Home > Effendi Susanto > Consumed by His Love

Consumed by His Love

Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu. Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

2 Kor.5:13-15

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,

Gal.1:15

Selama beberapa malam ini kita mungkin tidak mendapat tidur yang cukup sebab udara terlalu panas. Dan secara sengaja tiga malam yang lalu saya baru tidur jam 3 pagi, selain karena udara yang panas, tetapi juga karena saya terus meng-up date bagaimana keadaan daerah North Queensland yang terkena cyclone Yasi yang sangat dahsyat itu. Kita bisa melihat kesaksian pribadi dari orang-orang yang mengalami bencana dari cyclone ini dan kita menemukan beberapa hal yang tidak bisa kita mengerti. Ada rumah berjejer namun hanya dua saja yang hancur sedangkan di sebelah kiri dan kanannya utuh. Kita tidak tahu kapan mata dari cyclone itu menimpa. Kita bisa lihat ada orang yang begitu sedih dan menangis karena tidak ada lagi yang tersisa, lalu muncul kalimatnya, “Apa lagi yang saya bisa ambil dari puing-puing ini?” Tetapi di pihak lain ada orang yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi tetapi masih mau mengambil puing-puing yang tersisa. “Tidak ada lagi yang tersisa di dalam hidupku,” itu merupakan satu hal. Tetapi semangat untuk mengambil kembali dari puing-puing yang ada, itu hal yang lain. Ada dua orang sama-sama ditimpa bencana, sama-sama tinggal puing tersisa di kehidupannya. Yang satu berkata, “Tidak ada lagi yang bisa saya ambil dari puing-puing ini, untuk apa saya hidup?” Tetapi ada orang yang menghadapi hal yang sama masih keluar mengambil puing yang tersisa.

Faulkner mengatakan realita hidup kita itu adalah the sum of misfortunes, hidup manusia itu adalah satu hidup yang terakumulasi dengan derita dan pergumulan. Walaupun dia seorang ateis, Nietzsche yang nantinya mempengaruhi Hitler, menyatakan satu kalimat yang bagi saya ada kebenaran separuhnya, “Apapun yang tidak membunuh saya itu akan membuat saya lebih kuat.” Walaupun itu adalah kesulitan, penderitaan dan aniaya, selama semua hal itu tidak membunuh saya, dia akan membuat hidupku lebih kuat. Dia adalah seorang ateis yang harus mengaku dengan jujur hidup ini tidak lepas dari realita kesulitan dan ketidak-beruntungan. Tetapi dia melihat dari sisi yang lain, bahwa semua itu tidak akan membuat hidupku menjadi hancur tetapi membuat hidupku lebih kuat. Kita tidak menginginkan banyaknya kesulitan datang ke dalam hidup kita, tetapi banyak di antara kita harus mengakui kadang kesulitan itu begitu banyak silih berganti dan tidak habis-habisnya di dalam hidup kita. Tidak semua orang yang mengalami kesulitan dan ketidak-beruntungan di dalam hidupnya akan membuat hidupnya lebih kuat. Ada sebagian orang ketika tantangan, kesulitan dan ketidak-beruntungan datang ke dalam hidupnya, justru membuat dia menjadi kecewa dan pahit kepada Tuhan. Ada di antara orang Kristen yang saya kenal mengalami kesulitan, sang isteri tetap kuat, teguh dan imannya berserah kepada Tuhan tetapi suaminya menjadi kecewa, menjadi pahit dan pergi meninggalkan gereja. “Kalau Tuhan itu memang ada, mengapa Tuhan tidak mendatangkan hal yang baik di dalam hidupku? Untuk apa saya beriman kepada Tuhan? Untuk apa saya percaya Tuhan jika hidupku tidak lebih baik daripada orang lain dan terus mengalami kesulitan dan bencana seperti ini?” kata dia. Ini kalimat yang saya pikir selama beberapa hari ini. Apakah betul kita perlu iman di dalam hidup ini? Apakah betul beriman dan percaya kepada Tuhan mendatangkan perbedaan yang penting di dalam hidup ini? Jadi, apa yang kamu mau? Saya mau supaya hidupku lebih baik dan lebih lancar.

Mari kita baik-baik memperhatikan beberapa hal yang penting. Kemajuan dari ilmu pengetahuan, kemajuan dari bidang science seperti adanya teknologi dan satelit, boleh saya katakan hari ini, itu membantu banyak kita untuk bisa menghindar dari kesulitan dan penderitaan yang tidak perlu. Tetapi itu tidak sanggup mengeliminasinya dari hidup kita. Satelit dari biro cuaca sudah mampu memprediksi akan terjadinya bencana dan prediksinya begitu jelas dan akurat, meskipun mereka tetap tidak bisa menebak ke arah mana cyclone akan berjalan, dan dengan bijaksana kita bisa menghindar dari area bencana itu. Tetapi semua kemajuan teknologi tetap tidak sanggup menghilangkan bencana itu. Obat-obatan yang kita makan, pengobatan yang kita dapat, semua itu adalah hal-hal yang baik dan penting dari kemajuan dunia, tetapi sanggupkah itu bisa mengeliminasi total penyakit, kesulitan dan bencana datang kepada kita? Semua itu mungkin bisa mengeliminasi kanker yang ada di dalam tubuh kita, karena kemajuan dari science dan medicine. Puji Tuhan akan hal itu. Tetapi hidup, kesulitan, penderitaan, sakit dan kematian itu adalah fakta hidup yang tidak akan bisa kita hindari dan tolak. Kita mau lebih sehat, kita mau dapat obat lebih bagus, kita mau seluruh masa depan perjalanan hidup kita bisa diprediksi dengan baik, kita mau cuaca bisa diprediksi dan semua yang ada bisa diprediksi, tetapi sejujurnya saya katakan, semua itu hanya mampu meminimalkan resiko yang ada tetapi itu tidak sanggup bisa menghilangkan resiko yang datang.

Tetapi di sinilah indah, perlu dan pentingnya kita memahami iman itu penting, Injil itu penting dan karena inilah kebutuhan paling dasar yang perlu dimiliki manusia di tengah-tengah tantangan dan kesulitan yang ada. Apa yang membedakan orang yang ditimpa bencana, apa yang membedakan orang yang sakit, antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman? Yang membedakan bukan bencana yang datang berapa banyak atau berapa kurang kepada orang-orang itu. Orang beriman bisa tertimpa bencana sama dahsyatnya seperti orang tidak beriman. Orang beriman bisa terkena malapetaka sama beratnya seperti orang yang tidak beriman. Yang membedakan adalah seperti yang saya katakan tadi, pada waktu yang tersisa dalam hidupnya tinggal puing-puing, ada orang yang bisa keluar didorong oleh pengharapan, didorong oleh kasih, didorong oleh iman untuk memunguti puing-puing itu, karena dia percaya segala sesuatu yang datang ke dalam hidupnya ada campur tangan Tuhan. Tetapi orang yang keluar setelah melihat seluruh hidupnya tinggal puing-puing yang tersisa, tidak ada lagi pengharapan, tidak ada lagi gairah, tidak ada lagi dorongan di dalam hidupnya, meskipun masih ada barang yang bisa dipungutpun kalau sudah tidak ada semangat untuk mengambilnya, tidak akan ambil.

Hari ini saya akan bicarakan aspek itu. Di sinilah yang menjadi penting pada waktu Paulus mengatakan “Injil itu diperlukan oleh semua orang. Berilah dirimu diperdamaikan oleh Tuhan. Aku sudah percaya Tuhan dan aku sudah mengerti kalau satu orang sudah mati untuk semua orang, maka semua orang itu membutuhkan Injil. Saya sudah ditebus oleh Tuhan, saya tidak lagi hidup untuk diri saya sendiri.” Kenapa bisa keluar kalimat-kalimat seperti itu dan apa yang mendorong Paulus sehingga waktu saudara membaca terus surat 2 Korintus ini saudara akan menemukan sungguh-sungguh dia menjadi contoh model yang patut bagi setiap kita di dalam pelayanan. Dengan setia, dengan sabar, dengan susah dan di dalam segala hal aku menjadi contoh supaya orang lain bisa melihat dan menghargai Injil. Di dalam sakit aku tetap bisa melayani. Di dalam duka aku memberikan sukacita. Di dalam keadaan miskin aku memperkaya orang. Kalimat-kalimat seperti ini begitu indah dan agung luar biasa keluar karena dia memahami melalui pertobatan yang ada dalam dirinya yang mendorongnya, ”…consumed by the love of Christ.” Kalau pakai bahasa saya, dia begitu overwhelmed oleh kasih Kristus, suatu emosi yang mendesak dan mendorong dia sampai seolah tak tertahankan.

Itulah sebabnya mari kita melihat beberapa aspek yang penting di dalamnya, apa yang menjadi dorongan, apa yang menyebabkan Paulus memiliki sifat pelayanan seperti ini. Yang pertama, Paulus mengkaitkan antara panggilan Allah kepadanya dengan kasih karunia. Di dalam 2 Kor.4:1 “Oleh kemurahan Allah saya terima pelayanan ini, itu sebab saya tidak tawar hati,” atau dalam terjemahan lain, saya terima dengan bernai. Saudara perhatikan, adakah indikasi Paulus sungguh-sungguh mau jadi hamba Tuhan? Bahkan adakah indikasi bahwa Paulus mau menjadi orang Kristen? Tidak sama sekali. Tetapi di dalam surat Galatia sangat unik sekali dia menyebut panggilan dia untuk menjadi hamba Tuhan bukan sejak pengalaman pertobatannya di Damaskus (Kis.9) tetapi dia bilang Allah sudah panggil aku sejak aku berada di dalam kandungan ibuku. Ini menarik. Secara fakta, tidak terjadi di situ. Secara fakta, sebelum Tuhan Yesus menyatakan diriNya kepada Paulus di dalam perjalanan ke Damaskus itu, Paulus adalah seorang yang melawan Tuhan. Tetapi di dalam pengertian teologis yang dalam ini dia mengerti bahwa sesungguhnya Tuhan sudah memanggil dia sejak dia masih berada di dalam kandungan ibunya. Panggilan itu adalah panggilan kasih karunia dan itu terjadi sejak aku berada di dalam kandungan ibuku. Dengan kalimat ini seolah-olah Paulus mengajak kita untuk tarik ke belakang melihat apa yang dikatakan oleh dua orang nabi yang penting di dalam PL yang dipanggil Tuhan. Yang pertama adalah nabi Yeremia yang mengatakan hal yang sama, yaitu Tuhan mengatakan kepadanya bahwa ia sudah dipanggil sejak di dalam kandungan ibunya (Yer.1:5). Yang satu lagi adalah nabi Yesaya yang dipanggil Tuhan pada waktu ia berada di dalam Bait Allah. Tuhan menampakkan kemuliaan dan kekudusanNya di hadapan Yesaya. Yesaya merasa tidak layak tetapi pada waktu yang sama pada waktu Tuhan bertanya, “Siapa yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya berdiri, “Ini aku, Tuhan, utuslah aku” (Yes.6:8). Kita menemukan adanya paradoks antara kasih Allah dengan the passion of love; adanya paradoks antara ketidak-layakan menerima pelayanan tetapi sekaligus keberanian untuk mengerjakannya. Paulus berkata, aku menjadi hamba Tuhan, aku pergi melayani, itu semata-mata karena kemurahan Allah. Tetapi walaupun itu adalah kemurahan Allah tidak menyebabkan dia kemudian tidak memiliki hati yang berani untuk menerimanya. Berani berarti saya mau; berani berarti saya kerjakan. Tetapi pada waktu saya dengan berani mengerjakan sesuatu, kita dipagari dengan satu konsep yang penting: itu bukan karena kemampuan saya tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah.

Mari kita merefleksikan kembali cara Tuhan Yesus menjawab pertanyaan Petrus yang berkata, “Tuhan, aku sudah memberikan semuanya kepadaMu, apa yang ku dapat dariMu sebagai balasannya?” (Mat.19:27). Perumpamaan Tuhan Yesus yang bicara mengenai pekerja-pekerja di dalam kebun anggur itu dipicu oleh pertanyaan Petrus ini. Saya rasa bukan hanya Petrus yang mempunyai uneg-uneg seperti ini, hanya saja murid-murid yang lain tidak berani bertanya seperti Petrus. Sudah tiga tahun lamanya ikut Tuhan Yesus, sudah meninggalkan jala dan perahu, akhirnya Petrus tidak tahan lagi, maka keluarlah pertanyaan ini. Saya sudah berkorban terlalu banyak untukMu, apa yang dapat kembali? Ada nada kekecewaan, ada nada merasa tidak fair, ada satu perasaan dirinya sudah memberi terus-menerus tapi tidak mendapat setimpal. Sebelum Tuhan Yesus memberikan perumpamaan di pasal 20, perhatikan baik-baik strukturnya di Mat.19:30 menjadi pendahuluan, “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Kalimat yang sama Tuhan Yesus ucapkan kembali di Mat.20:16, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” Banyak orang waktu membaca perumpamaan mengenai pekerja di kebun anggur ini hanya meneliti aspek unfairness yang dialami oleh pekerja yang mula-mula dipanggil tanpa melihat perbandingan dengan apa yang dialami oleh pekerja yang paling akhir dipanggil untuk bekerja. Siapa yang paling pertama bersukacita dan merasa aman secure isteri anaknya nanti malam bisa makan karena dia akan membawa pulang uang sedinar? Orang yang dipanggil bekerja paling pagi, bukan? Bandingkan dengan orang yang paling belakang jam lima sore, selama sebelas jam dia menunggu, penuh dengan agony, torture, kekuatiran bahkan perasaan yang hopeless. Pagi jam enam sudah sama-sama menanti di pasar, sama-sama berharap akan mendapat kerja. Hingga jam sembilan masih tersisa pengharapan, jam dua belas masih tersisa pengharapan dapat kerja setengah hari, namun hingga jam lima sore, masih adakah pengharapan itu? Saudara bayangkan dari jam enam pagi dia berdiri di situ, bahkan tidak berani meninggalkan spot-nya sedetikpun, takut kalau-kalau kesempatan hilang. Bayangkan, melihat teman-temannya satu-persatu pergi mendapat pekerjaan, tinggal dia dan satu dua orang yang menganggur di situ, kepala sudah tertunduk sedih, hilang pengharapan. Itu sebab pekerja yang sudah dapat kerja dari pagi, sudah duluan tersenyum, duluan dapat berkat, duluan menikmati buah anggur yang segar, ingatkan, menurut peraturan hukum Taurat, orang yang bekerja di ladang berhak memakan sedikit buah dari ladang itu, bukan? Saya percaya, orang yang bekerja jam lima sore, waktu memetik dia sudah tidak keburu makan sedikitpun karena hari sudah mulai gelap dan buah anggur juga sudah tidak terlalu banyak lagi tertinggal di pohon. Dia akan bekerja sekuat tenaganya karena dia sadar dapat kerja itu adalah benar-benar blessing. Maka di situ Tuhan Yesus mengatakan, engkau sudah kehilangan the joy of ministry sebab kalau engkau punya attitude ini: aku sudah berkorban banyak kepadaMu, apa balasan yang aku dapat? Anugerah di awal telah berubah menjadi hak; anugerah di awal telah berubah menjadi jasa yang harus mendapat balasannya, di situlah sukacita ikut Tuhan menjadi hilang. Itulah maksud perkataan Tuhan Yesus, yang terdahulu akhirnya menjadi yang terbelakang, yang terbelakang menjadi yang terdepan hanya tergantung oleh satu aspek seberapa besar kita memahami anugerah Allah. Passion of love, kemauan untuk bekerja melayani selalu diimbangi oleh seberapa besar kita mengerti dan memahami anugerah Allah. Ini adalah paradoks. Semakin orang mau berani untuk Tuhan, ini aku Tuhan, pakailah aku, itu bukan lahir dari perasaan karena dia mampu dan bisa dan layak, tetapi selalu karena keluar dari perasaan tidak layak karena telah melihat kesucian Tuhan, seperti yang dialami oleh Yesaya. Siapakah aku, Tuhan, sehingga Engkau memanggil dan memilih aku? Karena kemurahan Allah, anugerah Allah, kita bisa dipertobatkan, kita bisa percaya Tuhan, kita bisa memiliki hidup seperti ini. Semakin kita mengerti dan memahami anugerah Allah, semakin itu menjadi api yang membara dan mendorong kita. Ini adalah sesuatu yang tidak ingin aku sia-siakan, ini kesempatan yang tidak akan buang-buang di dalam hidupku.

Maka setelah Paulus bicara seperti itu, apa yang menjadi nasehatnya kemudian kepada jemaat Korintus? Dalam 2 Kor.6:1 Paulus mengingatkan agar mereka jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah yang telah mereka terima. Di sini, yang kedua, Paulus bicara mengenai ‘the attitude of mind’ di dalam pelayanan. Di dalam Fil.2:5 Paulus menyatakan apa yang menjadi dorongan dan apa yang ada di belakang diri Paulus sehingga menjadikan dia contoh dan model yang indah sebagai pengikut Kristus. Paulus memuji Epafroditus dan Timotius menjadi contoh orang-orang yang melayani Tuhan, rela mati untuk Tuhan. Fil.3:15-21 Paulus membawa kita menaruh pikiran yang sama, untuk mencontoh teladan mereka yang sungguh-sungguh melayani. The passion of love bicara mengenai dorongan yang mendrive kita, tetapi waktu bicara mengenai the attitude of mind di situ bicara mengenai sesuatu yang akan kita kerjakan. Seringkali kita mau mengerjakan sesuatu dengan passion yang dalam tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sesuatu yang menjadi ide yang kita cita-citakan penuh dengan gairah, namun begitu sampai di lapangan realitanya bisa berbeda jauh sekali. Itu sebab Paulus memakai kata ‘attitude’ dan bukan ‘desire’ di situ. Tidak ada orang yang melayani memiliki the attitude of mind yang sama denganku kecuali Timotius, demikian kata Paulus. Tidak ada orang yang memiliki the attitude of mind seperti aku kecuali Epafroditus. Dia memiliki passion yang sama, hati yang sama, teruji di lapangan dengan setia, dengan konsisten, dengan berkorban. Jadi the attitude of mind berbicara mengenai aspek ketenangan, kesabaran, dikerjakan dengan pelan tapi pasti, dilakukan dengan penuh korban dan memerlukan waktu yang panjang. Itu sebab Paulus mengajak jemaat untuk mengikuti teladan Paulus dan rekan-rekannya. Saudara akan ketemu nanti beberapa orang di dalam jemaat Filipi yang ribut dan berantem terhadap banyak hal. Dengan ayat-ayat ini saya mengajak, menghimbau dan menasehati, apa yang akan kita kerjakan di dalam hidup kita, apa yang akan kita kerjakan di dalam pelayanan kita tidak boleh hanya berhenti di dalam beberapa waktu saja. Kita perlu dua hal ini: the passion of the love of Jesus Christ and the attitude of mind in your ministry yang membutuhkan konsistensi, sacrifice, visi yang sama, berani mengerjakan sama-sama, melihat ada orang yang memerlukan Injil, mereka menangis dan mereka perlu untuk dilayani.

Terakhir, selain aspek anugerah dan aspek berani, saya juga ingin aspek ke tiga ini menjadi ciri dari pelayanan kita, yaitu kita memiliki satu aspek yang penting, kekuatan dan kuasa Roh Kudus bekerja di dalam pelayanan pemberitaan Injil. Taruh mindset ini di dalam hati kita masing-masing. Dalam Gal.4:19 Paulus melayani di tengah jemaat Galatia seperti seorang ibu yang sakit bersalin supaya setiap kali yang dilahirkan memiliki wajah Kristus. Waktu kita sedang membuat periuk dari tanah liat, waktu bentuknya tidak sempurna, kita bisa merombak dan memperbaikinya. Yang dibutuhkan di situ adalah waktu dan kesabaran dalam hal itu. Tetapi Paulus menggambarkan pelayanannya seperti seorang ibu yang sudah sakit setengah mati mau melahirkan, waktu bayi itu keluar wajahnya tidak mirip, masukkan lagi ke dalam rahim. Itu adalah proses yang menyakitkan. Ketika orang yang dia layani masih belum seperti Kristus, dia tidak puas. Dia tidak pernah mau berhenti sampai orang Kristen itu makin mirip Kristus. Dan di tengah-tengah itu berapapun susah dan beratnya, painful dan sakit seperti ibu bersalin, itu merupakan panggilan pelayananku. Dengan kalimat ini, kita memerlukan jiwa orang-orang Kristen seperti ini. Itu sebab Paulus dengan berani mengatakan, aku sudah meneladani Kristus, sekarang ikutilah teladanku juga. Kiranya kita juga melayani Tuhan seperti ini di dalam hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

6 Februari 2011

 

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: