Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Hanya oleh Darah Yesus

Hanya oleh Darah Yesus

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Rom.3:23-26

Eksposisi Surat Roma (11)

Hari ini kita akan menerima sakramen Perjamuan Kudus. Bagaimana memahami arti dan makna Perjamuan Kudus merupakan hal yang sangat penting di dalam Gereja Protestan. Ini merupakan perdebatan sengit di dalam Gereja yang akhirnya menimbulkan salah satu alasan mengapa Gerakan Reformasi dari Luther, Calvin dan Zwingli melakukan perlawanan terhadap konsep yang ada di dalam gereja Katolik bicara mengenai perjamuan kudus. Gereja Katolik memegang konsep perjamuan kudus sebagai transubstansiasi, maksudnya adalah roti dan anggur yang kita makan dan minum di dalam perjamuan kudus berubah menjadi tubuh dan darah Yesus. Itu adalah ajaran di dalam gereja Katolik yang muncul di dalam perjalanan Gereja. Gerakan Reformasi oleh Luther, Calvin dan Zwingli menentang akan hal ini, walaupun konsep mereka sendiri masing-masing agak sedikit berbeda, nanti selanjutnya gereja Protestan lebih mengikuti konsep Zwingli bicara mengenai perjamuan kudus. Bagi gereja Protestan, Perjamuan Kudus adalah satu sakramen yang kita adakan sebagai peringatan akan kematian Kristus yang sudah terjadi 2000 tahun yang lalu. Roti yang kita makan dan anggur yang kita minum hanya menjadi lambang dari tubuh dan darah Kristus yang sudah dikorbankan sebagai penebusan yang sudah terjadi satu kali dan tidak perlu diulang-ulang karena khasiatnya berlaku kepada orang-orang sebelum Dia dan khasiatnya berlaku kepada kita yang ada sesudahnya. Reformasi mengatakan konsep transubstansiasi dari perjamuan kudus Katolik mengandung satu kebahayaan karena pada waktu setiap minggu perjamuan kudus diadakan mereka percaya betul-betul tubuh Kristus yang dipecahkan dan betul-betul itu darahNya kembali dicurahkan. Berarti setiap hari Minggu Kristus disalib dan dikorbankan lagi. Ini bertentangan dengan satu ayat yang penting di dalam Ibr.7:26-27 ”…hal itu sudah dilakukan satu kali untuk selama-lamanya ketika Dia mempersembahkan diriNya sebagai korban di atas kayu salib.” Penulis Ibrani mengatakan Yesus Kristus mati di kayu salib sebagai korban yang terjadi satu kali saja dan efek dari penebusan Kristus itu bersifat selama-lamanya.

Dengan demikian sdr bisa memahami Rom.3:25b dimana Paulus bilang ‘Allah menunjukkan keadilannya sekarang dengan cara Yesus mati di kayu salib dan bukan dahulu. Tetapi dulu Allah sabar membiarkan dosa-dosa itu berjalan terus, dan sekarang barulah keadilan Allah menghukum dosa itu nyata.’ Maksudnya adalah bukan Allah tidak menghukum dosa sebelumnya. Kita melihat di PL bangsa-bangsa yang melakukan dosa telah dihukum Allah. Tetapi maksud Paulus mengatakan’ Allah membiarkan dosa yang terjadi dahulu itu’ berarti sebenarnya korban di dalam PL sama sekali tidak bisa menghapuskan dan memuaskan keadilan Tuhan. Itu sebab nanti sampai di surat Ibrani terjadi argumentasi, kalau betul darah kambing yang disembelih itu bisa mengampuni dosa mengapa harus dilakukan berulang-ulang, tahun demi tahun? Itu membuktikan darah binatang yang dicurahkan sebagai penebusan dosa di atas mezbah itu tidak bisa menebus. Tetapi apakah dosa dari orang-orang di PL yang datang membawa kambing yang disembelih itu diampuni? Jawabnya: Ya. Sebagai apa? Penulis Ibrani mengatakan pengorbanan itu sebagai bayang-bayang. Di dalam PL darah binatang tidak bisa mengganti dosa manusia, karena prinsipnya orang berdosa satu-satunya cara untuk membereskan dosanya berlaku kalimat ini: upah dosa adalah maut. Jadi satu-satunya cara manusia beres dari dosanya, Alkitab bilang, adalah dengan kematian. Tuhan konsisten dengan prinsip ini pada waktu Dia melakukan perjanjian dengan Adam. Tuhan melarang Adam makan buah pengetahuan baik dan jahat karena pada waktu dia memakannya dia akan mati. Jadi maksud Paulus mengatakan di masa lalu Allah dengan sabar membiarkan dosa-dosa berlaku dalam pengertian bukan Dia tidak menghukum dosa tetapi pengampunan dosa dengan darah binatang di dalam PL sebenarnya tidak bisa memuaskan sifat keadilan Tuhan yang harus menghukum dosa. Waktu seseorang mempersembahkan seekor binatang, menyembelih dan mencurahkan darahnya di atas mezbah sebagai korban penghapus dosa dan memohon Tuhan mengampuni dosanya, Tuhan pada saat itu mengampuni dosanya dengan melihat “ke depan” (looking forward) kepada salib Kristus. Darah binatang yang dicurahkan di dalam PL menjadi perlambangan kepada darah Kristus, karena hanya darah Kristus satu-satunya yang sanggup membereskan relasi keberdosaan manusia kepada Allah yang mengasihi dia. Tindakan pengorbanan binatang ini dilakukan berulang-ulang untuk menjadi bayang-bayang kegenapannya nanti di dalam pengorbanan Kristus, sama seperti kita sekarang memohon ampun kepada Tuhan tidak perlu lagi datang membawa kambing ke atas mezbah. Di dalam Perjamuan Kudus ketika kita menerima roti dan anggur, ini adalah satu pengakuan kita bahwa Tuhan sudah mati dan menebus dosa kita. Maka kita diselamatkan oleh Tuhan bersifat “looking back” kepada salib Kristus. Di dalam PL orang belum kenal Tuhan Yesus, apakah mereka diselamatkan dengan cara lain? Jawabannya, tidak. Mereka diselamatkan dengan cara yang sama seperti kita yaitu hanya melalui penebusan di dalam Yesus Kristus. Mereka dengan taat melakukan cara yang diperintahkan Tuhan, menyembelih binatang dan membawanya ke atas mezbah dengan mengerti bahwa someday Tuhan akan menebus dosa mereka. Dalam Ibr.11:13 dikatakan orang-orang di PL dari jauh melihat melambai-lambai kepada salib Kristus. Jadi Abraham beriman kepada siapa? Kepada janji Yesus Kristus. Musa beriman kepada siapa? Kepada Yesus Kristus. Bagaimana mungkin mereka beriman kepada Yesus Kristus padahal Yesus belum datang? Pada waktu mereka menyembelih binatang, itu seperti mereka melihat ke depan, kepada janji Tuhan yang melambai dari jauh dan mereka mengakuinya. Maka Paulus bilang ‘Tuhan sabar’ maksudnya adalah semua cara di dalam PL hanyalah bayang-bayang, tunggu sampai kematian Kristus tergenapi barulah penebusan itu final.

Mengapa penebusan dengan darah Kristus merupakan satu-satunya cara yang menjadi jalan perdamaian antara Allah dan manusia? Sdr dan saya sekarang memiliki kebenaran Tuhan: hanya melalui iman kita datang kepada Kristus, tanpa melakukan apa-apa lagi dari pihak manusia. Keselamatan itu kita terima dengan cuma-cuma karena penebusan Kristus sudah menyelesaikan semua persyaratan itu melalui pencurahan darah Kristus di atas kayu salib.

Minggu lalu saya sudah mengajak sdr melihat dua kata yang penting mencakup keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu kata “jalan pendamaian” dan “oleh darahNya.” Kata ‘darah’ di dalam PL menjadi simbolisasi kehidupan. Itu sebab mengapa orang-orang di PL dilarang makan darah karena di dalam darah ada hidup (Im.17). Dengan demikian kata “di dalam darahNya” maksudnya darah menjadi lambang kematian. Waktu Yesus mati di kayu salib ada dua kebenaran keselamatan yang penting terjadi. Yang pertama, Yesus mati di atas kayu salib membayar hutang dosa kita yang adalah kematian. Maka di sini Rom.3:25 Paulus mengatakan, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian oleh darahNya…” Yesus membayar hutang dosa kita dengan kematianNya sehingga engkau dan saya tidak perlu mati dan tidak membayar hutang dosa dengan kematian kita. Kristus sudah mati di kayu salib mengganti engkau dan saya. Ini yang Alkitab sebut sebagai “ransom.” Yesus berkata, “Aku datang untuk menjadi tebusan bagi banyak orang.” Yang kedua, kita bukan saja berhutang hidup kepada Tuhan, tetapi kita berdosa berarti kita melanggar kesucian dan keadilan Tuhan. Bagaimana kita bisa meredakan murka Allah dan memuaskan sifat keadilan Allah? Siapa yang bisa menggantikan saya menghadapi murka Allah? Itu sebab mengapa bukan manusia biasa yang boleh menggantikan kita di atas kayu salib. Dia harus sekaligus manusia, sekaligus Allah.

Penulis Ibrani mengatakan di dalam Ibr.7:16 bahwa hidup Yesus Kristus adalah ”…hidup yang tidak dapat binasa” atau dalam bahasa matematis itu adalah “hidup yang tidak terhingga.” Angka “tak terhingga” dikurang dengan 100 milyar tetap hasilnya “tak terhingga,” bukan? Maka mengapa Yesus Kristus bisa menebus engkau dan saya? Sebab Dia datang menjadi manusia, Dia berhak menggantikan engkau dan saya melalui kematianNya. Tetapi bagaimana bisa kematian satu orang bisa menjadikan penebusan itu mampu mengganti sebanyak-banyaknya manusia? Karena Dia memiliki hidup yang tak terhingga. Kematian Yesus Kristus membereskan dua hal yang penting. Pertama, mengampuni dosamu dan dosaku. Yang kedua, murka Allah yang suci dan adil tidak mungkin bisa diganti dengan sesuatu yang bersifat terbatas sebab Allah itu adalah Allah yang tidak terbatas, yang di dalam keadilan dan murkaNya tidak ada manusia yang bisa mengganti pas. Yang tidak terbatas hanya bisa diselesaikan oleh yang tidak terbatas juga.

Hari ini saya memberikan beberapa point yang penting di dalam keselamatan Yesus Kristus. Pertama, di dalam bahasa teologi ada dua hal yang Dia lakukan yaitu “Propitiation” dan “Redemption.” Propitiation berarti kematian Kristus telah memuaskan sifat keadilan dan murka Allah. Redemptionberarti Yesus Kristus mengganti kita dengan harga yang lunas menebus kita. Ini dua hal yang penting yang kemudian menghasilkan “Justification” dan “Reconciliation.”

Di dalam Justification, orang yang datang menerima keselamatan di dalam Kristus dibenarkan di hadapan Allah. Gambarannya seperti seseorang yang berada di pengadilan dan dituduh telah melakukan kesalahan dan hutang yang tidak bisa kita bayar. Karena itu kita harus menerima hukuman atas kesalahan dan hutang itu. Tetapi kemudian Kristus maju dan mengganti semua hutang dan kesalahan kita dengan lunas. Maka kita kemudian dibenarkan dan tidak lagi harus dihukum. Status kita menjadi ‘benar.’ Tetapi ini tidak berarti hidup kita menjadi benar. Sdr lihat perbedaannya? Secara status di hadapan Allah kita sekarang adalah orang benar, tetapi hidup kita di dalam dunia ini masih penuh dengan cacat cela. Setelah menerima “Justification” melalui Kristus, engkau dan saya hidup di dalam dunia mengalami “Sanctification” yaitu hidup kita dikuduskan. Proses kita melawan dosa hari demi hari itulah proses pengudusan. Sehingga kepada jemaat di Korintus yang hidup begitu brengsek dan amoral, Paulus tetap menyebut mereka “orang-orang kudus di Korintus” mengacu kepada status mereka yang telah dibenarkan di hadapan Allah sebagai orang percaya kepada Kristus.

Reconciliation yaitu hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang telah diperdamaikan. Pada waktu Yesus di atas kayu salib berteriak “Sudah selesai,” maka pada saat yang sama tirai di Bait Allah yang memisahkan ruang suci dan maha suci terbelah dua, tidak ada lagi penghalang antara Allah dan manusia. Maka engkau dan saya bisa memanggil Allah Pencipta dengan sebutan “Bapa.” Engkau dan saya kapan saja bisa datang berdoa dengan keberanian sebab Allah yang suci itu bisa menerima kita melalui Kristus yang sudah membereskan hubungan kita dengan Allah.

Itu semua menjadi keindahan dari penebusan Kristus.

Kata “Kristus Yesus telah ditentukan Allah…” berarti dua belah pihak berinisiatif dan sama-sama ingin melakukan penebusan bagi manusia. Maka jangan berpikir bahwa tindakan penebusan itu hanya keinginan Kristus dan bukan keinginan Allah Bapa juga. Tidak ada indikasi Allah Bapa tidak ingin kita tidak selamat. Di dalam surat Ibrani dikatakan Yesus berinisiatif menjadikan diriNya sebagai korban penebusan bagi engkau dan saya. Tetapi di bagian Alkitab yang lain sdr bisa melihat Allah Bapa juga berinisiatif menjadikan Kristus sebagai korban bagi engkau dan saya.

Paulus dalam Rom.3:24-25 memakai dua kata yang penting yang kemudian menjadi lambang dari Reformasi yaitu “sola fide” dan “sola gratia.” Paulus ingin menekankan terutama bagi orang Yahudi yang mengira dengan berbuat baik dia bisa masuk ke surga. Tidak ada satu orangpun yang bisa selamat dengan melakukan perbuatan baik, kecuali hanya melalui penebusan Yesus Kristus yang kita terima dengan cuma-cuma, dengan gratis. Kita hanya datang kepada Dia dengan beriman, dengan percaya, dengan rendah hati terima. Orang Yahudi mengalami kesulitan menerima konsep keselamatan itu dengan cuma-cuma, hanya melalui iman. Buat orang non Yahudi, orang kafir, yang hidupnya begitu jahat dan tidak bermoral, ketika ditawarkan keselamatan yang cuma-cuma dari Tuhan, dia akan dengan rendah hati menerimanya. Tetapi bagi orang Yahudi yang merasa diri orang baik lalu semua kebaikannya tidak dianggap layak mungkin hati mereka lebih sulit menerima hal ini. Maka di pasal 4 nanti Paulus akan secara spesifik menegur kesulitan orang Yahudi menerima konsep keselamatan ini.

Dietrich Bonhoeffer menulis buku “The Cost of Discipleship” menulis satu kalimat di awal bukunya “A cheap grace is a grace without cross.” Anugerah yang murah adalah anugerah yang dimengerti tanpa salib. Anugerah penebusan Kristus adalah kita peroleh dengan cuma-cuma tetapi tidak boleh dimengerti sebagai barang murahan.

Heran sekali, ada orang punya anjing herder ras murni melahirkan 5 anak, lalu taruh iklan di depan rumahnya “Silakan ambil, anak anjing herder, gratis.” Tidak ada yang mau ambil. Tetapi kalau masukkan iklan di koran “Anak anjing herder $100/each” langsung orang berebutan untuk beli. Ada orang di dunia ini kalau ditawarin barang gratis langsung ambil padahal belum tentu dipakai atau tidak. Ada orang kalau ditawarin barang gratis malah curiga.

Itu sebab tidak gampang bagi manusia menerima konsep keselamatan yang Tuhan berikan secara cuma-cuma karena manusia bertendensi mau melakukan sesuatu sebagai jasa di hadapan Tuhan ketimbang mereka menerima dengan rendah hati apa yang Tuhan lakukan kepada mereka. Yesus pernah memberikan ilustrasi tentang seorang yang mencari orang untuk bekerja di ladang anggurnya. Orang-orang ini sedang menanti pekerjaan untuk memberi makan anak isterinya. Ketika pada jam 6 pagi pemilik ladang memilih beberapa orang dari mereka untuk bekerja di ladangnya dengan upah satu dinar, sdr bisa bayangkan betapa senangnya mereka karena berarti sudah secure mereka bisa pulang memberi makan keluarga. Kemudian jam 9, jam 12, jam 3 satu demi satu pemilik ladang memanggil orang-orang yang menganggur untuk bekerja di ladangnya. Saya percaya orang-orang itu sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk bekerja. Ketika jam 5 sore pemilik ladang melihat masih ada yang belum bekerja, pasti orang itu sudah lemas tidak ada harapan ada orang mau sewa tenaga mereka. Bayangkan betapa senangnya mereka waktu dipanggil pemilik ladang untuk bekerja di ladang anggurnya. Jam 6 sore, pemilik ladang membayar upah orang yang bekerja dari jam 5, satu dinar. Kemudian yang bekerja jam 3, jam 12 dan jam 9, semua mendapat upah satu dinar. Tetapi waktu yang bekerja sejak jam 6 menerima upah yang sama, mereka bersungut-sungut. Kenapa? Karena merasa mereka diperlakukan tidak adil oleh pemilik ladang ini.

Sekarang mari saya ajak sdr melihat dari sisi lain. Ada 2 hal yang diperlihatkan dari cerita ini. Yang pertama, semua orang-orang itu bisa bekerja di ladang anggur karena ada pemilik ladang yang berbelas kasihan kepada mereka. Tetapi yang menjadi persoalan, yang bekerja sejak jam 6 merasa telah bekerja lebih berat, membawa bakul lebih banyak, lebih berkeringat dibanding dengan orang-orang lain yang datang belakangan. Mungkin mereka bersungut-sungut, ‘Kalau tahu begitu, lebih enak kerja jam lima.’ Tunggu dulu, belum tentu dia mendapat pekerjaan itu. Yang kedua, mari kita bayangkan yang bekerja mulai jam 6 pagi dibanding dengan yang mulai kerja jam 5 sore, siapa dapat hasil lebih banyak? Yang bekerja sejak pagi, bukan? Kalau dia bisa melihat hal itu bukan sebagai pahalanya tetapi sebagai kesempatan dia bisa bekerja lebih banyak buat Tuhan, bukankah dia lebih bahagia daripada mereka yang dipanggil lebih belakangan? Tetapi dia akhirnya bersungut-sungut karena melihat apa yang dia kerjakan sebagai jasanya.

Tuhan memberi keselamatan itu dengan cuma-cuma. Waktu kita menerimanya dan ambil bagian melayani Tuhan, lihatlah itu sebagai anugerah dan kesempatan yang Tuhan beri, kita tidak akan kehilangan sukacita pelayanan setiap kali kita ingat segala sesuatu di dalam hidup kita semata-mata karena anugerah Tuhan.

Hari ini mari kita menerima perjamuan kudus, mengingat apa yang sudah Tuhan Yesus kerjakan di atas kayu salib, terima dengan sukacita, terima dengan iman. Tidak ada kebaikan yang bisa kita bawa di hadapan Tuhan, kecuali kita menerima Dia mengampuni segala dosa kita melalui kayu salib dan di situ kita boleh dibenarkan dan hidup bagi Dia. Semua hutang dosa kita telah dibayar dengan lunas dan selesai oleh Tuhan Yesus Kristus. Dia menebus dosa kita sehingga kita tidak lagi binasa. Dengan roti dan anggur yang kita terima, kita mengingat dengan gentar ini sebagai lambang kematian Tuhan yang menggantikan kita. Biar sampai akhir hidup kita jalani dengan sukacita, sebagai orang yang sudah ditebus dan dibenarkan oleh Tuhan. Jangan sampai ada dosa menyelinap di dalam hidup kita, yang menimbulkan rasa bersalah kepada Tuhan. Kita akui segala kelemahan dan dosa kita kepadaNya sehingga dengan sukacita kita tidak lagi terhalang untuk datang kepada Tuhan karena kita menerima segala pengampunan yang Tuhan beri dengan murah hati kepada setiap orang yang memintanya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

1 November 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: