Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Semua Manusia Di Bawah Penghakiman

Semua Manusia Di Bawah Penghakiman

Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: “Jangan mencuri,” mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan berzinah,” mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.”

Rom. 2:17-24

Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa,

Rom. 3:9

Kalau sdr mempunyai anak kecil lebih dari satu dan mereka duduk berdekatan, tidak berapa lama akan terjadi kontak fisik di antara mereka yang akhirnya berkembang menjadi perkelahian. Mulanya mungkin tidak disengaja yang satu menyenggol yang lain, lalu dibalas oleh dia lebih keras. Anak pertama merasa tidak fair karena balasannya dia rasa lebih keras daripada yang dia lakukan, lalu dia membalas lagi. Akhirnya dua-dua saling memukul dan tidak ada yang merasa bersalah. Menghadapi hal seperti ini, saya pikir dalam-dalam, masalahnya dimana? Masalahnya adalah waktu yang satu disenggol dia tidak terima, maka dia senggol balik. Lalu yang satu merasa bahwa balasannya lebih daripada yang seharusnya sehingga membalas lagi. Pembalasan yang tidak habis-habis terjadi karena masing-masing pihak merasa diri mendapat perlakuan yang tidak seimbang daripada yang seharusnya.

Itu sebab saya membawa sdr kepada pernyataan Paulus setelah dia bicara mengenai murka Allah dan keadilan Allah praktisnya di dalam hidup orang Kristen, dia bicara mengenai pengampuan di bagian belakang suratnya, Paulus bilang jangan membalas karena pembalasan adalah hak Tuhan. Jangan membalas di sini bukan seperti cara therapeutic yang menyuruh orang melupakan semuanya. Jangan membalas orang yang bersalah kepadamu tetapi serahkan pembalasan itu kepada Tuhan.

Dalam artikel yang saya tulis di Radix berjudul “Kepahitan,” saya mengatakan kepahitan terjadi di dalam hidup kita semata-mata berangkat dengan satu anggapan bahwa apa yang terjadi di dalam hidup kita itu tidak fair. Mzm. 73 menyatakan pergumulan Asaf melihat orang fasik seolah hidup lebih baik daripada orang yang cinta Tuhan. Dia yang sudah mencintai Tuhan dan berusaha melakukan semua hal yang baik dalam hidupnya tetapi justru banyak hal yang tidak baik terjadi daripada orang yang tidak percaya Tuhan. Karena itulah apa yang terjadi, dia merasa pahit dan tidak bisa terima keadaan ini. Dia merasa diperlakukan tidak fair dan makin dia pikirkan, makin sakit hati. Kepahitan itu makin lama makin mendalam. Akar dari kepahitan itu mulai berangkat ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Bagaimana Asaf akhirnya bisa keluar dari lingkaran setan ini? Di ayat 16-18 menunjukkan dia tidak bisa mengerti hal ini tetapi ketika dia sampai ke depan tahta Tuhan barulah dia mengerti jalan orang fasik berakhir dimana.

Mengapa Paulus meminta orang Kristen pada waktu mengalami hal-hal yang tidak baik dan ketidak-adilan dalam hidupnya untuk tidak membalas? Bukan berarti orang Kristen boleh diperlakukan dengan semena-mena tetapi di tengah-tengah pembalasan itu pasti selalu terjadi ketidak-adilan. Orang pukul sekali, kita mau balas lebih, akhirnya tidak mungkin terjadi balance. Keseimbangan itu terjadi waktu di tengah-tengah perasaan ketidak-adilan itu sdr menaruh Tuhan di sana. Pawa waktu kita menaruh Tuhan di tengahnya bagaimana relasi Tuhan dengan orang-orang seperti itu, Paulus bilang ada saatnya keadilan Tuhan akan terjadi. Yang kedua, bagaimana relasi saya dengan Tuhan berkaitan dengan ketidak-adilan itu, itulah yang kita sebut sebagai relasi providensia Tuhan. Baru di situ kepahitan hati kita terhadap segala ketidak-adilan itu hilang. Jadi pengampunan kita bukan satu therapeutic yang mengatakan kita harus mengampuni orang sebab kalau kepahitan itu terus disimpan di dalam hati akan rugi sendiri. Konsep ini tidak salah tapi tidak sesuai dengan konsep pengampunan dari Alkitab. Kaitan Tuhan dengan saya atas segala ketidak-adilan yang saya alami adalah providensia Tuhan. Saya percaya Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihiNya. Yusuf sudah diperlakukan dengan tidak adil oleh saudara-saudaranya, menjadi budak, hidup di dalam kesulitan yang begitu panjang, namun ketika bertemu dengan mereka, kepahitan itu hilang karena dia percaya akan providensia Tuhan, semua ini terjadi mendatangkan kebaikan. Itu hubungan saya dengan Tuhan. Tetapi kalau orang yang bersangkutan tidak merasa bersalah dan tidak mau minta maaf, saya tidak punya kaitan dengan dia. Itu urusan dia dengan Tuhan.

Mengerti konsep inilah maka kenapa Paulus sekarang bicara mengenai keadilan Tuhan di dalam bagian ini. Dalam Rom.1:18-3:20 memiliki format seperti seorang bicara di pengadilan. Paulus lebih dahulu menuduh orang-orang non Yahudi sebagai orang-orang yang melawan Tuhan dan menghina keadilan Tuhan. Di sini Paulus seolah berada di pihak orang Yahudi yang menuduh orang Yunani. Sehingga orang Yahudi mengira mereka adalah pihak yang benar. Namun di pasal 2 kemudian Paulus berbalik menuduh orang Yahudi yang punya self righteousness dan kesombongan karena memiliki hukum Taurat. Paulus mengatakan, engkau yang menghakimi mereka yang tidak punya hukum Taurat, tetapi engkau sendiri tidak pernah memakai standar yang sama untuk menghakimi dirimu. Engkau mengajar orang jangan mencuri, engkau sendiri mencuri. Engkau mengajar orang jangan berzinah, engkau sendiri berzinah. Engkau menjadi penuntun bagi bangsa yang buta, engkau sendiri buta. Saya percaya orang Yahudi pasti jengkel dengan pernyataan Paulus ini, namun Paulus bilang dia menyatakan hal ini bukan karena dia benci dengan orang Yahudi melainkan dia menaruh keadilan Tuhan atas semua orang, Tuhan tidak pandang bulu. Di sinilah Paulus menegakkan hal itu.

Itu sebab di dalam Rom.2 Paulus jelas menyatakan keadilan Tuhan yang tidak pandang bulu. Orang yang tadinya menghakimi orang non Yahudi sebagai bangsa yang hidupnya tidak beres, mereka juga akan dihakimi Tuhan. Namun persoalannya fenomena yang terjadi adalah seringkali kita pikir datangnya penghakiman Tuhan itu berbeda-beda. Dalam Rom.1 penghakiman Tuhan bersifat pembiaran atas mereka. Ini adalah suatu hal yang sangat mengerikan dan menakutkan. Pada waktu manusia makin berdosa, makin tidak takut kepada Tuhan, makin merasa diri hebat di dalam dosa lalu pikir dia sudah mengalahkan Tuhan, justru di situ Tuhan membiarkan dia. Engkau mau hidup di dalam dosa seperti itu, silahkan. Makin lama makin buta, makin lama akhirnya tidak bisa melihat kebenaran Tuhan di situ. Puji Tuhan kalau di dalam hidup kita kadang-kadang datang jeweran Tuhan dan teguran Tuhan kepada kita. Itu membuktikan Tuhan tidak mau kita terlalu lama berjalan dengan serong dan salah.

Tetapi pasal 2 sangat menarik, waktu bicara dalam kaitannya dengan orang Yahudi di ayat 4 murka Tuhan tidak langsung turun, tetapi jangan itu kemudian menjadi satu excuse dan pembenaran bahwa hidup mereka lancar dan tidak ada apa-apanya. Paulus mengingatkan orang Yahudi bahwa itu semua adalah satu tanda kemurahan kesabaran Tuhan kepada mereka dengan tujuan mereka mendapat kesempatan mendengar firman dan firman itu membawa mereka kembali kepada pertobatan. Jadi hal yang pertama Paulus lakukan adalah menegakkan keadilan Tuhan kepada manusia yang tidak sanggup melihat kebenaran Tuhan, yang merasa diri benar dan merasa hidupnya lebih baik daripada orang lain, sehingga tidak menggunakan standar yang sama untuk menilai diri. Maka Paulus mengatakan semua orang jatuh ke dalam hukuman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Orang Yunani yang tidak punya hukum Taurat, maupun orang Yahudi yang punya hukum Taurat, semua sama-sama berdosa. Paulus memakai kalimat retorika di sini, meskipun orang non Yahudi tidak punya hukum Taurat, mereka bisa melakukan hal yang baik lebih daripada orang yang punya hukum Taurat. Sekali lagi ini adalah kalimat retorika, tidak berarti ada keselamatan bagi orang non Yahudi kalau mereka berbuat baik. Maksudnya adalah orang Yahudi tidak perlu bangga dengan hukum Taurat, karena orang non Yahudi juga punya suatu standar kebaikan. Kedua, orang Yahudi bangga karena sunat lalu merasa dengan sunat mereka otomatis bisa masuk surga. Bukan itu. Tetapi ada orang non Yahudi yang tidak disunat tetapi melakukan kebaikan dengan standar begitu tinggi seperti hukum Taurat. Maka jugan pikir engkau lebih hebat daripada mereka. Itu semua adalah kalimat-kalimat retorika. Tidak berarti mereka bisa mendapatkan keselamatan di luar Kristus.

Sampai di sini maka sekarang Paulus bicara kepada orang Yahudi, apa keunggulan mereka sebagai orang Yahudi. Orang Yahudi dipilih Tuhan untuk menjadi umatNya dan menerima wahyu khusus. Orang Yahudi dipilih Tuhan untuk menjadi umat Tuhan tujuannya supaya mereka menjadi terang dan membawa terang kepada bangsa-bangsa lain karena mereka dipercayakan Tuhan menerima firman supaya dengan demikian bangsa-bangsa lain juga bisa mengenal Tuhan yang sejati. Jadi Paulus tidak menghina orang Yahudi. Dia sendiripun orang Yahudi. Itu adalah privilege dan keindahan dari orang Yahudi, tetapi jangan karena itu mereka tidak melihat aspek dan konsep keselamatan dengan benar. Bagi orang Yahudi sudah terjadi asumsi yang membuat mereka bangga sebagai bangsa pilihan yaitu mereka pasti selamat. Maka di dalam tradisi orang Yahudi mereka percaya yang menjaga pintu surga adalah bapa Abraham yang bisa mengenal dan membimbing orang Yahudi tidak tersesat.

Dari sinilah kita bisa melihat kenapa Paulus di dalam Rom.2 pinpoint dua argumentasi ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat memojokkan dan mendesak mereka sampai kepada satu kesadaran jangan pikir karena punya hukum Taurat you otomatis masuk surga. Yang benar ialah: siapa yang bisa melakukan hukum Taurat tanpa cacat cela, dia yang bisa masuk surta. Bukan berarti dengan perbuatan baik seseorang bisa masuk surga tetapi kalau you sanggup bisa melakukan hukum Taurat tanpa cacat cela, you bisa masuk surga. Kedua, bicara mengenai sunat di sini bukanlah sunat lahirian melainkan sunat di dalam hati. Artinya membuang kedagingan, membuang hal-hal yang najis dan yang tidak benar di dalam hidupmu, itulah sunat yang bersifat batiniah. Maka dengan berbicara mengenai dua hal ini Paulus sebenarnya mengkikis habis konsep umat Tuhan di PB tidak lagi didasarkan kepada suku dan ras.

Saya bingung banyak orang Kristen masih merasa orang Yahudi itu superior sehingga punya konsep pergi ke Yerusalem, dibaptis di sungai Yordan, dsb. Umat Tuhan bukan lagi eksklusif orang Yahudi. Umat Tuhan ada orang Yahudi, ada orang Hong Kong, ada orang Indonesia, ada orang Cina, ada orang Jawa, ada orang bule. Maka tanam hal ini dalam-dalam di pikiranmu, karena banyak sekarang orang ngawur khususnya bicara mengenai Eskatologi yang tidak bertanggung jawab dan selalu mengkaitkannya dengan orang Yahudi. Sedikit-sedikit, langsung dihubungkan dengan Yahudi. Di Semarang ketemu lembu merah, lalu rame-rame bilang ini adalah lembu yang nanti akan dipersembahkan oleh Yesus di Bait Allah waktu Dia datang sebagai imam besar. Lalu banyak yang “latah” segala-gala ber-Yahudian. Ini hal yang merepotkan sehingga orang Kristen jatuh ke dalam jebakan melihat aspek yang bersifat lahiriah. Paulus di sini menegur orang Yahudi yang menekankan hal-hal lahiriah seperti ini. Orang Yahudi yang sejati bukan karena punya hukum Taurat. Orang Yahudi sejati adalah orang yang taat melakukan hukum Taurat tanpa cacat cela. Orang Yahudi sejati bukanlah ditandai dengan sunat secara lahiriah tetapi di dalam hatimu melakukan hukum Taurat tanpa cacat cela, itu adalah sunat yang bersifat batiniah.

Sekarang kita akan lihat di mana letak keadilan Tuhan di dalam penghakimanNya. Rom.2:16 menjadi ayat yang penting dimana Paulus bilang bukan terletak pada apa yang kelihatan, bukan kepada hal yang lahiriah itu membuatmu otomatis menjadi umat Tuhan. Keadilan Tuhan tidak pandang bulu, engkau orang Yahudi maupun engkau yang bukan Yahudi sama-sama akan diadili Tuhan. Kedua, ada hal yang sampai sekarang engkau tidak sadari bahwa Tuhan sungguh-sungguh adil sebab Dia akan mengadili bukan saja hal-hal yang kelihatan tetapi juga yang tidak kelihatan. Sampai di sini Paulus secara teliti menyebut tiga dosa yang dilakukan oleh orang Yahudi. Kenapa Paulus bicara mengenai tiga dosa ini secara spesifik? Dosa mencuri, dosa berzinah dan dosa penyembahan berhala. Ini adalah hal yang sangat unik sekali. Di dalam sejarah bangsa Israel sekembali dari pembuangan, di situ keagamaan orang Yahudi betul-betul dimurnikan. Tidak ada lagi penyembahan berhala seperti waktu dulu mereka mencampur-adukkan penyembahan kepada Allah dan kepada berhala. Sampai kepada masa Tuhan Yesus di dalam kitab Injil jelas kita melihat tidak ada penyembahan berhala seperti itu. Maka waktu Paulus menegur orang Yahudi menyembah berhala, bagi saya teguran itu seperti satu tuduhan yang berbahaya sekali. Karena orang Yahudi pasti tidak akan terima tuduhan seperti itu. Jangankan punya berhala, menyebut nama Allah saja mereka takut. Paulus mengatakan mereka bersalah di hadapan Tuhan karena hidup orang Yahudi yang beragama pun melanggar Taurat. Penghakiman Tuhan yang adil akan menghakimi hal-hal yang tersembunyi di dalam hidupmu. Kedua, engkau melarang orang jangan mencuri, engkau sendiri mencuri. Engkau yang melarang orang berzinah, engkau sendiri berzinah. Tuhan Yesus mengatakan berzinah bukan pada waktu engkau tidur dengan perempuan yang bukan isterimu, tetapi waktu keinginan itu muncul, itu sendiri sudah menjadi perzinahan di dalam hatimu. Maka dua hal ini bisa terjadi tanpa perlu dilakukan secara fisik. Kemudian Paulus melanjutkan dengan teguran yang sangat keras, ”…mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?” dalam terjemahan Indonesia memakai kata ‘merampok’ tetapi terjemahan di belakang agak sedikit kurang akurat sebab dari bahasa aslinya lebih baik diterjemahkan ‘rob the temple’ yang tidak berarti mengacu kepada kuil berhala, tetapi bisa mengacu kepada Bait Allah. Sehingga di sini ada dua macam penafsiran terhadap perkataan Paulus ini. Penafsiran pertama, merampok rumah berhala, artinya engkau bilang jangan menyembah berhala tetapi engkau waktu pergi menyerang bangsa lain yang punya berhala, engkau juga akhirnya tergiur mengambil emas yang ada di rumah berhala itu. Penafsiran kedua, di sini bukan bicara tentang rumah berhala tetapi Bait Allah. Ini sangat menarik. Kalau ditafsir bahwa ini mengacu kepada Bait Allah, maka Paulus bilang engkau datang berbakti ke rumah Tuhan, tapi terlalu banyak hal engkau mencuri miliknya Tuhan. Jadi ini merupakan suatu hal yang penting sekali, walaupun engkau datang membawa persembahan kepada Tuhan di BaitNya tetapi sesungguhnya banyak kali engkau mengambil apa yang menjadi hak Tuhan. Sampai di sini, jujur ayat ini bagi saya sangat mengejutkan dan sekaligus menakutkan buat kita, siapapun di antara kita tidak ada yang tidak pernah melanggar ayat ini. Banyak hal di dalam hidup kita, kita tidak mencuri secara kelihatan tetapi kita mengingini barang orang lain. Banyak hal di dalam hidup kita mungkin tidak berzinah dengan perempuan lain, tetapi di dalam hati dan pikiran kita sudah melanggar akan hal itu. Banyak hal di dalam hidup kita yang seharusnya menjadi milik Tuhan yang harus kita kembalikan kepada Dia, tetapi kita beri kepada Tuhan yang sedikit dan sepele lalu merasa bangga bahwa kita sudah memberi kepada Tuhan. Paulus menegur kita sudah merampok rumah Allah. Di hadapan orang lain kita bisa sembunyikan hal itu tetapi kelak di hadapan Tuhan hal-hal ini kalau dibeberkan dan dibuka, kita semua sudah melanggar.

Yang ketiga, argumentasi Paulus, engkau pikir sudah beragama kepada Tuhan, engkau pikir sedang cari Tuhan di dalam agamamu, tetapi di pasal 3:10 Paulus mengutip dari firman Tuhan sendiri yang mengatakan ‘tidak ada seorangpun yang benar’ yang dikutipnya dari Mzm.143:2b. Mengapa orang Yahudi begitu buta, seolah-olah berpikir sudah punya hukum Taurat, melakukan hal-hal yang bersifat lahiriah, lalu otomatis sudah selamat? Sampai ke belakang, penulis Ibrani mengajak mereka berpikir baik-baik, kalau betul mereka merasa bersalah lalu bawa kambing domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan minta pengampunan, kenapa harus dilakukan berulang kali? Ibrani langsung memberi jawabannya, itu membuktikan sesungguhnya darah kambing domba itu tidak mungkin bisa menebus dosa manusia. Kalau engkau bilang dengan hukum Taurat engkau bisa dibenarkan oleh Tuhan, kenapa hukum Tauratmu sendiri bilang tidak ada orang yang benar di hadapan Tuhan? Sampai di situ, Paulus hanya tutup dengan satu kalimat di dalam Rom.3:20 “tidak ada orang yang bisa benar di hadapan Tuhan. “Seluruh dunia jatuh di bawah penghukuman Tuhan, baik orang yang merasa beragama maupun orang yang tidak beragama, jalan keluarnya hanya satu: menyadari diri berdosa, menyadari kita ini lemah, menyadari kita tidak punya jalan keluar untuk bisa mendapatkan pembenaran, kecuali pembenaran itu datang melalui iman kepada karya yang Tuhan Yesus sudah lakukan di atas kayu salib. Minggu ini kita menghadiri KKR “Mengapa Beriman kepada Kristus?” biar semua khotbah ini mempersiapkan kita untuk mengerti mengapa Kristus menjadi keunggulan, mengapa Dia menjadi satu-satunya jalan, dan mengapa hanya di dalam Kristus kita memperoleh anugerah keselamatan itu.

Paulus sampai pasal 3 sudah menyatakan dengan tegas tidak ada kemungkinan. Pada waktu kita mengatakan diri kita benar, kita baik, kita bisa melakukan segala hukum Taurat dengan tanpa cacat, sebenarnya itu hanya yang lahiriah dan kelihatan saja. Someday Tuhan akan menghakimi apa yang tidak kelihatan. Di depan orang kita bisa memperlihatkan apa yang berbeda dengan yang di dalam hati kita, tetapi di dalam pengadilan Tuhan, semuanya akan kelihatan.

Yang kedua, Paulus bilang tidak usah tunggu sampai di sana, engkau bilang dengan sunat dan hukum Taurat you otomatis masuk surga? Tauratmu sendiri bilang tidak ada orang yang benar di hadapan Allah. Lalu dengan cara bagaimana engkau bisa benar?

Yang ketiga, Paulus bilang engkau melakukan hukum Taurat? Banyak hal yang tidak kelihatan sesungguhnya engkau sudah melanggar Tauratmu. Mencuri, berzinah dan penyembahan berhala. Dengan ketiga argumentasi ini, minggu-minggu yang akan datang kita akan masuk ke dalam satu pengertian akan Injil yang sejati di dalam Yesus Kristus, membawa kita mengerti dan menghargai penebusan yang Dia lakukan bagi kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

23 Agustus 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: