Home > Effendi Susanto > Nestapa Batin karena Dosa

Nestapa Batin karena Dosa

Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia. Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!

Mazmur 32

Mzm.32 adalah satu mazmur yang penting dari Daud bicara mengenai kebahagiaan. Kita jujur mengaku, ini adalah tujuan hidup yang ingin dicapai oleh semua orang. Semua yang dikerjakan, semua yang direncanakan, semua yang dibangun, tidak ada yang lepas dari tujuan akhir ini, yaitu sukacita dan bahagia. Inilah yang men-drive semua aktifitas manusia, bekerja, membangun rumah tangga, membangun usaha, membesarkan anak-anak, dsb. Keinginan ini tidak salah. Tuhan ingin manusia menikmati sukacita dan bahagia. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan ingin merebut dan mencabut sukacita manusia. Dia bukan Tuhan yang tidak suka orang berbahagia. Banyak orang Kristen memiliki pikiran yang salah seolah-olah Allah itu adalah “the joy-killer.” Itu tidak benar. Lihatlah alam semesta yang Tuhan cipta ini begitu indah dan agung, memberitahukan kepada kita betapa indah dan agungnya Allah kita. Tuhan tidak menciptakan dunia yang kering, gersang dan abu-abu melulu. Allah kita adalah Allah yang menginginkan kita menikmati kebahagiaan. Itu sebab tidak salah jika di dalam satu keluarga ada kebahagiaan dan kesenangan yang berlimpah. Di dalam kita membangun rumah, rumah yang besar, rumah yang bagus dan megah, kita bisa menikmati sukacita disitu. Tetapi adalah sia-sia kita membangun rumah, rumah yang besar dan megah, kalau Tuhan tidak memberkatinya, itu yang Mzm.127:1 katakan. Bangun keluarga di dalam takut akan Tuhan, karena di situ sukacita keindahan akan engkau nikmati. Namun sebagai orang Kristen kita tidak boleh mengerti konsep bahagia hanya di dalam lapisan luar seperti itu. Kita tidak boleh melihat bahagia itu terjadi hanya pada waktu engkau pakai baju yang mahal, kita tidak boleh melihat bahagia itu berdasarkan rumahmu lebih mewah dan lebih besar daripada rumah orang lain. Bahagia tidak boleh diukur dengan ukuran seperti itu. Maka Mzm.32 bicara mengenai satu bahagia yang lebih dalam lagi yaitu betapa berbahagia dan diberkati orang yang berjalan hidup harmonis bersama dengan Tuhan, blessed are those who walk with the Lord in harmony. Inilah kebahagiaan yang terindah dan terdalam, yaitu spiritual joy and spiritual happiness.

Menarik sekali, dalam Mzm.32 Daud menyebut dua kali kata “menyembunyikan,” to cover up. Di ayat 1 Daud berkata, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, berbahagialah orang yang dosanya disembunyikan Tuhan.” Di ayat 5 kata ini muncul lagi, “Dosaku kuberitahukan kepadaMu; kesalahanku tidak kusembunyikan…” Adalah bahagia orang yang kesalahannya disembunyikan oleh Tuhan, orang yang dosanya Tuhan tutupi. Lalu selanjutnya dia kontraskan betapa kasihan, betapa susah dan betapa sengsaranya hidup orang yang dililit oleh kebohongan kalau dia hidup menyembunyikan pelanggaran dan dosa-dosanya. Ada kesedihan dan kesusahan tidak habis-habisnya pada orang yang menyembunyikan dosanya. Kita tidak tahu dengan jelas dalam konteks apa mazmur ini ditulis. Mazmur 51 adalah mazmur yang lebih jelas konteksnya yaitu mazmur itu ditulis setelah dosanya berzinah dengan Batsyeba dibuka oleh nabi Natan. Tidak jelas apakah Mzm.32 ini ditulis oleh Daud sebelum atau sesudah peristiwa tsb, tetapi kalau melihat dari isi kalimat mazmur ini kita bisa mengambil kesimpulan mazmur ini juga ditulis sesudah peristiwa itu.

Manusia berkecenderungan untuk menyimpan dan menyembunyikan, berusaha meng-cover up apa yang menjadi dosa dan kesalahannya. Ketika seseorang berdosa, ketika seseorang berbuat salah, akan ada dua tindakan yang dia lakukan. Ini adalah tradisi yang sudah turun-temurun sejak Adam berbuat dosa, yaitu dia menutup ketelanjangannya dan lari bersembunyi. Selama dosa itu disembunyikan, ditekan sekuat tenaga, sepintar mungkin, rasa bersalah dan rasa malunya tidak akan bisa diselesaikan dan seluruh energi hidup akan dilumpuhkan olehnya. Sekuat-kuatnya, semampu-mampunya, sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan sesuatu yang tidak benar di dalam hidupnya, suatu kali kelak dia akan terbuka dan ternyata. Itu yang dikatakan oleh Daud di sini, “Tulang-tulangku menjadi lesu, aku tertekan, sumsumku menjadi kering…” (ayat 3-4). Tekanan kepada jiwa yang berusaha menyimpan kesalahan menghasilkan dukacita yang dia derita siang dan malam. Inilah fakta akibat dosa dan kesalahan yang dia lakukan.

Nabi Natan datang menegur Daud dengan cara yang sedikit berbeda. Dia tidak langsung menyatakan dosa dan kesalahan Daud, tetapi menyampaikannya dengan satu perumpamaan. Nabi Natan menggambarkan ada seorang miskin yang hanya memiliki seekor domba yang sangat dia sayang. Lalu ada seorang kaya raya yang memiliki banyak domba tetapi ia kemudian merebut domba dari orang miskin itu. Mendengar kisah itu Daud menjadi sangat marah dan hendak menghukum orang kaya itu. Tetapi dia menjadi sangat terkejut ketika jari nabi Natan kemudian menuding dia dan berkata, “Engkaulah orang itu, ya raja Daud!” (2 Sam.12:1-7). Daud telah mengambil isteri Uria, yaitu Batsyeba. Sebelum itu Daud sudah memiliki banyak isteri dan banyak gundik. Lalu sewaktu melihat isteri Uria dia ingin memilikinya. Maka dengan segala cara dan tipu daya, dia mengambil wanita itu. Maka selanjutnya semua menjadi proses cover up yang terus melilit hidupnya. Pertama dia berzinah dengan isteri orang. Lalu setelah ternyata isteri orang itu hamil akibat perbuatannya, Daud berusaha menutupinya dengan menyuruh Uria pulang untuk tidur dengan isterinya supaya dia mengira isterinya hamil akibat kepulangannya itu. Tetapi usaha Daud itu tidak berhasil karena rupanya sebagai seorang prajurit yang baik, Uria memutuskan untuk tinggal di pintu istana dan tidak pergi ke rumahnya. Maka tidak bisa tidak Daud harus cover up lagi perbuatan dosanya. Dia mengirim kembali Uria ke medan perang dan luar biasa, Uria pergi membawa surat bagi jenderal Yoab berisi perintah untuk menempatkan Uria di baris paling depan supaya dia mati. Uria tidak curiga sama sekali terhadap usaha jahat Daud, dan akhirnya dia mati di medan perang. Seumur hidup Yoab pegang surat Daud menjadi jaminan Daud tidak bisa buat apa-apa terhadap apa yang Yoab lakukan karena rahasia itu ada di tangan dia (2 Sam 11). Selama dosa itu terus dia simpan dan sembunyikan, Daud tidak pernah merasakan kelegaan dan kebahagiaan. Guilt and shame, itulah dua reaksi yang terjadi pada waktu seseorang berdosa. Dia akan bereaksi marah pada waktu orang menyatakan kesalahan itu. Tetapi dengan marahnya seolah-olah dia menunjukkan pembenaran atas dirinya sendiri padahal itu cuma usaha cover up. Ini bagian pertama yang kita lihat dari Mzm.32, bagaimana Daud secara gamblang memperlihatkan selama-lamanya engkau menyembunyikan dosa-dosamu, inilah yang akan terjadi kepadamu. Hidup di dalam dosa, menyimpan ‘skeleton in your closet’ menghilangkan seluruh sukacita dan bahagia dari dirimu.

Mengapa manusia memiliki kecenderungan seperti ini? Ini merupakan satu aspek yang coba kita pikirkan pada hari ini. Waktu kita bicara mengenai pertobatan, waktu kita bicara mengenai dosa dan guilt, ingatkan baik-baik, Psikologi dan Psikoanalisis juga bicara akan hal itu bukan? Tetapi tanpa Tuhan, tanpa dasar rohani, maka Psikologi dan Psikoanalisis bicara mengenai guilt dan dosa hanya akan melihat dari aspek instinct dan impulse yang ada di dalam diri manusia. Sigmund Freud menulis satu buku berjudul “Totem and Taboo” yang sekarang ini mungkin sudah tidak dianggap representatif pemikiran dia, di situ dia menganalisa darimana sebenarnya datangnya konsep benar salah manusia. Pada waktu kita bicara mengenai konsep benar salah, filsafat Barat dan filsafat Timur mempunyai pendekatan yang berbeda. Di dalam filsafat Barat yang kena pengaruh Kekristenan melihat konsep benar salah itu datangnya dari Allah yang berpribadi. Sebaliknya di dalam filsafat Timur tidak melihat soal Pribadi Allah yang suci, adil dan benar di belakang semua itu tetapi lebih melihat kepada alam dan natur. Maka kalau saudara tanya kepada orang Cina konsep ini, dia akan mengatakan selama saya hidup benar dan baik, saya akan hidup harmonis dengan alam. Tidak ada konsep saya berbuat salah terhadap Satu Pribadi. Selama hidup saya harmonis dengan orang lain, selama hidup saya harmonis dengan alam, sebisanya hidup baik-baik, maka tidak akan terjadi apa yang buruk dalam hidupmu. Tidak ada kemiskinan datang dari alam selama kamu mengolah tanah dengan baik. Itu semua tidak akan terjadi selama ‘yin’ dan ‘yang’ itu balance. Power yang positif dan power yang negatif itu selalu ada, tetapi akhirnya kalau yang negatif itu terlalu banyak di dalam hidupmu itu karena kamu tidak balance dalam hidupmu. Sehingga di dalam budaya Timur, yang penting hidup tidak bikin salah sama orang lain, relasi harmonis saling respek dan tidak ganggu satu sama lain, maka hidup akan baik. Maka waktu ditanya datangnya konsep benar salah dalam diri manusia datangnya darimana, filsafat Timur akan bilang itu turun dari nenek moyang, sudah dari sananya. Sehingga banyak hal benar salah tidak pernah dipertanyakan, pokoknya nenek bilang seperti itu. “Jangan duduk di depan pintu waktu magrib, nanti diganggu setan; Jangan makan tebu malam-malam, nanti nenek mati,” dsb itu menjadi taboo dalam budaya Timur yang turun-temurun diberikan orang tua berdasarkan bijaksana dan pengalaman orang dulu berelasi dengan alam. Freud menganalisa akan hal ini, darimana datangnya konsep benar salah dalam diri manusia menjadi satu pertanyaan yang intrigue. Benar salah itu terus diturunkan per generasi sampai satu ketika generasi itu makin berpendidikan, maka mereka mulai sadar semua ajaran yang diturunkan itu bukan berdasarkan moral benar salah tetapi hanya soal taboo dan pamali. Maka Freud mengambil kesimpulan kalau orang semakin diedukasi, akhirnya dia akan melihat apa yang tadinya dipikir salah belum tentu salah dan apa yang tadinya dibilang benar belum tentu benar. Lalu setelah dia makin teredukasi, orang yang berpendidikan merasa dia tidak perlu lagi diajar oleh nenek moyang mengenai konsep benar dan salah. Dulu nenek moyang bilang kalau selama hidup kamu bikin salah, nanti kamu akan dapat balasan karma dan waktu mati kamu masuk ke dalam neraka. Sekarang setelah makin berpendidikan kita bilang itu cuma isapan jempol dan tahayul saja. Ini adalah cikal bakal pikiran Freud yang akhirnya memberikan pengaruh di dalam dunia pendidikan. Secara positif adalah kemudian orang-orang modern berpikir manusia harus teredukasi, pendidikan harus dikuatkan sehingga manusia mulai bisa memilah mana yang tahayul dan mana yang bukan tahayul. Tetapi sisi negatifnya, karena sisi edukasi, karena pikiran manusia menjadi yang terpenting, maka pikiran itu dianggap bisa mengganti Tuhan. Akibat daripada pikiran Freud ini nanti akan mempengaruhi Nazi. Karena dianggap Tuhan itu hanya kepercayaan nenek moyang yang tahayul maka orang modern tidak menganggap Tuhan itu ada dan karena Tuhan sudah tidak ada, manusia sudah tidak perlu takut kepada apapun juga berkaitan dengan hal benar salah. Maka orang berbuat baik kepada orang lain karena dia mau hidup sama-sama baik, harmonis dan selaras dengan orang. Orang berbuat jahat dan merugikan orang lain, tidak ada hubungannya dengan yang “di atas” melainkan hubungannya hanya dengan orang yang dirugikan itu. Maka orang bunuh orang, salah sama siapa? Hanya salah sama yang dia bunuh. Maka orang tidak bunuh orang supaya nanti selama hidup di dunia dia juga tidak dibunuh orang, bukan karena takut ada Tuhan yang akan hukum dia. Ini adalah pikiran yang berbahaya, karena dengan pikiran seperti ini orang berasumsi kalau orang makin berpendidikan maka dia akan semakin baik dan bermoral dan makin tinggi etikanya dan lebih bisa mengontrol dan mengatur yang lain. Kejahatan, amoralitas, orang menjadi buas, dsb itu adalah benih dari nafsu kebinatangan yang tidak dikontrol oleh edukasi. Tetapi sejarah membuktikan bedanya orang bodoh berbuat jahat langsung ketahuan dan ditangkap; orang pintar berbuat jahat tidak ketahuan dan yang jadi korban ditangkap adalah orang yang bodoh. Orang-orang pintar bisa mempermainkan hukum, bisa mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya dengan membodohi orang lain, dsb.

Waktu Jepang kena gempa bumi dan tsunami, dalam satu hari pasar saham Jepang amblas 60 billion dollar akibat permainan spekulan yang serakah dan oportunistik. Sekarang ini biaya hidup kita terus meningkat karena harga komoditi dasar seperti beras, jagung, kedelai dipermainkan oleh spekulan. Listrik, air dan gas diambil dan dikelola oleh perusahaan private sehingga rakyat miskin makin susah. Semua manusia punya hak untuk hidup, semua manusia punya hak untuk akses memperoleh kebutuhan dasar, tetapi saking terlalu mahal dan susah akhirnya orang tidak mampu lagi memperolehnya. Point saya adalah bagaimana edukasi pendidikan yang bikin orang makin pintar, makin hebat, makin baik, justru menjadikan orang itu kehilangan kompas moralitas di dalam hidupnya. Sigmund Freud sendiri sampai akhir hidupnya masih tetap mempertanyakan darimana datangnya konsep benar salah itu; apakah hanya berkaitan dengan harmoni alam? Tetapi kalau memang hanya berkaitan dengan harmoni alam, bukankah bisa diseimbangkan, bisa diberi pengertian, bisa dibereskan, dan seharusnya dunia berjalan lebih baik. Kedua, kalau cuma pakai konsep harmoni alam, jujur sebenarnya tidak ada konsep moralitas benar salah di dalam alam. Angin bertiup sebenarnya baik, tetapi waktu angin itu makin lama makin besar menjadi hurricane yang menghancurkan kota, bisakah manusia mempersalahkan hurricane? Tidak bisa. Yang ada ialah you harus percaya Tuhan dulu baru bisa bilang, “Tuhan, kenapa Engkau mengirim hurricane ini?” Jadi di dalam konsep harmoni alam tidak ada unsur moralitas. Moralitas benar salah harus berkaitan dengan Pribadi. Alkitab mencatat kita punya standar benar salah bukan sesuatu yang ada di dalam alam sekitar kita tetapi karena Allah sudah menaruh hati nurani sehingga ada Allah yang menjadi sumber benar salah manusia, yang menjadi tolok ukur benar salah manusia. Dialah yang menjadi penentu, dan manusia dicipta olehNya manusia hidup tidak akan pernah lepas dari benar salah itu. Yang ada adalah saking hebatnya manusia yang dicipta oleh Tuhan yang memiliki benar salah itu, kita bisa mempermainkan standar benar salah, kita bisa menipu benar salah itu. Yang dilakukan oleh manusia yang jatuh dalam dosa adalah terus-menerus cover up, menutupi dosa itu dengan dosa yang lain. Freud sendiri mengakui manusia bersalah bisa melakukan self deception. Hanya manusia satu-satunya mahluk yang sanggup bisa menciptakan self deception itu. Manusia menipu diri sendiri, dia sudah tahu dia lakukan dan dia bisa sembunyikan dan tidak mengaku melakukan, bahkan dia bisa merasa benar dan safe. Itulah yang Daud lakukan, sampai nabi Natan datang menegur dia, Daud tidak bisa lagi mengelak. Uria bisa dia tipu dan bunuh, tetapi Tuhan tidak bisa ditipu. Waktu telunjuk itu keluar menuding dia, di situ Daud tidak bisa mengelak lagi, itulah momen tudung yang menutup dosanya terbuka. Daud adalah seorang yang sudah mengalami suatu rasa malu yang tidak ada habis-habisnya. Ini adalah satu kejatuhan yang besar dari seorang pahlawan; ini adalah kejatuhan yang besar dari seorang yang luar biasa jaya. Akhirnya dia perlu menulis Mzm.51 untuk menyatakan betapa menyesalnya dia; dan saya rasa Mzm.32 ini merupakan satu analisa dia apa yang terjadi dengan dia, yang memiliki tendensi menyembunyikan sesuatu.

Ayat 8-9 Daud bicarakan aspek ketiga dalam mazmur ini yaitu “lesson learn.” Kita adalah manusia yang kecil dan lemah, kita gampang jatuh. Sebagai anak Tuhan kita sadar kalau kita tidak mungkin bisa tidak berbuat dosa dari bangun pagi hingga malam hari. Tetapi kita punya Tuhan yang kepadanya kita terus datang mengakui kelemahan kita dan Dia mengampuni dosa kita. Itulah indahnya, itulah sukacita kita, sebab Allah kita memiliki kekuatan dan kuasa mengampuni kita di dalam Kristus. Tetapi 1 Yoh.3:9 mengingatkan orang yang sudah percaya Tuhan namun terus-menerus berbuat dosa, mungkin kita harus bertanya dan meragukan apakah dia betul-betul sudah sungguh-sungguh percaya Tuhan. Maksudnya adalah kita mungkin bisa jatuh, tetapi jatuhnya kita itu hanyalah merupakan suatu pengecualian, suatu exception, karena kita tidak memiliki keinginan dan intention untuk terus berbuat dosa. Kenapa? Karena kita sudah “learn the lesson.” Itulah kalimat yang muncul dari mazmur ini. Orang jatuh satu kali, itu lumrah. Jatuh kali kedua, kita mungkin bertanya-tanya. Tetapi selanjutnya kalau jatuh terus-menerus di tempat yang sama, kita bilang orang itu tidak pernah “learn the lesson.” Maka setelah hidup bahagia ditebus oleh Tuhan, bagaimana saya menjalani hidup saya? Daud mengajarkan di dalam mazmur ini. Pengalaman memperlihatkan terlalu banyak yang kita belajar di sekolah adalah pelajaran yang membuat kita pintar di buku saja. Tetapi siapa di antara kita yang bisa menerima pelajaran mengenai hidup? Mari kita belajar dari orang-orang yang lebih tua daripada kita, yang memberikan pengertian pelajaran mengenai hidup, itulah yang akan membuat kita menjadi bijaksana. Salah satu pelajaran mengenai hidup yang Daud ajarkan di sini adalah bagaimana belajar tidak pernah lagi jatuh di tempat yang sama; jangan lagi berbuat dosa yang sama. Daud memberikan perbandingan yang menarik, orang yang tidak pernah belajar digambarkan seperti kuda atau bagal yang tidak punya akal, yang harus ditarik dan diikat baru bisa menurut. Saya rasa kita patut bersyukur kepada Tuhan, kalau melewati kesulitan, penderitaan, sakit dan waktu terjepit orang mulai sadar siapa Tuhan. Tetapi ayat ini mengingatkan kita janganlah sampai Tuhan perlu membuat hidupmu dipukul, dihajar, dipojokkan baru kita “learn our lesson.” Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati perjalanan hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

10 April 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: