Home > Effendi Susanto > Obat Penawar Tawar Hati

Obat Penawar Tawar Hati

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Mzm.126:5-6

Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah. Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

2 Kor.4

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata. Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka, sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: “Bahkan jika binatangpun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu.” Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: “Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.” Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel. Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Ibr.12

Kapan terakhir kali kita menangis? Mungkin kita tidak terlalu ingat kapan tepatnya, mungkin baru kemarin, mungkin sudah lama, tergantung berapa besar, berapa dalam, berapa hopeless dan berapa beratnya tekanan di dalam hidup kita. Saya percaya tidak ada orang yang tidak pernah menangis di dalam hidup ini. Namun pertanyaan yang paling penting dan paling serius adalah dengan cara apa kita menangis dan bagaimana kita menangis? Ada dua mazmur yang bicara mengenai menangis dengan perbedaan kontras yang luar biasa yaitu Mzm.6:7 dan Mzm.126:5-6. Dalam Mzm.6:7 bicara Daud menangis dan tangisan itu adalah tangisan yang boleh dikatakan hampir melumpuhkan hidupnya. Dalam mazmur itu Daud menggambarkan dia menangis dan ranjangnya seperti danau karena air mata menggenanginya. Tangisan itu tidak kita remehkan karena saya percaya dia mengalami kesulitan yang begitu berat. Kalau saudara lihat di dalam fakta hidupnya, ada satu masa dia diam di dalam kamarnya tidak mau makan berhari-hari yaitu waktu dia menangis minta Tuhan kalau bisa anaknya yang lahir akibat perbuatannya yang salah dengan Batsyeba jangan mati (2 Sam.12:15-25). Tetapi begitu anaknya meninggal, dia keluar untuk mandi, makan dan berdoa kepada Tuhan. Tetapi di Mzm.6:7 ini ditambahkan satu kalimat mengatakan tangisan seperti ini adalah tangisan yang merasa sudah tidak ada harapan, tangisan itu lahir dari hidup yang sudah ‘burn out.’ Maka kata yang keluar dari ayat ini adalah kata “lesu.” Lesu hidupku, itu sebab aku menangis tidak henti-hentinya. Namun dalam Mzm.126 begitu saudara baca, kita bayangkan itu menjadi satu cerita drama menggambarkan orang-orang yang berdiri di atas ladang yang keras dan tandus, lalu ada orang yang pergi menabur benih sambil menangis, tangisannya bagi saya begitu berbeda luar biasa. Tidak berarti orang yang menangis di Mzm.126 ini kesulitannya lebih ringan daripada orang yang di Mzm.6, tetapi cara dia menangis luar biasa berbeda karena dia menangis sambil menabur benih. Air mata dan ingus menjadi pupuk. Saya begitu tersentuh dengan ayat ini. Banyak orang menangis tetapi tidak mau maju dan tidak mau menabur. Yang ada, kita lebih gampang menangis berbaring di tempat tidur sampai tempat tidur itu penuh dengan air mata. Dengan cara kita menangis memberikan perbedaan yang unik sekali dengan sikap kita bagaimana berespons. Dengan menangis berarti Tuhan memberitahukan kepada kita, kita anak Tuhan tidak akan escape dari toil kehidupan yang sama, jerih payah, susah yang sama. Tetapi mari kita waktu menjalani hal seperti itu, kita boleh menangis tetapi jangan sampai kita kehilangan semangat dan menjadi tawar hati. Lesu membuat hati menangis, tetapi menangis tidak membuat hati menjadi lesu.

Minggu lalu saya sudah katakan di dalam kita membesarkan anak, di dalam kita membangun rumah, di dalam kita mencari keamanan, keselamatan dan kesehatan, tujuan akhir dari semua yang kita kerjakan di dalam dunia ini, kita mau ada dua perasaan hati yang kita inginkan yaitu sukacita dan kebahagiaan. Kita tidak mau kalau kita sudah kerjakan bersusah-susah, kita sampai kepada akhir dari seluruh perjalanan hidup kita, semua yang kita kerjakan menjadi sia-sia adanya. Itulah sebabnya Mzm.126-128 membicarakan akan semua itu.

Tetapi di dalam bagian ini saya menemukan dua hal yang menarik yaitu di dalam perjalanan kita mengerjakan semua itu, seringkali goal sukacita, goal kebahagiaan, tidak pernah kita dapatkan di dalam Tuhan. Mengapa? Saya ketemukan dua hal yang penting di dalam mazmur ini yaitu “the anxious life”, hidup yang penuh kecemasan, hidup yang kuatir, merupakan hal yang sering membocorkan kantung sukacita hidup kita. Sebenarnya kantung itu sudah penuh, tetapi pagi-pagi kita sudah cemas, kita sudah kuatir; kecemasan dan kekuatiran itu adalah hal yang paling banyak memboroskan hidup kita. Hal yang kedua adalah “burn out.” Kata “burn out” dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan dengan tiga kata dalam bahasa Indonesia: lesu, patah semangat, tawar hati. Dalam 2 Kor.4:1 memakai kata “tawar hati.” Patah semangat tawar hati adalah perasaan yang menguras tenaga kita, yang memiliki perasaan tidak ingin lagi memiliki keinginan untuk meneruskan sesuatu. Kita sudah merasa capai, kita merasa patah semangat, kehilangan sukacita hidup dan kehilangan kepuasan dari hidup. Tidak gampang kita melewati perjalanan di tanah yang kering, tanah negeb yang tidak mungkin lagi bisa diairi. Itu sebab Mzm.126 mengatakan mimpi rasanya kalau terjadi perubahan 180 derajat di dalam hidupnya. Tetapi ayat 5 dan 6 merupakan ayat yang mengajak kita walaupun perjalanan hidup seperti itu aku tetap keluar dan menabur benih; aku tetap keluar berjalan; aku tetap melakukannya sekalipun dengan air mata.

Kita bukanlah superman dalam hidup ini. Kita adalah manusia yang begitu lemah dan begitu rentan, bukan saja kita, paling tidak di dalam Alkitab paling tidak kita akan menemukan beberapa tokoh yang secara terbuka mencetuskan perasaan putus asa, burn out di dalam hidup mereka. Jelas ada dua orang yang begitu burn out sampai minta mati kepada Tuhan, yaitu Elia dan Musa. Elia mengalami burn out seperti ini, dia tidak mau maju, dia diam saja berbaring (1 Raj.19:4-5). Yang kedua adalah Musa dalam Bil.11:14-15 mengeluh kepada Tuhan dan merasa tidak sanggup lagi memimpin bangsa Israel. Memang Yunus juga minta mati, tapi bukan karena burn out tetapi karena dia sangat jengkel dan marah. Nabi itu patah semangat, nabi itu tawar hati dan di tengah kesulitan itu mereka tidak lagi merasa sanggup menahan, menanggung dan menerima beban itu. Kita bukan manusia yang kuat, dan Musa serta Elia juga sekuat-kuatnya, semampunya, kadang di tengah tantangan kesulitan pergumulan yang ada mungkin bisa menjadi tawar hati.

Dan kita tahu ada seseorang yang mengalami pengalaman kesulitan yang begitu berat yang mungkin tidak pernah dialami oleh orang lain, sakit yang tidak ada habis-habisnya, uang dan harta hilang dirampok dan bahkan anak-anaknya mati dibunuh. Dia adalah Ayub. Dalam Ay.17:1 dia menyatakan satu kalimat yang menggambarkan penderitaannya, “Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan.” Hidup kita boleh sehat, boleh kuat, boleh panjang umur, tetapi bisa jadi semangat hidup itu sudah putus bertahun-tahun yang lalu, apa gunanya? Itu sebab Ayub memberikan kita rangkaian ini: waktu seseorang sudah patah semangatnya, hari-harinya menjadi pendek, lalu dia hanya berpikir sebentar lagi dia akan mati. Orang yang patah semangatnya pasti tidak ingin hidup lebih lama lagi. Orang yang patah semangatnya ingin cepat-cepat masuk ke liang kubur. Tetapi lumrah Ayub bisa seperti itu karena dia tidak melihat lagi ada kemungkinan untuk bisa keluar dari sakit yang tidak ada habis-habisnya dan kesulitan ekonomi yang tidak henti-hentinya.

Hampir semua orang di dalam hidupnya bisa mengalami dan pernah mengalami patah semangat, hilang pengharapan dan tawar hati di dalam hidup mereka. Di dalam PB, Paulus pun juga mengalami akan hal itu. Dalam 2 Kor.4:1 dan 16 dua kali Paulus mengeluarkan kata ‘tawar hati’. Biar Firman Tuhan pada hari ini boleh menjadi firman yang memberi kekuatan kepada kita. Banyak buku yang saya baca bicara mengenai perseverance, resilience spirit, dsb kita dipanggil memiliki pikiran yang benar, kita dipanggil untuk belajar tahan, bersabar menghadapi segala sesuatu. Itu bukan hal yang salah. Tetapi saya lebih melihat bagaimana kekuatan terobosan kebenaran firman Tuhan memberikan cahaya yang jauh lebih akurat mengajak kita melihat akar masalah mengapa kita menjadi patah semangat. Saya tahu banyak orang mungkin terlalu banyak melihat situasi di luar hidupnya yang terlalu sulit dan terlalu berat, yang dia rasa dia jalani lebih berat daripada orang lain. Itu yang menyebabkan dia patah semangat. Betul, salah satu indikasi orang itu menjadi patah semangat sebab menginginkan dunia ini memperlakukan dia dengan fair dan baik. Kita ingin ada di satu perusahaan dimana kita bekerja, kita di-treat well. Kita ingin ada di satu komunitas Gereja kita mau diperlakukan dengan baik. Kita ingin apa yang sudah kita kerjakan orang bisa berespons dengan baik dan positif kepada kita. Tetapi cepat atau lambat kita harus mengakui bahwa dunia yang ada di sekitar kita tidaklah fair dan tidaklah adil kepada kita. Orang yang terus menuntut dunia yang fair dan adil, percayalah kepada saya, kita tidak akan pernah maju dan kita akan terus berkutat di situ.

Seringkali kita menghadapi kesulitan dan cepat patah semangat. Jujur, kita rasa kecewa, kita putus asa dan patah semangat lagi meskipun sudah dengar nasehat untuk tetap berjalan maju. Karena kita belum meneliti dengan dalam dan dengan sungguh-sungguh bagaimana terang firman Tuhan memberi pencerahan kepada kita. Beberapa indikasi warning dari firman Tuhan untuk hidup kita yang memang gampang dan mudah menjadi patah semangat dan tawar hati. Gal.6:9 Paulus menggunakan metafora yang sama dengan Mzm.126 yaitu metafora seorang petani, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.” Sudah tabur, sudah kerjakan, tetapi kadang-kadang tidak sampai memetik hasilnya karena di tengah jalan kita sudah tawar hati. Dalam 2 Tes.3:13 Paulus memberi nasehat yang sama, “Janganlah kamu jemu-jemu berbuat apa yang baik.”

Mzm.126, 127, 128 bicara mengenai toils/kerja keras. Mari kita menetapkan satu perspektif yang benar, dari Tuhan menciptakan dunia, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, kerja merupakan bagian integral dari panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menciptakan dunia itu indah, baik dan sempurna dan Tuhan mengijinkan manusia tetap melakukan pengembangan dan development yang kreatif terhadap dunia yang sudah sempurna itu menjadi lebih indah lagi. Itu sebab Tuhan berkata kepada Adam, “Usahakan dan kerjakanlah taman ini dengan baik-baik.” Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, bukan kerja itu menjadi upah dosa, tetapi variable-variable yang bersentuhan dengan kerja: ketidak-adilan, unfairness, injustice, ada di dalam kerja kita. Itu sebab di dalam Kej.3 Tuhan mengingatkan Adam, apa yang kamu tabur bisa keluar onak duri. Demikianlah kerja kita. Tetapi bedanya Mzm.127 dan 128 adalah sekalipun sama-sama kata ‘toil’ yang dipakai, bukan ‘work,’ tetapi kerja dengan keras dan susah payah, tetapi yang hidupnya sia-sia, yang tidak melihat anugerah Tuhan di dalam pekerjaannya, dia makan roti kecemasan dari kerja yang keras. Tetapi mereka yang mengerti anugerah Tuhan, yang tahu cinta kasih Tuhan di dalam pekerjaannya, sama-sama kerja keras tetapi mereka makan roti itu sebagai berkat Tuhan. Dengan kata itu berarti kita jangan menjadi kecewa, patah hati, tawar dan putus asa hanya karena kita rasa pekerjaan kita lebih berat daripada orang lain. Karena meskipun masing-masing kita memiliki beban, tugas, kesulitan yang berbeda tetapi setiap kita memiliki kesulitan masing-masing. Itu sebab di dalam bicara mengenai kekuatiran Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa mengikut Dia segala kekuatiran itu hilang. Kekuatiran itu ada tetapi biar kekuatiran itu sehari cukup untuk sehari. Maksud Tuhan Yesus yang bikin susah adalah susahnya kemarin kamu ‘microwave’ lagi untuk dimakan hari ini. Mari kita perbaiki perspektif kita, jangan terlalu tawar hati dan putus asa karena terlalu melihat faktor eksternal di luar hidup kita lebih berat daripada orang lain.

Mari kita melihat faktor ‘burn out’ ini lebih berada di dalam. Paling tidak, x-ray dari Ibr.12 dan 1 Kor.14 itu jawaban Alkitab yang sangat tepat mengenai kenapa orang menjadi ‘burn out.’ Memang ada orang menjadi tawar hati dan patah semangat sebab mimpi, cita-cita dan tujuannya tidak tercapai. Tetapi Ibr.12:1-3 dan 1 Kor.14 merupakan prinsip Alkitab yang memberitahukan kenapa orang menjadi patah semangat. Kami terima pelayanan dari Tuhan, itu sebab kami buang segala motivasi yang salah dari hati kami, itu kata Paulus. Aku terima pelayanan ini dari Tuhan, maka aku tidak lagi memiliki keinginan yang tidak suci dan tidak benar di dalam hatiku.

Ibr.12 mengatakan kenapa engkau menjadi kecewa dan putus asa? Sebab di dalam perjalanan mengikuti Tuhan, engkau menaruh satu beban yang tidak perlu di pundakmu, beban dosa kesalahan yang sudah Tuhan tanggungkan, kenapa engkau tetap tidak serahkan kepada Tuhan? Bagi saya ini adalah Biblical prinsip yang penting sekali. Kenapa kita patah semangat, burn out dan kecewa karena situasi hidup kita di luar sangat berat. Mari kita lebih masuk ke dalam, kita tanya baik-baik hati kita, apakah ada keinginanku yang egois, hal-hal yang tidak benar dan tidak suci, hidupku terlalu fokus kepada apa yang saya mau dan bukan kepada apa yang Tuhan mau, itu yang menjadi penyebab saya menjadi patah semangat. Adakah ‘the burden of sin’ di dalam hidupmu? Kita masih simpan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, sesuatu yang memang Tuhan tidak mau, biar kita minta ampun kepada Tuhan. Itulah adalah beban yang tidak sepatutnya kita simpan dan kita taruh di atas pundak kita. Mari hari ini kita janji kepada Tuhan, kita tidak mau lagi semua itu menjadi bebanku. Minta Tuhan memberi kekuatan dari dalam. Hidup yang terbuka, hidup yang tidak menyimpan beban, hidup yang tidak ada motivasi apa-apa, yang tidak punya sifat yang ‘crooked’ di dalamnya, itu orang yang berjalan dengan tegak, tidak perlu takut apa-apa. Ini menjadi prinsip yang penting.

Yang kedua, belajar berpikir secara Alkitabiah melihat semua apa yang terjadi di dalam hidup kita. Betul, kita harus berpikir dengan benar, tetapi bukan saja demikian, kita harus berpikir secara Biblical. Ada beberapa kalimat yang saya renungkan dari 2 Kor. bagaimana Paulus berpikir secara Biblical. Dalam 2 Kor.2:4 Paulus begitu kecewa, sesak hati dan merasa ada hal yang mungkin begitu berat memberi perubahan kepada jemaat Korintus. Paulus juga menangis, Paulus juga mengalami perasaan yang berat di dalam dia melayani. Tetapi di dalam surat ini Paulus mengatakan dia tidak putus asa dan tawar hati. Bagi saya pikiran yang Biblical inilah yang terus memberi kekuatan kepada saya di dalam pelayanan. 2 Kor.4:16, fakta hidup kita berjalan makin tua kita menjadi makin lemah, tetapi Paulus katakan di dalam hatinya hari demi hari dia terus diperbaharui. Perhatikan kata ‘hari demi hari,’ berarti hal itu tidak datang sekaligus melainkan proses pembaharuan di dalam batin. Dua hal yang menyebabkan dia tidak tawar hati, pertama, karena dia mengatakan ini adalah ministry yang important yang Tuhan berikan. Selalu sadar apa yang kita kerjakan, apa yang kita lakukan, hidup yang sedang kita jalani, adalah sesuatu pemberian yang penting dari Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, seberapa besarnya gereja yang dia layani, atau seberapa kecilnya gereja yang dipercayakan untuk dia layani, berapa banyaknya tugas aktifitas yang dilakukan atau tidak, tidak menjadi persoalan yang penting. Yang menjadi persoalan yang penting adalah apakah dia sungguh mengerti dan menghargai, ‘this is the ministry God given to me’? Lihat kepada pekerjaanmu seperti itu juga. Lihat anak isteri kita seperti itu juga. Lihat pasangan kita sebagai pemberian Tuhan yang baik. Pasti perspektif kita akan menjadi lain. Saudara yang sudah patah semangat di dalam relasi pernikahan, lihat seperti itu. Waktu engkau menghadapi situasi yang flat, pelan dan boring di dalam hidupmu, bagaimana engkau tidak tawar hati di situ. Sense the purpose and the importance of the ministry yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing.

Yang kedua, Paulus mengatakan sekalipun aku hanyalah bejana tanah liat, puji Tuhan, Tuhan menyimpan hartaNya di dalam bejana ini. Kita tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan, kita orang yang lemah dan sederhana, tetapi menyadari hidup kita adalah hidup yang memiliki sinar cahaya menjadi saksi bagi Tuhan, di situ sense yang indah yang Paulus taruh di dalam hatinya. Dia tidak menjadi tawar hati, dia pergi terus mengabarkan Injil sebab Tuhan memakai bejana tanah liat ini sebagai tempat Dia meletakkan hartanya.

Terakhir, kembali kepada Mzm.126, 127, 128, dan saya juga ajak saudara melihat Mzm.129:1-4 Jangan pernah melepaskan Tuhan dari skenario hidup kita. Di ayat 4 ada Tuhan yang adil, Tuhan yang pasti akan membela hidup kita. Meskipun di ayat 1-3 pemazmur menggambarkan dengan luar biasa, dari muda aku sudah dibikin susah tetapi mereka tidak bisa mengalahkan aku. Dia bangga punya “tattoo ban traktor” dari ujung ke ujung, orang itu mendatangkan kesulitan dan kesusahan di dalam hidupku seperti membajak dari atas ke bawah. Ada satu kebanggaan dari seseorang yang mengalami penderitaan yang tidak ada di dalam diri orang lain, yaitu kebanggaan yang memperlihatkan “the scars of honour” kepadanya. Waktu muda, kita suka membanggakan scar yang tidak ada gunanya, membanggakan tattoo, ada orang membanggakan hal yang lain. Tetapi pemazmur ini membanggakan codetan bajak yang panjang di tubuhnya. Pada waktu kita mengalami seperti itu, jangan kita putus asa dan tawar hati sebab Allah kita adil. Yang kedua, kesusahan itupun tidak pernah menjadi sia-sia sebab itu menjadi kebanggaan kita, selama dia tidak mengalahkan kita.

Biar hati kita limpah dengan sukacita dan kebahagiaan yang sedalam-dalamnya, semangat yang tidak pernah luntur dan habis dari Tuhan, sebab kita tahu Dia adalah Tuhan yang baik, setia dan adil, yang berkarya di dalam hidup kita. Kita tahu Tuhan memiliki maksud dan tujuan yang indah memakai hidup kita yang sementara ini bagi kemuliaan nama Tuhan. Kita tahu bahwa di dalam setiap hal yang kita kerjakan, di situ ada penghormatan dan kebanggaan yang Tuhan sediakan bagi kita. Biar itu semua kita lakukan dengan hati yang bersyukur kepada Tuhan. Kalau ada beban yang berat, kesulitan yang berat yang tidak semestinya kita pikul dan tanggung, biar Tuhan ambil dan singkirkan, sehingga penuhlah sukacita dalam hidup kita. Ketika kita letih dan lesu, kita akan kehilangan pengharapan. Ketika kita patah semangat, kita sulit melihat Tuhan berkarya dengan ajaib di dalam hidup kita. Biar kita tinggalkan ranjang yang penuh dengan air mata yang tidak perlu, biar kita berjalan sekalipun sambil menangis tetap kita bekerja dengan setia.

Pdt. Effendi Susanto STh.

13 Maret 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: