Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Pengudusan Orang Percaya

Pengudusan Orang Percaya

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Rom.6:1-14

Eksposisi Surat Roma (16)

Kita sekarang masuk ke dalam bagian kedua dari surat Roma yaitu pasal 6-8 dimana Paulus khusus bicara mengenai sesudah kita dibenarkan Tuhan, bagaimana hidup Kristen kita selanjutnya. Maka pasal 6-8 bicara mengenai sanctification atau pengudusan. Secara garis besar, di pasal 6 Paulus bicara mengenai dasar dari pengudusan, di pasal 7 dia bicara mengenai peperangan rohani kita di dalam pengudusan dimana dia bicara mengenai pengalaman kehidupan dia sendiri, ‘apa yang aku mau, yang baik dan yang seharusnya kulakukan, justru ada hukum yang lain yaitu hukum dosa yang ada di dalam diriku yang terus menarik aku untuk melakukan apa yang aku tidak kehendaki.’ Kemudian di pasal 8 Paulus bicara mengenai hidup pengudusan kita tidak lepas dari karya Roh Kudus yang sudah ada di dalam hidup kita. Bicara mengenai konsep pengudusan, mari kita taruh kesimpulan yang ada di pasal 8:37 dimana kita menyaksikan bahwa hidup kita di atas muka bumi ini adalah satu hidup yang harus dijalani dengan prinsip ini: hiduplah sebagai orang Kristen yang lebih dari orang-orang yang menang. Dalam bahasa Inggrisnya “more than conqueror.” Walaupun kadang-kadang di dalam peperangan rohani kita kalah di dalam satu peperangan, tetapi kita percaya kita pasti akan menang di dalam pertempuran yang terakhir. Itu sebab Paulus memakai kalimat ini, “we are more than conqueror.”

Mengawali pembicaraan mengenai pengudusan ini Paulus memberikan satu prinsip penting: pembenaran atas hidup kita terjadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan bagaimana cara kita hidup. Tidak ada kaitannya dengan you berbuat baik kepada Tuhan lalu Tuhan merasa berkewajiban harus menyelamatkan kita. Sama sekali itu tidak ada. Justru Paulus kemudian berargumentasi kepada orang Yahudi, jangan pikir karena you memiliki hukum Taurat, jangan membunuh, jangan mencuri, dsb maka hidupmu lebih bersih, lebih suci, lebih bermoral daripada orang lain. Justru dengan adanya hukum Taurat malah membuktikan kita tidak sanggup untuk memenuhi dan melakukan hal itu. Maka Paulus berani mengambil kesimpulan di pasal 5:20b ”…dimana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah…” maksudnya makin banyaknya kelimpahan orang berdosa tidak sanggup bisa mengalahkan makin berlimpahnya anugerah penebusan di dalam Yesus Kristus. Artinya, jangan pikir orang yang lebih jahat daripadamu itu lebih membutuhkan Yesus Kristus. Itu sebab Yesus pernah mengeluarkan kalimat, “Orang sehat tidak perlu dokter, tetapi orang sakit…” maksudnya tidak berarti orang Farisi itu sehat maka tidak perlu Yesus, tetapi maksudnya kalau mereka merasa tidak perlu Tuhan, betapa kasihannya mereka. Itu maksud perkataan Yesus.

Tetapi banyak orang berpikir, kalau apa yang kita lakukan itu tidak ada kaitan dengan pembenaran di hadapan Tuhan, maka melahirkan kemungkinan side effect yang berbahaya. Side effect-nya adalah kalau saya bisa masuk surga dan dibenarkan di hadapan Tuhan semata-mata oleh karena karya Yesus Kristus dan tidak ada kaitannya dengan perbuatan saya, kalau begitu saya bisa berbuat apa saja di dalam hidup ini. Hidup saja sejahat-jahatnya sampai nanti tinggal lima menit sebelum mati baru percaya Yesus, toh masuk surga juga. Orang yang berpikir seperti itu lupa satu hal yaitu masalahnya bukan kita yang mengontrol panjang pendeknya hidup kita. Paulus mengatakan kita tidak boleh berkata kita boleh sembarangan hidup menjadi orang Kristen. Justru sesudah dibenarkan, mari kita hidup menyerahkan anggota-anggota tubuh kita dipakai menjadi senjata kebenaran Allah. Paulus bilang, bolehkah saya bertekun terus di dalam berbuat dosa supaya anugerah Tuhan semakin banyak? Sekali-kali tidak. Maka setelah Tuhan membenarkan kita tidak berarti hidup kita tidak mengalami perubahan. Tetapi pengudusan dan hidup yang berubah harus dimengerti dengan jelas, dia bukan sudah dibenarkan lalu plus berbuat baik baru masuk surga. Tetapi bagaimana kita memahami konsep pengudusan orang percaya? Paling tidak ada enam point yang penting untuk kita memahami konsep sanctification orang Kristen.

Pertama, pengudusan berarti telah terjadi suatu penggabungan yang sangat mistis antara orang percaya bergabung dengan seluruh aktifitas hidup Tuhan Yesus. Paulus mengatakan, tidak tahukah engkau waktu Kristus mati kita juga mati di situ dan waktu Kristus bangkit kita juga bangkit bersama-sama Dia? Kalau kita sudah mati bersama Kristus dan sudah bangkit bersama Kristus, siapakah kita yang bisa mengatakan bahwa hidup kita ini tidak ada kaitannya dengan Kristus? Di dalam teologi hal ini disebut sebagai “mystical union with Christ,” dimana terjadi suatu penggabungan secara mistis antara orang percaya dengan Kristus. Kenapa disebut mistis? Sebab itu bukan penggabungan secara fisik. Yesus datang secara fisik 2000 tahun yang lalu, tetapi kita belum ada pada waktu itu. Maka teologi memakai kata ‘mystical union’ ini, sesuatu yang misteri terjadi. Itu sebab mengapa hidup kita sesudah diselamatkan oleh Kristus kita tidak disebut “we believe to Christ” tetapi Alkitab mengatakan “we believe into Christ.” Kepercayaan kita kepada Kristus berarti saya bergabung bersama Kristus. Itu istilah yang dipakai oleh Paulus. Maka waktu kita percaya Yesus, kita bukan lagi diri kita tetapi sudah menjadi milik Kristus. Kita mati bersama Kristus, kita bangkit bersama Kristus. Dalam Rom.6:9-11 kita sudah bangkit bersama Kristus tetapi sesudah kita percaya Kristus secara fakta fisik kita someday akan mati, tetapi hidup perjalanan kita menuju kematian tidak boleh dikalahkan oleh kematian. Itu sebab kita harus memandang kematian itu hanya pintu sementara, sesudah itu kita akan bangkit, memiliki tubuh kemuliaan dan tidak akan mati lagi selama-lamanya.

Konsep mystical union with Christ ini penting sekali, karena banyak penafsir setuju ini adalah konsep teologi yang sangat unik dari rasul Paulus. Kenapa Paulus sangat menekankan konsep kita sudah bersatu dengan Kristus? Banyak penafsir setuju, itu karena Paulus pernah mengalami kegoncangan teologis ketika dia bertemu dengan Tuhan Yesus di tengah perjalanan menuju Damaskus (Kis.9:3-5). Di situ Paulus bilang, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Lalu Tuhan berkata, “Akulah Yesus yang kamu aniaya.” Kalimat ini memberikan perubahan di dalam konsep teologis Paulus sebab Paulus tidak pernah menganiaya Yesus secara fisik. Paulus memang menganiaya, memenjarakan dan menyiksa orang Kristen, tetapi sekarang Yesus mengatakan waktu Paulus menganiaya orang Kristen itu dia sedang menganiaya Yesus. Maka di situ Paulus sadar orang Kristen berada di dalam diri Kristus sehingga pada waktu orang Kristen menderita tekanan, penderitaan dan aniaya, Kristus juga mengalami hal yang sama. Dengan demikian, Paulus menarik aspek yang lebih dalam lagi, dalam 1 Kor.6:15 karena kita sudah bergabung dengan Kristus, artinya segala manfaat yang milik Kristus menjadi milik kita. Dia mati, berarti di situ kita mati terhadap dosa. Dia bangkit, berarti kita memiliki kebangkitan kemenangan terhadap dosa. Waktu engkau dan saya dianiaya, jangan pikir engkau tersendiri karena Kristus juga mengalaminya. Namun sebaliknya juga waktu engkau membawa tubuhmu pergi ke percabulan, engkau membawa Kristus ke situ. Itu arti ayat ini. Waktu engkau pergi berbuat dosa, akankah kau bawa Kristus juga ke sana? Terjadi konsep mystical union di situ. Itu sebab Paulus mengatakan, sekali-kali tidak. Ini membuat kita mengerti, mawas diri dan menyadari keagungan ini betapa luar biasa. Itu sebab mengapa di Ef.1:11 Paulus mengatakan someday kita akan mendapatkan bagian yang telah dijanjikan sebab kita mendapatkannya bersama-sama dengan Kristus. Kita sudah mati bersama Kristus terhadap dosa dan kita sudah bangkit bersama Kristus, kita sudah memiliki kemenangan terhadap dosa. Maka mengapa kita harus hidup lagi di dalam dosa?

Kedua, pengudusan berarti sudah ada satu kepastian Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya. Rom.8:9b ”…jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Roh Kudus sudah tinggal di dalam diri orang waktu dia menjadi percaya. Maka tidak perlu lagi kita meminta Roh Kudus masuk ke dalam hidup kita karena Dia sudah di dalam. Dan tidak pula kita berdoa bilang Roh Kudus jangan pergi dariku. Itu adalah konsep dari PL ketika Roh Kudus belum turun dalam peristiwa Pentakosta. Jadi Roh Kudus bekerja di dalam PL berbeda dengan Roh Kudus bekerja di dalam PB. Sdr bisa menemukan ketika Simson berdoa kepada Tuhan maka Roh Tuhan turun ke atasnya dan menjadikan dia kuat. Kemudian waktu Simson berbuat dosa, dia tidak sadar bahwa Roh Tuhan sudah meninggalkan dia. Demikian juga dengan Daud. Maka di dalam Mzm.51:13b Daud berdoa agar Tuhan tidak menarik RohNya yang kudus dari Daud. Di dalam PL Roh Kudus tidak tinggal secara permanen di dalam diri orang karena belum terjadi secara konsep teologis peristiwa Pentakosta dimana Roh Kudus diutus dan turun ke dalam kehidupan orang percaya. Sesudah kita percaya maka Roh Kudus tidak keluar masuk lagi melainkan Dia tinggal di dalam diri orang percaya. Maka kepada orang yang sudah lahir baru dan sudah percaya saya selalu katakan tidak ada konsep di dalam Alkitab orang itu bisa menghujat Roh Kudus. Yang ada ialah orang yang sudah lahir baru mungkin mendukakan Roh Kudus (band. Ef.4:30). Dia ada di dalam diri kita, Dia tinggal di dalam diri kita, Dia sudah menjadi materai yang tidak akan pergi lagi. Tetapi pada waktu kita berjalan hidup mungkin kita bisa mendukakan hatiNya pada waktu kita tidak berjalan seturut apa yang Tuhan inginkan. Pengudusan berarti Roh Kudus sudah ada di dalam diri orang itu ketika dia percaya kepada Kristus. Tidak ada konsep orang itu sudah percaya tetapi Roh Kudus belum datang kepada dia. Karena Roh Kuduslah yang bisa membuat kita berseru kepada Yesus ‘aku percaya’ dan diselamatkan.

Ketiga, pengudusan berarti kita sudah hidup bebas dari relasi perbudakan dengan dosa tetapi tidak dalam pengertian dosa itu dihilangkan dari hidup kita. Ketika kita menjadi percaya relasi kita dengan dosa itu yang hilang, tetapi kuasa dosa, ‘the power of sin’ is still remains di dalam hidup kita. Ini dua hal yang penting. Waktu kita bilang ‘Tuhan, ampuni dosaku’ bukan dosa itu dicabut dari diri kita. Dia tetap tinggal di dalam diri kita. Waktu kita minta ampun kepada Tuhan dan mengaku kita sudah bersalah kepada Dia, dosa itu tetap tinggal di dalam diri kita. Waktu kita berbuat dosa, itu berarti kita kembali menyerahkan diri kita di bawah perbudakan dosa. Itu sebab Paulus bilang serahkanlah anggota tubuhmu menjadi senjata kebenaran dan jangan lagi menjadikan dirimu di bawah perbudakan dosa. Dosa itu tetap ada. Cuma bedanya, sebelum percaya Tuhan dosa adalah tuan kita, sesudah kita percaya Tuhan dosa bukan lagi menjadi tuan kita. Jadi pengudusan berarti hubungan saya dengan dosa sebagai budak dan tuan itu putus. Tetapi dia tetap memiliki kekuatan dan kuasa yang tinggal di dalam diri kita. Bedanya, dia tidak lagi bisa memerintah dan mengontrol saya. Rom.6:6 Paulus sangat teliti mengatakan “karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya maka jangan memperhambakan diri lagi kepada dosa…” Kenapa Paulus mengatakan ‘tubuh dosa’ dan bukan hanya menyebutnya ‘dosa’? Sebab dosa tidak hilang kuasanya. Kuasa dosa tetap sama jahatnya di dalam hidup kita, sebelum kita percaya ataupun sesudah kita percaya. Cuma perbedaannya, kuasa itu tidak lagi memasuki teritori hidup engkau dan saya. Maka jangan beri tubuhmu diperhambakan lagi kepada dosa. Keempat, pengudusan berbeda dengan lahir baru. Lahir baru tidak bisa kelihatan secara fisik, tetapi pengudusan adalah hal yang bisa terlihat secara eksternal di dalam diri seseorang. Pembenaran merupakan karya Tuhan di dalam membenarkan kita yang tidak bisa nampak dari luar, sehingga kita tidak bisa melihat mana orang yang sudah dibenarkan dan mana yang belum. Tetapi pengudusan bisa memiliki ciri-ciri secara eksternal antara lain seperti kalimat Tuhan Yesus di dalam Luk.6:44, kita tahu pohon itu baik dari buahnya. Jadi bisa kelihatan secara eksternal. Itu sebab di dalam 2 Kor.13:5 Paulus mengatakan, ujilah dirimu sendiri apakah Kristus tinggal di dalam dirimu atau tidak. Kalau tidak, someday kita tidak tahan uji. Beriman, memiliki Kristus di dalam diri kita, yang tahu hanya kita dengan Tuhan. Tetapi pengudusan tidak bisa kita sembunyikan. Paling tidak, kata Tuhan Yesus, kita bisa melihat buahnya. Walaupun secara attitude perbuatan keagamaan juga mungkin bisa menghasilkan buah yang sama, yaitu orang itu bisa rendah hati, bisa rajin, bisa cinta Tuhan, dsb. Mungkin bisa terlihat mirip dan sama, tetapi buah dari pengudusan adalah satu buah yang bisa kita lihat secara permanen dihasilkan tidak secara munafik oleh kita. Maka Paulus bilang, orang yang memiliki Roh Kudus di dalam hatinya pasti akan menghasilkan buah Roh Kudus (Gal.5:22-23).

Kelima, pengudusan merupakan hal yang dikerjakan oleh Roh Kudus tetapi sekaligus juga merupakan hal yang menjadi tanggung jawab dari semua orang percaya. Berbeda dengan pembenaran yang 100% semata-mata Tuhan yang mengerjakan di dalam hidup kita, pengudusan 100% Tuhan mengerjakan di dalam hidup kita tetapi 100% juga kita bertanggung jawab sebagai orang percaya juga menghasilkan hidup yang kudus. Fil.2:12-13 mengatakan kemauan kita untuk suci, kemauan kita untuk berbuat baik, kemauan kita untuk hidup mencintai mengasihi Tuhan, siapa yang mengerjakan kemauan itu dan siapa yang menghasilkan kemauan itu di dalam diri kita? Ayat 13 bilang Tuhanlah yang mengerjakan segala kemauan kita, segala hal yang keluar dari hidup kita. Tetapi ayat 12 Paulus ingatkan kita untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar. Dua hal harus sama-sama digabung. Maka pengudusan merupakan hak dan tanggung jawab kita sebab di situ ada unsur kita sudah dimerdekakan dari dosa kita harus terus-menerus berjuang untuk tidak menyerahkan hidup kita yang sudah ditebus Tuhan kembali di bawah perbudakan dosa. Terus-menerus menjaga memelihara hidup kita, itu merupakan peperangan rohani yang tidak ada habis-habisnya.

Keenam, pengudusan sekaligus bukan merupakan hal yang final yang mungkin kita kerjakan tanpa dosa di atas muka bumi ini tetapi tidak berarti pengudusan itu tidak mengalami progress terus-menerus dari hari ke sehari sampai kita bertemu dengan Tuhan. Waktu kita bertemu Tuhan, Alkitab jelas katakan kita tidak mungkin bisa sinless dan perfect. Itu sebab kita memiliki “Doa Bapa Kami,” yang mengakui dosa kita di hadapan Tuhan. Dalam 1 Yoh.1:8 rasul Yohanes mengatakan barangsiapa berkata bahwa dia tidak berdosa, dia menipu dirinya sendiri. Tetapi karena perfection itu sesuatu yang tidak mungkin, lalu apakah berarti tidak ada progress? Sama sekali tidak. Pengudusan meskipun tidak membuat kita mencapai satu status yang sinless, tidak berarti bukan merupakan satu proses yang mengalami pertumbuhan di hadapan Tuhan. Itu sebab mari kita sama-sama sesudah menjadi Kristen belajar proses mengalami terus-menerus bertumbuh di hadapan Tuhan di dalam proses pengudusan hidup kita.

Saya melihat proses pengudusan hidup Paulus yang memperlihatkan progress seperti ini. Dalam 1 Kor.15:9 Paulus mengatakan “Di antara semua rasul, akulah yang paling hina…” Dalam Ef.3:8 Paulus mengatakan “Di antara semua orang kudus, akulah yang paling hina…” Dan di dalam 1 Tim.1:15 Paulus mengatakan “Di antara semua orang berdosa, akulah yang paling berdosa…” Perlu sdr lihat, surat Korintus ditulis Paulus paling awal, kemudian baru surat Efesus ditulis beberapa waktu kemudian dan surat Timotius merupakan surat-surat paling terakhir yang dia tulis sebelum mati. Berarti semakin tua, Paulus semakin peka menyadari betapa dia paling hina bukan saja dari antara para rasul dan orang Kristen lain, tetapi di dalam perjalanan hidupnya mengikut Tuhan makin lama makin dekat Tuhan makin merasa di antara orang yang berdosa dia paling berdosa. Makin lihat anugerah Tuhan begitu besar di dalam hidupnya, makin melihat keindahan cahaya kesucian Tuhan yang begitu terang, dia melihat dirinya begitu hina dan berdosa. Di sini terjadi paradoks, semakin pertumbuhan kerohanian seseorang makin maju, proses pengudusannya makin progresif, semakin dia sadar dia tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan.

Maka kita menemukan beberapa point yang penting mengapa Paulus bicara hidup orang Kristen harus betul-betul memahami konsep pengudusan dengan benar. Pengudusan adalah satu peperangan rohani. Rom.7 mengingatkan kita, kita tidak boleh lengah sebagai orang Kristen. Tetapi sebelum sampai di situ, kita diingatkan sebagai orang Kristen mungkin kita bisa kalah dua langkah tetapi harus maju tiga langkah. Apa kekuatan dan fondasinya supaya kita tidak kalah? Hendaklah semua kita harus memandang diri “more than conqueror.” Kenapa? Pertama, karena kita sudah bersatu dengan Kristus. Kematian Dia membuat kita mati terhadap dosa. Kebangkitan Dia menghidupkan kita dari dosa. Yang kedua, kita memiliki Roh Kudus di dalam hidup kita. Yang ketiga, ingat baik-baik, kita sudah bebas dan bukan budak dosa lagi. Jangan biarkan kita menyerahkan diri kita kepada perbudakan dosa lagi. Yang keempat, hendaklah pengudusan itu memiliki bukti dan buah yang keluar dari hidup kita. Yang kelima, pengudusan itu merupakan tanggung jawab setiap orang percaya bagaimana kita hidup suci dan kudus di hadapan Tuhan. yang keenam, pengudusan itu tidak akan bersifat statis. Dia akan terus maju dan progresif di dalam hidup kita. Ini semua menjadi kekuatan dan dasar teologis yang penting. Jadilah orang Kristen yang bertumbuh di tahun ini, mungkin kita bisa kalah di dalam satu peperangan tetapi kita tidak boleh kalah di dalam pertempuran besar kita. Kita bisa lemah dan mungkin bisa menanggalkan senjata peperangan kita, dan pada saat itu justru kita gampang diserang oleh senjata si Jahat. Biar kita serahkan tubuh kita menjadi senjata kebenaran karena hidup kita sudah menjadi milik Tuhan yang sudah memerdekakan kita dari dosa. Biar kita boleh berjalan di dalam pimpinan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

10 Januari 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: