Home > Effendi Susanto > Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (1)

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (1)

Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.”

Kej. 21:8-13

Tema: Abraham

Terlalu sulit bagi setiap kita untuk menerima kata “tidak,” di dalam hidup ini. Banyak peristiwa tragis pria yang ditolak cintanya akhirnya membalas dengan membunuh wanita itu dan bahkan keluarganya sekaligus. Memang tidak gampang bagi kita untuk bagaimana mengatakan tidak kepada seseorang. Lebih gampang mengucapkan “ya” daripada bilang “tidak.” Setiap hari di dalam tugas dan pekerjaan kita, kita melakukan dengan baik dan penuh kesuksesan yang saya pikir lebih banyak daripada kegagalan. Saya rasa secara persentasi kita lebih banyak mendapatkan hal-hal yang baik di dalam hidup ini ketimbang hal-hal yang tidak baik. Tetapi pada waktu peristiwa atau hal yang kita inginkan tidak tercapai dan tidak terjadi, bagaimana kita belajar menerima fakta itu saya percaya itu bukan perkara yang gampang, karena di baliknya ada perasaan satu penolakan yang mungkin menyedihkan dan menyakitkan hati kita; kita rasa itu hak kita; kita rasa itu sepatutnya kita peroleh; kita rasa sepatutnya kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun waktu dari seseorang keluar kata, “Maafkan… tidak,” itu membuat kita marah, sedih dan kecewa.

Terlebih, tidak mudah bagi kita untuk mendengar kata “tidak” dari Tuhan, tetapi kita harus melihat “tidak”-nya Tuhan walaupun menyakitkan hati, di belakangnya selalu ada hal yang indah dan baik. Orang-orang beriman, orang-orang yang memiliki iman yang besar kepada Tuhan, orang yang setia dan yang tidak mungkin kita ragukan kesetiaannya kepada Tuhan, tetapi orang-orang beriman ini, kepada mereka Tuhan berkata “tidak.”

Ada lima orang dari Alkitab yang akan saya bahas.

Pertama, kepada Abraham Tuhan bilang yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Dengan kata lain Tuhan mengatakan anak ini (Ismael) bukan menjadi anak yang Aku janjikan dan engkau harus usir dia keluar.

Kedua, kepada Musa yang meminta untuk bisa masuk ke tanah Kanaan, Tuhan bilang “tidak.”

Ketiga, Daud dengan kerinduan datang kepada nabi Nathan dan menyatakan keinginannya untuk membangun Bait Allah, namun Tuhan bilang “tidak.”

Keempat, Yesus Kristus di taman Getsemani mengatakan, “Bapa, sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu daripadaKu…” Memang Tuhan tidak langsung berkata “tidak” tetapi jelas Yesus Kristus disalibkan menunjukkan Tuhan bilang “tidak.”

Kelima, Paulus tiga kali meminta dengan sungguh kepada Tuhan supaya Dia mengangkat duri dari tubuhnya, tetapi Tuhan bilang “tidak.”

Orang-orang beriman yang kepada mereka Allah berkata “tidak.”

Dalam Kej.21:8-13 Alkitab mencatat peristiwa dimana Ishak sudah lahir dan mulai besar dan pada satu peristiwa Ismael, anak yang dilahirkan oleh Hagar “sedang main dengan Ishak…” atau dalam terjemahan lain Ismael menertawakan dan mengejek Ishak. Sikap dan tindakan Ismael itu membuat Sara tidak senang dan ia menyuruh Abraham untuk mengusir Ismael dan ibunya. Hal itu membuat hati Abraham “torn apart” (Kej.21:11). Ini merupakan satu kehancuran hati karena dia diperhadapkan kepada pilihan yang tidak gampang. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham untuk melakukan apa yang diminta Sara. Maka dengan berat hati Abraham harus “mengusir” Ismael dan ibunya keluar dari rumahnya.

Tetapi bukankah keputusan untuk melahirkan Ismael adalah bagian dari rencana Sara? Bukankah keputusan itu adalah keputusan yang mereka ambil karena Tuhan pernah berjanji akan memberikan anak kepada mereka? Namun janji itu disalah-mengerti dan mereka terlalu cepat mengambil sikap metode dan cara yang diambil mereka sendiri. Akibat keputusan yang “messy” dan sudah berantakan itu, Abraham harus menanggung konsekuensi dan Tuhan tidak memberikan excused kepada dia dan melaksanakan cara Abraham, karena bukan itu cara Tuhan. Karena cara yang Tuhan mau tidak Abraham pakai, maka Tuhan mengatakan “tidak” kepada Ismael. Itu adalah tindakan yang tidak gampang diterima oleh Abraham sebab ayat ini sendiri menyatakan hari itu hati Abraham hancur lebur. Itu bukan soal beli mobil yang kita tidak suka lalu dibuang begitu saja, karena di dalam diri Ismael ada benih Abraham. Itu adalah anaknya sendiri.

Mari kita coba lihat apa yang Tuhan katakan kepada Abraham, dan kenapa Tuhan “tega” di situ, kenapa Tuhan tidak include-kan saja Ismael tinggal bersama-sama dengan mereka tetapi beri garis yang tegas dan jelas bahwa Ishak yang akan menjadi ahli waris yang sah dari Abraham? Kenapa Tuhan tidak memakai cara seperti itu? Kenapa Tuhan harus memakai cara yang decisive dan mendatangkan kesulitan hati bagi Abraham dan membuat hatinya torn apart?

Dalam Kej.15:1-6 janji Tuhan pertama kali datang kepada Abraham bahwa dia pasti akan mendapatkan keturunan. Betul, 100% nanti logika Sara akan menjadi logika yang memenangkan hati Abraham: Tuhan berjanji untuk memberikan anak, cuma tidak terlalu jelas metode apa yang Tuhan pakai untuk memberi Abraham anak. Maka mereka mencari cara sendiri dan mereka pikir dengan cara sendiri itu janji Tuhan akan tergenapkan.

Saya minggu ini bertemu dengan seorang asing yang sebelumnya tidak saya kenal. Dia mencari saya dan ingin bertemu dengan saya untuk mendiskusikan beberapa hal. Saya senang sekali melihat dia sebagai seorang Kristen dia punya kesungguhan hati, sebelum mengambil satu keputusan yang penting di dalam hidupnya dia ingin tahu lebih dahulu apa kata firman Tuhan sebelum dia melangkah. Dia akan membuka satu usaha di Cina berkaitan dengan bio-ethic mengenai stem cell research dan teknologi cloning, dsb. Investasinya menyangkut uang US$20 juta bersama teman-temannya yang pulang dari Amerika, semuanya dengan gelar PhD. khusus di bidang ini. Dia adalah satu-satunya orang Kristen di antara mereka dan dia datang kepada saya bertanya bagaimana prinsip Alkitab mengenai hal ini. Saya siapkan satu artikel untuk kita bahas sama-sama lalu kemudian diskusi satu jam lebih dengan dia. Satu hal hati saya senang ada seorang Kristen yang sebelum mengambil keputusan, tanya dengan sungguh-sungguh lebih dulu apakah ini benar, bagaimana prinsip firman Tuhan dan dia baru mau jalan kalau itu betul-betul benar. Tidak gampang, sebagai seorang hamba Tuhan saya harus kasih tahu hati-hati karena banyak orang datang mau mencari pendapat dari hamba Tuhan, namun setelah selesai diskusi lalu cari hamba Tuhan yang lain karena merasa dengan hamba Tuhan yang satu “dia tidak cocok.” Maksudnya apa? Saya pernah berkata tegas kepada seseorang yang datang mau konseling tetapi setelah dua tiga kali tetap tidak mau berubah, saya bilang tidak usah datang konseling kepada saya. Point saya, saya ingin mencegah orang yang datang meminta pendapat padahal sendirinya sudah punya pendapat dulu lalu cari support dari pendeta. “Saya enak deh ngomong-ngomong sama bapak, cocok… kalau sama pendeta yang itu koq tidak cocok ya…” Maafkan, bisa jadi ada hamba Tuhan yang tidak comprehensive dalam mendiskusikan satu hal, itu adalah urusan lain, tetapi point saya adalah bagaimana kita pada waktu mau mengambil satu keputusan, bagaimana kita belajar mengerti soal taat.

F.B. Meyer menafsir Kej.15 sangat menyentuh hati saya, ini merupakan satu bagian firman Tuhan yang melatih kita dengan sungguh-sungguh mengerti what kind of obedience and patience yang semestinya ada di dalam diri kita dan dia mengatakan 90% saja pun ketaatan kita kepada Tuhan tetap bukan ketaatan.

Tuhan berjanji berdasarkan naturNya yang tidak pernah mengingkari janji. Janji diberi sebab Dia berkuasa menggenapkan janji itu. Janji itu seharusnya menjadi kekuatan dan keteguhan hati kita. Memang betul Tuhan tidak membukakan kepada Abraham bagaimana caranya dan Tuhan baru bukakan caranya itu sesudah lewat sepuluh tahun setelah janjiNya di Kej.15. Waktu itu Tuhan berkata, “Sara isterimu akan melahirkan…” Sara tertawa mendengar hal itu.

Namun di dalam janji pertama ini tidak disebutkan soal Sara yang akan melahirkan maka ini menjadi satu “loophole” karena Tuhan tidak bilang harus dengan cara apa Abraham mendapatkan anak itu. Maka Kej.16 Sara mengajak Abraham melihat secara logis, saya sudah tidak mungkin punya anak, sudah berhenti menstruasi. Maka dia suruh Abraham mengambil Hagar, budaknya supaya bisa melahirkan seorang anak bagi Abraham. Apa yang mendorong Sara mengambil langkah seperti itu? Paling tidak, bagi Sara ini adalah satu keputusan yang logis, toh Allah sendiri tidak berkata soal bagaimana caranya memiliki anak itu. Jadi ada pembenaran di dalam pemikiran Sara untuk mengambil Hagar buat Abraham. Yang kedua, jelas ada pressure di dalam diri Sara untuk perform. Kadang-kadang tekanan pada diri kita untuk memberikan yang terbaik dan melakukan yang terbaik sehingga kita cepat-cepat ingin mengambil satu langkah dan keputusan di dalam hidup ini.

Kemarin saya mendapat satu email kecil dari adik saya “Ada tiga hal yang datang dalam hidupmu dan mungkin tidak akan kembali lagi” yaitu waktu, perkataan, kesempatan. Namun seringkali karena kita berpikir bahwa kesempatan itu bisa hilang dan lewat dari kita maka kita buru-buru harus ambil, padahal tidak selamanya kesempatan yang datang itu harus kita ambil di dalam hidup ini tetapi bagaimana kita mencoba mengambil kesempatan dengan bijaksana.

Kita perhatikan, Tuhan baru kasih tahu Abraham bahwa Sara akan melahirkan setelah lewat sepuluh tahun. Ini adalah satu bagian yang bagi saya unik sekali. Berarti selama sepuluh tahun lewat itu jelas Ismael lahir dan terus bertumbuh. Selama itu Tuhan tidak pernah bilang apa-apa dan tidak pernah ada satu disapproval dari Tuhan mengenai Ismael ini. Maka sdr bisa membayangkan bagaimana bonding antara Abraham dan Ismael terus bertumbuh dengan kuat, hubungan sudah begitu dekat karena selama ini Abraham percaya Ismael adalah anak keturunan yang Tuhan janjikan itu. Selama lebih dari sepuluh tahun itu saya percaya ada reasoning yang Abraham berikan kepada Tuhan. Maka dia membesarkan anak yang dia rasa adalah penggenapan janji Tuhan kepadanya dan mungkin dengan pemikiran itulah maka Abraham minta kepada Tuhan, “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapanMu!” (Kej.17:18) namun Tuhan bilang “Tidak!” (Kej.17:19). Hati Abraham luar biasa sulit menerimanya.

Apa alasan Sara yang ketiga? Mungkin Sara berpikir kita tidak boleh hanya menunggu dan percaya kepada janji Tuhan. Kita harus ‘do something.’ Saya tidak meragukan mengenai ‘what’ yaitu Tuhan janji mau kasih anak, tetapi mari kita coba pikir-pikir ‘how’ bagaimana kita bisa mendapatkan hal itu? Maka cara yang terbaik dan paling logis inilah cara yang dipakai oleh Sara. Sekali lagi tidak berarti kalau begitu kita tidak boleh memikirkan prinsip dan langkah-langkah yang terbaik, tetapi saya pikir di dalam bagian ini kita belajar memisahkan dua hal yaitu memisahkan mengenai ‘apa’ janji Tuhan dan ‘bagaimana’ tergenapinya itu masuk kepada wilayah yang Sara dan Abraham tidak bisa kontrol. jadi point yang penting di sini adalah kenapa Sara mengambil tindakan itu, sebab tindakan bagaimana melahirkan anak itu bukan wilayah yang bisa dia kontrol. Point saya adalah pada waktu kita akan mengambil keputusan di dalam hidup kita, keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang kita bisa pikirkan, kita bisa renungkan, kita bisa atur sebaik mungkin pada waktu berada di wilayah yang bisa kita kontrol. Tetapi pada waktu itu masuk kepada wilayah yang tidak bisa kita kontrol, mari kita melihat aspek yang penting di sini, Tuhan minta Abraham PERCAYA kepada janji Tuhan.

Penilaian kita sebelum menjadi salah dan keliru, firman Tuhan ini hanya ingin mengajak kita mengambil satu sikap, sebelum ambil satu keputusan dan mengambil satu penilaian terhadap keputusan yang engkau harus ambil, belajar 100% takluk dan taat kepada janji Tuhan.

Kenapa Tuhan bilang, “tidak”? Sekali lagi, “tidak”-nya Tuhan itu menarik sekali. Tuhan bilang “tidak,” tidak berarti tidak ada “ya” di dalamnya. Kenapa saya mengatakan begitu? Nanti minggu depan saya akan mengangkat peristiwa Musa waktu Tuhan menyuruh dia berkata kepada batu untuk mengeluarkan air, Musa memukul batu itu dua kali (Bil.20:2-13). Itu adalah tindakan ketidak-taatan Musa terhadap Tuhan. Apakah air keluar dari batu itu? Alkitab mencatat dari batu itu keluar banyak air. Pertanyaan saya, kalau Musa sudah tidak taat bukankah mestinya Tuhan tidak perlu mengeluarkan air dari batu itu? Sdr bisa bayangkan betapa malunya Musa di depan seluruh umat Israel kalau hal itu terjadi? Ini titik yang begitu menyentuh hati saya. Memang karena ketidak-taatan dia Musa tidak boleh masuk ke tanah perjanjian. Tetapi di dalam “tidak”-nya Tuhan tetap ada anugerah, Tuhan tetap mengijinkan air itu keluar dan mengalir.

Di dalam kata “tidak” kepada permintaan Abraham terhadap Ismael sebagai ahli warisnya, tetap Tuhan berjanji memelihara Ismael menjadi bangsa yang besar dan memberkatinya karena dia tetap adalah keturunan Abraham. Tetapi mengapa “tidak” itu muncul? Sebab jelas, tindakan Abraham mengambil Hagar melahirkan Ismael adalah tindakan ketidak-taatan percaya kepada janji Tuhan.

Perkataan “tidak” Tuhan kepada Abraham ingin memberitahukan kepada kita, belajar taat di tengah-tengah waktu kita sudah ambil keputusan, taat sepenuhnya, percayalah dalam hatimu Tuhan memiliki keindahan pada waktunya. Tetapi pada waktu kita mengambil keputusan yang keliru, penilaian yang mungkin tidak sdr pertimbangkan seturut dengan ketaatan kepada firman Tuhan, jangan pernah datang kepada Tuhan lalu mencoba doa minta excuse supaya Tuhan itu dianulir oleh Tuhan. Selama sebelas tahun Tuhan membiarkan Abraham hidup dan membesarkan anak ini, lalu sesudah sebelas tahun Tuhan datang kepadanya, Abraham minta bolehkah Ismael menjadi ahli warisnya, bukankah dia sudah ada anak ini? Tuhan bilang, “Tidak. Tahun depan Sara akan melahirkan.” Di situlah hati Abraham menjadi susah setengah mati. Di satu pihak dia menghadapi hal ini, di pihak lain dia tahu bahwa dia sudah bersalah kepada Tuhan tidak taat dan tidak percaya janjiNya. Saya percaya kita harus belajar

Alkitab memang bilang, “Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap kita yang mengasihi Dia…” Apakah Allah bisa bekerja di dalam langkah kita yang salah dan tidak taat? Ya. Tetapi tidak boleh lalu kita bilang Allah bisa merubah yang salah itu menjadi baik. Salah dan tidak taat itu tetap menjadi salah dan tidak taat. Tetapi di dalam salah dan tidak taat itu Tuhan tetap menyatakan anugerah kepada Abraham sehingga Abraham tetap harus terima “tidak” itu berarti tidak ada excused dari Tuhan bahwa itu tidak pernah ada dan terjadi di dalam hidup dia. Abraham harus terima itu.

Abraham adalah seorang beriman yang boleh kita katakan relasinya dengan Tuhan jauh lebih indah daripada kita. Tetapi di dalam relasi yang begitu dengan Abraham pun Tuhan yang adil, Tuhan yang suci, Tuhan yang penuh kasih itu mendidik dan melatih seseorang belajar setia dan taat 100% kepada janji Tuhan yang tidak pernah mungkin bersalah. Mengapa Tuhan berkata “tidak” kepada Abraham? Karena Tuhan tidak mau di dalam ketidak-taatan Abraham yang gegabah mengambil keputusan seturut dengan caranya sendiri lalu dia tidak bertanggung jawab menanggung keputusan itu. Itu sebab setelah sebelas tahun Tuhan bilang, “Tidak. Ismael harus pergi.”

Kadang-kadang mungkin di dalam hidup kita tidak terlalu banyak kata “tidak” yang Tuhan keluarkan dan dengarkan sekali lagi, kata “tidak”-nya Tuhan bukan berarti tidak ada “ya” di dalamnya. Tetapi mari belajar dari bagian ini, pada waktu kita bertemu dengan satu perjalanan hidup, Tuhan satu kali kelak juga akan berkata “tidak.” Kali ini “tidak” bukan karena jalan itu salah, nanti pada waktu Daud pun mau membangun Bait Allah, itu bukan satu permintaan yang tidak benar. Jadi bukan mengerti “tidak” karena itu jalan yang salah; bukan mengerti “tidak” nanti sdr mungkin bisa terjerumus di situ. “Tidak”-nya jawaban Tuhan kepada Abraham sederhana saja, karena Abraham di dalam menjalankan kesetiaannya kepada Tuhan, dia melangkah mendahului Tuhan dan menganggap itu adalah cara yang lebih baik, maka Tuhan bilang “tidak.” Dan Abraham harus hidup dengan keputusan yang keliru itu untuk menyelesaikannya.

Saya harap dengan demikian kita coba belajar prinsip firman Tuhan ini boleh mempertumbuhkan iman kita. Tidak sering Tuhan menyatakan “tidak” kepada kita karena kita tahu terlalu banyak isi dari janji firman Tuhan menjadi janji bagi kesukaan kita, janji bagi kelancaran hidup kita, janji bagi kebahagiaan hidup kita, janji bagi kelimpahan hidup kita. Di dalam janji Tuhan itulah seringkali kita tergoda untuk tidak taat sepenuhnya. Biar dari apa kita baca dan renungkan dari firman Tuhan ini boleh melatih dan mendidik hidup kita bertumbuh di dalam anugerah Tuhan. Memang kita bisa mengambil keputusan yang tidak baik dan di situ Tuhan bilang “tidak.” Biar pada waktu-waktu seperti itu kita belajar setia dan taat, selalu jujur dan terbuka menerima koreksi panggilan Tuhan kepada kita untuk kembali taat memegang janji Tuhan. Kita lemah, kita bukan tokoh-tokoh beriman yang besar dan perkasa, kita tidak ingin meng-excused diri kita, jika Abraham yang setia dan baik pun bisa berjalan salah, siapakah kita yang kadang-kadang terlalu sering bersalah di hadapan Tuhan? Namun biarlah kita belajar bertumbuh dan belajar setia kepada firman Tuhan mulai dari hari ini dan tidak ingin menyerahkan segala keputusan yang salah di dalam hidup kita dan tidak ingin menangisi apa yang susah salah. Biar kita belajar menerima panggilan Tuhan untuk tetap setia kepada firman Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

28 November 2010

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: