan sebagai hak yang semestinya terjadi di dalam hidupmu. Pengucapan syukur baru bisa keluar dari hati yang dalam, dari seorang murid Tuhan yang mengerti dan sadar akan hal ini. Tuhan, ini adalah pemberianmu yang baik, aku tidak layak menerimanya. Kalau sudah terjadi sesuatu hal yang tidak semestinya saya dapat, ini bukan hak saya, I cannot take it for granted. Tetapi fakta hanya satu orang yang kembali berterima kasih kepada Yesus menjadi kenyataan dan fakta dalam hidup kita sehari-hari, bukan? Kita jarang mengucap syukur, karena kita bisa terjebak jatuh kepada kesalahan yang sama seperti sembilan orang kusta yang tidak berterima kasih kepada Tuhan.

Hari ini, lahirkanlah hati yang bersyukur kepada Tuhan sebab banyak hal yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita tidak selayaknya kita terima. Kita memiliki konsep adil, kita juga memiliki konsep grace. Maka saya harap di dalam kehidupan pelayanan kita, kita menghargai mencintai secara adil orang yang sepatutnya terima keadilan. Tetapi di tengah-tengah itu kita juga belajar memberi grace kepada orang. Jangan dikontraskan, banyak orang terus-menerus kasih grace, tetapi kita lupa menyatakan keadilan. Apa itu adil? Adil adalah tanggung jawab kita, kewajiban kita, lakukan tugas itu sebaik-baiknya. Pada waktu anugerah pemberian itu datang kepada kita, belajar untuk melihat itu bukan sebagai hak kita. Kemana sembilan orang yang lain itu? Ini sesuatu pertanyaan yang sangat sedih dari mulut Tuhan Yesus. Kenapa hanya satu orang ini yang kembali, dan orang ini adalah orang asing. Kecuali satu hal, sebab dia rasa betul-betul tidak layak menerima hal ini. Itu sebab saya tidak harus menjalankan kewajiban agamaku lebih penting; saya harus datang pertama-tama kepada Tuhan karena saya ingin mengucap syukur, berterima kasih dan tersungkur di kaki Tuhan yang sudah memberi semua ini kepadaku.

Pdt. Effendi Susanto STh.

8 Mei 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: