Home > Effendi Susanto > The Enjoyments in the Presence of God

The Enjoyments in the Presence of God

Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!

Mzm.128

Mzm.128 merupakan mazmur yang mengajak kita melihat Allah kita adalah Allah yang indah; Allah kita adalah Allah yang menginginkan kita menikmati kebahagiaan dan sukacita; Allah kita yang di tangan kananNya ada kebahagiaan dan sukacita dan di tangan kiriNya ada nikmat senantiasa. Itu sebab saya ajak kita melihat dimensi ini membuat kita menjadi orang Kristen yang utuh. Waktu anugerah Tuhan datang kepada kita, sukacita itu datang dari hasil jerih payah kita, mari kita terima dengan syukur dan jangan pernah berpikir Tuhan kita adalah Tuhan yang seolah-olah tidak menginginkan anak-anakNya itu bersukacita dan bersyukur menikmati apa yang Tuhan sudah beri. Saya pikir ini merupakan point yang paling penting yang Mzm.128 ingin angkat.

Mzm.128 mengingatkan kita hal-hal yang bersifat rohani tidak terpisahkan dengan hal-hal yang bersifat physical yang kita lakukan sehari-hari. Hal-hal yang kita lakukan sehari-hari sebaliknya mari kita lihat memiliki dimensi dan sifat spiritual pula. Banyak orang Kristen dan juga orang di luar berpikir ikut Tuhan berarti kita kehilangan sukacita. Banyak anak muda mengatakan tidak mau dibaptis dulu sekarang karena belum sempat “have fun.” Orang di luar juga waktu menolak selalu mengatakan, “Nantilah saya masuk Gereja kalau saya sudah tua, sekarang waktunya untuk senang-senang. Sebab kalau sudah masuk Gereja kita jadi orang serius…” Seolah-olah Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak mau anak-anakNya bersukacita. Fil.4:8 Paulus mengajak orang Kristen untuk memikirkan “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji…” God is the righteous God; Allah adalah Allah yang adil dan suci; Allah adalah Allah yang noble/mulia; dan bukan itu saja, Paulus menambahkan God is also a beautiful and lovely God. Pikirkanlah apa yang benar, pikirkanlah yang pure/suci, pikirkanlah hal-hal yang mulia, tetapi pikirkan juga apa yang lovely, pikirkan apa yang excellent, pikirkan yang beautiful/indah. Ini seharusnya menjadi keseluruhan totalitas orang Kristen.

Mengapa kita datang berbakti kita merasa terpaksa? Mengapa kita datang beribadah kepada Tuhan kita kehilangan sukacita? Jangan biarkan aspek ini semua menjadi hilang. Betul kita datang dengan respek dan hormat sebab Allah kita adalah suci, agung, dan mulia adanya. Tetapi mari kita juga datang dengan kagum dan datang dengan penuh sukacita di hadapanNya sebab Dia adalah Allah yang indah dan Allah yang lovely. Seindah-indahnya kita melukis pemandangan, tidak akan pernah seindah pemandangan yang ada di postcard, bukan? Tidak ada orang yang bisa menandingi Tuhan dengan kreatif “menggambar” ikan-ikan hias yang ada di lautan. Ada ikan yang yang dinamakan “picasso triggerfish” yang bentuknya sangat unik dan di badannya ada “coretan-coretan” yang abstrak, ada ikan grouper yang dengan teliti Tuhan buat dengan pola polka dot di badannya. Luar biasa. Coba kalau di dunia ini semua ikan bentuknya sama dan warnanya hanya abu-abu, betapa membosankan, bukan? Juga kalau kita melihat sekeliling dan semua pemandangan sama. Dari situ kita bisa melihat Tuhan itu beautiful, Tuhan itu begitu indah, begitu agung, begitu lovely. Inilah dimensi yang diangkat oleh Mzm.128, bagaimana mengkaitkan dengan harmonis orang yang takut akan Tuhan, orang yang beribadah kepada Tuhan berlimpah penuh dengan kebahagiaan dan sukacita. Berbahagialah dia, orang yang takut akan Tuhan, dan seluruh kehidupannya penuh dengan segala hal yang indah berkimpahan.

Mzm.128 memperlihatkan kaitan orang yang takut akan Tuhan dengan tiga hal yang sangat unik sekali, yang saya percaya banyak orang tidak melihatnya sebagai hal yang rohani adanya. Yang pertama, orang yang takut akan Tuhan akan berbahagia menikmati hasil jerih payah tangannya. Bagaimana saudara memahami enjoy menikmati apa yang kita dapat di dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bersifat rohani. Yang kedua, orang yang takut akan Tuhan akan menikmati isterinya yang digambarkan seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahnya. Kalau saudara buka Kid.8 (Kidung Agung) saudara akan menemukan gambaran isteri sebagai kebun anggur dengan sexual chasm. Jadi ada dua pohon yang dipakai Alkitab untuk menggambarkan ketertarikan seksual yaitu pohon anggur dan pohon korma. Bagaimana kita bisa mengkaitkan seorang yang takut akan Tuhan enjoy his wife sebagai kebun anggur yang indah, di situ pemazmur menggambarkan hidup seksualitas, hubungan suami isteri yang mesra di dalam pemahaman pengertian takut akan Tuhan.

Lumrah pemazmur berkata orang yang takut akan Tuhan, dia akan tinggal di dalam rumah Tuhan selama-lamanya. Lumrah pemazmur berkata orang yang takut akan Tuhan, maka doanya akan didengar oleh Tuhan. Lumrah kita mendengar kalimat orang yang takut akan Tuhan akan hidup mengasihi dan melayani Tuhan. Semua itu lumrah karena semua itu dikaitkan dengan aspek-aspek yang rohani adanya. Tetapi di bagian ini pemazmur memperlihatkan seluruh hal-hal yang bersentuhan dengan hidup kita, kita kerja, kita makan, kita melakukan hubungan suami isteri yang kita anggap mungkin itu tidak ada dimensi rohaninya, pemazmur justru mengkaitkan hal-hal itu di sini. He who fears the Lord enjoys his hard work; he who fears the Lord enjoys his wife as a fruitful vine in his house. Yang ketiga, seorang yang takut akan Tuhan menikmati berkat tersendiri berkaitan dengan panjang umur. Tidak berarti semua anak Tuhan pasti berumur panjang. Maksudnya adalah mari kita melihat umur yang kita jalani hari demi hari itu sebagai berkat dan anugerah Tuhan. Mari kita melihat keindahan relasi suami isteri yang intim, suami isteri yang makin hari makin cinta Tuhan justru makin mempererat di dalam kenikmatan hubungan suami isteri yang eksklusif. Mari kita melihat bagaimana saudara bekerja hari demi hari saudara tidak merasa bersalah dan saudara tidak merasa takut menikmati hasil jerih payah itu sebagai berkat dan anugerah Tuhan. Itu yang ingin pemazmur ajak kita melihat hari ini.

Namun sebelum sampai ke sana, mari kita sedikit meng-clearkan udara kita sehingga kita sanggup bisa menikmati Allah itu indah adanya. C.S. Lewis dalam bukunya “Suprise by Joy” mengatakan, “Joy is a serious business in heaven.” Itu bukan theme park Disneyland. Mungkin beberapa ayat kita lihat dulu untuk mengerti kenapa orang Kristen sulit melihat joyful, enjoyment dan apa yang didapat secara fisik itu sebagai sesuatu yang dari Tuhan yang bisa kita nikmati, sesuatu yang dari Tuhan yang tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga yang bersifat fisik. Dalam 2 Tim.3:4 Paulus mengatakan, dalam terjemahan bahasa Inggris lebih jelas, ”…lovers of pleasure rather than lovers of God.” Ayat ini membuat sebagian penafsir salah mengerti seolah-olah berarti kita diminta tidak boleh mencintai kenikmatan.

Tidak ada satu agamapun menolak fakta manusia mempunyai desire, manusia mempunyai keinginan dan cita-cita. There is no problem with your desire. There is no problem with what you want. Yang menjadi problem adalah dengan cara apa dan di jalan apa engkau memenuhi keinginan itu. Bukan salah di aspek desire tetapi Kekristenan mengingatkan kita salah di caranya, salah di bagaimana mendapatkannya. Jadi 2 Tim.3:4 bukan melarang seolah-olah kita tidak boleh menikmati sesuatu, namun mengajak kita memperhatikan kata yang penting di situ yaitu “rather,” jadi maksudnya yang ditegur oleh Paulus tidak boleh mendapatkan kenikmatan atau menerima kenikmatan di luar daripada pleasure yang diberikan oleh Tuhan. Bukan menjadi pecinta kenikmatan tetapi menjadi pecinta Allah, maksudnya adalah kita menikmati segala kebahagiaan yang kita terima dari Allah. Kita harus menolak segala kebahagiaan, jikalau kebahagiaan itu kita terima tanpa Allah di dalamnya.

Kedua, dalam Mark.8:34-37 apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Memang betul salib itu adalah lambang penderitaan. Memang betul pikul salib berarti kita rela mati bagi Kristus. Tetapi ayat ini tidak boleh disalah-mengerti. Yang dimaksudkan oleh Kristus di sini adalah apa gunanya you mendapatkan segala sesuatu kebahagiaan kenikmatan fisik tetapi akhirnya kehilangan kebahagiaan yang bersifat kekal adanya.

Di dalam bukunya “Desiring God” John Piper menggunakan satu istilah yang mungkin membuat banyak orang terganggu yaitu istilah “Christian Hedonism.” Kata ‘hedonism’ berarti orang yang mengumbar dan menikmati pleasure. Tetapi justru karena menggunakan istilah yang kontroversil ini membuat buku itu dibaca orang, dan di situ kita akan menemukan apa yang ditulisnya bukanlah dalam pengertian menikmati sukacita tanpa Allah. John Piper mengangkat beberapa hal. Yang pertama dia mengatakan, pleasure itu merupakan hal yang paling hakiki yang diinginkan oleh manusia. Itu sebab tidak heran kenapa di dalam Pengakuan Iman Westminster Confession pertanyaan pertama yang muncul adalah “Apa yang menjadi tujuan utama hidup manusia?” Dijawab “The chief end of man is to glorify God and to enjoy Him forever.” Itu tujuan utama hidup kita, memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selamanya. Allah adalah fondasi sumber kebahagiaan kita. Yang kedua, John Piper berkaitan dengan Mark.8:34-37 tadi mengatakan hidup kita berkorban itu adalah satu kebahagiaan karena yang dikorbankan oleh kita bukan pleasure itself tetapi yang dikorbankan oleh kita adalah apa gunanya you mendapatkan sesuatu yang bersifat sementara tetapi akhirnya kehilangan apa yang kekal.

Dalam Ul.14:22-29 adalah satu bagian yang unik bicara mengenai dimensi yang lain daripada perpuluhan. Fungsi perpuluhan yang pertama adalah untuk supaya terjadi keserataan biaya hidup dari suku yang tidak punya. Kita tahu suku bangsa Israel ada 12 dan ada satu suku yang di set apart oleh Tuhan, tidak mendapatkan harta warisan dan tanah pusaka yaitu suku Lewi. Maka fungsi perpuluhan dari sebelas suku yang lain adalah bertujuan untuk menunjang suku ini. Dengan demikian sistem itu menyebabkan suku Lewi walaupun tidak mempunyai harta warisan dan tanah pusaka, mereka tetap bisa hidup memadai sama derajatnya dengan suku-suku yang lain. Dari situ saudara bisa mengerti dan tidak dibingungkan oleh penafsiran yang mengatakan perpuluhan itu adalah milik dari pendeta. Perpuluhan di dalam Alkitab jelas adalah milik satu suku dan bukan menjadi milik satu orang. Intinya di situ sederhana yaitu supaya suku ini bisa melayani dengan baik, tidak perlu memikirkan biaya hidup karena mereka bekerja sepenuhnya melayani di rumah Allah. Yang kedua, saudara bisa menemukan fungsi perpuluhan di dalam PL adalah untuk menunjang running cost kebutuhan di Kemah Suci. Yang ketiga, yang sangat unik kita temukan di dalam Ul.14 ini, perpuluhan memiliki tujuan dimensi yang berbeda. Bagaimana kita bisa menikmati, sejauh mana saya yang sudah mendapatkan sesuatu, saya bisa menikmati untuk diri sendiri? Sampai kepada hal seperti ini saya percaya itu sulit untuk dijawab secara jelas dan tegas. Tetapi ada beberapa hal yang penting di sini: Tuhan tidak melarang kenikmatan sukacita seseorang menikmati dari hasil jerih payah tangannya. Berarti sebaliknya kita tahu Tuhan pasti dan jelas marah kepada orang yang menikmati dari hasil bukan jerih payah tangannya. Jadi intinya, silakan you enjoy dan nikmati usaha dari hasil tanganmu. Di dalam segala usaha engkau sudah setia bekerja berat, ada berkat anugerah Tuhan, makin lama makin banyak dan makin bertambah, itu lumrah. Sejauh mana saudara menikmatinya, haruskah saudara membuat rumah saudara lebih besar daripada yang sekarang, haruskah mobilmu diganti, saudara mungkin menjadi guilty, memikirkan sejauh mana saudara sebagai orang Kristen menikmati semua hal itu, bukan? Hari ini mari kita melihat beberapa hal yang penting di sini. Bagaimana orang yang mempunyai hubungan yang baik dan benar dengan Tuhan sebagai seorang yang takut akan Tuhan dalam segala sesuatu, dengan hormat saudara memprioritaskan Tuhan terlebih dahulu. Mari kita lihat selanjutnya, orang yang hidupnya rohani mencintai Tuhan, Tuhan juga memberikan anugerah berkat yang kita bisa enjoy nikmati. Makan saja, kata Ul.14, beli saja lembu yang terbaik. Tentu saudara akan membeli lembu yang gemuk. Saudara tentu tidak akan pergi ke pasar, sebagai seorang Kristen yang rohani lalu bilang, “Saya mau beli daging lembu, tetapi saya orang Kristen yang mau hidup berkorban, apakah ada daging lembu tua yang agak keras dagingnya untuk saya makan?” Sudah pasti tidak seperti itu, bukan? Ada orang yang bilang begini kepada saya, “Pak, saya takut bersyukur dan menikmati segala sesuatu sebab kalau saya menikmati kesuksesan dan kekayaan yang saya dapat, itu artinya saya menghina orang lain yang kurang daripada saya.” Kalau saudara terus berpikir seperti itu, sampai kapan saudara bisa bersyukur? Saya bersyukur untuk berkat tidak berarti saya bertepuk-tangan melihat orang punya kesulitan. Itu adalah dua hal yang berbeda. Saya bersyukur itu tidak ada kaitannya saya menghina orang lain; saya bersyukur sebab saya tahu sumber fondasi datangnya nikmat ini dari Tuhan adanya. Maka perpuluhan di Ul.14 ini mengandung dimensi yang lain yaitu perpuluhan ini dinikmati. Sampai di sini saudara hati-hati, bolehkah dengan ayat ini lalu mengatakan, saya pakai uang perpuluhan untuk undang orang makan di restoran? Ul.14 memberi beberapa prinsip, pakai perpuluhan itu untuk engkau enjoy dengan seluruh keluargamu. Kedua, ada aspek saya juga tidak melupakan orang yang miskin dan janda.

Kiranya Tuhan memimpin kita bijaksana dalam hal-hal ini. Seringkali kita melihat Allah kita adalah Allah yang selalu ingin mengambil sukacita dan kebahagiaan dari apa yang kita miliki. Mari kita melihat sukacita kenikmatan kesuksesan yang datang itu sebagai berkat anugerah Tuhan dan biar Dia menjadi sumber fondasi kebahagiaan hidup kita. Waktu kita belajar berkorban memberi sesuatu, bukan karena kita mau menderita diri sendiri tetapi karena kita mau memakai apa yang sementara itu menjadi sesuatu berkat yang bersifat kekal adanya.

Yes.62:8-9 bicara mengenai nanti di langit dan bumi yang baru apa yang akan terjadi di situ. Selama engkau dan saya hidup di dalam dunia ini, kita hidup di dalam dunia yang sudah dikutuk oleh dosa. Saudara dan saya melihat dan mengalami ketidak-adilan dan unfairness terjadi di atas muka bumi ini. Ketidak-adilan dan unfairness yang terjadi di atas muka bumi ini paling tidak ada dua hal penyebabnya. Yang pertama, evil terjadi karena ada orang jahat melakukannya. Kekerasan, pembunuhan membuat hati kita marah dan sedih karena ada orang yang jahat melakukannya. Kita ingin keadilan terjadi atas orang itu. Kita hidup di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Dosalah yang menodai keindahan dan kenikmatan daripada dunia ini sehingga karena dosa manusia bumi dikutuk oleh Tuhan. Apa yang engkau tanam akan menghasilkan onak dan duri. Engkau tanam benih jagung, dicuri orang, engkau tanam dengan susah payah benih gandum, yang keluar adalah onak duri karena dimakan oleh orang lain. Itulah dunia kita yang sudah tidak adil dan sudah tidak fair. Bukan Tuhan yang tidak adil, tetapi dosalah yang merusak semuanya. Satu kali kelak dosa tidak ada lagi, dan semua itu akan hilang lenyap. Tidak ada lagi air mata, tidak ada penderitaan dan tidak ada kematian lagi waktu kita ketemu Tuhan. Lalu sampai di langit dan bumi yang baru nanti adakah sukacita yang penuh? Ada. Kalau anak kecil sukacita, dia akan gembira lompat-lompat. Kalau orang dewasa? Ah, tidak boleh lompat-lompat, harus jaga wibawa. Saya harap dimensi ini kita lihat baik-baik. Yes.62 bicara mengenai dunia yang sudah tidak lagi berada di bawah kutuk dosa. Sampai di sana nanti kita akan makan, minum dan bersukacita sambil glorify God. Apa yang Tuhan kasih dengan segala jerih payah kerja terima itu sebagai syukur dari Tuhan. Jangan pernah menikmati sesuatu yang saudara tahu itu bukan datangnya dari Tuhan. Waktu kita bersyukur dan menikmati apa yang datang dari Tuhan, itu berarti kita sekaligus memuliakan Dia sebab syukur kita berarti kita tahu itu sumbernya dari Tuhan. Waktu kita bersyukur, Tuhan menginginkanmu menikmati dengan indah dan sukacita apa yang didapat oleh jerih payah tangan kita. Waktu kita menikmati dan bersyukur atas apa yang Tuhan kasih kepada kita, kita juga tidak melupakan orang yang lain. Waktu kita belajar berkorban, itu bukan berarti kita mau menderita tetapi sebab kita tahu apa yang kita kerjakan sekarang kita tidak mau itu hanya kita nikmati sebagai sukacita yang sementara, kita mau sukacita yang lebih indah dan lebih kekal. Yang Tuhan minta adalah sebagai seorang pria yang takut akan Tuhan, panggilan saya kepada bapak-bapak dan semua pria, kebahagiaan kita berangkat karena kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan.

Yang kedua, minggu kemarin sudah saya angkat, kebahagiaan dan sukacita kita bukan karena kekayaan harta yang banyak, tetapi ada kekayaan yang saudara dan saya jangan sampai abaikan yaitu anak-anak yang Tuhan berikan di dalam keluarga kita. Mzm.128 menggambarkan anak-anak itu sebagai tunas pohon zaitun. Tunas itu sangat delicate dan gampang patah. Tetapi jangan lupa, dalam Mzm.127 anak-anak digambarkan sebagai anak-anak panah yang tajam di tangan pahlawan. Kebanggaan seorang pahlawan yang berhasil mempertajam anak-anak panahnya bukan di hadapan teman dan sahabatnya tetapi musuhpun respek kepada dia. Jadi sebagai orang tua kita dipanggil untuk nurturing dan sekaligus sharpening sehingga dia besar menjadi seorang yang sukses dan berhasil di dalam masyarakat.

Dalam Kol.3:21 Paulus mengingatkan para ayah supaya jangan menyakiti hati anak sehingga tidak menjadi tawar hati. Anak adalah seperti sebatang anak panah, di situ ada dinamika, di situ ada gairah, di situ ada energi. Mungkin natur anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan, tetapi di sini Paulus mengingatkan para ayah jangan sampai “put down the fire” di dalam hati anak, sehingga apapun dia tidak mau kerjakan. Jangan padamkan apa yang menjadi cita-cita dan keinginan dia. Dukung dia, dorong dia. Apalagi anak laki-laki, saudara terlalu protect dia, mau bikin ini-itu dilarang. Latih anak punya fighting spirit. Pertajam dia untuk bisa hidup sendiri, bertanggung jawab sendiri, ini merupakan hal yang penting.

Pdt. Effendi Susanto STh.

27 Februari 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: