Home > Effendi Susanto > Hidup yang Kosong tanpa Allah

Hidup yang Kosong tanpa Allah

Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

Mazmur 127

Mazmur 126, 127 dan 128 ini adalah tiga rangkaian mazmur yang indah yang tidak bisa kita lepaskan satu-persatu. Saya percaya mazmur-mazmur ini diatur dengan baik oleh penyusun kitab Mazmur, yang bicara akan tiga hal penting yang memenuhi seluruh hidup kita. Yang pertama, berbicara mengenai aspek security. Di dalam perjalanan hidup kita, kita ingin mencari keamanan, keselamatan dan kesehatan. Kita ingin menjalani hidup kita dengan lancar dan aman, meskipun terkadang kita tidak mendapatkan hal itu selalu. Yang kedua, Mzm.127 berbicara mengenai membangun rumah. Ini yang kita kerjakan di dalam hidup kita, yaitu sepanjang hidup kita mengusaha, kita ekspansi, kita mengerjakan dan membangun dan apapun yang kita kerjakan itu kita ingin berhasil adanya. Yang ketiga, raising children menjadi aspek yang kita kerjakan di dalam hidup kita di atas muka bumi ini. Kemudian kita melihat Mzm.126-128 ini bicara mengenai tiga perasaan hati, the state of your soul, the state of your mind; dua yang kita inginkan terjadi di dalam hidup kita, dan satu yang kalau bisa jangan itu memenuhi hidup kita. Yang pertama, joy, sukacita dan yang kedua, happiness, blessing yang Tuhan ingin kita terima di dalam hidup ini. Yang ketiga, yang kita tidak mau terjadi di dalam hidup kita, the emptiness of life, sia-sia. Jangan biarkan hidup kita mengalami kesia-siaan dan kekosongan. Mzm.127 mengatakan sia-sialah kita membangun rumah, sia-sialah kita berusaha dengan jerih payah, sia-sialah kita mengawal seluruh property dan harta milik kita, kalau itu bukan datangnya dari tangan Tuhan yang baik menjadi berkat dan anugerah di dalam hidup kita, cepat atau lambat engkau akan menghadapi kesia-sian, kekosongan, the emptiness of your life.

Orang yang tidak pernah membangun apa-apa di dalam hidup tidak berhak berkata tidak ada gunanya membangun sesuatu. Orang yang tidak pernah sukses dan berhasil di dalam hidupnya tidak berhak berkata bahwa kita tidak perlu mencari kesuksesan. Orang yang tidak mencapai achievement di dalam hidupnya tidak berhak berkata bahwa apa yang dicapai dan diraih oleh orang lain itu adalah hal yang tidak berguna. Berangkat dari ini kita melihat Mazmur 127 adalah mazmur yang penting sebab yang berkata “sia-sia” di sini adalah orang yang justru mengerjakan pembangunan seumur hidupnya. Ini adalah satu-satunya mazmur ziarah yang ditulis oleh Salomo. Kebanyakan mazmur ziarah ditulis oleh Daud dan selebihnya oleh orang-orang pada masa Salomo dan selanjutnya. Satu-satunya mazmur ziarah yang ditulis oleh Salomo adalah Mzm.127 ini dan sangat unik sekali inilah mazmur yang bicara mengenai kesia-siaan hidup. Di dalam 1 Raj.9 saudara akan bertemu lebih dari 20 tahun lamanya Salomo membangun dua hal yang penting di dalam hidupnya yaitu Bait Allah dan istananya. Tidak ada di dalam sejarah raja Israel yang melakukan pembangunan dan pencapaian kesuksesan selain Salomo. Itu sebab saya percaya dia berhak untuk mengatakan di tengah-tengah membangun sesuatu, di tengah-tengah mencapai kesuksesan atas sesuatu, akan tiba kepada kekosongan jika kita tidak mengerti dengan jelas untuk apa kita bangun, untuk apa kita sukses, untuk apa kita mencapai sesuatu di dalam hidup ini.

Tetapi di pihak lain, seorang bernama Jean Meslier yang hidup tahun 1664-1729 selama 40 tahun dalam hidupnya dia menjadi seorang priest Katolik, lalu kemudian dia keluar dari biara dan menjadi seorang ateis. Orang ini begitu populer di kalangan orang ateis karena dia menulis satu buku berjudul “The Vanity of Religion.” Berkontras dengan Mzm.127 yang berbicara mengenai “The Vanity of Life without God.” Meslier bilang, sia-sia percaya Tuhan. Ada dua hal yang diangkat di dalam bukunya. Yang pertama dia mengatakan bahwa agama itu sudah membuat kita menerima segala sesuatu yang kita tidak pahami dan kita tidak mau mencari penjelasan yang logis terhadap apa yang tidak kita pahami di dalam hidup ini. Agama hanya meminta kita pokoknya percaya saja, padahal kepercayaan yang buta kepada Ilahi justru tidak membuat hidup manusia menjadi lebih baik. Science dan kehidupan yang logis justru menawarkan hidup yang jauh lebih baik dan lebih sukses, ketimbang agama yang sudah membuat kita naif dan buta di dalam kepercayaan kita akan Allah yang tidak membuat perubahan apa-apa di dalam hidup kita. Yang kedua, Meslier bilang agama adalah sumber masalah dan sumber perselisihan. Kita tidak bisa mengabaikan eratnya agama dengan kekerasan juga pernah menjadi coreng di dalam sejarah Kekristenan. Kita tidak boleh melupakan sejarah hitam di dalam Kekristenan, bagaimana Katolik membantai habis Protestan pada waktu St. Bartholomew Day di Perancis, hampir 20.000 orang Protestan dibunuh oleh orang Katolik. Tetapi kita tidak boleh mengabaikan sejarah, ketika Inggris dikuasai oleh raja Protestan, dia juga membantai dan membunuh priest-priest Katolik yang ada di situ. Maka tidak heran Blaise Pascal menulis satu kalimat yang sangat benar adanya, “Evil yang paling dinikmati manusia adalah evil yang dilakukan atas dasar kepercayaan agama.” Saudara bisa ngeri mendengar orang bisa memuji Allahnya besar sambil memukul orang dengan kayu sampai mati. Saudara bisa ngeri mendengar teriakan ‘Haleluya’ dari mulut orang Kristen sambil memegang parang membunuh orang beragama lain. Saudara bisa ngeri melihat orang seolah-olah berdoa dan beribadah kepada Tuhan, pada saat yang sama tangannya penuh dengan lumuran darah. Evil yang dibuat oleh manusia, jujur sebenarnya dia tahu apa yang dia buat itu adalah hal yang salah. Banyak orang melakukan kejahatan, dia sendiri tahu kejahatan itu tidak benar adanya. Tetapi Blaise Pascal mengeluarkan kalimat ini, “Satu-satunya kejahatan yang paling dinikmati oleh manusia justru adalah kejahatan yang dibuat atas dasar kepercayaan dan agama.” Itu sebab di tengah perjalanan ini Jean Meslier tergelincir dan menganggap tidak perlu lagi percaya Tuhan sebab orang beragama justru menjadi sumber masalah dan sumber perselisihan. Maka bagi dia jalani hidup ini jadikan dirimu sebagai pengatur. Engkaulah satu-satunya tujuan dari hidup ini dan bukan Tuhan. Pikiran yang logis, common sense, itu yang seharusnya memimpin hidup manusia, bukan norma-norma agama.

Tetapi sebaliknya mari kita lihat kembali di dalam perspektif Alkitab, justru hidupmu menjadi sia-sia pada waktu hidup itu dilepaskan arah, tujuan dan sumbernya dari Tuhan adanya. Aku sudah membangun banyak hal, aku sudah mencapai begitu banyak kesuksesan, kata Salomo, tetapi di akhir hidupnya pada waktu dia merefleksikan penuh dengan kesulitan dan kegagalan, pencapaian itu tidak mendatangkan harum nama baiknya sampai akhir, tetapi justru penuh dengan kesulitan dan kegagalan karena kesuksesannya membuat dia tergelincir dan jatuh meninggalkan Tuhan.

Memang banyak penafsir memperdebatkan mengenai kitab Pengkhotbah, apakah Salomo yang menulisnya atau orang lain yang hidup sesudah dia yang menulis dan memakai hidup Salomo sebagai refleksi. Tetapi apapun juga yang benar, kita semua setuju kitab Pengkhotbah adalah kitab yang sedang membicarakan hidup dari Salomo dan saudara lihat di akhir dari seluruh perjalanan hidupnya dia menjalani dengan sia-sia. Di atas segala-galanya, sia-sia. Apa yang aku kerjakan, apa yang aku capai, kalau aku lepaskan dari tangan Tuhan, dari anugerah Tuhan dalam hidupku, cepat atau lambat, aku akan sampai kepada titik kekosongan dan tidak ada artinya.

Untuk lebih memahami Mzm.127 kita perlu membandingkannya dengan kitab Pengkhotbah. Pengkhotbah dengan jelas mengatakan kalau engkau membangun segala sesuatu dan tidak ada Tuhan di situ, apapun yang engkau capai tidak ada gunanya. Kita akan lebih memahami konsep sia-sia itu dari perkataan Pengkhotbah, di atas segala sesuatu apa yang kita kerjakan di bumi ini, apa yang kita lakukan seperti menjaring angin. Jangan pikir bahwa Pengkhotbah itu pesimis terhadap hidup ini. Yang dia ingin angkat adalah you akan cape, you cepat atau lambat akan sampai kepada satu titik sama seperti realita yang aku alami, hidupku menjadi sia-sia kalau dua hal ini yang menjadi motivasi di belakang semua yang engkau kerjakan: pertama, kalau engkau menjadikan dirimu sebagai pusat, maka semua yang kita kejar itu akan terus menarik kita, nama, kesuksesan, semua untuk diri kita. Pkh.5:9 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang…” Sia-sia tidak berarti yang kita cari dan kita kejar di dalam hidup ini bukan hal yang tidak berguna. Membangun sesuatu menjadi sia-sia bukan berarti yang engkau kerjakan dan engkau bangun itu tidak ada gunanya. Kita harus clear-kan konsep ini baik-baik. Yang dimaksud oleh Pengkhotbah, semua itu akan menjadi sia-sia setelah engkau bangun, setelah engkau capai, semua itu untuk apa dan apa yang menjadi tujuan akhirnya. Kalau tujuan akhirnya adalah demi untuk dirimu menjadi pusat, satu kali semua itu akan menjadi sia-sia. Kenapa saya mengatakan demikian? Karena kalau saudara nanti baca seluruh kitab Pengkhotbah itu kita akan bertemu dengan realita ini. Pengkhotbah mencari hal-hal di dalam hidupnya. Dosen saya di SAAT pernah menggunakan istilah unik mengenai apa saja yang dicari dan diraih oleh Pengkhotbah dalam hidupnya dengan 5W, wisdom, wealth, wall, wine, women (Pkh.1-2).

Di dalam sejarah kerajaan Israel tidak ada yang bisa melampaui rekor Salomo dalam hal jumlah isteri dan gundiknya. Bahkan playboy-playboy Hollywood saja tetap masih kalah daripada Salomo. Yang terdaftar saja ada 700 isteri dan 300 selir. Saya tidak tahu bagaimana cara Salomo menghafal nama-nama mereka. Apa sih sebenarnya yang men-drive manusia untuk punya lebih dari satu isteri? Seksualitaskah? Kebanggaankah? Saya tidak bisa mengerti apa yang memotivasi dan mendorong orang bisa seperti itu. Sia-sia sebab di belakang dari semua yang diraih dan dikejar, pertama kalau saya menjadikan diriku yang menjadi pusat, saya tidak akan pernah puas. Kumpul uang, kumpul kekayaan, kumpul isteri, makin banyak makin rasa kurang dan tidak ada habis-habisnya. Pengkhotbah juga mengajak kita melihat beberapa refleksi. Refleksi yang pertama di pasal 6:1-2, kalau engkau jadikan hidupmu sebagai pusat, akan tiba kesia-siaan. Orang dikaruniai harta dan kekayaan berlimpah tetapi tidak dikaruniai kuasa untuk menikmatinya. Kematian bisa datang, ada hal yang tidak bisa dia kontrol, sudah susah-susah kumpulkan ternyata tidak bisa menikmati.

Kita adalah manusia yang sangat terobsesi mau mengontrol segala sesuatu. Kita adalah manusia yang suka mengkalkulasi dan kalau bisa mengatur segala yang ke depan dan memprediksi dan mengontrolnya. Akibat dari ingin mengatur, akibat dari ingin mengontrol, akibat dari ingin bisa menggenggam segala sesuatu di tangan kita menyebabkan tidak ada habis-habisnya manusia selalu mencari kekuatan, kekuasaan dan power. Pkh.3:1-15 memperlihatkan banyak hal engkau tidak bisa kontrol di dalam hidupmu. Hidupmu akan menjadi sia-sia kalau engkau berangkat dari point aku bisa mengatur dan mengontrol apa yang akan terjadi di dalam hidupku, aku bisa memprediksi dan mengkalkulasi. Tetapi kekuatan untuk bisa mengatur, kekuatan untuk bisa mengontrol hidup itu membutuhkan satu kekuatan yang absolut yaitu power. You harus punya power tetapi suatu kali engkau sadar engkau tidak bisa mengontrol power itu sendiri, dan power itu menjadi abusive dan tidak adil. Ini yang dimaksud kalau kita hidup tidak menyadari hidup itu ada di tangan Tuhan. Ini yang dimaksud oleh Pengkhotbah, kalau engkau tidak sadar dan lihat itu berkat dan anugerah Tuhan, engkau akan capai kepada kesia-siaan. Tetapi kesia-siaan itu akan lebih lagi kalau kita mau mengontrol semua. Di mana-mana saudara akan melihat power dipakai orang secara tidak adil. Kita mengontrol bawahan, kita mengontrol orang di sekitar, kita menggunakan power dengan tidak adil. Sampai di situlah kita akan menemukan arti dari kalimat Pengkhotbah dalam Pkh.3:19 kalau engkau hidup tidak ada Tuhan, maka hidupmu tidak lebih daripada binatang. Karena nasib manusia akan sama seperti nasib binatang, kalau dia menjalani hidup tanpa ada Tuhan di dalamnya, tanpa menyadari anugerah dan berkat Tuhan menyertainya, tanpa berpikir bahwa semua yang ada di dalam hidupnya berada di dalam tangan Tuhan, hidup orang seperti itu tidak beda dengan hidup binatang. Satu kali kelak ketika kematian datang mereka tidak punya kekuatan apa-apa.

Kembali ke Mzm.127 banyak penafsir sedikit terkejut karena bagian di atas dari mazmur ini bicara mengenai membangun rumah, tetapi di bagian selanjutnya kenapa bicara mengenai membesarkan anak. Tetapi dalam bahasa aslinya saudara akan takjub menemukan Salomo menggunakan permainan kata yang bagus, ayat 1 memakai kata “bonim” (builders), ayat 3 memakai kata “banim” (sons). Di sini baru kita temukan keindahannya. Tidak ada gunanya “bonim” sukses kita kerjakan dan lakukan tetapi kita mengabaikan membangun “banim” di dalam rumah kita. Apa gunanya segala sesuatu yang dikerjakan dan diusahakan orang tetapi semua kesuksesan di luar, begitu pulang ke rumah dia menjadi sedih dan kecewa karena anak-anaknya tidak menjadi orang yang dibentuk dengan baik dan memiliki karakter yang indah. Bagi saya kita sukses di luar tidak seberapa tetapi kita sukses mendidik mempersiapkan “banim” di rumah kita itu menjadi indah dan penting karena pemazmur berkata someday anak-anak yang kita didik dan kita bina dengan baik itu menjadi kehormatan dan respek orang tua. Pemazmur tidak bicara banyak secara metode bagaimana membesarkan anak, tetapi di sini ada dua prinsip penting. Pertama, dia katakan anakmu seperti anak panah di tangan seorang pahlawan. Dan di dalam Mzm.128:3 anak itu digambarkan seperti tunas zaitun. Dia akan keluar potensi menjadi bunga. Tunas zaitun berarti membesarkan anak itu perlu nurture yang delicate. Kita perlu memelihara anak-anak yang dipercayakan kepada kita dengan delicate karena dia adalah tunas zaitun. Tetapi membesarkan anak juga seperti menyiapkan anak-anak panah. Ini dua prinsip yang kita tidak boleh abaikan: anakmu harus dipelihara baik-baik, anakmu harus dipertajam. Terus kita belajar teori pendidikan membesarkan anak, tetapi waktu kita mendalami ayat-ayat ini kita menemukan mutiara bijaksana yang luar biasa. Didik anakmu seperti anak panah. Kenapa anak panah itu perlu dipertajam? Mari kita lihat konteksnya, jaman itu belum ada stainless steel, maka anak panah itu setiap hari harus diasah sehingga tidak tumpul dan berkarat. Kedua, anak panah itu dipakai oleh pahlawan tidak boleh sembarang tembak. Berbeda dengan AKA 47 yang dalam semenit bisa menembakkan lebih dari 600 peluru, senapan mesin tidak perlu dipegang oleh seorang jago tembak. Siapapun bisa main tembak dan kena kepada sasarannya karena pelurunya banyak. Tetapi jaman dulu seorang pahlawan hanya punya 3 anak panah di tabungnya. Berarti setiap anak panah harus efektif. Mempertajam anak, itu panggilan kita sebagai orang tua. Mempertajam itu membutuhkan usaha, di dalam kita mengasah membutuhkan tanggung jawab, disiplin, pengolahan yang tidak gampang dan tidak mudah. Alkitab sudah meletakkan begitu banyak prinsip yang indah seperti ini. Anak-anakmu adalah pemberian dari Tuhan dan itu adalah anak-anak panah di tangan seorang pahlawan. Pahlawan yang jago dan betul-betul terlatih, dia sadar dan tahu anak panah itu harus dipakai satu kali dan harus kena kepada sasaran. Itu tugas tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada orang tua. Kalau anak panah itu penuh, maka pada waktu kita berdiri, berbicara dengan orang, melihat pencapaian keindahan kesuksesan pada anak kita itu merupakan kehormatan orang tua yang tidak ada habis-habisnya. Pencapaian yang paling penting adalah bagaimana kita sukses mendidik, memelihara, mempertajam setiap anak-anak yang Tuhan beri kepada kita sehingga mereka mencapai goal, sasaran, kena, bersumbangsih besar bagi masyarakat dan kerajaan Allah.

Kira-kira dua tiga minggu yang lalu terjadi perdebatan di televisi mengenai seorang ibu Asia yang membesarkan anak di Amerika, dia menjadi “tiger mum.” Banyak orang tidak setuju dengan disiplin cara dia karena dia seolah memaksa anak itu menjadi apa yang ibunya mau. Tetapi ada yang sedikit mengkoreksi dengan lebih baik, dia memaksa anaknya melakukan apa yang dia mau. Intinya di situ kita melihat ibu itu mau mempertajam, mengoptimalkan, menjadikan anaknya menjadi seorang yang indah, berhasil dan penting. Itu adalah sukacita kebanggaan yang lebih besar daripada membangun usaha bisnis di dalam hidup. Jangan biarkan semua yang kita kejar dan kita capai di dalam hidup ini tanpa kita melihat dengan kacamata yang indah sebagai anak Tuhan, di belakangnya semua itu adalah berkat anugerah yang Tuhan beri. Di dalam perjalanan hidup kita mungkin melewati perjalanan yang baik dan perjalanan yang kurang baik; perjalanan yang menanjak dan perjalanan yang menurun; perjalanan yang mulus dan perjalanan yang berkerikil. Namun di balik perjalanan itu biar kita mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dan kita sadar di dalamnya anugerah dan berkat Tuhan yang memimpin dan mengontrolnya. Semua yang kita terima sampai hari ini adalah anugerah pemberian Tuhan yang baik, kita tidak menjadi kecewa dan mengeluh. Kita diberi harta yang paling indah di dalam hidup kita, anak-anak yang dikaruniakan kepada kita, dengan segala bakat dan potensi yang mungkin melebihi apa yang pernah kita pikirkan dan cita-citakan. Biar kita minta Tuhan kekuatan, kesungguhan, sukacita membesarkan di tengah susah, mendidik di tengah lelah segala usaha yang kita kerjakan kiranya boleh Tuhan pimpin dan berkati. Anak-anak yang Tuhan karuniakan di dalam hidup kita, biar kita pertajam, kita asah dan jadikan sebagai panah-panah Allah yang berguna di tangan Tuhan. Biar Tuhan memimpin kita menyerap apa yang kita dengar pada hari ini, menyertai segala usaha tangan kita, menyertai anak-anak yang kita besarkan supaya semua itu menjadi keindahan dan tidak pernah menjadi kesia-siaan di dalam hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

20 Februari 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: