Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Kristus – Representasi yang Membenarkan Kita

Kristus – Representasi yang Membenarkan Kita

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Rom.5:12-21

Eksposisi Surat Roma (15)

Sebab itu sama seperti oleh satu pelanggaran demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rom.5:18).

Baik di dalam teologi, baik di dalam agama, baik di dalam dunia filsafat maupun di dalam dunia pendidikan pertanyaan soal ‘darimana sumbernya dan munculnya ada tendensi manusia berbuat jahat dan darimana datangnya evil itu?’ sudah menjadi satu perdebatan yang panjang dan rumit adanya. Sekalipun mungkin dunia edukasi dan psikologi tidak mau menerima kata ‘dosa,’ dan menggantinya dengan kata ‘evil’ atau kata ‘transgressions,’ mereka mengaku dengan sama ini adalah fakta hidup dari manusia bahwa kejahatan itu ada. Tinggal pertanyaannya, darimana hal seperti itu muncul di dalam hidup manusia? Kira-kira tahun 1960-an dunia pendidikan dipengaruhi oleh pikiran filsafat yang berkata sebenarnya bayi atau anak itu lahir seperti sehelai kertas putih yang bersih adanya. Yang menyebabkan seseorang itu bertendensi jahat, melakukan transgression dan kejahatan di dalam dunia ini secara melanggar hukum dan asusila itu disebabkan oleh faktor di atas kertas putih itu engkau mau menulis dengan tinta apa. Engkau menuliskan dengan tinta emas, maka dia akan menjalani satu hidup yang sukses, tetapi kalau engkau menuliskan dengan tinta yang hitam dan pekat maka jadilah kehidupannya penuh dengan segala kegelapan.

Itu sebab tidak heran dunia sekarang berangkat dengan optimisme seperti ini. Dunia ini bisa menjadi lebih baik. Kejahatan bisa dihapus dan dihilangkan dari dunia karena mereka tahu darimana asal kejahatan itu muncul. Kejahatan timbul akibat manusia hidup di dalam kemiskinan dan kebodohan. Maka menurut mereka, dunia akan menjadi lebih baik jika dua hal ini diperbaiki, yaitu faktor pendidikan dan faktor kesejahteraan hidup diperbaiki. Jika faktor pendidikan diperbaiki, jika orang lebih tinggi edukasinya, jika orang diajarkan hal-hal yang baik di dalam kehidupannya, maka dengan sendirinya meminimalkan segala pelanggaran dan evil di dalam dunia ini. Optimisme kedua adalah kalau orang itu mendapatkan makanan dan kesejahteraan hidup semakin dipelihara baik, kesenjangan antara kaya dan miskin tidak ada lagi, maka dengan sendirinya dunia akan lebih baik, kita akan hidup seperti saudara satu sama lain, dan lama-lama dunia ini tidak lagi memiliki faktor kejahatan. Tetapi optimisme seperti ini sudah berjalan lima puluh tahun, mereka tidak menemukan apa yang dicita-citakan ini bisa berjalan dengan baik. Justru makin tingginya pendidikan seseorang, makin kayanya seseorang, makin mudah bagi mereka melakukan kejahatan di dalam dunia ini. Cuma bedanya, yang bodoh gampang ketahuan dan ketangkap, yang pintar bukan saja tidak mengaku dia melakukan kesalahan, yang menangkapnya malah dipersalahkan. Yang pintar bisa merubah angka nol menjadi banyak, yang bodoh paling-paling hanya menjadi tukang copet yang ambil dompet orang yang isinya hanya $10. Itu sebab tidak mungkin manusia bisa mendapatkan perbaikan dari akar evil dan dosa melalui edukasi dan kesejahteraan yang diperbaiki.

Betulkah manusia lahir sebagai kertas putih? Mungkin secara pikiran filosofis itu masuk akal, tetapi secara fakta dan pengalaman sehari-hari engkau dan saya akan setuju, sudah berusaha mendidik anak baik-baik, sudah berusaha menanamkan pikiran yang baik kepada anak, aneh sekali, jangankan sampai tunggu anak itu besar, belum berumur setahun saja biarpun lucu sudah ketahuan ‘jahat’-nya. Dapat darimana hal seperti itu? Ini adalah pengalaman yang memberitahukan kepada kita bagaimana bisa ada tendensi hal seperti itu di dalam diri seseorang biarpun dia masih sangat muda. Agama mencoba memberikan jawaban akan hal ini. Buddhism mengatakan segala hal yang jahat dan salah di dalam hidup manusia di dunia ini muncul karena manusia memiliki keinginan atau desire. Kesusahan, kesulitan hidup dan samsara terjadi disebabkan karena ada desire di dalam hidupmu, itu sebab Buddhism mengambil sikap bagaimana bisa mencapai nirwana yaitu a state of condition dimana desire tidak ada lagi yaitu dengan membuang segala keinginan dari dalam dirimu. Jadi konsep tentang nirwana di sini berbeda dengan surga di dalam konsep Kekristenan. Bagi Buddhism nirwana adalah satu tempat dimana kita tidak lagi memiliki keinginan sebab keinginan menjadi akar dan dasar timbulnya kesusahan dan kesengsaraan di dalam hidup manusia.

Spirit jiwa manusia begitu gampang berubah. Grafik saham naik turun, spirit orang yang punya uang ikut fluktuasi juga. Waktu saham naik, yang uangnya banyak jadi senang. Waktu saham turun, yang punya uang yang paling susah. Naik turunnya saham tidak akan berpengaruh kepada orang yang tidak punya uang. Yang lucunya, kalau sudah tidak punya uang tetapi masih kuatir dengan pergerakan saham, bodohlah kita. Maka kata Buddhism, kenapa hidupmu susah? Karena kamu punya keinginan. Coba kalau itu tidak ada, maka you pasti akan menjalani satu hidup yang indah adanya. Keinginan adalah sumber kejahatan, demikian kata mereka. Namun kembali lagi, buat saya keinginan untuk tidak punya keinginan, juga keinginan. Tidak mungkin kita hidup tanpa ada keinginan sebab keinginan itulah yang menjadikan kita ingin meraih sesuatu yang lebih tinggi, lebih baik, lebih suci di dalam hidup ini.

Maka darimana datangnya kejahatan itu? Kalau itu ‘imprinted’ ada di dalam natur manusia sehingga bisa keluar kalimat ini, “I am human and I’m not perfect” apakah berarti lahir sebagai manusia itu imperfection sudah ada di dalam diri kita? Kalau sudah ada di dalam diri kita itu berarti lumrah kita berbuat salah, dsb. Maka kalau ditarik ke belakang selanjutnya kita tidak perlu lagi memberi pertanggungan jawab kepada siapapun karena kita sudah lahir seperti itu adanya. Kalau ditarik selanjutnya Tuhanpun tidak boleh memperkarakan kesalahan yang kita buat karena memang kita sudah terlahir imperfect seperti itu. Kalau kejahatan itu adalah faktor eksternal dari luar, atau itu adalah faktor internal karena ada desire di dalam diri manusia, kembali kepada pertanyaan ini: darimana datangnya kejahatan itu? Apakah kejahatan sudah ada dari awal manusia ada? Kalau kejahatan itu sama-sama ada dari awal, apakah Tuhan menciptakan kita seperti itu? Kalau Tuhan menciptakan kita seperti itu, apakah berarti kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan karena faktor penciptaan yang tidak sempurna seperti itu?

Kita bersyukur Rom.5 merupakan jawaban dari Alkitab yang indah luar biasa mengenai pertanyaan ini yang tidak ada dimana-mana. Di dalam Rom.5 ini Paulus mengatakan awalnya Tuhan cipta manusia perfectly, tidak ada dosa. Tetapi kenapa kita semua sama-sama akhirnya berdosa? Di sini muncul konsep yang sangat menarik. Banyak orang sulit menangkap dan menerima kalau Adam yang berdosa, kenapa aku yang kena getahnya? Tetapi bagi saya ini merupakan jawaban yang penting sekali. Pertama, berarti Tuhan bukan sumber dari kejahatan. Tuhan tidak pernah menciptakan manusia dengan unsur jahat di dalamnya. Tuhan menciptakan manusia dengan the true righteousness di dalamnya. Karena Adam berdosa, kenapa kita akhirnya terlahir juga berdosa? Rom.5 memberikan jawaban sebab Adam dijadikan Tuhan sebagai representatif kita. Sdr rasa itu tidak fair? Tidak apa-apa. Sdr juga boleh jadi representatif kalau mau, tapi maaf, secara urutan Adam sudah duluan diciptakan Tuhan maka itu menjadi hak dia. Kalaupun kita yang menjadi representatif, kita juga akan melakukan dosa seperti Adam. Adam sebagai manusia pertama, maka di dalam diri Adam seluruh umat manusia berada. Dia menerima perjanjian yang disebut di dalam teologi sebagai ‘perjanjian kerja’ waktu Tuhan mengatakan “Jangan makan buah pohon ini, pada waktu engkau makan engkau akan mati.” Darimana datangnya dosa dan kejahatan itu? Di dalam teologi ada satu kata yang dipakai yaitu “original sin.” Ini adalah satu istilah yang banyak orang tidak suka dengar. Ada orang yang menyebutnya dosa asal atau dosa turunan. Kita berdosa karena kita semua sudah berada di dalam Adam dan Adam menjadi wakil kita. Sehingga pada waktu Adam bersalah, kita semua dikenakan kesalahan yang sama dengan Adam. Dosa turunan tidak boleh dimengerti bahwa karena Adam bersalah sesudah dia mati maka seluruh dosanya diturunkan kepada keturunan yang selanjutnya. Kalau begitu celakalah yang lahir paling belakangan karena akan mewariskan dosa paling banyak. Dosa turunan bukan dalam pengertian seperti itu. Dosa turunan berarti Adam pertama menjadi wakil manusia. Di situ pertama kali terjadi perjanjian antara Tuhan dengan manusia. Sdr dan saya tidak bisa memprotes bahwa hal itu tidak adil dan tidak mau Adam menjadi wakil kita karena Tuhan menciptakan dia menjadi manusia pertama dan Tuhan mengadakan perjanjian ini. Adilkah hal ini? Bagi saya adil sekali. Itu sebab Paulus memberikan satu komparasi di dalam Rom.5 dimana Adam pertama sebagai wakil seluruh manusia, dan “Adam yang terakhir” yaitu Kristus menjadi wakil orang percaya. Satu orang telah berdosa maka semua kita menjadi berdosa karena dia mewakili kita di hadapan Tuhan Allah. Tetapi Kristus menjadi wakil kita, karena ketaatanNya di hadapan Tuhan maka semua orang yang berada di dalam Kristus menjadi dibenarkan. Maka ini menjawab pertanyaan darimana datangnya kejahatan di dalam dunia ini, yaitu karena Tuhan menjadikan Adam sebagai wakil representatif kita. Karena Adam sebagai wakil kita tidak taat maka semua yang ada di bawah dia juga hidup di dalam ketidaktaatan. Hal yang kedua yang terjadi adalah bukan saja kesalahan Adam membawa kita semua berdosa, tetapi semua keturunan Adam memiliki natur berdosa. Dalam Mzm.51 Daud menyatakan keluhan itu, “Di dalam dosa aku dikandung ibuku…” ini bukan di dalam pengertian masih janin sudah berbuat dosa. Kalimat ini berarti semua kita lahir di dalam sinful nature karena kita semua berada di dalam Adam. Dengan konsep ini

Sdr yang belajar science dan biologi mungkin mendapat konsep bahwa manusia berawal dari benua Afrika dan ada sumber lain yang menurunkan species manusia. Bagi saya konsep ini berbahaya sekali karena kalau demikian berarti ada ras dari umat manusia yang tidak berasal dari satu ras yaitu Adam, dimana ras itu tidak mengalami dosanya Adam. Mengapa kita mengatakan manusia pertama itu pasti Adam dan harus Adam? Karena dengan demikian Adam bersalah membuat semua umat manusia yang berada di atas muka bumi ini mengalami dosa dan kesalahan Adam. Tetapi yang ingin diangkat oleh Paulus di dalam Rom.5 ini adalah dengan memberikan perbandingan ini Paulus hanya ingin mengatakan betapa dahsyat hasil penebusan yang diberikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. “How much more…” dua kali dipakai oleh Paulus di bagian ini. Di ayat 10 ”…jika kita masih seteru sudah diperdamaikan dengan Allah di dalam kematianNya, ‘lebih-lebih lagi’ kita pasti akan diselamatkan oleh hidupNya!” Di ayat 17 ”…by the trespass of the one man, death reigned through that one man, how much more will those who receive God’s abundant provision of grace and of the gift of righteousness reign in life through the One man, Jesus Christ.”

Maka Rom.3-5 Paulus menutup bagian yang berbicara mengenai penebusan dari Tuhan Yesus Kristus. Di pasal 4 dia bicara bahwa keselamatan itu semata-mata adalah anugerah dan tidak ada jasa dan kebaikan dari diri kita yang bisa kita bawa di hadapan Tuhan. Tetapi pasal 5 dia bicara lebih dahsyat lagi, bukan apa yang ada di dalam diri kita tetapi sepenuhnya anugerah dari diri Tuhan, maka ini menjadi anugerah yang luar biasa bagi kita. Kenapa? Karena sebelum kita bisa berespons, Tuhan sudah mati bagi kita. Kalau kematianNya sudah menebus kita dari dosa, Paulus memberi pengertian yang lebih dalam lagi, sekarang di dalam kebangkitan dan hidup Yesus, ‘how much more’ yang Dia berikan bagi kita. Bukan saja kita diselamatkan tanpa jasa dari kita, tetapi juga keselamatan itu begitu aman, begitu secure, begitu indah di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Mengapa pengharapan kita kepada Allah di dalam Yesus Kristus itu tidak akan mengecewakan kita? Karena Paulus ingin mengatakan janji Tuhan itu tidak kosong, sebab Tuhan yang berjanji itu bukan saja sudah pernah mati menebus dosamu, dengan hidupNya Dia sekarang jaminan keselamatan itu tidak akan hilang dan lenyap untuk selama-lamanya. Hidup Kristus sungguh-sungguh menjadi jaminan yang indah bagi engkau dan saya. Di dalam ketaatanNya sampai mati di kayu salib, kematianNya menebus dan mengganti kita. Jaminan keselamatan itu menjadi jaminan yang kekal selama-lamanya sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup selama-lamanya. Pada waktu dunia mengecewakan kita, pada waktu segala yang ada di sekitar kita tidak memberi pengharapan, Tuhan yang hidup itu menggembalakan hidup kita dengan kesetiaan dan kedaulatanNya. Dia memberi penghiburan dan kekuatan. Apa yang Dia janjikan pasti akan Dia laksanakan dan berikan kepada kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

6 Desember 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: