Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Kasih dan Keadilan di atas Kayu Salib

Kasih dan Keadilan di atas Kayu Salib

Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Rom.3:20-26

Bagian ini merupakan bagian yang sangat penting sekali di dalam surat Roma bicara mengenai apa itu arti Injil Yesus Kristus. Ada dua paradoks yang sangat unik muncul di sini. Paradoks pertama ada di ayat 20, di situ Paulus mengatakan tidak ada seorangpun yang bisa dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, justru dengan hukum Taurat orang mengenal dosa.

Tidak ada hukum yang dibuat dengan maksud dan tujuan supaya orang berbuat dosa, bukan? Semua hukum, termasuk hukum Allah, dibuat dengan tujuan supaya bagaimana orang hidup benar dan tidak melanggar hukum. Tetapi ayat ini memberikan satu paradoks. Pada waktu Tuhan memberi hukum Taurat, tidak ada salahnya dari hukum Taurat itu. Hukum Taurat itu benar, hukum Taurat itu adil, hukum Taurat itu suci. Tetapi paradoksnya, justru dengan adanya hukum Taurat, justru semakin orang hidup di bawah hukum Taurat, orang makin berbuat dosa. Maksudnya, ayat ini hanya ingin mengunci satu hal: tidak ada kemungkinan manusia bisa selamat dengan melakukan hukum Taurat. Paradoks ke dua di ayat 21, Paulus berkata, kebenaran tidak mungkin didapatkan oleh hukum Taurat. Kalau itu dikatakan oleh rasul Paulus mungkin orang akan menentangnya habis-habisan. Bagaimana mungkin tidak ada kebenaran di dalam hukum Taurat? Tetapi di sini yang mengatakannya bukanlah Paulus melainkan hukum Taurat itu sendiri.

Jadi dua ayat ini sekaligus menutup seluruh rangkaian apa yang Paulus bicarakan dari pasal 1-3 di sini bagi dua kolompok masyarakat, yang diwakili oleh orang kafir dan orang Yahudi. Orang kafir tidak memiliki hukum Taurat, orang Yahudi memiliki hukum Taurat. Orang kafir hidup menindas kebenaran, orang Yahudi merasa diri adalah kebenaran. Dua-dua kelompok masyarakat ini menjadi wakil hidup manusia di atas muka bumi ini. Boleh dikatakan orang kafir mewakili orang-orang yang tidak beragama, kelompok Ateis. Orang Yahudi mewakili kelompok orang beragama, yang di dalam agama mencari Tuhan. Namun Paulus katakan dua-dua kelompok masyarakat dengan cara manusia tidak ada kemungkinan untuk benar di hadapan Tuhan. Maka mulai ayat 22-26 menjadi bagian yang penting bicara mengenai apa itu artinya Injil Yesus Kristus, bagaimana kebenaran itu datang melalui iman di dalam Yesus Kristus. Saya sengaja memakai kata “melalui iman” dan bukan “karena iman” seperti terjemahan Indonesia, karena kata ‘karena’ di situ bisa memberi indikasi iman itu sebagai jasa. Itu sebab lebih baik diterjemahkan “melalui” karena di sini iman bukan jasa manusia melainkan instrumen. Karena yang menebus dan menyelamatkan kita adalah karya Yesus Kristus di atas kayu salib. Iman hanya menerima, iman bukan sebagai penyebab keselamatan. Sumber keselamatan karena penebusan Kristus di atas kayu salib.

Maka bagaimana kebenaran Allah datang? Kebenaran Allah datang melalui iman di dalam Yesus Kristus kepada orang yang percaya. Tidak ada perbedaan. Kenapa tidak ada perbedaan? Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Sampai kepada bagian ini saya harus jujur memberitahukan kepada sdr kesulitan manusia untuk menerima penebusan dan keselamatan di dalam Yesus Kristus bukan karena mereka tidak menyadari di dalam hati bahwa mereka adalah orang berdosa tetapi karena ketidak-mampuan mereka untuk rela menerima apa yang menjadi jalan dan tawaran yang Tuhan berikan kepada mereka. Itu sudah dibuktikan sejak manusia jatuh pertama kali ke dalam dosa, manusia berusaha sendiri untuk menutupi keberdosaannya. Sebab ketika Adam tahu bahwa dia telanjang, apa yang dilakukannya? Dia menyemat daun-daun untuk menutupinya (Kej.3:7). Tetapi sebelum dia keluar dari taman Eden, Tuhan melakukan satu hal yaitu membuang daun-daun itu dan menganggapnya bukan cara yang manusia boleh lakukan, dan Tuhan membuat baju dari kulit binatang untuknya (Kej.3:21). Jadi Kej.3 ini dengan singkat bicara mengenai seluruh rangkaian perjalanan manusia berdosa, cara keselamatan yang manusia lakukan, cara keselamatan yang Allah tawarkan dan bagaimana Allah menolak cara yang dipakai manusia.

Tetapi saya sangat tertarik dengan ucapan dari seorang pendeta Hindu bernama Swami Vivakananda yang dia ucapkan 100 tahun yang lalu di depan Parlemen Agama di Chicago tahun 1893. Bagi saya konsep Hinduisme yang muncul belakangan ini di dalam New Age Movement menjadi satu konsep yang besar bicara mengenai apa itu keselamatan buat mereka. Kalimat dia terus dikutip oleh mereka, dia mengatakan begini, “The Hindu refused to call you sinners. You are the children of God, the shearer of immortal bliss, holy and perfect beings. Ye divinities on earth. Sinners? It is a sin to call a man a sinner. It is a standing label on human nature. Besides, if it has to be conceit that human beings do sin then Hinduism say that they can save themselves.” Agama Hindu menolak menyebut engkau orang berdosa. Engkau adalah anak-anak Allah dan di dalam dirimu ada percikan ilahi. Engkau adalah mahluk yang suci dan sempurna. Engkau adalah ilah-ilah kecil yang ada di atas muka bumi ini. Adalah berdosa menyebut orang sebagai orang berdosa. Itu bertentangan dengan natur manusia. Namun seandainya jika kita terpaksa harus mengakui bahwa memang manusia itu berdosa, maka saya katakan you tidak perlu tolong orang Hindu karena mereka dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Banyak filsafat yang ada di belakang New Age Movement yang muncul dewasa ini adalah pengaruh dari filsafat Timur khususnya dari Hinduisme. Sehingga sdr akan menemukan dua konsep ini selalu muncul menjadi konsep yang berseberangan dengan Kekristenan. Pertama, pada waktu kita katakan kita ini ciptaan Tuhan, maka New Age Movement mengatakan, ‘Tidak. Engkau adalah allah-allah kecil.’ Yang lebih celaka kalau konsep ini masuk ke dalam Gereja dan tanpa sadar pendetanya mengatakan orang Kristen adalah anak-anak Allah. Anak Allah itu setara dengan anak konglomerat. Kalau anak konglomerat pakai mercedes, anak Allah juga harus pakai mercedes. Konsep yang kedua, pada waktu kita bicara bahwa kita perlu diselamatkan karena kita adalah orang berdosa, sdr pasti akan menghadapi tantangan yang berat karena New Age Movement masuk dengan konsep: berdosa menyebut seseorang berdosa. It is a sin to call a man a sinner. Konsep Hinduisme ini begitu kental di dalam pikiran filsafat New Age Movement. Saya menganalisa beberapa hal dari ucapan Swami Vivakananda ini. Walaupun ini adalah pikiran filsafat di dalam diri dia, tetapi di dalam praktek kehidupan orang-orang Hindu, tidak bisa tidak, mereka mengakui ada something wrong dengan hidup mereka. Kalau tidak, maka mereka tidak akan berbuat baik dan berusaha jangan sampai siklus reinkarnasi nanti jatuh kepada tahap yang lebih rendah, bukan? Lalu adanya konsep sesajen di dalam Hinduisme itu menjadi satu pertanda apa yang ada di belakangnya. Tetapi bagi saya, pikiran dari Vivakananda ini menjadi cetusan perlawanan terhadap konsep Kekristenan. Ini adalah hal yang wajar dan lumrah di dalam diri manusia yang berdosa sebab itu juga reaksi Adam ketika pertama kali manusia jatuh di dalam dosa yaitu manusia tidak mau mengaku mereka berdosa. Manusia akan selalu berusaha mencari jalan untuk menutupi keberdosaannya dengan cara mereka sendiri.

Paulus mengatakan manusia, siapapun dia tanpa kecuali, memerlukan keselamatan dan kebenaran di dalam Yesus Kristus sebab kita semua berdosa dan kita sudah kehilangan kemuliaan Allah. Kata Inggrisnya, ‘fall short of the glory of God.’ Mengapa Paulus langsung menaruh standar untuk menilah benar salah bukan dengan standar manusia tetapi dengan standar kemuliaan Allah.

Saya tanya dulu, mana yang lebih baik, jadi orang baik atau jadi orang benar? Kita semua lebih suka jadi orang baik, bukan? Dalam Rom.5:7 Paulus bilang untuk orang baik ada yang rela mati bagi dia. Di dalam Rom.3 ini sdr akan menemukan berkali-kali Paulus bicara soal keselamatan, kita tidak bicara soal baik, tetapi kita bicara soal kebenaran. Perdebatan waktu bicara dengan orang yang berbeda agama seringkali orang terjebak berpikir bahwa dia cukup beragama, tidak ada yang salah dengan agamanya, toh semua agama mengajarkan hal yang baik. Pada waktu kita bicara hal yang baik, di situ stadarnya mau tidak mau kita melihat standar kebaikan di antara kita. Tetapi pada waktu kita bicara soal ‘benar’ standarnya apa? Standar siapa yang harus diikuti? Maka itu sebab di sini Paulus mengatakan tidak ada satupun manusia yang bisa dibenarkan dan lepas daripada dosa sebab standarnya adalah kita semua ‘fall short of God’s glory.’ Standarnya adalah kesucian Tuhan. Standarnya adalah kebenaran dan keadilan Tuhan. Harus kita akui hal benar dan baik selalu menjadi confused dalam hidup kita sehari-hari.

Mana yang sdr pilih: truth or lie? Tentu sdr pilih: truth. Selanjutnya, kalau sdr harus pilih: boring truth or entertaining lie, pilih mana? Itulah yang sekarang konsep yang diperhadapkan oleh Gereja di jaman Post Modern ini. Jelas semua akan pilih truth, tetapi sekarang konsep truth sudah ‘diperkosa’ dengan label-label adjective negatif, salah satunya boring truth. Sebaliknya kepada lie, adjective yang dipakai adalah entertaining lie, fantastic lie, insightful lie, empowering lie, dsb. Maka pada waktu kita bicara hal ‘benar,’ itu sudah dianggap pembicaraan yang kurang exciting dan kurang menarik. “Tidak apa-apa bicara bohong asal itu menarik dan menyenangkan orang…” itu kata mereka.

Waktu berbicara mengenai hal benar, kita masuk kepada aspek mana yang benar, mana yang salah. Sampai di sini Paulus bilang tidak ada satupun yang benar sebab kita semua berada di bawah ‘fall short’ dari semua standar kemuliaan Tuhan.

Itu tidak terlihat di dalam Kej.3, dimana kita bisa menyaksikan reaksi manusia terhadap dosa. Pertama, Adam sendiri tidak mengakui walaupun nanti di belakang kita melihat Adam menerima cara Tuhan mengganti cawat daun yang dia buat dengan pakaian dari kulit binatang sebagai tanda penebusan dari Tuhan. Yang kedua, konsep tentang persembahan korban binatang diteruskan oleh Adam kepada generasi selanjutnya yaitu Kain dan Habel. Kenapa Tuhan menerima persembahan Habel? Karena ada persembahan darah di situ. Dari mana Habel tahu konsep ini? Saya percaya Adam menurunkan konsep itu kepada anak-anaknya. Berarti Adam mengerti the only way untuk menyelesaikan persoalan keberdosaan dia bukan dengan membuat cawat sendiri tetapi dengan menerima korban darah dari Tuhan.

Tetapi di dalam Kej.3 ada indikasi Adam tidak mengaku bersalah. Pertama, Adam mencari usaha sendiri dengan membuat cawat dari daun. Kedua, Adam mem-blame Hawa atas tindakan makan buah itu. Ketiga, ada tanya jawab antara Tuhan dan Adam. Adam tidak menjawab dua pertanyaan Allah, siapa yang memberitahukanmu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan buah pohon yang Kularang itu? Inilah yang saya katakan sebagai self deception. Dosa selalu bersifat self deception, menipu diri sendiri, dengan tidak mau menjawab pertanyaan Tuhan dan tidak berarti Adam tidak tahu jawabannya. Dia tahu tetapi tidak mau jawab. Seharusnya dia jawab, ya, saya sudah makan buah itu. Inilah reaksi yang terjadi setelah manusia jatuh di dalam dosa. Itu sebab kenapa perlu iman, kenapa tidak ada jasa manusia yang bisa ada pada waktu kita menerima kebenaran dari Tuhan? Sebab yang dituntut di dalam kita menerima keselamatan dari Tuhan cuma satu, yaitu dengan rendah hati menerima apa yang Tuhan lakukan.

Pada waktu kita teliti Alkitab baik-baik, kita harus mengakui bahwa tidak ada kemungkinan dari cara manusia bisa memperoleh keselamatan kecuali kalau bukan Tuhan yang kerjakan sepenuhnya untuk kita. Kita lihat beberapa penggunaan kata yang dipakai oleh Paulus di dalam bagian ini bicara mengenai apa yang Kristus telah lakukan untuk sdr dan saya. Kita hanya menerima dengan iman yang rendah hati, tidak ada yang bisa kita bawa di hadapan Tuhan. Tetapi sebelum menerimanya, sdr dan saya harus betul-betul yakin dan tahu betulkah yang Yesus kerjakan di kayu salib itu sempurna, sudah cukup dan lengkap dan hanya dengan cara itulah yang dilakukan untuk menebus dan menyelamatkan kita. Maka kebenaran Allah itu kita terima dengan iman di dalam Yesus Kristus (ayat 22), mengapa? Yang Yesus lakukan di dalam penebusanNya Dia telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian oleh darahnya (ayat 24). Di ayat 25 dan 26 kata ‘keadilan’ muncul dua kali. Yesus mati di kayu salib itu menunjukkan keadilan Tuhan. Tetapi kalau sdr membaca Yoh.3:16, Yesus mati di kayu salib menunjukkan kasih Allah. Rasul Yohanes menekankan aspek kasih Allah, rasul Paulus menekankan aspek keadilan Allah. Yesus mati di kayu salib oleh darahNya menjadi jalan pendamaian bagi kita, itu menunjukkan keadilan Allah. Dua-dua ayat ini harus digabung menjadi satu dasar mengapa Yesus mati di kayu salib seperti satu koin dengan dua sisi. Sisi yang satu adalah kasih Allah, sisi yang satu lagi adalah keadilan Allah. Jadi kematian Yesus di kayu salib to show God’s love and to show His justice. Dua-duanya tidak boleh dipisahkan. Dengan kasih Dia tidak mau engkau dan saya binasa, tetapi dengan keadilan Allah sendiri tidak bisa menyangkal diriNya sendiri yang adalah suci adanya. Rom.1:18 memulai perjalanan Injil keselamatan bukan dengan kata ‘kasih dan keadilan’ tetapi dengan kata ‘murka.’ Allah murka. Murka Allah tidak boleh disamakan dengan murka kita. Kita murka karena hak kita terganggu. Dan kalau kita murka kita jadi garang. Jadi pada waktu memikirkan tentang murka Allah, jangan dengan konsep Allah itu seperti seorang yang darah tinggi yang pemarah. Allah murka bukan sebagai satu reaksi emosi yang berkelebihan untuk menyatakan penghukuman. Murka Allah adalah Allah tidak mungkin bisa menyangkal diriNya sendiri. Allah harus truthful dengan diriNya sendiri. Maka murka itu adalah satu reaksi normal dari keadilanNya yang tidak bisa diganggu.

Saya mencoba memakai gambaran itu dengan ilustrasi kalau sdr punya kabel yang terbuka positif negatif lalu kena percik air, pasti kabel itu akan korslet. Artinya, dia tidak mungkin bereaksi yang lain selain dari korslet tsb. Atau misalnya mata sdr kemasukan debu reaksinya adalah langsung menolak kehadiran debu itu, sebab mata itu tidak bisa tahan menerimanya.

Pada diriNya Allah itu suci, tidak bisa kena dosa sedikitpun sehingga reaksinya adalah murka. Murka itu bukan reaksi emosi yang berkelebihan tanpa kontrol tetapi adalah reaksi Allah yang setia kepada diriNya sendiri. Maka Allah yang suci dan adil tidak mungkin tidak, Dia harus menjaga kesucianNya. Memahami penebusan Kristus harus melihat dari aspek ini, Dia adalah kasih dan Dia tidak ingin engkau binasa, tetapi Dia juga adil dan Dia tidak bisa menyangkal kesucian dan keadilanNya. Bagaimana membereskan kedua aspek ini?

Im.16:1ff Allah memberitahu Musa bagaimana Imam Besar Harun boleh masuk ke dalam tempat maha kudus yaitu dengan memercikkan darah binatang ke atas tutup tabut pendamaian. Hanya dengan cara itu dia tidak akan binasa. Sebelumnya sudah ada kejadian dua anak Harun dengan kurang ajar melongok ke dalam tabut itu sehingga Allah membuat mereka mati. Kata ‘tutup pendamaian’ (mercy seed) di ayat ini dalam terjemahan LXX memakai kata ‘hilasterion.’ Ini adalah kata yang sama yang Paulus pakai di dalam bagian ini (Rom.3:25) “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi hilasterion.” Maka para penafsir bertanya mengapa Paulus memakai kata ini ditujukan secara khusus kepada Yesus Kristus? Apa yang dibereskan di situ? Dua hal yang dibereskan. Ke satu, dengan cara itu, menurut Im.16 dosa umat Allah dihapus. Dengan cara itu engkau baru berhak datang menghampiri tempat yang maha kudus sebab di situ murka Allah ditiadakan. Mengapa perlu hal itu? Sebab sebelumnya Tuhan murka kepada dua anak Harun yang dengan sembarang melakukan upacara dengan tidak benar. Itu sebab dengan memahami penebusan Kristus mengandung dua unsur yang tidak boleh lepas. Ke satu, Yesus Kristus menebus dosa kita, tetapi unsur kedua yang lebih penting adalah memahami penebusan Kristus membereskan murka Allah. Itu arti kata “jalan pendamaian.”

Kalau ada orang mengambil uang saya secara paksa $500 lalu kemudian dia merasa tindakan itu salah dan kemudian datang kepada saya mengembalikan uang $500, apakah masalahnya sudah beres? Bolehkah saya tetap membawa dia ke pengadilan dan menuntut dia dipenjarakan? Bukankah dia sudah mengembalikan uang saya yang tadi dia ambil dengan paksa? Keberdosaan kita kepada Allah juga memiliki aspek seperti itu. Aspek yang pertama, kita merebut hak Tuhan dengan berbuat dosa. Pada waktu kita melakukan hal itu muncul reaksi Allah murka karena kesucianNya dirampas. Siapa yang bisa menyelesaikan murka itu? Itu sebab secara khusus Paulus memakai kata ini, Yesus mati di kayu salib. Mat.20:28 Yesus mengatakan Dia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesus mati di kayu salib menjadi jalan pendamaian dan menjadi tebusan (ransom). Kata ini berarti membayar apa yang kurang, apa yang sudah kita lakukan dengan bersalah. Jadi kita berbuat dosa, maka Tuhan membayar itu, menjadikan posisi kita yang tadinya berdosa menjadi tidak berdosa. Itulah karya Yesus Kristus menebus dosa. Dengan itu Dia men-declare kita menjadi orang benar. Tetapi bagaimana hubungan kita dengan Tuhan dibereskan dengan kata ‘hilasterion’ ini. Dia menjadi jalan pendamaian kita oleh penebusan darahNya. Darah itu begitu berharga dan boleh menjadi penebusan bagi engkau dan saya. Kita bersyukur pada waktu Kristus mati di kayu salib, kematian itu bukan saja menebus dosa kita tetapi juga menyelesaikan segala murka Allah yang membenci dosa. Itu sebab kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita sebab hubungan kita dibereskan oleh Kristus. Melalui penebusan itu kita boleh hidup penuh kemenangan sebagai anak-anak Tuhan di atas muka bumi ini.

Pdt. Effendi Susanto STh.

25 Oktober 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: