Home > Effendi Susanto > Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (6)

Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Allah Berkata ‘TIDAK’ (6)

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

2 Kor.12:7-10

Sering kita mendengar orang bersaksi disembuhkan oleh Tuhan, tetapi jarang kita mendengar orang bersaksi dia tidak disembuhkan oleh Tuhan. Umum kita mendengar orang bersaksi di tengah kesukaran, kesulitan hidup Tuhan memberikan kekuatan dan kelepasan kepadanya, tetapi jarang kita mendengar dan menyaksikan orang maju ke mimbar untuk bersyukur karena Tuhan memberi kegagalan di dalam hidupnya. Tidak gampang dan tidak mudah bersaksi bahwa Tuhan tidak menyembuhkan penyakitmu di tengah-tengah jemaat yang terlalu gampang bermegah kepada hal-hal eksternal yang bersifat supranatural seperti jemaat Korintus. Sehingga ada seorang penafsir waktu membaca bagian firman Tuhan dalam 2 Kor.12 mengatakan ini merupakan resiko Paulus sebagai hamba Tuhan sebab ia menyatakan kegagalan, menyatakan doa yang tidak dijawab oleh Tuhan, di tengah-tengah jemaat yang terlalu membanggakan dengan tidak sehat akan karunia-karunia dan masalah supranatural. Itu sebab di pasal 12 Paulus “terpaksa” karena dia bukan mau membesar-besarkan tetapi memang ini fakta, yaitu Tuhan berkali-kali datang kepadanya memberi wahyu. Jikalau mau bermegah, aku patut bermegah karena sebagai rasul, berkali-kali Tuhan memberi wahyu kepadaku. Ini adalah konteksnya. Kepada jemaat yang sangat melihat kekaguman kepada kesuksesan hamba Tuhan seperti itu, Paulus selain bicara mengenai kemegahannya dia pun memberikan satu fakta realita di dalam hidupnya dan di situ justru menjadi kebanggaan dia yaitu ada duri di dalam dagingnya yang Tuhan beri kepada dia.

Di ayat 6 ada satu pelajaran hidup yang sangat indah yang Paulus berikan kepada kita yaitu jangan pernah bermegah jikalau hal itu menyebabkan orang menilai kita lebih tinggi daripada yang sepatutnya karena someday kalau ketahuan kita akan rugi. Lebih baik walaupun mungkin engkau sakit hati tidak terlalu enak orang menilai hidup kita lebih rendah daripada apa yang kita miliki tetapi someday orang itu akan malu kepada kita. Paulus bukanlah seorang hamba Tuhan yang patut untuk di-boost atau dipuja-puja karena segala kesuksesan yang dia raih. Paulus tidak mau akan hal itu dan baginya itu adalah satu kebodohan. Lebih baik orang tidak menilai kita lebih tinggi daripada yang kita ada dan yang mereka lihat dari kita. Biar satu kali kelak orang yang mungkin menganggap saudara tidak punya apa-apa, tidak punya kemampuan, tetapi setelah bergaul dan bekerja bersama-sama, mereka melihat saudara memiliki kualitas yang lebih daripada yang dia pikir, maka orang itu akan malu. Daripada saudara sudah menulis CV terlalu banyak gelar di belakang, tetapi kemampuan kurang daripada level itu, saudara malu banyak. Saudara mungkin cuma lulusan bachelor tetapi kualitas kerja saudara, komitmen hidup saudara, apa yang saudara kerjakan melebihi daripada orang yang memiliki gelar lebih tinggi, sayang sedikit karena tidak selevel dengan penghargaan orang melalui jabatan yang diberikan kepadamu. Tetapi penghargaan terlalu besar diberikan kepadamu namun tidak disertai dengan kualitas dan keunggulan itu malunya lebih banyak. Kedua, pada waktu Paulus bicara mengenai kemegahannya, itu bukan hal yang main-main. Memang harus kita akui terlalu banyak orang menulis buku mengenai pengalamannya naik turun surga. Orang-orang seperti itu menuliskan pengalaman kesaksiannya, kita perlu waspada dan hati-hati, tidak boleh terlalu cepat menerimanya. Bagaimana saudara bisa membuktikan pengalaman dia betul atau tidak? Di sini Paulus menceritakan satu kemegahan dia yaitu dia pernah diangkat ke surga di ayat 2-5. Di dalam terminologi orang Yahudi tidak ada perbedaan istilah antara surga dan langit sehingga konsep ‘heavens’ kita menemukan konsep mereka mengerti langit itu ada 3 tingkat. Lapisan langit yang pertama adalah tempat dimana burung-burung beterbangan. Lapisan kedua adalah di atas dari lapisan yang pertama, di situlah benda-benda angkasa, matahari, bulan dan bintang-bintang berada. Maka di mana Allah berada? Allah bersemayam di lapisan langit yang ketiga, berarti melampaui langit tempat burung berada, melampaui langit tempat matahari, bulan dan bintang-bintang berada, Dia bertahta di langit yang ketiga. Paulus mengatakan dia diangkat hingga ke langit yang ketiga artinya Paulus dibawa ke tempat dimana Tuhan berada. Di sana Paulus menerima dua hal yang indah, yaitu dia mendengar unspokable things dan melihat indescribable things di situ. Tetapi Paulus menjadikannya sebagai pengalaman pribadi yang tidak perlu dijadikan sebagai hal yang sentral di dalam khotbah-khotbahnya. Ada orang yang mungkin punya pengalaman seperti itu akhirnya selama 14 tahun tema khotbahnya cuma bicara soal dia naik turun surga melulu. Paulus tidak demikian. Paulus tidak pernah menceritakan pengalaman ini di dalam surat-suratnya selain di bagian ini. Mengapa? Karena dia “terpaksa” harus menyatakan otoritasnya sebagai seorang rasul. Kepada jemaat Korintus yang sudah ‘undermind’ bahwa Paulus bukan seorang rasul, maka Paulus harus menegaskan hal itu. Apakah aku harus datang kepadamu dengan membawa rotan? Jangan menghina aku karena aku mempunyai ‘tanda-tanda’ sebagai seorang rasul. Salah satunya aku mendapatkan begitu banyak penglihatan dan wahyu dari Tuhan. Tetapi indahnya, dia tidak membesar-besarkan pengalaman itu. Paulus mengatakan, “Aku tahu tentang seorang Kristen, entah di dalam tubuh, entah di luar tubuh… aku tidak tahu…” (ayat 2) ada penafsir mengatakan kondisi Paulus waktu itu seperti dalam keadaan ekstasi atau dalam keadaan tidak sadar. Saya lebih setuju penafsir yang mengatakan waktu Paulus mendapatkan hal-hal yang begitu ajaib, Paulus tidak mau membesar-besarkannya. Dia meminimalkannya.

Yang kedua, pada waktu dia membicarakan mengenai penderitaannya, di satu sisi dia juga ‘mengecil-ngecilkan’ penderitaannya itu. Kita selalu terbalik, bukan? Pada waktu kita dapat ‘kangtao’ besar kita selalu tidak mau mengaku, tetapi waktu digigit nyamuk sedikit kita sudah teriak-teriak. Biar kita belajar dari bagian ini menjadi satu keindahan seorang Kristen. Waktu dia melihat penglihatan yang begitu indah dan begitu ajaib, dia tidak membesar-besarkannya; tetapi pada waktu dia mengalami penderitaan dan sakit yang begitu berat, dia pun tidak membesar-besarkannya. Dia hanya menggunakan satu metafora yang sederhana, ‘ada duri di dalam tubuhku.’ Namun karena dia tidak mau kasih tahu ‘duri’ itu apa, menyebabkan penafsiran beberapa ratus tahun terakhir ini masih tidak tahu itu apa. Roma Katolik menafsirkan duri itu adalah sama seperti sexual temptations yang dialami oleh para pastor yang tidak menikah, karena Paulus juga tidak menikah. The desire of sexuality itu muncul sebagai ‘utusan Setan’ yang begitu berbahaya. John Calvin menafsir mengatakan duri ini sebagai spiritual agony, yaitu Paulus di dalam perjalanan ikut Tuhan sama seperti kita, kadang-kadang mengalami satu spiritual agony yaitu kita tahu Tuhan itu baik, kita tahu Tuhan itu setia kepada kita tetapi kadang-kadang kita tidak merasakan Tuhan itu ada di dalam hidup kita. Itu seperti doa yang kita dengar di dalam mazmur,” Tuhan, Engkau begitu dekat mendengarkan doaku tetapi mengapa Engkau tidak menjawab aku?” Perasaan ragu Tuhan beserta kita, itu cara Calvin menafsir bagian ini. Sama seperti yang Paulus katakan, selama aku berada di dalam tubuh ini Tuhan terasa masih jauh dariku, itu sebab kita berdoa kepadanya, kita tahu janjiNya, tetapi kenapa itu tidak ternyata di dalam hidup kita, demikian kata Calvin. Menurut Luther, duri ini adalah orang-orang yang mau menganiaya dan membunuh Paulus, seperti utusan Setan yang terus ikut dia kemana dia pergi. Penafsir modern mencoba melihat dari surat Galatia, Paulus mengatakan, “Lihatlah bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri…” (Gal.6:11). Dalam menulis surat-suratnya Paulus memakai juru tulis untuk membantu dia, seperti Tertius yang menulis surat Roma (Rom.16:22). Dari situ kita tahu ada sedikit persoalan dengan mata Paulus dan surat Galatia yang ditulis Paulus dengan tangannya sendiri ditulis dengan huruf-huruf yang begitu besar memperlihatkan ada problem dengan mata dia. Penafsir setuju penyebab kerusakan mata ini karena Paulus telah melihat sinar Tuhan Yesus yang begitu dahsyat dalam perjalanan ke Damaskus menyebabkan Paulus langsung buta matanya (Kis.9:3-9). Dan waktu Tuhan menyembuhkannya, dia memang bisa melihat lagi tetapi tetap tidak bisa lagi kembali seperti semula karena matanya telah melihat sinar yang begitu dahsyat. Namun kita tidak bisa memastikan apakah penyakit Paulus hanya di bagian mata itu ataukah ada di bagian lain dari tubuhnya yang sakit juga, sebab di dalam Gal.4:13-14 Paulus menyebutkan satu penyakit tetapi dia tidak sebut penyakit apakah itu. Apakah karena matanya terlalu sakit sehingga bengkak dan menjijikan untuk dilihat sehingga kalimat yang dipakai Paulus di sini pakai bahasa saya, ‘sakitku ini sampai bikin engkau mau muntah.’ Sakit itu begitu menjijikan dan sangat menakutkan, tetapi tidak tahu apa sakit itu. Kalau itu adalah ‘duri’, seorang penafsir mengatakan itu adalah sesuatu yang bukan hanya sesekali datang kepadanya, tetapi ini adalah satu penyakit yang permanen dan sangat tidak enak, seperti kita kemasukan duri atau kayu yang kalau dikorek juga sakitnya tetap ada di situ. Penafsir lain mengatakan mungkin itu adalah penyakit mediterranean Malaria fever yang kadang-kadang bisa menyerang orang sampai kepalanya begitu sakit sehingga diantukkan ke dinding untuk meredakannya. Dua ribu tahun yang lalu fever seperti ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan, yang bisa datang seketika tanpa diundang. Tetapi puji Tuhan, Paulus tidak mau kasih tahu dia sakit apa, itu mengajak kita untuk belajar satu hal: di tengah kesulitan sakit penderitaan yang dialami olehnya, dia tidak mau itu menjadi besar, dan dia berusaha mengecilkan akan hal itu. Dia tidak mau hal-hal yang begitu susah terjadi di dalam dirinya itu dideskripsikan dengan begitu besar, melainkan dia hanya mengatakan, ‘it is like a thorn in my flesh.’

Sampai di sini kita mendapatkan beberapa hal yang menarik. Pertama, tidak gampang dan tidak mudah, di tengah-tengah jemaat Korintus yang mengukur kesuksesan seorang hamba Tuhan dari kehebatan pelayanan dia, Paulus justru mengaku bahwa satu doanya minta disembuhkan dijawab ‘tidak’ oleh Tuhan. Tidak gampang orang yang dipakai Tuhan begitu besar sekarang di depan jemaat berkata, ‘saya memiliki kelemahan sakit dan permintaanku minta disembuhkan tidak Tuhan jawab.’ Mungkin itu bisa mendatangkan pertanyaan apakah betul dia adalah hamba Tuhan yang dipakai Tuhan. Yang kedua kita belajar satu hal dari Paulus, di tengah-tengah sakit kesulitan yang dialami olehnya, dia tidak mau mengeluarkan kata-kata yang membesarkan seolah-olah ini adalah sakit yang unbearable dalam hidupnya. Dia hanya bilang itu adalah duri belaka. Namun apakah ini sakit yang bisa ditahan olehnya? Mari kita lihat kata yang Paulus pakai di sini, “Aku sudah tiga kali berdoa…” sesungguhnya menunjukkan ini adalah situasi yang unbearable bagi dia. Apakah berarti dia hanya berdoa tiga kali saja? Tidak. Kalimat mengatakan ‘sudah tiga kali’ adalah bahasa metafora yang dimengerti oleh orang Yahudi maksudnya adalah doa terus-menerus, karena orang Yahudi memiliki kebiasaan dalam satu hari mereka tiga kali berdoa, pagi-siang-malam. Sehingga Paulus dengan latar belakang seperti ini mengatakan demikian, maksudnya adalah dia berdoa tanpa henti terus-menerus, dia berseru, dia meminta, dia memohon Tuhan mencabut duri itu. Jangan terlalu cepat saudara membaca bagian ini lalu melihat jawaban Tuhan, “My grace is sufficient…” waktu bertemu dengan orang yang sedang sakit dan menderita kesulitan kita hibur dengan kalimat seperti itu, ”…sudahlah, sabarlah… anugerah Tuhan cukup.” Dia yang mengalami sakit itu sudah 20 tahun, kamu cuma datang membesuk 20 menit berani bilang begitu? Mari kita pikir baik-baik: apakah orang Kristen boleh mengeluh? Apakah orang Kristen boleh berteriak? Apakah orang Kristen boleh menangis minta kepada Tuhan di tengah kesulitan dan tantangan yang dia alami memohon Tuhan mencabut dan menolong dan angkat karena dia sudah tidak kuat lagi? Boleh. Paulus mengatakan kalimat ini, ada utusan Iblis, ada duri yang tidak bisa saya tahankan, itu sebab aku berseru dan meratap, berkeluh dengan tangisan dan air mata kepada Tuhan. Kita tidak boleh cepat-cepat shortcut. Kita harus mengakui ada fakta dan realita manusia itu berdaging dan berdarah, di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan yang dialami, ada darah yang bisa menetes, ada air mata yang keluar karena kesedihan. Itu fakta hidup kita. Tetapi kadang-kadang di tengah penderitaan, kesulitan dan air mata yang datang justru juga bisa menyebabkan orang akhirnya lari, kecewa dan meninggalkan Tuhan. Dalam Ayb.19:7-10 Ayub mendeskripsikan penderitaannya dengan kata-kata yang begitu luar biasa, begitu menyentuh dan mengenaskan, Ayub berkata, ”…even the seed of my life has taken away from me.” Membaca puisi ratapan seperti ini, sdr bisa melihat itu yang namanya lament. Seorang anak Tuhan yang begitu cinta Tuhan menderita dan meratap seperti ini. Maka tidak berarti kita tidak boleh mengeluh, tidak berarti kita tidak boleh mencetuskan perasaan sedih menangis melihat apa yang kita alami. Dalam Yer.15:18 nabi Yeremia meratap, “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan dan lukaku sangat payah sukar disembuhkan? Sungguh Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.” Tuhan, saya tahu Engkau baik, saya tahu Engkau setia, saya tahu Engkau adil, saya tahu Engkau cinta, saya tahu Engkau penuh dengan kasih dan tidak pernah berlaku curang. Saya begitu trust kepadaMu. Namun sekarang, aku tercebur masuk ke dalam air yang tidak bisa aku percaya. Saudara bisa bayangkan sekali lagi itu adalah satu lament, satu ratapan keluhan dan pergumulan dari anak-anak Tuhan kepada Tuhan atas penyakit, atas kejahatan, atas kesulitan yang dia rasa tidak adil datang kepadanya. Itulah ratapan kejujuran pada waktu hal-hal itu terjadi di dalam hidup kita bukan disebabkan oleh kesalahan kita, bukan karena hal-hal yang kita lakukan, tetapi sesuatu yang tiba-tiba datang, sesuatu yang tidak pernah kita harapkan, sesuatu yang tidak pernah kita undang di dalam hidup ini, namun mengapa itu datang ke dalam hidup kita? Itu sebab jangan kita abaikan dan larang kesulitan dan teriakan yang keluar dari mulut orang percaya yang real berseru kepada Tuhan dengan keluhan seperti ini. Sebagai hamba Tuhan, Paulus pun mengatakan hal yang sama. Aku berseru terus-menerus kepada Tuhan. Kenapa lament itu terjadi dan mengapa kita makin lament kepada Tuhan, sebab penderitaan itu bukan saja tidak adil datang dan terjadi di dalam hidup kita, kita meratap dan mengeluh kepadaNya sebab kita percaya Dia sanggup melepaskan kita, kita percaya Dia bisa mengangkat penderitaan dan sakit kita, tetapi kenapa Ia tidak melakukannya? Itu sebab kita menjadi mengeluh. Mengeluh adalah suara rintihan dari iman yang bergumul untuk menjalani hidup yang ada banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab, ada banyak penderitaan yang tidak bisa dijelaskan. Lament is a deep groaning voice of our struggle faith to live with unanswered questions of life and unexplainable sufferings. Kenapa kita mengeluh? Sebab banyak pertanyaan-pertanyaan hidup kita yang tidak terjawab. Kenapa kita mengeluh? Sebab banyak penderitaan yang tidak bisa dijelaskan. Kita lebih mengeluh sebab kita melihat orang yang baik kenapa dia sakit kanker? Kita mengeluh sebab kita melihat seorang hamba Tuhan yang setia dan baik, kenapa dia tiba-tiba sakit keras dan tidak bisa lagi melayani Tuhan? Hal-hal seperti itu menyebabkan kita berkeluh kesah. Tetapi keluhan ini memberitahukan kita satu hal: hanya kepada Tuhan kita berseru dan berkeluh kesah. Itu sebab mengawali tahun ini kita akan masuk dengan realita, ada sukacita dan akan ada penderitaan. Tetapi pada waktu kita mengalami hal-hal itu, tulisan rasul Paulus mengingatkan kita, ada tempat untuk kita berseru dan mari kita bawa seruan itu kepada Tuhan dan meminta kepadaNya.

Jawaban Tuhan “tidak” itu tidak berarti anugerah Tuhan tidak datang kepada kita. Tuhan tidak sembuhkan Paulus, ini adalah topik terakhir dari seri khotbah saya mengenai “Orang-orang Beriman yang kepada Mereka Tuhan berkata ‘Tidak’.” Tetapi mari kita lihat ‘tidak’-nya Tuhan bukan sebagai hukuman; ‘tidak’-nya Tuhan bukan berarti Tuhan menutup segala hal. ‘Tidak’-nya Tuhan tetap di belakangnya ada anugerahNya dan kalimat penghiburan Tuhan begitu indah datang kepada setiap kita, “My grace is sufficient.” AnugerahKu itu cukup bagimu. Anugerah Tuhan itu cukup bagimu. Bagaimana kita memahami kalimat ini? Kenapa Tuhan tidak mengatakan, “My strength is sufficient”? Dengan kalimat ini saya percaya Paulus ingin mengajak kita melihat bahwa Tuhan ingin kita mengerti dan melihat baik-baik, melihat duri yang kecil itu di dalam seluruh aspek anugerah Tuhan yang besar. Kenapa pakai kalimat “My grace is sufficient for you”? Sebab kita manusia yang terlalu gampang dan terlalu mudah hanya selalu melihat hal-hal yang kecil dan tidak melihat terlalu banyak hal-hal besar yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Itu sebab kita diingatkan bukan anugerah Tuhan itu tidak banyak di dalam hidup kita, tetapi kita kadang-kadang terlalu mudah untuk tidak melihat anugerah yang banyak itu dan terlalu fokus kepada hal-hal yang kecil yang unpleasant datang kepada hidup kita. My grace is sufficient for you, berarti Tuhan minta kepada Paulus dengan jawaban ini jalanilah hidup itu dengan step by step. Tuhan tidak membuka semua masa depan kita sekaligus. Banyak hal di depan yang kita tidak tahu. Hidup harus dijalani step by step karena kita terbatas adanya. Itu sebab kalimat ini muncul bagi kita, “My grace is sufficient,” datang pada waktu yang tepat. Itu sebab dengan kalimat ini Tuhan menjawab Paulus untuk mengajar kita sebagai anak-anakNya selalu belajar bersabar dan bersandar kepada Tuhan. Tidak perlu tunggu kita menjadi orang beriman, karena orang yang tidak berimanpun tahu, hidup itu tidak pernah sukses dan lancar selalu. Hidup kita adalah gabungan dari sukses dan gagal, sedih dan gembira, lancar dan terhambat. Tuhan juga tidak mau hidup kita gagal dan gagal terus. Tetapi itulah fakta dan realita hidup manusia. Orang yang tidak percaya Tuhanpun tahu, ada gagal ada berhasil. Tetapi sebagai orang-orang yang beriman kita lebih tahu bahwa di balik daripada semua itu Tuhan mengajak kita untuk bersabar menanti anugerah Tuhan pada waktunya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

2 Januari 2011

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: