Home > Effendi Susanto > Keberanian Memperbaiki Yang Salah

Keberanian Memperbaiki Yang Salah

Nyanyian ziarah. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Mzm.130-131

Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu:

Flm.1-2

Mzm.130-131 adalah dua mazmur yang ditulis oleh Daud berbicara mengenai dua peristiwa yang mungkin muncul dan mungkin terjadi di dalam hidupnya. Mzm.131:1 adalah peristiwa kesuksesan di dalam hidupnya. Di tengah sukses, di tengah perjalanan hidup yang lancar, ayat ini menjadi doa Daud, jangan aku menjadi sombong dan tinggi hati dan memandang rendah orang lain. Ada sukses, ada lancar, dia memohon kepada Tuhan jangan sampai dirinya menjadi tinggi hati. Mzm.130:1 sebaliknya menggambarkan situasi yang sulit, jurang yang dalam, berbicara soal lembaran yang gagal, lembaran kesulitan, lembaran yang tidak berhasil dari hidupnya. Dua gambaran inilah yang dilukiskan dalam Mzm.130 dan 131. Tetapi dua mazmur ini sama-sama berpegang kepada prinsip yang sama, aku menanti-nantikan Tuhan, aku berharap kepada Tuhan. Ini merupakan perspektif yang sangat penting. Namun demikian, mazmur ini menyisipkan sedikit humor yang indah di tengah situasi dan realita yang dia hadapi. Mzm.131:2 ”…seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya demikian aku menenangkan jiwaku…” Daud menggambarkan dirinya seperti seorang anak yang baru disapih berbaring dekat ibunya. Tidak mendapatkan susu, pasti sedih dan menangis dan mencetuskan emosi yang merasa ibu tidak lagi mencintai dia tetapi tidak bisa mengatakannya. Namun di dalam situasi yang tidak enak itu, tetap ada ibu di samping itu sudah cukup menjadi penghiburan baginya. Kemudian di dalam Mzm.130 Daud menggambarkan dari jurang yang gelap, di tengah kesulitan yang seolah tidak ada jalan keluar dia berseru dan berharap kepada Tuhan. Dia memberikan satu humor di tengah keadaan ini dengan melukiskan pengharapannya kepada Tuhan seperti seorang pengawal mengharapkan sinar pagi hari. “Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi…” Menjadi satpam kerja dan berjaga sepanjang malam, saudara bisa bayangkan apa yang paling dia tunggu-tunggu? Kapan sinar matahari pagi muncul di langit. Di dalam jurang yang dalam, di tengah kesulitan hidup, terlalu gampang dan terlalu mudah kita mungkin menjadi kecewa dan putus asa, namun Daud tetap menaruh nada optimis di sana. Walaupun susah dan sulit, seperti seperti seorang penjaga menanti malam itu memang panjang tetapi pasti satu kali kelak malam akan lewat dan berakhir. Sinar mentari yang akan muncul menjadi pengharapan dan sukacitanya. Dari jurang yang dalam, dari kekelaman yang dalam, dari kesulitan dan kegagalan hidup aku berseru kepadaMu. Tetapi di tengah seruannya yang sedih dan menangis, dia menggambarkan pengharapannya menanti Tuhan seperti seorang pengawal menanti matahari terbit. Sisakanlah secuil humor dan optimisme di tengah kesulitanmu. Jangan lupa di tengah kesuksesan kita bisa menjadi sombong, mari kita hati-hati di situ. Dan mungkin di tengah kesuksesan kita pun bisa mengalami situasi seperti seorang anak kecil yang diberhentikan dari susu ibunya, kita mungkin akan kaget. Waktu kita lancar dan sukses mungkin Tuhan melihat sudah waktunya kita masuk ke dalam fase dewasa, tidak perlu mendapat susu. Kadang kita terkejut dan kaget di situ.

Surat Filemon adalah satu surat yang indah sekali. Memang ini adalah satu surat yang sangat pribadi, tetapi di dalam surat ini kita menemukan bagaimana orang-orang yang tadinya tidak berguna, orang-orang yang melakukan perjalanan lembaran hidupnya dengan kesulitan, dengan kegagalan, dengan torehan tinta yang gelap boleh berubah dan akhirnya menjadi berguna di masa yang akan datang. Itulah Onesimus. Surat ini adalah surat pribadi Paulus untuk mengantar seorang yang bernama Onesimus kembali kepada tuannya yang bernama Filemon. “Kalau ada yang dia berhutang kepadamu, aku Paulus akan membayarnya kembali…” (ay.18-19) sudah cukup membuat hampir seluruh penafsir setuju bahwa Onesimus lari dari tuannya yang bernama Filemon, dan bukan saja lari, dia sudah mencuri uang dari Filemon. Sangat wajar kita katakan dia sudah mencuri uang Filemon sebab dia lari dari Kolose tempat Filemon tinggal di daerah Asia dan akhirnya bertemu Paulus di penjara di kota Roma. Tentu untuk lari dan pergi hingga ke Roma membutuhkan uang dan Onesimus mencuri uang itu dari tuannya. Onesimus adalah satu nama yang sangat bagus sekali, Onesimus berarti “berguna.” Dari namanya ini Paulus kemudian menggunakan permainan kata yang bagus ”…dulu Onesimus tidak berguna namun sekarang dia berguna” (ay.11). Dulu cuma namanya ‘berguna’ tetapi secara karakter dan sifat sudah merugikan Filemon, tetapi setelah bertobat dan perubahan yang terjadi, dia memulai lembaran hidup baru dan dia menjadi seorang anak Tuhan yang berguna. Onesimus pernah gagal di dalam hidupnya. Onesimus pernah lari dan dia melakukan kesalahan yang besar, keputusan-keputusan yang salah di dalam hidupnya. Kita tahu sebagai orang Kristen betapa susahnya kita membuat keputusan hidup yang benar. Tetapi sekaligus kita tahu terlebih sulit lagi kita memperbaiki kesalahan dari keputusan yang sudah salah.

Memasuki tahun yang baru ini apa yang kita bisa belajar dari hidup Onesimus ini? Yang pertama, memasuki tahun yang baru ini mari kita memiliki keberanian untuk memperbaiki yang salah. Kita tidak tahu apa yang menjadi pemicu sampai akhirnya Onesimus kembali kepada Filemon. Kepulangan kepada tuannya membutuhkan satu keberanian yang sangat besar karena nyawa taruhannya. Dia bisa ditangkap dan di dahinya akan dicap dengan selar panas bertulis “F” sebagai tanda fugitivus, seorang pelarian. Apakah karena ada orang datang kepada Paulus dan bertemu Onesimus di situ dan mengenali dia sebagai budak Filemon sehingga dia tidak lagi bisa menyembunyikan latar belakangnya, maka mau tidak mau dia memberitahukannya kepada Paulus? Atau kemungkinan yang kedua adalah dia berada di penjara Roma itu merupakan satu pengalaman yang tidak gampang dan tidak mudah, dia melakukan tindakan kriminal dalam pelariannya ke Roma dan dipenjarakan di sana. Dan di dalam penjara itulah Onesimus mengalami pertobatan dan akhirnya dia mengakui semua yang menjadi pengalaman masa lalunya kepada Paulus. Karena itulah Paulus mengatakan the right thing yang harus Onesimus lakukan adalah kembali kepada tuannya. Kita tidak tahu pasti penyebab keputusan dia kembali, apakah itu karena orang lain, apakah itu keinginan yang muncul dari dirinya sendiri ataukah itu dorongan dari Paulus, yang kita tahu ini adalah momen yang penting bagi Onesimus mengambil keputusan untuk melakukan perbaikan terhadap apa yang salah yang dia sudah kerjakan. Belajar melalui kesulitan kegagalan hidup tidak pernah menjadi lembaran yang gelap dan salah di dalam hidup kita. Onesimus dulu hidupnya useless, tidak berguna, tidak berarti dan tidak bermanfaat. Namun sekarang dia mau hidupnya berguna dan berarti.

Ada banyak hal yang patut kita lakukan di tahun ini. Yang pertama kita bisa minta kepada Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk bisa melakukan hal yang lebih baik lagi di tahun ini. Kita juga bisa memohon kepada Tuhan biar kita bisa melakukan the best things bagi Tuhan di dalam tahun ini. Tetapi saya percaya yang paling penting yang perlu kita janji di hadapan Tuhan adalah “I want to do the right things.” To do the right things membutuhkan keberanian untuk belajar memperbaiki apa yang salah dalam hidup kita. Terlalu banyak kita mungkin takut terhadap kegagalan dan kesalahan di dalam hidup kita. Terlalu banyak kita takut anak kita mengalami kesulitan dan kegagalan dalam hidupnya.

Alkitab mencatat ada tiga orang tua yang memberikan mutiara yang indah bagi tiga anak muda sebagai warisan mempersiapkan mereka melanjutkan tanggung jawab hidup. Dalam Ul.31:7 di akhir hidupnya Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu.” Dalam 1 Taw.28:10 raja Daud yang sudah tua berkata kepada Salomo anaknya, “Kuatkanlah hatimu dan lakukanlah itu.” Dan dalam 2 Tim.2:1 Paulus berkata kepada hamba Tuhan yang masih muda yang bernama Timotius, “Jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus.” Ini menjadi tiga mutiara yang indah dari orang yang tua kepada yang muda; dari seorang pemimpin senior kepada penerusnya; dari ayah yang sudah tua mewariskan sesuatu kepada anaknya yang masih muda; dari seorang pendeta senior kepada yang junior. Mereka yang sudah tua, yang sudah menjalani perjalanan hidup yang panjang dan penuh dengan bijaksana menemukan keindahan mutiara ini. Apa yang kita wariskan kepada anak-anak kita? Seringkali orang berpikir dia harus mewariskan harta yang banyak kepada anak cucunya supaya mereka bisa hidup tenang dan aman. Tetapi tiga orang tua ini memberikan warisan yang paling penting yaitu the courageous spirit, satu spirit hidup yang berani. Musa yang tua berkata kepada Yosua, lanjutkan misi ini memasuki tanah yang Tuhan janjikan. Di situ engkau hanya membutuhkan satu hal yaitu be strong and be brave. Daud sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk pembangunan Bait Allah dan Salomo rasanya tidak perlu terlalu banyak menambahkan dari apa yang ada. Tetapi pembangunan itu tidak akan bisa sukses dan terealisir dengan baik jika tidak ada semangat perjuangan dan keinginan untuk mengerjakan di dalam diri Salomo. Itu sebab Daud memberikan semangat ini kepada Salomo, be strong and do it. Demikian juga dari seorang pendeta senior yang sudah melakukan begitu banyak pelayanan, di dalam kesuksesan, di dalam kesulitan dan kegagalan, tetapi di tengah semua itu Paulus tidak melepaskan prinsip hidup ini dan memberikannya kepada Timotius, be strong and be brave. Kepada anak-anak muda yang bersekolah di luar negeri, jauh dari orang tua, kita tahu untuk bisa sekolah di sini kita membutuhkan uang dan kita tahu orang tua sudah bekerja keras untuk mempersiapkan kebutuhan kita untuk sukses. Tetapi satu panggilan saya kepada saudara yang jauh dari orang tua bersekolah di tempat ini, sukses atau tidak suksesnya engkau bergantung dari beberapa hal yang tidak boleh engkau abaikan. Pertama, jangan pernah ke luar negeri hanya menginginkan supaya engkau bisa bebas dari pengawasan orang tua. Punya spirit seperti itu maka engkau akan menjadi seekor kuda liar. ‘Toh orang tua tidak lihat aku bikin apa di sini, aku bebas melakukan apa saja…’ Hargailah setiap usaha dan pemberian orang tua. Demikian sebagai orang tua kita juga jangan terlalu takut anak kita menjalani kesulitan dan kegagalan di dalam hidup mereka. Mungkin sebagai orang tua, dahulu saudara hidup susah dan mengumpulkan uang dengan sulit, berkorban makan bubur supaya anak bisa mendapat sekolah yang baik. Setelah kita mengalami kepahitan dan kesulitan hidup kita pikir kita tidak mau hal yang sama terjadi kepada anak-anak kita. Itu adalah hal yang berbahaya, karena bisa jadi kita mewariskan harta yang banyak tetapi kita tidak mewariskan semangat perjuangan kita kepada mereka. Tidak heran ada pepatah mengatakan, generasi pertama adalah generasi yang kumpul uang, generasi kedua adalah generasi yang buang-buang uang, generasi ketiga adalah generasi yang minta-minta uang. Saya rindu biar kita mendidik anak-anak kita pada waktu mengalami kesulitan hidup jangan terlalu cepat kita mengangkat tantangan kesulitan itu. Pada waktu mereka gagal, biar mereka belajar dari kegagalan itu. Biar mereka pegang prinsip ini: to win humbly and to lose gracefully. Memang tidak gampang, meski gagal masih ada perasaan cheerful dan sukacita dan kenginan untuk mencoba dan bangkit lagi. Dalam pelayanan, hamba Tuhan yang sudah tua yang sudah berpuluh-puluh tahun melayani, apa yang kita wariskan kepada anak-anak muda yang baru melayani Tuhan? Tidak lain dan tidak bukan adalah semangat pelayanan, itu sudah cukup, be strong and be brave. Harta keberanian bukan berani nekad, tetapi berani memperbaiki apa yang salah; berani untuk menghadapi kesulitan dan kegagalan dengan spirit yang tidak pantang menyerah. Orang yang takut gagal adalah orang yang akhirnya tidak berani mengerjakan banyak hal di dalam hidupnya, karena sebelum dikerjakan dia sudah terlebih dahulu takut gagal. Ini adalah penyakit yang berbahaya.

Onesimus mengajarkan kita satu prinsip hidup yang penting: hidup yang sudah dirubah oleh Tuhan, hidup pertobatan yang mendatangkan satu perspektif yang baru. Walaupun kembali kepada Filemon itu bukan perkara yang gampang dan mudah, karena ini bukan hanya berkaitan dengan masalah pribadi saja. Nanti kita akan melihat bahwa meskipun surat ini adalah surat pribadi Paulus, dia mengalamatkan surat ini sebagai surat umum dan terbuka yang dibacakan kepada seluruh jemaat. Kenapa ini menjadi satu surat umum? Karena kembalinya Onesimus pasti akan mendatangkan kegoncangan terhadap struktur perbudakan pada waktu itu. Bagaimana Filemon sekarang memperlakukan Onesimus, sebagai seorang budak seperti dulukah? Atau sebagai saudaran seiman yang diperlakukan setara karena sekarang dia adalah orang percaya? Kalau dia sudah bersalah secara hukum, penanganannya sekarang bagaimana? Begitu pulang, kalau diperlakukan sebagai orang merdeka, masih ada puluhan budak lain, bagaimana melakukan hal yang benar? Yang kedua, Paulus mempunyai keberanian memperbaiki tatanan sosial yang keliru dan timpang. How to do the right things di dalam hidup kita? Mungkin Tuhan panggil saudara untuk hal seperti ini. Itu sebab sangat unik sekali Paulus menulis surat kepada Filemon, namun sekaligus dia menyebutkan beberapa nama dan itu adalah nama-nama pemimpin jemaat yang ada di Kolose. Kenapa sampai surat pribadi itu akhirnya menjadi surat yang umum, ini memberikan intention kepada kita bahwa Paulus memiliki keinginan, memang sistem perbudakan tidak bisa dirombak dalam satu malam tetapi spirit di balik sistem perbudakan itu harus dirobah oleh orang Kristen. Maka Onesimus pulang kembali ke rumah Filemon, tetap dia adalah budakmu tetapi sambutlah dia sebagai saudara seiman. Ini merupakan point yang penting dimana Paulus melihat hal yang tidak benar di dalam kehidupan masyarakat, biar orang Kristen yang berani melakukan perbaikan walaupun mungkin itu tidak besar dan tidak terlalu bersignifikansi. Itu adalah panggilan kita. Yang ketiga, dari bagian ini kita mendapat satu perspektif yang baik dari Filemon, ay.15 ”…sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya.” Di dalam rumah Filemon ada dua penjara. Yang satu adalah penjara fisik yang memenjarakan Onesimus karena dia telah berbuat salah. Yang kedua adalah penjara hati dari Filemon. Tidak gampang dan tidak mudah menerima dan mengampuni orang yang pernah merugikan kita, mencuri dan melakukan hal yang tidak benar kepada kita yang datang mengetuk pintu rumah kita. Apalagi kalau dia adalah orang yang pernah sangat engkau trust dan percayai, tidak gampang untuk bisa menerima dia kembali. Namun di bagian ini Paulus berkata, sebagai seorang rasul aku bisa saja memerintahkan engkau untuk menerima kembali Onesimus. Tetapi Paulus tidak ingin melakukan hal yang seperti itu, sebaliknya dua kali dia menyebut dirinya, “I am Paul, the prisoner for Jesus,” seorang tawanan yang dipenjarakan karena Kristus. Dan dia minta dengan sangat persuasif kepada Filemon, untuk menerima Onesimus demi diri Paulus sendiri. Tidak gampang dan tidak mudah untuk memaafkan dan mengampuni orang. Namun memasuki tahun yang baru ini mari kita juga melepaskan diri kita dari penjara yang tersembunyi dan tersimpan di dalam hati kita.

Shakespeare pernah mengatakan, “To forgive is divine,” mengampuni adalah satu tindakan ilahi. Tidak gampang dan tidak mudah untuk bisa mengampuni orang. Filemon mungkin menyimpan di dalam penjara hatinya kemarahan dan sakit hati dan perasaan yang kecewa kepada Onesimus. Seorang yang mungkin pernah sangat dia percayai namun sudah menjadi seorang yang mengkhianati kepercayaannya. Sekarang Paulus minta dia belajar mengampuni dan menerima dia, itu bukan satu hal yang gampang. Bagaimana semua perspektif ini menjadi indah? Ay.15 menjadi ayat yang indah. Kita percaya Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia, namun di dalam konteks ini Paulus mengatakan ‘mungkin’ dengan dia lari daripadamu akhirnya mendatangkan satu hal yang baik yaitu dia bisa pulang selama-lamanya. ‘Mungkin,’ supaya apa yang dilihat oleh Paulus juga bisa dilihat oleh Filemon. Benar secara teologis hal-hal yang terjadi, kesulitan, sakit, penderitaan, air mata dan kekecewaan. Meletakkan perspektif providensi dan pemeliharaan Allah akan menjadikan kita terbuka memasuki tahun yang baru ini dengan hati yang percaya, tidak ada hal yang salah yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita. Untuk seketika lamanya engkau kehilangan dia, kata Paulus, untuk seketika lamanya dia pergi dan menyakiti hatimu, tetapi di belakang semua itu ada maksud Tuhan yang baik, dia sekarang pulang menjadi orang Kristen, dia sekarang pulang menjadi orang yang berguna, dia sekarang pulang menjadi orang yang melayani Tuhan, dia sekarang pulang menjadi orang yang mencintai Tuhan. Engkau tidak rugi apa-apa menerima dia dengan tangan dan hati yang terbuka.

Pdt. Effendi Susanto STh.

23 Januari 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: