Home > Effendi Susanto > Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (3)

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (3)

Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga. Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya. Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Mark.14:32-42

Siapakah orang-orang yang agung yang diakui oleh dunia menghadapi kematiannya dengan tabah dan berani? Socrates, seorang filsuf Yunani, merupakan salah seorang yang contoh kematiannya dianggap dunia agung adanya sebab dia rela mati untuk kebenaran yang dia pegang dan waktu dia menghadapi kematian dengan meminum racun yang diserahkan kepadanya, dia terima kematian itu dengan ketenangan dan keagungan. Contoh kedua dari seorang bernama Stefanus yang dicatat di Alkitab menghadapi kematiannya dengan agung. Stefanus mati dirajam oleh batu karena dia bersaksi bagi Tuhan dan menjadi contoh martir yang sepanjang sejarah orang Kristen martir mengikuti contoh darinya (Kis. 7:54-59). Waktu batu-batu mulai merajam dia, dia bisa berdiri dan dengan sukacita menghadap kepada surga dan berkata, “Tuhan, kuserahkan nyawaku kepadaMu.” Itu adalah satu kematian yang agung dari orang beriman dengan sukacita tidak takut menghadapi kematian. Banyak di antara mereka yang dibakar, dan pada waktu dibakar mereka menyanyi memuji Tuhan, melampaui sakit, penderitaan, ketakutan menghadapi kematian yang datang kepada mereka. Martin Luther pada waktu membaca Mark.14:32-42 mengatakan tidak ada kematian yang paling dahsyat selain kematian yang dialami oleh Yesus Kristus dan ini begitu menakutkan baginya. Sepanjang pelayananNya di dunia, Tuhan Yesus tahu, bahkan tiga kali Dia berkata kepada murid-muridNya, “Aku harus pergi ke Yerusalem, disiksa, mengalami penganiayaan dan akan mati di situ.” Dia tidak takut sedetikpun, tidak ada keinginan hati untuk berbalik dari hal itu. Bahkan Yesus marah kepada Petrus pada waktu Petrus berusaha menarikNya dari jalan penderitaan salib. Tetapi di titik yang tinggal beberapa jam lagi Yesus akan disiksa dan naik ke kayu salib, di sini kita menemukan kegentaran taman Getsemani yang begitu dahsyat. Di bagian lain Alkitab mencatat Yesus berdoa di sana sampai peluhNya keluar seperti tetesan darah jatuh ke tanah (Luk.22:44). “HatiKu mau mati rasanya menghadapi jam ini.” Takutkah Yesus akan kematian? Tidak tentunya. Tetapi kenapa Dia berkata seperti itu? Bagian ini akan menjadi bagian yang penting untuk kita melihat kedalaman arti Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib. Dan ini bukan peristiwa main-main. Yesus tahu kehendak Bapa, jelas kehendak itu tidak mungkin dirubah. Kalau tidak mungkin dirubah, apakah doa ini doa main-main? Apakah doa ini tidak perlu lagi diucapkan toh Yesus sudah tahu apa yang menjadi kehendak Bapa? Kita seringkali seperti itu, bukan? Kalau kita rasa Tuhan bilang seperti ini, buat apa kita doa lagi, toh tidak ada gunanya dan tidak merubah apa-apa. Tetapi doa Tuhan Yesus ini real dan nyata, ini adalah doa yang begitu sungguh dan ini doa yang begitu persistent, sebab Alkitab mencatat Dia pergi mengulangi doa yang itu-itu saja. “Bapa, lewatkan Aku dari jam yang menakutkan ini. Kalau bisa, ambillah cawan ini daripadaKu.” Namun di tengah permintaan itu Yesus kemudian menaklukkan kehendak dan diriNya dengan kalimat, ”…bukan kehendakKu yang jadi, tetapi kehendakMu, Bapa.”

Menerima kata ‘tidak’ itu bukan merupakan hal yang gampang. Berapa banyak orang pada waktu kata ‘tidak’ muncul diberikan kepadanya, dia bukan bereaksi dengan rendah hati menerimanya. Mungkin ada orang bereaksi marah dan akhirnya mendatangkan ledakan kemarahan dan membuat tindakan yang lebih berbahaya. Bisa orang itu menjadi benci dan marah. Pada waktu saudara mengalami hal seperti itu kadang-kadang saudara mungkin tidak bisa membalas tetapi simpan terus kemarahan di hatimu. Tidak gampang menerima penolakan. Seringkali kita juga marah dan kecewa kepada Tuhan pada waktu Tuhan berkata ‘tidak.’ ‘Tidak’-nya Tuhan kepada Yesus Kristus jelas bukan karena kesalahan Yesus. Dan saya percaya bukan karena Tuhan Yesus takut mati maka di sini lalu Dia minta dilepaskan dari jalan kesukaran. Jelas sekali Yesus tahu ini adalah jalan salib yang harus Dia jalani dan terima. Bapa berkata ‘tidak’ kepada Yesus Kristus karena ini rencana keselamatan dari kekal, rencana yang tidak mungkin berubah dan dengan cara inilah Tuhan ingin menebus dan menyelamatkan kita dari dosa. Sampai di sini, mari kita lihat persoalannya dimana.

Yang pertama, dalam Rom.3:24-25 ada tiga kata penting yang Paulus pakai di sini untuk memperkaya kita mengerti apa artinya Yesus mati di kayu salib. Tiga kata ini tidak boleh lepas dan tidak boleh hanya ditekankan satu sisi saja. Tiga kata ini harus muncul sama-sama supaya kita tahu kekayaan kedalaman pengertian apa arti Yesus naik ke atas kayu salib. Kata pertama, “kita dibenarkan dengan cuma-cuma…” justified by His grace. Kata kedua, ”…penebusan di dalam Kristus…” redemption in Christ. Kata ketiga, “Yesus Kristus telah ditentukan menjadi jalan pendamaian oleh darahNya.” Dalam terjemahan bahasa Inggris yang lama memberikan arti kata yang jauh lebih mendalam yaitu “propiciacion by His blood.” Jadi muncul tiga kata ini: justification, redemption dan propiciacion. Terjemahan bahasa Inggris seperti NEB belakangan melemahkan konsep propiciacion dan diganti dengan kata “expiation” yang mestinya dengan jelas ini memakai kata propiciacion karena Paulus memakai kata dalam bahasa Yunani ‘hilasterion.’ Kata “expiation” artinya orang itu bersalah lalu kemudian saya membayar kesalahan itu dan menyelesaikan hutang dari kesalahan orang itu.

Saya kasih ilustrasi seperti ini: ada orang mencuri ayam saya. Lalu kemudian orang yang mencuri ayam saya itu tertangkap. Lalu bagaimana supaya bisa terjadi pemberesan terhadap ayam saya yang dia curi? Orang yang mencuri ayam saya itu datang kepada saya dan mengatakan, “Benar, pak, saya sudah mencuri ayam bapak. Saya minta maaf dan sekarang saya kembalikan ayam bapak.” Beres toh? Dengan dia mengembalikan ayam itu, persoalan selesai, bukan? Tidak bisa seperti itu. Sebab di desa saya ada hukum mengatakan, “Jangan mencuri. Barangsiapa mencuri tangannya harus dipotong.” Jadi soal dengan ayam saya memang selesai, sudah no problem, tadi hilang dicuri dan sekarang dikembalikan. Tetapi ada satu bagian yang dia langgar selain mengambil ayam saya, yaitu hukum yang ada di desa saya. Ada hukum yang dia sudah langgar dan ada konsekuensi hukuman bagi orang yang melanggar hukum itu. Yang ketiga, boleh tidak saya marah kepada orang yang sudah mencuri ayam saya itu? Saudara bilang, “Tidak usah marah-lah pak, toh ayammu sudah kembali…” Tetapi, saya berhak marah, bukan? Nah, ‘expiation’ berarti manusia berdosa, dia bersalah kepada Tuhan. Itu seperti orang yang mencuri ayam saya bersalah kepada saya. Maka Yesus Kristus mati di kayu salib menggantikan kesalahan dia. Tetapi itu baru separuh perjalanan dari penebusan Kristus. Sekarang saya akan bahas lebih dalam lagi. Tadi waktu ayam saya dicuri, bolehkah saya marah kepada pencurinya? Ataukah saya lupakan saja setelah dia mengembalikan ayam saya, seolah hal itu tidak pernah terjadi? Saya berhak marah dan tidak salah kalau saya marah. Lalu, bagaimana menyelesaikan kemarahan saya? Ayam saya dicuri, diselesaikan dengan ayam itu dikembalikan. Hukum yang dilanggar, harus diselesaikan di pengadilan. Sekarang, marahnya saya kepada dia, bagaimana menyelesaikannya? Ini perkara yang simple dan bisa diselesaikan dengan berdamai dengan pencuri itu. Namun kalau yang dia curi bukan ayam tetapi isteri saya, bagaimana? Bolehkah saya marah? Saya berhak marah karena dia mengambil isteri saya, bukan? Bagaimana penyelesaiannya kalau isteri yang dicuri? Apakah bisa selesai hanya dengan dia mengembalikan isteri saya? Kedua, ada hukum yang mengatakan tidak boleh mengingini isteri orang lain. Ketiga, sebagai suami yang memiliki hak eksklusif terhadap isteriku, saya berhak marah. Saya marah di situ bukan karena property saya diambil. Saya marah di situ karena ada satu aspek yang walaupun akhirnya dia kembalikan, tetap tidak bisa sama karena exclusive relationship dengan isteri saya sudah dia rusak. Maka kemarahan itu muncul karena kemarahan yang suci. Ini adalah isteriku, tidak bisa disentuh orang lain. Maka kemarahan itu keluar. Bagaimana penyelesaian kemarahan itu? Ilustrasi ini mungkin lebih membantu saudara mengerti kenapa Tuhan begitu marah dan murka waktu manusia bersalah dan berdosa kepada Tuhan. Ini adalah hak eksklusif Tuhan. Engkau sudah merebut kesucian Tuhan, engkau sudah menghina kesucian Tuhan dengan berbuat dosa, maka tidak saja selesai dengan Yesus mengganti kita di kayu salib, tetapi di dalam penggantian untuk menyelesaikan dosa kita itu perlu menyelesaikan satu hal yaitu bagaimana menyelesaikan murka Allah yang bereaksi kepada dosa manusia di dalam kesucianNya. Itu sebab kata “propiciacion” muncul, karena murka itu hanya bisa diselesaikan dengan cara yang sudah Tuhan taruh di dalam PL yaitu dengan darah sebagai penebusan.

Kenapa Tuhan melarang orang Israel makan darah? Sebab di dalam darah, Tuhan menyatakan hal yang paling penting, yaitu di dalam darah ada nyawa. Sehingga waktu orang Israel akan keluar dari Mesir, Tuhan mengatakan barangsiapa yang tidak mengoleskan darah binatang di ambang pintu rumahnya, maka Tuhan yang murka pasti akan mengambil anak sulung mereka. Waktu anak dari Harun dengan kurang sopan melihat ke dalam tabut perjanjian tanpa memercikkan darah terlebih dahulu, langsung kedua anak itu dibunuh Tuhan di depan semua orang. Nanti di Im.16-17 Tuhan membikin peraturan itu dengan jelas, setiap imam yang akan masuk ke tempat maha suci harus memercikkan darah di atas tabut perjanjian itu. Lalu sesudah itu imam berdoa minta pengampunan dosa untuk dirinya sendiri, dan untuk seluruh umat dan sesudah itu cepat-cepat harus keluar dari sana. Ini adalah bagian di dalam PL yang menjadi bayang-bayang sampai kepada waktu Tuhan memberikan firman kepada kita: Yesus menjadi “propiciacion by His blood.” Maka moment Yesus di kayu salib itu bukan saja moment Yesus menanggung dosa kita menjadi pengganti; moment Yesus di atas kayu salib adalah moment dimana Dia juga memuaskan murka reaksi kesucian Allah terhadap dosa. Itu sebab dari bagian ini kita sedikit lebih mengerti apa arti dari doa Tuhan Yesus, “Bapa, sekiranya mungkin cawan ini berlalu daripadaKu…” Dalam Yes.51:22 firman Tuhan mengatakan, “sesungguhnya Aku mengambil dari tanganmu piala dengan isinya yang memusingkan dan isi cangkir kehangatan murkaKu tidak akan kau minum lagi…” Why.14:10 firman Tuhan mengatakan, “Maka ia akan minum dari anggur murka Allah yang disediakan tanpa campuran di dalam cawan murkaNya.” Kemudian Why.16:19 “Maka teringatlah Allah kepada Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murkaNya.” Dan jikalau Allah yang murka adanya itu menumpahkan cawan kemurkaanNya, siapakah yang sanggup tahan berada di tengah murka Tuhan? Siapakah yang sanggup bisa memuaskan murka Allah? Berarti waktu Tuhan Yesus berdoa, “Bapa, kalau bisa, biar cawan ini disingkirkan daripadaKu…” jelas doa Yesus bukan dalam pengertian takut menghadapi kematian. Jelas doa Yesus bukan dalam pengertian Dia tidak mau menjadi pengganti kita menebus dan menanggung hukuman dosa kita. Jelas bukan itu. Tetapi di atas kayu salib ada satu hal yang sangat menakutkan dan mengerikan bagi Dia, yaitu melalui penebusan di atas kayu salib Tuhan Yesus harus menanggung murka Allah. Akibat murka Allah kepada Yesus, saudara akan menemukan satu teriakan Yesus yang sangat menyedihkan dan menakutkan, sebab dengan menanggung murka itulah moment Allah Bapa memalingkan wajahNya. Maka waktu di atas kayu salib Yesus berteriak, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Sebagai Anak Manusia dan Anak Allah yang tidak pernah sedetik pun dalam relasi dengan Allah Bapa terpisah; tidak pernah di dalam relasiNya dengan Allah Bapa, Allah Bapa memalingkan wajahNya kepada Yesus; tidak pernah di dalam relasiNya yang penuh dengan intimacy yang kekal dengan Allah Bapa, di dalam moment itu Dia harus lewati untuk seketika menerima dan menanggung cawan kemurkaan Allah. Itu sebab Yesus Kristus berdoa, “Bapa, sekiranya mungkin, biarlah cawan itu berlalu dariKu…” Berita salib seperti ini sangat membuat banyak orang tidak suka. Itu sebab tidak heran belakangan ini saudara menemukan beberapa tokoh Injili sudah tidak mau memperlihatkan konsep Yesus mati di kayu salib menanggung murka Allah. Itu sebab kenapa mereka lebih suka merubah kata “propiciacion” menjadi “expiation?” Karena mereka tidak ingin orang punya kesan Allah itu seperti Allah yang marah-marah dan murka, yang emotional dan uncontrollable sehingga mau menghukum manusia dan tega memaku Yesus di kayu salib. Mereka lebih suka mengatakan, “Datanglah kepada kayu salib Kristus, engkau yang lonely dan yang kesepian, He will heal you…” Ini adalah berita yang gampang dan enak didengar. “Datangkah kepada kayu salib sebab di situ engkau akan menemukan kasih Tuhan begitu ajaib dan begitu besar.” Ini adalah kebenaran Injil yang hanya separuh. Kita hanya suka kutip Yoh.3:16, “Karena demikian besar Allah mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan AnakNya yang tunggal…” Berita yang enak didengar, bukan? Tetapi mari kita buka 1 Yoh.4:9-10 yang memberikan lebih detail apa artinya Allah Bapa memberikan AnakNya yang tunggal itu untuk kita, “Inilah kasih itu, bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita…” As propiciacion for our sins. Yoh.3:16 tidak menyebutkan hal itu meskipun secara implisit ada di dalam kalimat “Allah menyerahkan AnakNya yang tunggal itu” yang dalam bayangan imajinasi kita seperti seorang ayah atau ibu dengan lemah lembut membawa anaknya. Tetapi di sini kita melihat Yohanes mengatakan waktu Allah menyerahkan Anaknya yang tunggal itu, Dia menyerahkanNya dengan hati yang hancur karena Dia tahu di situ kemarahan terhadap dosa tidak mungkin bisa diabaikan. Allah yang marah justru menyatakan kepada kita akan kasihNya yang begitu suci dan bersih adanya. Kasih yang suci dan bersih pasti akan mendatangkan kemarahan jikalau kasih itu akan dikontaminasi. Tidak mungkin sdr mengasihi seseorang lalu di dalam kasihmu kepada dia tidak ada unsur cemburu dan unsur kemarahan jika kesetiaan dan kasih itu dilanggar. Demikian juga Allah yang kasih sekaligus di dalam kasihNya ada kesucianNya. Maka hanya Kristus yang tergantung di kayu salib yang bisa menyelesaikan murka Allah itu dan proses itu sangat menyedihkan dan menyakitkan hatiNya karena itulah moment Anak Allah seketika waktu ditinggalkan oleh Bapa di atas kayu salib. Allah yang kasih sekaligus Allah yang suci dinyatakan di kayu salib.

Walaupun tidak ada kaitan langsung, saya tertarik dengan kalimat dari seorang teolog Belanda bernama G.C. Berkouwer yang mengatakan, istilah-istilah yang dipakai berkaitan dengan kematian Tuhan Yesus adalah istilah-istilah yang ada di dalam hukum antara lain kata ‘Dia memuaskan; Dia membayar; Dia menebus; Dia menanggung hukuman kita; dan istilah-istilah ini, jujur, bikin orang marah. Pakai bahasa dunia, “Who the hell are you to die for my sin?! Dosaku urusanku sendiri. Saya mau melakukan apa saja dalam hidupku tidak ada urusannya dengan kamu.” Menawarkan Kristus yang menyelamatkan dengan mengganti dosa kita, itu yang bikin mereka marah. Itu sebab tidak gampang mengabarkan Injil kepada orang karena Injil berarti selain menawarkan kasih penebusan Tuhan, sekaligus mendeklarasi betapa dahsyatnya dosa kita di hadapan Tuhan. Dosa itu bukan sekedar saya ambil sesuatu bikin orang marah, lalu ketahuan, lalu saya mengembalikannya. Semakin kita memahami dosa dengan lebih dalam dan lebih takut kita akhirnya mengakui kenapa Yesus harus mati di kayu salib. Salah satunya adalah Allah yang mencipta kita adalah Allah yang punya hak mempertahankan kesucianNya. Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang memberi hukum dan yang setia kepada hukumNya. Itu sebab Maleakhi berkata, mata Tuhan terlalu suci untuk melihat dosa. Yeremia mengatakan, perbuatan baik kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan, tidak bisa dicompare dengan kesucian Tuhan.

Kedua, mengapa peristiwa di taman Getsemani ini begitu agony, Yesus berdoa berjam-jam lamanya hingga meneteskan keringat bagaikan darah? Yesus tidak takut akan kematian. Melalui peristiwa Getsemani ini Yesus memberikan kita satu fakta: inilah fakta ketika manusia melewati kematian. Ibr.2:15 “Dan supaya dengan jalan demikian Tuhan membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada di dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada kematian.” Ayat ini indah sebab ayat ini mengangkat satu bagian yang tidak bisa manusia pungkiri, tidak ada satu manusia pun yang tidak akan menghadapi hal ini. Firman Tuhan mengatakan, menghadapi kematian merupakan sesuatu hal yang menakutkan. Ibr.10:31 “Ngeri benar kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” Ini mewakili ketakutan kedahsyatan yang luar biasa. Ngeri sekali jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup. Kematian kita di atas muka bumi ini hanyalah satu kematian dimana kita semua akan meninggalkan tubuh ini dan pergi. Tetapi kematian itu tidak dimengerti seperti itu saja. Tidak ada kebudayaan yang tidak mengakui akan hal ini: di balik dari kematian fisik ini ada satu kematian yang mereka lihat misteri dan lebih menakutkan. Itu sebab waktu Kristus berdoa di taman Getsemani sebagai seorang Anak Manusia, Ibrani mengatakan Dia mengalami penderitaan, Dia melewati semua kematian itu supaya Dia menanggung satu hal yaitu ketakutan akan kematian. Yesus Kristus mengingatkan murid-murid, jangan takut kepada orang yang bisa membunuh tubuhmu tetapi tidak sanggup membunuh jiwamu. Tetapi takutlah kepada Allah yang sanggup membunuh tubuhmu dan jiwamu. Dengan kengerian ini Kristus melewati moment untuk menjadi satu pertanda, Getsemani selain merupakan jawaban Dia menanggung murka Allah bagi dosa-dosa kita sekaligus mengekspresikan kedahsyatan yang someday kalau akhirnya Allah yang hidup itu menjatuhkan hukuman dan memberikan murkaNya kepada orang yang berdosa, betapa menakutkannya. Itu sebab saudara akan menerima kalimat syukur penulis Ibrani ini, betapa besar keselamatan yang Tuhan beri kepada kita dan betapa bodohnya orang yang mengabaikannya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

12 Desember 2010

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: