Home > Effendi Susanto > Mission in His Compassion

Mission in His Compassion

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Mat.9:35 – 10:15

Bagian yang baru saja kita baca merupakan bagian yang sentral dari pasal 8-10 ini. Pasal 8-10 merupakan satu bagian yang sangat teliti diatur oleh Matius untuk memberitahukan kepada kita tibalah saatnya murid-murid yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan Yesus pergi keluar untuk melayani. Secara singkat Matius meng-arrange Injilnya dengan unik: pasal 1-4 bicara mengenai permulaan dari Injil, dari Allah yang berencana di dalam PL dan digenapi dengan banyaknya kutipan-kutipan Perjanjian Lama bahwa Mesias adalah Yesus Kristus yang datang itu, dari kelahiran hingga pencobaan di padang gurun; pasal 5-7 adalah pengaturan Matius mengenai pengajaran Tuhan Yesus dengan tema “Khotbah di atas Bukit”; setelah pengajaran maka mulailah pelayanan dan pengutusan yang dimulai dari pasal 8-10. Saudara kemudian akan melihat sesudah itu akan muncul perlawanan dan ketidak-setujuan dari pemimpin agama yang berlanjut dengan penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus. Ini adalah pengaturan secara sistematis dari Injil Matius mengenai pelayanan dan kehidupan Tuhan Yesus selama kurang lebih 3 tahun lamanya.

Pasal 8-10 kalau mau kita pisahkan dengan baik, di pasal 8 sebelum Yesus Kristus mengutus murid-murid, Matius memperlihatkan otoritas Dia berhak mengutus dan otoritas yang Dia berikan kepada murid-murid supaya mereka memiliki kekuatan dan memiliki keberanian untuk pelayanan. Maka saudara akan bertemu ada tiga aspek dimana Tuhan Yesus Kristus berotoritas atasnya. Tuhan Yesus Kristus berotoritas atas alam semesta ini, waktu Matius mencatat peristiwa Yesus meneduhkan angin ribut. Yang kedua, Tuhan Yesus Kristus berotoritas atas segala penyakit dan kelemahan. Dan yang ketiga, Tuhan Yesus Kristus berotoritas atas kuasa kegelapan dan Setan. Setelah itu di pasal 10 di dalam pengutusan murid-murid muncul kalimat ini, “Aku mengutus engkau dan memberikan otoritas ini: usirlah Setan, sembuhkanlah orang sakit, bangkitkan yang mati.” Tetapi kita boleh confident keluar pergi pelayanan karena kita tahu kita memiliki otoritas itu; kita boleh confident keluar pelayanan sebab kita tahu Tuhan kita sudah menang. Tetapi yang lebih indah dan lebih penting, sentralitas pengutusan pelayanan, jikalau tidak mempunyai hati compassion seperti Kristus, semua itu tidak akan jalan adanya. Maka pasal 9, otoritas bisa Yesus berikan kepada murid-murid, tetapi itu adalah aspek dari atas dan dari luar kepada kita. Kalau pakai bahasa kita sekarang, kita boleh ditunjang dengan dana yang cukup, kita boleh ditunjang dengan banyaknya fasilitas yang disediakan, kita boleh ditunjang dengan surat otoritas dari Sinode atau dari Pemerintah Kanwil Agama yang mendukung pelayanan kita lebih terbuka dan lebih lancar, tetapi ada hal yang tidak bisa diberi dari luar kepada kita melainkan itu harus tumbuh dan harus lahir dari dalam hati kita sendiri. Maka pasal 9 dengan indah mencatat jiwa pelayanan Yesus Kristus yaitu ada hati yang penuh belas kasihan. “Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan…” (ay.36). Sebelum murid-murid keluar dan pergi pelayanan, Yesus memberikan inti yang penting: biar motivasi, biar hati kita terdorong oleh belas kasihan. Kita bersyukur gereja kita tahun ini bertema “Misi dalam KasihNya,” ingatkan kata “kasih” di sini mungkin lebih baik dimengerti bukan dengan kata “love” melainkan lebih kepada kata “compassion.” Kata “compassion” ini di dalam bahasa Yunani adalah “splagxna” yang maknanya sesungguhnya mewakili seluruh yang ada di dalam isi perut kita. Bagaimana rasanya “splagxna” itu kira-kira bisa dibayangkan seperti kalau saudara naik roller coaster atau bungee jumping, badan sudah di bawah tapi isi perut masih di atas. Jadi secara hurufiah kalau mau digambarkan splagxna itu seperti isi jerohan kita keluar. The most inner part dari diri kita seolah tumpah keluar, itulah kira-kira splagxna, percampuran antara berbagai emosi, senang, galau, bahagia, pedih, dsb. Maka saya bersyukur sekali membaca bagian ini bicara mengenai hal yang terpenting di dalam pengutusan Yesus Kristus titik sentralnya adalah belas kasihan dan cinta kasih, dan ini tidak mungkin bisa diberi dari luar, ini hanya bisa lahir dari hati orang-orang yang pergi ke ladang pelayanan. Kita melihat, kita menyaksikan dan kita menaruh hati yang berbelas kasihan kepada orang-orang yang terhilang. Ini menjadi satu point yang penting sebelum murid-murid keluar pergi melayani, biar hati mereka, perasaan pelayanan mereka seperti hati Yesus Kristus.

Josephus di dalam catatan sejarah yang ditulisnya berbicara mengenai situasi, topografi dan kondisi masyarakat khususnya di daerah Galilea dan di sini dikatakan “Yesus berkeliling di semua kota dan desa…” (ay.35). Boleh dikatakan jumlah orang Yahudi yang ada di sana pada waktu itu jelas jauh lebih banyak daripada jumlah orang Yahudi yang ada sekarang ini. Di jaman Tuhan Yesus jumlah orang Yahudi Jesephus sendiri memperkirakan di daerah Galelia saja kurang lebih ada 3 juta orang. Rata-rata kota yang berkubu berpenduduk sekitar 3000-5000an orang. Dengan demikian kalau semua kota dan desa yang ada di daerah Galilea dikunjungi oleh Yesus, paling tidak Dia perlu menghabiskan waktu empat bulan lamanya. Saudara baca sepintas hanya satu ayat, tetapi di dalam satu ayat itu kalau memakai hitungan dari Josephus bisa menghabiskan waktu selama empat bulan.

Semua orang akhirnya harus mengakui bahwa memang lebih mudah kita bekerja dan bersentuhan dengan benda mati daripada bersentuhan dengan orang. Paulus sendiri pernah mengeluarkan pertanyaan yang menarik, “Manakah yang aku lebih suka, menyukakan hati Tuhan atau menyukakan hati manusia?” (Gal.1:10) Sudah tentu Paulus lebih suka menyukakan hati Tuhan daripada hati manusia. Tetapi dalam hal ini saya sedikit rubah pertanyaannya menjadi “manakah yang lebih mudah, menyukakan hati Allah atau menyukakan hati manusia?” Memang jawabannya pasti dua-dua bukan hal yang mudah. Kita rasa sulit menyukakan hati Tuhan sebab standarnya terlalu tinggi dan kita ini terlalu lemah. Kita merasa sulit menyukakan hati Tuhan karena kita tahu Tuhan terlalu suci dan terlalu tinggi. Tetapi sebetulnya menyukakan hati Tuhan itu lebih mudah sebab direksinya hanya satu, kita disuruh untuk ‘climb’ ke atas, tetapi saya percaya keinginan hati kita untuk menyukakan Tuhan itupun sudah satu kesukaan buat Tuhan. Menyukakan hati manusia saya rasa lebih tidak gampang. Menyukakan yang ini, yang itu ngambek. Maka lebih mudah mana, menyukakan hati Tuhan atau menyukakan hati manusia? Tidak gampang melayani manusia. Itu sebab profesi-profesi yang bersentuhan dengan public, menjadi public servants merupakan satu profesi yang paling banyak mengalami burn-out dan berbagai problem psikologi. Sehingga tidak heran banyak yang banyak mengalami problem psikologi dan yang banyak bunuh diri adalah psikolog, sebab dia menampung semua persoalan orang dan dia harus menyelesaikan persoalan orang, dan waktu dia mempunyai persoalan sendiri dia bingung bagaimana menyelesaikan persoalannya. Dari data riset yang ada, profesi sebagai nurse dan dokter merupakan orang yang paling gampang burn-out. Sehingga kalau saudara dilayani oleh suster yang ‘judes’ eluslah dada saudara sendiri sebagai tanda pengertian kepada mereka. Waktu kita berkeluh kesah kepada dokter atau suster waktu kita sakit, kita rasa kok dia kurang perhatian dan kurang menyelami perasaan kita. Tetapi mari saya ajak saudara melihat dari perspektif lain, jangan lupa hari itu dokter dari pagi sampai malam sudah bertemu dengan berapa banyak orang yang penyakitnya sama seperti saudara. Dan semuanya menuntut dokter itu memberikan perhatian dan simpati yang sama dan menuntut dokter menyembuhkan dan mengangkat sakitnya. Semua sama-sama datang, mengatakan, “Dokter, ini sakit saya… ini persoalan saya… tolong sembuhkan saya…” Itu sebab tidak heran demi untuk mencegah supaya dia juga tidak stress maka kadang-kadang dia perlu menahan diri, bersikap profesional membahas segala sesuatu secara rational dan tidak menunjukkan simpati kepada saudara. Bukan dia tidak bersimpati tetapi kalau dia menaruh semua beban orang lain ke dalam dirinya malam-malam dia akan setengah mati. Polisi juga adalah satu profesi yang stressful. Belum tahu bagaimana posisi profesi pendeta di dalam riset itu ada di urutan mana. Saudara sendiri juga merasakan terlalu sering bersentuhan dengan orang di dalam pekerjaan membuat saudara rasa ingin retreat dan menyepi, bukan? Tetapi sesudah sendiri di atas gunung akhirnya pengen ketemu orang lagi. Sudah ketemu orang, akhirnya muncul perasaan tidak nyaman dan tidak mau ketemu orang lagi. Sehingga ada banyak orang tidak mau ke gereja dengan alasan tidak mau ketemu orang-orang yang ‘reseh’ mau campur dan ingin tahu persoalan pribadi orang, tetapi itu tidak bisa menjadi solusi saudara tidak hidup bersosialisasi. Sampai di situ kita akan tahu itu bukan panggilan kita hidup sendiri dan menjadi ahli kungfu di atas gunung. Yesus memang kadang perlu sendirian, sehingga di tengah Dia sudah melayani orang banyak, Alkitab mencatat beberapa bagian dimana Dia mengajak murid-murid pergi ke gunung dan Dia sendiri memisahkan diri, pagi-pagi benar pergi ke atas gunung untuk berdoa dan menyendiri di sana. Beberapa bagian di Alkitab mencatat Yesus sudah sendirian, mau naik ke kapal tidak bisa karena banyak orang berbondong-bondong datang mencari Dia.

Tetapi bagaimana dengan kita, bolehkah kita seperti itu juga? Saya tahu kita kadang-kadang juga stress menghadapi pekerjaan dan hidup kita, kita bisa menjadi burn-out di dalam pelayanan sehingga kita akhirnya mungkin tidak mau memasukkan seluruh perasaan kita ke situ supaya kita tidak menambah burn-out yang sudah ada. Saudara mungkin dalam kerutinan sehari-hari sudah cape lalu saudara ingin holiday. Tetapi banyak orang sesudah pulang dari holiday hati malah jadi makin malas kerja? Bukankah seharusnya holiday membuat kita jadi fresh dan lebih antusias bekerja? Saya senang sekali kenapa Tuhan menjadikan hari ibadah orang Kristen bukan hari ke tujuh tetapi di hari pertama, the first day of the week? Memang betul secara urutan penciptaan, Allah membikin istirahat itu di hari ke tujuh menjadi hari Sabat. Tetapi Kristus bangkit bukan pada hari Sabat melainkan pada hari pertama dan sejak itulah maka Gereja berbakti pada hari pertama setiap minggu. Kalau begitu, bolehkah saya tafsir sekarang kalau dulu kerja enam hari lalu kemudian baru rest, maka orang Kristen terbalik: kita rest supaya kerja menjadi lebih baik? Hari ini kita istirahat supaya kita bisa serving others dan menjalani hidup lebih baik, saya rasa itu harus menjadi mindset kita.

Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan…” Di sini muncul keindahan hati Tuhan, Dia tidak menahan hal yang penting keluar dari hatiNya yaitu belas kasihan. Mereka lelah seperti domba yang tidak bergembala, jangan terlalu sempit kita tafsirkan membandingkan adanya pelayanan yang tidak menggembalakan domba dan pelayanan yang menggembalakan domba. Saya pikir itu adalah aplikasi yang terlalu jauh. Lebih baik kita memahami kalimat ini adalah satu kalimat untuk menunjukkan Kristus itu adalah the true Messiah yang akan datang. “Domba-domba itu tidak bergembala” itu merupakan keluhan Tuhan di PL terhadap nabi-nabi, terhadap raja-raja orang Israel yang diminta sebagai representatif Tuhan yang mencintai umatNya, tetapi justru mereka memeras dan mencari keuntungan dari yang digambalakan. Maka Tuhan mengatakan satu kali kelak Dia akan datang mengumpulkan kembali domba-domba yang terbengkalai dan terlantar. Maka begitu Yesus masuk ke kota Yerusalem, hatiNya menangis dan Dia berkata, “Aku rindu mengumpulkan mereka seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah kepaknya…” Dengan kalimat ini sebenarnya Matius ingin memberitahukan kepada kita, inilah panggilan Yesus sebagai Mesias. Maka kehadiran Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini adalah mengumpulkan dan membawa kembali domba-domba yang sudah tercerai-berai, sebagai manusia yang sudah terhimpit oleh dosa kembali lagi menjadi satu umat yang akan menyembah, berbakti dan memuliakan Tuhan di atas muka bumi ini. Dengan konsep inilah maka kita perlu memiliki klarifikasi yang penting dimana letak misi di dalam Gereja. Ada orang berkata Gereja tujuannya adalah kepada misi, jadi tujuan akhir Gereja berkumpul adalah misi. Tidak demikian. Bagi saya sentralitas yang penting justru tujuan terutama dan terakhir adalah supaya umat Tuhan berbakti. Karena nanti kita akan sampai kepada langit dan bumi baru, bukan misi menjadi yang terutama. Di dalam langit dan bumi yang baru kita berbakti menyembah Tuhan. Apa artinya berbakti dan menyembah Tuhan itu? Bukan di dalam pengertian kita hanya berbakti, menyanyi memuji Tuhan seperti yang kita lakukan setiap hari Minggu. Berbakti dan menyembah Tuhan berarti kita mengembalikan hidup kita sebagai domba yang sudah tercerai-berai yang tidak menjadikan Tuhan sebagai the central worship of the whole of our life. Maka inilah tujuan kedatangan Kristus, yaitu membawa kembali satu umat menyembah Tuhan. Gereja berkumpul, maka di dalam kebaktian setiap kita dipanggil terus-menerus mengarahkan hati menyembah Tuhan, menjadikan Tuhan lebih utama. Sehingga misi akan berjalan bukan disebabkan karena kita kasihan kepada orang. Misi berjalan sebab kita mencintai Tuhan. Misi berjalan sebab kita menyerahkan hidup kita mencintai Tuhan untuk mencari orang supaya kembali masuk ke rumah Tuhan dan hati mereka kembali kepada Tuhan. Dari situ maka Gereja sebagai ibadah merupakan tujuan akhir, sedangkan misi adalah salah satu sarana membawa orang berbakti kepada Tuhan. Tidak boleh misi sebagai tujuan akhir dari Gereja, tetapi misi sebagai salah satu sarana membawa orang kembali kepada Tuhan dalam arti beribadah kepadaNya. Sehingga kita datang berbakti pada hari ini, berbakti bukan dalam pengertian hanya menyisihkan satu waktu untuk Tuhan dan beribadah, tetapi berbakti di dalam pengertian menjadi umat tebusan Kristus yang akan memuji dan memuliakan Tuhan di dalam seluruh aspek kehidupan kita, ini tujuan akhirnya. Tetapi setelah kita berkumpul, Gereja tidak boleh berhenti hanya di sini, Gereja harus menggunakan berbagai macam resources untuk membuat kumpulan umat Tuhan makin lama makin menjadi besar. Salah satunya adalah misi. Tentu besar ada dua macam, bukan? Misi, penginjilan pribadi, mengajak orang ke gereja, dsb itu merupakan satu pelayanan yang memultiplikasi pelayanan kita dengan orang lain keluar. Cara lain memultiplikasi adalah dengan melahirkan anak-anak orang Kristen. Kita melihat perspektif yang disaksikan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, ”…mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala…” Maka kata Yesus kepada murid-muridNya, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu berdoalah supaya Ia mengirimkan pekerja untuk tuaian itu.” Perhatikan bagian ini ada dua hal yang penting, pertama, Kristus langsung bicara bahwa yang menjadi prioritas paling utama yang perlu dan harus kita kerjakan adalah kita harus berdoa. Yang kedua, isi doanya mulai hari ini harus kita rubah. Kita seringkali berdoa agar non Christian bisa percaya, kita minta Tuhan membuka hati mereka supaya bisa mengenal Tuhan. Tetapi Tuhan tidak mengajar kita berdoa seperti itu. Tuhan Yesus tidak menyuruh kita berdoa hasil tetapi doa sarana. Kirimlah pekerja. Tuhan tidak pernah by-pass. Tuhan berkuasa merubah hati orang, tetapi bagaimana Tuhan merubah hati orang itu ini menjadi prinsip Kristus, kirim orang untuk melayani mereka. Dengan demikian berarti kita tahu ada proses, ada harga, ada perjuangan di dalam pelayanan. Waktu kita datang bicara mengenai misi hari ini saya rindu misi di dalam kasihNya merupakan sentralitas tahun ini kita mengajak hati jemaat memiliki hati seperti Kristus. Pelayanan Kristus banyak, waktu yang Dia pakai melayani banyak. Di tengah-tengah pelayanan itu sebagai manusia kita tahu kita kurang dan terbatas, tetapi di tengah-tengah kekurangan dan keterbatasan kita, kita tidak boleh memadamkan api ini, hanya inilah yang penting dan perlu: belas kasihan. Yang kedua, misi itu jalan jangan kita lekas melihat kepada hasilnya. Tuhan bilang, mulai dengan doa dan minta kepada Tuhan. Maka tidak akan mungkin kita bisa mengerjakan pelayanan misi dengan baik hanya terus ditunjang dengan dana yang besar; tidak mungkin pelayanan misi itu dilakukan dengan baik jikalau kita tidak mulai berangkat dengan keinginan kerinduan kita berdoa bersama-sama. Maka bawalah di dalam doa saudara secara pribadi, tetapi terlebih daripada itu mari kita memakai waktu doa yang ada bersama-sama di gereja dan juga di dalam persekutuan-persekutuan yang kita adakan, kita berdoa minta Tuhan mengirimkan pekerja lebih banyak.

Belakangan kita harus mengakui bahwa jumlah orang yang mendedikasikan diri menjadi hamba Tuhan dibanding dengan dua puluh tahun yang lalu waktu saya mendedikasikan diri, dari statistik yang ada memperlihatkan tidak lebih banyak jumlah orang Kristen yang menjadi hamba Tuhan full time. Banyak gereja membutuhkan hamba-hamba Tuhan, tetapi kebutuhan ini tidak selalu bisa terpenuhi. Mari tahun ini kita dedikasikan kepada Tuhan sebagai tahun misi dari gereja kita. Di awal semester ini saya akan mengadakan beberapa kelas pembinaan mempersiapkan saudara-saudara untuk penafsiran Alkitab, mempersiapkan saudara someday bisa terjun ke dalam pelayanan bisa melayani pemberitaan firman di dalam pelayanan misi kita. Kita juga akan memperkenalkan kepada jemaat badan-badan misi yang berada di garis depan sehingga kita bisa mendukung dan berdoa bagi pelayanan mereka. Biar apa yang kita dengar hari ini menggugah kita. Biar seluruh sentralitas pelayanan kita digerakkan oleh belas kasihan Tuhan Yesus. Biar sentralitas hati kita ada cinta kasih Tuhan sehingga di situ api itu menyala, membakar dan menggerakkan kita sehingga kita melihat kebutuhan kita mau mengerjakan, walaupun mungkin kita belum sanggup bisa tuntas mengerjakannya, namun kita mau melangkah. Terlalu sedikit pekerja di dalam ladang Tuhan. Kita berdoa bukan meminta pekerja-pekerja lain, tetapi kita minta Tuhan jadikan kita orang-orang yang mau bekerja di ladangNya. Biar Tuhan memberi kita kesungguhan dan hati yang seperti ini.

Pdt. Effendi Susanto STh.

30 Januari 2011

 

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: