Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Pengharapan Yang Tidak Mengecewakan

Pengharapan Yang Tidak Mengecewakan

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar–tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati–. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Rom.5:5-11

Eksposisi Surat Roma (14)

Dan pengharapan itu tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rom.5:5). Apa reaksi kita pada waktu kita mengalami satu peristiwa di dalam hidup kita yang tidak kita harapkan? Bagaimana perasaan hati kita pada waktu mengalami hal-hal yang tidak kita rencanakan di dalam hidup ini? Bagaimana sikap kita pada waktu mengalami kejadian yang tidak terduga terjadi di dalam hidup kita? Saya percaya pada waktu kita menghadapi hal-hal seperti ini, ada dua perasaan yang paling mudah muncul di dalam hati kita kalau hal-hal yang tidak terduga terjadi, kalau hal-hal yang di luar dari yang kita rencanakan itu yang terlaksana atau hal-hal yang tidak bisa kita kontrol di dalam hidup kita, yang pertama perasaan menyesal dan yang kedua perasaan kesal. Dua perasaan ini muncul sebagai reaksi dari situasi yang datang kepada kita. Kita menyesal dan kita kesal. Kita menyesal sebab di dalam perasaan ini kita mengharapkan dan menginginkan kalau bisa kita mengulang kembali dan menarik kembali sejarah supaya peristiwa itu tidak terjadi di dalam hidup kita dan kita bisa memperbaikinya. Kalau bisa kita ingin merubah masa depan kita dengan kembali kepada masa sebelumnya. Yang kedua, kita kesal dengan satu perasaan mestinya saya tidak mengalami atau diperlakukan seperti itu. Kita kesal karena kita merasa hal itu tidak fair terjadi di dalam hidup kita.

Bulan lalu saya menulis satu artikel di Radix dengan judul “Kecewa,” saya mengatakan dari semua perasaan hati kita hari lepas hari saya percaya yang menjadi menu kita sehari-hari adalah perasaan kecewa. Senang sampa jingkrak-jingkrak mungkin seumur hidup hanya beberapa kali. Pertama, mungkin waktu masih kecil kita mendapat hadiah Natal yang kita impi-impikan. Kedua, waktu menyatakan cinta dan diterima. Ketiga, mungkin waktu papa mendapat bayi pertama. Keempat, mungkin waktu naik gaji. Saya percaya senang yang seperti ini tidak banyak kita alami. Menangis sampai sesedih-sedihnya kira-kira berapa kali dalam hidup kita? Saya kira juga tidak banyak. Mungkin kita sedih dan menangis waktu orang yang kita cintai meninggal, atau waktu putus cinta, dsb. Tetapi untuk hal-hal yang lain, kita mungkin tidak sampai bereaksi sampai seperti itu. Maka itu sebab saya mengatakan kecewa adalah perasaan hati yang paling sering muncul di dalam hidup kita. Gampang sekali kita dipengaruhinya. Kita kecewa waktu diperlakukan tidak adil, kita kecewa karena apa yang kita rencanakan dan cita-citakan tidak terjadi, kita kecewa karena orang tidak ikut kecewa bersama kita.

Itu sebab mengapa Rom.5:5 Paulus bicara mengenai pengharapan kita ke depan itu berharap menantikan sesuatu, pengharapan itu begitu indah. Memang memegang pengharapan itu tidak gampang karena sering perasaan kita mixed dan bercampur aduk. Kadang-kadang perharapan itu bisa menimbulkan perasaan hati yang sudah lama menanti tetapi hal itu tidak kunjung terealisir di dalam hidup kita, maka muncullah perasaan kecewa. Dalam ayat ini Paulus menyatakan suatu hal yang begitu indah, pengharapan kita kepada Tuhan tidak mengecewakan. Saya percaya sdr dan saya juga memiliki perasaan yang mixed mengenai cinta. Semua orang mengaku tidak bisa hidup jika tidak ada cinta. Tetapi orang juga sering berkata kalau bisa jangan ada cinta di dunia ini sebab cinta selalu menimbulkan perasaan sakit hati dalam hidupnya. Di dunia ini ada dua macam lagu cinta, yang satu bilang kita tidak bisa hidup tanpa cinta, cinta itu begitu indah, cinta itu memberi sukacita dan pengharapan. Tetapi di satu pihak lagi bilang cinta itu bikin orang jadi gila. Inilah perasaan mixed yang bercampur aduk mengenai cinta. Dengan konsep cinta yang sama kita cinta Tuhan. Begitu kita mengalami hal-hal yang baik kita rasa cinta Tuhan, begitu hal-hal yang tidak baik terjadi kita rasa kita tidak cinta Tuhan.

Pengharapan juga seperti itu. Apakah pengharapan mendorong orang untuk hidup maju? Atau justru pengharapan itu menghambat orang maju? Friedrich Nietzsche dengan sinis mengatakan hope in reality is the worst of all evils because it prolongs the torment s of man. Jangan beri orang pengharapan sebab pengharapan itu memperpanjang penyiksaan kepada orang. Pengharapan yang ditawarkan oleh Kekristenan itu adalah hal yang tidak bikin orang maju sebab pengharapan di dalam Kekristenan hanya menawarkan sesuatu yang bersifat mimpi dan tidak pernah terjadi. Lebih baik kita hidup tidak ada pengharapan, hidup secara realistis. Pengharapan justru mematikan hidup seseorang. Benarkah apa yang dia katakan itu?

Kemarin saya melihat satu documentary yang sangat menyedihkan. Ada satu keluarga di Cina anaknya sudah 8 tahun diculik, tiap hari mereka keluar untuk menempelkan pamflet anaknya. Dia bilang, saya berharap anakku pasti masih hidup. Itu yang memberi saya kekuatan hidup, bangun pagi keluar untuk menempelkan pamflet ini. Maka di sisi ini kita menyaksikan kalau tidak ada lagi pengharapan dan berpikir someday saya pasti akan bertemu dan berjumpa dengan anakku, saya percaya orang itu tidak akan bangun pagi dan tidak akan lagi mau menjalani hari yang baru. Maka pengharapan memberikan gairah kita untuk menjalani hidup. Bukan soal bagaimana, tetapi yang menjadi persoalan adalah kalau kita memberikan pengharapan yang palsu maka mau tidak mau pengharapan itu someday akan menjadi hal yang mengecewakan. Itu sebab kita bilang jangan beri pengharapan, karena pengharapan yang palsu bukanlah pengharapan.

Maka setelah Paulus bicara tentang semua keindahan berhubungan dengan Tuhan di dalam perjalanan hidup kita di dunia ini, ketika kita berharap tidak berarti yang kita harap itu kita lihat dan terjadi di dalam hidup kita. Tetapi justru walaupun berada di dalam keadaan sengsara Paulus bilang dia tetap bersukacita dan bermegah di dalam kesengsaraan dan kesulitan hidup. Itu bisa berarti dan bernilai kalau sdr tahu pengharapan itu tidak palsu dan tidak mengecewakan sdr.

Itu sebab dalam Rom.5:5 Paulus berkata, sdr yang berharap kepada Tuhan bukanlah pengharapan yang akan mengecewakan hidup engkau dan saya. Kecewa itu gampang sekali terjadi di dalam hidup ini. Kecewa memberikan indikasi apa yang sudah kita lakukan dengan passion ternyata tidak mendapatkan reward yang sepadan dengan apa yang kita sudah kerjakan dan lakukan. Itu sebab kita kadang-kadang kecewa. Kita kecewa karena kita ingin men-justify dan membenarkan apa yang sudah kita kerjakan di dalam hidup ini supaya orang paling tidak meresponi dan mengapresiasinya. Tetapi kadang-kadang kita tidak mendapatkan apresiasi yang setimpal dengan apa yang kita lakukan sehingga kita menjadi kecewa. Kenapa? Karena kita ingin melihat apa yang kita kerjakan itu sesegera mungkin bisa berada di dalam genggaman kita.

Sebagai ibu, setiap hari mempersiapkan makanan yang seenak mungkin untuk anak dan suami tetapi mereka tidak pernah makan makanan itu, apakah kita tidak kecewa? Apakah sdr tetap akan masak makanan buat mereka? Kalau sdr mengerjakan sesuatu tetapi yang menikmati hasilnya adalah orang lain, apakah sdr tidak kecewa? Apakah sdr masih mau terus mengerjakannya?

Waktu saya membaca kisah bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, saya kemudian terhenyak pada peristiwa kehidupan Musa. Jangan pikir Musa tidak kepingin masuk ke tanah Kanaan. Dia kepingin sekali. Saking kepinginnya, Tuhan kasih dia sedikit ‘foretaste’ untuk naik ke atas gunung, lihat dari jauh. Dia hanya boleh lihat tetapi tidak boleh masuk. Jiwa Musa sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang anak Tuhan seperti itu, bagaimana kira-kira perasaannya? Dia harus mempersiapkan baik-baik bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, tetapi dia sendiri tidak bisa masuk. Dia mempersiapkan segala sesuatu, aturan-aturan dan prasarana untuk bangsa Israel nantinya hidup di tanah perjanjian itu semua dengan sangat teliti tetapi dia sendiri akhirnya tidak menikmati dan mengalaminya. Pertanyaan ini muncul di dalam hati saya, kalau engkau berada di posisi yang sama seperti Musa apakah engkau dan saya tetap melakukan dan menjalankan hal itu?

Kecewa itu muncul di dalam hati kita karena kita tidak sanggup bisa menyatukan dua hal di dalam hati kita, di satu sisi memelihara passion yang merupakan satu disiplin kita. Itu sebab mengapa Paulus bilang perharapan orang Kristen itu bukan hanya di dalam keadaan yang lancar dan aman. Tetapi kita juga bermegah di dalam pengharapan kita walaupun kita berada di dalam kesengsaraan sebab kita tahu kesengsaraan itu mendatangkan perseverance dan character, dan pengharapan itu tidak mengecewakan.

Di dalam 2 Kor.1:3-7 Paulus menyatakan satu reaksi yang sebaliknya terjadi ketika hal-hal yang tidak diharapkan, hal-hal yang di luar kontrol terjadi, bukan perasaan kesal dan menyesal muncul tetapi sebaliknya dia terhibur karena dia tahu apa arti dan tujuan dari semua peristiwa itu. Dia melihat di balik semua itu ada arti dan makna. Dia terhibur bukan karena dia tidak mengalami semua hal yang tidak enak itu. Dia terhibur bukan karena dia tidak menghadapi semua kesulitan dan penderitaan. Tetapi di dalam semua itu hatinya tidak kesal dan tidak menyesal kenapa semua itu terjadi. Paulus tidak kecewa kenapa hal-hal yang tidak baik itu terjadi atas dia. Menghadapi itu dia terhibur. Bagi saya itu respons yang sangat indah dari hidup orang Kristen yang mengerti di situ tangan kasih setia Tuhan beserta dengannya.

Maka Paulus bilang pengharapanmu kepada Tuhan tidak akan pernah mengecewakan engkau. Mengapa? Karena pengharapan kita ada di dalam kasih Allah yang dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Bagaimana saya tahu pengharapan itu real dan tidak palsu? Paulus menyebut dua hal. Pertama, secara objektif Allah mengasihi kita. Apa bukti dari kasih itu? Lihatlah pada kayu salib, kata Paulus. Ada buktinya di dalam sejarah hidup manusia yaitu Kristus sudah mati bagi engkau dan saya. Itu bukti kasih Allah yang pasti membawa pengharapan di dalamnya tidak akan kecewa. Yang kedua, secara subyektif, kasih itu bisa engkau nikmati dan rasakan yaitu kasih itu dicurahkan di dalam hati kita oleh kehadiran Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus di dalam hatimu tidak kelihatan tetapi engkau bisa menikmati kasih Allah, engkau bisa merasakan pengharapan yang tidak mengecewakan itu di dalam hatimu sebab Roh Kudus memberikan kita kesadaran dan membuat kita mengalami kasih Tuhan dengan melimpah dalam hati engkau dan saya.

Di dalam Rom.5:6-7 selanjutnya Paulus bicara mengenai ada orang mau mati untuk orang baik tetapi jarang ada orang mau mati untuk orang benar. Ayat ini bagi saya sangat menarik, sebab dengan membuat kalimat ‘biar pengharapan kita tidak kecewa kepada Allah’ Paulus kemudian membandingkan kasih Allah itu dengan kasih manusia. Kita gampang kecewa sebab kita mengukur kasih Allah seturut dengan pemahaman kasih kita. Kasih manusia itu walaupun standarnya paling tinggi, tetap kasih itu tidak sanggup bisa menjadi standar perbandingan kasih Allah. Kasih manusia yang standarnya paling the best itu diperlihatkan dengan ada orang yang mungkin mau mati untuk orang baik. Kita terngiang dengan kalimat Tuhan Yesus,’ jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Karena orang yang tidak percaya Tuhan juga mengasihi orang seperti itu’ (Luk.6:32-33). Kalau kita hanya mengasihi keluargamu, suamimu, isterimu, anak-anakmu, kerabatmu, apa jasamu? Orang yang jahatpun tahu mengasihi isteri dan anak-anaknya. Tetapi biar kemurahan hati kita sama seperti kemurahan hati Allah. Manusia sekuat-kuatnya mengasihi orang lain, tetap ada motivasi yang tersembunyi yang tidak kelihatan yaitu hati kita normal lebih cenderung memang membalas kepada orang yang baik kepada kita. Orang itu rela mati untuk orang baik, artinya orang itu sudah membikin jasa dulu kepada dia maka dia rela untuk membela dia habis-habisan.

Lebih bagus mana, jadi orang baik atau jadi orang benar? Orang benar mungkin tidak baik di mata orang, tetapi orang baik selalu dilihat benar oleh orang. Kebenaran orang itu mungkin menusuk hati kita. Sdr pergi ke dokter yang sungguh-sungguh menyatakan semua sakit kita sampai kita jadi marah sama dia, atau sdr lebih suka ke dokter yang bilang ‘tidak ada apa-apa, semua bagus’ tetapi seminggu kemudian kita mati, mana yang sdr suka? Itu yang dialami oleh papa saya. Kurang lebih 14 dokter THT bilang tidak apa-apa, cuma satu dokter yang bilang ‘ada apa-apa.’ Papa saya paling kesal sama dia dan menuduh dia ada motif yang tidak baik. Kalau kita lihat perbandingannya 1:14 memang seolah dia yang tidak benar, tetapi akhirnya terbukti justru yang satu itu yang benar, yang 14 lain yang salah. Suara papa saya sengau enam bulan lamanya. Saya masih ingat ada satu dokter yang bilang, ‘bindeng itu karena pita suaranya sudah loncer.’ Akhirnya papa saya sakit dan tidak bisa tertolong.

Orang-orang dunia yang terbaik mencintai tetap ada motivasi yang tidak kelihatan dan yang tersembunyi. Dia rela mati untuk orang yang memang melakukan sesuatu yang baik dan berjasa atau dikenali memang layak dibela. Itu sebab kadang-kadang kita kecewa. Kita kecewa sebab kita sudah berbuat baik kepada orang itu dan dibalas tidak setimpal dengan apa yang kita lakukan kepadanya. Itu sebab kita gampang kecewa karena kita mengharapkan balas kembali dari hal yang baik dan pengorbanan yang kita beri kepada orang lain tetapi kita tidak mendapatkannya, itu sebab kita kecewa. Dengan membandingkan hal itu maka Paulus memberikan kontras yang dalam di sini, kenapa kasih Allah kepadamu pasti membuat engkau tidak akan kecewa kepada Tuhan. Dia memberikan tiga kata yang memperlihatkan derajat bagaimana cinta kasih Tuhan.

Ayat 6, kapankah Tuhan mengasihi engkau dan saya? Pada waktu kita masih lemah. Ayat 8, kapankah Allah mengasihi kita? Bukan saja pada waktu kita masih lemah, tetapi masih berdosa memberontak kepada Dia. Ayat 10, kapankah Dia mengasihi kita? Waktu kita masih menjadi musuh Tuhan. Manusia mengasihi manusia lain sebab manusia itu baik kepada dia. Tetapi Allah kita tidak seperti itu. Sebelum engkau bisa mengasihi Tuhan, Dia sudah mengasihi engkau terlebih dahulu. Lemah berarti tidak punya kekuatan untuk berbuat baik. Ada orang yang hidupnya masih bagus, paling tidak hidup dia tidak merusak hidup orang lain. Tetapi kondisi hidup kita tidak seperti itu, kata Paulus. Bukan saja kita masih lemah, waktu kita berdosa melawan Tuhan dan menjadi musuh Tuhan, Kristus sudah mati untuk kita, Allah sudah menebus kita terlebih dahulu. Itu sebab kasih Allah tidak akan pernah mengecewakan kita. Kalau Allah sedemikian mengasihi kita, mari kita melihat ini di dalam aplikasi praktisnya. Seperti Kristus berkata, biar hati kita penuh dengan kemurahan sama seperti Bapa kita yang di surga murah hati adanya. Kalau hati kita hari ini diliputi oleh kekecewaan, coba pikir baik-baik, mungkin kita kurang mengerti cinta kasih Tuhan sehingga kita tidak belajar bermurah hati mengasihi orang lain tanpa mengharapkan balas jasa ataupun perlakuan yang tidak baik darinya tetap tidak menutup hati kita terus bermurah hati kepadanya. Kalau kita kesal dan kecewa terhadap hal-hal yang tidak terduga terjadi di dalam hidup kita, mungkin kita tidak mengerti bahwa di balik peristiwa itu ada tangan Tuhan yang akan menenunnya menjadi keindahan bagi kita. Maka ubah reaksi hati kita. Waktu berada di dalam keadaan susah dan sengsara, Paulus bilang, hatiku bermegah. Kita tidak sanggup bermegah mungkin karena itu terlalu berat, tetapi keluar kata ini, hatiku dihibur. Hibur berarti ada kesedihan tetapi Tuhan membuat hati kita menjadi tenang dan lapang. Melalui situasi itu kita terhibur karena kita tahu ada maksud dan rencana Tuhan di situ. Itulah respons kita yang hari ini saya minta kepada sdr yang sudah mengenal kasih Tuhan. Kasih itu tidak mengecewakan engkau yang sudah pernah menikmati kasihNya. Pulang dan jadikan hidupmu lebih aktif bermurah hati mencintai orang lain. Jangan berespons dengan kecewa kalau kita mendapat perlakuan yang menurut kita tidak sesuai dengan apa yang sudah kita kerjakan. Toh Allahpun tidak berlaku seperti itu kepada engkau dan saya, bukan? Waktu engkau masih musuh Tuhan, Dia sayang kepadamu. Waktu engkau tidak sayang kepada Dia, Dia sudah terlebih dahulu sayang kepadamu. Biar ini memberi hati kita penuh dengan kemurahan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

22 November 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: