Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Meneropong Iman Abraham

Meneropong Iman Abraham

dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Rom.3:24

Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.

Rom.4:1-5

Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.

Rom.4:10

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, — seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” –di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

Rom.4:16-25

Eksposisi Surat Roma (12)

Rom.4 merupakan satu pembelaan Paulus yang terakhir atas keberatan orang Yahudi terhadap konsep anugerah keselamatan. Bentuk penulisan Paulus di dalam bagian ini seperti seorang lawyer sedang berdiri di depan pengadilan dan melakukan dialog dengan orang yang menentang dia. Ini adalah gaya penulisan literatur yang disebut diatribe. Jadi Paulus seperti sedang berimajinasi bahwa ada orang yang sedang tidak setuju dan dia menjawab ketidaksetujuan itu dengan argumentasi yang kokoh. Itu sebab pasal ini tidak bisa dipotong melainkan harus kita baca secara keseluruhan dengan tanya jawab seolah-olah ada orang Yahudi di situ yang sangat tidak bisa terima bahwa kita dibenarkan di hadapan Tuhan bukan berdasarkan perbuatan baik sama sekali.

Perlawanan seperti ini bukan hanya terjadi pada waktu itu saja. Sdr masih ingat pada waktu Tuhan Yesus masih melayani, betapa sulitnya Yesus menghadapi tantangan orang Farisi dan ahli Taurat, bukan? Maka Tuhan Yesus pernah berkata, “Siapa yang butuh dokter, orang sehat ataukah orang sakit?”(Mat.9:12-13). Orang-orang Yahudi yang sudah melakukan hukum Taurat dengan teliti, dia pikir dia punya rohani yang sehat. Sdr pernah ketemu kasus ada orang yang badannya begitu rentan tetapi sampai tua tidak meninggal, tetapi ada orang yang kelihatannya berbadan sehat tetapi tiba-tiba meninggal dunia. Itu sebab ada orang takut pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatannya karena takut di balik tubuh yang besar itu tersimpan penyakit berat. Maka orang sering bilang, “Daripada tahu ada penyakit jadi susah, lebih baik mau ‘jalan’ ya ‘jalan’ saja…” Orang Farisi dan ahli Taurat merasa diri sehat sehingga tidak merasa perlu Tuhan dan tidak memerlukan anugerah Tuhan. Sebaliknya orang yang tidak kenal Tuhan, orang yang disebut kafir akhirnya sadar di hadapan Tuhan bahwa dia orang berdosa, itulah orang yang mendapatkan keselamatan. Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang yang datang ke Bait Allah, yang satu orang Farisi dan yang satu lagi seorang pemungut cukai yang dianggap orang berdosa. Orang Farisi berdoa membanggakan segala perbuatannya di hadapan Tuhan. Artinya dia membawa jasa dia di hadapan Tuhan sebagai orang yang baik dan beragama. Lalu pemungut cukai tidak berani berdiri di hadapan Tuhan, dia hanya memukul diri dan berkata, “Tuhan, kasihani aku orang berdosa ini.” Lalu Yesus bertanya, dari kedua orang ini, siapa yang dibenarkan oleh Tuhan? Jawabannya, pemungut cukai itu (Luk.18:9-14).

Dalam Rom.3:27 muncul satu pertanyaan refleksi dari Paulus, “Kalau begitu, bolehkah kita bermegah dan sombong, sebagai orang yang beragama lalu menghina ada orang yang tidak percaya Tuhan dan merasa diri lebih baik daripada mereka? Tidak.” Kita tidak bisa bermegah berdasarkan perbuatan, melainkan berdasarkan iman.

Keberatan muncul dari orang Yahudi di ayat 31, kalau hanya berdasarkan iman kita diselamatkan, lalu untuk apa hukum Taurat itu? Untuk apa Tuhan meminta kita dengan teliti menaati segala perintah dan laranganNya? Orang Yahudi merasa sudah berbuat baik, mengumpulkan jasa dan merasa selayaknya masuk surga sehingga mereka sangat tidak terima ada orang kafir yang penuh dengan perbuatan dosa bisa sama-sama masuk surga, sama-sama masuk surga bukan berdasarkan perbuatan melainkan berdasarkan kasih karunia Tuhan. Mereka tidak bisa terima hal ini. Orang yang hidup sembarangan dan penuh dengan perbuatan yang amoral dan brengsek, bandingkan dengan diri mereka yang hidup selalu berbuat baik, lalu di hadapan Tuhan ternyata tidak sesuai dengan standar kesucian Tuhan. Paulus bilang, dengan perbuatan baik dan ketaatan di dalam agamamu, engkau juga penuh dengan dosa.

Maka bagaimana kita diselamatkan? Kita hanya terima. Itu namanya iman, percaya kepada Tuhan. Karena apa yang sudah Yesus lakukan di kayu salib, mati mengganti engkau dan saya, itu menjadikan penebusan bagimu. Itu adalah cara Tuhan menyelamatkan kita dari kematian. Kita tidak perlu mati lagi karena Kristus sudah mati menggantikan engkau. Hanya terima dengan iman, keselamatan di dalam Kristus, maka kita semua dibenarkan di hadapan Tuhan.

Kemudian muncul pertanyaan ini, bukankah hukum Taurat diberikan supaya kita menaatinya? Bukankah ini berarti kebenaran datang karena melakukan hukum Taurat? Bagaimana Paulus menjawab keberatan itu? Paulus langsung masuk kepada point yang paling penting yaitu asal usul orang Yahudi itu dari mana? Jawabannya adalah Abraham. Mari kita mulai dengan hidup dia.

Paulus mengatakan Abraham dibenarkan di hadapan Tuhan Allah bukan karena perbuatannya tetapi karena dia percaya kepada Tuhan. Kita tidak berargumentasi akan hal ini, kata Paulus, tetapi mari kita lihat apa yang Alkitab sendiri katakan, “Maka Abraham percaya, dan hal itu diperhitungkan sebagai kebenaran di hadapan Allah” (ayat 4). Kalau Tuhan memperhitungkan perbuatan baik Abraham sebagai kebenaran, itu tidak bisa diperhitungkan sebagai anugerah karena itu ada sepatutnya. Sama seperti kalau orang bekerja lalu diberi uang, itu bukan hadiah, itu adalah gaji, itu hak dia. Namun kalau orang tidak bekerja lalu engkau memberi dia uang, itu bukan gaji melainkan hadiah. Ini adalah argumentasi pertama dari Paulus.

Abraham dipanggil Tuhan keluar dari Ur-Kasdim pergi ke tanah yang Tuhan janjikan dimana dia akan menjadi satu bangsa yang besar. Itu baru janji, belum nyata dan belum terlihat, tetapi Abraham taat. Ada tiga perjanjian yang Tuhan lakukan kepada Abraham. Tuhan berjanji untuk memberikan tanah perjanjian kepada dia. Janji kedua, Tuhan berjanji untuk memberikan begitu banyak keturunan bagi Abraham. Janji ketiga, oleh Abraham semua bangsa di atas muka bumi ini akan mendapat berkat. Semua ini belum terjadi. Namun sesudah Tuhan memberikan janji ini, muncul kalimat ini di dalam Kej.15:6 “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ini titik yang penting. Abraham terima semua janji Tuhan walaupun itu belum ada, dia terima dengan iman. Maka sekarang posisi Abraham sudah berbeda dengan dahulu karena dia beriman kepada Tuhan, maka sekarang statusnya adalah menjadi umat pilihan Tuhan yang masuk melalui percaya kepada Tuhan.

Namun mulut yang mengaku percaya dan realita yang dijalani memerlukan proses waktu yang tidak pendek. Kadang-kadang disitulah jatuh bangun iman kita. Periode dari Tuhan memanggil Abraham di Kej.12 hingga Kej.17 itu melewati jenjang waktu 24 tahun. Abraham sudah percaya Tuhan dan menjadi umatNya tetapi janji itu belum ternyata juga. Iman Abraham kuat tetapi dia punya isteri yang realistis. Dia bilang mana mungkin bisa punya anak karena dia sudah tua. Setelah bertahun-tahun menanti akhirnya dia memberikan Hagar, budaknya buat Abraham. Maka Kej.16 bagi saya adalah suatu pergumulan iman bagi Abraham. Tuhan sudah berjanji dan dia percaya janji Tuhan itu, tetapi perjalanan hidup kita kadang-kadang tidak melihat apa yang dijanjikan. Kebimbangan mungkin muncul. Realita hidup Abraham juga memperlihatkan hal ini, maka muncul peristiwa ini, dia ambil budaknya Hagar dan punya anak bernama Ismael. Tuhan mengatakan bukan itu penggenapan janji Tuhan kepada dia. Maka sekali lagi Tuhan meneguhkan perjanjianNya dengan Abraham di dalam Kej.17.

Argumentasi yang kedua, Paulus bertanya, Abraham waktu dibenarkan oleh Tuhan, itu sesudah disunat atau sebelumnya? Ayat 10 Paulus bilang, kalau kita baca kitab Kejadian baik-baik, kita akan menemukan bahwa Tuhan membenarkan Abraham sebelum dia disunat. Berarti sunat bukan menjadi penyebab engkau menjadi anak Tuhan dan memperoleh keselamatan. Inilah point yang paling penting di dalam Rom.4 yaitu kenapa sampai iman Abraham itu begitu bernilai dan mengapa dia menjadi contoh bagi setiap kita yang beriman kepada Allah, karena kalau kita baca di dalam Alkitab, imannya adalah satu iman yang begitu indah sekali. Kita manusia yang terbatas, kita ingin janji itu ada materai yang konkrit. Maka kenapa di Kej.17 setelah Tuhan meneguhkan janjinya, perlu materai untuk janji itu dengan sunat.

Paulus mengatakan kalimat yang indah sekali mengenai iman Abraham, “He has hope to believe against all hope” itu adalah kalimat yang indah sekali. Kej.22 penting karena sebenarnya persis dengan Kej.15 dimana Tuhan berjanji memberikan keturunan, tetapi sekarang Tuhan menyuruh dia mengorbankan Ishak. Sdr bisa bayangkan Tuhan sudah janji akan memberi Abraham keturunan yang banyak melalui anak ini, tetapi sekarang Tuhan sendiri menyuruh mengorbankan dia. Tuhan mau lihat apakah dia sungguh-sungguh taat dan beriman kepada Tuhan dengan mempersembahkan anak itu. Kalau dia mempersembahkan anak itu, lalu bagaimana darimana datangnya keturunan yang lain? Sdr perhatikan, Alkitab mengatakan Abraham langsung menjalani perintah itu. Dari sudut pandang manusia, dia tidak punya solusi. Dia tahu Tuhan sudah berjanji memberikan banyak keturunan kepadanya tetapi di pihak lain muncul kenyataan yang lain, anak yang akan mendatangkan keturunan yang banyak itu kali ini harus dikorbankan bagi Tuhan. Ini dua hal yang tidak bisa ketemu di kepala Abraham. Itu adalah kesulitan dan keterbatasan kita. Kita beriman padahal fakta hidup yang kita hadapi kita tidak tahu bagaimana. Itu sebab sambil berjalan, Ishak bertanya, “Mana domba yang akan dipersembahkan?” Abraham menjawab, “Tuhan yang akan menyediakan.” Melalui peristiwa ini saya mengajak sdr melihat kepada Rom.4 mengapa Abraham disebut sebagai bapa orang beriman. Ayat 18, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham percaya bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa menurut apa yang telah difirmankan…” Ayat 20 “in hope he believes against all hope…” tidak ada kemungkinan untuk berharap tetapi dia berharap dan imannya semakin kuat. Abraham disebut bapa orang beriman. Maka sekarang sdr menemukan konsep ini muncul dalam Alkitab kita, kita tidak lagi terima keunikan orang Yahudi secara jasmani karena yang disebut sebagai umat Allah sekarang ini bukan lagi berdasarkan kelahiran fisik tetapi yang memiliki iman seperti Abraham. Apa dasarnya Abraham bisa menjadi bapa setiap kita walaupun kita secar fisik bukan orang Yahudi, sebab Abraham menjadi bapa orang beriman sebelum dia disunat. Ini adalah konsep yang tidak gampang untuk diterima orang Yahudi, karena bagi orang Yahudi sunat itu adalah satu hal yang penting sekali. Kalau kita membaca Alkitab kita menemukan orang Yahudi yang sudah menjadi Kristenpun tetap menuntut orang-orang non Yahudi yang percaya Tuhan tetap disunat karena sunat buat mereka merupakan tanda yang luar biasa.

Kenapa Paulus perlu membahas dua hal ini: pertama, Abraham dibenarkan Tuhan bukan karena perbuatannya melainkan karena dia taat dan percaya dan kedua, pembenaran itu terjadi sebelum dia disunat. Implikasinya apa? Paulus bilang, Abraham sekarang menjadi bapa semua orang beriman. Kita disebut sebagai orang beriman, bagaimana engkau dan saya menjalani iman kita? Begitu kita membaca Rom.4:17 kita akan terkejut oleh satu hal yang sangat luar biasa. Inilah isi dari iman Abraham, dia percaya Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada. Dia percaya Allah sebagai penyelamat dan dia percaya Allah sebagai pencipta. Secara kronologis, mana yang Allah lakukan lebih dulu: mencipta atau menyelamatkan? Allah mencipta lebih dulu. Tetapi urutan iman Abraham terbalik. Dia percaya Allah yang dia sembah adalah Allah yang membangkitkan orang mati. Ini menjawab Kej.22, kalaupun sampai Ishak mati di atas mezbah persembahan, tetap dia percaya janji Allah pasti akan terlaksana, keturunannya akan banyak entah dengan cara bagaimana. Tetapi di balik tindakannya mempersembahkan Ishak, dia memiliki kepercayaan bukan saja Allah bisa membuat rahim Sara yang sudah mati melahirkan anak, Dia juga bisa membuat Ishak yang mati menjadi hidup kembali. Ini dasar iman dia. Percaya kepada Allah yang menciptakan alam semesta bukan merupakan kepercayaan yang cukup, sebab di sinilah perbedaannya antara kepercayaan orang Yahudi dengan apa yang Yesus katakan. Orang Yahudi percaya Allah menciptakan segala sesuatu. Yesus mengatakan kepada mereka, kalau engkau percaya Allah seperti itu tetapi engkau tidak percaya bahwa Allah yang sama telah mengutus Aku mati di kayu salib menebus dosamu, maka engkau bukan memiliki Allah Yahweh sebagai Allahmu. Ini dua hal yang penting di dalam iman Abraham. Dia percaya Allah bisa membangkitkan orang mati menjadi hidup kembali dan Dia adalah Allah yang menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada. Maka iman Abraham adalah iman kepada Allah penebus dan Allah pencipta. Paulus mengatakan, Allah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran bukan saja kepada dia tetapi iman itu juga menjadi milik kita sekarang (Rom.4:23) karena kita percaya kepada Allah yang sama, yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari kematian, yaitu Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan telah dibangkitkan karena pembenaran kita. Yang kedua, kenapa iman Abraham menjadi contoh bagi iman kita semua? Cerita Yesus mengenai Lazarus si pengemis dan orang kaya memperlihatkan setelah keduanya meninggal, Lazarus duduk di pangkuan Abraham sedangkan orang kaya ini berada di dalam api neraka yang sangat menyakitkan. Orang kaya ini minta kepada Abraham supaya Lazarus memberikan setetes air kepadanya. Tetapi Abraham mengatakan itu tidak bisa karena ada jarak terlalu jauh antara mereka yang tidak bisa terseberangi. Lalu terjadi penyesalan pada diri orang kaya ini dan keinginan supaya hal yang dia alami tidak terjadi kepada saudara-saudaranya, maka dia minta Lazarus kembali ke dunia untuk mengingatkan saudara-saudaranya. Tetapi Abraham menolak permintaan itu dan mengatakan, “Pada mereka ada kesaksian kitab suci. Kalau mereka tidak mau percaya kepada apa yang disaksikan Alkitab, mereka tetap tidak akan percaya sekalipun ada orang yang bangkit dari kematian.”Dalam Yoh.6 sesudah Yesus memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan, besoknya orang berbondong-bondong ikut Dia. Maka Yesus memberikan pengajaran yang sangat keras, “Engkau datang bukan karena percaya kepadaKu tetapi karena engkau telah melihat mujizat dan ingin makan.” Mereka sangat tersinggung dan meninggalkan Yesus. Yesus mengatakan kepada kedua belas muridNya, “Kalian tidak mau pergi juga?” Maka Petrus menjawab Dia, “Tuhan, kemanakah kami harus pergi? FirmanMu adalah kebenaran dan hidup.” Petrus tidak bilang Yesus telah melakukan banyak mujizat yang luar biasa, tetapi firmanNya itu hidup, itu sebab dia mengikut Yesus.

Kadang-kadang Kekristenan perlu malu sedikit kalau mengundang orang untuk datang mengikuti acara pemberitaan Injil dengan embel-embel yang lain supaya orang itu datang, yaitu dengan acara kesembuhan dan mujizat terjadi. Iman yang sejati bukan muncul karena kita melihat mujizat. Tidak berarti melihat segala sesuatu bisa membuat kita percaya, sebaliknya juga beriman kepada Tuhan tidak berarti kita selalu melihat apa yang kita imani itu terjadi.

Tahun 1961 Yuri Gagarin menjadi orang pertama yang pergi ke angkasa luar. Sudah sampai di situ apa kalimat yang keluar dari mulut dia? “Saya sudah sampai di sini, saya tidak lihat Tuhan.” Karena tidak melihat, dia tidak percaya Tuhan itu ada. Katanya Tuhan ada di langit, sampai di sini tidak ketemu apa-apa. Tuhan sabar saja sama dia. Kalimat dia itu banyak kesalahannya. You tidak lihat tidak berarti hal itu tidak ada. Banyak hal di dalam dunia ini yang kita tahu exist tetapi tidak bisa dilihat dengan mata kita. Contohnya, jatuh cinta. Kita tahu cinta itu exist tetapi siapa yang pernah bisa lihat keberadaannya?

Kenapa iman Abraham begitu mulia dan begitu agung? Karena Alkitab menyaksikan imannya makin hari makin kuat. Di dalam realita hidup yang sdr perhatikan puluhan tahun lamanya mengikut Tuhan, dia pegang janji Tuhan. Dia menjalani hidup sebagai anak Tuhan, dia percaya Allah yang baik itu menggembalakan dia dan yang berjanji memberikan segala hal yang indah baginya, meski itu tidak dia lihat terbukti dan ternyata namun itu tidak pernah membuatnya bimbang mengikut Tuhan. Ini point yang penting. Setiap kita beriman kepada Tuhan, ujung terakhirnya semua harus memuliakan Tuhan. Artinya, waktu seorang Kristen sakit, di dalam sakitnya dia beriman dan melalui itu dia memuliakan Tuhan. Iman Abraham tidak menjadi lemah. Bahkan imannya makin lama semakin kuat dan dia memuliakan Allah. Tujuan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan yang beriman kepada Tuhan bukan supaya melalui iman itu kita melihat apa yang kita imani. Mungkin itu tidak pernah kita lihat tetapi tidak berarti Tuhan kita itu bohong dan tidak menepati janjiNya kepada kita.

Apakah janji Tuhan kepada Abraham bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut? Jawabannya ya dan tidak. Ya, karena kita melihat begitu banyak orang di atas muka bumi ini percaya kepada Kristus. Abraham tidak lihat itu, tetapi dia beriman kepada janji itu. Iman orang Kristen kiranya juga seperti ini. Di dalam kelancaran hidup, dan sebaliknya di dalam mengikut Tuhan penuh tantangan dan hambatan apapun, tetap ujung yang terakhir harus memuliakan Allah. Di situlah keindahan iman setiap kita.

Kekristenan kita bukanlah satu Kekristenan yang murah. Kekristenan kita tidak menyuruh orang ikut Tuhan maka seluruh problem dia hilang dan dapat hidup lancar. Itu bukan Kekristenan yang sejati. Menjadi orang Kristen seperti perjalanan hidup Abraham. Kadang-kadang kita tidak melihat apa yang kita imani. Namun Abraham beriman kepada Tuhan sampai akhir membuktikan dua hal: hari demi hari iman dia semakin kuat adanya. Dia menjadi kuat bukan karena menyaksikan sesuatu terjadi di dalam hidupnya. Dia menjadi kuat sebab dia percaya Tuhan yang berjanji itu tidak pernah bersalah dan mengecewakan dia. Saya ingin bertanya kepada sdr, apakah semakin hari berjalan ikut Tuhan, imanmu semakin kuat dan kokoh? Setiap kali kita beriman kepada Tuhan, kita tidak ingin menjadi orang Kristen yang mempermalukan nama Tuhan. Biar kita beriman, kita memuliakan Allah.

Pdt. Effendi Susanto STh.

8 November 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: