Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Self Contempt sebagai Hakekat Dosa?

Self Contempt sebagai Hakekat Dosa?

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu. Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Rom.2:1-16

Di dalam Rom.1 yang kita bahas minggu kita menemukan akar dari dosa yang mendasar sifatnya yaitu kesombongan manusia yang ingin menyingkirkan Tuhan dari tahtaNya, lalu manusia ingin menjadi allah. Tetapi selanjutnya yang terjadi ialah mereka mengalami degradasi yang tajam, pertama mereka mengganti Allah yang sejati dengan allah palsu, itu namanya idolatry. Lalu sesudah itu manusia mengganti hubungan seksual yang wajar dengan yang tidak wajar di dalam immorality. Lalu manusia mengganti kebenaran Tuhan dengan kepalsuan. Ini adalah satu tangga degradasi yang amat jelas, karena dosa idolatry maka pasti akan terjadi dosa di dalam seksualitas dan imoralitas, lalu kemudian akan merusak kehidupan kita secara sosial. Kerakusan, ketamakan, kelicikan, kurang ajar, sombong, pandai di dalam kejahatan, tidak menghormati orang tua, tidak penyayang, tidak ada belas kasihan. Akar dari semua ini adalah kesombongan. Manusia ingin menjadi tuhan bagi dirinya sendiri. Dosa ini adalah dosa yang bersifat sosial dan bersifat action kepada orang lain. Sombong, iri hati, merebut hak orang lain dengan kekuasaan, mendominasi orang lain, dsb. Itu adalah dosa yang dikategorikan dan diwakili oleh kelompok orang-orang yang ingin merusak hidup orang lain, yang tidak senang orang lain mendapatkan kesuksesan.

Minggu lalu saya menutup khotbah saya dengan satu pertanyaan, bagaimana sebaliknya justru ada orang yang merasa hidupnya tidak ada arti, ada orang yang seumur hidup tidak pernah merugikan orang lain, tetapi yang dia lakukan adalah self pity, self hate, self contempt terhadap dirinya sendiri. Apakah self contempt merupakan hakekat dosa yang berbeda dengan pride? Bagi saya sesungguhnya ini adalah bagian dari pride yang juga ingin mengontrol orang lain tetapi dengan dimensi ingin minta dikasihani.

Saya mengutip beberapa pandangan dari orang-orang yang bukan Kristen untuk memperlihatkan kepada sdr, orang terus melakukan riset, tidak setuju dengan Alkitab, terus bikin riset namun sampai terakhir mau tidak mau baru setuju kepada apa yang Alkitab katakan. Maka belakangan akibat pengaruh dari Humanistic Psychology muncul pertanyaan ini, terjadinya persoalan-persoalan di dalam kehidupan manusia secara sosial itu apakah karena manusia itu sombong, over valued about self, ataukah sebenarnya manusia itu under valued self? Pertanyaan ini dilontarkan oleh seorang psikolog yang ‘menyimpang’ dari apa yang menjadi analisa psikoanalis Sigmund Freud, yang bernama Carl Rogers. Bagaimana membereskan persoalan manusia? Sigmund Freud berangkat dari posisi waktu seorang pasien datang kepada konselor, konselor berasumsi manusia itu sudah rusak lebih dulu, rusak karena pengalaman masa kecil, rusak karena hal-hal yang lampau yang pahit dan tidak pernah diungkapkan di permukaan. Maka konselor dari psikoanalisis berusaha membimbing orang itu untuk berani mengeluarkan segala kerusakan di masa lalu itu.

Tetapi bagi Carl Rogers, kita tidak boleh melakukan hal seperti itu. Makin kita menuduh seseorang berdosa, kita sudah menghukum orang itu, itu membuat orang makin tidak bisa bertumbuh. Buat dia orang itu rusak bukan karena dia rusak, tetapi karena dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh. Manusia itu seperti benih, semua benih itu mempunyai potensi tumbuh menjadi pohon yang tinggi, besar, lebat dan berbuah banyak. Tetapi benih itu tidak bisa seperti itu sebab environment-nya salah. Menurut Carl Rogers, mengatakan seseorang bersalah dan menghukum dia tidak bisa membereskan orang itu. Cara yang benar adalah dari kecil orang itu harus dipupuk self-esteemnya. Untuk membuat seseorang menjadi indah, bukan ditegur salahnya tetapi diberi pujian untuk hal-hal positif yang dimilikinya, akhirnya dengan sendirinya kebaikan dari orang itu akan bertumbuh dengan baik tanpa ada halangan. Carl Rogers mengatakan kenapa banyak terjadi problema di dalam hidup kita sekarang ini? Bukan karena pride atau self over valued melainkan kita sudah hidup di dalam dunia dimana self kita sudah di under-valued. Kita hidup dengan self pity, self hate, rendah diri dan secara konstan mengalami sindiran dan teguran, itu semua harus disingkirkan. Pengaruh Carl Rogers ini membuat banyak pendeta dan orang Kristen kemudian ramai-ramai membuat khotbah dengan tema Positive Thinking, khotbah-khotbah yang tidak mau menyebutkan dosa sebagai dosa, tetapi lebih menekankan hal-hal yang positif. Akhirnya orang-orang seperti Joyce Meyer, Joel Osteen menjual buku-buku yang laku keras dan best seller dengan tema-tema seperti itu. Joel Osteen waktu diwawancara oleh Larry King mengatakan, “Saya dipanggil menjadi hamba Tuhan bukan untuk men-judge orang tetapi saya dipanggil untuk memberikan hal-hal yang positif kepada orang.” Banyak orang suka dan merasa itu adalah jalan keluarnya, dengan mengangkat self esteem seseorang, dengan memuji-muji orang tsb, mengira dengan sendirinya orang itu akan menjadi lebih baik.

Ada fakta memperlihatkan orang yang merasa bersalah tidak seperti yang Paulus katakan, menjadi arrogant dan pride atas dosanya. Paulus bilang, orang itu bukan saja tidak takut berbuat dosa, tetapi dia bangga dengan perbuatan dosanya, dan bukan saja dia bangga atas dosanya dia juga setuju dengan orang lain yang berbuat hal yang sama. Itu kesimpulan yang dirangkum di dalam Rom.1

Tetapi ada sebagian orang yang tidak seperti itu. Pada waktu dia berbuat salah atau melakukan kesalahan, dia akan feel guilty luar biasa dan merasa tidak mampu dan tidak baik, seorang yang tidak ada gunanya di dalam masyarakat. Akhirnya dia tidak punya pengharapan sehingga bunuh diri. Ada yang jatuh kepada obat bius dan di dalam segala hal yang merugikan diri sendiri.

Dalam Rom.2 kita akan melihat satu terobosan konsep Alkitab yang luar biasa bicara mengenai conscience, hati nurani. Rom.2:15 “Sebab dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” Hati nurani yang dalam bahasa Inggrisnya “conscience” berasal dari dua kata “co” (bersama) dan “science” (pengetahuan) maka hati nurani berarti ada sesuatu di dalam diri kita yang sama-sama mengetahui dengan kita dan juga sama-sama melawan kita. Itu adalah conscience. Sdr dan saya mengalami hal itu di dalam hidup kita sehari-hari. Waktu kita melakukan sesuatu ada suara yang bisa mendukung kita melakukan sesuatu, tetapi ada suara di dalam diri kita yang sekaligus menegur, memarahi dan memberi penghakiman terhadap apa yang kita lakukan. Apakah itu? Bukankah saya yang melakukan? Bukankah mestinya segala sesuatu yang ada pada diri saya sendiri mendukung apa yang saya lakukan? Tetapi ada sesuatu yang walaupun ada di dalam diri sdr, dia tidak mendukung sdr melakukan sesuatu. Paulus menuliskan conscience is both accuse and excuse. Hati nurani sekaligus menuduh dan mencari alasan untukmu. Tuhan taruh hal itu dan tidak ada orang yang bisa menolaknya. Dia sudah menjadi fungsi yang Tuhan taruh di dalam diri manusia. Maka kembali kepada argumentasi Paulus di dalam Rom.1-2, Paulus mengatakan kelak kita akan berdiri di hadapan Tuhan, baik mereka yang mendengar Injil dan mendapat wahyu Tuhan maupun yang primitif di pedalaman sekalipun yang tidak pernah mendengar nama Yesus Kristus, semua akan berdiri di hadapan pengadilan Tuhan dan tidak ada satu orangpun bisa berdalih di situ. Kenapa? Argumentasi Paulus yang pertama, sebab ada general revelation di alam semesta. Alam semesta ini merupakan satu silent witness yang berteriak tetapi tidak ada suara, untuk memberitahukan kepada kita waktu melihat keindahan alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dunia ini, tidak mungkin kita tidak mengaku ada satu kuasa atau oknum yang begitu indah, begitu bijaksana, begitu arif yang menciptakannya. Saya sudah memberikan bukti beberapa minggu yang lalu bahwa Cosmology sekarang terkagum dan heran menemukan bahwa seolah-olah seluruh perjalanan alam semesta ini memiliki satu tujuan yaitu mempersiapkan kehadiran manusia di atas muka bumi ini.

Burung, kucing, kuda, sapi, saya percaya semua juga menikmati alam semesta ini seperti kita, tetapi tidak ada yang menikmati alam semesta ini lebih indah daripada sdr dan saya. Memang kucing boleh makan makanan kucing yang berbeda-beda, tetapi yang membuat makanan kucing yang berbeda-beda itu adalah manusia, bukan kucing sendiri yang invented. Kucing hanya terima jadi, apa yang dikasih tuannya dia makan. Hanya tuannya yang kemudian bilang kucingnya punya personality. Jadi itu adalah kenikmatan orang yang ditaruh ke dalam binatang. Tanpa itu, binatang tidak pernah complain. Hanya sdr dan saya yang bisa menikmati alam semesta ini begitu indah dan begitu maksimal. Alam semesta ini seperti mengerti manusia suka bosan, maka kalau hanya ada apel saja manusia akan bosan sehingga alam menciptakan buah-buahan begitu bervariasi. Hari ini kita bisa makan apel, besok makan pisang, besoknya lagi makan strawberry. Kalau semua pemandangan sama, bayangkan betapa bosannya kita. Maka Cosmology mengatakan seolah-olah alam semesta ini sadar bahwa manusia akan ada sehingga semuanya dipersiapkan menuju ke situ. Itu sebab Paulus bilang manusia tidak bisa berdalih, alam semesta memberitahukan kepada kita ada Allah yang bijaksana dan adil dan begitu ajaib menciptakan semua ini.

Yang kedua, pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan manusia tidak bisa berdalih bilang dia tidak kenal Tuhan. John Calvin mengatakan itulah ‘sensus divinitas’ yaitu ada benih ilahi di dalam diri manusia yang membuat adanya perasaan di dalam dirinya yang di-implanted yaitu hati nurani. Maka Paulus bilang ada hati nurani yang menjadi saksi Tuhan yang membuat kita tidak bisa berdalih. Pada waktu kita berdiri di hadapan Tuhan, kita tidak bisa bilang kita tidak kenal Dia karena hati nurani akan mengingatkan kita. Sampai kapanpun sdr dan saya tidak bisa membohongi diri, kadang-kadang dia menjadi lawyer kita yang membela dan mencari excuse, namun kadang-kadang dia akan menjadi jaksa yang menuntut kita. Perbandingan suara yang muncul antara accused dan excuse ini yang bagi saya menciptakan dimensi direction dosa yang berbeda. Paulus bilang, mengapa manusia menjadi berani melawan Tuhan, berani terang-terangan berbuat dosa? Karena manusia menindas kebenaran Tuhan dengan ketidakbenaran. Kalau suara yang bersifat accuse itu ditekan kuat-kuat oleh manusia sehingga yang muncul lebih besar adalah suara excuse, maka manusia merasa semua hal yang dia lakukan mendapat pembenaran oleh hati nuraninya sehingga manusia melakukan apapun dia merasa bisa dan mampu menjadi tuhan atas dirinya sendiri, itu menjadi dosa pride. Tetapi pada saat suara hati yang begitu dominan menuduh hidupmu, mengatakan you sudah tidak punya way out, hidupmu sudah tidak bisa diperbaiki, you are useless, you are helpless, you are nothing, maka dua hal bisa muncul. Pertama, suara itu akan membawa kita mencari pertolongan di luar diri kita, kita ketemu Tuhan. Kedua, suara itu membuat kita keluar dari diri kita, kita tidak menemukan pertolongan dan kita rasa self contempt, self hate dan kita rasa hidup kita tidak ada arti di dalam dunia ini lalu kita bunuh diri. Maka mengapa kita bisa melihat dosa itu merupakan kesombongan tetapi di pihak lain dosa itu merupakan self contempt. Dia bukan saja menjadi hati nurani yang menuduh tetapi kadang-kadang menjadi hati nurani yang memberi excuse, sehingga kita yang terus dibuai oleh suara excuse itu merasa tidak perlu mencari pertolongan di dalam Tuhan. Tetapi pada waktu kita terus dibawa kepada hati nurani yang menekan di dalam hidup kita sehingga kita merasa tidak punya apa-apa lagi, itu kemudian membawa kita kepada jurang yang dalam ataukah kita kembali kepada Tuhan dan berteriak minta pertolongan kepada Dia.

Karen Horney, seorang Neo-Freudian yang mengikuti ajaran Sigmund Freud mengatakan tidak ada satupun manusia yang hidup di atas muka bumi ini yang tidak dilanda oleh anxiety. Ini fakta. Kalau sdr balik kepada Alkitab, Alkitab memberi jawab bahwa anxiety manusia itu muncul sejak manusia berbuat dosa. Manusia takut dan lari bersembunyi. Karen Horney mengatakan seluruh umat manusia berada di bawah kontrol anxiety ini. Manusia mencoba mencari jawab bagaimana membereskan perasaan anxiety ini. Menurut risetnya, ada 3 solusi manusia untuk menyelesaikan anxiety itu. Yang pertama, dia katakan itu sebagai “self expansive solution” dimana manusia moving against others. Anxiety itu menyebabkan ada sesuatu yang membuat manusia itu tidak puas akan dirinya sehingga dia akan moving against others. Segala sesuatu yang bisa merefleksikan ketidakbaikan saya akan saya geser jauh-jauh. Itu yang dibilang “buruk muka, cermin dibelah.” Manusia akan cenderung untuk mendominasi orang lain, manusia akan cenderung untuk meng-crushed orang lain, manusia cenderung untuk menyingkirkan kesuksesan orang lain, karena melihat kesuksesan orang lain akan mencerminkan ketidaksuksesan dia, padahal belum tentu begitu. Itulah dosa kesombongan, tidak ingin ada orang lain di atas dia. Maka tiap hari anxiety itu dibereskan dengan cara moving against others. Dosa serakah muncul, keinginan untuk merebut milik orang lain muncul, tidak pernah merasa puas di dalam hidupnya. Yang kedua adalah moving towards others, yang Horney sebut sebagai “self evasing solution.” Orang anxiety terhadap diri dan tidak ingin menjadi tersendiri sehingga seumur hidup dia menjadi orang yang selalu pleasing others karena takut untuk ditolak. Kita tidak suka kalau tidak disukai orang. Kita tidak suka kalau tidak menjadi bagian dari orang lain, tidak populer dan tidak dipedulikan. Kita tidak ingin ditolak dan makin ditolak kita makin anxiety. Maka ada sebagian orang mencari solusi dengan cara tidak mau bikin konflik dengan orang lain, mengakomodasi orang lain, terus pleasing others supaya bisa menjadi orang yang diterima oleh orang lain. Dengan cara itu dia bisa menerima dirinya sendiri. Yang ketiga, moving away from others. Orang seperti ini terus melakukan constant withdrawal dari orang lain, rendah diri, self hate. Orang baru mulai ngomong, dia pikir sedang ngomongin dia. Orang diam, dia pikir sedang ngomongin dia juga. Orang senyum dibilang menghina dia. Orang tidak senyum dibilang marah sama dia. Sehingga kita bingung mau bawa muka apa kepada dia. Kita takut melukai hati dia akhirnya kita berusaha tidak lihat dia. Makin kita berusaha tidak melihat dia, makin sakit hati dia. Tetapi itulah problem dari anxiety. Orang yang seperti ini punya potensi yang besar untuk bunuh diri, potensi yang besar untuk self destruction, yang merasa apapun pencapaian di dalam hidupnya tetap merupakan kegagalan. Akhirnya cara yang diambil adalah menjauh dari orang lain.

Dengan analisa ini Horney ingin mengatakan dasar hidup manusia itu sebenarnya adalah anxiety. Anxiety itu muncul karena apa? Sebab di dalam diri manusia terjadi peperangan antara idolise self dan reality self. Idolise self adalah self yang menjadi ideal kita yang selalu akan berbenturan dengan realita self kita. Antara memenuhi yang ideal dan realita, itulah anxiety manusia yang tidak ada habis-habisnya. Sdr mungkin menaruh konsep ideal itu di dalam kesuksesan, kekayaan, punya power, dsb dan menganggap itu semua yang membuktikan sdr adalah manusia yang berguna di dalam dunia ini. Dengan demikian kita mau terus sampai ke situ. Akhirnya itu akan membikin sdr greedy dan serakah.

Niebuhr mengatakan manusia adalah percampuran antara natur dan spirit. Natur memberi limitasi tetapi spirit adalah sesuatu yang tidak bisa dilimitasi. Natur dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, spirit tidak. Karena ada unsur natur tetapi juga ada unsur spirit maka ada sesuatu yang kekal di dalam diri manusia yang tidak ingin ditelan oleh perjalanan waktu, itu yang menyebabkan anxiety muncul. Manusia selalu kuatir akan hal-hal yang membatasi dia, hal-hal yang membikin dia menuju kepada apa yang tidak bisa dielakkan. Tetapi tetap manusia tidak bisa lepas daripada keterbatasan natur yaitu kematian. Kita sukses, kita kaya, kita cukup segala sesuatu materi, dsb tetap itu semua tidak sanggup memuaskan hidup kita karena ada bagian di dalam hidup kita yang tidak bisa dipuaskan oleh dimensi natur saja. Di satu pihak manusia sadar dia adalah mahluk yang dicipta tetapi di pihak lain ada bagian di dalam hidup manusia itu Tuhan beri nuansa kekekalan yang membuat manusia harus kembali kepada Allah. Hanya di situlah hidup manusia baru berarti dan bermakna.

Maka di dalam Rom.2 Paulus hanya ingin memberitahukan kepada kita mengapa kita harus berelasi, harus bertanggung jawab, harus berespons kepada Tuhan, karena kita tidak bisa escape. Di luar diri kita terlalu banyak bukti di dalam alam semesta. Kita mau sembunyi di dalam, hati nurani sendiripun tidak mungkin bisa excuse akan Tuhan karena someday dia akan accused kita. Di dalam hatimu sudah ada hukum Taurat Tuhan. Semua ini merupakan kebenaran firman Tuhan yang dalam luar biasa. Saya hanya ingin mengajak sdr kembali melihat dimensi dosa yang begitu integratif. Self pride, self contempt dan ketiga, selanjutnya Paulus ingin menegur satu sisi dosa yang lain yaitu self righteous dari orang Yahudi. Mengerti sampai di situ, baru kemudian kita bisa menghargai keselamatan di dalam Yesus Kristus. Orang Yahudi tetap tidak bisa selamat sekalipun dia sudah mendapat Taurat dan mengenal firman Tuhan. Kalau dia tetap melakukan kesalahan dan dosa yang sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan, dia juga terhitung di dalamnya. Namun orang Yahudi hidup di dalam dosa yang paling berbahaya yaitu self righteous. Orang yang hidup membenarkan diri, merasa diri paling baik dan paling benar. Semua kelompok orang ini, yang self pride, yang self contempt, yang self righteous, semuanya tunduk di bawah penghakiman Tuhan. Maka selangkah demi selangkah Paulus membawa hati kita kepada keunggulan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib. Di situ Dia dipaku dan dihina supaya orang yang menghina diri mendapatkan penghargaan di dalam Yesus Kristus. Jangan menghina diri, sebab Tuhan menghargaimu dengan darah yang mahal. Yang sombong dan congkak, melihat salib Yesus , di situ dia merendahkan diri. Yang self righteous melihat salib Tuhan dia sadar Yesus yang tidak berdosa dipaku. Semua ini menjadi keindahan yang membawa solusi manusia kepada salib Yesus Kristus.

Pdt. Effendi Susanto STh.

9 Agustus 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: