Home > Effendi Susanto > Mengapa Kantung Berkatmu Bocor?

Mengapa Kantung Berkatmu Bocor?

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

Mzm.127:2

Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!

Mzm.128:2

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Mat.6:25-34

Mzm.126, 127 dan 128 bagi saya merupakan satu trilogi yang indah berbicara mengenai apa saja yang memenuhi hidup kita. Ada tiga hal yang penting dimana seluruh hidup kita dipenuhi dan di-preoccupied dengan aktifitas dan hal ini. Satu, kita mau security, kita mau keselamatan, kita mau kesehatan, kita mau satu conducive environment. Semua orang mencari keselamatan, kesehatan dan keamanan. Yang kedua, hidup kita dipenuhi dengan “building houses.” Kita bangun pagi-pagi, kita pulang jauh malam, kita berusaha maju terus di dalam pekerjaan, kita saving tidak lain dan tidak bukan supaya apa yang kita kerjakan dalam hidup ini makin hari makin menjadi besar. Yang ketiga, Mzm.128 bicara mengenai “raising children.” Hidup kita dipenuhi dengan semua itu. Dari muda kita berpacaran supaya someday kelak kita bisa beristeri dan mempunyai anak. Di dalam tiga hal itu Pemazmur berkata tujuan akhirnya, endingnya, goalnya, targetnya ada dua perasaan hati yang kita mau yaitu sukacita dan kebahagiaan. Kita mau apa yang kita kerjakan mencapai dua hal ini. Tidak ada orang yang membangun rumah, sesudah membangun lalu kemudian masuk ke rumah baru kehilangan kebahagiaan. Tidak ada orang yang mau membesarkan anak dengan penderitaan, melainkan ingin menikmati sukacita melihat anak bertumbuh besar. Kita tidak mau mengalami apa yang menjadi peringatan Mzm.127 yaitu “the emptiness of life.” Sudah setengah mati mencari uang, sudah setengah mati bangun, sudah mencapai kesuksesan, sampai di ujung hatimu menjadi kosong dan tidak bisa menikmati apa yang engkau sudah dapatkan. Apa gunanya? Sia-sia orang yang membangun sesuatu tetapi tidak diberkati oleh Tuhan. Sia-sia engkau pagi-pagi sudah pergi bekerja hingga larut malam tetapi kita kehilangan semuanya.

Memang kita harus melihat di dalam realita hidup ini tidak semua yang menjadi tujuan dari Mazmur ini bisa terjadi seperti hanya membalikkan telapak tangan tetapi membutuhkan proses. Di dalam kita berjalan menuju ke situ kita mengalami proses. Di dalam proses itu pagi ini saya ingin berbicara mengenai dua hal yang seringkali membocorkan sehingga happiness and joyful life itu tidak penuh kita nikmati. Seperti saudara sedang berjalan sambil membawa kantong air yang penuh dengan anugerah dan berkat Tuhan. Tetapi kenapa sampai di ujung sukacita itu menjadi tidak ada? Karena kantong air yang saudara bawa itu bocor. Ada dua hal yang membocorkannya yaitu “the anxious life” dan “burn out.”

Mzm.127:2 dan Mzm.128:2 memperlihatkan dua orang sama-sama makan, tetapi dengan cara yang sangat berbeda. Makanannya mungkin sama, tetapi menikmatinya dengan kontras yang sangat berbeda. Satu perbandingan yang sangat menarik. Dalam terjemahan ESV Mzm.127:2 ”…eating the bread of anxious toil.” Mzm.128:2 ”…eating the fruit of your labour and be blessed.” Yang satu “eating the bread of anxious toil,” dan yang satu “eating the bread of blessed toil.”

Kadang-kadang kita tidak perlu makan lobster untuk menikmati makan, tetapi pergi ke warung Padang meskipun tidak punya duit, kita bisa makan nasi dengan kuah gulai dan bumbu rendang, hanya bayar nasinya saja, nikmat sekali. Itu yang saudara dan saya lakukan waktu masih jadi mahasiswa bokek, bukan? Sekarang mungkin warung Padang sudah waspada kalau yang makan adalah mahasiswa, sehingga kuahnya pun di-charge. Nasi panas bisa dimakan dengan sangat nikmat. Tetapi ada orang yang sudah kerja keras dari pagi hingga malam, yang dimakan adalah “roti kecemasan,” kasihan sekali… saya tidak tahu bagaimana caranya dia makan. Bukan makanannya tidak banyak di meja, bukan makanannya tidak enak, ada berlimpah di meja, tetapi mungkin ambil roti dengan malas, sudah masuk ke mulut tidak ada rasa nikmat. Tetapi firman Tuhan berkata, orang yang takut akan Tuhan hidupnya amat berbahagia, ‘eat the fruit of blessed toil.’ Tidak berarti orang yang takut Tuhan bekerja lebih gampang dan lebih ringan daripada orang yang tidak percaya Tuhan. Sama-sama toil, sama-sama bekerja dengan susah payah. Tidak berarti makanan lebih kurang tetapi dua bagian ini memberikan perbedaan yang sangat kontras: ada orang makan roti kekuatiran, bukan rotinya kurang enak tetapi makannya penuh dengan kuatir dan cemas; ada orang makan roti, roti itu adalah roti anugerah di dalam hidupnya. Dua cara makan yang begitu berbeda.

Di dalam proses kita bekerja, di dalam proses kita membesarkan anak, di dalam perjalanan hidup ini akan banyak kesulitan dan tantangan yang datang kepada kita. Listrik, uang sekolah anak, bunga cicilan hutang, hampir bisa dipastikan semua akan naik tahun depan. Maka kita akan berpikir dan bertanya, apakah mungkin saya bisa membayar hutang dan cicilan rumah? Apakah mungkin saya bisa membayar uang sekolah anak? Bagaimana dengan kondisi hidup saya menghadapi kesusahan seperti ini? Bukan jaman sekarang saja orang hidup dalam kerja keras dan susah payah. Mzm.127 sudah mengatakan realita seperti itu, banyak orang bangun pagi-pagi untuk bekerja hingga larut malam. Saya setuju pepatah yang mengatakan “hurry, worry and bury” itulah hidup orang di dalam dunia ini. Hidup terlalu tergesa-gesa, hidup penuh kekuatiran, akhirnya selesai juga dikubur. Mari kita mempelajari dua hal ini, kita kerja, kita lakukan dua hal ini menjadi kebocoran atas sukacita kita sehingga kita tidak bisa menikmatinya secara penuh, yaitu “anxious life,” kekuatiran yang bersalah dan “burn out,” kita letih, kita jemu, kita tidak punya energi untuk mengerjakan hal itu. Kita bukan mesin, itu sebab Mzm.127 bicara mengenai “rest.” Kita begitu gampang dan mudah menjadi letih dan lesu. Tetapi pada waktu kita “burn out,” kekuatan apa yang bisa membuat kita bisa bounce back, kita bisa bangkit dan mengerjakannya lagi?

Ketika kita sudah penuh dengan kelimpahan dan penuh sudah lumbung kita, kenapa kita tidak bisa bersyukur dan menikmatinya? Sebab kita dicemari oleh perasaan kekuatiran ini. Kata kuatir dipakai secara positif dan negatif di dalam Alkitab. Itu sebab tidak heran Paulus juga pernah mengatakan, “Aku kuatir dengan kondisimu…” kepada Timotius yang sakit; Paulus juga pernah menyatakan kekuatirannya kepada jemaat di Filipi dan Kolose; sehingga kita tahu ada perbedaan antara “concern” dengan “worry.” Kita tahu kita perlu bayar bill, kita tahu anak kita perlu bayar uang sekolah, kita tahu kita begitu terbatas tidak bisa mengontrol banyak hal, itu merupakan concern kita. Saya percaya sebagai manusia biasa kita tidak bisa lepas dari hal-hal itu. Saudara bekerja, saudara juga concern apakah bisa sukses atau tidak, itu merupakan hal yang lumrah. Tetapi yang dibicarakan oleh Alkitab kita menjadi warning dari Tuhan Yesus, “Jangan kamu kuatir,” berarti Tuhan tahu kita bisa kuatir tetapi Tuhan juga ingatkan kita kekuatiran itu merupakan lubang yang menggerogoti begitu banyak berkat anugerah Tuhan tidak kita nikmati secara penuh. Jangan sampai kita pulang, kita sudah penuh diberkati Tuhan, roti itu berkelimpahan, tetapi kita tetap makan “roti kekuatiran” di dalam hidup kita.

Ada satu orang terus-menerus kuatir di dalam hidupnya, tidak pernah ada sukacita, kuatir terus, tidak pernah senyum, tidak pernah tertawa. Teman-temannya sudah putus asa mencoba menolong dia mengurangi kekuatirannya. Tetapi suatu hari waktu dia pergi ke kantor terjadi keajaiban, hari itu dia senang luar biasa. Teman baiknya bilang, “Wah, hari ini kamu kelihatan gembira sekali.” Dia jawab, “Iya, baru hari ini saya tidak kuatir lagi.” Bagaimana bisa? “Karena kemarin saya ambil keputusan untuk menggaji satu orang untuk mengkuatirkan apa yang saya kuatirkan. Itu sebab saya gembira dan tidak kuatir lagi.” Bagaimana bisa? Siapa orang yang mau mengerjakan hal seperti itu? “Ooh, ada. Tapi gajinya memang sangat mahal. Satu hari gajinya $1000.” “Haaa? Seribu dollar? Apa kamu bisa bayar?” “Tidak.” Lalu, bagaimana? “Lho, saya tidak perlu kuatir, biar dia saja yang pikirin. Toh saya sudah kasih semua kekuatiran saya menjadi tugas dia, lalu bagaimana saya bayar nanti biar itu dia yang kuatirkan.” Kalau bisa ada orang mau kerja seperti itu, enak sekali, bukan? Semua kekuatiran kita kasih saja kepada dia. Tetapi puji Tuhan, Orang seperti itu ada, dan kita tidak perlu bayar. “Cast your worry to Me,” kataNya. Serahkan kuatirmu kepadaKu, kata Tuhan Yesus.

Bagaimana saya bisa membedakan antara concern yang sah dengan worry yang salah? Bagaimana saya membedakan antara saya put a legitimate concern dengan a sinful worry? Tidak gampang, bukan? Obyek kekuatiran kita bisa sama tetapi yang satu bisa menjadi concern kita yang sah, yang satu menjadi worry yang tidak ada habis-habisnya. Itu sebab saya ingin mengajak kita melihat Alkitab secara teliti bagaimana Alkitab bicara mengenai kekuatiran. Apa akibat yang dikerjakan oleh kekuatiran di dalam hidup kita? Mat.6 berbicara akan seluruh prinsip mengenai kekuatiran itu muncul dari kalimat-kalimat Tuhan Yesus.

Ada satu buku mencatat kurang lebih ada 60 penyakit yang muncul semata-mata karena pengaruh kekuatiran dan kecemasan di dalam hidup kita. Kita akan kurang tidur, kita akan mengalami gangguan pencernaan, kita akan letih lesu, kita tidak punya energi lagi untuk mengerjakan sesuatu, dsb. Jelas sekali kekuatiran itu merusak hidup kita. Dia merongrong kesehatan kita. Itu sebab Alkitab dengan simple berkata, “Tidak usah kuatir dalam hidupmu.”

Yang kedua, kekuatiran jelas menghancurkan sukacita kita. Luk.10:41 mencatat orang yang bekerja setengah mati untuk membuat makanan yang enak buat Tuhan Yesus, namanya Marta. Waktu mendengar Yesus mau datang ke rumahnya, dia senang, bukan? Waktu mendengar Yesus mau datang, dia dengan exciting pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk memasak dinner yang paling enak, bukan? Waktu Yesus akhirnya sampai di rumah dia, dia senang dan sambil masak di dapur sambil show off keahliannya di depan Tuhan Yesus. Tetapi setelah itu kesenangan itu lenyap dan dia datang bersungut-sungut kepada Tuhan Yesus, “Saya complain, Tuhan, suruh itu Maria bantu saya.” Tuhan Yesus bilang, “Martha, Martha, you worry too much.” You worry too much. Bukan Yesus tidak menghargai pelayanan dan kerja keras dari Marta. Yesus hanya bicara, hasil kerjamu itu dipenuhi dengan kekuatiran, kekuatiranmu itu menghancurkan sukacita hidupmu. Itu efek dari kekuatiran.

Yang ketiga, Yesus mengatakan apakah dengan kekuatiranmu itu engkau sanggup bisa menambah satu centi saja dari perjalanan hidupmu? Tidak! Kita kuatir akan kesehatan kita, apakah itu bisa memperpanjang umur? Kita kuatir dengan banyak hal di dalam hidup kita, apakah itu akan merubah segala sesuatu? Tidak. Itu sebab kenapa kita kuatir? Alkitab berkata, tidak perlu kuatir sebab kuatir itu tidak berguna apa-apa di dalam hidupmu. Kuatir itu tidak merubah apa-apa di dalam hidup saudara.

Yang keempat, kuatir akhirnya menyebabkan kita terjerumus tidak melihat anugerah pemberian Tuhan yang baik di dalam hidup kita. Maka terjadi kontras yang luar biasa di dalam Mzm.127:2, Allah bisa memberi roti kepada orang yang Dia kasihi pada waktu ia sedang tidur. Tetapi ada orang bangun pagi-pagi bekerja hingga larut malam, sudah kerjakan semua seperti itu, mereka tidak menikmati roti itu dengan sukacita sebab mereka ingin kontrol situasi, mereka mau bisa kerjakan dan lakukan untuk diri sendiri. Akhirnya mereka tidak melihat aspek berkat anugerah Tuhan di dalam hidupnya. Itu efek yang disebabkan oleh kekuatiran di dalam hidup kita.

Apa penyebab kita kuatir? Kalau saudara belajar psikologi saudara akan mengatakan ada orang yang dilahirkan memang dengan temperamen yang bisa membuat dia memiliki kekuatiran yang berkelebihan. Yang paling bagus katanya orang yang punya temperamen Phlegmatic, yang tidak pernah kuatir. Pulang dapat angka berapa? Delapan, Pa. Wah, bagus dong. Hehe… delapannya ketawa, alias angka tiga. Orangnya selalu tenang, everything is OK, itu orang Phlegmatic. Tenang saja, nanti hari H-nya pasti dapat angka bagus. Sudah planning mau menikah, tenang saja, tidak apa-apa. Beda dengan orang Sanguin dan orang Melancholic yang lebih mudah kuatir. Orang Sanguin dengar bunyi ban meletus langsung pikir ada teroris. Sudah atur planning mau pergi holiday, baru dengar ada apa-apa di sana, langsung cancelled. Tidak bisa apa-apa, temperamennya sudah begitu. Dikasih firman Tuhan sama Pak Effendi juga tetap tidak bisa apa-apa, tetap kuatir terus. Apakah semua orang Kristen harus menjadi orang Phlegmatic-kah? Saya percaya Alkitab tidak memperlihatkan aspek seperti itu.

Mari kita buka Mat.6:25-34 Yesus bicara mengenai kekuatiran, tetapi kita tidak boleh lepaskan pembicaraan ini dari konteks sebelumnya, Yesus bicara mengenai dua hal penting di Mat.6:19-24. Pertama, kalau orang memiliki sistem nilai yang “up-side down,” maka tidak bisa tidak kekuatiran itu akan memenuhi hidupnya. Itulah sistem nilai dari orang yang tidak percaya Tuhan. Dia akan menyimpan harta terlalu banyak kepada dunia ini, lupa simpan kepada kehidupan yang akan datang waktu ketemu Tuhan. Kata Tuhan Yesus, “Apa gunanya kamu store up semua hartamu di dalam dunia ini? Ngengat dan karat akan merusaknya dan pencuri akan mencurinya. Simpanlah hartamu di surga.” Jelas prinsip mengenai kenapa orang worry tidak berkaitan langsung dengan persoalan temperamen walaupun mungkin ada pengaruh sedikit; tidak berkaitan langsung dengan karakter kita walaupun mungkin ada sedikit; tetapi lebih berkaitan dengan bagaimana cara kita berpikir, bagaimana attitude iman kita di sini. Dan prinsip ini muncul: orang yang sistem nilainya terbalik, orang itu akan selalu hidup di dalam kekuatiran. Sistem yang terbalik itu dimiliki oleh orang yang tidak percaya Tuhan dan jangan itu juga menjadi sistem hidup kita.

Yang kedua, kenapa worry muncul? Tuhan Yesus memberi prinsip kedua: orang yang hidupnya mendua hati, punya dua tuan, hidupnya tidak akan pernah tenang. Apa artinya punya dua tuan? Orang yang percaya Tuhan tetapi juga masih reserve sama Mamon. Tidak bisa kita bersandar kepada Tuhan sekaligus kita bersandar kepada Mamon, harta benda. Itu membuat hidup kita tidak akan pernah tenang selama-lamanya. Dua hal ini menjadi penyebab penting mengapa kita terus-menerus menjadi orang yang kuatir di dalam hidup ini.

Yang ketiga, orang yang penuh dengan kekuatiran adalah orang yang selalu preoccupied dengan dirinya sendiri. Itu yang menjadikan kehidupan yang sia-sia kalau orang mencari sesuatu, kalau orang memperluas kehidupannya, orang bertambah banyak hartanya, orang terus menambah banyak hal yang dia bisa makan tetapi hanya untuk dirinya sendiri, bukan saja sia-sia terjadi, setiap kali makan roti, roti itu adalah roti adalah roti kekuatiran.

Kalau hidup kita kuatir, dan kuatir itu menjadi kuatir yang berkelebihan, mari kita tanya diri kita baik-baik, siapa yang jadi Tuan di dalam hidup kita? Kalau hidup kita penuh dengan kekuatiran yang tidak beralasan, mari kita tanya diri kita baik-baik, apa sistem nilai yang ada di kepala kita?

Yang keempat, kuatir disebabkan karena kita tidak terlalu sungguh-sungguh dengar firman Tuhan. Dalam perumpamaan Yesus mengenai penabur benih (Luk.8:5-8), Yesus mengatakan benih itu ada yang jatuh di pinggir jalan lalu diinjak-injak orangdan ada yang dimakan burung sampai habis, benih itu ada yang jatuh di tanah yang kering tidak mendapat air, benih itu ada yang jatuh di tengah semak duri dan dihimpit semak itu sampai mati, dan ada benih yang jatuh di tanah yang subur lalu berbuah seratus kali lipat. Di dalam menjelaskan arti dari perumpamaan ini, Tuhan Yesus lalu menjelaskan yang mendengar firman Tuhan seperti benih yang jatuh di tanah yang subur, dia responsif dan beriman maka firman itu berbuah berlipat ganda di dalam hidupnya. Orang yang mendengar firman seperti benih yang tumbuh di antara semak duri, dalam pertumbuhannya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang (Luk.8:14). Kalau kita hidup penuh kuatir, kita harus tanya diri kita baik-baik, seberapa sehat pendengaran kita kepada firman Tuhan? Seberapa sehat kita percaya dengan tegas janji firman Tuhan yang menjadi benih yang tumbuh subur di dalam hati kita? Ataukah benih itu jatuh di dalam hati kita yang penuh dengan kekuatiran terhadap apa yang perlu kita makan, apa yang perlu kita pakai sehingga kita tidak ‘take seriously the word of God.’

Terakhir, penyebab dari kekuatiran, Alkitab jelas berkata, orang itu kuatir, lumrah dia kuatir sebab hidupnya memang tidak pernah di-planning dengan baik; orang itu malas dan tidak bertanggung jawab; Kalau engkau kuatir besok exam tidak dapat A tapi malam ini tidak mau belajar, ya sudahlah memang pasti akan dapat jeblok. Kalau engkau kuatir tidak bisa membayar segala sesuatu karena engkau memang seorang yang tidak rajin dan boros dan tidak bertanggung jawab terhadap hidupmu, itu adalah konsekuensi yang wajar.

Pulang dan nikmati rotimu dengan mengucap syukur kepada Tuhan, this is the bread of blessed toils. Biar kita lempar jauh-jauh segala kekuatiran hidup kita sebab itu yang Tuhan perintahkan kepada kita, karena dengan kuatir kita tidak menghargai anugerah Tuhan. Dengan kuatir kita tidak melihat kedaulatan Tuhan yang mengontrol dan mengatur hidup kita. Dengan kuatir kita dengan sombong merasa kita sanggup mengontrol dan mengerjakan sendiri hidup kita tapi di ujungnya kita kuatir lagi karena kita sadar kita tidak mampu. Itulah sebabnya kita kehilangan sukacita, kita kehilangan syukur, sekalipun kita hidup di dalam kelimpahan roti, sebab roti yang kita makan adalah roti kekuatiran. Biar kita berdoa minta ampun kepada Tuhan dan memohon Tuhan memenuhi kita dengan firman Tuhan dan kita takluk dan percaya bahwa Tuhan selalu mencukupkan lebih daripada apa yang kita minta kepadaNya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

6 Maret 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: