Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Reaksi Manusia terhadap Kebenaran

Reaksi Manusia terhadap Kebenaran

Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

Rom.3:21-25

Rom.3:20 merupakan kesimpulan yang menutup semua argumentasi Paulus dengan kalimat ini, “Sebab tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Paulus menutup segala kemungkinan the righteousness come from below, dari usaha manusia, dari keinginan manusia mengenal Tuhan. Tidak ada kemungkinan kebenaran itu datang dari bawah. Maka di ayat 21 ia mengatakan “the righteousness come from above.” This is the righteousness from God. Namun tidak berarti manusia bisa berdalih di hadapan Tuhan: karena saya tidak tahu kebenaran, maka jangan hukum saya dan jangan menghakimi saya.

Film “contact” yang dibintangi oleh Jodie Foster berkisah tentang ilmuwan NASA yang berusaha ingin mencari tahu misteri dari alam semesta. Kedua, film itu ingin mengetahui apakah ada mahluk intelligent di luar manusia. Tetapi yang terpenting, film itu sedang mempertanyakan adakah eksistensi Tuhan. Bagaimanakah mengetahui eksistensi Tuhan itu? Dengan percayakah atau dengan pembuktian? Pada waktu mereka berusaha mencari, entah dapat entah tidak, maka Jodie Foster yang berperan sebagai Dr. Ellie mengatakan “For as long as I can remember, I’ve been searching for some reasons: why we are here? What are we doing here? Who we are? If there is a chance to find out even just a little part of that answers I think it’s worth a human life, don’t you?” Kalau saja ada sedikit kemungkinan untuk memperoleh jawaban, itu lebih dari cukup baginya. Sebelum sampai kepada jawabannya, kita harus bertanya dulu, kenapa manusia bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Ini menjadi pertanyaan yang sangat penting. John Calvin mengatakan karena di dalam diri manusia ada yang namanya “Sensus Divinitas” yaitu getaran-getaran keilahian yang ada di dalam diri manusia. Getaran-getaran itulah yang menyebabkan manusia ingin mengetahui Allah, sebab Alkitab mencatat dengan jelas manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Gambar dan rupa Allah itu sudah rusak oleh dosa tetapi tidak hilang di dalam diri manusia sehingga getaran-getaran yang kabur itu tetap ingin mencari kembali jawaban yang sejati kepada ‘yang asli’ dari copy gambar itu.

Pdt. Stephen Tong memberikan konsep mengapa manusia ingin mencari kebenaran, mengapa manusia ingin mencari Logos yaitu Allah sendiri, sebab di dalam diri manusia ada “logikos.” Logikos merupakan percikan-percikan kecil di dalam diri manusia yang baru menjadi benar kalau dia ketemu dengan sumber Logosnya. Rom.1 bicara tentang hal itu. Manusia boleh bilang Allah tidak ada tetapi semua manusia tidak mungkin bisa escape dalam hatinya ada suara yang mengatakan Allah ada. Kebenaran itu manusia ingin tekan tetapi someday manusia tidak mungkin bisa berdalih bilang dia tidak kenal Tuhan. Rom.1-3 Paulus juga mengatakan adanya keinginan manusia untuk mengenal Allah itu adalah satu harapan, satu keinginan. Pertanyaannya: mungkinkah keinginan itu membuat manusia dapat mengenal Tuhan yang sejati? Paulus bilang: tidak bisa. Keinginan mengenal Allah yang sejati ada di dalam diri manusia, tetapi realita menemukan Allah yang sejati itu tidak mungkin, sebab manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Kedua, tetapi tidak bisa mengenal realita Allah yang sejati tidak berarti membuat manusia bisa mengatakan ‘saya tidak bisa kenal Dia.’ Sdr bisa menangkap perbedaannya? Jadi, ada keinginan tetapi keinginan itu tidak mungkin sampai kepada mengenal Allah yang sejati. Tetapi sebaliknya, tidak sanggup mengenal Allah yang sejati tidak berarti manusia boleh mengatakan dia tidak tahu.

Alkitab memberitahukan kepada kita, pada waktu kita sampai mengenal kebenaran, kebenaran itu akan mendatangkan sukacita kepada kita sebab seperti kalimat Tuhan Yesus, “the truth will set you free.” Jadi ada keinginan dan kesukaan. Itu sebab keberdosaan manusia berbeda dengan kejatuhan Setan berdosa kepada Tuhan. Kejatuhan Setan berdosa kepada Tuhan adalah kejatuhan di dalam consciousness yang sungguh-sungguh memberontak kepada Tuhan, sedangkan kejatuhan manusia disebabkan karena ditipu dan dibohongi oleh Setan. Kejatuhan Setan adalah kejatuhan dimana Setan sama sekali tidak suka akan kebenaran itu. Tetapi kejatuhan manusia adalah kejatuhan karena dibohongi, itu sebab masih ada keinginan seperti itu. Itu sebab kita katakan walaupun di dalam Teologi Reformed manusia berdosa itu dinamakan ‘total depravity’ manusia berdosa menjadi rusak total, tetapi tidak berarti manusia melakukan dosa sejahat-jahatnya.

Sdr bisa ketemu hal yang sangat paradoks, seorang penjahat yang luar biasa bisa dengan darah dingin membunuh orang, tetapi pulang sampai di rumah menjadi ayah yang baik. Tetapi manusia berbeda dengan Setan. Setan itu jahat sejahat-jahatnya, tetapi manusia masih ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat dia tidak sejahat-jahatnya. Tetapi tidak berarti yang menahan manusia untuk tidak jahat sejahat-jahatnya itu adalah kebaikan yang bisa membikin manusia masuk surga. Jadi waktu kita bilang manusia berdosa, tidak berarti orang itu semuanya jahat dan tidak ada kebaikan relatif yang dibuatnya. Manusia masih bisa memberi sumbangan, manusia masih bisa membantu orang lain, orang yang jatuh di pinggir jalan masih diangkat. Bahkan mungkin kalau di bus lihat ada nenek-nenek berdiri, dia langsung kasih tempat duduknya sedangkan orang Kristen kadang-kadang duduk saja dengan alasan cape. Itu yang dikatakan oleh Calvin, yang dikatakan ada samar-samar gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia. Itu adalah satu keinginan logikos yang ingin mengenal dan mengerti Logos dan kebenaran itu. Ingin mengenal dan mengerti tidak berarti dia sudah sampai kepada realita. Tidak sampai kepada realita tidak berarti tidak ada keinginan. Di satu pihak manusia ingin mengenal kebenaran Allah tetapi dosa seringkali membuat manusia sulit untuk bisa mengenal kebenaran Tuhan. Maka Paulus memberitahu kebenaran Tuhan dengan satu-satunya cara, kebenaran itu hanya datang dari Allah kepada manusia. Sebelum sampai kepada bagian itu, saya ingin mengajak sdr melihat paling sedikit ada enam sikap manusia menghadapi kebenaran.

1. Manusia masa bodoh dengan kebenaran.

Dalam Yoh.18:38a kita melihat contoh yang paling konkrit ketika manusia bertemu dengan Sang Kebenaran itu, sikap reaksi dia adalah masa bodoh terhadapNya, diwakili oleh Pilatus waktu berjumpa dengan Tuhan Yesus. Pilatus is so close to the truth sebab truth itu ada di hadapannya, tetapi dia berbalik memberikan pantatnya kepada truth itu. “Apakah kebenaran itu?” kata Pilatus. Alkitab mencatat statement dari Pilatus itu tetapi Alkitab tidak mencatat the way Pilatus mengatakannya. Maka kita perlu menafsir kira-kira bagaimana sikap dia pada waktu mengatakannya. Kalau saja dia berhenti sejenak setelah melempar pertanyaan itu dan menanti jawaban Tuhan Yesus, maka sejarah hidup dia akan berubah. Tetapi dia berpaling dan meninggalkan Tuhan Yesus. Inilah sikap pertama manusia bertemu dengan kebenaran yaitu manusia masa bodoh dengan kebenaran. Sikap masa bodoh ini boleh dikatakan menjadi sikap yang mewarnai kehidupan manusia sekarang ini. Bagi Pilatus kebenaran itu bukan sesuatu yang objektif tetapi kebenaran adalah sesuatu yang ‘invented.’ Jadi bukan soal benar atau tidak benar tetapi invented by orang yang punya power. Sdr menemukan di dalam dunia ini, yang mempengaruhi opini masyarakat adalah dia yang menguasai surat kabar dan televisi. Bagaimana bisa menang di dunia politik? Kuasai media dulu. Melalui media, I can invent the truth yang you mesti dengar. Itu yang dikatakan oleh Pilatus. Tidak ada yang namanya objective truth. You salah atau benar, ditentukan oleh saya. Biarpun semua orang bilang you salah, kalau aku bilang benar maka engkau jadi benar. Ketika bertemu dengan orang seperti itu maka bagi dia kebenaran bukan soal objektif, kebenaran itu soal persepsi. Konsep seperti ini ada di dalam dunia Post Modern. Kenapa orang Post Modern tidak suka kepada Gereja? Sebab Post Modern sudah salah menganggap Gereja yang bilang benar dengan sendiri Gereja menjadi power yang oppressive. Kenapa orang Post Modern tidak suka ke gereja? Sebab Gereja dianggap sebagai pihak yang mencetuskan kebenaran yang bersifat oppressive. Itu sama sekali berlawanan dengan apa yang Yesus katakan, “When you know the truth, it shall set you free.” kalau kita bilang sesuatu kebenaran, orang Post Modern mengatakan ‘itu benarnya kamu, ini benarnya saya. Benar-mu juga benar, benar-ku juga benar. Orang yang bilang kita tidak benar juga benar.’ maka kebenaran itu soal selera, kebenaran soal persepsi.

Pada waktu kita bicara mengenai hidup manusia, Alkitab mengatakan hidup kita memiliki tujuan, Post Modern bilang, tidak. Hidup itu bagi mereka bukan purpose tetapi hidup itu adalah ‘play.’ Yang kedua, kita bilang hidup itu memiliki desain, tetapi Post Modern bilang hidup itu ‘by chance.’ Yang ketiga, kita bilang segala sesuatu memiliki urutan hirarki, Post Modern bilang itu bukan hirarki tetapi ‘anarki.’ Yang keempat, kita percaya there is an objective truth, Post Modern bilang truth hanyalah perseption. Dalam salah satu edisi kartun “The Simpsons” ada satu kalimat yang mewakili semangat Post Modern ini. Leonard Nimoy mengatakan, “The following tale of alien encounter is true and by true I mean false. It’s all lies but they are entertaining lies. And in the end, it is not the real truth, it doesn’t matter, it is entertaining.” Tidak peduli benar atau salah, tetapi asal itu menyenangkan saya dan bagus untuk saya, itulah truth. Yesus berkata kepada Pilatus, you bisa menemukan kebenaran. Tetapi reaksi manusia berdosa adalah masa bodoh terhadap kebenaran. Apa yang entertain saya, apa yang saya suka dan mau, itu menjadi kebenaran bagiku.

2. Manusia menekan kebenaran.

Dalam Rom.1:18 Paulus memperlihatkan murka Allah turun dari surga terhadap manusia yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Menindas berbeda dengan sikap masa bodoh. Menindas berarti dia sampai kepada kesadaran bahwa itu benar, tahu ada benar tetapi tidak mau suara kebenaran itu keluar. Maka manusia berusaha terus menindas kebenaran. Salah satu Anger Management yang paling berbahaya adalah menekan kemarahan. Sabar itu tidak sama dengan menekan kemarahan, itu adalah dua hal yang berbeda. Sabar adalah let it go, sabar itu melihat kesulitan itu nanti menjadi hal yang indah. Menekan kemarahan artinya menutup segala ekspresi emosi yang suatu saat akan meledak seperti gempa bumi yang begitu dahsyat. Ahli gempa bilang lebih baik ada gempa yang sedikit-sedikit muncul daripada daerah gempa yang 100 tahun tidak pernah gempa. Kemarahan yang disimpan, suatu kali akan meledak dengan merusak. Marah itu bukan soal bagaimana diri kita menahan tetapi berkaitan dengan Tuhan. Nanti kita akan sampai kepada bagian itu dalam Rom.12 di belakang.

3. Manusia merasa diri adalah kebenaran.

Khotbah saya beberapa minggu yang lalu sudah membahas akan hal ini. Bedanya orang Yahudi dan orang non Yahudi dimana? Orang non Yahudi menekan kebenaran dan bukan itu saja, mereka juga bangga melakukan ketidak-benaran. Dengan terbuka menyatakan pemberontakan kepada Tuhan. Tetapi berbeda dengan orang Yahudi, mereka menuding orang-orang non Yahudi sebagai orang kafir yang hidup penuh dengan dosa, tetapi dia sendiri merasa diri benar. Paulus menegur mereka, engkau bilang ‘jangan mencuri,’ tetapi engkau sendiri mencuri; engkau bilang ‘jangan berjinah,’ tetapi engkau sendiri berjinah. Hal ini sangat menyedihkan sekali, kadang-kadang kita harus hati-hati. Salah satu yang sangat menyedihkan adalah kejatuhan Ted Haggard, yang diklaim oleh majalah TIME sebagai 1 of 25 most influential leaders in USA, kira-kira 3 tahun yang lalu. Di atas mimbar dia dengan terbuka menyerang homoseksual sebagai dosa dan berkampanye melalui gerejanya agar state Colorado tidak meng-approve pernikahan sesama jenis. Tetapi di bawah permukaan hidupnya dia sendiri melakukan homoseks. Seringkali di dalam hidup kita terlalu banyak menguasai firman, tetapi sekali lagi kita perlu balik: apakah firman menguasai hidup kita? Bahaya yang paling besar di dalam hidup hamba-hamba Tuhan yang membawa kejatuhan adalah kita tahu semua, kita menguasai firman, tetapi belum tentu seumur hidup firman Tuhan menguasai hidup kita. Merasa diri benar sehingga tidak merasa apapun yang dikerjakan itu patut dikoreksi dan berinteraksi dengan kebenaran firman Tuhan. Dimana letak keindahan satu kemajuan rohani? Ada 3 ayat dari rasul Paulus yang memberitahukan kepada kita makin dekat kita kepada kebenaran bukan membuat kita melihat diri makin suci tetapi makin melihat hidup kita tidak layak di hadapan Tuhan. Dalam 1 Kor.15:9, salah satu suratnya yang paling awal Paulus bilang, “Aku adalah yang paling hina dari semua rasul…” kemudian dalam Ef.3:8, surat yang ditulis di tengah pelayanannya Paulus bilang, “Aku adalah yang paling hina di antara segala orang kudus…” dan paling akhir di dalam 1 Tim.1:15 Paulus bilang, “Aku adalah yang paling berdosa di antara orang-orang berdosa…” Sdr akan melihat pengakuan ini semakin dia mengenal Kristus, semakin dekat Tuhan, semakin mengenal kebenaran Tuhan makin dia merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Itu yang namanya true spirituality. Bedanya dengan orang Farisi, makin baca Alkitab makin rasa semua yang lain salah dan dia yang paling benar dan paling tidak berdosa, itu yang paling berbahaya. Jauh dari sinar terang Tuhan, kita rasa diri cukup bersih. Makin dekat dengan sinar kekudusan Tuhan, baru tahu betapa kotornya kita di hadapan Tuhan.

4. Manusia memusuhi kebenaran.

Gal.4:16 Paulus berkata, “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” Paulus sedang menyampaikan kebenaran, dan seharusnya kebenaran itu diterima dengan rendah hati, tetapi kita menemukan reaksi ini bisa terjadi bukan saja pada diri orang yang tidak percaya Tuhan namun juga kepada orang percaya. Mengapa waktu kita berjumpa dengan kebenaran dan dikoreksi oleh kebenaran, kita justru memusuhi kebenaran? Reaksi jemaat Galatia ini bukanlah reaksi yang secara langsung dan spontan berdasarkan keinginan sendiri, sebab kalau kita baca terus hingga pasal 5:7, Paulus bongkar penyebabnya, “Dahulu kamu punya berlomba-lomba ingin mengenal kebenaran, tetapi sekarang keinginan itu tidak ada lagi. Siapakah yang telah menghalang-halangi kamu mengenal kebenaran?” Di sinilah kebahayaannya, yaitu ada orang yang secara aktif menghalangi mereka mengenal kebenaran. Ketidak-inginan untuk mengenal kebenaran itu terjadi karena jemaat Galatia telah ditipu oleh sebagian orang yang membuat mereka tidak lagi ingin mengenal kebenaran. Maka Yesus pernah mengatakan kepada orang yang menyesatkan lebih baik ikat batu kilangan ke lehernya supaya dia tenggelam di laut. Paulus membuka kebenaran, Paulus memimpin orang kepada kebenaran, Paulus mengoreksi hidup mereka, tetapi mengapa dia malah dimusuhi? Kedua, Paulus tahu dahulu mereka giat mengejar kebenaran, suka akan kebenaran, mau menjadi orang baik, tetapi kenapa sekarang tidak lagi? Siapa yang telah menghalang-halangi engkau mengenal kebenaran? Mari kita belajar bagaimana reaksi kita kepada kebenaran Tuhan. Setiap kali kita bertemu dengan kebenaran yang mengoreksi diri kita yang salah, kita harus terima dengan rendah hati. Itu namanya kita mencintai kebenaran. Pada waktu kita bertemu dengan kebenaran, biar kebenaran itu seperti mutiara yang indah dan begitu berharga. Yesus bilang orang yang berjumpa dengan kebenaran akan menjual seluruh hartanya untuk memperoleh mutiara yang berharga itu. Kalimat itu memberitahukan kepada kita tidak ada yang lebih bernilai dan lebih indah daripada menemukan kebenaran Tuhan. Mari hidup sebagai anak Tuhan belajar menjadi orang yang mencintai kebenaran, bukan menjadi musuh kebenaran atau menjadi orang yang justru menghalang-halangi orang lain mengenal kebenaran.

5. Manusia bisa membedakan kebenaran dari ketidak-benaran.

Orang Kristen yang bisa mengenali kebenaran dari kepalsuan, itu ciri dan tanda orang itu adalah orang yang sudah dewasa imannya. Bagaimana reaksimu terhadap kebenaran? Sudahkah engkau dewasa? Penulis Ibrani mengatakan seorang Kristen yang dewasa bisa peka dan sanggup membedakan kebenaran dari yang salah, kebenaran dari yang palsu, kebenaran dari kejahatan, Ibr.5:14. Orang yang dewasa bisa makan makanan yang keras, tidak lagi makan bubur dan susu seperti bayi karena dia bertumbuh. Dan ciri dari dewasa rohani adalah dia bisa membedakan kebenaran.

6. Manusia mencintai kebenaran dan hidup bagi kebenaran.

Tidak berhenti sampai tahap membedakan kebenaran dari ketidak-benaran, terlebih lagi, inilah reaksi yang keenam yang harus menjadi reaksi kita terhadap kebenaran. Dalam 2 Kor.13:8 Paulus berkata, ”…karena kita tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran. Yang dapat kita perbuat adalah untuk kebenaran.” Inilah ciri orang yang hidup dilingkupi kebenaran. Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan melawan kebenaran Tuhan. Tidak ada kekuatan yang sanggup untuk bisa masa bodoh kepada kebenaran dan menindas kebenaran. Dengan otoritas sendiri kita tidak sanggup merasa diri benar dan memusuhi kebenaran. Yang hanya bisa kita lakukan adalah kita takluk kepada kebenaran dan sesudah itu kita hidup bagi kebenaran. Seumur hidup mengejar kebenaran. Seumur hidup dikejar oleh kebenaran. Seumur hidup menguasai kebenaran. Seumur hidup dikuasai oleh kebenaran. Seumur hidup, hidup untuk kebenaran. Seumur hidup, mati untuk kebenaran. Paulus bilang tidak ada yang bisa kita lakukan di dalam dunia ini melawan kebenaran Tuhan. Satu-satunya yang bisa ialah kita hidup untuk kebenaran. Mari kita bereaksi seperti itu kepada kebenaran Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

6 September 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: