Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Kebenaran Keadilan Allah di dalam Yesus Kristus

Kebenaran Keadilan Allah di dalam Yesus Kristus

Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Rom.3:20-26

Paulus di dalam bagian ini menyatakan, “This is the time that the righteousness from God revealed!” Bagi Martin Luther, inti dari seluruh surat Roma, bahkan inti dari seluruh Injil, bahkan inti dari seluruh Alkitab adalah perikop ini, ‘this is the focus of the Gospel, this is the focus of this epistle, and this is the focus of the whole Bible.’ Ini adalah bagian yang sangat penting dari Alkitab kita karena dengan singkat dan sederhana sdr bisa melihat semua pengertian mengenai Injil ada di ayat-ayat ini.

Sedari kecil kita menjalani hidup, saya rasa satu hal yang paling mengganggu kita dan bikin kita kesal dan marah, bukan soal hal baik atau bahagia, tetapi kita diperlakukan tidak adil. Waktu kecil kita rasa tidak senang kalau kakak atau adik kita mendapat sesuatu lebih banyak daripada kita. Itu tidak fair. Maka saya pikir-pikir apa sebenarnya yang bikin kita paling marah dan paling bergejolak di dalam hidup ini? Rasa adil. Dan kita semua bergumul dengan soal adil itu sebab kita hidup di dalam masyarakat, di dalam situasi seperti ini, kadang-kadang kita marah dan kecewa karena kita menyaksikan di dalam di dalam realita society kita bukan tidak ada orang yang benar dsb, tetapi yang kita persoalkan adalah soal adil. Kemana saja kita pergi, kita menemukan ketidak-adilan muncul. Apalagi tempat dimana kita menginginkan keadilan terjadi, justru tidak ada keadilan di situ.Dimana? Di kantor polisi. Kita mau perkara kita dibela, tetapi dimana kita mendapat keadilan itu? Kita pergi ke kantor polisi, kita pergi ke pengadilan, di situ justru kita menemukan ketidak-adilan. Kita cari jaksa, ternyata yang kita temukan adalah orang yang tukang paksa. Kita cari pengacara, ternyata yang kita temukan adalah orang yang tidak ada acara maka bikin-bikin perkara. Tetapi adanya rasa adil di dalam hati kita itu membuktikan kita rindu adanya ‘adil yang benar-benar adil.’ Itu sebab kita hidup di dalam dunia ini, satu hal yang sangat mengecewakan dan mebuat kita frustrasi adalah kita tidak menemukan dimana perkara keadilan itu bisa kita dapatkan. Itu sebab puji Tuhan, bagian yang kita baca ini sangat menarik sekali sebab muncul kalimat ini, “This is the time that the righteousness from God revealed.” Inilah saatnya, inilah moment dimana keadilan kebenaran Allah dinyatakan. Keadilan kebenaran Allah dinyatakan kepada kita khususnya bicara mengenai keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dengan kalimat ini Paulus ingin berkata, keadilan kebenaran dari bawah tidak mungkin bisa didapatkan oleh manusia.

Tetapi yang sangat menarik di ayat 20-21 kita menemukan dua paradoks muncul. Paradoks pertama di ayat 20, hukum Taurat diberi tujuannya supaya orang tidak berbuat dosa. Musa memberi hukum Taurat supaya keadilan terjadi di dalam masyarakat, tetapi justru melalui hukum Taurat kita menemukan ketidak-adilan dan orang makin berbuat dosa. Semua hukum mempunyai tujuan supaya tidak dilanggar. Semua hukum diberi supaya orang tidak berbuat salah. Tetapi di sini adanya hukum Taurat justru membuktikan orang mengenal dosa. Ini paradoks pertama. Paradoks kedua di ayat 21, Paulus bilang tidak ada kebenaran melalui hukum Taurat tetapi yang bilang itu adalah hukum Taurat itu sendiri. Di sinilah paradoksnya. Yang bilang orang tidak bisa dibenarkan di dalam hukum Taurat adalah hukum Taurat itu sendiri. Dengan dua kalimat ini Paulus langsung membongkar betapa ngerinya dan betapa dahsyatnya dosa itu di dalam hidup kita, sekaligus langsung membabat habis segala kesombongan rohani dari orang Yahudi yang bilang mereka percaya hukum Taurat dan melalui hukum Taurat mereka bisa dibenarkan. Tetapi hukum Taurat mereka sendiri bilang tidak ada kebenaran di dalam hukum Taurat. Kita akan gali baik-baik, apakah betul di dalam PL kita menemukan Tuhan sudah memberikan hint kepada kita bahwa hukum Taurat adalah hukum yang mewakili kesucian dan keadilan Tuhan tetapi sekaligus membuktikan kepada kita bahwa hukum Taurat bukan membikin orang makin lebih baik tetapi memberitahukan kepada kita betapa dosa dan jahatnya hidup manusia. Tidak peduli bagaimana hidup orang yang tidak percaya Tuhan, tetapi kita bisa menemukan dan menyaksikan bagaimana dosa menggerogoti hidup kita.

Nanti sore saya akan membahas satu tema mengenai kesucian hidup, bagaimana kita prepare our spiritual armor. Salah satu kebahayaan di dalam peperangan rohani bukan kita tidak punya perlengkapan rohani yang cukup. Salah satu kejatuhan di dalam peperangan rohani adalah perlengkapannya sudah kita pakai lalu kita pikir kok tidak perang, lalu perlengkapan itu kita lepaskan lalu tiba-tiba tertembak panah. Sebagi hamba Tuhan kita harus hati-hati di situ. Bukan sdr tidak punya perlengkapan. Semua itu sudah cukup. Sdr punya perisai iman, sdr punya firman, sdr Bible Study setiap minggu. Ada orang yang rajin Bible Study tetapi akhirnya Alkitab benar dia kuasai tetapi dia tidak pernah membiarkan firman Tuhan menguasai dia. Ini kebahayaan besar.

Dosa pertama orang Israel mengembara di padang belantara bukan tidak ada berkat Tuhan. Dosa pertama mereka adalah hidup terlalu monoton dengan berkat Tuhan. Apa yang bikin mereka menggerutu? Makan manna tiap hari. Selama hidup saya 41 tahun ini, saya pikir saya tidak pernah mengeluh dan bosan makan nasi. Adakah di antara sdr bilang, “Ah, bosan, nasi lagi… nasi lagi…” Adakah di antara sdr yang bilang, “Ah, bosan, air lagi… air lagi…”? Orang Israel berdosa justru bukan karena tidak ada makanan tetapi karena terus mendapatkan manna. Akhirnya Tuhan kasih mereka burung puyuh. Sudah dapat puyuh, masih mengeluh, puyuh lagi… puyuh lagi. Kenapa tidak sekali-kali Peking Duck, atau yang lainnya? Orang Israel berdosa bukan karena kemiskinan atau kelaparan yang bikin mereka jatuh, tetapi menjalani hidup yang monoton itu bahayanya. Tetapi kita tidak lepas dari hidup yang monoton, bukan? Bagaimana di dalam perjalanan hidup yang monoton kita tahan konsistensi peka, tidak boleh lengah, itu yang penting. Maka dosa datang mungkin di dalam kesulitan dan tantangan di dalam hidup sdr. Tetapi dosa juga bisa datang di dalam hal yang biasa, kita rasa kuat di situ, kita rasa tidak ada pencobaan di situ, tidak ada kesulitan di situ, itu moment yang paling bahaya sekali. Punya hukum Taurat, belajar hukum Taurat, tetapi paradoks ini terjadi: akhirnya makin kenal dosa dan makin hidup di dalamnya. Kita sedih mendengar ada priest yang ditangkap karena chatting seks di internet dengan anak di bawah umur. Kita sedih mendengar hamba Tuhan yang kita kenal akhirnya jatuh di dalam dosa selingkuh. Hidup kita semua berada di dalam kebahayaan seperti itu. Maka dari situ kita tahu apa artinya kedahsyatan dosa.

Anselmus, seorang bapa Gereja di abad 12 pernah ditanya orang, “Kenapa sih Tuhan menebus dosa manusia dengan sangat complicated? Mengapa perlu Yesus mati menjadi korban menebus dosa? Bukankah itu terlalu complicated? Saya sendiri, kalau ada orang yang bersalah kepada saya, tinggal bilang ‘I forgive you,’ selesai. Kenapa Tuhan harus seperti itu?” Nampaknya pengampunan Tuhan itu complicated dan primitif. Mengapa Tuhan tidak mengampuni kita begitu saja? Kenapa perlu melalui salib Yesus? Anselmus menjawab pertanyaan ini di dalam bukunya “Cur Deus Homo” Mengapa Allah menjadi manusia? Kalau ada orang bertanya seperti itu, kata Anselmus, artinya orang itu tidak mengerti dua hal. Pertama, dia tidak mengerti dengan jelas apa arti kedalaman kejatuhan kita di dalam dosa. Kedua, dia tidak mengerti dengan jelas apa yang namanya suci sesuci-sucinya menurut kesucian Tuhan. Kalau ada kabel listrik yang terbuka tempel di colokan, lalu sdr taruh air setetes di situ atau siram dengan air seember, efeknya sama atau tidak? Sama. Kenapa? Sebab di situ kita menemukan reaksi yang tidak bisa tidak pasti akan ditolak karena itu benda asing. Sama saja dengan mata kita, begitu kena satu butir pasir ataupun sepotong batu, langsung kita akan tutup mata kita rapat-rapat. Itu reaksi kita. Maka sewaktu kesucian Allah yang begitu suci bertemu dengan dosa manusia, walaupun hanya satu titik, kita akan mengerti reaksi inilah yang terjadi. Menurut kita, standarnya kita, kita rasa diri baik. Tetapi itu standar darimana? Hukum memiliki sifat seperti itu, bukan? Dia hanya stay pada satu posisi. Tetapi the power to obey tidak berada di dalam diri hukum itu. Hukum Taurat boleh mengatakan “Jangan membunuh, jangan berzinah,” tetapi di dalam larangan itu tidak ada kekuatan untuk mencegah orang tidak melanggarnya. Artinya orang boleh saja memiliki hukum lebih banyak daripada orang yang primitif tetapi tidak berarti hidup mereka lebih baik daripada mereka. Itu sebab Paulus bilang orang Yahudi maupun orang Yunani di hadapan Tuhan tidak berbeda. Bedanya cuma satu, hukum yang kau miliki lebih complicated daripada mereka, lebih canggih daripada orang Barbar, tetapi tidak berarti hidupmu lebih benar daripada mereka. Lebih celaka, kita bisa menggunakan hukum untuk membenarkan dosa kita.

Paradoks pertama, hukum Taurat seharusnya membenarkan kita tetapi justru dengan hukum Taurat orang makin berbuat dosa. Lebih berbahaya, sebab di belakang hukum Taurat manusia menyembunyikan pelanggarannya. Paradoks kedua, hukum Taurat sendiri bilang tidak ada kebenaran di dalam melakukan hukum Taurat. Itu sebab perlu kebenaran keadilan dari Allah sendiri melalui pengorbanan Kristus, tidak ada cara lain. Dalam PL kita menemukan beberapa hal yang sangat menarik. Pertama, kita ingin coba menganalisa konsep mengorbankan anak di dalam upacara agama. Di dalam Alkitab kita ada dua indikasi, yang pertama Tuhan sendiri yang mengindikasi menyuruh Abraham mengorbankan anaknya yaitu Ishak. Namun perhatikan baik-baik, tidak ada indikasi bahwa Tuhan menginginkan korban manusia di sini. Bagian ini sering diserang orang mengatakan bahwa Tuhan itu primitif dan Kekristenan sebenarnya tidak beda dengan agama-agama primitif yang lain. Di dalam kebudayaan dunia ini kita menemukan ada tempat-tempat tertentu yang memiliki culture memberi korban anak kepada dewa, seperti suku Inca dan Aztec punya konsep seperti itu. Jadi untuk memuaskan dewa-dewa dari kemarahannya, maka orang mempersembahkan anak. Yang kedua, ada kasus di dalam Alkitab seorang hakim bernama Yefta mempersembahkan anak gadisnya. Tetapi di situ tidak ada penjelasan apakah sungguh-sungguh anak itu dikorbankan atau tidak, maka terjadi perdebatan. Karena ada yang mengatakan bagaimanapun pasti itu tidak terjadi. Jefta mengeluarkan ikrar, tetapi kalau ikrarnya salah, engkau berhak menentangnya karena itu bertentangan dengan hukum Tuhan yang mengatakan jangan membunuh. Tuhan sendiri bilang mempersembahkan orang adalah kekejian di mata Tuhan, tetapi mengapa Tuhan meminta Abraham mempersembahkan anaknya? Bagi saya di sinilah Abraham layak disebut sebagai Bapa orang Beriman karena luar biasa apa yang dia lakukan. Ishak adalah anak yang Tuhan janjikan dan sekarang Tuhan minta. Di dalam hatinya pasti dia confused dan tidak menemukan jawaban. Dia tahu Tuhan adalah Allah yang hidup dan Dia tidak seperti itu. Tuhan sudah berjanji bahwa anak yang Dia berikan akan memberi keturunan sebanyak pasir di laut dan bintang di langit, tetapi sekarang Dia minta. Dimana sinkronnya? Tidak ketemu, bukan? Banyak hal di dalam hidup kita menghadapi situasi seperti itu. Persoalannya kita tidak memahami banyak hal, maka di tengah perjalanan kita bertanya-tanya. Demikian Abraham di tengah perjalanan, anaknya sendiri bertanya, “Mana dombanya?” Abraham bilang, “God will provide.” Saya hanya taat. Perjalanan iman kita seperti itu. Kita tahu Allah seperti ini tetapi realita kenyataan begitu berbeda. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti dan tidak bisa menjawab mengapa. Tetapi yang kita lakukan hanya satu yaitu kita taat. Dalam ketaatan dia mengatakan, “Saya percaya Tuhan pasti menyediakan.”

Ada budaya tertentu memiliki konsep memberikan sesajen. Maka ada dua macam analisa dari sosiologi agama. Yang pertama bilang bahwa Kekristenan adalah tidak berbeda dengan agama primitif yang mengatakan kalau dewa marah maka berikan sesajen. Itu adalah agama yang rendah. Dan Kekristenan masuk di situ karena konsep pengampunan dari Kekristenan adalah Tuhan mengampuni manusia dengan cara harus melalui pengorbanan Yesus. Itu adalah konsep agama yang primitif. Tetapi sosiologi agama yang lain memberitahukan kepada kita sebenarnya di dalam konsep budaya-budaya tertentu dimanapun mereka berada sudah ada bekas samar-samar konsep ini yang justru berangkat dari nenek moyang kita di dalam kitab Kejadian. Manusia jatuh di dalam dosa maka pemberesannya melalui Tuhan memberikan kulit binatang yang harus mati untuk menutupi ketelanjangan mereka. Makin lama manusia makin berontak, maka ada budaya agama yang mengganti kambing dengan anak sendiri. Kesalahan Kain adalah kesalahan mengganti konsep darah sebagai pengorbanan dengan buah-buahan. Justru dengan adanya konsep di seluruh budaya yaitu untuk menyelesaikan persoalan salah perlu melalui korban, perlu melalui sesajen. Di situ kita bisa meliaht ada konsep awal pertama yang benar lalu karena dosa manusia konsep itu menjadi terdistorsi. Maka sosiologi agama yang kedua mengatakan pada awalnya agama di dunia ini bersifat Monoteisme lalu distorsi terjadi sehingga menjadi Polyteisme. Sosiologi agama yang lain mengatakan sebenarnya agama itu mulanya Polyteisme lalu menjadi Monoteisme. Tetapi adanya konsep di seluruh budaya yang mempunyai konsep sesajen, konsep korban dsb memberitahukan kepada kita ini bisa menjadi bukti samar-samar di dalam hati manusia tradisi itu ada sebab nenek moyang kita yang pertama kali menerima konsep membereskan dosa diberikan oleh Tuhan melalui ada binatang yang dikorbankan. Maka konsep ini terus berlanjut di dalam PL. Korban bakaran semuanya berupa binatang yang dikorbankan dan dibawa ke mezbah Tuhan, kecuali korban ucapan syukur membawa hasil panen tidak dibawa sebagai korban untuk pengampunan dosa. Jadi setiap kali orang datang membereskan hubungan dengan Tuhan, konsep korban itu di dalam PL bersifat pengorbanan binatang yang dikorbankan. Lalu hal yang paling penting dari konsep korban adalah satu konsep yang disebut sebagai korban Paskah (Passover) dimulai pada waktu Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir lalu itu menjadi tradisi setahun sekali orang Yahudi membawa korban Paskah sebagai pendamaian di hadapan Tuhan. Bawa kambing jantan berumur satu tahun yang tidak ada cacat cela. Orang Israel sudah diingatkan untuk mengoleskan darah binatang itu di depan pintu supaya tulah ke sepuluh yaitu kematian anak sulung tidak terjadi kepada mereka. Konsep mengenai penebusan dosa menjadi satu aturan yang indah di dalam Imamat 16, di situ muncul dua konsep binatang. Kita menemukan di dalam PL, di dalam hukum Taurat sendiri memberikan kepada kita konsep penebusan pengampunan dosa kita bukan dengan cara kita bisa menggenapkan seluruh hukum tanpa cacat, tetapi setelah lewat satu tahun Tuhan memberikan anugerah dan anugerah itu bersifat pengorbanan yaitu engkau bisa memulai hidup yang baru lagi ketika Tuhan menghapus semua dosamu. Imamat 16 memberikan konsep penebusan itu lebih dalam lagi. Umat Israel yang datang meminta pengampunan dosa dengan membawa dua ekor kambing. Yang satu dikorbankan di atas mezbah dan yang satu lagi dibiarkan mengembara di padang gurun. Sebelum melepaskan kambing itu, imam menanggungkan dosa-dosa yang telah dilakukan orang Israel di atas kepala kambing itu dan kemudian melepaskannya di padang gurun. Maka kambing itu mengangkut segala kesalahan orang Israel ke tanah yang tandus di padang gurun. Kenapa perlu dua binatang ini baru sder sungguh-sungguh bisa memenuhi makna pengampunan Tuhan itu lebih tuntas. Kambing pertama bersifat membayar hutang kita. Upah dosa adalah maut. Maka kambing itu dipotong dan darahnya dicurahkan sebagai punishment. Yang kedua adalah konsep substitusi. Dia harus menanggung semua dosa kita, ditanggung di atas yang hidup. Itu sebab perlu di atas kambing yang satu. Jadi kematian Yesus di atas kayu salib sekaligus menggenapkan dua konsep itu. Dia menebus dosamu, dan yang kedua He took away your sin. Dengan cara terhina, terkutuk, dibuang dan dihina pergi ke padang gurun. Kalau engkau mengorbankan dirimu bagi orang lain, sdr akan jadi hero atau orang jahat? Orang akan memuji pengorbananmu dan menyebutmu sebagai hero. Tetapi satu-satunya di dunia yang mengorbankan hidup bagi orang lain tetapi tidak dianggap hero adalah Yesus Kristus. Kenapa? Di sinilah muncul konsep yang ditulis di Imamat 16 ini, Dia menjadi kambing yang kedua yang menerima curse dan kutukan dan mengembara sampai mati kehausan di situ, tidak ada yang boleh menolongnya. Konsep pengampunan di Imamat ini kemudian ditulis menjadi puisi yang indah di dalam Yesaya 53 tujuh ratus tahun sebelum Yesus datang ke dunia, bicara mengenai “Hamba Tuhan yang Menderita.” Dia menanggung dosa kita, tetapi kita memandang Dia dengan rendah dan menganggap Dia dikutuk oleh Tuhan.

Maka satu demi satu mata kita terbuka melihat dan mengerti mengapa tidak ada keselamatan di dalam agama, karena hukum Taurat sendiri memberitahukan kepada kita semua catatan di dalam hukum Taurat membawa kita kepada korban Yesus Kristus. Itulah sebabnya He is the righteousness from God. Ketika Yesus mati di kayu salib, di situ kita sadar betapa sucinya Tuhan kita. Di situ juga kita mengaku betapa bobroknya keberdosaan kita. Biar kita peka, kita mawas diri, kita hati-hati, kita disegarkan oleh kebenaran firman Tuhan ini supaya kita menjaga hidup kita hari demi hari dari jerat dosa yang menipu kita. Mari sekali lagi kita menghargai betapa agungnya kematian Kristus di kayu salib bagi engkau dan saya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

13 September 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: