Home > Effendi Susanto > Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (2)

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (2)

Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Kej.17:17-19

“Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon. Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku.

Ul.3:23-26

Beberapa firman Tuhan yang kita baca ini menjadi bagian yang sangat menggentarkan hati karena kisah-kisah seperti ini mengingatkan kepada kita bagaimana menempatkan Tuhan sebagai Tuhan di dalam hidup kita. Allah berkata ‘tidak’ bukan berarti Allah itu adalah Allah yang ‘joy-killer.’ Allah berkata ‘tidak’ bukan berarti Allah itu tidak mau kita hidup senang dan berbahagia di dalam hidup ini. Tetapi dalam bagian ini paling tidak saya menemukan ada lima orang beriman dan iman orang-orang ini tidak mungkin kita ragukan, cinta mereka kepada Tuhan tidak mungkin kita abaikan, namun Tuhan bilang ‘tidak’ di dalam beberapa bagian hidup mereka dan ‘tidak’-nya Tuhan justru kepada hal-hal yang paling mereka rindukan dan paling mereka mau. Pertama, kepada Abraham Allah berkata ‘tidak,’ alasannya bagi saya simple dan sederhana, yaitu Tuhan tidak boleh menjadi “rubber stamp” di dalam hidup kita, yang membenarkan dan mengesahkan perbuatan kita yang semau kita sendiri. Yeh.14 adalah bagian yang sangat menarik, Yehezkiel mengatakan orang-orang Israel sudah cukup canggih, berhala mereka sudah tidak visible lagi tidak seperti patung-patung batu tetapi merupakan berhala-berhala di dalam hati mereka. Firman ini saya percaya juga menjadi firman yang terus relevan bagi kita. Ada berhala-berhala yang tidak kelihatan di dalam hidup kita. Friedrich Nietzsche, seorang ateis yang merevolusi teologi dengan mengangkat satu topik yaitu dia mau membunuh Allah. Tetapi dia pernah mengucapkan satu kalimat yang saya percaya benar adanya, “There are more idols in the world than they are in realities.” Dalam Yeh.14 orang Israel punya berhala di dalam hati mereka, lalu akibat berhala itu apa yang terjadi? Decision-decision hidup mereka penuh dengan kesalahan, dan yang lebih celaka, sesudah itu mereka datang minta Tuhan memperbaikinya. Itu langkahnya. Maka Tuhan bilang “Aku sendiri akan menentang orang itu dan Aku akan membuat dia menjadi lambang dan kiasan dan melenyapkannya dari tengah-tengah umatKu dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN…” (Yeh.14:8). Dan nabi-nabi yang tergoda untuk membenarkan mereka, nabi-nabi itu pun akan dibunuh Allah semuanya. Tuhan tidak mau diperlakukan seperti rubber stamp oleh Abraham. Tuhan memang telah berjanji kepada Abraham untuk memberinya seorang anak. Memang betul tidak ada indikasi bahwa anak itu akan lahir dari Sara di dalam janji Tuhan yang pertama (Kej.15:4-5) tetapi toh bagi saya Abraham tidak perlu lagi sedikit ‘outsmart’ Tuhan karena jelas yang Tuhan maksudkan adalah anak yang lahir dari Sara. Namun sesudah itu sdr perhatikan segera terjadi satu langkah yang diambil oleh Sara yaitu memberikan Hagar budaknya untuk melahirkan anak. Jangan lupa, Abraham adalah seorang yang kaya, dia bisa melakukan apa saja di dalam kategori kita sekarang. Hagar itu adalah budak mereka yang mungkin menolak pada waktu itu pun tidak bisa. Mari kita lihat itu dalam kacamata kita. Abraham adalah seorang yang bisa mengambil keputusan, dia seorang yang mampu mengambil keputusan dan dia bisa melakukan apa saja di dalam keputusan-keputusannya sebab dia punya uang. Dan sampai sepanjang sepuluh tahun itu toh tidak ada perkembangan Sara bisa melahirkan. Lalu datanglah janji Tuhan yang kedua, dan kali ini jelas: Sara akan melahirkan (Kej.17:16). Bagian ini menarik dan menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam karena di situ dikatakan Abraham bereaksi dengan tertawa dan berkata di dalam hatinya (ayat 17) lalu disambung dengan ayat 18 yang dalam terjemahan bahasa Indonesia mencatat, “Ah, sekiranya…” Ini mendatangkan banyak perdebatan bagaimana cara menafsirnya. Abraham tertawa dalam hatinya, karena secara logika bagaimana mungkin Sara yang berumur 90 tahun bisa melahirkan. Tetapi sekaligus waktu Abraham dengar janji Tuhan ini muncul satu guilty feeling yang sadar bahwa tindakannya memiliki Ismael itu salah. Dia tertawa dalam hati karena merasa mana mungkin cara Tuhan bisa, caraku pasti lebih benar, yaitu kan Tuhan mau saya punya anak? OK, saya akan dapatkan anak dari Hagar. Dan sepanjang lebih dari sepuluh tahun ini toh jelas kelihatan Sara memang tidak mungkin punya anak, maka sudahlah Tuhan, I think this is the best option yang saya ambil untuk mencoba melakukan apa yang sudah Tuhan janjikan kepadaku. Saya pikir ini adalah cara yang terbaik dan logika yang masuk akal. Tetapi sekaligus di situ Abraham sadar, kalau ternyata Sara melahirkan, … bagaimana? Kalimat itu menarik, sehingga banyak penafsir setuju Abraham sendiri di dalam hati sedalam-dalamnya tahu ambil Hagar adalah perbuatan yang salah. Tetapi antara logika, antara pikiran, antara mampu dan bisa, dsb dan kesadaran di dalam hati kecilnya this is not the right decision dalam hidupnya sekarang berkecamuk.

Berapa banyak orang menangis di hadapan Tuhan sudah ambil keputusan yang salah, setelah di dalam hati kecilnya sendiri sudah tahu itu salah? Sesudah itu kita datang menangis minta Tuhan coba tipp-ex dan perbaiki kesalahan dia. Itulah yang kata Tuhan di dalam Yeh.14 Tuhan tidak mau! No. I am not your rubber stamp.

Kadang-kadang saya sebagai hamba Tuhan menangis melihat begitu banyak di antara sdr ada yang kepingin banget tinggal di sini, saya mengerti sekali perasaan sdr, ada banyak di antara sdr yang ingin sekali punya pasangan, saya tahu hati sdr. Tetapi kadang-kadang di dalam pergumulan sdr, sdr sendiri tahu mungkin dengan dia itu is not the right decision. Mungkin ambil keputusan membeli sesuatu is not the right decision. Tetapi kita rasa kita bisa, kita rasa kita mampu, dan kita bukan orang yang tidak beriman, kita ingin bawa hal itu kepada Tuhan, seperti orang-orang yang datang kepada Yehezkiel, but the point is, ini bedanya antara antara Allah dengan berhala. Berhala adalah allah yang kita ciptakan menurut image kita dan kita mau dia menjadi allah yang sama seperti Allah yang berdaulat, kita bisa minta apa saja kepada dia, cuma bedanya, berhala itu bisa kita kontrol outcome-nya, berhala bisa kita kontrol tujuannya, sesuai dengan apa yang aku mau.

Kisah Abraham merupakan kata ‘tidak’ Tuhan kepada Abraham, Aku berjanji, Aku Allah yang berdaulat, Aku pakai cara-KU dan Aku bukan berhala yang bisa engkau atur. Itu sebab di dalam Yeh.14 merupakan satu hal yang penting mengajak kita kembali. Kisah Abraham ini merupakan satu hal yang indah bagaimana hati yang taat dan takluk kepada Tuhan; bagaimana hati kita berserah. Ini tidak gampang dan tidak mudah karena Sara baru melahirkan sesudah Ismael berumur kira-kira empat belas tahun. Kej.21:8-14 itu tidak jelas ceritanya, Alkitab hanya mencatat Ismael bermain dengan Ishak dan akibat bermain itu datanglah Sara kepada Abraham, menyuruhnya mengusir Ismael dan ibunya. Itu membuat hati Abraham torn apart. Ini adalah anaknya sendiri dan sepanjang lebih dari sepuluh tahun Alkitab hanya mencatat satu kali namun saya percaya ini yang selalu menjadi doa Abraham kepada Tuhan, “Ah, sekiranya anak ini yang menjadi janji Tuhan.” Sudah lihat Sara toh tidak ada perkembangan apa-apa sepuluh tahun ini, meskipun aku tetap percaya Tuhan bisa melakukan mujizat. Sampai akhirnya hard decision harus dibuat. Sara yang minta Abraham putuskan, anak yang ini atau yang itu, tidak bisa dua-dua. Mungkin waktu bermain, Ismael main agak kasar sehingga Sara mungkin berpikir, anaknya di-bully. Sekarang aku masih ada dan bisa melindungi dia, tapi kalau aku nanti mati, bagaimana? Siapa yang bisa tahu? Di situ Sara ambil keputusan penting, di situ Abraham harus menelan pil pahit yang menyakitkan tetapi Tuhan memang bilang ‘tidak.’ Sekali lagi, Tuhan bilang ‘tidak,’ bukan karena Dia tidak sayang. Di situlah bedanya dengan kita. Tidak gampang bilang ‘tidak,’ bukan? Waktu mulai pacaran gampang bilang ‘ya,’ begitu mau putus tinggal sms saja, karena tidak berani face to face. Di tengah keputusan ‘tidak’ itu lalu kita berkalkulasi, kiranya begini… nanti bisa beginilah… nanti di tengah jalan akan menjadi lebih baik… dsb. Sebenarnya secepatnya kita keluar dari langkah yang salah jauh lebih baik daripada sudah tiga belas tahun, lalu bonding dengan Ismael sudah begitu erat, lalu harus diusir keluar. Bagi saya ini point yang paling penting bicara mengenai orang-orang beriman yang kepadanya Allah berkata ‘tidak.’ ‘Tidak’ kepada Abraham sebab Tuhan tidak boleh jadi stempel setiap keputusan yang kita buat, padahal di dalamnya kita tidak setia kepada firmanNya.

Kepada Musa Tuhan berkata, “Engkau tidak boleh masuk ke tanah perjanjian.” Dimana hal itu terjadi? Di Meriba Kadesy di daerah sekitar Moab. Itu pegunungan yang tepat berada di seberang trans Yordan. So close yet so far. Paling tidak ada tiga kali dicatat di dalam Alkitab Musa memohon, “O God, I beg You… please…” Sdr bisa lihat kerinduan Musa, keinginan dia masuk ke tanah Kanaan. Tetapi di situ murka Tuhan muncul. Sekali lagi terjadi perbedaan cara menafsir karena di belakangnya Musa mengatakan, ”…karena kamu maka aku tidak bisa masuk” (Ul.3:26). Mzm.106:32-33 “Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba sehingga Musa kena celaka karena mereka sebab mereka memahitkan hatinya sehingga ia teledor dengan kata-katanya.” Ini bukan peristiwa kali pertama. Ini adalah peristiwa kali kedua. Dua-dua peristiwa diberi nama tempat yang sama yaitu Meriba, peristiwa pertama waktu mereka baru keluar dari Mesir menuju ke gunung Sinai dan peristiwa kedua terjadi di daerah pegunungan Moab waktu hampir masuk ke trans Jordan (Bil.20:2-13). Dalam peristiwa pertama Musa exactly melakukan apa yang Tuhan perintahkan (Kel.17:5-6). Kali kedua, Alkitab mencatat Musa tidak menaati Tuhan. Mzm.106 memberikan kita konteksnya, sebab mereka yaitu orang Israel memahitkan hati Musa. Baca Bil.20:1, apa yang baru terjadi dengan keluarga Musa di situ? Siapa yang baru meninggal? Miriam meninggal. Bangsa ini memang tidak tahu diri. Ini keluarga baru lagi berduka. Bangsa ini wajar kita bilang bo ceng li, memang wajar. Ini pemimpin mereka yang sudah setengah mati, lagi sedang berduka you tidak simpati kepada hatinya. You malah pikir soal bagaimana saya minum dan makan. Musa sudah cape, sedih, mungkinkah kita bilang wajar dia mengeluarkan kata-kata yang keras? Pertengkaran di dalam hidupmu sebagai suami isteri tidak mungkin terjadi dengan vacum. Setiap kali kita ribut dan bertengkar dengan orang yang kita kasihi tidak pernah lepas dari konteks, dan di tengah konteks itu kita mencari pembenaran. Musa wajar marah. Musa wajar mengeluarkan kata-kata yang keras. You tidak mengerti perasaan saya, kakak saya baru saja meninggal. Mari kita melihat peristiwa ini dalam konteks itu, hanya sedetik seketika sesuatu snap, dan di situ Tuhan bilang engkau sudah melanggar kekudusanKu. Point itu yang bahaya. Itu sebab saya harap sdr lihat baik-baik, pulang sdr renungkan lagi saya akan khotbahkan minggu depan. Biar kita belajar menjadi seorang Kristen yang sungguh beriman kepada Tuhan, yang taat kepadaNya. Terlalu sedih hati kita tatkala Tuhan berkata ‘tidak’ kepada rencana maksud tujuan apa yang sudah kita pikirkan namun biar hati kita takluk pada hari ini tatkala kita ingat dan tahu, Tuhan itu Allah yang berdaulat mencintai mengasihi kita, yang melakukan apa yang terindah dan terbaik bagi kita. Jangan menjadikan Dia sebagai Allah yang bisa kita atur dan kontrol di dalam hidup kita untuk mengikuti sesuatu yang kita sudah rencanakan sendiri di dalam ketidak-setiaan kita kepada Tuhan. Biar hari ini hati kita berbalik, hari ini kita berlutut kepada Tuhan, ‘Saya percaya kepada Tuhan yang merencanakan kepada hidup saya pasti adalah rencana yang terbaik bagi saya.’

Pdt. Effendi Susanto STh.

5 Desember 2010

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: