Home > Effendi Susanto > Adilkah Allah Menghakimi Orang yang Tidak Pernah Mendengar Injil?

Adilkah Allah Menghakimi Orang yang Tidak Pernah Mendengar Injil?

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu. Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Rom.2:6-16

Ada bagian dari argumentasi rasul Paulus di sini yang sedikit berbeda dengan seluruh konsep teologi yang Paulus katakan di dalam surat-suratnya. Paulus mengatakan tidak mungkin seseorang bisa dibenarkan dengan melakukan perbuatan baik, melainkan keselamatan terjadi hanya oleh anugerah di dalam Yesus Kristus yang menebus dosa-dosa kita. Tetapi di bagian ini kita menemukan kalimat Paulus yang berkata ”…hidup kekal diberikan kepada mereka yang tekun berbuat baik” (ayat 6) dan ”…kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik” (ayat 10). Bagian ini harus kita bahas baik-baik karena di sini Paulus bilang hidup kekal diberikan kepada mereka yang tekun berbuat baik. Lalu timbul pertanyaan ini di benak kita, mungkinkah orang yang seumur hidup tekun berbuat baik bisa memperoleh keselamatan di luar Yesus Kristus? Kalau hanya di dalam nama Yesus saja orang memperoleh keselamatan apakah berarti Allah itu tidak adil? Lalu bagaimana dengan mereka yang seumur hidup belum pernah mendengar nama Yesus, apakah ada kemungkinan keselamatan terjadi kepada mereka jikalau mereka tekun berbuat baik? Kita semua setuju terhadap orang-orang yang jahat tidak ada kesempatan bagi mereka mendapat keselamatan. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang baik ini? Rom.2:14 mengatakan “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut oleh hukum Taurat,” apakah mereka akan selamat? Maka bagian ini menjadi hal yang amat penting dimana Paulus bicara mengenai hidup kekal bisa diperoleh dengan berbuat baik. Kalau seseorang dengan taat tanpa cacat cela melakukan hukum Taurat, hidup dengan suci dan tanpa berbuat dosa, mungkinkah dia mendapatkan keselamatan walaupun dia tidak percaya Yesus? Paulus mengangkat klausal ini dan kita akan coba melihatnya dengan teliti.

Pertama, di dalam konteks argumentasi Paulus mulai dari pasal 1:18 – 3:20 adalah satu bagian yang utuh dimana kita tidak boleh berhenti di tengah jalan lalu mencabut satu bagian tanpa melihat seluruh bagian ini seutuhnya. Maka di dalam bagian Rom.2:6-16 ini Paulus mem-build up argumentasinya sampai nanti kepada konklusi keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Pernyataan Paulus di dalam Rom.3:20 seolah berkontradiksi dengan Rom.2:10 tadi, dimana Paulus mengatakan “sebab tidak seorangpun dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Inilah kesimpulan Paulus yang menutup segala kemungkinan ada orang di luar dari Injil bisa dibenarkan karena berbuat baik.

Di dalam Rom.1:18 Paulus berangkat dengan premise ini “Allah murka terhadap segala kelaliman manusia…” Lalu dia kemudian mem-build up kenapa Allah murka dan di pasal 2 Paulus memperlihatkan kemurkaan Allah itu bersifat adil adanya. Tuhan tidak pandang bulu. Jangan pikir engkau adalah orang Yahudi, sudah mendapat hukum Taurat tetapi engkau tidak melakukannya, tetap engkau tidak akan mungkin dibenarkan Allah. Itu adalah point Paulus. Allah bukan Allah yang berkolusi. Hukum yang sama Allah terapkan kepada bangsa Yahudi dan juga terhadap orang-orang yang bukan Yahudi karena Allah tidak pandang bulu. Nanti di belakang kita akan melihat hukum yang Allah berikan “Upah dosa adalah maut,” Dia sendiri tidak melanggar hukum itu. Di situ sdr melihat keadilan Tuhan. Kita tidak mati bukan karena Allah menghapus hukum itu tetapi Yesus Kristus mati mengganti kita. Jadi inilah konsistensi yang kita lihat di dalam argumentasi Paulus.

Lalu kenapa di dalam Rom.2:6 ini Paulus mengatakan hidp kekal diberikan kepada orang yang tekun berbuat baik? Karena di sinilah Paulus ingin menunjukkan Allah kita adalah Allah yang adil. Allah menghukum orang non Yahudi yang berbuat dosa, Allah menghukum orang Yahudi yang berbuat dosa. Tidak ada perbedaan di dalam keadilan Allah.

Kembali kepada Rom.1:18, Allah murka. Kenapa Allah murka? Karena semua orang sudah mendapat wahyu umum sehingga tidak ada yang bisa berdalih di hadapan Tuhan bahwa kita tidak mengenal Dia. Waktu orang bertanya, apakah Allah adil menghukum orang hingga binasa padahal orang itu baik dan tidak melakukan kejahatan? Sebelum menjawab pertanyaannya, kita harus balik bertanya, apa yang dia maksudkan ‘orang itu baik dan tidak melakukan kejahatan,’ apa definisi ‘baik’ menurut dia? Tidak ada orang yang bisa mengatakan dia ‘purely innocent,’ yang benar-benar tidak bercacat melakukan kebaikan di dalam hidupnya. Apakah orang yang hidup baik, hidup suci, melakukan hal-hal yang baik, mungkinkah dia memperoleh hidup yang kekal? Paulus tidak merubah konsep: orang yang berbuat baik memperoleh hidup yang kekal. Namun Paulus membongkar konsep manusia mengenai apa itu berbuat baik, apa definisimu mengenai hidup suci, apa menurutmu standar you sudah cukup melakukan perbuatan baik, itu yang Paulus bongkar di sini. Jadi bukan tidak ada kemungkinan orang yang berbuat baik mendapat hidup kekal, tetapi kebaikanmu standarnya apa, kesucianmu standarnya apa?

Kedua, Paulus mengatakan tidak ada orang yang bisa berdalih tidak mengenal Tuhan karena ada wahyu umum bagi semua orang. Sampai di sini saya bertanya, apakah orang yang mendengar Injil otomatis bisa selamat? Jawabannya, tidak. Bukan dengar Injil yang menyelamatkan orang, tetapi setelah mendengar Injil bagaimana orang itu berespons kepada Tuhan, itu yang terpenting. Memang wahyu umum tidak membawa orang kepada keselamatan karena wahyu umum tidak cukup membawa kita kepada pengenalan akan Tuhan. Rom.1 hanya mengatakan melalui alam semesta dan hati nurani kita hanya tahu dua hal, pertama ada standar benar dan baik di dalam hati kita. Seprimitif apapun seseorang, hati nurani mempunyai standar kebaikan dan kebenaran. Kedua, melalui alam semesta kita mengenal dua sifat Tuhan, yaitu Allah itu kekal dan Allah itu punya pekerjaan yang dahsyat luar biasa. Sekali lagi wahyu umum tidak sanggup membawa kita mengenal Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kristus. Wahyu umum tidak bisa membuat kita mengenal Allah yang Tritunggal, Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, yang hanya bisa kita ketahui lewat wahyu khusus Allah berfirman. Tetapi ada orang bilang, kalau seseorang tidak pernah mendengar nama Yesus, adalah tidak adil Tuhan menghukum orang itu? Bagaimana kalau orang itu sebenarnya mau percaya Tuhan tetapi karena wahyu umum tidak sanggup bisa membawa dia kepada Tuhan yang benar, berarti Tuhan tidak fair terhadap dia?

Sampai di sini, saya ajak sdr berpikir kenapa Paulus mengatakan tidak seorangpun bisa excuse dia tidak kenal Tuhan? Sebab dengan wahyu umum Tuhan memberitahukan Dia ada, dan menyadari hidup kita memiliki hubungan dengan Tuhan itu adalah bagian benih agama yang tidak bisa kita tolak.

Mari kita kembali kepada kitab Kejadian. Setelah Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa, hubungan dengan Allah menjadi rusak, pengenalan akan alam semesta menjadi rusak. Maka pada waktu Tuhan datang, mereka tidak datang menghampiriNya tetapi mereka bersembunyi. Alkitab mengatakan manusia melakukan satu tindakan untuk menutupi dosanya dengan cara menutupi ketelanjangan mereka dengan daun-daun kering. Perbuatan ini tidak dibenarkan dan tidak disetujui Tuhan, maka Tuhan melakukan satu cara untuk menutupi ketelanjangan manusia dengan mengganti daun-daun dengan kulit binatang. Darimana Tuhan mendapatkan kulit binatang itu? Pada hari manusia jatuh di dalam dosa, hari yang sama Tuhan memberi janji keselamatan dan janji itu ditandai dengan satu upacara pengorbanan binatang dan kulitnya diambil untuk menutupi ketelanjangan manusia. Hanya dengan cara ada binatang yang mati baru ada kemungkinan terjadi penutupan atas ketelanjangan manusia yang sudah jatuh di dalam dosa. Kenapa? Karena selanjutnya di dalam Kejadian 4, darimana muncul di antara anak-anak Adam yaitu Kain dan Habel mengenai konsep persembahan kalau bukan diturunkan dari orang tuanya? Kejadian 4 sering orang salah tafsir, kenapa persembahan Kain Allah tolak dan persembahan Habel Allah terima? Guru-guru Sekolah Minggu sering salah mengajar anak-anak dengan mengatakan Tuhan menolak persembahan Kain karena Kain memberi sayuran dan buah-buah yang busuk sedangkan persembahan Habel Tuhan terima karena dia memberikan anak domba yang gemuk. Kain dan Habel saya percaya mendapatkan konsep dari orang tuanya untuk datang kepada Tuhan, bagaimana datang berbakti di hadapan Tuhan, memiliki hubungan yang beres dengan Tuhan datang dengan satu cara yaitu membawa persembahan binatang yang disembelih. Dengan cara itulah manusia bisa menutupi hidupnya yang sudah berdosa.

Cerita mengenai Kain dan Habel diangkat karena ini merupakan cerita yang sangat penting. Dua hal terjadi di sini, pertama, inilah cerita yang memperlihatkan kepada kita pertama kali manusia menolak cara dari Tuhan di dalam memberi persembahan. Cara Tuhan adalah manusia datang dengan membawa korban binatang, tetapi Kain tidak menuruti cara ini tetapi membawa caranya sendiri. Kedua, cerita ini memperlihatkan akibat pemberontakan kepada Tuhan maka terjadi dosa pembunuhan. Jadi anak-anak Adam dan Hawa waktu itu sudah banyak, tetapi Alkitab memfokuskan kepada dua orang ini, Kain dan Habel, menjadi satu cerita yang penting sekali karena ini moment manusia mendistorsi cara Tuhan. Selama ini manusia terus taat, mereka sadar diri sudah berdosa, bagaimana membereskan hubungan dengan Tuhan, perlu darah binatang dikorbankan. Itu sebab persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan sebab itu saatnya dia memakai caranya sendiri. Dari situ sdr melihat distorsi terjadi di dalam sejarah manusia. Kain tetap berbakti kepada Tuhan, tetapi ada yang dia tidak taati yaitu caranya Tuhan. Sehingga dari situ terjadi dua arus, yaitu arus yang setia untuk taat datang menghampiri Tuhan dengan cara Tuhan, ada darah yang dicurahkan untuk menebus dosa kita. Lalu ada arus yang satu lagi yang merupakan pemberontakan dari manusia di dalam berbakti kepada Tuhan yaitu menurut cara sendiri. Nanti belakangan Allahnya berubah, cara ibadahnya berubah, persembahannya berubah, semau manusia. Berarti sejak dari awal sekali sesungguhnya tidak ada manusia yang ateis sejati, tidak ada manusia yang tidak mempunyai percikan pengenalan akan Allah. Tradisi berjalan terus, manusia makin lama makin berkembang, konsep itu makin berkembang. Di dalam perkembangan itu terjadi dua arus besar, yaitu arus anak-anak Tuhan yang sudah berdosa tetapi mau setia dengan cara Tuhan. Arus yang kedua, arus yang mengikuti cara Kain. Sepanjang sejarah orang yang mempelajari Misiologi melihat seluruh kebudayaan manusia ada agama, dan dulu mereka mengira konsep agama dimulai dari Polyteisme yaitu percaya ada banyak allah, lalu belakangan manusia makin canggih hingga sampai kepada konsep agama yang lebih supreme yaitu percaya Allah itu satu. Jadi dari Polyteisme lalu berkembang menjadi Monoteisme. Belakangan konsep ini sudah tidak diterima lagi karena di dalam Antropologi Agama dibuktikan bahwa sebenarnya konsep manusia pertama-tama adalah Monoteisme, lama-lama berubah menjadi Polyteisme. Sehingga bagi orang yang belum pernah mendengar nama Yesus Kristus kalau terus ditarik sampai ke Adam, apakah mereka memiliki pengenalan akan Allah yang sejati? Ya. Tetapi pengenalan akan Allah itu kemudian akan terbagi dua, yaitu setia kepada arus Habel atau mengikuti arus Kain. Itulah sejarah kehidupan manusia beragama.

Baru kemudian Paulus masuk ke dalam Rom.2 ini, mungkinkah dengan berbuat baik orang bisa mendapat keselamatan? Mungkinkah tanpa melalui Kristus manusia bisa diselamatkan? Jawabannya, tidak. Tetapi Paulus hanya menekankan satu hal: keadilan Tuhan di dalam mengadili manusia yaitu berdasarkan ketaatan kepada seluruh hukum Tuhan. Tuhan adalah Allah yang suci dan Dia akan memberikan hukum yang suci. Allah yang adil akan memberikan hukum yang adil. Kalau manusia taat kepada hukum itu manusia berarti taat kepada Allah. Dengan menaruh klausal ini sdr akan melihat terus sampai ke belakang semua orang tidak mungkin bisa berbuat baik. Maka cara manusia bisa selamat hanya satu yaitu dengan beriman kepada Yesus. Tetapi apa yang Yesus lakukan sama sekali tidak menganulir apa yang Tuhan katakan.

Gal.4:4 menyatakan kehadiran Yesus di atas muka bumi ini melakukan dua hal. Pertama, menebus kita dengan nyawaNya. Upah dosa adalah maut. Supaya kita yang berdosa tidak mengalami hukumat maut itu, Tuhan Yesus mengambil maut itu menjadi bagian Dia. Itu namanya menebus. Artinya membayar hutang kita. Tetapi bukan itu saja yang Dia lakukan. Yang kedua, selama hidup di atas muka bumi ini Dia hidup seperti Adam dan Hawa sebelum jatuh di dalam dosa yaitu hidup dengan taat tidak berbuat dosa, tidak melanggar satupun hukum Tuhan yang suci dan adil itu. Sehingga berlakulah Rom.2:6 tadi, barangsiapa yang taat melakukan hukum Taurat ia akan memperoleh hidup yang kekal. Kita tidak sanggup melakukan hal itu. Yang sanggup melakukannya adalah Yesus Kristus.

Kemudian Paulus akan menjelaskan kenapa di dalam Yesus Kristus kita bisa memperoleh hidup itu? Pertama, karena Dia sudah menebus dosamu dengan kematianNya. Kedua, karena Dia hidup taat melakukan hukum Allah untuk sdr dan saya. Alkitab begitu indah, begitu ajaib, begitu konsisten, begitu teratur, begitu tepat berbicara mengenai cara Tuhan bagaimana menyelamatkan kita.

Kalau Tuhan adil, Tuhan akan menghakimi semua orang, faktanya ada orang yang belum pernah mendengar nama Yesus, dimana letak keadilan Tuhan di dalam mengadili dia? Maka Rom.2 memberikan kita prinsipnya. Rom.2:14 “sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat. Semua yang pernah mendengar hukum Taurat akan dihakimi menurut hukum Taurat.” Itu sebab tidak heran pada waktu Yesus sudah melayani di Kapernaum dan penduduk Kapernaum menolak Dia, Yesus berkata, “Pada hari penghakiman, kota Sodom akan lebih ringan hukumannya daripada Kapernaum.” Kenapa? Sebab Sodom belum pernah mendengar nama Yesus, tetapi kepada Kapernaum Yesus datang memberikan Injil keselamatan dan mereka menolak Dia, sehingga mereka akan mendapatkan hukuman yang lebih berat. Kalimat Tuhan Yesus ini memberikan indikasi ini. Kalau mereka belum pernah mendengar Injil, hukuman yang Tuhan lakukan menjadi keadilan Dia yaitu seturut dengan terang yang mereka dapatkan. Dan terang itu sendiri sudah cukup, karena tidak ada orang yang mungkin bisa excuse. Itu yang Paulus katakan, bukan wahyu Tuhan tidak ada, bukan anugerah Tuhan tidak ada, tetapi sejarah hidup manusia membuktikan kepada kita manusia terus-menerus menindas, merubah, merusak dan melawan apa yang Tuhan mau.

Jadi sejarah Kain menjadi titik poin yang penting sekali. Itulah pertama kalinya manusia membangun hubungan dengan Tuhan menurut keinginannya dan tidak menuruti cara Tuhan. Setelah melawan cara Tuhan maka Kain membunuh Habel. Inilah struktur dosa yang tidak berubah. Dari dosa melawan Tuhan kemudian berkembang menjadi dosa sosial, Kain membunuh Habel. Rom.1 memperlihatkan struktur yang sama, akibat kesalahan di dalam Idolatry maka terjadi kesalahan di dalam Immorality dan selanjutnya berkembang kepada dosa sosial. Akibat merubah hubungan dengan Tuhan maka terjadi dosa iri di dalam hati kain lalu sesudah itu terjadi dosa pembunuhan. Kalau seseorang belum pernah mendengar Injil, Tuhan akan mengadili dia tanpa Injil melainkan seturut dengan terang yang dia terima. Bagaimana nantinya di hadapan Tuhan, hati nurani orang akan menghakiminya. Manusia tidak akan bisa membohongi hati nurani atau meminta hati nuraninya terus meng-excuse dia karena saatnya nanti dia akan menjadi jaksa penuntut dan menjadi suara Tuhan memberikan pengadilan. Bagi mereka yang sudah mendengar hukum Taurat dan sudah mendengar Injil, Alkitab memberikan warning yang luar biasa yaitu mereka akan diadili lebih berat. Maka Paulus menutup dengan satu kesimpulan: tidak ada satu orangpun yang bisa benar di hadapan Tuhan.

Kalau dia adalah anak kecil yang meninggal, atau dia adalah seorang yang mental retarded, dimanakah keadilan Tuhan bagi keselamatan mereka? Ada beberapa Confessions of Faith dari Reformed yang penting, di antaranya: Synod of Dort, Heidelberg Confession dan Westminster Confession of Faith dimana kita mendasari pengakuan iman kita. Di dalam Westminster Confession ada jawaban mengenai hal ini, yaitu bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berespons kepada panggilan Injil. Mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan yang dilahir-barukan dan diselamatkan Kristus meskipun mereka secara lahiriah tidak mampu berespons kepada pelayanan Injil. Itu adalah kedaulatan Tuhan dan hati Tuhan yang adil adanya. Waktu seseorang tidak bisa berespons kepada Tuhan bukan karena tidak mau tetapi karena tidak mampu, kita percaya Tuhan tetap fair, ada kedaulatan Tuhan dan kasih dan anugerah Tuhan bagi mereka.

Seluruh rangkaian firman Tuhan pada hari ini mengajak kita melihat bagaimana Paulus membawa hati kita kagum dan hormat kepada Tuhan karena Dia menghakimi dengan adil. Kita sekaligus gentar dan takut karena penghakiman itu tidak ada yang bisa lulus dan lepas darinya, Tuhan tidak pernah menurunkan standar penghakiman dan penghukumanNya. Nanti pada waktu kita masuk kepada pembahasan mengenai salib Yesus Kristus, kita bisa menemukan Tuhan kita adil luar biasa. Itu sebab mengapa sesudah semua terjadi, firman Tuhan memberikan satu kesimpulan, tidak ada nama lain di atas muka bumi ini yang manusia bisa diselamatkan kecuali di dalam nama Yesus Kristus. Bukan saja nama itu tetapi dari seluruh catatan Alkitab kita bisa melihat karya Yesus Kristus yang begitu agung dan indah. Tidak ada satu orangpun yang sanggup dan bisa melakukannya kecuali Dia. Itu sebab di dalam nama Yesus kita beroleh keselamatan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

16 Agustus 2009

Categories: Effendi Susanto
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: